Anda di halaman 1dari 26

teori ketergantungan — sebagai antitesis teori modernisasi — menekankan pada aspek

keterbelakangan sebagai produk dari pola hubungan ketergantungan. Kedua kubu tersebut
mendominasi 'proyek besar' pembangunan hingga akhir tahun 1980-an, ketika studi
pembangunan mencapai ‘jalan buntu’. Kedua kubu teoretis tersebut dianggap gagal. Di satu sisi,
realitas yang ada di negara-negara dunia ketiga sebagai obyek pembangunan tetap ditandai oleh
berbagai indikator keterbelakangan, di sisi lain muncul fenomena negara-negara industri baru
sebagai kisah sukses.

Kebuntuan dalam studi pembangunan ini mendorong perkembangan kritik terhadap teori-teori
pembangunan yang dominan. Kritik terhadap teori-teori pembangunan ini bukan hanya
menekankan pada kritik terhadap strategi-strategi pembangunanyang dominan, tetapi juga
terhadap studi pembangunan dan bahkan konsep pembangunan itu sendiri. Dalam artian yang
terakhir, teori pembangunan telah bergeser dari teori tentang kebijakan ke arah wacana tentang
pembangunan (Apter, 1998).

Teori ketergantungan.

Teori ini pada mulanya adalah teori struktural yang menelaah jawaban yang diberikan oleh teori
modernisasi.
Teori struktural berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi di negara dunia ketiga yang
mengkhusukan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur pertanian adalah akibat
dari struktur perekonomian dunia yang eksploitatif dimana yang kuat mengeksploitasi yang
lemah.

Teori ini berpangkal pada filsafat materialisme yang dikembangkan Karl Marx. Salah satu
kelompok teori yang tergolong teori struktiral ini adalah teori ketergantungan yang lahir dari 2
induk, yakni seorang ahli pemikiran liberal Raul Prebiesch dan teori-teori Marx tentang
imperialisme dan kolonialisme serta seorang pemikir marxis yang merevisi pandangan marxis
tentang cara produksi Asia yaitu, Paul Baran.

1.Raul Prebisch : industri substitusi import. Menurutnya negara-negara terbelakang harus


melakukan industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor.
2.Perdebatan tentang imperialisme dan kolonialisme. Hal ini muncul untuk menjawab pertanyaan
tentang alasan apa bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi dan menguasai negara-negara lain
secara politisi dan ekonomis. Ada tiga teori:

a.Teori God:adanya misi menyebarkan agama.

b.Teori Glory:kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.

c.Teori Gospel:motivasi demi keuntungan ekonomi.

3.Paul Baran: sentuhan yang mematikan dan kretinisme. Baginya perkembangan kapitalisme di
negara-negara pinggiran beda dengan kapitalisme di negara-negara pusat. Di negara pinggiran,
system kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme yang membuat orang tetap kerdil.
Ada 2 tokoh yang membahas dan menjabarkan pemikirannya sebagai kelanjutan dari tokoh-
tokoh di atas, yakni:

1.Andre Guner Frank : pembangunan keterbelakangan. Bagi Frank keterbelakangan hanya dapat
diatasi dengan revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis.
2.Theotonia De Santos : Membantah Frank. Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni :
a.Ketergantungan Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifat
eksploitatif.
b.Ketergantungan Finansial- Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam
bentuk kekuasaan financial-industri.

c.Ketergantungan Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melalui


monopoli teknologi industri.

Ada 6 inti pembahasan teori ketergantungan:

1.Pendekatan keseluruhan melalui pendekatan kasus.

Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan pada
sisitem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana negara pinggiran
hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia menjadi
perhatian pendekatan ini.

2.Pakar eksternal melawan internal.

Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini,
ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos.
Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang mempengaruhi/ menyebabkan
ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto.

3.Analisis ekonomi melawan analisi sosiopolitik

Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang
ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai
disiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori ketergantungan
dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana
analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi dan interdisipliner analisis
sosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara
pinggiran.

4. Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan
negara-negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi
regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis klas,
seperti Cardoso.

