Anda di halaman 1dari 29

ILMU KEALAMAN DASAR

TUGAS 1
TSUNAMI

OLEH:
YOSHEVINE ALDINDRI (315130123)
YUNITA IKA PRATIWI (315130175)
OLIVIA OCTAVIANI (315130177)
DONNY PISCESATRIA (315130196)
PAULTY TANTRISTO (315130208)

KELAS : H
DOSEN : Drs. R. Soegito, B. Sc ., M. Si.

SEMESTER GENAP 2014/2015


UNIVERSITAS TERUMANAGARA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa telah memberkati penulis sehingga makalah
ini dapat diselesaikan. Penulis juga berterimah kasih kepada Bapak Drs. R. Soegito, B. Sc .,
M. Si.selaku dosen karena berkat ajaran dan bimbingannya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Penulis juga berterima kasih kepada, orang tua, teman-teman, dan pihak lain
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga makalah ini dapat membantu pembaca untuk mengerti tentang Tsunami.
Makalah ini membahas tentang pengertian Tsunami ,maupun sebab dan akibat dari bencana
Tsunami , tentunya makalah penelitian ini tidaklah sempurna karena tidak ada yang sempurna
di hidup ini. Begitu juga dengan makalah ini mungkin terdapat kesalahan atau pun
kekurangan lainnya. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan juga kritik sebagai batu
loncatan yang dapat memperbaiki makalah penulis di masa datang.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................1
DAFTAR ISI..........................................................................................................................2
PENDAHULUAN.................................................................................................................3
BAB 1 Terminologi Tsunami ................................................................................................4
BAB 2 Penyebab Terjadinya Tsunami...................................................................................6
BAB 3 Sistem Peringatan Dini Tsunami................................................................................9
BAB 4 Karakteristik Tsunami................................................................................................12
BAB 5 Tsunami Dengan Gelombang Tinggi ........................................................................14
BAB 6 Gempa Bumi Dengan Tsunami..................................................................................16
BAB 7 Bencana Tsunami di Indonesia..................................................................................20
BAB 8 Akibat dari Bencana Tsunami....................................................................................25
BAB 9 Kesimpulan................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................27

BAB 1

Terminoogi Tsunami
Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan dan nami
berarti gelombang. Istilah ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena
panjang gelombang tsunami sangat besar pada saat berada di tengah laut, para nelayan tidak
merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka mendapati
wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah mereka menyimpulkan
bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan tidak di tengah
lautan yang dalam.Tsunami sering terjadi di Jepang. Sejarah Jepang mencatat setidaknya 196
tsunami telah terjadi.
Tsunami adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut,
gunung berapi meletus, atau hantaman meteor di laut. Tsunami tidak terlihat saat masih
berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombangnya yang
bergerak cepat ini akan semakin membesar. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap
fungsi ketinggian dan kelajuannya. Apabila gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya
meningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang tersebut bergerak pada kelajuan
tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi di laut
dalam, tetapi meningkat ketinggian hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai.
Tsunami bisa menyebabkan kerusakan erosi dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan
kepulauan.

Pada beberapa kesempatan, tsunami disamakan dengan gelombang pasang. Dalam


tahun-tahun terakhir ,persepsi ini telah dinyatakan tidak sesuai lagi, terutama dalam
komunitas peneliti, karena gelombang pasang tidak ada hubungannya dengan tsunami.
Persepsi ini dahulu populer karena penampakan tsunami yang menyerupai gelombang pasang
yang tinggi.
3

Tsunami dan gelombang pasang sama-sama menghasilkan gelombang air yang


bergerak ke daratan, namun dalam kejadian tsunami, gerakan gelombang jauh lebih besar dan
lebih lama, sehingga memberika kesan seperti gelombang pasang yang sangat tinggi.
Meskipun pengartian yang menyamakan dengan "pasang-surut" meliputi "kemiripan" atau
"memiliki kesamaan karakter" dengan gelombang pasang, pengertian ini tidak lagi tepat.
Tsunami tidak hanya terbatas pada pelabuhan. Karenanya para geologis dan oseanografis
sangat tidak merekomendasikan untuk menggunakan istilah ini.
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya.
Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan
genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Kerusakkan yang di akibatkan Tsunami

Bukti menunjukkan bahwa tidak mustahil terjadinya megatsunami, yang menyebabkan


beberapa pulau tenggelam. Berikut ini adalah beberapa negara di dunia yang pernah dilanda
Tsunami dalam kurun waktu (365 2007) :

Gelombang raksasa paling tua yang pernah diketahui akibat gempa di laut, yang diberi nama
"tsunami" oleh orang Jepang dan "hungtao" oleh orang Cina, adalah yang terjadi di Laut
Tengah sebelah timur pada tanggal 21 Juli 365 M dan menewaskan ribuan orang di kota
Iskandariyah, Mesir.

Ibukota Portugal hancur akibat gempa dahsyat Lisbon pada tanggal 1 November 1775.
Gelombang samudera Atlantik yang mencapai ketinggian 6 meter meluluhlantakkan pantaipantai di Portugal, Spanyol dan Maroko.

27 Agustus 1883: Gunung berapi Krakatau di Indonesia meletus dan gelombang tsunami yang
menyapu pantai-pantai Jawa dan Sumatra menewaskan 36.000 orang. Letusan gunung berapi
tersebut sungguh dahsyat sehingga selama bermalam-malam langit bercahaya akibat debu

lava berwarna merah.


