Anda di halaman 1dari 12

PENERAPAN PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DISERTAI

RESITASI PADA MATERI KALOR:


STUDI KASUS DI SMA NEGERI 1 PONOROGO
Yulia Nurul Munfaati 1), Dwi Haryoto 2), dan Sutopo 3)
Universitas Negeri Malang
E-mail: yulianurul30@yahoo.com
1)

Mahasiswa Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang


Dosen Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang

2) & 3)

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk merancang pembelajaran inkuiri


terbimbing disertai resitasi pada materi kalor serta mengetahui penguasaan
konsep dan keterampilan proses sains siswa setelah pembelajaran. Respon siswa
terhadap pembelajaran juga digunakan sebagai salah satu indikator. Rancangan
penelitian menggunakan quasi experiment one group pretest posttest yang
dilengkapi dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembelajaran inkuiri terbimbing disertai resitasi dapat meningkatkan penguasaan
konsep dengan efek size dalam kategori tinggi yaitu 1.32 dengan N-gain dalam
kategori medium-atas, yaitu 0.49. Selain itu, juga dapat melatihkan keterampilan
proses sains siswa. Berdasarkan respon siswa terhadap pembelajaran, siswa
menjadi lebih mudah untuk memahami materi kalor.
Kata Kunci: inkuiri terbimbing, resitasi, kalor, keterampilan proses sains,
penguasaan konsep

Pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya memberikan pengalaman pada


siswa untuk secara aktif mengembangkan 4 unsur utama hakikat IPA, diantaranya
adalah sikap, proses, produk dan aplikasi (Yuliati, 1998:4). Pembelajaran IPA,
dalam hal ini dikhususkan untuk mata pelajaran fisika. Pembelajaran fisika yang
berpusat pada siswa dan menekankan pentingnya belajar aktif berarti mengubah
persepsi tentang guru yang selalu memberikan informasi dan menjadi sumber
pengetahuan bagi siswa (NRC, 1996:20).
Dalam pembelajaran fisika, keaktifan terletak pada dua segi, yaitu aktif
bertindak secara fisik atau hands-on dan aktif berpikir atau minds-on (NRC,
1996:20). Pembelajaran fisika yang baik adalah pembelajaran yang dilakukan
secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) dimana dalam pembelajaran tersebut
menekankan pemberian pengalaman belajar secara langsung dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir,
bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek
kecakapan hidup (Yuliati, 2008:6).

Inkuiri merupakan salah satu komponen pembelajaran yang sangat penting


dan sesuai untuk digunakan dalam reformasi pembelajaran sains masa kini
(Wenning, 2011). Pembelajaran inkuiri mempunyai lima tahapan dalam
pembelajarannya. Setiap tingkatan inkuiri berhubungan dengan intelektual dan
keterampilan proses sains. Setiap tingkatannya berhubungan dengan lima tahapan
kegiatan

yang

bepusat

pada

siswa,

yaitu

observation,

manipulation,

generalization, verification, and application (Wenning, 2011).


Salah satu pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan penguasaan
konsep adalah dengan menggunakan pendekatan resitasi. Menurut Arends
(2012:552), resitasi merupakan sebuah pendekatan untuk mengajar di mana guru
memberikan informasi, mengajukan

pertanyaan, mendapatkan siswa untuk

merespon, dan kemudian memberikan umpan balik dengan memuji atau


mengoreksi pemahaman siswa terhadap konsep tertentu. Diberbagai Universitas di
Amerika, salah satunya di Rutgers University resitasi dimaksudkan sebagai kuliah
pendalaman (Kohl, dkk, 2007). Sementara itu menurut Pollock (2009), resitasi
merupakan penambahan tutorial yang dilatihan oleh asisten dosen. Dengan adanya
resitasi, dapat memberikan kesempatan bagi senior untuk mengajar, memberikan
umpan balik, dan melakukan refleksi (Etkina, 2010). Hal ini juga didukung oleh
penelitian dengan pengambilan sampel sebanyak 330 mahasiswa di Lowa State
University yang dilakukan oleh Ogilvie (2009) dimana penelitian tersebut
menyatakan bahwa penggunaan resitasi dapat mengembangkan pemahaman
konseptual dari materi dan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
pada mahasiswa. Penerapan model pembelajaran guided inquiry disertai resitasi
diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, keterampilan proses
sains dan hasil belajar kognitif siswa. Karonsih (2013) melakukan sebuah
penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing (guided
inquiry) dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi hukum Ohm
Penelitian ini bertujuan untuk merancang pembelajaran inkuiri terbimbing
(guided inquiry) disertai resitasi pada materi kalor serta mengetahui penguasaan
konsep dan keterampilan proses sains siswa setelah pembelajaran.

