Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

TENTANG
PENYAKIT URETHRITIS

OLEH
1.
2.
3.
4.

ANGGA FARID FIRMANSYAH.


LY SEANG SELAN.
MAHARDIKA ROCHMANA K.P.
OKTAFIANUS M.K.
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan, yang mana atas berkat
rahmat, nikmat dan hidayahnya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Tidak
lupa pula sholawat serta salam kita ucapkan kepada junjungan Nabi Besar
Muhammad SAW, yang mana beliau telah membawa umatnya dari alam yang
gelap gulita ke alam yang terang benderang dan penuh ilmu pengetahuan.
Penulis menyusun makalah yang berjudul Penyakit Urethritis ini
karena ada sangkut pautnya antara ilmu keperawatan dengan Ilmu Keperawatan
khususnya pada Sistem Perkemihan. Penulis berharap makalah Penyakit
Urethritis ini akan sangat berguna dalam menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan dalam pembelajaran di bidang Ilmu Keperawatan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari akan segala kekurangan
dan kemampuan yang sangat terbatas dimiliki oleh penulis, sehingga dalam
penulisan, penyusunan kalimat dan dalam mencari sumber buku serta internet
masih kurang dan teramat sulit. Namun penulis sudah berusaha semaksimal
mungkin agar makalah ini dapat diselesaikan untuk memenuhi tugas yang telah
diberikan oleh dosen pembimbing dan berusaha untuk menjadikan yang terbaik.
Dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritikan dan
saran yang sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini. Dan penulis
berharap semoga makalah ini dapat memenuhi harapan kita semua.

Kediri, 28 September 2015

Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................
Kata Pengantar...............................................................................
Daftar Isi........................................................................................
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah.....................................................

i
ii
iii
1

1.2 Rumusan Masalah...............................................................


1.3 Tujuan Penulisan.................................................................
1.4 Manfaat Penulisan...............................................................

2
2
3

BAB II Tinjauan Pustaka


2.1 Pengertian Penyakit Urethritis............................................

2.2 Klasifikasi Penyakit Urethritis............................................

2.3 Etiologi Penyakit Urethritis................................................

2.4 Manifestasi Klinis Penyakit Urethritis................................

2.5 Patofisiologi dan Web of Caution Penyakit Urethritis........

2.6 Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Urethritis......................

11

2.7 Penatalaksanaan Penyakit Urethritis...................................

11

2.8 Komplikasi Penyakit Urethritis..........................................

12

2.9 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Penyakit Urethritis. . .

12

BAB III Pembahasan Ilustrasi Kasus.............................................

17

BAB IV Pembahasan Jurnal Penyakit Urethritis...........................

25

BAB V Penutup
5.1 Kesimpulan.........................................................................

28

5.2 Saran...................................................................................

28

Daftar Pustaka................................................................................

29

Lampiran Jurnal yang Mendukung Penyakit Urethritis.................

30

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sejak zaman dahulu, penyakit urethritis sudah dikenal di kalangan dunia
medis sebagai penyakit infeksi di saluran perkemihan akibat invasi oleh bakteri
baik yang bersifat menular atau tidak menular. Menurut The Center For Deseases
Control and Prevention (CDC) di Atlanta mengatakan Chlamyda adalah infeksi
sexual yang paling sering terjadi di Amerika (diperkirakan 3 juta orang Amerka
mengidap penyakit ini setiap tahun dan sebagian besar berumur 15 dan 24 tahun) .
Chlamydia disebabkan melalui hubungan seksual, tetapi bukan sebagai virus,
seperti kebanyakan penyakit akibat hubungan seksual lain. Ini disebabkan oleh
suatu bakteri yang disebut Chlamydia.
Di Indonesia Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang
dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih.
(Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001).Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik
laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja,
dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata
wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum, kurang lebih 5 15 %.
Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang
disebabkan oleh bakteri terutama E. coli. Resiko dan beratnya meningkat dengan
kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis
perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru dan septikemia. (Susan Martin
Tucker, dkk, 1998).
Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya
infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita. Namun demikian,
panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya
bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius.

Dengan demikian, penulis berusaha menemukan hal hal yang baru


terutama tentang hal yang berkaitan dengan penatalaksanaan penyakit
urethritis dan hal yang lain yang berkaitan dengan penyakit urethritis.

1.2 Rumusan Masalah


Dari makalah yang berjudul tentang Penyakit Urethritis rumusan
masalahnya adalah sebagai berikut :
a. Apakah yang dimaksud dengan penyakit urethritis?
b. Bagaimana klasifikasi dari penyakit urethritis?
c. Bagaimana etiologi dari penyakit urethritis?
d. Apa saja manifestasi klinis dari penyakit urethritis?
e. Bagaimana patofisiologi dan Web of Caution dari Penyakit
f.
g.
h.
i.