4

15 Juni 1896: "Tsunami Sanriku" menghantam Jepang. Tsunami raksasa berketinggian


23 meter tersebut menyapu kerumunan orang yang berkumpul dalam perayaan agama
dan menelan 26.000 korban jiwa.

17 Desember 1896: Tsunami merusak bagian pematang Santa Barbara di California,


Amerika Serikat, dan menyebabkan banjir di jalan raya utama.

31 Januari 1906: Gempa di samudera Pasifik menghancurkan sebagian kota Tumaco di


Kolombia, termasuk seluruh rumah di pantai yang terletak di antara Rioverde di
Ekuador dan Micay di Kolombia; 1.500 orang meninggal dunia.

1 April 1946: Tsunami yang menghancurkan mercu suar Scotch Cap di kepulauan
Aleut beserta lima orang penjaganya, bergerak menuju Hilo di Hawaii dan
menewaskan 159 orang.

Pada tahun 1958 : Gelombang tsunami tertinggi yang tercatat sampai saat ini adalah
tsunami di Alaska yang disebabkan oleh amblasnya lempeng tektonik di Teluk Lituya.
Tsunami ini memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan menghancurkan pohonpohon dan tanah pada dinding fjord.

22 Mei 1960: Tsunami berketinggian 11 meter menewaskan 1.000 orang di Cili dan 61
orang di Hawaii. Gelombang raksasa melintas hingga ke pantai samudera Pasifik dan
mengguncang Filipina dan pulau Okinawa di Jepang.

28 Maret 1964: Tsunami "Good Friday" di Alaska menghapuskan tiga desa dari peta
dengan 107 warga tewas, dan 15 orang meninggal dunia di Oregon dan California.

16 Agustus 1976: Tsunami di Pasifik menewaskan 5.000 orang di Teluk Moro,


Filipina.

17 Juli 1998: Gelombang laut akibat gempa yang terjadi di Papua New Guinea bagian
utara menewaskan 2.313 orang, menghancurkan 7 desa dan mengakibatkan ribuan
orang kehilangan tempat tinggal.

26 Desember 2004: Gempa berkekuatan 8,9 pada skala Richter dan gelombang laut
raksasa yang melanda enam negara di Asia Tenggara menewaskan lebih dari 156.000
orang.

17 Juli 2006, Gempa yang menyebabkan tsunami terjadi di selatan pulau Jawa,
Indonesia, dan setinggi maksimum ditemukan 21 meter di Pulau Nusakambangan.

Memakan korban jiwa lebih dari 500 orang.

12 September 2007, Bengkulu, M8.4, Memakan korban jiwa 3 orang. Ketinggian


tsunami 3-4 m.
5
BAB 2
Penyebab Terjadinya Tsunami
Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam gangguan (disturbance) berskala besar

terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di
bawah laut, atau tumbukan benda langit. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi
bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus,
misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Tsunami dapat terjadi apabila dasar laut
bergerak secara tiba-tiba dan mengalami perpindahan vertikal.
Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun
secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya.
Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi
gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang
terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Apabila tsunami
mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat
merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya
beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa
mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami
akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa
ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga
banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng
benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat
mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang
menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tibatiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu.
Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika
ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya
mencapai ratusan meter.

Beberapa penyebab terjadinya tsunami akan dijelaskan sebagai berikut :

Longsoran Lempeng Bawah Laut (Undersea landslides) Gerakan yang besar pada
kerak bumi biasanya terjadi di perbatasan antar lempeng tektonik. Celah retakan
6
antara kedua lempeng tektonik ini disebut dengan sesar (fault). Sebagai contoh, di
sekeliling tepian Samudera Pasifik yang biasa disebut dengan Lingkaran Api (Ring of
Fire), lempeng samudera yang lebih padat menunjam masuk ke bawah lempeng benua.
Proses ini dinamakan dengan penunjaman (subduction). Gempa subduksi sangat
efektif membangkitkan gelombang tsunami.

Gempa Bumi Bawah Laut (Undersea Earthquake) Gempa tektonik merupakan salah
satu gempa yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi. Jika gempa semacam ini
terjadi di bawah laut, air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut berpindah
dari posisi ekuilibriumnya. Gelombang muncul ketika air ini bergerak oleh pengaruh
gravitasi kembali ke posisi ekuilibriumnya. Apabila wilayah yang luas pada dasar laut
bergerak naik ataupun turun, tsunami dapat terjadi. Berikut ini adalah beberapa
persyaratan terjadinya tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi :

Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 30 km) .

Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter .

Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun .


Tidak semua gempa menghasilkan tsunami, hal ini tergantung beberapa faktor utama

seperti tipe sesaran (fault type), kemiringan sudut antar lempeng (dip angle), dan kedalaman
pusat gempa (hypocenter). Gempa dengan karakteristik tertentu akan menghasilkan tsunami
yang sangat berbahaya dan mematikan, yaitu:

Tipe sesaran naik (thrust/ reverse fault), seperti terlihat pada Gambar 3. Tipe ini sangat
efektif memindahkan volume air yang berada diatas lempeng untuk bergerak sebagai
awal lahirnya tsunami.