METODE
Dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan model penelitian quasi
experiment yang dilengkapi dengan analisis kualitatif. Penelitian ini akan
diimplementasikan eksperimen dengan guided inquiry disertai resitasi yang
kemudian diamati dan dideskripsikan dampak pemberian treatment tersebut..
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian model
One Group Pretest Posttest (Sugiyono, 2011). Subjek penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas X MIA 8 SMAN 1 Ponorogo tahun pelajaran 2013/2014 yang
berjumlah 36 siswa. Dari jumlah tersebut, 13 siswa adalah laki-laki dan 23 siswa
merupakan siswa perempuan.
Karakteristik siswa pada penelitian ini adalah mereka yang memiliki
kemampuan kognitif , keaktifan, kerjasama dalam kelompok dan perilaku yang
baik. Hal tersebut didukung dengan informasi yang diperoleh dari guru, bahwa
kelas X MIA 8 termasuk kelas yang cukup aktif, memiliki tingkat pemahaman
yang baik dan memiliki rata-rata nilai kelas tertinggi dibandingkan kelas yang
lainnya. Melihat hal ini, maka karakteristik siswa tersebut akan dapat sangat
mendukung untuk diterapkannya pembelajaran inkuiri terbimbing disertai resitasi.
Hal lain yang mendukung adalah perolehan Nilai Ujian Nasional (NUN) pada saat
SMP rata-rata mencapai 37.1. Selain itu, juga didukung oleh pembelajaran inkuiri
pada mata pelajaran Kimia yang pernah diterapkan sebelumnya oleh guru pada
semester 1 walaupun tidak terlalu sering.
Di dalam penelitian dilakukan pengambilan data baik secara kuantitatif
maupun kualitatif. Data yang diperlukan adalah pelaksanaan pembelajaran, penguasaan konsep pengaruh kalor terhadap zat, keterampilan proses sains, dan
respon

siswa

terhadap

pembelajaran.

Data

penelitian

diambil

dengan

menggunakan beberapa instrumen, yaitu soal tes yang digunakan dalam pretest
dan posttest, instrumen pengamatan yang digunakan observer, lembar kerja siswa
(LKS) yang digunakan sebagai panduan praktikum, serta angket respon siswa
yang diisi oleh siswa di akhir pembelajaran. Teknik pengambilan data yang
digunakan pada penelitian ini adalah berupa tes, observasi, wawancara serta
sebaran LKS dan angket respon siswa. Pada teknik tes, dilakukan penyekoran
yang reliabilitasnya diukur dengan Cronbachs Alpha (Morgan, dkk, 2004) dan

korelasi butir soal terhadap skor total menggunakan f(x) Correl pada Microsoft
Excel.
Teknik analisis untuk data pelaksanaan pembelajaran, keterampilan proses
sains, dan respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan analisis deskriptif.
Data penguasaan konsep siswa pada materi pengaruh kalor terhadap zat yang
bersumber dari skor pretest dan posttest dianalisis menggunakan teknik t-test
dengan model paired sample t-test. Kekuatan peningkatan dari skor pretest ke
posttest diukur dengan Cohens d-effect size (Morgan, dkk, 2004) dan rata-rata
gain ternormalisasi (Hake, 1998).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada prinsipnya, urutan kegiatan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran
yang dimulai dari pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) kemudian
dilanjutkan dengan pendekatan resitasi. Setelah pelaksanaan pembelajaran,
kemudian diamati dampak dari treatment tersebut.
Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Pengaruh Kalor Terhadap Suhu
Penguasaan konsep siswa pada materi pengaruh kalor terhadap suhu
dilihat dari skor pretest dan posttest nya. Skor hasil pretest dan posttest ini
disajikan dalam bentuk grafik sebaran (scatter plot) seperti ditunjukkan pada
Gambar 2. Hasil perhitungan statistik deskriptif frekuensi menggunakan SPSS

Posttest

16.00 for Windows ditunjukkan oleh Tabel 1.


