Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada era modern ini gejala-gejala yang dikenal sebagai Kebangkitan Nasional, tidak
hanya disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam negeri antara lain adalah pelaksanaan politik
etis yang dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda. Faktor dari luar negeri antara lain
adalah kemenangan bangsa Jepang atas bangsa Rusia dalam perangnya pada tahun-tahun
pertama abad ke-20. Suatu kemenangan yang dianggap sebagai kemenangan orang Asia
terhadap orang Eropa. (Nugroho Notosusanto; 1991:35).
Karena pengaruh gagasan-gagasan modern, anggota elite nasional baru, menyadari
bahwa

perjuangan

unuk

memajukan

bangsa

Indonesia

harus

dilakukan

dengan

mempergunakan organisasi modern. Baik pendidikan, perjuangan politik, perjuangan


ekonomi,

maupun

perjuangan

sosial

budaya,

memerlukan

organisasi.

(Nugroho

Notosusanto;1991:35).
Wawasan Kebangsaan adalah cara pandang atau pemahaman tentang konsep dan
aktualisasi nilai-nilai dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara.
Wawasan kebangsaan memiliki dimensi yang sangat luas dan kompleks sesuai dengan luas
dan kompleksnya dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Wawasan
Kebangsaan diperlukan karena perlu adanya konsep dan aktualisasi manajemen kehidupan
negara-bangsa yang bermartabat dan berkeadaban.
Wawasan kebangsaan Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada
masa lalu seirama dengan dinamika pertumbuhan dan perkembangan pergerakan kebangsaan
Indonesia. Oleh karena itu, sifat dan corak perkembangannya tampil sesuai dengan sifat dan
corak organisasi pergerakan yang mewakilinya. Dari pertumbuhan dan perkembangan
organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia seperti Boedi Uetomo, Sarekat Islam, Indische
Partji, Perhimpunan Indonesia, dan lain-lain, tampak bahwa proses pendewasaan konsep
nasionalisme kultural, berkembang menjadi sosio ekonomis, dan memuncak menjadi
nasionalisme politik yang merupakan aspek multidimensional. (Sudiyo;2004:43).
Sebuah fenomena sejarah yang merupakan momentum sangat penting dalam proses
penguatan konsep wawasan kebangsaan Indonesia terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928.

Dalam itulah modal yang sangat berharga bagi terbentuknya sebuah Nation-State telah
disepakati. Adanya kehendak bersama untuk bersatu itu akan mengatasi alasan-alasan seperti
kedaerahan, kesukuan, keturunan, keagamaan, dan sejenisnya dengan tetap menghormati
perbedaan-perbedaan yang ada. Sejak peristiwa tahun 1928 itu, dunia dikejutkan oleh
kemampuan dan kesanggupan bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam kemajuan.
(Sudiyo;2002:43)
Namun demikian, sepantasnya harus dihargai bahwa dalam proses penyatuan dari
berbagai sifat kedaerahan menjadi sifat nasional merupakan suatu proses integrasi yang
nilainya sangat dalam. Hal ini berlaku apa yang telah di kemukakan oleh teori nasonalisme
dari seorang pujangga Prancis bernama Ernest Renan, yang intinya, adalah bahwa rasa
senasib dan sepenanggungan suatu bangsa menyebabkan timbulnya semangat persatuan
untuk membentuk suatu negara kebangsaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
sejak selesainya kongres pemuda kedua tersebut, organisasi-organisasi pemuda kedaerahan
mulai memproses untuk bersatu menjadi satu wadah, dan baru berhasil secara tuntas, yaitu
pada

tanggal

31

Desember

1930

dengan

nama

organisasi

Indonesia

Muda.

(Sudiyo;2002:52).
Rumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
Bagaimanakah wawasan kebangsaan mempengaruhi rasa nasionalisme seorang warga
negara republik Indonesia ?