Kemiringan sudut tegak antar lempeng yang bertemu. Semakin tinggi sudut antar
o
lempeng yang bertemu. (mendekati 90 ), maka semakin efektif tsunami yang
terbentuk.

Kedalaman pusat gempa yang dangkal (<70 km). Semakin dangkal kedalaman pusat
gempa, maka semakin efektif tsunami yang ditimbulkan. Sebagai ilustrasi, meski
kekuatan gempa relative kecil (6.0-7.0R), tetapi dengan terpenuhinya ketiga syarat
diatas, kemungkinan besar tsunami akan terbentuk. Sebaliknya, meski kekuatan
gempa cukup besar (>7.0R) dan dangkal, tetapi kalau tipe sesarnya bukan naik, namun

normal (normal fault) atau sejajar (strike slip fault), bisa dipastikan tsunami akan sulit
terbentuk. Gempa dengan kekuatan 7.0R, dengan tipe sesaran naik dan dangkal, bisa
membentuk tsunami dengan ketinggian mencapai 3-5 meter.
7

JenisJenisSesaran
Lempeng

Aktivitas Vulkanik (Volcanic Activities)


Pergeseran lempeng di dasar laut, selain dapat mengakibatkan gempa juga seringkali
menyebabkan peningkatan aktivitas vulkanik pada gunung berapi. Kedua hal ini dapat
menggoncangkan air laut di atas lempeng tersebut. Demikian pula, meletusnya gunung
berapi yang terletak di dasar samudera juga dapat menaikkan air dan membangkitkan
gelombang tsunami.

Tumbukkan Benda Luar Angkasa (Cosmic-body Impacts)


Tumbukan dari benda luar angkasa seperti meteor merupakan gangguan terhadap air
laut yang datang dari arah permukaan. Tsunami yang timbul karena sebab ini
umumnya terjadi sangat cepat dan jarang mempengaruhi wilayah pesisir yang jauh
dari sumber gelombang. Sekalipun begitu, apabila pergerakan lempeng dan tabrakan
benda angkasa luar cukup dahsyat, kedua peristiwa ini dapat menciptakan
megatsunami.

8
BAB 3
Sistem Peringatan Dini Tsunami

Sampai saat ini kita belum bisa meramalkan terjadinya gempa bumi dan tsunami. Yang
bisa dilakukan adalah mencegah jatuhnya terlalu banyak korban. Tidak mungkin
mengosongkan seluruh daerah rawan gempa dari penduduk. Konstruksi tahan gempa adalah
salah satu alternatif. Demikian pula dengan tsunami, tidak mungkin mengosongkan seluruh

daerah pantai di sekitar daerah rawan gempa.


Yang mungkin adalah mengadakan sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi
manakala peringatan dini terjadi. Memang ini tidak menyelesaikan seluruh masalah karena
apabila pusat gempa terjadi tidak jauh dari pantai, tsunami bisa datang dalam hitungan menit
9
sehingga tidak mungkin ada kesempatan untuk melarikan diri. Tapi prosedur evakuasi masih
bisa dilakukan untuk berjaga-jaga manakala gempa yang mungkin menimbulkan tsunami
terjadi jauh dari daerah kita sehingga memberi kesempatan untuk evakuasi.
Kebanyakan kota di sekitar Samudera Pasifik, terutama di Jepang juga di Hawaii,
mempunyai sistem peringatan dan prosedur pengungsian sekiranya tsunami diramalkan akan
terjadi. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di berbagai
penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di
dasar atu permukaan laut yang terknoneksi dengan satelit.
Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama dengan perangkat yang mengapung di
laut buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh
pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk
memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawai pada tahun
1920-an. Kemudian, sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami
besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika serikat membuat Pasific Tsunami
Warning Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan
internasional pada tahun 1965.
Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project,
dipasang di pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS, NOAA, dan Pacific
Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik universitas.
Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun proses
terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa
bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang
baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami didaerah sumber,
kecepatan penjalarannya dan waktu sampai di pantai, berapa ketinggian tsunami di pantai dan
seberapa jauh rendaman yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor
alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam
tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu kedatangan tsunami,
ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat.
Gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan sulit untuk diprediksi. Oleh karena itu
masyarakat membutuhkan sebuah sistem peringadatan dini (early warning system) yang