Urethritis?
Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Penyakit Urethritis?
Bagaimana penatalaksanaan dari Penyakit Urethritis?
Apa saja komplikasi dari Penyakit Urethritis?
Bagaiamana konsep dasar asuhan keperawatan dari Penyakit
Urethritis?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari makalah yang berjudul Penyakit Urethritis tujuan
penulisannya adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui pengertian dari penyakit urethritis.
b. Mengetahui klasifikasi dari penyakit urethritis.
c. Mengetahui etiologi dari pennyakit urethritis.
d. Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit urethritis.
e. Mengetahui patofisiologi dan Web of Caution dari penyakit
urethritis.
f. Mengetahui pemeriksaan diagnostik yang digunakan pada
penyakit urethritis.
g. Mengetahui penatalaksanaan untuk penyakit urethritis.
h. Mengetahui komplikasi dari penyakit urethritis.
i. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan dari penyakit
urethritis.
1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan makalah yang berjudul tentang Penyakit


Urethritis yaitu dapat mengetahui penatalaksanaan terbaru dan hal hal
yang terkait dengan penyakit urethritis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penyakit Urethritis
Uretritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang
menyebar naik yang digolongkan sebagai infeksi gonoreal dan nongonoreal.
Namun demikian kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada satu pasien.
(Nursalam, 2008).
Uretritis yaitu inflamasi pada uretra, keadaan ini kerap kali merupakan
gejala penyakit gonore, dapat pula disebabkan oleh mikroorganisme.
(Barbara. 2005).
Uretritis adalah peradangan yang terjadi pada uretra (Anonym 1997).
Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular
seks(PMS) urethritis secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis
dan nongonococal urethritis.

Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra,


yangterjadi pada lapisan kulit urethra, disebabkan oleh bakteri-bakteri yang
menyerangsaluran

kemih

seperti

Chlamydia

trachomatis,

neisseria

gonorrhoae, tricomonal vaginalis dan lain-lain. peradangan ini biasanya


terjadi pada ujung urethra atau urethra bagian posterior, urethritis juga
merupakan salah satu dari infeksi dari saluran kemih yaitu urethra, prostate,
vas deferens, testis atau ovarium, buli-buli, ureter sampai ginjal. dan dapat
dikatakan sebagai bagian dari infeksi saluran kemih superficial atau mukosa
yang tidak menandakan invasi pada jaringan.

2.2 Klasifikasi Penyakit Urethritis

Uretritis Akut
Penyakit ini disebabkan asending infeksi atau sebaliknya oleh
karena prostate mengalami infeksi. Keadaan ini lebih sering

diderita kaum pria.


Tanda dan gejalanya misalnya mukosa merah udematus,
terdapat cairan eksudat yang purulent, Ada ulserasi pada uretra.
Jika dilihat secara mikroskopisterlihat infiltrasi leukosit sel
sel plasma dan sel sel limfosit, ada rasa gatal yang
menggelitik, gejala khas pada uretritis gonorhea yaitu morning
sickness, pada pria diakibatkan pembuluh darah kapiler,
kelenjar uretra tersumbat oleh kelompok pus tetapi pada wanita

jarang diketemukan.
Diagnosa diferential seperti urethritis gonorhea, amicrobic
pyuhria, urethritis karena trichomonas dan prostatitis non

spesifik.
Pemeriksaan diagnostik biasanya dilakukan pemeriksaan

terhadap secret uretra untuk mengetahui kuman penyebab.


Tindakan pengobatan diberikan antibiotika. Bila terjadi
striktuka, lakukan dilatasi uretra dengan menggunakan bougil.

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah prostatitis, periuretral


abses yang dapat sembuh, kemudian meninbulkan striktura atau

urine fistula.
Uretritis kronis
Penyebabnya adalah pengobatan yang tidak sempurna pada

masa akut, prostatitis kronis dan striktura uretra.


Tanda dan gejalanya mukosa terlihat granuler dan merah, jika
dilihat secara mikroskopis tampak infiltrasi dari leukosit, sel
plasma, sedikit sel leukosit, fibroblast bertambah, getah uretra
(+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum bak pertama, uretra

iritasi, vesikal iritasi, prostatitis, dan cystitis.


Prognosanya bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat

menjalar ke kandung kemih, ureter, ataupun ginjal.


Tindakan pengobatan berupa pemberian antibiotika sesuai

dengan bakteri penyebabnya dan berikanlah banyak minum.


Komplikasinya dapat terjadi peradangan yang dapat menjalar

ke prostate.
Uretritis gonokokus
Penyebabnya

adalah

bakteri

Neisseria

gonorhoeoe

(gonokokus).
Tanda dan gejalalanya mukosa merah udematus, terdapat
cairan eksudat yang purulent, Ada ulserasi pada uretra. Jika
dilihat secara mikroskopisterlihat infiltrasi leukosit sel sel
plasma dan sel sel limfosit, ada rasa gatal yang menggelitik,

gejala khas pada uretritis gonorhea yaitu morning sickness.