5.Keterbelakangan melawan pembangunan. Teori ketergantungan sering disamakan dengan teori


tentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori
ketergantungan yang lain seperti Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan
dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan
keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan.

6.Voluntarisme melawan determinisme Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah


sebagai suatu yang deterministic. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme
ke kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian
mengubahnya melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat
berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalah
keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam
hal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik. [C 2002)
Teori dependensi merupakan analisis tandingan terhadap teori modernisasi. Teori ini didasari
fakta lambatnya pembangunan dan adanya ketergantungan dari negara dunia ketiga, khususnya
di Amerika Latin. Teori dependensi memiliki saran yang radikal, karena teori ini berada dalam
paradigma neo-Marxis. Sikap radikal ini analog dengan perkiraan Marx tentang akan adanya
pemberontakan kaum buruh terhadap kaum majikan dalam industri yang bersistem kapitalisme.
Analisis Marxis terhadap teori dependensi ini secara umum tampak hanya mengangkat
analisanya dari permasalahan tataran individual majikan-buruh ke tingkat antar negara. Sehingga
negara pusat dapat dianggap kelas majikan, dan negara dunia ketiga sebagai buruhnya.
Sebagaimana buruh, ia juga menyarankan, negara pinggiran mestinya menuntut hubungan yang
seimbang dengan negara maju yang selama ini telah memperoleh surplus lebih banyak (konsep
sosialisme). Analisis Neo-Marxis yang digunakannya memiliki sudut pandang dari negara
pinggiran.

Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakat


namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaan
akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh
yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan
perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat
tanpa kelas.

Pendekatan Historis Struktural

Perspektif dependensi muncul setelah perspektif modernisasi diterapkan di banyak negara


terbelakang. Pengamatan yang dilakukan oleh ahli sejarah telah memberikan gambaran serta
dukungan bukti empirik terhadap kegagalan modernisasi. Sebagai sebuah kritik, dependensi
harus dapat menguraikan kelemahan-kelemahan dari modernisasi dan mengeluarkan pendapat
baru yang mampu menutup kelemahan tersebut.

Penggunaan metode hidtoris struktural telah memberikan bukti empirik yang sangat
cukup untuk memberikan kritik terhadap modernisasi. Sebagai sebuah proses perubahan sosial
yang memakan waktu sangat lama, pembangunan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan
suatu negara. Oleh karena itu tidak salah apabila Frank menyatakan bahwa perkembangan
ekonomi negara saat ini tidak lepas dari begaimana keadaan sejarah ekonomi, politik dan
sosialnya di masa lalu.

Asumsi serta Tesis dari Frank dan Santos

Asumsi dasar teori ketergantungan ini menganggap ketergantungan sebagai gejala yang
sangat umum ditemui pada negara-negara dunia ketiga, disebabkan faktor eksternal, lebih
sebagai masalah ekonomi dan polarisasi regional ekonomi global (Barat dan Non Barat, atau
industri dan negara ketiga), dan kondisi ketergantungan adalah anti pembangunan atau tak akan
pernah melahirkan pembangunan. Terbelakang adalah label untuk negara dengan kondisi
teknologi dan ekonomi yang rendah diukur dari sistem kapitalis.

Terdapat beberapa asumsi dasar dalam perspektif dependensi yang disampaikan oleh
beberapa ahli. Frank menyatakan bahwa pemahaman terhadap sejarah ekonomi, sosial dan
politik menjadi suatu hal yang penting dalam menentukan kebijakan pembangunan pada suatu
negara. Karakteristik suatu negara yang khas dapat dikaji dari perspektif historis. Pendekatan
pembangunan yang dilakukan oleh negara terbelakang saat ini sebenarnya merupakan hasil
pengalaman sejarah negara maju yang kapitalis seperti negara-negara Eropa dan Amerika Utara.
Terdapat perbedaan sejarah yang sangat mendasar antara negara maju dan negara bekas koloni
atau daerah jajahan sehingga menyebabkan struktur sosial masyarakatnya berbeda. Frank juga
menganggap adanya kegagalan penelitian sejarah dalam menganalisis hubungan ekonomi yang
terjadi antara negara penjajah dan negara jajahannya selama masa perdagangan dan
imperialisme. Pembangunan ekonomi merupakan sebuah perjalanan menuju sistem ekonomi
kapitalisme yang terdiri dari beberapa tahap. Saat ini negara terbelakang masih berada pada awal
tahapan tersebut.