berfungsi sebagai alarm seandainya terjadi gempa bumi secara tiba-tiba. Mitigasi bencana
alam atau upaya preventif untuk meminimalkan dampak negatif bencana alam terhadap
manusia, harta benda, infrastruktur dan lingkungan.
Pada bulan Desember 2004 negara kita mengalami bencana tsunami yang juga
10
melanda negara-negara di sekitar Indonesia seperti Thailand, Bangladesh, India, Sri Landa,
bahkan Maladewa, Somalia, Kenya, dan Tanzania yang berada di Afrika. Tsunami yang
melanda Aceh dan sebagian Sumatera Utara, sebelumnya ditandai dengan gempa berkekuatan
9,15 magnitudo momen. Ratusan ribu orang tewas, belum lagi korban luka-luka dan korban
materi. Jumlah korban yang sangat besar membuat tsunami ini merupakan tsunami paling
mematikan sepanjang sejarah dunia.
Sayangnya, kita tidak memiliki sistem peringatan dini seperti halnya yang ada di
Samudera Pasifik. Ini karena kita memang jarang mengalami musibah tsunami.
Tsunami terakhir yang cukup besar di Indonesia terjadi pada tahun 1883, yang disebabkan
oleh meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda. Itu berarti sudah lebih dari seabad yang
lalu. Setelah ada tsunami ini, UNESCO dan lembaga- lembaga lainnya di dunia mulai
merintis pengembangan sistem pengawasan tsunami global untuk wilayah di sekitar
Samudera Hindia.
Oleh karena itu kita patut mewaspadai kejadian gempa dan dampaknya yang mungkin
terjadi sewaktu-waktu. Dimana saja dan dapat terjadi berulang di suatu tempat dalam kurun
waktu tertentu.
Hal lain yang perlu diwaspadai pada kejadian gempa adalah dampak Tsunami yang
diakibatkannya. Peristiwa Flores, Banyuwangi, Bengkulu, Banggai dan terakhir di Aceh dan
Sumatera Utara hendaknya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Gempa
yang diiringi dengan air laut yang menyurutkan merupakan petunjuk alam tentang akan
terjadinya gelombang tsunami.

11
BAB 4
Karakteristik Tsunami

Mekanisme Tsunami

Tsunami dapat dibangkitkan oleh berbagai gangguan yang terjadi di dasar laut secara
tiba-tiba, diantaranya adalah gempa bumi tektonik, aktivitas gunung api bawah laut, runtuhan
dekat pantai, ledakan nuklir dibawah laut dan akibat kejatuhan meteor. Dari berbagai
penyebab tsunami diatas, gempa bumi tektonik merupakan pembangkit utama gelombang
tsunami. Karakteristik gelombang tsunami meliputi energi, magnitudo, kedalaman pusat
gempa, mekanisme fokus dan luas rupture area.
Secara singkat tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan perioda
panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut.
Perioda gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami yang
ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien atau gelombang yang bersifat sesaat.

Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang-gelombang laut lainnya yang


lebih bersifat kontinyu, seperti gelombang permukaan yang ditimbulkan oleh gaya seret angin
atau gelombang pasut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. Selain bersifat
transien, gelombang tsunami juga bersifat dispersive. Artinya, periodanya berubah terhadap
jarak sumber gangguan impulsif.
12
Gempa bumi yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami mempunyai persyaratan
karakteristik, yaitu :
1.

Magnitude gempanya (M) 7.0 SR.

2.

Kedalaman gempanya (h) dangkal 60 km.

3.

Pusat gempa (episenter) berada di dasar laut.

4.

Jenis patahannya adalah normal fault atau thrust fault.

Karakteristik Tsunami, antara lain :

Tinggi gelombang tsunami di tengah lautan mencapai lebih kurang 5 meter. Serentak
sampai pantai tinggi gelombang ini dapat mencapai 30 meter.

Panjang gelombang tsunami (50-200 km) jauh lebih besar dari pada gelombang
pasang laut (50-150 m). Panjang gelombang tsunami ditentukan oleh kekuatan gempa,
sebagai contoh gempabumi tsunami dengan kekuatan magnitude 7-9 panjang gelombang
tsunami berkisar 20-50 km dengan tinggi gelombang 2 m dari permukaan laut.
o

Periode waktu gelombang tsunami yang berkekuatan tinggi hanya berperiode


durasi gelombang sekitar 10-60 menit, sedangkan gelombang pasang bisa
berlangsung lebih lama 12-24 jam.

Cepat rambat gelombang tsunami sangat tergantung pada kedalaman laut, bila
kedalaman laut berkurang setengahnya, maka kecepatan berkurang tiga
perempatnya.

13
BAB 5
Tsunami Dengan Gelombang Tinggi
Di Luar Negeri
Gelombang tsunami tertinggi yang tercatat sampai saat ini adalah tsunami di Alaska
pada tahun 1958 yang disebabkan oleh amblasnya lempeng tektonik di Teluk Lituya. Tsunami
ini memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan menghancurkan pohon-pohon dan tanah
pada dinding fjord. Saat gelombang tsunami kembali ke laut, gelombang tersebut langsung
menyebar dan tingginya menurun dengan cepat. Tingginya gelombang saat berada di pantai
lebih disebabkan karena topografi wilayahnya, daripada karena energy yang dikeluarkan oleh
peristiwa amblanya lempeng.

(sumber : disaster.elvini.net/tsunami.cgi)

(sumber : allthingscruise.com)

Fjord merupakan suatu teluk sempit (inlet) di antara tebing-tebing atau lahan terjal.
Biasa dijumpai di Norwegia, Alaska, dan Selandia Baru. Sebelumnya fjord ini merupakan
sungai gletser yang terbentuk di wilayah pegunungan di kawasan pantai. Saat suhu menjadi
hangat, sungai gletser ini mencair, akibatnya permukaan air laut naik dan membanjiri lembah
di sela-sela pegunungan tersebut.

