Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KERJA PRAKTIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Praktek Kerja merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti dan
merupakan bagian dari kurikulum Program Studi Teknik Sipil Universitas Lambung
Mangkurat.Penulisan laporan praktek kerja adalah sebagai syarat akademis dari mata
kuliah tersebutdan merupakan syarat untuk menyusun Tugas Akhir. Untuk dapat
melaksanakan praktek kerja disyaratkan harus memperoleh jumlah satuan kredit
semester (SKS) minimal 100 SKS.Tahap kerja praktek yang harus dilakukan oleh
mahasiswa selama berlangsungnya kerja praktek yaitu selama 2 bulan kerja (setelah
diterbitkannya surat penunjukan asisten pembimbing)
Praktek Kerja dilakukan agar mahasiswa dapat mengenal, mengetahui, melihat
serta memahami hal-hal yang terjadi di lapangan sehingga akan menjadi bahan masukan
dan penerapan teori-teori yang didapat di kelas. Dengan adanya pengalaman di lapangan
diharapkan nantinya bisa menjadi bekal pengetahuan yang kemudian dapat diterapkan
untuk bekerja pada suatu pekerjaan konstruksi teknik sipil.
1.1.1.

Lingkup Kerja Praktek

Tahap yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa selama berlangsungnya praktek


kerja pada PekerjaanPembangunanRumah Sakit Daerah Banjarbaru adalah:
1. Melakukan kerja praktek dengan adanya bukti absensi atau jadwal hadir ke
lokasi kerja praktek yang ditandatangani oleh project enggineering manager
atau pihak yang berwenang.
2. Melakukan kegiatan asistensi dengan dosen pembimbing kerja praktek.
3. Membuat laporan kegiatan kerja praktek.
4. Mengikuti ujian wawancara.
1.1.2.
Tujuan Kerja Praktek
Adapun tujuan kerja praktek adalah:
1. Mempelajari aplikasi pengetahuan yang didapat dibangku kuliah.
2. Melakukan analisa singkat terhadap salah satu bagian pekerjaan di lapangan
yaitu pekerjaan pondasi.
3. Analisa pada kegiatan-kegiatan konstruksi yang dapat menunjukan metodemetode pengendalian mutu, jadwal dan biaya proyek suatu konstruksi secara
lebih baik.

LAPORAN KERJA PRAKTIK

4. Memahami berbagai teknik dan kendala dalam pelaksanaan proyek.


5. Mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang tidak di dapat di
bangku kuliah.
Pengalaman dan pengetahuan kerja praktekadalah pelajaran berharga bagi
mahasiwa, yang pada dasarnya lebih menekankan penerapan ilmu yang didapat pada
praktek di lapangan. Adapun pengetahuan yang didapat mahasiswa adalah:
1. Prosedur kegiatan suatu pekerjaan teknik.
2. Pengetahuan tentang manajemen suatu proyek.
3. Pengetahuan tentang teknik pelaksanaan ataupengerjaan suatu pekerjaan sipil.
1.1.3.
Batasan Masalah
Dalam laporan kerja praktek ini, masalah yang akan dibahas adalah mengenai
pondasi dan pile cap yang digunakan pada Pekerjaan Pembangunan Rumah Sakit
Daerah Banjarbaru , dimana pada proyek tersebut menggunakan tipe pondasi tiang
pancang.

1.2.Data Umum Proyek


Adapun data-data umum proyek yang bersangkutan adalah sebagai berikut:
Nama Proyek

: Pembangunan Jembatan Madurejo II Kecamatan Sambang


Makmur

Nomor Kontrak

: 1505.Kjb01/04/PPK-BM/DBMSDA/2014

Tanggal Kontrak

: 5 Juni 2014

Pemilik Proyek

: Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kab. Banjar

Konsultan Perencana

: CV. Airlangga Konsultan

Kontraktor

: PT. Keraton Indah

Jenis Konstruksi

: Jembatan

Nilai Kontrak
Sumber Dana

: Rp. 1.942.123.000.000,: APBD Kab. Banjar 2014

Waktu Pelaksanaan

: 150 Hari Kalender

Waktu Pemeliharaan

: 365 Hari Kalender

Lokasi

: Kec. Sambang Makmur Kab. Banjar

BAB II
TINJAUAN PROYEK
2.1Penetapan Pelaksana
2

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Dalam proyek atau pemborongan suatu pekerjaan, terdapat kegiatan yang harus
fase yang mendahului terjadinya perjanjian. Fase sebelum kontrak ini biasanya disebut
proses tender atau proses pelelangan.
Pengadaan barang dan jasa pemborongan dan jasa lainnya dilakukan secara
terbuka untuk umum dengan pengumuman secara luas melalui media cetak dan papan
pengumuman resmi untuk penerangan umum serta jika memungkinkan melalui media
elektronik, sehingga masyarakat luas atau dunia usaha yang berminat dan memenuhi
syarat dapat mengikutinya.
Pengadaan barang dan jasa pemborongan jasa lainnya menurut Pepres RI No. 4
Tahun 2015 dilaksanakan melalui :
1. Pelelangan
Pelelangan umum yaitu serangkaian kegiatan untuk menyediakan barang
dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata cara tertentu yang telah
ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihak yang terkait secara taat azas sehingga
terpilih penyedia barang dan jasa terbaik.
Dalam persiapan menyelenggarakan pelelangan, penunjukan langsung
atau pengadaan harus diperhatikan :
1. Penyedia barang/jasa yang dapat mengikuti pelelangan adalah penyedia jasa
yang telah memenuhi kualifikasi dan memiliki kemampuan sumber daya
sesuai dengan dokumen prakualifikasi.
Penyedia barang/jasa harus menyampaikan :
a. Sertifikasi penyedia barang/jasa kecuali LSM
b. Daftar susunan pemilik modal, susunan pengurus, dan akte pendirian
beserta perubahan-perubahan (bila ada perubahan)
c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan bukti pembayaran kewajiban
pajak pada tahun terakhir.
d. Dokumen lainnya dipersyaratkan dokumen lelang.
2. Secara hukum mempunyai kapasitas melakukan ikatan kontrak pengadaan
barang/jasa.
3. Tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak
sedang dihentikan, dan atau yang berwenang menandatangani kontrak atau
kuasanya tidak sedang menjalani hukum pidana.