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
0

10

Satu Orang
Gambar 2.

20

30

Dua Orang

40

50

60

70

80

90

100

Pretest

Grafik Sebaran (Scatter Plot) Skor Prestest dan Posttest Siswa. Keterangan:
garis merah menunjukkan skor rata-rata baik pretest maupun posttest.

Tabel 1. Statistik Deskriptif Frekuensi


Statistik
N

Valid
Missing

Mean
Median
Std. Deviation
Skewness
Std. Error of Skewness
Minimum
Maximum
Percentiles

25
50
75

Pretest
36
0
47.62
48.22
16.79
.44
.39
25
94
37.50
50.00
56.25

Posttest
36
0
71.03
71.43
18.76
-.16
.39
31
100
56.25
68.75
81.25

Nilai Skewness pada pretest adalah .44 dan pada posttest adalah -.16. Nilai
tersebut berada di dalam interval |1.0| sehingga data dianggap terdistribusi normal
(Morgan, dkk, 2004). Data tersebut bisa diuji beda menggunakan t-test, tepatnya
paired sample t-test. Rata-rata skor pretest sebesar 47.62 (SD = 16.79), sedangkan
rata-rata skor posttest sebesar 71.03 (SD = 18.76). Berdasarkan hasil t-test, diperoleh nilai signifikansi skor pretest dan posttest sebesar 0.00. Nilai tersebut
dibawah 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan skor pretest dan
posttest adalah signifikan. Dengan kata lain, skor posttest lebih tinggi daripada
skor pretest. Ini berarti bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing disertai resitasi
dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi pengaruh kalor
terhadap zat.
Hasil perhitungan korelasi antara skor pretest dan posttest adalah r= 0.66,
p= 0.00. Hal ini dapat dipertegas pada Gambar 2. yang menunjukkan bahwa,
terdapat korelasi yang tinggi antara pretest-posttest yang dan hasilnya signifikan
(Morgan, dkk, 2004), jika skor pretest siswa rendah maka skor posttest siswa juga
akan rendah dan juga sebaliknya. Di pihak lain, tidak ada korelasi antara nilai
pretest dan N-gain seperti pada Gambar 3. Hasil perhitungan korelasi antara skor
pretest dan N-gain adalah r= 0.17, p= 0.31. Berdasarkan hasil perhitungan
korelasi antara skor pretest dan N-gain, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
inkuiri terbimbing (guided inquiry) disertai resitasi dapat bermanfaat untuk semua
siswa, baik kelompok siswa yang berkemampuan tinggi maupun kelompok siswa
yang berkemampuan rendah. Pernyataan tersebut juga diperkuat dengan adanya

siswa yang memiliki skor pretest rendah yaitu 39.29 tetapi memiliki N-gain tinggi
yaitu 0.88 yang hampir mendekati N-gain 1.00. Selain itu, juga terdapat siswa
yang memiliki skor pretest tinggi yaitu 92.86 dan memiliki N-gain tinggi yaitu

N-Gain

1.00.
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0.0
0

10

Satu Orang
Gambar 3.

20

30

Dua Orang

40

50

60

70

80

90

100

Pretest

Grafik Sebaran (Scatter Plot) Skor Prestest dan N-gain Siswa. Keterangan:
garis merah menunjukkan skor rata-rata baik pretest maupun posttest.