(sumber :en.wikipedia.org)

(sumber :fox41blogs.typepad.com)

14
Di Indonesia
Terdapat 2 tsunami dengan gelombang tertinggi di Indonesia,yaitu :

Tsunami Krakatau

Letusan Krakatau pada tahun 1883 yang terjadi di Hindia Belanda memicu terjadinya tsunami
yang menenggelamkan 36 ribu orang Indonesia yang berada di pulau Jawa bagian barat dan
Sumatra di bagian utara. Kekuatan gelombang mendorong 600 ton blok terumbu karang
menuju tepi pantai. Tinggi tsunami di persisir barat Jawa menurut kesaksian mencapai lebih
dari 25 meter, di Teluk Betung mencapai 15 meter dan bahkan di beberapa tempat mencapai
35 meter.

(sumber : static.guim.co.uk)

(sumber :luk.staff.ugm.ac.id)

Tsunami Aceh

Gempa berkekuatan 9,1 dan 9,3 SR terjadi di Samudra Hindia, tepatnya dilepas barat Aceh
dengan kedalaman mencapai 10 kilometer. Memicu tsunami di sejumlah kawasan Asia bagian
selatan dan dua negara Afrika. Korban mencapai sekitar 250.000 orang tewas di delapan
negara. Nanggroe Aceh Darussalam(Indonesia), Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan

negara dengan jumlah kematian terbesar. Gelombang tsunami Aceh mencapai ketinggian 24
meter saat menghantam daratan dan kemudian meninggi hingga 30 meter.

(sumber : indocropcircles.files.wordpress.com) (sumber : cdn0-a.production.liputan6.static6.com)

15
BAB 6
Gempa Bumi Dengan Tsunami
Gempa Bumi adalah pergeseran tiba-tiba dari lapisan gelombang seismik. Gelombang
ini menjalar menjauhi fokus gempa kesegala arah di dalam bumi. Ketika gelombang
inimencapai permukaan bumi, getarannya bisa merusakatau tidak, tergantung pada kekuatan
sumber, jarakepisenter, dan kedalaman fokus, disamping itu juga mutu bangunan dan mutu
tanah dimana bangunan ituberdiri. tanah di bawah permukaan bumi.
Gempa bumi dapat terjadi dimanapun, tetapi umumnya gempa bumi terjadi di sekitar
batas lempeng tektonik yang disekitarnya terdapat banyak sesar / patahan aktif. dan tempat
dimulainya gempa disebut fokus atau atasnya disebut episenter. Lempeng- lempeng-tektonik
yang kaku dan terapung di atas batuan yang relatif tidak kaku. Daerah pertemuan dua
lempeng atau lebih kita sebut sebagai plate margin atau batas lempeng. Di sekitar daerah
tersebut, biasanya terdapat banyak sesar aktif yang berpotensi sebagai sumber gempabumi.
Ahli gempa bumi (seismologist) menggunakan peralatan yang disebut seismograf
untuk mencatat gerakan tanah dan mengukur besar / kekuatan suatu gempa. merekam , dan
menggambarnya dalam bentuk seismogram, atau getaran, yang terjadi selama gempa bumi
terjadi, tergambar sebagai garis bergelombang seismogram, besaran gempa. Seismologist
menggunakan skala Richter untuk menggambarkan kekuatan magnitudo / energi sumber
gempabumi, dan skala Mercalli untuk menunjukkan kekuatan intensitas gempa bumi atau
pengaruh / akibat gempa bumi terhadap tanah, gedung dan manusia. Seismograf memantau

gerakan-gerakan bumi mencatat Gelombang seismik, kemudian seismologist akan mengukur


garis-garis ini dan menghitung.

Skala Magnitudo / Energi Gempa Bumi / Skala Richter


Ms = log A + 1.656 log D + 1.818
Ms Amplitudo getaran tanah dalam micron Jarak stasion seimpograf ke episenter dalam
derajat (360derajat = 40 000 km) Perbedaan 1 artinya energi sumber gempa bumi berlipat 30
X Perbedaan 4 artinya energi sumber gempa bumi berlipat 30 X 30 X 30 X 30 = 810 000 X

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) I, II, dan III :
Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang. Getaran
dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung Getaran dirasakan nyata
dalam rumah.
16

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) IV :


Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, diluar oleh beberapa orang
terbangun, gerabah pecah, jendela/pintu gemerincing dan dinding berbunyi.

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) V :


Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah,
jendela dan sbb pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan lain-lain barang besar
tampak bergoyang.

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) VI :


Getaran dirasakan oleh semua penduduk kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester
dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan. VII.Tiap-tiap orang
keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan kontruksi yang
baik sedangkan pada bangunan dengan kontruksi kurang baik terjadi retak-retak kemudian
cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik.

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) VIII :

Kerusakan ringan pada bangunan dengan kontruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan
yang kuat, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap dari pabrikpabrik
dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) IX :


Kerusakan pada bangunan yang kuat rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus banyak retakretak pada bangunan yang kuat. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa
dalam rumah putus.