LAPORAN KERJA PRAKTIK

4. Direksi yang berwenang menandatangani kontrak atau kuasanya belum


pernah dihukum berdasarkan putusan pengadilan atas tindakan yang
berkaitan dengan kondite profesional perusahaann/perorangan.
5. Tidak membuat pernyataan yang tidak benar tentang kualifikasi, klarisifikasi
dan sertifikasi yang dimilikinya.
6. Pelelangan dan pemilihan langsung pengadaan pekerjaan konstruksi
memiliki dukungan keuangan dari bank.
2. Pemilihan Langsung
Yaitu cara pelelangan sulit dilaksanakan atau jika menjamin pencapaian
sasaran, dilaksanakan dengan membandingkan penawaran dari beberapa penyedia
barang dan jasa yang memenuhi syarat melalui permintaan harga ulang (Price
Question) atau permintaan teknis harga, sehingga diperoleh harga yang wajar, dan
secara teknis dapat dipertanggung jawabkan.
3. Penunjukan Langsung
Yaitu pengadaan barang atau jasa yang penyediaan barang dan jasanya
ditentukan oleh kepala kantor atau satuan kerja pimpinan proyek atau bagian
pejabat yang disamakan atau yang ditunjukan dan ditetapkan untuk :
1.Pengadaan barang dan jasa yang berskala kecil.
2. Pengadaan barang atau jasa yang dilakukan pelelangan ulang hanya satu
peserta yang memenuhi syarat.
3. Pengadaan yang bersifat mendesak atau khusus setelah mendapat
persetujuan dari menteri atau lembaga pemerintahan non departemen atau
Gubernur atau Bupati atau Walikota atau Direksi BUMN.
4.Penyedia barang dan jasa tunggal.

4. Swakelola
Swakelola adalah pengadaan barang/jasa dimana pekerjaannyadirencanakan,
dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh K/L/D/I sebagai penanggung jawab
anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok masyarakat.

2.2Organisasi Proyek

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Di dalam suatu proyek selalu terjadi rangkaian kegiatan dengan urutan


pekerjaan yang harus dilaksanakan dan diselesaikan.Untuk mendapatkan hasil yang
baik dan sesuai dengan yang diinginkan, maka diperlukan suatu struktur organisasi
dalam pelaksanaannya.
2.2.1 Pemilik Proyek (Owner)
Pemberi tugas (pemilik proyek ) adalah seseorang atau badan hukum atau
instansi yang memiliki proyek dan menyediakan dana untuk merealisasikannya.
Pemilik proyek mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
Mengendalikan proyek secara keseluruhan untuk mencapai sasaran baik segi
kualitas fisik proyek maupun batas waktu yang telah ditetapkan.
Mengadakan kontrak dengan kontraktor yang memuat tugas dan kewajiban
sesuai prosedur.Menunjuk kontraktor pemenang tender untuk melaksanakan

proyek tersebut.
Menyediakan dana yang diperlukan untuk merealisasikan proyek.
Menandatangani surat perjanjian pemborongan dan surat perintah kerja.
Menetapkan pekerjaan tambahan atau pengurangan pekerjaan.
Mengeluarkan semua instruksi dan menyerahkan semua dokumen pembayaran

kepada kontraktor
Menerima hasil pekerjaan dari pelaksanaan proyek atau kontraktor.
Pemilik Proyek Pembangunan Jembatan Madurejo II adalah Dinas Bina Marga dan
Sumber Daya Air Kab. Banjar.
2.2.2 Kontraktor
Kontraktor adalah pihak yang diserahi tugas untuk melaksanakan pembangunan
proyek oleh ownermelalui prosedur pelelangan. Pekerjaan yang
dilaksanakan harus sesuai dengan kontrak ( Rencana Kerja dan Syarat-Syarat serta
Gambar-Gambar Kerja ) dengan biaya yang telah disepakati.
Kontraktor mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut :
Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat yang telah
ditetapkan dalam dokumen kontrak.
Membuat gambar kerja (shop drawing) sebelum memulai pelaksanaan
pekerjaan.
Membuat dokumen tentang pekerjaan yang telah dilaksanakan dan diserahkan
kepada owner
5

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan proyek.