Prognosanya infeksi ini dapat menyebar ke proksimal uretra.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan adalah infeksi yang
menyebar ke proksimal uretra menyebabkan peningkatan
frekuensi kencing. Gonokokus dapat menebus mukosa uretra
yang utuh, mengakibatkan terjadi infeksi submukosa yang
meluas ke korpus spongiosum. Infeksi yang menyebabkan
kerusakan kelenjar peri uretra akan menyebabkan terjadinya
fibrosis yang dalam beberapa tahun kemudian mengakibatkan

striktura uretra. (underwood,1999)


Uretritis non gonokokus (non spesifik)

Uretritis non gonokokus (sinonim dengan uretritis non spesifik)


merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual
yang paling sering diketemukan. Pada pria, lender uretra yang
mukopurulen dan disuria terjadi dalam beberapa hari sampai
beberapa minggu setelah melakukan hubungan kelamin dengan
wanita yang terinfeksi. Lendir mengandung sel nanah tetapi
gonokokus tidak dapat di deteksi secara mikroskopis atau
kultur (Underwood,1999).
Jumlah insidennya masih merupakan penyakit yang sering
terjadi pada banyak bagian dunia, insiden berhubungan
langsung dengan promiskuitas dari populasi
Penyebab dari infeksi ini hampir selalu didapat selama
hubungan seksual. Gonokokus membelah diri pada mukosa
yang utuh dari uretra anterior dan setelah itu menginvasi
kelenjar peri uretral, dengan akibat terjadinya bakteremia dan
keterlibatan limfatik.
Jika diamati secara makroskopik terjadi peradangan akut dari
mukosa uretra, dengan eksudat yang purulenta pada permukaan
dan dapat terjadi ulserasi dari mukosa.
Perjalanan penyakit ini dapat mengalami resolusi dalam 2 4
minggu, sebagai akibat pengobatan atau kadang kadang
spontan dan jika tidak dilakukan penatalaksanaan dengan benar
akan menjadi kronik.
Faktor penyulit proses penyembuhan

jika terjadi Uretritis

posterior, prostatitis, vesikulitis, epididimitis, sistitis, abses peri


uretral dan penyebaran sistemik (A.D Thomson,1997).
2.3 Etiologi Urethritis
Pada orang dewasa khususnya wanita muda dan aktif dapat ditularkan
organisme penyebab urethritis melalui hubungan seksual seperti Chlamydia
trachomatis, niesseria gonorrhoaeae, dan virus herpes simpleks merupakan
kuman-kuman penyebab utama urethritis. Pada wanita dapat juga terjadi
karena perubahan PH dan flora vulva dalam siklus menstruasi

Ada juga organisme lain seperti ureaplasmaurealyticum, mycoplasma


hominis, tricomonal vaginalis, dan neisseria meningitides yang juga
merupakan organisme penyebab peradangan urethra. Tidak hanya pada
perempuan tapi pada laki-laki dan anak bayi dan remaja bias terjangkit
olehkuman-kuman ini.Kuman gonore atau kuman lain, kadang kadang
uretritis terjadi tanpa adanya bakteri. Penyebab klasik dari uretritis adalah
infeksi yang dikarenakan oleh Neisseria Gonorhoea. Akan tetapi saat ini
uretritis disebabkan oleh infeksi dari spesies Chlamydia, Eserchia Coli atau
Mycoplasma. Secara umum penyebab dari urethritis adalah sebagai berikut :
a. Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe).
b. Kuman Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma
c.
d.
e.
f.

Urelytikum).
Tindakan invasif.
Iritasi batu ginjal.
Trihomonas vaginalis.
Organisme bakteri gram negatif seperti :
Escherichia coli .
Entero bakteri.
Pseudomonas.
Klebsiella.
Proteus.
Pada pria, uretritis biasanya dimulai dengan keluarnya cairan dari

uretra. Jika penyebabnya adalah gonokokus maka cairan ini akan


mengandung nanah. Jika penyebabnya adalah jasad renik yang lainnya,
maka cairan ini mengandung lendir. Gejala lainnya adalah nyeri pada saat
berkemih dan penderita sering mengalami desakan untuk berkemih.
Jika uretritis karena gonokokus tidak diobati secara adekuat, maka
pada

akhirnya

akan

terbentuk

penyempitan

uretra

(striktur).

Striktur ini akan meningkatkan resiko terjadinya uretritis pada uretra yang
lebih tinggi dan kadang menyebabkan terbentuknya abses di sekitar uretra.
Abses bisa membentuk kantong pada dinding uretra (divertikulum uretra),
yang juga bisa mengalami infeksi. Jika abses menyebabkan terjadinya
perforasi kulit, maka air kemih bisa mengalir melalui saluran baru (fistula
uretra).

2.4 Manifestasi Klinis Penyakit Urethritis

Mukosa memerah dan edema.


Terdapat cairan exudat yang purulent.
Ada ulserasi pada uretra.
Adanya rasa gatal yang menggelitik.
Adanya pus pada awal miksi.
Nyeri pada saat miksi.
Kesulitan untuk memulai miksi.
Nyeri pada abdomen bagian bawah.