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) X :


Bangunan dari kayu yang kuat rusak; rangka-rangka rumah lepas dari pondamennya; tanah
terbelah; rel melengkung; tanah longsor ditiap-tiap sungai dan ditanah-tanah

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) XI :


Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa
dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali; tanah terbelah.
17

Skala Kekuatan Gempa Bumi Modified Mercally Intensity (MMI) XII :


Hancur sama sekali. Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap.
Benda-benda terlempar ke udara.
Tsunami adalah gelombang laut
pasang akibat terjadinya gempa
bumi di dasar laut dengan
kekuatan yang cukup besar
(M>5), dapat juga diakibatkan
oleh letusan gunung merapi di laut
(Krakatau 1883), dan longsoran
tebing di pantai, pada umumnya
diakibatkan oleh mekanisme sesar
naik dan sesar turun, sedangkan
sesar geser sangat jarang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Gempa bumi yang terjadi tidak selalu mendukung terjadinya tsunami. Gempa bumi akan
menyebabkan tsunami, jika :

kedalaman gempa kurang dari 70 km

pusat gempa di dasar laut

besaran gempa lebih dari 7 SR

patahan berupa patahan lempeng naik-turun atau vertikal (BMKG, 2012)


Contoh studi kasus gempa bumi dengan tsunami :
Gempa hebat yang melanda dunia pada 26 Desember 2004 lalu diikuti tsunami. Peristiwa
besar yang menewaskan 220 ribu jiwa yang menghuni sepanjang pesisir Samudera Hindia ini
menimbulkan trauma dunia yang sangat dalam. Mengapa gempa berkekuatan 9,3 skala richter
ini diikuti tsunami sedangkan gempa 12 September 2007 di Bengkulu kemarin tidak? Padahal
pusat gempa sama-sama di laut dan kedalamannya dangkal. Hal ini dikarenakan adanya
perbedaan ketajaman tumbukan.
Pada gempa Bengkulu sudut penunjamannya landai. Jadi untuk menimbulkan tsunami butuh
energi yang lebih besar. Titik pusatnya hanya 10 km di bawah permukaan laut,
sehingga belum mencapai lantai samudera.
Tsunami sendiri merupakan istilah yang menyatakan suatu gelombang laut yang terjadi akibat
gempa bumi tektonik di dasar laut. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar
18
antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai
pantai berkisar antara 4 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50
sampai 200 meter dari garis pantai.
Berdasarkan Katalog gempa (1629 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109
kali , yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat
gempa bumi tektonik.
Tsunami biasanya terjadi dalam rentang 3-60 menit setelah gempa. Ditandai dengan surutnya
air laut dan terbangnya puluhan bahkan mungkin ratusan burung-burung laut ke arah daratan.
Selain itu juga akan tercium bau garam.
Tak semua gempa tektonik di dasar laut menyebabkan tsunami. Banyak faktor yang jadi
penyebab. Seperti kekuatan dan kedalaman pusat gempa.
Pada umumnya, bencana gempa bumi dan tsunami terjadi dalam waktu yang relatif singkat,
dalam kawasan yang tidak terlalu luas, tetapi akibatnya dapat menjadi sangat fatal, sehingga
diperlukan sistem pengelolaan, pemetaan, pemantauan yang berkala & peringatan dini
berdasarkan analisis dan keputusan yang tepat.

19
BAB 7
Bencana Tsunami di Indonesia
Peneliti tsunami dari LIPI, Irina Rafliana menyebutkan, dalam 44 tahun terakhir di Indonesia
ada sekitar 13 gempuran tsunami yang terjadi,

Tsunami 1 terjadi di Seram, Maluku, 24 Januari 1965 dengan ketinggian gelombang


empat meter dan terjadi pada pukul 00:11 UTC. Gempa yang berkekuatan 8,2 Mw ini
terletak di dekat Pulau Sanana, Indonesia. Serangkaian tremor dilaporkan selama
seminggu sebelum gempa bumi. 71 orang dilaporkan tewas. Tsunami juga dihasilkan,
yang menyebabkan kerusakan di Sanana, Buru dan Mangole.

Tsunami 2 terjadi pada 11 April 1967 di Tinabung, Sumatera Selatan dengan jumlah
korban tewas 58 orang.Tsunami 3 terjadi 14 Agustus 1968 di Tambu, Sulawesi Tengah
menewaskan 200 orang dengan ketinggian gelombang mencapai 10 meter. Pada 14
Agustus 1968, terjadi gempa berkekuatan 6,0 SR yang berpusat di Teluk Tambu,

Kecamatan Balaesang Donggala (100 km dari Kota Palu). Getaran gempa ini
dirasakan dengan intensitas VII-VIII MMI. Gempa dengan kedalaman 23 kilometer ini
memunculkan tsunami lebih 5 meter di wilayah pantai barat Kabupaten Donggala.
Sebanyak 200 orang tewas, 790 rumah rusak serta menenggelamkan hampir seluruh
isi desa di pesisir pantai barat Donggala.
Peristiwa yang dikenal dengan Gempa Bumi Mapaga itu, menimbulkan tsunami
dengan ketinggian air 8-10 meter. Sebelum terjadi tsunami, air laut di sekitarnya surut
puluhan meter. Saat air laut surut, ikan-ikan pun bergeleparan di atas pasir. Warga
nelayan Tambu yang tak mengerti akan peristiwa itu sebagai tanda bahaya tsunami,
justru berbondong-bondong ke pantai untuk memungut ikan. Tetapi, pada saat itulah
tiba-tiba gulungan air laut datang, menenggelamkan semua yang ada di pinggiran
pantai, termasuk ratusan warga disitu. Para saksi mata menyebutkan, saat terjadi
tsunami, pohon-pohon kelapa di pesisir pantai, hanya kelihatan pucuknya, karena

tertutup air laut.


Tsunami 4 terjadi 23 Februari 1969 di Majene, Sulawesi Selatan dengan tinggi
gelombang mencapai 10 meter dan menewaskan 64 korban.