Mengasuransikan pekerjaan dan kecelakaan kerja bagi tenaga kerja.
Melakukan perbaikan atas kerusakan atau kekurangan pekerjaan akibat kelalaian
selama pelaksanaan dengan menanggung seluruh biayanya.
Menyerahkan hasil pekerjaan setelah pekerjaan proyek selesai.
Pada proyek ini pihak yang bertindak sebagai kontraktor adalah PT. Keraton Indah
Struktur Organisasi Kontraktor

Direktur Utama
MUHAMMAD UMAR

Pengawas Proyek
DEVY TRIONO, ST

Pelaksana Lapangan
RAKHMAN, ST

2.2.3 Perencana (Konsultan)


Perencana adalah badan yang menyusun program kerja,rencana kegiatan dan pelaporan
serta ketatalaksanaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Perencanaan mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut :
Membuat perencanaan lengkap meliputi gambar bestek,Rencana Kerja dan
Syarat (RKS),perhitungan struktur ,serta perencanaan anggaran biaya.
Menyiapkan dokumen untuk proses lelang.
Membantu dalam pelelangan proyek seperti memberikan penjelasan dalam rapat
pemberian pekerjaan,membuat berita acara penjelasan.
Memberikan usulan,saran dan pertimbangan kepada pemberi tugas (owner)
tentang pelaksanaan proyek.
Memberikan jawaban dan penjelasan kepada kontraktor tentang hal-hal yang
kurang jelas dari gambar bestek dan Rencana Kerja dan Syarat (RKS).
Membuat gambar revisi jika ada perubahan .
Menghadiri rapat koordinasi pengelola proyek.

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Mempelajari petunjukpetunjuk teknis,Peraturan Perundang-undangan yang


berlaku sebagai pedoman kerja.
Mengadakan koordinasi dengan Sub Dinas lain dan instansi terkait sesuai
dengan bidangnya.
Menyusun rencana strategis dinas.
Melaksanakan pembinaan,pengawasan dan pengendalian dibidang bina program.
Pada proyek ini pihak yang bertindak sebagai perencanaan adalah CV. Airlangga
Konsultan

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Manajemen Pelaksanaan
Dalam

pelaksanaan

suatu

proyek

diperlukan

cara

yang

dapat

mengendalikan proyek harus dapat membuat siklus manajemen sehingga proyek


dapat terlaksana dengan baik dan selesai pada waktu yang telah ditentukan.
Selain itu pemakaian material, peralatan, dan tenaga kerja dapat dioptimalkan.

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Siklus manajemen tersebut dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut:


Rencana

Program

Evaluasi

Pelaksanaan

Pengawasan
Pelaporan

Gambar 3.1 Manajemen Proyek


3.1.1

Rencana Kerja
Rencana kerja merupakan proses kegiatan yang dinamis dalam rangka
penentuan saran saran yang hendak dicapai, pengalokasian dana dan sumber
daya atau penilaian terhadap hasil hasil untuk menentukan langkah
selanjutnya. Perencanaan lapangan dapat mengantisipasi kemungkinan
terjadinya masalah.

3.1.2

Pemprograman
Pemprograman adalah proses dinamis dalam rangka perencanaan yang
menetralisir

rencana-rencana

menghubungkan

kedalam

kebijakan-kebijakan

program-program

dalam

pembuatan

kerja

serta

anggaran

dan

pelaksanaan operasionalnya. Program yang baik adalah program yang


didasarkan atas penilaian dan penggunaan waktu yang biasa disebut
programming dan scheduling.
Dengan adanya program kerja, pelaksana dapat mengetahui bagian
pekerjaan, sarana, ruang dan waktu yang diberikan kepadanya untuk

LAPORAN KERJA PRAKTIK

menyelesaikan pekerjaan tersebut, selanjutnya pelaksana dapat membuat


program kerja untuk kebutuhan sendiri.
3.1.3

Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan harus menuju kearah tujuan yang ingin dicapai dan
tetap dalam arah kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Dalam rangka
pelaksanaan ini unsur-unsur dalam siklus manajemen adalah pimpinan dan
pengendalian.
Dalam pelaksanaanya, pimpinan memiliki peranan yang dominan dalam
menggerakan organisasi menuju sasaran yang telah ditetapkan. Pimpinan harus
mampu mempengaruhi dan menggerakkan bawahannya dan bekerjasama untuk
mencapai sasaran dan tujuan.
Pengendalian adalah kegiatan untuk menjamin sesuainya hasil kerja
dengan rencana, program, perintah dan ketentuan lainnya, termasuk tindakantindakan kolektif terhadap ketidak mampuan atau penyimpangan.

3.1.4

Pengawasan
Pengawasan

merupakan

kegiatan

pemeriksaan,

pencocokan,

serta

mengusahakan agar pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana dan hasil yang
diinginkan.
Kegiatan

pengawasan

ini

langsung

dilakukan

oleh

lapangan.Kegiatan pengawasan meliputi:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
3.1.5

Pengawasan kualitas : Uji Slam, Uji kuat tekan beton (kubus beton).
Pengawasan kuantitas : Pengukuran volume, Pengukuran Lahan.
Pengawasan kegiatan keuangan.
Pengawasan kegiatan material.
Pengawasan kegiatan operasional.
Pengawasan kegiatan organisasi.
Pengawasan kegiatan personil.