2.5 Patofisiologi dan Web Of Caution Penyakit Urethritis


Secara umum ada 2 penyebab utama dari penyakit urethritis yaitu
invasi kuman (gonorrhoe, trihomonas vaginalis gram negatif) uretritis dan
iritasi (iritasi batu ginjal, iritasi karena tindakan invasif menyebabkan retak
dan permukaan mukosa pintu masuknya kuman proses peradangan uretritis).
Pada kebanyakan kasus organisme penyebab dapat mencapai kandung
kemih melalui uretra. Infeksi ini sebagai sistitis, dapat terbatas di kandung
kemih saja atau dapat merambat ke atas melalui uretra ke ginjal. Organisme
juga dapat sampai ke ginjal atau melalui darah atau kelenjar getah bening,
tetapi ini jarang terjadi. Tekanan dari kandung kemih menyebabkan saluran
kemih normal dapat mengeluarkan bakteri yang ada sebelum bakteri tersebut
sampai menyerang mukosa.
Obstruksi

aliran

kemih

proksimal

terhadap

kandung

kemih

mengakibatkan penimbunan cairan, bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter.


Hal ini dapat menyebabkan atrofi hebat pada parenkim ginjal atau
hidronefrosis. Disamping itu obstruksi yang terjadi di bawah kandung kemih
sering disertai refluk vesiko ureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum
obstruksi adalah jaringa parut ginjal dan uretra, batu saluran kemih,
neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada leher kandung kemih
dan uretra serta penyempitan uretra.
Web of Caution

Invasi kuman bakteri


(Gonorrhoe, Trihomonas Vaginalis,
Orgnisme gram Negatif)

8
Iritasi
(Iritasi Batu Ginjal, Iritasi Karena
Tindakan Invasif

Respon traumatic pada uretra

Ketidak mampuan pertahanan


local terhadap infeksi

Penempelan bakteri pada uretra

HIPERTERMI

URETHRITIS

Ketidakmampuan dalam proses


transmisi penyakit

Resiko tinggi penularan


penyakit

Reaksi infeksi inflamasi local


nyeri iritasi saluran kemih

NYERI
AKUT

Kurang pengetahuan

ANXIETAS

RESIKO TINGGI
INFEKSI

Disuria

GANGGUAN
ELIMINASI URINE

2.6 Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Urethritis

Kultur urine untuk mengidentifikasi organisme penyebab penyakit

urethritis.
Urine analisis atau urinalisa untuk memperlihatkan bakteriuria, sel

darah putih, dan endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal
Pemeriksaan darah lengkap dan urine lengkap.

Sinar X ginjal, ureter dan kandung kemih untuk mengidentifikasi

anomali struktur nyata.


Pielogram intravena (IVP untuk mengidentifikasi perubahan atau
abnormalitas.

2.7 Penatalaksanaan Penyakit Urethritis


Pengobatan
Jika

penyebabnya

tergantung

kepada

mikroorganisme

adalah

bakteri,

maka

diberikan

penyebabnya.
antibiotik.

Jika penyebabnya adalah virus herpes simpleks, maka diberikan obat antivirus (misalnya asiklovir).
Dianjurkan untuk sering minum dan buang air kecil sesuai kebutuhan
untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita
harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi
lubang urethra oleh bakteri feces. Antibiotika yang direkomendasikan untuk
N. Gonnorrheae misalnya :
Cefixime 400 mg oral.
Ceftriaxone 250 mg IM.
Ciprofloxacine 500 mg oral.
Ofloxacin 400 mg oral.
Keempat antibiotika diatas diberikan dalam dosis tunggal. Infeksi
gonorrheae sering diikuti dengan infeksi chlamydia. Oleh karena itu perlu
ditambahkan antibiotika anti-chlamydial seperti berikut :

Azithromycin, 1 gr oral (dosis tunggal).


Doxycycline 100 mg oral 2 kali sehari selama 7 hari.
Erythromycine 500 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari.
Ofloxacin 200 mg oral 2 kali sehari slama 7 hari.

2.8 Komplikasi Penyakit Urethritis


Komplikasi yang dapat terjadi pada pria berupa prostatitis, vesikulitis,
epididimitis, dan striktur urethra. Sedangkan pada wanita komplikasi dapat
berupa borthlinitis, praktitis, salpingitis, dan sistitis. Peritonitis dan
perihepatitis juga pernah ditemukan.
2.9 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Penyakit Urethritis

10

Pengkajian
Identitas
Usia (semua usia bisa terkena penyakit ini, biasanya
lebih sering pada umur > 45 tahun).
Jenis kelamin (perempuan lebih rentan terkena uretritis
dibanding laki laki).
Alamat (tempat atau daerah yeng sering terjadi sebagai
faktor resiko peyebaran, seperti daerah lokalisasi,

daerah perairan dan lain sebagainya).


Riwayat penyakit
Riwayat penyakit sekarang (masuk rumah sakit dengan
keluhan nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama
pada saat berkemih, kadang juga disertai darah dan
nanah).
Riwayat penyakit dahulu (penyebab penyakit biasanya

akibat dari penyakit diabetes melitus).


