Anda di halaman 1dari 5

Lubang kecil di Dekat Telinga, Fistula

Preaurikular Kongenital
Posted on November 24, 2014 by The Doctor Indonesia Meninggalkan komentar

Lubang kecil di Dekat Telinga, Fistula Preaurikular Kongenital


Beberapa orangtua sempat bertanya-tanya dan sedikit cemas ketika pada kepala
anaknya dijumpai lubang di sebelah samping atas kedua telinga, berbentuk bulat,
seukuran ujung pensil. Gangguan ini sering disebut Fistula preaurikular yang
meruupakan penyakit kongenital atau kelainan bawaan dimana suatu traktus yang di
dasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Kelainan ini
disebabkan oleh kegagalan untuk bersatu dari tuberkulum arkus pertama ke
tuberkulum tuberkulum lainnya. Muara fistel ini sering mengeluarkan sekret atau
cairan yang berasal dari kelenjar sebasea. Gangguan tersebut sebenarnya tidak
berbahaya tetapi kadang bisa terjadi infeksi fistel ini yang mengakibatkan bengkak dan
nyeri di lubang tersebut. Keberadaan fistula inilah yang menyebabkan kadang bisa
terjadi infeksi, karena menjadi media berkembangnya bakteri Staphyloccocus
epidermidis, S. Aurens, S. Viridans, Peptoccocus species dan Proteus species. Terapi yang
dibutuhkan yaitu Pencegahan terjadinya infeksi yaitu menghindari manipulasi dan
membersihkan muara dari sumbatan dengan alcohol atau cairan antiseptic lainnya secara
rutin. Pada kasus dengan infeksi biasanya dapat diberikan antibiotic dan kompres hangat.
Penelitian lebih lanjut mengenai kelainan ini, bahwa lokus untuk fistula preaurikular
kongenita ini ada pada kromosom 8q11.1-q13.3
Fistula preaurikular congenital adalah suatu kanal atau lubang atau traktus yang didasari oleh
epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Ini disebabkan oleh kegagalan untuk
bersatu dari tuberkulum arkus pertama ke tuberkulum-tuberkulum lainnya. Apabila tidak
dijumpai adanya gejala maka pengobatan tidak diperlukan.
Fistula preaurikular adalah penyakit kongenital atau kelainan bawaan dimana suatu traktus
yang di dasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Ini disebabkan oleh
kegagalan untuk bersatu dari tuberkulum arkus pertama ke tuberkulum tuberkulum lainnya.
Fistula preaurikular kongenital pada umumnya terjadi akibat kegagalan penyatuan atau
penutupan dari tonjolan tonjolan (hilokz) pada masing masing arkus brankialis pertama
dan kedua yang akan membentuk daun telinga pada masa pembentukkan embrional. Biasanya
terdapat di bagian anterior tragus atau crus helicis, tetapi jarang ditemukan di bagian superior
atau inferior perlekatan telinga. Kelainan ini pertama kali diperkenalkan oleh Heusinger pada
tahun 1864. Sering ditemukan pada suku bangsa di asia afrika, merupakan kelainan herediter
yang dominan.
Kelainan ini pertama kali oleh Heusinger pada tahun 1864. Insiden gangguan ini banyak
dijumpai di beerapa negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, Skotlandia, Hungaria dan
beberapa negara Asia dan Afrika. Hanya saja persentase kejadian di Asia dan Afrika cukup
tinggi, diperkirakan 4-10%.
Penyebab

Kelainan ini disebabkan oleh kegagalan dari penutupan hillocks of His (tonjolan) pada
arkus branchialis pertama dan kedua yang akan membentuk daun telinga, pada
tahapan embrionik. Pada waktu janin berusia 4 minggu, arkus branchialis ini ada
dipermukaan janin, kemudian ketika usia janin 6 minggu arkus hioid dan arkus
mandibular ini menyatu di bawah kedudukan kanalis aurikularis eskterna dan tertutup.
Gangguan penutupan inilah yang menyebabkan fistula preaurikular kongenital
Embriologi Pengembangan lengkungan branchial daun telinga terbentuk selama
minggu keenam kehamilan. Lengkungan branchial pertama dan kedua menimbulkan
serangkaian 9 proliferations mesenchymal dikenal sebagai hillocks, untuk membentuk
daun telinga definitif. Lengkungan pertama menimbulkan ke 3 hillocks pertama, yang
membentuk tragus, heliks crus, dan helix. Lengkungan kedua menimbulkan ke 3
hillocks kedua, yang membentuk antihelix, scapha, dan lobulus tersebut. Cacat atau
tidak lengkap penggabungan selama pembentukan aurikularis dianggap sebagai
sumber sinus preauricular. Teori lain menunjukkan bahwa lipat lokal dari ektoderm
selama aurikularis pembangunan adalah penyebab pembentukan sinus
preauricular. Ke tiga hillocks pertama yang paling sering dikaitkan dengan hillocks
supernumerary, yang menyebabkan terbentuknya tag preauricular.