Evaluasi

pengawas

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Evaluasi proyek bertujuan menilai kelayakan suatu gagasan proyek. Hasil


penilaian digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan
untuk menolak atau menerima proyek yang direncanakan.
3.1.6

Pelaporan
Pelaporan merupakan suatu sistem kerja berupa hal penyampaian hasil
kegiatan secara berkala, kontinyu menurut aturan yang telah ditentukan dan tidak
ditentukan. Dengan adanya suatu laporan, kegiatan dapat dimonitor dan diikuti
perkembangannya.
Ada 3 jenis pelaporan dalam proyek :

Laporan Harian
Dalam laporan ini tercantum semua peristiwa yang berhubungan dengan
pekerjaan pada hari tersebut, diantaranya:

Jumlah Jumlah tenaga kerja dengan keahliannya yang bekerja pada hari
ituserta jumlah jam kerjanya.

Jenis pekerjaan yang dikerjakan pada hari tersebut.

Jenis dan jumlah bahan bangunan yang datang pada hari tersebut.

Jenis dan jumlah peralatan pekerjaan yang digunakan

Hal hal yang mempengaruhi pekerjaan, misalnya hujan, gangguan listrik


dan lain lain.

Intruksi yang diberikan dan pekerjaan yang diperiksa oleh Konsultan


Pengawas.

Catatan hal hal yang penting selama pelaksanaan pekerjaan.

Laporan Mingguan
Dalam laporan mingguan, tercantum secara garis besar apa yang terjadi
setiap hari pada minggu tersebut. Dilaporkan pula peristiwa yang berhubungan
dengan pekerjaan, yaitu:

Jumlah tenaga kerja yang digunakan di lokasi pekerjaan (ada atau tidaknya
penambahan atau pengurangann pada minggu tersebut).

10

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Jumlah bahan yang terpakai dari yang dipesan pada minggu tersebut.

Perintah pekerjaan, jenis pekerjaan, peringatan peringatan, evaluasi dari


Konsultan Pengawas terhadap jalannya pembanguan proyek.

Catatan dari Konsultan Pengawas tentang, bobot pekerjaan yang telah


dilaksanakan sampai dengan minggu itu, disertai peringatan jika ada
keterlambatan
Laporan

mingguan

perlu

dilakukan

sebagai

laporan

kemajuan

fisikpekerjaan selama seminggu waktu pelaksanaan.Laporan mingguan ini


disusun berdasarkan laporan harian. Pada laporan ini perlu diketahui:

Jumlah tenaga kerja dan kualitas pekerjaan tiap minggu.

Kemajuan pekerjaan tiap minggu.

Rekapitulasi biaya laporan mingguan kemajuan pekerjaan, dilaporakn pula


kemajuan realisasi pekerjaan mingguan terhadap rencana mingguan yang
dapat dilihat pada Time Schedule, berdasarkan ini dapat diketahui
kemajuan pekerjaan mingguan, terlambat atau tidaknya pekerjaan
berdasarkan Time Schedule.

Laporan Bulanan
Pada setiap akhir bulan dibuat evaluasi kemajuan pekerjaan
berdasarkan laporan mingguan.Laporan bulanan ini berisikan hal-hal
yang dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan.Keterlambatan karena
gangguan cuaca atau masalah-masalah lainnya dan tindakan yang
diambil sebagai upaya penanganan masalah tersebut. Laporan bulanan ini
dibuat sebagai.pertanggung jawaban dari Konsultan Pengawas terhadap
kondisi fisik pelaksanaan konstruksi setiap bulan selama pelaksanaan,
berikut proses - proses yang mendukung dan membatasinya. Prestasi
kemajuan fisik yang dilaporkan dalam laporan bulanan, digunakan
sebagai acuan untuk penagihan bulanan.Laporan bulanan biasanya
dilengkapi dengan foto-foto yang berfungsi sebagai dokumentasi proyek.

Kondisi di Proyek
Pelaksanaan Proyek tidak memiliki kendala yang dapat menghambat
pengerjaan proyek sehingga dapat berjalan sesuai rencana awal.

11

LAPORAN KERJA PRAKTIK

3.2 Metode Pelaksanaan


3.2.1 Perencanaan Struktur Bawah
Struktur bawah berfungsi menerima/memikul beban-beban yang
diberikan bangunan atas dan kemudian menyalurkannya ke pondasi. Bebanbeban tersebut selanjutnya oleh pondasi disalurkan ke tanah.Untuk mengetahui
jenis pondasi yang akan digunakan harus diketahui terlebih dahulu mengenai
keadaan, susunan dan sifat lapisan tanah serta daya dukungnya. Masalahmasalah teknik yang sering dijumpai oleh ahli-ahli teknik sipil adalah dalam
menentukan daya dukung dan kemungkinan penurunan/settlement yang terjadi.
3.2.2 Penyelidikan Tanah
Metode

penyelidikan

tanah

pada

jembatan

mencakup

seluruh

penyelidikan lokasi kegiatan berdasarkan klasifikasi jenis tanah yang didapat


dari hasil tes dengan mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data tanah
dan material guna menentukan jenis tipe pondasi yang tepat dan sesuai tahapan
kegiatannya, sebagai berikut:
1. Mengadakan penyelidikan tanah dan material di lokasi Pekerjaan jembatan yang
akan dibangun dengan menetapkan lokasi titik-titik bor yang diperlukan
langsung di lapangan.
2. Melakukan penyelidikan kondisi permukaan air (sub-surface) sehubungan
dengan pondasi jembatan yang akan dibangun.
3. Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi Pekerjaan,
kemudian dituangkan dalam bentuk penggambaran peta termasuk sarana lain
yang ada seperti jalan pendekat/oprit, bangunan pelengkap/pengaman dan lain
sebagainya.
4. Pekerjaan pengambilan contoh dengan pengeboran (umumnya terhadap
undisturbed sampling) dimaksudkan untuk tujuan penyelidikan lebih lanjut

