Anda di halaman 1dari 2

Memahami dan menjelaskan Penatalaksanaan

Tata laksana
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan
pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a. Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya
dan rotasi anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi
dan reduksi terbuka, yang masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur.
1. Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan
traksi manual.
2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan
imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang
direduksi. Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat,
paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid
terjadi.
b. Immobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di
imobilisasi atau di pertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar
sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
eksternal atau inernal.
1. Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin
dan teknik gips atau fiksator eksternal.
2. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai
bidai inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur
imobilisasi di butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24
minggu, intra trohanterik 10-12 minggu, batang 18 minggu dan supra
kondiler 12-15 minggu.
c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan
pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu:
1. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
2. Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
3.
4.
5.
6.
7.

Memantau status neurologi.


Mengontrol kecemasan dan nyeri
Latihan isometrik dan setting otot
Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
Kembali keaktivitas secara bertahap.

Tindakan Debridement
1. Penderita diberi toksoid atau ATS
2. Antibiotic untuk bakteri gram positif dan negative
3. Kultur dan resistensi kuman dari dasar luka terbuka
4. Tourniquet disiapkan tetapi tidak perlu ditiup
5. Setelah dalam narkose seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dan
dicukur
6. Luka diirigasi dengan cairan fisiologis atau air matang 5-10 liter, luka
derajat 3 disemprot hingga bebas kontaminasi (jet lavage)

7. Tindakan desinfeksi dan pemasangan duk (draping)


8. Eksisi luka lapis demi lapis, fragmen tulang besar untuk stabilitas
dipertahankan
9. Bila letak luka tidak menguntungkan, dibuat insisi baru yang biasa
digunakan
10. Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup
setelah 1 minggu atau edema hilang. Luka untuk reposisi primer dijahit
primer
11. Fiksasi eksterna yang paling baik, bagi yang pengalaman, dibolehkan
fiksasi interna. Antibiotik diteruskan 3 hari kedepan
Operatif
Dipasang intermedullary nail, ada 3 macam:
1. Kuntsher mail (paling terkenal)
2. Sneider nail
3. Ao nail
Pemasangan intermedullary nail dapat dilakukan secara:
Terbuka
Menyayat kulit fascia sampai tulang yang patah. Pen dipasang secara
retrograde
Tertutup
Tanpa sayatan di daerah patah. Pen dimasukkan melalui ujung trochanter
major dengan bantuan image intersifier(C.arm). Tulang dapat direposisi dan
pen dapat masuk kef ragmen bagian distal
Indikasi operatif, apabila:
- Cara non operatif gagal
- Multiple fraktur
- Rupture A. femoralis
- Patologik fraktur
- Usia lanjut

Farmakologi
Obat-obatan seperti biphosphonates dapat meningkatkan densitas tulang
sehingga mengurangi resiko re-fracture. Kebanyakan obat-obatan ini diminum.
Efek samping

: Nausea, nyeri abdominal, dan inflamasi pada esofagus.

Farmakokinetik

: Oral, jika intoleran dapat digunakan IV tubing.

Sumber: Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 2014. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.


Jakarta: BINARUPA AKSARA Publisher