Genetika Aktivasi gen yang benar sekuensial diperlukan untuk telinga normal dan
perkembangan wajah. Mengganggu urutan aktivasi gen pada hewan laboratorium
pengembangan mengganggu telinga. Studi hubungan genetik analisis menunjukkan
bahwa bawaan preauricular sinus untuk melokalisasi kromosom 8q11.1-q13.3

Bagian aparat neurologis, koklea, saraf pendengaran dan bentuk dalam hubungannya
dengan struktur telinga luar selama tahap awal perkembangan. Kelainan eksternal
mungkin berhubungan dengan kelainan neurologis dalam dan, karenanya,
menyarankan tuli mungkin.

Gangguan Sinrom Yang berhubungan

Sindromik ekspresi lubang, tag, dan fisura terjadi pada frekuensi jauh lebih tinggi di
dysmorphisms kraniofasial tertentu. Anomali kecil dari kepala dan leher dapat
membantu dokter dalam mengembangkan diagnosis dugaan selama pemeriksaan
awal. Anomali telinga tambahan mencakup kelainan kali lipat heliks, asimetri,
angulasi posterior, ukuran kecil, tragus tidak ada, dan sempit meatus auditori
eksternal. Beberapa sindrom dengan anomali telinga karakteristik adalah sebagai
berikut:
Branchiootorenal syndrome (BOR) Preauricular sinus

Beckwith-Wiedemann sindrom Preauricular sinus dengan telinga asimetris

Mandibulofacial dysostosis lubang aurikularis / fistulaOculoauriculovertebral


displasia tag Preauricular. Beberapa pada anak dengan displasia
oculoauriculovertebral. Perhatikan atrofi spasm, retrognathia, dan telinga set yang
lebih rendah.

Kromosom lengan 11q duplikasi sindrom tag Preauricular atau lubang

Kromosom lengan 4p penghapusan sindrom lesung Preauricular atau tag kulit

Kromosom lengan 5p penghapusan sindrom tag Preauricular

Keadaan ini sering kurang mendapat perhatian dari penderita karena pada umumnya tidak
menimbulkan gejala dank arena ukuran lubangnya yang kecil (lebih kecil dari 1mm). Pada
keadaan t nang, tampak muara fistel berbentuk bulat atau lonjong, berukuran seujung pensil,
dari muara fistel sering keluar secret yang berasal dari kelenjar sebase dan bila infeksi dapat
mengeluarkan secret yang berbau busuk. Penderita sering dating pertama kali ke dokter
karena obsruksi dan infeksi fistel ini sehingga terjadi pioderma atau selulitis facial. Kelainan
ini dapat terjadi unilateral atau bilateral.
Bila terjadi infeksi biasanya menyebabkan daerah di depan daun telinga bengkak dan sakit
yang mungkin pecah serta bernanah. Eksisi yang sempurna dari traktus dilakukan setelah
infeksi akut sudah reda. Traktus sering berjalan diantara cabang-cabang nervus fasialis dan
harus berhati-hati sewaktu melakukan eksplorasi.
Infeksi ini dapat mengakibatkan terjadinya rasa gatal atau keluarnya sekret. Padahal tanda ini
adalah bentuk manipulasi karena perkembangan bakteri di dalam fistel. Jadi, untuk
menghindari terjadinya infeksi ini adalah membersihkan muara dari sumbatan tersebut
menggunakan alkohol atau cairan antiseptik lainnya secara rutin. Tetapi kalau sudah terjadi
infeksi dapat dilakukan dengan mengkompresnya dengan air hangat. Pada tingkatan yang
lebih parah, akan mengalami pembengkakan karena abses di depan telinga disertai demam.
Ini yang terjadi pada saya, hari ini, sekaligus menanyakan kemungkinan dilakukan
pembedahan di rumah sakit tersebut.
Diagnosis
Untuk mengakkan diagnosis Fistula preaurikular didapat berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan fisik. Dari anamnesa didapatkan keluhan terdapat lubang di daun telinga dan
kadang terdapat rasa gatal dan keluarnya secret Pemeriksaan fisik diperoleh muara fistula di
depan telinga yang terdapat sejak lahir Diagnosis fistula preaurikular kongenital dapat
ditegakkan dengan ditemukannya muara fistula di sekitar telinga yang terdapat sejak lahir.
Dalam beberapa kasus, fistula ini ada yang pendek ada juga yang panjang. Untuk melihat
panjang dan pendeknya, ada beberapa cara, yaitu:

Bisa diuji dengan larutan methyline blue ke dalam saluran. Jaringan yang berwarna
inilah yang dijadikan petunjuk luas dan dalamnya jaringan. Penyuntikan ini pun tentu
akan mengorbankan jaringan yang sehat. Dan tidak semua jaringan bisa dimasuki oleh
pewarna ini. Sehingga petunjuk yang dihasilkan bisa keliru.
Menggunakan fistulografi, yaitu dengan memasukan zat kontras ke dalam muara
fistel, kemudian di periksa dengan radiologik.
Selama ukurannya pendek, pembedahan bisa dilakukan. Tetapi dari kedua cara
tersebut, hal terpenting adalah menentukan kelenjar parotis atau saraf fasialis.