Tsunami 5 terjadi pada 19 Agustus 1977, gelombang tsunami setinggi 15 meter


menerjang pesisir Sumbar, Nusa Tenggara Timur menewaskan 316 korban.
20

Tsunami 6 terjadi pada 25 Desember 1982 tsunami terjadi di Larantuka, NTT yang
menimbulkan 13 korban tewas.

Tsunami 7 terjadi pada 12 Desember 1992 terjadi tsunami di Flores, NTT. Gempa
berkekuatan 7,5 SR memicu gelombang tsunami mencapai 26 meter dan menyapu
permukiman di pesisir pantai Flores NTT. Tsunami tersebut menewaskan setidaknya
2.100 jiwa, 500 orang dinyatakan hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang
mengungsi. Gempa tersebut sedikitnya menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90
tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini
ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores
Timu

Tsunami 8 terjadi pada 2 Juni 1994 tsunami setinggi 14 meter melanda Banyuwangi,
Jawa Timur menyebabkan 238 korban tewas.

Tsunami 9 terjadi pada 1 Januari 1996 tsunami setinggi enam meter melanda Palu,
Sulawesi Tengah dengan sembilan korban tewas.

Tsunami 10 terjadi pada 17 Februari 1996 tsunami setinggi 12 meter menerjang pesisir
Biak, Papua menyebabkan 160 orang tewas.

Tsunami 11terjadi pada 28 Nevember 1998 di Taliabu, Maluku Utara tsunami dengan
ketinggian tiga meter menyebabkan 34 orang tewas.

Tsunami 12 terjadi pada 4 Mei 2000 tsunami setinggi tiga meter melanda Banggai,
Sulteng menyebabkan 50 korban tewas.

Tsunami 13 terbesar terjadi pada 26 Desember 2004 melanda Aceh dengan ketinggian
gelombang mencapai 10 meter dan menewaskan 79.940 orang.

Tsunami 14 terjadi pada 6 Januari 2005 di Nias, menyusul terjangan tsunami 122
orang korban

Tsunami 15 terjadi pada 17 Juli 2006 di Jawa Barat.


21

Tsunami 16 terjadi pada 25 Oktober 2010


tsunami melanda mentawai yang di awali dengan gempa sebesar 7,2 sr dan
menewaskan 40 orang.

Berikut akan dibahas bencana tsunami terbesar yang pernah melanda Indonesia
Bencana Tsunami di Aceh 2004
Tanggal 26 Desember 2004 tidak akan dilupakan oleh rakyat Aceh. Pada hari itu,
pukul 7:58:53 WIB terjadi gempa bumi berkekuatan 9.1 skala Richter di dasar lautan,
tepatnya di bujur 3.316 N 95.854 E, kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh. Gempa ini
kemudian mengakibatkan tsunami setinggi 30 meter yang gelombangnya menyapu beberapa
negara sekaligus, yaitu Indonesia, Sri lanka, India, Thailand, Maladewa dan pesisir timur
benua Afrika. Total, lebih dari 230 ribu nyawa melayang atau ribuan lainnya dinyatakan

hilang. Jutaan lorang kehilangan tempat


tinggal. Tragedi ini menjadi salah satu
bencana terdahsyat di Abad ke-21.
Di Aceh sendiri, pemerintahan lumpuh total.
Saluran telepon dan penerbangan terputus.
Negeri Serambi Makkah seolah terputus dari
peradaban. Tercatat lebih dari 126.000 orang
meninggal. Paling banyak dari korban di Negara-negara lain. Puluhan gedung hancur oleh
gempa, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh. Di Banda Aceh, sekitar 50 persen bangunan
rusak terkena tsunami.
Menurut U.S. Geological Survey korban tewas mencapai 283.100, 14.000 orang
hilang dan 1,126,900 kehilangan tempat tinggal. Menurut PBB, korban 229.826 orang hilang
dan 186.983 tewas. Tsunami Samudra Hindia menjadi gempa dan Tsunami terburuk 10 tahun
terakhir. Di Indonesia, gempa dan tsunami menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan
gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatera.
Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami. Tetapi, kebanyakan
korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh. Pemerintahan daerah
Aceh lumpuh total, saat terjadi gempa bumi dan Tsunami Aceh, kebetulan di Jakarta sendiri
sedang di adakan acara Halal Bi Halal masyarakat Aceh pasca menyambut lebaran Idul Fitri.
Gempa Bumi yang terjadi pada jam 08:00 WIB dengan 9 Skala Richter Pada tanggal 26
Desember 2004, gempa Bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh.
22
Untuk mengenang tragedi ini, di kota Aceh didirikan Museum Tsunami. Dari kejauhan,
bentuknya seperti kapal api. Di salah satu dindingnya tertulis nama-nama korban dalam
tragedi tersebut.
Kronologi Bencana Tsunami di Aceh 2004

26 Desember 2004: Pukul 7.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3
skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25
kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari

gempa itu mencapai daratan Afrika.


27 Desember: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh
sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Bantuan internasional
mulai digerakkan menuju kawasan bencana. Kawasan terparah yang dilanda tsunami
adalah Aceh, Khao Lak di Thailand dan sebagian Sri Lanka dan India.