12

LAPORAN KERJA PRAKTIK

dilaboratorium untuk mendapatkan informasi yang lebih teliti tentang parameter


parameter tanah dari pengetesan Index Properties (Besaran Indeks) dan
Engineering Properties (Besaran Struktural Indeks).
5. Penyelidikan tanah untuk desain jembatan yang umum dilaksanakan di
lingkungan Bina Marga dengan bentang > 60 m digunakan bor mesin (alat bor
yang digerakkan dengan mesin) di mana kapasitas kedalaman bor dapat
mencapai 40 m disertai alat split spoon sampler untuk Standar Penetration Test
( SPT ) menurut AASHTO T 206 74. Sedangkan untuk bentang < 60m (relatif
dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi) digunakan peralatan utama lapangan
yang terdiri atas: (a) Alat sondir dengan bor tangan (digerakkan dengan tangan);
(b) Pengeboran harus dilakukan sampai kedalaman yang ditentukan (bila tidak
ditentukan lain) untuk mendapatkan letak lapisan tanah dan jenis batuan beserta
ukurannya dan harus mencapai tanah keras/batu dan menembus sedalam kurang
lebih 3.00 m; (c) Boring dan sampling harus dikerjakan dengan memakai
Manual Operated Auger dengan kapasitas hingga kedalaman 10 m; dan
(d) Alat tes sondir tipe Gouda atau sejenisnya, antara lain Dutch
ConePenetrometer yang memakai sistem metrik dan harus dilengkapi dengan
Friction Jacket Cone, kapasitas tegangan konus minimum 250 kg/cm2 dan
kedalamannya dapat mencapai 25 m.
6. Pada setiap jembatan, penyelidikan tanah yang dibutuhkan pada masing-masing
lokasi rencana pondasi harus sudah menetapkan penggunaan jenis bor dan posisi
lubang bor yang direncanakan serta jumlah titik bor minimal satu titik boring,
yaitu satu titik bor mesin atau satu set bor tangan dan sondir, tergantung bentang
rencana jembatannya. Hal ini tergantung pada kondisi area (alam dan lokasi),
kepentingan stuktur dan tersedianya peralatan pengujian beserta teknisinya.
7. SPT dilakukan pada interval kedalaman 1,50 m sampai dengan 2,00 m untuk
diambil contohnya (undisturbed dan disturbed).

13

LAPORAN KERJA PRAKTIK

8. Mata bor harus mempunyai diameter yang cukup untuk mendapatkan


undisturbed sample yang diinginkan dengan baik, dapat digunakan mata bor
steel bit untuk tanah clay, silt dan mata bor jenis core barrel.
9. Digunakan casing (segera) bilamana tanah yang dibor cenderung mudah runtuh.
10. Untuk menentukan besaran index dan structural properties dari contoh-contoh
tanah, baik yang terganggu (disturbed) maupun yang asli (undisturbed) tersebut
di atas dan contoh material (quarry), maka pengujian di laboratorium dikerjakan
berdasarkan spesifikasi SNI, SK SNI, AASHTO, ASTM, BS dengan urutan
terdepan sebagai prioritas pertamanya.
11. Laporan penyelidikan tanah dan material harus pula berisi analisa dan hasil daya
dukung tanah serta rekomendasi jenis pondasi yang sesuai dengan daya dukung
tanah tersebut dan hasil bor log dituangkan dalam bentuk tabel/formulir bor log
dan form drilling log yang dilengkapi dengan keterangan/data diantaranya
tentang tipe bor yang digunakan, kedalaman lapisan tanah, tinggi muka air
tanah, grafik log, uraian lithologi, jenis sample, nilai SPT, tekanan kekuatan
(kg/cm2), liquid/ plastis limit, perhitungan pukulan (SPT) dan lain sebagainya.
3.2.3 Pekerjaan Pondasi
Pekerjaan pondasi umumnya merupakan pekerjaan awal dari suatu
proyek. Oleh karena itu langkah awal yang dilakukan adalah pemetaan terlebih
dahulu, dan dari pemetaan ini dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara
koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan. Langkah-langkah persiapan
pekerjaan pondasi adalah membersihkan/mempersiapkan area proyek dan
pembuatan penulangan tiang bor.Setelah alat pengebor, tulangan, serta ready mix
concrete-nya sudah siap, maka dimulailah proses pengeboran. Skema alat-alat
bornya dapat dilihat pada Gambar 3.2 di bawah ini.

14

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Gambar 3.2 Skema Alat-Alat Bor


Gambar di atas bisa menggambarkan secara skematik alat-alat yang
digunakan untuk mengebor. Dalam praktiknya, mesin bornya terpisah sehingga
perlu Crane atau Excavator tersendiri.