Frank menyajikan lima tesis tentang dependensi, yaitu :

1. Terdapat kesenjangan pembangunan antara negara pusat dan satelitnya, pembangunan pada
negara satelit dibatasi oleh status negara satelit tersebut.

2. Kemampuan negara satelit dalam pembangunan ekonomi terutama pembangunan industri


kapitalis meningkat pada saat ikatan terhadap negara pusat sedang melemah. Pendapat ini
merupakan antitesis dari modernisasi yang menyatakan bahwa kemajuan negara dunia ketiga
hanya dapat dilakukan dengan hubungan dan difusi dengan negara maju. Tesis ini dapat
dijelaskan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu “isolasi temporer” yang disebabkan oleh
krisis perang atau melemahnya ekonomi dan politik negara pusat. Frank megajukan bukti
empirik untuk mendukung tesisnya ini yaitu pada saat Spanyol mengalami kemunduran ekonomi
pada abad 17, perang Napoleon, perang dunia pertama, kemunduran ekonomi pada tahun 1930
dan perang dunia kedua telah menyebabkan pembangunan industri yang pesat di Argentina,
Meksiko, Brasil dan Chili. Pengertian isolasi yang kedua adalah isolasi secara geografis dan
ekonomi yang menyebabkan ikatan antara “pusat-satelit” menjadi melemah dan kurang dapat
menyatukan diri pada sistem perdagangan dan ekonomi kapitalis.

3. Negara yang terbelakang dan terlihat feodal saat ini merupakan negara yang memiliki
kedekatan ikatan dengan negara pusat pada masa lalu. Frank menjelaskan bahwa pada negara
satelit yang memiliki hubungan sangat erat telah menjadi “sapi perah” bagi negara pusat. Negara
satelit tersebut hanya sebatas sebagai penghasil produk primer yang sangat dibutuhkan sebagai
modal dalam sebuah industri kapitalis di negara pusat.

4. Kemunculan perkebunan besar di negara satelit sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan
peningkatan keuntungan ekonomi negara pusat. Perkebunan yang dirintis oleh negara pusat ini
menjadi cikal bakal munculnya industri kapitalis yang sangat besar yang berdampak pada
eksploitasi lahan, sumberdaya alam dan tenaga kerja negara satelit.

5. Eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyebabkan menurunnya kemampuan


berproduksi pertanian di negara satelit. Ciri pertanian subsisten pada negara terbelakang menjadi
hilang dan diganti menjadi pertanian yang kapitalis.

Pendapat yang disampaikan Frank sangat kental dengan nuansa pemikiran Marx tentang
kapitalisme dan eksploitasi. Frank memperkuat semua pendapatnya dengan menggunakan bukti-
bukti empirik dan menggunakan metode historis struktural. Bukti empirik yang dikumpulkan
Frank merupakan hasil penelitian sejarah perkembangan sosial dan ekonomi negara-negara
Amerika Latin.

Santos mengamsusikan bahwa bentuk dasar ekonomi dunia memiliki aturan-aturan


perkembangannya sendiri, tipe hubungan ekonomi yang dominan di negara pusat adalah
kapitalisme sehingga menyebabkan timbulnya saha melakukan ekspansi keluar dan tipe
hubungan ekonomi pada negara periferi merupakan bentuk ketergantungan yang dihasilkan oleh
ekspansi kapitalisme oleh negara pusat. Santos menjelaskan bagaimana timbulnya kapitalisme
yang dapat menguasai sistem ekonomi dunia. Keterbatasan sumber daya pada negara maju
mendorong mereka untuk melakukan ekspansi besar-besaran pada negara miskin. Pola yang
dilakukan memberikan dampak negatif berupa adanya ketergantungan yang dialami oleh negara
miskin. Negara miskin akan selalu menjadi negara yang terbelakang dalam pembangunan karena
tidak dapat mandiri serta selalu tergantung dengan negara maju. Negara maju identik menjadi
negara pusat, sedangkan negara miskin menjadi satelitnya. Konsep ini lebih dikenal dengan
istilah “pusat - periferi”.

