Anda di halaman 1dari 11

Perhitungan Aerated Drilling

Perhitungan Lumpur Arated Drilling

Lumpur aerasi merupakan lumpur yang memberikan kondisi balance atau sedikit
underbalance yang terdiri dari fasa gas dan fasa cairan. Densitas lumpur aerasi
antara 4 6.95 ppg. Fasa gas yang diinjeksikan ke dalam lumpur dasar
berfungsi untuk mengurangi densitas lumpur dasar yang digunakan. Tekanan
underbalance ( Pub) adalah sebesar 200 500 psi.

Volume Gas injeksi


Gas merupakan fluida yang kompresibel, sehingga volumenya akan berubah
terhadap perubahan tekanan dan temperature. Dengan demikian jika 1 scf gas
diinjeksikan di permukaan, maka pada suatu kedalam dengan tekanan dan
temperature tertentu volume gas tersebut akan menjadi:

Vgp = Vgs

((T_2

. P_1)/(T_2 . P_2 ))

Keterangan :
Vgp

= volume gas pada suatu kedalaman (D), cuft

Vgs

= volume gas pada kondisi permukaan (s), scf

T1

= temperature permukaan (s), Ro

T2

= temperature rata rata pada suatu kedalaman (d), Ro


= {(D/2) x T} +T1

P1

= tekanan permukaan, psia

P2

= tekanan rata rata pada suatu kedalaman, psi


= {(D x P) + P1}/2

= gradient temperature, oF/100 ft

= gradient tekanan, psi/ft

Densitas gas juga akan berubah terhadap kondisi tekanan dan temperature pada
kedalaman tertentu. Jikia gravity gas (S) = 1, maka densitas gas ( gs ) pada
kondisi permukaan adalah :

gs = (2730 x S x P_1)/T_1

Maka besarnya densitas gas ( gp ) pada kedalaman tertentu adalah :

gp = gs ((T_1 . P_2)/(T_2 . P_1 ))

Keterangan :
gs

= densitas gas pada kondisi permukaan, scf

gp

= densitas gas pada kondisi suatu kedalaman, pcf

= gravity gas

T1

= temperatur permukaan (s), Ro

T2

= temperatur rata rata pada suatu kedalaman, Ro

P1

= tekanan permukaan, psia

P2

= tekanan rata rata pada suatu kedalaman, psi


= {(D x P) + P1}/2

Dengan demikian volume gas yang diinjeksikan di permukaan untuk menurunkan


densitas lumpur sampai didapat kondisi yang diinginkan dapat dihitung
A . QA

= 1 . Q1 + gp . Qgp

A . (Q1 + Qgp )
Qgp

= 1 . Q1 + gp . Qgp

= ((_(1 . ) Q_1 ) - (_(A . ) Q_1) )/((_(A - ) _gp ) )

Keterangan :
A

= densitas lumpur aerasi, ppg

QA

= laju volumetric gas injeksi, gpm

= densitas lumpur dasar, ppg

Q1

= laju alir lumpur dasar, gpm

gp

= densitas pada kondisi suatu kedalaman, ppg

Qgp

= laju volumetrik gas injeksi pada kondisi kedalaman, gpm

Besarnya densitas lumpur aerasi (A) yang diinginkan dapat ditentukan dengan
cara mengurangi harga tekanan formasi ( Pf ) dengan harga tekanan
underbalance (Pub) yang kemudian dikonfersi menjadi berat lumpur (ppg).

PA = Pf Pub

Keterangan :
PA

= tekanan yang diakibatkan lumpur aerasi, psi

Pf

= tekanan formasi, psi

Pub

= tekanan underbalance, psi

Setelah didapat laju volumetrik gas injeksi pada suatu kedalaman, maka
selanjutnya adalah menentukan laju volumetrik gas injeksi di permukaan dengan
persamaan dibawah ini :

Qgs = Qgp ((T_1 . P_2)/(T_2 . P_1 ))

Keterangan :
Qgs

= laju volumetrik gas injeksi di permukaan, scfm

T1

= temperatur permukaan (s), Ro

T2

= temperatur rata rata pada suatu kedalaman, Ro

P1

= tekanan permukaan, psia

P2

= tekanan rata rata pada suatu kedalaman, psi


= {(D x P) + P1}/2

Fraksi Cair Dalam Lumpur Aerated Drilling


Berdasarkan persamaan diatas maka fraksi volume gas di dalam drillstring akan
berkurang dengan semakin bertambahnya kedalaman (bertambah tekanan dan
temperature). Sebaliknya, fraksi volume gas akan bertambah ketika naik ke
permukaan di dalam annulus.