3.2.4 Pengeboran
Pada pekerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor
menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Terdapatnya batuan atau
material di bawah permukaan tanah, ini perlu diantisipasi sehingga bisa
disediakan metode dan peralatan yang cocok. Kalau asal mengebor saja, mata
bornya bisa stack di bawah.
Setelah mencapai suatu kedalaman yang mencukupi untuk menghindari
tanah di tepi lubang berguguran maka perlu di pasang casing, yaitu pipa yang
mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang
bor. Setelah casing terpasang, maka pengeboran dapat dilanjutkan. Mata aunger
sudah diganti dengan Cleaning Bucket yaitu untuk membuang tanah atau lumpur
di dasar lubang.
Jika pekerjaan pengeboran dan pembersihan tanah hasil pengeboran dan
akhirnya sudah menjadi kondisi tanah keras, maka untuk sistem pondasi bore
pile bagian bawah pondasi yang bekerja dengan mekanisme bearing dapat
dilakukan pembesaran. Untuk itu dipakai bor khusus (Belling Tools).

15

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Akhirnya setelah beberapa lama dan diperkiranakan sudah mencapai


kedalaman rencana maka perlu dipastikan terlebih dahulu apakah kedalaman
lubang bor sudah mencukupi, yaitu dengan pemeriksaan manual. Perlu juga
diperhatikan bahwa hasil pengeboran perlu juga diperiksa dengan data hasil
penyelidikan terdahulu. Apakah jenis tanah adalah sama seperti yang
diperkirakan dalam menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena
sampel tanah sebelumnya umumnya diambil dari satu atau dua tempat yang
dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka secara otomatis
dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang
dibor.
Jika kedalaman dan lubang bor telah siap maka selanjutnya adalah
penempatan tulangan (Gambar 3.3). Jika terlalu dalam maka penulangan harus
disambung di lapangan. Pengangkatannya bertahap.

Gambar 3.3 Pekerjaan Penulangan Pondasi

3.2.5 Pengecoran
Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah
pengecoran beton. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan
berfungsi tidaknya suatu pondasi. Meskipn proses pekerjaan sebelumnya sudah
benar, tetapi pada tahapan ini gagal maka gagal pula podasi tersebut secara
keseluruhan. Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi

16

LAPORAN KERJA PRAKTIK

benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau
segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak
tepat.
Adanya air pada lubang bor menyebabkan pengecoran memerlukan alat
bantu khusus, yaitu pipa tremi. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama
atau lebih panjang dengan kedalaman lubang yang dibor. Memasukkan pipa
tremi ke dalam lubang bor menggunakan alat bantu, yaitu crane. Setelah pipa
tremi sudah berhasil dimasukkan, ujung atas harus ditahan sedemikian sehingga
posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh, lalu corong pipa tremi dipasang.
Pada kondisi pipa sudah siap maka pengecoran dapat dilakukan.
Pada Pekerjaan pengecoran diperlukan pengalaman yang banyak. Tahap
pengecoran, menuangkan

beton ke corong pipa tremi menggunakan

ConcreteBucket dengan bantuan Crane (Gambar 3.4). Dalam menuangkan beton


tidak boleh langsung banyak, karena pipa tremi perlu dicabut lagi, jadi kalau
beton tertuang terlalu banyak maka akan sulit untuk mencabutnya. Jika terlalu
dini mencabut pipa tremi dan beton pada bagian bawah belum terkonsolidasi
dengan baik, maka bisa terjadi segresi, tercampur dengan tanah. Proses semua
itu terjadi di bawah (dalam lubang bor) dan tidak kelihatan, jadi pengalaman
para pelaksana di lapangan yang mengangkat pipa tremi memegang peran yang
sangat penting. Pada kasus ini, tidak hanya teori, tetapi perlu feeling yang tepat.
Jika terjadi kesalahan, maka akan berakibat pondasi akan gagal.
Jika beton yang dicor sudah semakin ke atas (volumenya semakin
banyak) maka pipa tremi harus mulai ditarik ke atas. Adanya pipa tremi tersebut
menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa
mengalami pencampuran dengan air dan lumpur. Karena berat jenis beton lebih
besar dari berat jenis lumpur maka beton semakin lama semakin kuat untuk
mendesak lumpur nai ke atas.
Proses pengecoran ini memerlukan supply beton yang selalu siap (tidak
boleh terlambat). Jika sampai terjadi keterlambatan pipa treminya bisa tertanam
dan tidak bisa dicabut, sedangkan kalau keburu dicabut maka tiang beton tidak
continue. Jadi bagian logistik/pengadaan beton harus memperhatikan itu.

17

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Gambar 3.4 Pekerjaan Pengecoran Pondasi

Jika pengerjaan pengecoran dapat berlangsung dengan baik, maka pada


akhirnya beton dapat muncul dari kedalaman lubang. Jadi pemasangan pipa
tremi mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan, pipa tremi
tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Pada kondisi tersebut fungsinya
sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran
lumpur.