Tesis yang diajukan oleh santos adalah pembagian ketergantungan menjadi tiga jenis yaitu
ketergantungan kolonial, ketergantungan industri keuangan dan ketergantungan teknologi
industri. Ketergantungan kolonial merupakan bentuk ketergantungan yang dialami oleh negara
jajahan. Ketergantungan kolonial merupakan bentuk ketergantungan yang paling awal dan
hingga kini telah dihapuskan. Pada ketergantungan kolonial, negara dominan, yang bekerja sama
dengan elit negara tergantung, memonopoli pemilikan tanah, pertambangan, tenaga kerja, serta
ekspor barang galian dan hasil bumi dari negara jajahan.

Sementara itu, jenis ketergantungan industri keuangan yang lahir pada akhir abad 19, maka
ekonomi negara tergantung lebih terpusat pada ekspor bahan mentah dan produk pertanian.
Ekspor bahan mentah menyebabkan terkurasnya sumber daya negara, sementara nilai tambah
yang diperoleh kecil. Sumbangan pemikiran Santos terhadap teori dependensi sebenarnya berada
pada bentuk ketergantungan teknologi industri. Dampak dari ketergantungan ini terhadap dunia
ketiga adalah ketimpangan pembangunan, ketimpangan kekayaan, eksploitasi tenaga kerja, serta
terbatasnya perkembangan pasar domestik negara dunia ketiga itu sendiri.

Sumbangan Cardoso, Galtung, Frank dan Roxbourgh

Roxborough sebagai tokoh dependensi, menjelaskan bahwa pengaruh kapitalisme


terhadap perubahan struktur sosial pedesaan akan lebih baik bila menggunakan analisa kelas.
Eksistensi kapitalisme sangat terkait dengan peran kelas. Penjelasan Lenin tentang dua jalur
penetrasi kapitalisme tersebut memberi hasil yang hampir sama, yaitu diferensiasi yang menjurus
ke arah polarisasi pemilikan lahan dan ekonomi.

Struktur ketergantungan secara bertingkat mulai dari negara pusat sampai periferi
disampaikan oleh Galtung. Imprealisme ditandai satu jalur kuat antara pusat di pusat dengan
pusat di periferi (CC-CP). Ditambahkan Frank, bahwa daerah desa yang terbelakang akan
menjadi penghalang untuk maju bagi negara bersangkutan. Struktur kapitalisme juga dapat
dikaitkan dengan Cardoso tentang dependensi ekonomi. Ketergantungan ekonomi terjadi melalui
perbedaan produk dan kebijakan hutang yang menyebabkan eksploitasi finansial.

Imperialisme dan Ketergantungan

Modernisasi yang disampaikan oleh negara dunia pertama tak ubahnya seperti
imperialisme yang mereka lakukan pada waktu lampau. Menurut Roxborough, teori imprealisme
memberikan perhatian utama pada ekspansi dan dominasi kekuatan imperealis. Imperealis yang
ada pada abad 20 pertama-tama melakukan ekspansi cara produksi kapitalis ke dalam cara
produksi kapitalis. Tujuan ekspansi tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk
meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan
bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-
cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi.
eori Dependensi

1. Sejarah Perkembangan Teori Dependensi.

Pendekatan teori dependensi pertama kali muncul di Amerika Latin. Pada awal kelahirannya,
teori ini lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang telah dijalankan oleh Komisi
Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin. (United Nation Economic
Commission for Latin Amerika)ECLA?KEPBBAL) pada masa awal tahun 1960-an. Pada tahun
1950-an banyak pemerintahan di Amerika Latin, yang dikenal cukup “populis”, mencoba untuk
menerapkan strategi pembangunan dari KEPBBAL yang menitik beratkan pada proses
industrialisasi melalui program industrialisasi subsitusi impor (ISI). Dari padanya diharapkan
akan memberikan keberhasilanyang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus
pemerataan hasil pembangunan, peningkatan kesejahtaraan rakyat, dan pada akhirnya akan
memberikan suasana yang mendorong pembangunan politik yang lebih demokratis. Yang terjadi
adalah sebaliknya, ekspansi ekonomi amat singkat, dan segera berubah menjadi stagnasi
ekonomi.