1.2 Tujuan Makalah


Berdasarkan rumusan masalah, tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1 Secara Umum
Menjelaskan tentang pertumbuhan wawasan kebangsaan di Indonesia
1.2.2 Secara Khusus
Mendeskripsikan tentang keterkaitan wawasan kebangsaan masyarakat dengan
tingkat rasa nasionalisme di indonesia

BAB II
ANALISIS
2.1 Pembahasan
2

Istilah wawasan kebangsaan terdiri dari dua suku kata yaitu Wawasan dan
Kebangsaan. Secara etimologi menurut kamus besar bahasa Indonesia istilah wawasan berati
hasil mewawas; tinjauan; pandangan dan dapat juga berati konsepsi cara pandang. Dalam
kamus tersebut diberikan contoh Wawasan Nusantara yaitu wawasan dalam mencapai tujuan
nasional yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik,
sosial budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Lebih lanjut diberikan pula contoh dalam
pengertian lain seperti Wawasan Sosial, sebagai kemampuan untuk memahami cara-cara
penyesuaian diri atau penempatan diri di lingkungan sosial.
Konsep kebangsaan merupakan jiwa, cita-cita, atau falsafah hidup yang tidak lahir
dengan sendirinya. Ia sesungguhnya merupakan hasil konstruksi dari realitas sosial dan
politik. Selanjutnya dikatakannya, bahwa sesungguhnya konsep bangsa itu adalah suatu
komunitas terbayang. Sebagai komunitas terbayang, maka konsep kebangsaan terletak dalam
alam pikiran para pendukungnya, yang membayangkan diri sebagai suatu bangsa.
Kebangsaan pada zaman modern lahir :
Pertama, karena keinginan atau prtjuangan rakyat untuk memperoleh kebebasan sipil
dan politik dari raja-raja atau dinasti absolut yang selalu menindas mereka. Kedua. kemauan
bersama untuk menjadi dan tetap menjadi suatu bangsa karena pengalaman-pengalaman
mereka sebelum nya dan harapan di masa mendatang , terutama karena penindasan oleh
negara lain yaitu bagi negara-negara eropa.1
Sultan Sjahrir . memberikan suatu ringkasan tentang ciri-ciri pokok nasionalisme, yaitu.
1)

Hasrat untuk bersatu (secara politik ,ekonomi ,kebudayaan dan bahasa)

2)

Hasrat untuk diferensiasi nasional

3)

Hasrat untuk diferensiasi individual

4)

Hasrat untuk menjadi lebih unggul daripada yang lain. Serta hasrat untuk berbeda dari
yang lain. kerhormatan, prestise dan pengaruh . Hasrat ini dengan mudah dapat
berkembang menjadi suatu hasrat akan pengaruh dan kekuasaan .2

1 Moh Sadiki Daeng Materu, 1985, Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia, Jakarta : Gunung
Agung.Hlm 34

2 Ibid,Hlm 34
3

Dari perspektif sejarah pertumbuhan dan perkembangan nasionalisme, maka dapat di


bedakan menjadi dua yaitu :
1. Nasionalisme Barat
Nasionalisme Barat lahir dalam masa peralihan dari masyarakat agraris ke arah
masyarakat industri .masyarakat feodal dengan kekuasaan politik di tangan raja,bangsawan
dan gereja ,lambat laun tidak dapat bertahan terhadap desakan desakan dari golongan baru
yang muncul dalam masyarakat dan yang menduduki berbagai posisi yang penting di dalam
kota dengan perdagangan dan perindustriannya
Golongan baru ini secara kolektif kemudian di beri nama kaum borjuis. Kaum
borjuis .ini tidak mau terikat oleh peraturan-peraturan yang di kenal dalam masyarakat
agraris, yaitu peraturan peraturan yang mengikat dari organisasi.perdagangan mereka ingin
bebas dan mereka untuk usaha. untuk berindustri dan niaga, untuk bersaing, dan bebas pula
untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Paham ini kemudian di kenal dengan
sebutan liberalisme, dari asal kata liber yang berarti bebas Dalam keadaan demikian itu
lahir lah nasionalisme eropa barat.
Nasionalisme eropa barat pada waktu itu melahirkan kolonialisme, yaitu keinginan
besar untuk mencari jajahan baru di luar negerinya sendiri, maka Nasionalisme Eropa Barat
itu tumbuh menjadi fasisme. Dengan kata lain Nasionalisme Barat yang didasarkan pada
chauvinisme akhir nya mengalami kehancuran dari dalam tubuhnya sendiri sampai akhir PD
II.
2. Nasioanlisme Timur
Nasioalisme timur justru tumbuh dari kemauan keras dan perjuangan melawan
ekspansi barat terutama jepang yang kemampuan kompetitif yang luar biasa . Sehingga
Nasionalisme adalah gerakan yang menentang aksi kolonialme. Akibat dari kolonialisme
Eropa Barat pada pada masa lampau bangsa-bangsa Asia kehilangan kemerdekaan politik,
kebebasan perekonomian dan juga dipengaruhinya kebudayaan dengan pengaruh yang sangat
merugikan.
Kebangsaan Indonesia
Bayangan tentang bangsa di Inndonesia semula hanya bergulir di kalangan elite
intelektual. Selanjutnya melalui tahapan-tahapan dalam bentuk bayangan komunitas terbatas,
4