18

LAPORAN KERJA PRAKTIK

3.3 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya


3.3.1 Perhitungan Volume
A. Pekerjaan Persiapan
1. Pekerjaan Pembersihan Lokasi
Panjang Jembatan (m)
Lebar Jembatan(m)
Volume Penggerjaan Pembersihan Lokasi adalah
Panjang Bangunan dikaliLebar Bangunan
Tabel 3.1. Perhitungan Pembersihan Lokasi
Type
Pembersiha
n

Panjang

Lebar

Jembatan

Jembatan

(m)

(m)

150

19

Luas (m2)

135

LAPORAN KERJA PRAKTIK

2. Pekerjaan Pengukuran Lokasi


Panjang Jembatan (m)
Lebar Jembatan(m)
Volume Penggerjaan Pengukuran Lokasi adalah
Panjang Bangunan dikaliLebar Bangunan
Tabel 3.2. Perhitungan Pengukuran Lokasi
Type

Panjang

Lebar

Jembatan

Jembatan

(m)

(m)

150

Pengukura
n Lokasi

Luas (m2)

135

B. Pekerjaan Struktur
1. Pekerjaan Pondation Spun Pile
Tabel 3.3. Jenis Pekerjaan Pondation Spun Pile
No
1
2
3
4

Item Pekerjaan
Mobilisasi dan demobilisasi alat
pancang
Tiang Pancang Spun Pile
Sambungan tiang spun pile
PDA Test

Satuan

Volume

item

meter
titik
kali

5852
154
1

Tabel 3.4. Pekerjaan Abutment


PILE CAP 1
No

Item Pekerjaan

Satuan P L

Luas
(m2)

Volume
(m3)

Jumlah
Pile Cap

Total

43,20

Galian tanah max 2 m

meter

0,8

21,60

Buang tanah sisa galian

meter

0,8

21,60

43,20

3
5

Anti rayap
Lantai kerja T = 10 cm

meter
meter

9
9

0,65
0,1

2,70

294,58
5,40

20

147,3

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Beton K250

meter

Bekesting Kayu

meter

3.3.2
N
O
1

55,80
147,3

294,58

Daftar Analisa Harga Satuan (SNI 2013)


KOEF

SA
T

Pekerja

0,1

OH

Mandor

0,05

OH

JENIS PEKERJAAN

HARGA
SATUAN

Rp
60.000,00
Rp
75.000,00

Rp6.000,00
Rp
3.750,00
Rp
9.750,00

Pengukuran lokasi 1 m2
a. Tenaga
Pekerja

0,050

OH

Mandor

0,010

OH

Rp
60.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

JUMLAH
HARGA

Pembersihan 1m2
lapangan dan perataan
a. Tenaga

JUMLAH
2

111,60

Penggalian 1m3 tanah


sedalam 2m

21

Rp
3.000,00
Rp
750,00
Rp
3.750,00

LAPORAN KERJA PRAKTIK

a. Tenaga
Pekerja

0,9

OH

Mandor

0,045

OH

Rp
60.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Pembuangan Tanah 1m3


a. Tenaga
Pekerja

0,33

OH

Mandor

0,01

OH

Rp
60.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Rp
54.000,00
Rp
3.375,00
Rp
57.375,00

Rp
19.800,00
Rp
750,00
Rp
20.550,00

Lantai Kerja 1m3 Beton


Mutu K-125
a. Tenaga
Pekerja

1,65

OH

Tukang

0,275

OH

Kepala Tukang

0,028

OH

Mandor

0,083

OH

Rp
60.000,00
Rp
65.000,00
Rp
70.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Rp
99.000,00
Rp
17.875,00
Rp
1.960,00
Rp
6.225,00
Rp
125.060,00

b. Bahan

N
O

Semen Portland

247

Kg

Pasir Beton

869

m3

Koral Beton

999

Air

215

m3
Lit
er

KOE
F

JENIS PEKERJAAN

22

SA
T

Rp
1.500,00

Rp
370.500,00

Rp
195,79
Rp
278,52
Rp
200,00

Rp170.141,5
1
Rp
278.241,48
Rp
43.000,00
Rp
JUMLAH 861.882,99
Rp
TOTAL
986.942,99

HARGA
SATUAN

JUMLAH
HARGA

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Membuat 1m3 Beton dengan


Mutu K-250
a. Tenaga
Pekerja

1,65

OH

Tukang

0,275

OH

Kepala Tukang

0,028

OH

Mandor

0,083

OH

Rp
60.000,00
Rp
65.000,00
Rp
70.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Rp
99.000,00
Rp
17.875,00
Rp
1.960,00
Rp
6.225,00
Rp
125.060,00

b. Bahan
Semen Portland

384

Kg

Pasir Beton

681

Kg

Koral Beton

1021

Kg
Lit
er

Air

215

Rp
1.500,00
Rp
195,79
Rp
278,52
Rp
200,00
JUMLAH

Rp
576.000,00
Rp
133.332,99
Rp
284.368,92
Rp
43.000,00
Rp1.036.70
1,91

TOTAL Rp1.161.76
1,91
7

Anti Rayap 1m2


a. Tenaga
Tukang Cat

0,01

OH

Pekerja

0,02

OH

Kepala Tukang

0,001

OH

Mandor

0,001

OH

Rp
65.000,00
Rp
60.000,00
Rp
70.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Rp
650,00
Rp
1.200,00
Rp
70,00
Rp
75,00
Rp
1.995,00

b. Bahan
Anti Rayap

1,15

23

Kg

Rp
15.700,00

Rp
18.055,00
Rp
JUMLAH 18.055,00
Rp
TOTAL
20.050,00

LAPORAN KERJA PRAKTIK

N
O
8

KOE
F

JENIS PEKERJAAN

SA
T

HARGA
SATUAN

JUMLAH
HARGA

Galian Tanah Biasa Max 1m


a. Tenaga
Pekerja

0,75
0,02
5

Mandor

OH
OH

Rp
60.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Rp
45.000,00
Rp
1.875,00
Rp
46.875,00