Disamping itu, lahirnya teori dependensi ini juga dipengaruhi dan merupakan jawaban atas krisis
teori Marxis ortodoks di Amerika Latin. Menurut pandangan Marxis ortodoks, Amerika Latin
harus mempunyai tahapan revolusi industri “borjuis” sebelum melampaui revolusi sosialis
proletar. Namun demikian Revolusi Repuplik Rakyat Cina (RRC) tahun 1949 dan revolusi Kuba
pada akhir tahun 1950-an mengajarkan pada kaum cendikiawan, bahwa negara dunia ketiga tidak
harus mengikuti tahapan-tahapan perkembangan tersebut. Tertarik pada model pembanguan
RRC dan Kuba, banyak intelektual radikal di Amerika Latin berpendapat, bahwa negara-negara
Amerika Latin dapat saja langsung menuju dan berada pada tahapan revolusi sosialis.

2. Asumsi dasar teori dependensi klasik.

v Keadaan ketergantungan dilihat dari satu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruh
negara dunia ketiga. Teori dependensi berusaha menggambarkan watak-watak umum
keadaan ketergantungan di Dunia Ketiga sepanjang perkembangan kapitalisme dari
Abad ke-16 sampai sekarang.
v Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh “faktor luar”, sebab
terpenting yang menghambat pembangunan karenanya tidak terletak pada persoalan
kekurangan modal atau kekurangan tenaga dan semangat wiraswasta, melainkan terletak
pada diluar jangkauan politik ekonomi dalam negeri suatu negara. Warisan sejarah
kolonial dan pembagian kerja internasional yang timpang bertanggung jawab terhadap
kemandekan pembangunan negara Dunia Ketiga.

v Permasalahan ketergantungan lebih dilihatnya sebagai masalah ekonomi, yang terjadi


akibat mengalir surplus ekonomi dari negara Dunia Ketiga ke negara maju. Ini
diperburuk lagi kerena negara Dunia Ketiga mengalami kemerosotan nilai tukar
perdagangan relatifnya.

v Situasi ketergantungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses polarisasi
regional ekonomi global. Disatu pihak, mengalirnya surplus ekonomi dari Dunia Ketiga
menyebabkan keterbalakangannya, satu faktor yang mendorong lajunya pembangunan
dinegara maju.

v Keadaan ketergantungan dilihatnya sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang
dengan pembangunan. Bagi teori dependensi, pembangunan di negara pinggiran
mustahil terlaksana. Sekalipun sedikit perkembangan dapat saja terjadi dinegara
pinggiran ketika misalnya sedang terjadi depresi ekonomi dunia atau perang dunia. Teori
dependensi berkeyakinan bahwa pembangunan yang otonom dan berkelanjutan hampir
dapat dikatakan tidak mungkin dalam situasi yang terus menerus terjadi pemindahan
surplus ekonomi ke negara maju.