Observasi tanda tanda vital
Suhu meningkat (biasanya antara 37,5 0C 38,5 0C).
Nadi meningkat (biasanya >100 x / menit).
Pernafasan normal (18 20 x / menit).
Tekanan darah normal.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan sistem pernafasan
Pernafasan pendek, karena menahan nyeri (nyeri
daerah simpisis pubis).
Pemeriksaan sistem kardiovaskuler
Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler.
Pemeriksaan sistem persepsi sensori
Tidak ada gangguan pada sistem persersi-sensori.
Pemeriksaan sistem Muskuluskeletal
Tidak ada gangguan pada sisitem muskuluskeletal.
Pemeriksaan sistem pencernaan
Abdomen tegang dan nyeri tekan pada daerah
simpisis pubis atau perut bagian bawah.
Pemeriksaan sistem perkemihan
Nyeri dan panas saat berkemih, terjadi disuria,
hematuria, mukosa memerah dan edema, terdapat
cairan eksudat yang purulent, adanya ulserasi pada
uretra, adanya rasa gatal yang menggelitik, adanya pus
11

pada awal miksi, kesulitan untuk memulai miksi serta


nyeri pada abdomen bagian bawah.

Diagnosis keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.
Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran

kemih.
Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
Resiko infeksi berhubungan dengan supresi respons inflamasi.

Intervensi keperawatan
Diagnosis Keperawatan

Nursing Outcome

Nursing Intervention

Nyeri akut berhubungan

Classification
Classification
Setelah
dilakukan 1. Berikan posisi yang

dengan agen cidera

tindakan

biologis

selama

keperawatan
1

diharapkan

24

jam

kondisi

pasien sebagai berikut:


Tidak ada nyeri atau
nyeri berkurang saat

berkemih.
Ekspresi wajah
tenang.

nyaman kepada pasien.


2. Alihkan perhatian pada
hal yang
menyenangkan.
3. Kaji tingkat nyeri,
lokasi dan intensitas
nyeri.
4. Pantau pola berkemih
secara berkala.
5. Kolaborasi dengan tim
medis yang lain untuk
pemberian analgesic.

Diagnosis Keperawatan

Nursing Outcome

Gangguan eliminasi

Classification
Setelah
dilakukan

urine berhubungan

tindakan

dengan infeksi saluran

selama

kemih.

diharapkan

keperawatan
2 x

24 jam
kondisi

pasien sebagai berikut:


Klien dapat

Nursing Intervension
Classification
1. Awasi pemasukan
dan pengeluaran
karakteristik urine.
2. Dorong peningkatan
pemasukan cairan.
3. Kolaborasi dengan
tim medis yang lain
12

berkemih secara

untuk melakukan

lancar.
Klien tidak kesulitan

pemeriksaan

saat berkemih.
Pola eliminasi urine

laboratorium.

membaik dan tidak


terjadi gangguan
berkemih.
Diagnosis
Keperawatan
Hipertermia

Nursing Outcome

Classification
Classification
Setelah
dilakukan 1. Kaji timbulnya

berhubungan dengan tindakan keperawatan


penyakit.

Nursing Intervension

selama 1 x 24 jam
diharapkan

kondisi

pasien

sebagai

berikut:
Suhu tubuh

normal.
Ekspresi wajah

tenang.
Mukosa uretra
tidak memerah.

demam.
2. Observasi tanda
tanda vital
terutama suhu
tubuh.
3. Anjurkan pasien
untuk banyak
minum.
4. Berikan kompres
hangat.
5. Kolaborasi dengan
tim medis yang
lain untuk
pemberian
antipiretik.

Diagnosis

Nursing Outcome

Nursing Intervension

Keperawatan
Resiko infeksi

Classification
Classification
Setelah
dilakukan 1. Tingkatkan

berhubungan dengan

tindakan keperawatan

kebersihan yang

supresi respons

selama 3 x 24 jam

baik pada pasien,

inflamasi.

diharapkan

kondisi

keluarga dan

pasien

sebagai

tenaga kesehatan.
2. Dorong
13

berikut:
Tidak ada tanda

tanda infeksi.
Urine tidak
bercampur darah

peningkatan
pemasukan cairan.
3. Berikan perawatan
perineal.
4. Kolaborasi dengan

atau pus.
Urine berwarna

tim medis yang

jernih dan tidak

pemberian

ada endapan.

antibiotik.

lain untuk

BAB III
PEMBAHASAN ILUSTRASI KASUS
3.1 Ilustrasi Kasus
Tn. X datang umur 48 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan
nyeri saat miksi dan kesulitan untuk memulai miksi sejak 3 hari yang lalu.
Saat memulai miksi harus menunggu sekitar 5 7 menit baru yrine akan
keluar. Pada saat keluar urine juga disertai dengan keluarnya pus disertai rasa
panas. Sebelumnya pasien belum pernah sakit seperti sekarang. Setelah
dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan nyeri menyebar sampai ke simpisis
pubis dan organ genitalia. Organ genitalia terasa gatal dan wajah pasien
menyeringai karena menahan nyeri dan terlihat gelisah. Volume dalam sekali
miksi hanya sekitar 50 75 cc. Hasil observasi tanda tanda vital didapatkan
14

suhu tubuh 38,50C, RR 20 x / menit, Nadi 94 x / menit dan Tekanan Darah


130 / 80 mmHg. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan WBC 14 / cmm
Creatinin 0,7 mg / dl, Albumin 4,86 g / dl, Kalium 3,78 mol / l, kolestrol 170
mg / dl. Riwayat penyakit yang pernah diderita adalah gastritis. Setelah
dilakukan serangkaian pemeriksaan dokter menyimpulkan pasien terdiagnosa
penyakit urethritis.
3.2 Pembahasan Ilustrasi Kasus

Pengkajian
Identitas pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Diagnosa medis
Penanggung Jawab

: Tn. X
: 48 tahun
: Laki laki.
: Urethritis.
: BPJS.

Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri saat miksi sejak 3 hari yang
lalu. Pengkajian nyeri adalah sebagai berikut :
Nyeri diakibatkan karena adanya invasi dari bakteri.
Nyeri dirasakan seperti tertusuk benda tajam.
Nyeri dirasakan di bagian genitalia sampai simpisis
pubis.
Skala nyeri 5.
Nyeri dirasakan terus menerus dan paling terasa
dirasakan saat akan miksi.

Riwayat penyakit sekarang


Pasien mengatakan nyeri saat miksi sejak 3 hari yang
lalu. Pada saat keluar urine juga disertai keluarnya pus. Organ
genitalia juga terasa gatal. Akhirnya pasien membawanya ke
rumah sakit dan terdiagnosa penyakit urethritis.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien dahulunya pernah menderita penyakit gastritis.

Riwayat allergic
Pasien tidak mempunyai riwayat allergic baik dari segi
makanan, obat dan kondisi cuaca.
15

Riwayat merokok dan alkohol


Pasien bukan perokok aktif dan tidak seorang
alkoholic.

Observasi pemeriksaan tanda tanda vital


Suhu tubuh 38,50C, RR 20 x / menit, Nadi 94 x / menit
dan Tekanan Darah 130 / 80 mmHg.

Pemeriksaan Fisik
Sistem Pernafasan tidak terdapat masalah.
Sistem Kardiovaskuler tidak terdapat masalah.
Sistem Persepsi Sensori tidak terdapat masalah.
Sistem perkemihan didapatkan nyeri saat miksi, saat
miksi keluar pus, organ genitalia terasa gatal, kesulitan
saat awal akan miksi da nyeri dirasakan menyebar
sampai ke genitalia dan simpisis pubis.
Sistem pencernaan tidak terdapat masalah.
Sistem muskuloskeletal tidak terdapat masalah.

Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan WBC 14 /
cmm Creatinin 0,7 mg / dl, Albumin 4,86 g / dl, Kalium 3,78
mol / l, kolestrol 170 mg / dl.

Analisa data

Data
Data subjektif
Pasien mengatakan nyeri saat
akan miksi.

Etiologi
Invasi bakteri

Masalah
Nyeri akut

Ketidakmampuan
pertahanan lokal

Data objektif
Nyeri diakibatkan karena
adanya invasi dari

bakteri.
Nyeri dirasakan seperti

tertusuk benda tajam.


Nyeri dirasakan di

terhadap infeksi
Penempelan bakteri
pada uretra
Reaksi infeksi dan
inflamasi lokal

16

bagian genitalia sampai

simpisis pubis.
Skala nyeri 5.
Nyeri dirasakan terus

pada uretra
Penghantaran
bradikinin,

menerus dan paling

serotonin dan

terasa dirasakan saat

enzim protease ke

akan miksi.
Wajah pasien

korteks nyeri oleh

menyeringai.

saraf assendence
Respon Nyeri saat
berkemih
Nyeri akut

Data
Data subjektif
Pasien mengatakan kesulitan
saat akan mulai saat
urinemiksi dan mengeluh
panas saat urine mulai keluar
Data objektif
Saat akan miksi harus
menunggu 5 7 menit

urine baru keluar.


Volume output urine 50

Etiologi
Invasi bakteri
Reaksi infeksi dan

Masalah
Gangguan
eliminasi urine

inflamasi lokal
Iritasi saluran
perkemihan
Disuria
Gangguan
eliminasi urine

75 cc dalam sekali
miksi.
Data
Data subjektif
Pasien mengatakan badannya
panas.

Etiologi
Invasi bakteri

Masalah
Hipertermia

Ketidakmampuan
pertahanan local

Data objektif
Suhu tubuh 38,50C.
Pasien tampak gelisah

terhadap infeksi
Penempelan bakteri
pada uretra

17

Adanya inflamasi
Respon ke
hipothalamus
Peningkatan suhu
tubuh
Hipertermia
Data
Data subjektif
Pasien mengatakan saat miksi

Etiologi
Invasi bakteri

Masalah
Resiko infeksi

Adanya respon

terasa panas dan keluar pus.

inflamasi pada
Data objektif
WBC 14 / cmm.
Creatinin 0,7 mg / dl.
Albumin 4,86 g / dl.
Kalium 3,78 mol / l.
Suhu tubuh 38,50C.

uretra
Ketidakmampuan
dalam proses
transmisi penyakit
Resiko tinggi
penularan penyakit
Resiko infeksi

Diagnosis Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran

kemih.
Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
Resiko infeksi berhubungan dengan supresi respons inflamasi.