Kekuatan peningkatan pretest ke posttest diukur menggunakan nilai Cohens d-effect size dan rata-rata gain ternormalisasi. Berdasarkan perhitungan Cohens d-effect size, didapatkan hasil 1.32. Hasil perhitungan tersebut diinterpretasikan termasuk kategori lebih besar sekali dari standar. Peningkatan skor
melalui perhitungan rata-rata gain ternormalisasi (N-gain) diperoleh hasil 0.49.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata gain siswa termasuk kategori
medium-atas.
Berdasarkan Gambar 3, terdapat dua siswa yang memiliki nilai N-gain
0.00. Nilai N-gain 0.00 menunjukkan bahwa siswa tidak mengalami peningkatan
skor dari pretest ke posttest. Hal inilah yang mengakibatkan nilai N-gain belum
mencapai kategori tinggi. Secara umum penyebab N-gain kedua siswa tersebut
bernilai 0.00 dapat dilihat dari hasil wawancara peneliti pada pukul 10.30 tanggal
24 Maret 2014 dengan Lintang, seorang siswa yang mendapatkan nilai N-gain
0.00 menyatakan:
Pada saat diskusi kelompok, saya kurang bisa memahami materi bu,

karena didominasi oleh siswa-siswa yang pandai, diskusi pun cepat selesai,
praktis dan hasilnya pun juga baik karena memang dikerjakan oleh mereka
yang pandai. Tetapi akhirnya pada saat pretest dan posttest saya jadi tidak
bisa memahami dan tidak bisa mengerjakan beberapa soal yang

sebenarnya sudah dibahas dalam diskusi. (wawancara hasil olahan


peneliti)
Belum tercapainya nilai N-gain kategori tinggi juga disebabkan oleh
rendahnya persentase skor pretest dan posttest jawaban siswa pada soal nomor 11.
Persentase skor jawaban siswa dibandingkan dengan skor maksimumnya baik
pada pretest maupun posttest dapat dilihat pada Gambar 4. Skor soal pada nomor
11 tidak mengalami kenaikan skor, baik dari pretest ke posttest atau tetap yaitu

Persentase Skor (%)

sebesar 25%.
100
80
60
40

pretest

20

posttest

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Nomor Soal

Gambar 4. Grafik Peningkatan Persentase Skor Tiap Nomor dari Prestest ke Posttest

Persentase skor yang juga perlu diperhatikan adalah soal nomor 11. Pada
soal nomor 11 tersebut, persentase skor jawaban siswa sangat rendah bahkan tidak
mengalami kenaikan persentase dari pretest ke posttest yaitu 25 %. Di dalam
pelaksanaan diskusi pembelajaran, guru telah membahas hubungan antara kalor,
massa zat, kalor jenis, dan perubahan suhu. Bahkan dalam praktikum, siswa juga
dapat membuktikan zat yang memiliki kalor jenis tinggi (air) lebih lambat untuk
menaikkan suhunya daripada zat yang memiliki kalor jenis rendah (minyak).
Dalam hal ini, siswa kurang memahami hubungan antara kalor jenis dengan
perubahan suhu suatu benda dimana hubungan keduanya adalah berbanding
terbalik. Apabila kalor jenis suatu benda tinggi maka akan lambat untuk
menaikkan suhunya atau
persamaan

nya kecil dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan


dan lebih jauh apabila persamaan tersebut dituliskan

dalam bentuk lain menjadi

, dimana persamaan ini merupakan inti dari

soal nomor 11. Dalam kasus ini siswa yang kebanyakan menjawab pilihan (b),
hampir dapat dipastikan belum memahami persamaan diatas. Hal ini diperkuat

dengan hasil wawancara dengan beberapa siswa yang menjawab pilihan (b) pada
pukul 10.30 tanggal 24 Maret 2014, salah satunya yang bernama Cindy
menyatakan:
Pada saat melakukan prakikum, saya sudah paham bu. Ketika minyak
dipanaskan akan lebih cepat panas daripada air. Tetapi pada saat saya
mengerjakan soal, saya jadi bingung bu karena terjebak dengan persamaan
. Saya memandang kalor jenis suatu benda setara dengan
perubahan suhu pada ruas yang sama, yaitu pada ruas kanan. (wawancara
hasil olahan peneliti)
Dari hasil wawancara diatas, sudah terlihat bahwa siswa terjebak dalam
persamaan