Flp = V_lp/V_T = V_tp/(V_gp + V_lp )


Flp = F_lo/{F_lo + (( 1-F_lo ))/((P/P_o ) )}

Fgp = V_gp/V_T = V_gp/(V_gp + V_lp )


Fgp = F_go/{F_go + (( 1-F_go ))/((P/P_o ) )}

Fgp + Flp = 1

keterangan :
Flo

= fraksi lumpur dasar pada komdisi permukaan, %

Fgo

= fraksi gas pada kondisi permukaan, %

Flp

= fraksi lumpur dasar pada kondisi kedalaman, %

Fgp

= fraksi gas pada kondisi kedalaman, %

Vgo

= volume gas pada kondisi permukaan, %

Vgp

= Volume gas pada kondisi kedalaman, cfm

Vt
P
Po

= total volume, cfm


= tekanan pada kedalaman tertentu, psi
= tekanan atmosfer, psi

Viskositas Lumpur Aerated Drilling


Viskositas lumpur aerasi adalah ketahanan lumpur aerasi terhadap aliran,
dengan satuan centipoise. Untuk menentukan besarnya viskositas fluida dua fasa
pada setiap kedalaman yang mempunyai tekanan dan temperatur yang berbeda
dapat dicari dengan menggunakan persamaan dibawah ini:

A = ( Fgp . gp ) + ( 1 Fgp ) . l

keterangan :
A
gp
l
Fgp

= viskositas lumpur aerasi, cp


= viskositas gas, cp
= viskositas lumpu dasar, cp
= fraksi gas pada kondisi kedalaman, %

Hal ini berarti bahwa viskositas lumpur aerasi pada suatu kedalaman akan
berubah tergantung dari fraksi volume gasnya. Semakin dalam suatu pemboran,
maka viskositas lumpur aerasi dalam drillstring akan semakin besar karena fraksi
volume gas dalam lumpur aerasi semakin berkurang. Sebaliknya ketika lumpur
aerasi bersirkulasi menuju permukaan, viskositas lumpur aerasi di annulus akan
semakin berkurang, karena didalam annulus fraksi gas bertambah.

Kecepatan Dan Pola Aliran Lumpur Aerated Drilling


Kecepatan lumpur aerasi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan
berikut ini :

Dalam drillstring (Vp) :


Vp = Q_A/((/4) . D_ip^2 ) , fpm

Dalam annulus (Vann) :


Vann = Q_A/((/4) . (D_(h )^2 - D_op^2 ) ) , fpm

Keterangan :
Vp

= kecepatan lumpur aerasi dalam drillstring, fpm

QA

= laju alir lumpur aerasi, cfm

Dip

= diameter dalam drillpipe, inci (= 0.0833 ft)

Dh

= diameter lubang bor, inci (= 0.0833 ft)

Dop

= diameter luar drillpipe, inci (= 0.0833 ft)

Dengan mengetahui kecepatan lumpur aerasi maka pola aliran lumpur aerasi
dapat diperkirakan dengan menggunakan bilangan Reynold :

Untuk aliran drillstring :


NRe = (15,47 . D_ip . _A . V_P)/_A

Untuk aliran di annulus :


NRe = (15,47 . D_ep . _A . V_ann)/_A

Keterangan :
NRe
Dip
Dep
A

= bilangan Reynold
= diameter dalam drillpipe, inci (= 0.0833 ft)
= diameter hidrolika annulus, inci (= 0.0833 ft)
= densitas lumpur aerasi, ppg

Vp

= kecepatan lumpur aerasi dalam drillstring, fpm

= viskositas lumpur aerasi, cp

Vann

= kecepatan lumpur aerasi dalam annulus, fpm

Secara teoritis, aliran akan : laminar jika NRE < 2000, transisi jika 2000 < NRe <
4000 dan turbulen jika NRe > 4000

Metode Poettman Dan Bregmann


Selain dengan cara diatas (gas law), penentuan volume gas yang diinjeksikan
dapat dilakukan dengan metode Poettman dan Bergmann. Dengan membaca
grafik Poettman dan Bergmann. Selain itu bisa juga dengan mengunakan
perhitungan sebagai pengganti grafik.

S = (42 . D . _(l )- 808 . ( P_A- P_s ))/(4,071 . T_(2 ) . ln(P_A/P_s ) 0,0764 . D)

Keterangan :
S

= volume udara ( scf ) yang diinjeksikan per barrel lumpur dasar

= kedalaman, ft

= densitas lumpur dasar, ppg

PA

= tekanan yang diakibatkan lumpur aerasi, psi

PS

= tekanan atmosfer, psi

T2

= temperatur rata rata pada suatu kedalaman, Ro

Pengangkatan Serbuk Bor


Salah satu faktor yang menyebabkan terjepitnya pipa dan hilang sirkulasi adalah
karena kurang optimumnya pembersihan lubang bor oleh fluida pemboran.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan fluida pemboran untuk
mengangkat serbuk bor melalui annulus adalah:

Kecepatan menggelincir (slip) serbuk bor didalam annulus (Vann)


Rheologi fluida pemboran
Kecepatan putaran pipa dan ROP
Kemiringan lubang bor
Pola aliran fluida pemboran dan serbuk bor

