Anda di halaman 1dari 6

Rakyat Riau Angkat Senjata

Disusun oleh:

Cik Finkan A.T


Delva Aulia
Lia Andriani
Yehezkiel Petrus

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas
terselesaikannya makalahyang berjudul Rakyat Riau Angkat Senjata Makalah
yang masih perlu dikembangkan lebih jauh ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak yang membacanya. Secara garis besar makalah ini
memuat latar belakang tentang rakayat riau angkat senjata pada masa melawan
kolonialisme belanda. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak, penulis tidak mungkin menyelesaiakan
penyusunan makalah ini, untuk itu ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada
semua pihak yang telah membantu. Penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang konstruktif dari pihak pembaca.
Akhirnya saya sampaikan terima kasih serta mohon maaf yang sebesarbesarnya bila ada kesalahan kata maupun kalimat, dan semoga makalah ini
bermanfaat bagi siswa siswi khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Pangkalpinang, Oktober 2015

Penyusun
Kelompok 4

Latar Belakang
Pada era Kolonialisme belanda di bentuklah suatu kongsi dagang yang
bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Suatu kongsi dagang
yang memonopoli dagang dan hasil bumi nusantara, di balik itu rayat
indonesia tida terima atas keserakahan VOC tersebut, sehingga terjadilah
perang dimana-mana. Salah satunya adalah rakyat Riau, mereka tidak terima
atas monopoli yang dilakukan belanda, sehingga mereka melakukan genjatan
senjata yang sering disebut Rakyat Riau Angkat Senjata.

PEMBAHASAN
Ambisi untuk melakukan monopoli perdagangan dan menguasai berbagai daerah di
Nusantara terus dilakukan oleh VOC. Di samping menguasai Malaka, VOC juga mulai
mengincar Kepulauan Riau. Dengan politik memecah belah VOC mulai berhasil
menanamkan pengaruhnya di Riau. Kerajaan kerajaan kecil seperti Siak, Indragiri, Rokan,
dan Kampar semakin terdesak oleh pemaksaan monopoli dan tindakan sewenang-wenang
dari VOC. Oleh karena itu, beberapa kerajaaan mulai melancarkan perlawanan.
Salah satu contoh perlawanan di Riau adalah perlawanan yang dilancarkan oleh Kerajaan
Siak Sri Indrapura. Raja Siak Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723 1744) memimpin
rakyatnya untuk melawan VOC. Setelah berhasil merebut Johor kemudian ia membuat
benteng pertahanan di Pulau Bintan. Dari pertahanan di Pulau Bintan ini pasukan Sultan
Abdul Jalil mengirim pasukan di bawah komando Raja Lela Muda untuk menyerang Malaka.
Uniknya dalam pertempuran ini Raja Lela Muda selalu mengikutsertakan puteranya yang
bernama Raja Indra Pahlawan. Itulah sebabnya sejak remaja Raja Indra Pahlawan sudah
memiliki kepandaian berperang. Sifaf bela negara/ tanah air sudah mulai tertanam pada diri
Raja Indra Pahlawan.
Dalam suasana konfrontasi dengan VOC itu, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah wafat.
Sebagai gantinya diangkatlah puteranya yang bernama Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah
(1746 -1760). Raja ini juga memiliki naluri seperti ayahandanya yang ingin selalu memerangi
VOC di Malaka dan sebagai komandan perangnya adalah Raja Indra Pahlawan. Tahun 1751
berkobar perang melawan VOC.

Sebagai strategi menghadapi serangan Raja Siak, VOC berusaha memutus jalur
perdagangan menuju Siak. VOC mendirikan benteng pertahanan di sepanjang jalur yang
menghubungkan Sungai Indragiri, Kampar, sampai Pulau Guntung yang berada di muara
Sungai Siak. Kapal-kapal dagang yang akan menuju Siak ditahan oleh VOC. Hal ini
merupakan pukulan bagi Siak. Oleh karena itu segera dipersiapkan kekuatan yang lebih besar
untuk menyerang VOC. Sebagai pucuk pimpinan pasukan dipercayakan kembali kepada Raja
Indra dan Panglima Besar Tengku Muhammad Ali. Dalam serangan ini diperkuat dengan
kapal perang Harimau Buas yang dilengkapi dengan lancang serta perlengkapan perang
secukupnya. Terjadilah pertempuran sengit di Pulau Guntung (1752 1753). Ternyata
benteng VOC di Pulau Guntung itu berlapis-lapis dan dilengkapi meriam-meriam besar.
Dengan demikian pasukan Siak sulit menembus benteng pertahanan itu. Namun banyak
pula jatuh korban dari VOC, sehingga VOC harus mendatangkan bantuan kekuatan termasuk
juga orang-orang Cina. Pertempuran hampir berlangsung satu bulan. Sementara VOC terus
mendatangkan bantuan. Melihat situasi yang demikian itu kedua panglima perang Siak
menyerukan pasukannya untuk mundur kembali ke Siak. Sultan Siak bersama para panglima
dan penasihat mengatur siasat baru. Disepakati bahwa VOC harus dilawan dengan tipu daya.
Sultan diminta berpura-pura berdamai dengan cara memberikan hadiah kepada Belanda.
Oleh karena itu, siasat ini dikenal dengan siasat hadiah sultan. VOC setuju dengan
ajakan damai ini. Perundingan damai diadakan di loji di Pulau Guntung. Pada saat
perundingan baru mulai justru Sultan Siak dipaksa untuk tunduk kepada pemerintahah VOC.
Sultan segera memberi kode pada anak buah dan segera menyergap dan membunuh orangorang Belanda di loji itu.
Loji segera dibakar dan rombongan Sultan Siak kembali ke Siak dengan membawa
kemenangan, sekalipun belum berhasil mengenyahkan VOC dari Malaka. Siasat perang ini
tidak terlepas dari jasa Raja Indra Pahlawan. Oleh karena itu, atas jasanya Raja Indra
Pahlawan diangkat sebagai Panglima Besar Kesultanan Siak dengan gelar: Panglima Perang
Raja Indra Pahlawan Datuk Lima Puluh.

Kesimpulan
Perang antara rakayat riau dengan VOC terjadi sangat sengit, Pada saat perang tersebut
VOC mendatangkan bantuan dari china dan sekutunya, sehingga pada saat itu rakyat Riau
ditarik mundur untuk merundingkan strategi perang baru, sehingga dalam perundingan
tersebut di dapatlah suatu ide untuk berpura-pura mengajak VOC berdamai. Sehingga pada
saat perundingan damai dengan VOC tersebut, kesempatan rakyat riau untuk memukul habis
para pentinggi VOC. Pada akhirnya rakyat Riau mendapat kemenangan dari VOC.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2013. Sejarah
Indonesia : Rayat Riau Angkat Senjata. Jakarta :
KEMENDIKNAS