Intervensi keperawatan

Diagnosis Keperawatan

Nursing Outcome

Nursing Intervention

Nyeri akut berhubungan

Classification
Classification
Setelah
dilakukan 1. Berikan posisi yang

dengan agen cidera

tindakan

biologis

selama

keperawatan

nyaman kepada

pasien.

24

jam

18

diharapkan

kondisi 2. Ajarkan tehnik

pasien sebagai berikut:


Tidak ada nyeri atau
nyeri berkurang saat

distraksi dan relaksasi


3. Kaji tingkat nyeri,
lokasi dan intensitas

berkemih.
Ekspresi wajah

nyeri.
4. Pantau pola berkemih

tenang.

secara berkala.
5. Kolaborasi dengan tim
medis yang lain untuk
pemberian analgesic.

Diagnosis Keperawatan

Nursing Outcome

Nursing Intervension

Gangguan eliminasi

Classification
Setelah
dilakukan

Classification
1. Awasi pemasukan dan

urine berhubungan

tindakan

dengan infeksi saluran

selama

kemih.

diharapkan

keperawatan
2

24

jam

kondisi

pasien sebagai berikut:


Klien dapat berkemih

secara lancar.
Klien tidak kesulitan

saat berkemih.
Pola eliminasi urine

pengeluaran
karakteristik urine.
2. Dorong peningkatan
pemasukan cairan.
3. Kolaborasi dengan
tim medis yang lain
untuk melakukan
pemeriksaan
laboratorium.

membaik dan tidak


terjadi gangguan
berkemih.
Diagnosis
Keperawatan
Hipertermia

Nursing Outcome

Classification
Classification
Setelah
dilakukan 1. Kaji timbulnya

berhubungan dengan tindakan keperawatan


penyakit.

Nursing Intervension

selama 1 x 24 jam
diharapkan

kondisi

pasien

sebagai

berikut:

demam.
2. Observasi tanda
tanda vital
terutama suhu
tubuh.
3. Anjurkan pasien

19

Suhu tubuh

normal.
Ekspresi wajah

minum.
4. Berikan kompres

tenang.
Mukosa uretra

hangat.
5. Kolaborasi dengan

tidak memerah.

tim medis yang

untuk banyak

lain untuk
pemberian
antipiretik.
Diagnosis

Nursing Outcome

Nursing Intervension

Keperawatan
Resiko infeksi

Classification
Classification
Setelah
dilakukan 1. Tingkatkan

berhubungan dengan

tindakan keperawatan

kebersihan yang

supresi respons

selama 3 x 24 jam

baik pada pasien,

inflamasi.

diharapkan

kondisi

keluarga dan

pasien

sebagai

tenaga kesehatan.
2. Dorong

berikut:
Tidak ada tanda

peningkatan

tanda infeksi.
Urine tidak

pemasukan cairan.
3. Berikan perawatan

bercampur darah

perineal.
4. Kolaborasi dengan

atau pus.
Urine berwarna

tim medis yang

jernih dan tidak

lain untuk

ada endapan.

pemberian
antibiotik.

20

BAB IV
PEMBAHASAN JURNAL PENYAKIT URETHRITIS
Jurnal yang diambil untuk mendukung makalah yang berjudul Penyakit
Urethritis ini adalah jurnal tentang Urethritis Gonorhea. Alasan untuk
mengambil jurnal penelitian ini dikarenakan salah satun klasifikasi dari penyakit
urethritis ini adalah urethritis gonorhea. Selain itu dari sekian banyak kasus
urethritis yang ditemukan, jenis urethritis gonorhea adalah jenis penyakit urethritis
yang paling banyak ditemukan.
Uretritis gonore adalah suatu penyakit menular seksual yang disebabkan
oleh kuman neisseria gonorrhoeae. Di Amerika Serikat diperkirakan dijumpai
600.000 kasus baru setiap tahunnya. Hal ini disebabkan banyak faktor penunjang
yang dapat mempermudah dalam hal penyebarannya menyangkut kemajuan
sarana transportasi, pengaruh geografi, pengaruh lingkungan, kurangnya fasilitas
pengobatan, kesalahan diagnosis, perubahan pola hidup, dan tak kalah penting
ialah penyalahgunaan obat. Kesemuanya ini dapat terjadi terutama karena latar
belakang kurangnya pengetahuan mengenai seluk beluk dari infeksi menular
seksual.
Gejala pharyngeal gonorrheae biasanya berupa nyeri tenggorokan, anal
gonorrheae dapat dirasakan lebih nyeri disertai sekret yang bernanah. Faktor
resiko antara lain adalah lajang, remaja, kemiskinan, terbukti menyalahgunakan
obat, prostitusi, penyakit menular seksual lain dan tidak adanya perawatan
perineal. Dengan bertambah banyaknya ragam antibiotik yang berhasil disintesis
akhir-akhir ini memperkuat dugaan sebelumnya bahwa uretritis gonore akan dapat
terberantas secara tuntas. Kenyataannya hal seperti ini tidak seluruhnya benar.
Tidak jarang penderita uretritis gonore tidak kunjung sembuh meskipun telah
minum sendiri antibiotik yang mahal sekalipun. Penderita lain dengan sakit yang
sama berobat ke dokter, kemudian sembuh.
Neiserria gonorrhoeae merupakan kuman kokus gram negatif, berukuran
0,6 sampai 1,5 m, berbentuk diplokokus seperti biji kopi dengan sisi yang datar
berhadap-hadapan. Kuman ini tidak motil dan tidak membentuk spora. Neisseria