Berdasarkan pengalaman dibanyak lapangan, konsentrasi kritis serbuk bor (Cc)


di dalam lubang bor yang diijinkan adalah tidak lebih dari 4 % agar tidak terjadi
masalah pemboran yang berhubungan dengan pembersihan lubang bor. Berarti
dibutuhkan kecepatan kritis ( Vc ) untuk mengeluarkan serbuk bor dari lubang
bor agar konsentrasi serbuk bor di dalam annulus tidak melebihi konsentrasi
kritis (Cc)

Vc = ROP/(60 . C_c ) , fpm

Keterangan :
Vc
ROP
Cc

= Kecepatan kritis, fpm


= Rate of penetration, ft/hr
= konsentrasi kritis

Sementara serbuk bor sendiri mempunyai kecenderungan untuk bergerak


berlawanan arah dengan fluida pemboran atau disebut dengan kecepatan
terminal serbuk bor (Vt). Moore1974, memperkirakan kecepatan terminal serbuk
bor untuk pola aliran laminar, transisi dan turbulen yang melalui serbuk bor.

Dalam aliran laminar :


Vt = 4980 . dc . ((_c - _A)/_A )

Dalam aliran transisi :


Vt = 175 . dc . [(_C - _A )^(2/3)/(_A . _A )^(1/3) ]

Dalam aliran turbulen :


Vt = 92,6 (dc ((_C - _A)/_A ) )

Bilangan Reinold untuk serbuk bor :


NRec = (15,47 . _A . V_t . dc)/_A

Secara teoritis, aliran yang melalui serbuk bor akan laminar jika NRec < 1, aliran
transisi jika 1 < NRec < 2000, aliran akan turbulen jika NRec > 2000. Dengan
demikian pembersihan lubang bor akan cukup baik jika kecepatan lumpur aerasi
di annulus (Vann) melebihi kumulatif kecepatan kritis (Vc) dan kecepatan
terminal (Vt) serbuk bor.

Vann > Vc + Vt

Keterangan :
Vann

= kecepatan lumpur aerasi di annulus , fpm

Vc

= kecepatan kritis, fpm

Vt

= kecepatan terminal , ftm

Kecepatan terminal serbuk bor pada lintasan vertikal berbeda dengan kecepatan
terminal lintasan berarah. Rudy dan kawan kawan membuat suatu persamaan
untuk kecepatan minimum lumpur di annulus untuk mengangkat serbuk bor
yang terdapat dalam lubang bor pada lintasan berarah.

Untuk 45o :
Vmin = Vc + [1+ ( . (600 -RPM) . (3+_(A )))/202500] . Vt, fpm

Untuk 45o :
Vmin = Vc + [1+ ((600 -RPM) . (3+_(A )))/4500] . Vt, fpm

Keterangan :
Vmin = kecepatan minimum, fpm
Vc

= kecepatan kritis, fpm

Vt

= kecepatan terminal, fpm

= densitas lumpur, ppg

ROP

= rate of penetration, ft/hr

Besarnya efisiensi transport cutting ditentukan dengan


VT

= Vann - Vt

Et

= V_T/V_ann x 100%

Dengan menggunakan persamaan Rudy tersebut dapat diketahui apakah


pengangkatan serbuk bor dari annulus sudah baik atau belum.
Pengangkatan cukup baik, jika :
Vann > Vmin
Pengangkatan serbuk kurang baik, jika :
Vann < Vmin

Untuk optimasi ROP ditentukan dengan memperhatikan besarnya konsentrasi


cutting, konsentrasi maksimum yang baik adlah 4 %.

= (ROP x D_h^2)/(14,71 x E_(t ) x Q)

Ca

Keterangan :
ROP

= Rate of penetration, ft/hr

VT

= Cutting transport, ft/min

Et

= Efisiensi cutting transport, %

Ca

= Konsentrasi cutting dalam fluida pemboran di annulus

Dh

= Diameter lubang bor, inch

= laju alir lumpur aerasi, gpm

Untuk perhitungan indeks pengendapan cutting maka terlebih dahulu dicari


kecepatan terminal searah lubang sumur (Vta) dan kecepatan terminal radial
(Vtr)
Vta = 1/60 x Vt x cos
Vtr = 1/60 x Vt x sin

Dengan adanya Vtr cutting akan mengendap dalam waktu Ts, yang ditentukan
dengan rumus berikut:
TsDP = ( 1/12(D_h-D_op))/V_tr
TsDC = ( 1/12(D_h-D_oc))/V_tr

Sedangkan jarak yang ditempuh sebelum cutting mengendap adalah


Lc = (Vann Vta) x Ts
Untuk indeks pengendapan cutting dapat dihitung dengan rumus:
PBI =
Keterangan :
Dh

= diameter lubang bor, inch

Doc

= diameter luar drillcollar, inch

Dop

= diameter luar drillpipe, inch

Vann

= kecepatan annulus

Vt

= kecepatan terminal serbuk bor