Bakesting Kayu Untuk


Pondasi Pile Cap
a. Tenaga
Pekerja

0,26

OH

Tukang Kayu

0,26
0,02
6
0,02
6

OH

Kepala Tukang
Mandor

OH
OH

Rp
60.000,00
Rp
65.000,00
Rp
70.000,00
Rp
75.000,00
JUMLAH

Rp
15.600,00
Rp
16.900,00
Rp
1.820,00
Rp
1.950,00
Rp
36.270,00

b. Bahan
Kayu Kelas III

0,04

m3

Paku Biasa 2* - 5*

0,3

Kg

Minyak Bekisting

0,1

Lt

24

Rp
1.050.000,00
Rp
17.300,00
Rp
31.800,00

Rp
42.000,00
Rp
5.190,00
Rp
3.180,00
Rp
JUMLAH 50.370,00
Rp
TOTAL
86.640,00

LAPORAN KERJA PRAKTIK

3.3.3

Perhitungan Rencana Anggaran Biaya

N
o
A.

Pekerjaan Persiapan

Pembersihan Lokasi

m2

Pengukuran Lokasi

m2

Jenis Pekerjaan

Satu
an

Volu
me

135
135

Harga
Satuan
Rp
9.750,00
Rp
3.750,00

SUB TOTAL
B.
1

Pekerjaan Spun Pile


Mobilisasi dan demobilisasi
alat pancang

item

Tiang Pancang Spun Pile

Pemancangan tiang spun pile

Sambungan tiang spun pile

PDA Test

titik
Nr

1
5852
5852

Rp
457.300,00
Rp
292.416,14

154
1

SUB TOTAL
C.

Pekerjaan Pile Cap

Galian tanah max 2 m

m3

Buang tanah sisa galian

m3

25

43,20
43,20

Rp
57.375,00
Rp
20.550,00

Jumlah Harga
Rp
1.316.250,00
Rp
506.250,00
Rp
1.822.500,00

Rp
57.600.000,00
Rp
2.676.119.600,00
Rp
1.711.219.251,28
Rp
235.839,00
Rp
13.200.000,00
Rp
4.458.374.690,28

Rp
2.478.600,00
Rp
887.760,00

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Anti rayap

m2

294,5
8

Lantai kerja T = 10 cm

m3

3,87

Beton K250

m3

Bekesting Kayu

m2

111,6
0
294,5
8

Rp
20.050,00
Rp
986.942,99
Rp
1.161.761,91
Rp
86.640,00

SUB TOTAL

Rp
5.906.409,20
Rp
3.819.469,37
Rp
129.652.629,16
Rp
25.522.757,76
Rp
168.267.625,49

3.3.4 Rekapitulasi RAB

REKAPITULASI RAB
N
O

URAIAN
PEKERJAAN

Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan Spun Pile

Pekerjaan Pile Cap

NILAI PEKERJAAN
Rp
1.822.500,00
Rp
4.458.374.690,28
Rp
168.267.625,49
Rp
4.628.464.815,77

TOTAL NILAI PEKERJAAN

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil pemantauan di lapangan selama melaksanakan kerja praktek ini, maka
penulis dapat mengambil kesimpulan :
1. Mekanisme pekerjaan yang tertera pada perencanaan tidak seluruhnya bekerja sesuai
dengan perencanaaan yang telah dibuat baik itu masalah taktik pekerjaan maupun
time schedule pekerjaan.

26

LAPORAN KERJA PRAKTIK

2. Time Schedule yang telah disusun untuk pelaksanaan proyek ini ternyata tidak
seluruhnya dapat diikuti. Hal ini sangat dipengaruhi oleh cuaca buruk berupa hujan,
juga adanya perubahan gambar rencana sehingga pelaksana tidak dapat bekerja
seoptimal mungkin.
3. Dari hasil pelaksanaa kelas A ternyata pada pekerjaan proyek ini sesuai dengan
literatur dan spec yang diisyaratkan oleh pemilik proyek. Dari pemeriksaan CBR
laboratorium (kelas A) dihasilkan sebesar 92%, yang mana telah memenuhi
persyaratan spesifikasi >90%.

4.2 Saran
Adapun beberapa saran yang dapat diberikan sebagai masukan khususnya kepada
pelaksana proyek dan pada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan
pelaksanaan proyek sebagai berikut :
1. Sebaiknya pada waktu melaksanakan pemadatan terutama pada daerah yang mudah
mengalami penurunan, dilakukan pemadatan dan pengawasan yang lebih baik agar
dapat menghasilkan kualitas jalan seperti yang diharapkan.
2. Hendaknya semua pihak yang berperan dalam suatu pelaksanaan proyek lebih
disiplin melaksanakan tugasnya masing-masing, sehingga dapat diperoleh hasil
seperti yang direncanakan.
3. Sebaiknya pada saat pengendalian terhadap mutu kepadatannya dilakukan secara
lapis demi lapis, sehingga akan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan tahan
lama seperti yang diharapkan.
4. Kepada pihak pengawas agar lebih memperketat pengawasan di lapangan, sehingga
proyek yang dilaksanakan dapat selesai sesuai jadwal yang sudah direncanakan.
5. Sebaiknya memperbanyak jumlah tenaga kerja agar dapat mengejar target selesai
sesuai dengan jadwal awal.

27