3. Warisan pemikiran

a. KEPBBAL

Proses perumusan kerangka teori dari perspektif dependensi, yang pada mulanya merupakan
paradigma pembangunan yang khas di Amerika Latin, berkaitan erat dengan KEPBBAL.
Dengan apa yang dikenal sebagai “Manifesto KEPBBAL”, Prebisch ketua KEPBBAL,
memberikan kritik tentang keusangan konsep pembagian kerja internasional (international
division of labour/IDL). Menurut skema IDL, Amerika Latin akan memperoleh banyak
keuntungan apabila di satu pihak, ia lebih memfokuskan pada upaya memproduksi bahan
pangan dan bahan mentah yang diperlukan oleh negara-negara industri. Dilain pihak, negara-
negara industrri tersebut menyediakan keperluan barang-barang industri yang dibutuhkan
Amerika Latin (tentu juga kebutuhan barang industri negara pinggiran yang lain). Pada garis
besarnya, Prebisch mengajukan gagasan dasar bahwa pembagian kerja internasional yang
hanya menguntungkan negara industri harus dihentikan, dan Amerika Latin harus melakukan
pembangunan industri untuk menjamin kebutuhan dalam negeri, disamping tetap
memperhatikan dan menjaga, paling tidak untuk sementara, kemampuan ekspor bahan
pangan dan bahan mentahnya.

Proses industrialisasi hendaknya dipercepat dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barang-
barang dalam negeri untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali beban
penyediaan devisa negara yang selama ini diperlukan untuk membayar impor barang-barang
tersebut. Pada permulaannya, indusrei dala negeri harus dilindungi dan persaingan bebas
barang-barang luar negeri dengan penetapan tarif barang impor yang tinggi dengan cara
lainnya, tetapi jika kemampuannya bersaing telah meningkat dan dianggap sepadan, industri
dalam negeri harus mampu bersaing tanpa adanya proteksi.

Sejak awal garis kebijaksanaan KEPPBBAL ini diterima dengan tidak antusias oleh
Pemerintah Amerika Latin. Keengganan ini merupakan salah satu sebab mengapa
KEPBBAL tidak mampu merealisasikan beberapa gagasan lainnya yang lebih radikal,
diantaranya termasuk program pembagian tanah. Sayang program KEPBBAL ini tidak
berhasil. Stagnasi ekonomi dan represi politik muncul dipermukaan pada tahun 1960-an.
Dalam hal ini ditunjuk dan dijelaskan berbagai kelemahan dan kebijaksanaan industralisasi
subsitusi impor (ISI) yang dijalankan oleh Amerika Latin. Daya beli masyarakat terbatas
pada kelas sosial tertentu, pada pasar domestik ternyata tidak menunjukkan gejala ekspansi
setelah kebutuhan barang dalam negeri tersedia. Ketergantungan terhadap impor hanya
sekedar beralih dari barang-barang konsumsi ke barang-barang modal. Barang-barang ekspor
konvensional tidak terperhatikan dalam suasana hiruk pikuk industrialisasi. Akibatnya adalah
timbulnya masalah-masalah yang akut pada neraca pembayaran, yang muncul hampir
bersamaan waktunya, disatu negara diikuti segera oleh negar yang lain. Optimisme
pertumbuhan berganti depresi yang mendalam.

b. Neo-Marxisme

Teori dependensi juga memiliki warisan pemikiran dari neo-marxisme. Keberhasilan


Revolusi RRC dan Kuba telah membantu tersebarnya perpaduan baru pemikiran-pemikiran
Marxisme di universitas-universitas di Amerika Latin, yang kemudian menyebabkan lahirnya
generasi baru, yang dengan lantang menyebut dirinya sendi dengan “Neo-Marxists”. Menutur
Foster-Carter, neo-marxisme berbeda dengan Marxis ortodoks dalam beberapa hal sebagai
berikut:

Ø Marxis ortodoks melihat imperialisme dari sudut pandang negara-negara utama (core
countries), sebagai tahapan lebih lanjut dari perkembangan kapitalisme di Eropa Barat,
yakni kapitalisme monopolistic, neo-marxisme melihat imperialisme dari sudut pandang
negara pinggiran, dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperilalisme pada
negara-negar dunia ketiga.

Ø Marxis ortodoks cenderung berpendapat tentang tetap perlu berlakunya pelaksanaan dua
tahapan revolusi. Revolusi borjuis harus terjadi lebih dahulu sebelum revolusi sosialis.
Marxis ortodoks percaya bahwa borjuis progresif akan terus melaksanakan revolusi
borjuis yang tengah sedang berlangsung dinegara Dunia Ketiga dan hal ini merupakan
kondisi awal yang diperlukan untuk terciptanya revolusi sosialis dikemudian hari. Dalam
hal ini neo Marxisme percaya, bahwa negara Dunia Ketiga telah matang untuk
melakukan revolusi sosialis.