30 Desember: Sekretaris Jendral PBB saat itu, Khofi Annan, menyebut jumlah korban
sedikitnya 115.000 orang tewas. Jerman mengirim pesawat militer yang berfungsi
sebagai klinik darurat ke kawasan bencana. Militer Jerman Bundeswehr dikerahkan

untuk membantu korban bencana.


31 Desember: Indonesia dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah.

Pemerintah Indonesia menyebut korban tewas akan melebihi 100.000 orang.


1 Januari 2005: Kapal induk Amerika Serikat "USS Abraham Lincoln" tiba di perairan
Sumatra untuk membantu evakuasi korban dan penyaluran bahan bantuan. Helikopter
Amerika Serikat dikerahkan dari kapal induk untuk membagikan bahan bantuan

terpenting ke kawasan bencana di Aceh.


2. Januari 2005: Masyarakat internasional menjanjikan bantuan untuk kawasan

bencana tsunami senilai 2 miliar US$.


4 Januari 2005: PBB menyatakan jumlah korban lebih banyak dari perkiraan semula,

sedikitnya 200.000 orang tewas.


5 Januari 2005: Eropa memperingati korban tsunami dengan aksi mengheningkan
cipta di berbagai kota besar dan dalam sidang parlemen. Jerman menyatakan sekitar
1.000 warganya yang sedang berwisata di Asia Tenggara hilang. Pemerintah Jerman
memutuskan bantuan senilai 500 juta Euro untuk bantuan kemanusaiaan dan

pembangunan kembali di kawasan bencana.


14 Maret 2005: Indonesia dan Jerman mulai membangun sistem peringatan dini

23
tsunami. Perangkat teknisnya merupakan sumbangan Jerman kepada Indonesia, senilai
40 juta Euro. Sistem itu dikenal sebagai GITEWS (German Indonesian Tsunami Early
Warning System). Tahun 2008 dikembangkan menjadi InaTews (Indonesia Tsunami

Early Warning System).


19 Maret 2005: Sekitar 380 tentara Jerman yang bertugas di kawasan bencana kembali
ke pangkalannya. Selama bertugas, mereka merawat sekitar 3.000 pasien korban
bencana. Masyarakat Jerman mengumpulkan sumbangan bencana Tsunami senilai 670
juta Euro.

24
BAB 8
Akibat dari Bencana Tsunami
Berikut ini berbagai hal yang ditimbulkan akibat tsunami :
Kerusakan Bangunan
Kerusakan Bangunan adalah akibat langsung yang bisa dirasakan ketika terjadi gempa
bumi. Kerusakan bangunan bisa berupa kerusakan rumah, gedung-gedung perkantoran,
jalan raya, rel kereta api dan lain-lain. Seringkali kerusakan ini disertai timbulnya korban jiwa
akibat banyaknya orang-orang yang terperangkap di dalamnya. Kerusakan bangunan terbagi
menjadi tiga kategori, yaitu roboh, rusak berat, dan rusak sedang atau ringan.
Timbulnya penyakit
Rusaknya sanitasi akibat gempa bumi, dapat menyebabkan penyakit menular mudah
menyebar. Jenis penyakit yang biasanya muncul antara lain infeksi, campak, diare dan ISPA.

Munculnya trauma
Tidak jarang gempa bumi (terutama berkekuatan besar) dapat menimbulkan trauma, terutama
pada anak-anak. Setelah terjadinya gempa bumi, biasanya anak-anak merasakan tekanan
psikologis, seperti perasaan takut berpisah, tacit pada orang lain, takut pada hewan-hewan
tertentu, sulit tidur, tidak ada nafsu makan, perut merasa mual, ngompol, menghisap jari dan
sering menangis. Hal tersebut merupakan gejala-gejala trauma pada anak akibat tsunami.

25
BAB 9
KESIMPULAN

26
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami
static.guim.co.uk
disaster.elvini.net/tsunami.cgi
allthingscruise.com
fox41blogs.typepad.com
luk.staff.ugm.ac.id
indocropcircles.files.wordpress.com
cdn0-a.production.liputan6.static6.com
http://artikel2tentang.blogspot.co.id/2012/10/akibat-tsunami-akibat-yg-ditimbulkan.html
http://alampenuhbencana.blogspot.co.id/p/pengertian-tsunami.html
http://indonesiaindonesia.com/f/47124-13-gempuran-tsunami-indonesia-44-tahun/
http://indonesia2000.blogspot.co.id/2010/12/tsunami-yang-pernah-terjadi-di.html
http://www.dw.com/id/kronologi-bencana-tsunami-2004-di-aceh/a-18146413

http://www.kompasiana.com/rachmadgempol/tragedi-tsunami-aceh-paling-hebat-di-duniapada-abad-ke-21_550e203ca33311a52dba7ec7
http://ockym.blogspot.co.id/2015/03/bencana-tsunami-yang-pernah-terjadi-di.html
http://properti.kompas.com/read/2009/03/20/16525562/dalam.44.tahun.indonesia.dilanda.13.t
sunami
https://geofisika42.wordpress.com/page/3/
https://mwamir.wordpress.com/2014/09/12/hubungan-gempa-bumi-dengan-tsunami/
https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004
http://chemistrysainsriyadi.blogspot.co.id/2013/02/ada-hubungan-apa-gempa-bumi-dantsunami.html

27