Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN KASUS 2

Seorang anak perempuan berusia 3 minggu dengan ras Afrika-Amerika dirujuk ke klinik
untuk evaluasi dan mengobati kista pada gusinya. Anak ini lahir dengan persalinan
pervaginam. Dia tidak memiliki masalah medis lainnya. Ibu pasien melaporkan riwayat saat
kehamilan biasa-biasa saja, dan anak ini lahir dengan lesi di mulutnya. Menurut pendapat ibu
pasien , ukuran lesi berkurang selama 3 minggu ini.
Pada pemeriksaan intraoral ditemukan sebuah lesi bilobed sessile nodular dengan ukuran
kira-kira 1,5 cm dalam dimensi yang terbesar pada rahang atas kanan alveolar proses, di regio
yang tidak erupsi gigi caninus (Gambar 1). Permukaan lesi halus, warna merah muda dan
tidak ada perdarahan. Dari palpasi, tidak ditemukan rasa nyeri, tidak nyaman atau
limphadenophathy. Dari gambaran radiografi periapikal rahang atas tidak ditemukan adanya
kelainan. Dari klinis tampak kesan Cell Epulis (CE). Analisa urin untuk menilai
vanillymandelic acid (VMA) untuk menyingkirkan dugaan tumor neuroectodermal pada bayi
hasilnya negatif. Pemeriksaan darah lengkap dengan kimia klinik hasilnya dalam batas
normal.

Gambar 1. Lesi umur 3 minggu


Ibu pasien memilih tindakan non-surgical untuk penatalaksanaan lesi bila memungkinkan.
Pada konsultasi dengan ahli patologi oral dan maksiofasial diputuskan untuk melakukan
observasi setiap minggu selama sebulan, diikuti dengan setiap bulannya. Ibu pasien mengurus
semua janji untuk jadwal kontrol. Lebih dari 18 bulan follow up pasien, klinis lesi berkurang
menjadi < 2mm dan tetap lesi sessile (Gambar 2). Gigi primer erupsi di rahang atas tanpa
komplikasi. Pasien telah memenuhi semua tahap perkembangan sesuai usianya.

Gambar 2. Lesi umur 16 bulan


Diskusi :
Cell epulis (CE) biasanya didiagnosa saat lahir, meskipun bila lesi berukuran besar dapat
didiagnosa pada saat intrauterin dengan USG 3D dan MRI. Lesi memeiliki tempat predileksi
di rahang atas alveolar proses, lateral ke tengah di regio caninus primer dan lateral incisivus.
Epidemiologinya 9:1 untuk jenis kelamin perempuan.
Secara klinis, menunjukan seperti nodular sessile atau pendukulata massa dengan permukaan
halus dan warna merah muda. Biasanya pasien memiliki satu lesi, meskipun ada laporan
kasus dengan multipel lesi dan satu laporan kasus pasien dengan keterlibatan alveolar ridge
serta lidah. Lesi bisa cukup besar untuk membuat pasien sulit makan dan atau bisa
menyebabkan obstruksi jalan nafas. Diagnosa banding dari CE adalah hemangioma, fibroma,
rhabdomioma, rhabdomiosarkoma, lymphangioma, osteogenic dan chondrogenic sarcoms,
teratoma dan glanullar cell tumor.
Penatalaksanaan dari lesi ini adalah pembedahan eksisi dengan general anastesi atau lokal
anastesi dalam jam sampai hari setelah lahir. Ada satu lapran kasus tentang eksisi CE
menggunakan laser Karbon dioksida dengan general anastesi pada usia infant 2 hari dan hasil
lain yang dilaporkan menggunakan laser erbium, chromium: yttrium-scandium-galliumgarnet (Er,Cr: YSGG) untuk menghilangkan lesi CE. CE tidak diketahui kambuh setelah
pembedahan eksisi bahkan bila pengangkatan tidak komplit. Gigi pada tempat lesi biasanya
tetap tidak terpengaruh.
Lebih dari 200 kasus CE pada bayi baru lahir dilaporkan di literatur bahasa Inggris, ada 8
laporan kasus yang tercatat regresi spontan (Tabel 1). Ada rekomendasi di literatur yang

mengasumsikan tindakan non bedah untuk kasus CE yang tidak mengganggu jalan makan
dan pernapasan. Sedemikian kasus, pemantauan rutin regresi lesi telah diterima dan
dianjurkan sebagai pendekatan klinis. Pada penatalaksanaan infant pada lesi ini, resiko timbul
pada penggunaan general anastesi, maka harus dipertimbangkan dalam keputusan
pengonatan.
Pasien ini menunjukan lesi relatif kecil (1,5cm dalam dimensi terbesar) pada rahang atas
alveolar proses, yang tidak menyebabkan masalah saluran makanan dan pernapasan. Dengan
radiografi dan tes urin

Tabel 1. Kasus Konginetal Epulis dengan Terapi Konservatif


Kesimpulan :
Lesi CE yang kurang dari 2cm pada dimensi terbesar dan lesi yang tidak mengganggu
pernafasan dan jalan makanan, tindakan non surgical seharusnya menjadi pertimbangan.
Keuntungan untuk penatalaksanaan konservatif seperti kasus ini untuk menghindari paparan
general anastesi pada nenonatus untuk lesi yang diketahui jinak dan tidak akan kambuh lagi.
Penilaian klinis harus sudah dilakukan dalam menentukan kasus CE untuk memantau regresi
dan mana yang perlu dipertimbangkan untuk pembedahan eksisi.