Penanganan

Pencegahan terjadinya infeksi yaitu menghindari manipulasi dan membersihkan


muara dari sumbatan dengan alcohol atau cairan antiseptic lainnya secara rutin. Pada
kasus dengan infeksi biasanya dapat diberikan antibiotic dan kompres hangat.
Pembedahan fistula adalah dengan diseksi dan eksisi komplit dari fistula dan

salurannya, hanya dilakukan pada infeksi yang berulang oleh karena sulitnya
mengeluarkan fistula secara lengkap.
Terapi diperlukan bila timbul infeksi pada fistula. Hal ini diterapi dengan antibiotika
dan dilakukan pengangkatan fistel itu seluruhnya oleh karena bila tidak bersih dapat
menimbulkan kekambuhan.

Penatalaksanaan fistula preaurikular kongenital ini tidak diperlukan kecuali


pencegahan terjadinya infeksi yaitu menghindari manipulasi dan membersihkan
muara dari sumbatan dengan alcohol atau cairan antiseptic lainnya secara rutin. Pada
kasus dengan infeksi biasanya dapat diberikan antibiotic dan kompres hangat.

Pembedahan dapat dilakukan, tetapi ini sulit dilakukan, karena percabangan dan
salurannya yang berkelok-kelok di subkutaneus. Cabang-cabang ini harus diangkat
seluruhnya, jika ada yang tersisa maka akan butuh pengangkatan yang lebih sulit, dan
berbahaya karena di dalamnya ada juga saluran cabang-cabang nervus fasialis yang
tidak boleh terpotong.

Pembedahan fistula adalah dengan diseksi dan eksisi komplit dari fistula dan
salurannya, hanya dilakukan pada infeksi yang berulang oleh karena sulitnya
mengeluarkan fistula secara lengkap. Kesukaran pembedahan disebabkan oleh adanya
percabangan fistula sehingga sulit untuk menentukan luas keseluruhan saluran
tersebut. Selama eksisi pembedahan, harus diingat bahwa salurannya dapat berkelok
kelok dengan cabang cabangnya di subkutaneus. Diseksi sampai ke periosteum dari
tulang temporal biasanya dibutuhkan, dan semua cabang cabang dari salurannya
harus diangkat untuk mencegah infeksi yang berulang. Pengangkatan yang tidak
lengkap menimbulkan sinus yang mengeluarkan cairan sehingga membutuhkan
pengangkatan yang lebih sulit dan lebih radikal. Untuk membantu pembedahan dapat
disuntikkan larutan methylene blue ke dalam saluran sebelum operasi sehingga
jaringan yang berwarna bisa digunakan sebagai petunjuk panjang dan luasnya fistula,
harus diingat bahwa zat warna itu mungkin tidak memasuki seluruh cabang cabang
yang lebih kecil sehingga diperlukan ketelitian selama diseksi untuk mencari saluran
saluran kecil yang tidak berwarna, beberapa ahli bedah yang berpengalaman dalam
menangani penyakit ini merasa bahwa penyuntikkan zat warna harus ditinggalkan
karena penyebaran zat warna ke sekitarnya akan mengorbankan jaringan sehat dengan
sia sia.

Cara lain ialah dengan fistulografi, yaitu dengan cara memasukkan zat kontras ke
dalam muara fistula lalu dilakukan pemeriksaan radiologis, pada pemeriksaan
fistulografi tidak dapat menggambarkan jalur traktus yang sebenarnya karena infeksi
yang berulang menimbulkan tersumbatnya traktus oleh jaringan fibrosis. Pembedahan
dilakukan apabila inflamasi sudah sembuh.

Referensi:

Samuel T Ostrower, Arlen D Meyers. Preauricular Cysts, Pits, and Fissures.


http://emedicine.medscape.com/article/845288-overview
Zou F, ed all. A locus for Congenital Preauricular Fistulae maps to Chromosome
8q11.1-q13.3 http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi
Baarsma EA. Surgical treatment of the infected preauricular sinus. Arch
Otorhinolaryngol. 1979;222(2):97-102.

Coatesworth AP, Patmore H, Jose J. Management of an infected preauricular sinus,


using a lacrimal probe. J Laryngol Otol. Dec 2003;117(12):983-4.

Currie AR, King WW, Vlantis AC, Li AK. Pitfalls in the management of preauricular
sinuses. Br J Surg. Dec 1996;83(12):1722-4

http://dokterindonesiaonline.com/2014/11/24/lubang-kecil-di-dekat-telingafistula-preaurikular-kongenital/