. Padahal apabila persamaan tersebut diubah sedikit saja

menjadi persamaan

, maka siswa akan jauh lebih mudah untuk

memahami dan menjawab soal tersebut. Di lain pihak, pelaksanaan resitasi pada
materi pengaruh kalor terhadap zat ini kurang menekankan makna penting dari
kalor jenis. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar
tersebut belum memfasilitasi siswa dalam menguasai konsep-konsep seperti
nomor 11 ini.
Keterampilan Proses Sains
Pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) berpotensi melatihkan
keterampilan proses sains siswa. Pembelajaran inkuiri terbimbing menuntut
berkembangnya kemampuan berpikir ilmiah siswa tidak hanya dari sekedar hasil
tes akhir, tetapi lebih pada proses untuk mencapai hasil akhir tersebut.
Keterampilan proses sains yang dapat dilatihkan melalui pembelajaran inkuiri
terbimbing, yaitu merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, menganalisis data,
menafsirkan data berdasarkan grafik, merumuskan persamaan matematis
berdasarkan grafik, menilai kebenaran hipotesis yang diajukan di awal
pembelajaran, membuat kesimpulan, dan mengkomunikan hasil baik secara lisan
maupun tertulis.
Berdasarkan hasil analisis data, sebagian besar siswa mengakui keterampilan proses sainsnya dapat berkembang, baik sedikit maupun banyak. Sangat
sedikit siswa (rata-rata kurang dari 6%) yang menyatakan tidak mengalami perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan proses sains, dalam hal ini

terkait mempelajari materi pengaruh kalor terhadap suhu, bisa dilatihkan melalui
pembelajaran dengan inkuiri terbimbing.
Respon Siswa terhadap Pembelajaran
Sebagian besar siswa kelas X MIA 8 SMAN 1 Ponorogo menyukai mata
pelajaran fisika yaitu sebanyak 31 siswa (86.1%) dari 36 siswa. Sebanyak 23
siswa (63.8%) mengaku pernah belajar materi pengaruh kalor terhadap zat, 26
siswa (72.2%) mengaku kalau cara belajar yang bisaa digunakan sudah
membuatnya paham terhadap konsep pengaruh kalor terhadap zat dan 34 siswa
(94.4%) mengatakan kalau ia berusaha mencari cara lain ketika pembelajaran
yang digunakan tidak bisa membuatnya paham mengenai konsep pengaruh kalor
terhadap zat. Sebanyak 23 siswa (63.8%) mengaku belum pernah mendapatkan
pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) dan 35 siswa (97.2%) setuju jika
pembelajaran dengan melalui inkuiri terbimbing lebih menyenangkan. Sebanyak
33 siswa (91.6 %) menyatakan bahwa pembelajaran dengan inkuiri terbimbing
cocok untuk diterapkan dalam membelajarkan materi pengaruh kalor terhadap zat
dan 31 siswa (86.1 %) menganggap pembelajaran dengan melalui kegiatan diskusi
atau praktikum lebih menarik dibandingkan dengan pembelajaran yang
konvensional. Seluruh siswa menyatakan bahwa dengan adanya pendekatan
resitasi yang dilakukan di akhir pembelajaran, siswa lebih paham dengan materi.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan, diperoleh
kesimpulan penelitian, yaitu pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry)
dapat memfasilitasi dan mengajak siswa untuk dapat menemukan konsep secara
inkuiri. Pelaksanaan pembelajaran ini dilanjutkan dengan resitasi untuk
memperdalam atau mengaplikasikan konsep tentang pengaruh kalor terhadap zat.
Pembelajaran juga bisa meningkatkan penguasaan konsep siswa tentang materi
pengaruh kalor terhadap zat. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan pada skor ratarata siswa dari hasil pretest ke posttest yang berada pada rentang medium-atas.
Peningkatan penguasaan konsep tersebut dapat bermanfaat untuk semua siswa,