seperti etnis, budaya, dan agama, akhirnya setelah melalui perjuangan yang terus menerus,
lahirlah komunitas yang lebih luas, yaitu komunitas kebangsaan.3
Proses perkembangan dan pertumbuhan wawasan kebangsaan itu dimulai dengan
lahirnya organisasi pergerakan Budi Utomo. Para pendirinya seperti Sutomo, Gunawan dan
Suraji tentu saja telah memiliki bayangan tentang bangsa sebagai komunitas bersama.
Meskipun bayangan tentang komunitas bangsa masih terbatas untuk Jawa dan Madura,
tetapi kemunculannya telah membukakan aliran sungai yang terus mengalir semakin luas
bagi tumbuhnya bayangan komunitas bangsa yang lebih luas dan lebih kuat.4
Aliran sungai Budi Utomo itulah yang mendorong aliran sungai Serikat Islam,
Indische Partij dan Perhimpunan Indonesia. Mulai PI inilah bayangan komunitas bangsa yang
lebih luas berkembang dan menguat. Bayangan komunitas bangsa itupun akhirnya dicarikan
identitasnya. Mulai dari diintrodusirnya nama Indische kemudian Indonesische dan akhirnya
menjadi Indonesia. Pengaruh konsep Indonesia dari PI ini kemudian mengalir dengan deras
dan mengaliri organisasi-organisasi pergerakan lainnya. Dan puncak dari aliran deras
bayangan komunitas bangsa dengan nama Indonesia tersebut adalah lahirnya Sumpah
Pemuda. Dengan bermodalkan semangat Sumpah Pemuda inilah para pejuang akhirnya dapat
mewujudkan banyangan komunitas bangsa itu menjadi negara bangsa bernama Negara
Kesatuian Republik Indonesia NKRI pada 17 Agustus 1945.
Membahas wawasan kebangsaan dengan demikian harus dimulai dari nilai-nilai yang
dibangun oleh para pendahulu dan pendiri bangsa ini. Mereka telah menanamkan nilai-nilai
persatuan dengan mencetuskan Sumpah Pemuda yang kemudian menjadi embrio dari
wawasan kebangsaan yaitu : Satoe Noesa, Satoe Bangsa dan Satoe Bahasa, yaitu Indonesia.
Para founding fathers memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan tujuan umum
adalah mengubah sistem feodalistik dan sistem kolonialis menjadi sistem modern dan sistem
demokrasi. Kemerdekaan menurut Sukarno adalah jembatan emas menuju cita-cita
demokrasi, sedangkan pembentukan nation and character building dilakukan di dalam
prosesnya secara terus menerus dan berkesinambungan.
Banyak kalangan yang melihat perkembangan politik, sosial, ekonomi dan budaya di
Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, kekuatiran itu menjadi semakin nyata
ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warganegara akhir-akhir ini, yakni
memudarnya wawasan kebangsaan.
3 Sudiyo, 2002, Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan kemerdekaan, Jakarta : Inti Idayu
Pers.Hlm 56