21

gonorrheae dapat dibiakkan dalam media Thayer Martin dengan suhu optimal 35
37 C, pH 6,5-7,5, dengan kadar C02 5 %. Kellog membedakan Neisseria
gonorrhoea berdasarkan pertumbuhan koloninya pada media agar, yaitu :

T1 bentuk koloninya kecil, cembung dan lebih terang.


T2 bentuk koloninya kecil, lebih gelap, tetapi lebih terang.
T3 bentuk koloninya besar, datar dan lebih gelap.
T4 sama dengan T3 tetapi lebih terang.
Masa tunas gonore sangat singkat, pada waktu masa tunas sulit untuk

ditentukan karena pada umumnya bersifat asimtomatis. Umumnya penyulit akan


timbul jika uretritis tidak cepat diobati atau mendapat pengobatan yang kurang
adekuat. Di samping penyulit, uretritis gonore pada umumnya bersifat lokal
sehingga penjalarannya sangat erat dengan susunan anatomi dan faal alat kelamin.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Diagnosis pada laki laki jauh lebih mudah daripada wanita, baik secara klinis
maupun laboratorium, karena pada wanita seringkali asimtomatis.
Pada dasarnya pengobatan uretritis baru diberikan setelah diagnosa
ditegakkan. Fasilitas untuk menegakkan diagnosis penyebab uretritis secara pasti
pada suatu daerah kadang-kadang belum tersedia, sehingga diagnosis dengan
mengandalkan tanda-tanda klinis atau dengan pendekatan sindrom masih
dipandang sangat efektif. Obat-obat yang digunakan sebagai terapi uretritis
tergantung beberapa faktor seperti pola resistensi menurut area geografi maupun
sub populasi, obat-obatan yang tersedia, efektivitas yang dikaitkan dengan harga
obat dan bila kemungkinan ada concomitant.
Pada dasarnya pengobatan uretritis baru diberikan setelah diagnosis
ditegakkan. Antibiotik canggih dan mahal tanpa didasari diagnosis, dosis dan cara
pemakaian yang tepat tidak akan menjamin kesembuhan dan bahkan dapat
memberi dampak berbahaya dalam penggunaannya, misalnya resistensi kuman
penyebab. Pengobatan yang benar meliputi : pemilihan obat yang tepat serta dosis
yang adekuat untuk menghindari resistensi kuman. Melakukan tindak lanjut
secara teratur sampai penyakitnya dinyatakan sembuh. Sebelum penyakitnya

22

benar-benar sembuh dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual.


Pasangan seksual harus diperiksa dan diobati agar tidak terjadi fenomena ping
pong.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

23

Urehtritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang


menyebar naik yang digolongkan sebagai infeksi gonoreal dan
nongonoreal. Urethritis dapat dikategorikan menjadi urethritis akut,
urethritis kronis, urethritis gonococus dan urethritis non gonococus.
Secara umum penyebab penyakit urethritis adalah kuman gonorhea,
kuman non gonorhea, tindakan invasif di saluran kemih, iritasi batu ginjal,
trihomonas vaginalis dan golongan bakteri gram negative.
Tanda dan gejala dari penyakit urethritis adalah mukosa memerah
dan edema , terdapat cairan exudat yang purulent, ada ulserasi pada uretra ,
adanya rasa gatal yang menggelitik, adanya pus pada awal miksi, nyeri
pada saat miksi, kesulitan untuk memulai miksi dan nyeri pada abdomen
bagian bawah. Pengobatan yang dianjurkan pada penderita penyakit
urethritis adalah antibiotik. Jenis antibiotik yang sering digunakan
misalnya cefixime 400 mg oral, ceftriaxone 250 mg IM, ciprofloraxacin
500 mg oral, dan ofloxacin 400 mg oral.
Komplikasi yang dapat terjadi pada pria berupa prostatitis, vesikulitis,
epididimitis, dan striktur urethra. Sedangkan pada wanita komplikasi dapat
berupa Borthlinitis, praktitis, salpingitis, dan sistitits.
5.2 Saran

Semoga dengan selesainya makalah ini diharapkan agar para


pembaca khususnya mahasiswa dapat lebih mengetahui dan memahami
tentang Penyakit Urethritis beserta hal hal yang berkaitan dengan
penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Underwood. JCE. 1999. Patologi Umum dan Sistematik.
Jakarta : EGC
2. Siswantoro, Agus . 2012. Sistem Perkemihan Askep Urethritis. Jakarta :
Salemba Medika.
3. Thomson. 1997. Catatan Kuliah Patologi. Jakarta : EGC.
4. Budiono. 2009. Urethritis Non Gonococus. Jakarta : Salemba Medika.

24

25