10

baik kelompok siswa yang berkemampuan tinggi maupun kelompok siswa yang
berkemampuan rendah.
Pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) bisa melatihkan banyak
keterampilan proses sains siswa, dalam penelitian ini ada 9 macam, meliputi
kemampuan mengajukan masalah, merumuskan hipotesis, mengolah data
(membuat grafik), menganalisis data (menginterpretasi grafik), merumuskan
persamaan matematis, membandingkan hasil analisis data dengan hipotesis yang
diajukan di awal, membuat kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil baik secara
lisan maupun tertulis. Respon siswa terhadap pembelajaran inkuiri terbimbing
(guided inquiry) disertai resitasi yang dilaksanakan antara lain siswa menjadi
lebih mudah untuk memahami, mengerti, dan menerima materi pengaruh kalor
terhadap zat.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat dikemukakan
beberapa saran sebagai berikut. Dengan tidak adanya alat muschenbroek di
SMAN 1 Ponorogo, maka hal ini bukan merupakan suatu halangan. Guru dapat
mengupayakan pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) disertai resitasi
untuk membelajarkan materi pemuaian zat padat sehingga siswa tetap dapat
memahami konsep pemuaian zat dengan baik.
Pada awalnya, guru menganggap semua siswa sudah mahir menggunakan
termometer karena guru sendiri mempunyai persepsi awal bahwa semua siswa
sudah mempelajari penggunaan termometer pada saat SMP. Tetapi, pada
kenyataannya masih banyak ditemukan siswa yang belum mahir menggunakan
termometer. Oleh karena itu, guru harus lebih memperhatikan secara detail dan
memastikan para siswa dapat menggunakan termometer dengan baik dan benar.
Pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) dapat meningkatkan
penguasaan konsep siswa seperti penelitian yang dilakukan oleh Karonsih (2013).
Akan tetapi, lebih baik apabila disertai pendekatan resitasi yang dapat
memperdalam dan mengaplikasikan konsep fisika, sebagai contoh untuk
memperdalam makna kalor jenis suatu benda.

11

DAFTAR RUJUKAN
Arends, I. 2012. Learning to Teach Ninth Edition. New York: The McGraw-Hill
Companies, Inc.
Etkina, E. 2010. Pedagogical Content Knowledge and Preparation of High School.
Physical Review Special Topics-Physics Educatation Research,6 (020110).
Hake, R. 1998. Interartive-Engagement versus Traditional Methods: A SixThousand-Student Survey of Mechanics Test Data for Introductory
Physics Courses. American Journal of Physisc. 66(1): 67-74.
Joyce, B. 2003. Models of Teaching Fifth Edition. New Jersey 07458, U.S.A.:
Prentice-Hall, Inc.
Karonsih, S. 2013. Studi tentang Penerapan Pembelajaran Berbasis Inkuiri
Terbimbing (Guided Inquiry) pada Materi Hukum Ohm di Kelas X SMA.
Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Kohl, P., Rosengrant, & D., Finkelstein, N. 2007. Strongly and Weakly Directed
Approaches to Teaching Multiple Representation Use in Physics. Physical
Review Special Topics-Physics Educatation Research, 3 (010108).
Morgan, G., Leech, N., Gloeckner, G., & Barret, K. 2004. SPSS for Introductory
Statistic: Use and Interpretation (Second Edition). New Jersey: Lawrence
Erlbaum Associates Inc.
National Research Council (NRC). 1996. National Science Educational Standard.
Washington DC: National Academy Press.
Nivalainen, V. 2012. Open Guided Inquiry Laboratory in Physics Teacher
Education. Journal Science Teacher Education, -(-): 5.
Ogilvie, C. 2009. Changes in Students Problem-Solving in A Course That
Includes Context-Rich, Multifacted Problems. Physical Review Special
Topics-Physics Educatation Research, 5,( 020102).
Pollock, S. 2009. Longitudinal Study of Student Conceptual Understanding in
Electricity and Magnetism. Physical Review Special Topics-Physics
Educatation Research, 5( 020110).
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Wenning, C. J. 2005. Levels of Inquiry Model of Science Teaching: Levels of
inquiry: Hierarchies of pedagogical practices and inqury processes.
Journal of Physics Teacher Education Online, (Online), 2(3): 3-11.

12

Wenning, C. J. 2011. Experimental Inquiry in Introductory Physics Courses.


Journal of Physics Teacher Education Online, (Online), 6(2): 9-16.
Yuliati, L. 2008. Model-model Pembelajaran Fisika. Malang: FMIPA Universitas
Negeri Malang