4 Ibid,Hlm 57
5

Mencermati perilaku seperti itu, maka dapat dipastikan bahwa ikatan nilai-nilai
kebangsaan yang selama ini terpatri kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia yang merupakan
pengejawantahan dari rasa cinta tanah air, bela negara dan semangat patriotisme bangsa mulai
luntur dan longgar. Nilai-nilai budaya gotong royong, kesediaan untuk saling menghargai dan
saling menghormati perbedaan serta kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa yang dulu
melekat kuat dalam sanubari masyarakat yang dikenal dengan semangat kebangsaannya
sangat kental terasa makin menipis.5
Perbincangan tentang wawasan kebangsaan terkait dengan dinamika perkembangan
dewasa ini merupakan isu sentral yang sangat strategis dan relevan untuk dibicarakan serta
dirumuskan strategi pemecahannya.Terdapat beberapa alasan mendasar mengapa persoalan
wawasan kebangsaan menjadi isu sentral bagi bangsa Indonesia di tengah perkembangan
global. Pada tataran politis, globalisasi yang wujudnya proses menghilangkan sekat-sekat
teritorial dan kebudayaan menyebabkan perubahan mondial di seluruh sektor kehidupan
manusa, baik aspek politik, sosial, ekonomi, budaya maupun agama. Pengutamaan nilai-nilai
rasionalitas, kebebasan, humanisme universal yang dibawa globalisasi, tidak dapat dihindari.
Kesadaran kebersamaan global yang terjadi di seluruh penjuru dunia, secara politis
mengakibatkan munculnya gagasan transnasional yang justru melemahkan posisi suatu
negara bangsa. Masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana kontribusi dan peran negara
bangsa bagi warganya, dan sejauh mana relevansi semangat kebangsaan bagi sebuah negara.
Perkembangan kesadaran politik global, di satu sisi bernilai positif karena memungkinkan
persoalan yang dihadapi sebuah negara dipecahkan bersama secara lintas bangsa. Namun, di
sisi lain kondisi tersebut dapat menjadi ancaman terhadap lunturnya rasa kebangsaan warga
negaranya.
Sisi yang lain, digulirkannya otonomi daerah, di satu pihak bermanfaat untuk
mendorong lahirnya kemandirian masyarakat di daerah. Tetapi perlu mewaspadai tumbuhnya
berbagai sikap yang dapat mengancam semangat kebangsaan dan keberadaan NKRI yang
majemuk dan multikultural. Tumbuhnya keangkuhan etnis, sikap kedaerahan yang
etnosentris, serta kesadaran putra daerah sebagai efek samping Otonomi daerah, merupakan
salah satu faktor yang bisa menggerogoti wawasan kebangsaan NKRI yang telah dimiliki.

5 Nugroho Notosantoso, 1991, Sejarah Nasioanal Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Hlm 89
6

Apalagi bila melihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural seperti
beragamnya suku, budaya daerah, agama, dan berbagai aspek politik lainnya, serta kondisi
geografis negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengandung potensi konflik latent
sosial conflict yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.
Pada tataran ekonomi, kondisi masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, seperti
tingginya pengangguran, rendahnya pendapatan yang kurang memadai, serta ketimpangan
sosial lainnya, merupakan sederetan potensi konflik penyebab disintegrasi bangsa. Faktor
sosial ekonomi, merupakan faktor dominan yang menentukan kuat lemahnya suatu bangsa.
Modernisasi yang diperkenalkan globalisasi, cenderung serba rasional, pragmatis,
materialistis, hedonistik, yang pada kenyataannya semakin mempengaruhi sistem nilai, cara
pandang, kriteria dan model perilaku masyarakat.6
Apabila krisis politik dan krisis ekonomi sudah sampai pada krisis kepercayaan diri,
maka eksistensi Indonesia sebagai bangsa nation sedang dipertaruhkan. Maka, sekarang ini
adalah saat yang tepat untuk melakukan reevaluasi terhadap proses terbentuknya nation and
character building kita selama ini, karena boleh jadi persoalan-persoalan yang kita hadapi
saat ini berawal dari kesalahan dalam menghayati dan menerapkan konsep awal
kebangsaanyang menjadi fondasi ke-Indonesiaan.
Tantangan Kebangsaan Indonesia ke Masa Depan .
Faktor-faktor baru sesuai perkembangan dunia internasional sudah harus di
tambahkan seperti keadilan dan pemerataan ,baik untuk semua warga negara maupun antar
daerah, termasuk pemerataan alokasi sumber daya alam dan , manusia keterbukaan dan
demokratisasi termasuk meningkatkan partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan
secara nasional dan daerah peningkatan pelindungan HAM mengurangi sampai batas
minimum KKN Korupsi,Kolusi dan Nepotisme, dan faktor-faktor lain nya yang perlu
diperhitungkan yang umumnya saling kait mengait .
Beberapa pola umumnya dan keunikan sejarah intergasi dan disintegasi bangsabangsa lain yang dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia .
1.

perlunya rasa optimisme bahwa suatau negara bangsa dapat berusia lebih dari 100
tahun.

6 Op, cit, Hlm 98


7

2. adanya modal dasar integrasi yang kuat yakni kesepakatan bersama


3. dilihat dari komposisi homogenitas etnik dan agama Indonesia berada dalam
kelompok tingkat homogenitas etnik rendah. Dalam hal ini setiap organisasi
keagamaan yang lintas etnik dapat perperan mendukung nasionalisme.
4. Indonesia memasuki masa kritis ( tahap 50 100 )
5. unsur kesepakatan dalam intergasi perlu diimbangin dengan unsur keadilan dan
memelukan renegosiasi,
6. perlu pengembangan nasionalisme oleh masyarakat dan bukan nasionalisme oleh
negara yang dapat mengarah pada indoktrinasi.
7. Perlu diperhatikan bahwa disintergasi terjadi karena merasa tidak adanya lagi rasa
nasionalisme .
8.

perlunya pengembangan paradigma Nasionalisme Baru atau mengubah paradigma


nasionalisme yang melihat kewajiban daerah untuk berintergasi dengan pusat dan
pada prinsip nya menjadi hak daerah pula untuk menyatakan berintergasi.

Dengan begitu wawasan kebangsaan Indonesia pada setiap diri anak bangsa yang
baik yaitu dengan ciri :

Adanya rasa ikatan yang kokoh dalam satu kesatuandan kebersamaan diantara

sesamaanggota masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.b.


Saling membantu antara sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan dan cita-

citabersama.
Tidak membangun primodialisme.
Membangun kebersamaan antar warga negara.
Mengembangkan sikap berpikir dan berperilaku

bermasyarakatberbangsa dan bernegara.


Senantiasa berpikir jauh kedepan, membuat gagasan untuk kemajuan bangsa

positif

dalam

kehidupan

dannegaranya menuju kemandirian.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi, Konsep kebangsaan merupakan jiwa, cita-cita, atau falsafah hidup yang tidak lahir
dengan sendirinya. Ia sesungguhnya merupakan hasil konstruksi dari realitas sosial dan
politik. Selanjutnya dikatakannya, bahwa sesungguhnya konsep bangsa itu adalah suatu
komunitas terbayang. Sebagai komunitas terbayang, maka konsep kebangsaan terletak dalam
alam pikiran para pendukungnya, yang membayangkan diri sebagai suatu bangsa.
9

Lalu proses perkembangan dan pertumbuhan wawasan kebangsaan di Indonesia itu


dimulai dengan lahirnya organisasi pergerakan Budi Utomo. Para pendirinya seperti Sutomo,
Gunawan dan Suraji tentu saja telah memiliki bayangan tentang bangsa sebagai komunitas
bersama. Meskipun bayangan tentang komunitas bangsa masih terbatas untuk Jawa dan
Madura, tetapi kemunculannya telah membukakan aliran sungai yang terus mengalir semakin
luas bagi tumbuhnya bayangan komunitas bangsa yang lebih luas dan lebih kuat dan juga
munculnya organisasi kepemudaan lain.
Pada intinya perkembangan wawasan kebangsaan perlu di tumbuhkan pada setiap penerus
generasi bangsa negara Indonesia , dikarenakan wawasan kebangsaan yang baik akan
menciptakan rasa nasionalisme yang tinggi dimana rasa cinta tanah air yang tinggi akan
meningkatkan kualitas setiap warga negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Moh Sadiki Daeng Materu, 1985, Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia, Jakarta :
Gunung Agung.
Sudiyo, 2002, Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan kemerdekaan, Jakarta :
Inti Idayu Pers.
Sudiyo, 1989, Perhimpunan Indonesia Sampai dengan Sumpah Pemuda, Jakarta : Bina
Aksara.
Sudiyo, 2002, Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan kemerdekaan, Jakarta :
Rineka Cipta.

10

Nugroho Notosantoso, 1991, Sejarah Nasioanal Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan.
Drs.G. Moedjanto, M.A, 1980, Indonesia Abad ke-20, Yokyakarta : Kanisius Sagimun, m.D.
1948, Soempah Poemoeda, Jakarta : Balai Pustaka

11