Terakhir, jika revolusi soaialis terjadi, Marxisme ortodoks lebih suka pada pilihan
percaya, bahwa revolusi itu dilakukan oleh kaum proletar industri di perkotaan. Dipihak lain,
neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba. Ia berharap banyak pada
kekuatan revolusioner dari para petani di pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat.
4. Implikasi kebijiaksanaan teori dependensi klasik

Secara filosofis, teori dependensi menghendaki untuk meninjau kembali pengertian


“pembangunan”. Pembangunan tidak harus dan tidak tepat untuk diartikan sebagai sekedar
proses industrialisasi, peningkatan keluaran (output), dan peningkatan produktivitas. Bagi
teori dependensi, pembangunan lebih tepat diartikan sebagai peningkatan standar hidup bagi
setiap penduduk dinegara Dunia Ketiga. Dengan kata lain, pembangunan tidak sekedar
pelaksanaan program yang melayani kepentingan elite dan penduduk perkotaan, tetapi lebih
merupakan program yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk
pedesaan, para pencari kerja, dan sebagian besar kelas sosial lain yang dalam posisi
memerlukan bantuan. Setiap program pembangunan yang hanya menguntungkan sebagian
kecil masyarakat dan membebani mayoritas masyarakat tidaklah dapat dikatakan sebagai
program pembangunan sebenarnya.

5. Perbandingan teori modernisasi dengan teori dependensi

Kedua teori ini berbeda dalam memberikan jalan keluar persoalan keterbalakangan negara
Dunia Ketiga. Teori modernisasi menganjurkan untuk lebih memperat keterkaitan negara
berkembang dengan negara maju melalui bantuan modal, peralihan teknologi, pertukaran
budaya dan lain sebagainya. Dalam hal ini, teori dependensi memberikan anjuran yang sama
sekali berbeda, yakni berupaya secara terus menerus untuk mengurangi keterkaitannya
negara pinggiran dengan negara sentral, sehingga memungkinkan tercapainya pembangunan
yang dinamis dan otonom, sekalipun proses dan pencapaian tujuan ini mungkin memerlukan
revolusi sosialis.

Elemen perbandingan Teori modernisasi klasik Teori dependensi klasik


1.Persamaan fokus · Pembangunan dunia ketiga. o Sama.
perhatian (keprihatinan).
2.Metode. · Sangat abstrak. o Sama.

· Perumusan model-model. o Sama.


3.Dwi-kutub · Tradisional dan modern. o Sentral (metropolis).
· (maju).
struktur ekonomi. o Pinggiran (satelit).
4.Perbedaan · Teori evolusi. o Program KEPBBAL.

warisan teoritis. · Teori fungsionalisme. o Marxis ortodoks.


5.Hubungan internasional. · Saling menguntungkan. o Merugikan negara dunia
ketiga.
6.Masa depan · Optimis. o Pesimis.

dunia ketiga.
7.Kebijaksanaan · Lebih mendekatkan o Mengurangi keterkaitan
pembangunan keterkaitan negara maju. dengan negara sentral
revolusi sosialis.
(pemecahan masalah).

6. Hasil kajian teori dependensi klasik.

a. Tenaga teori depandensi klasik

Ketergantungan dan keterbelakangan Indonesia mencerminkan kerakteristik yang khas teori


dependensi dalam usahanya menguji persoalan pembangunan Dunia Ketiga. Dari padanya
diharapkan dapat dilihat secara lebih jelas dan karena itu dapat dicari kekuatan teori
dependensi dalam mengarahkan pola pikir peneliti, para perencana kebijaksanaan, dan
pengambil keputusan untuk mengikuti tesis-tesis yang diajukan. Dalam hal ini teori
dependensi dibanding dengan dua pendekatan pokok yang lain. Namun lebih ditujukan untuk
menggali sejauh mana tenaga yang dimiliki teori dependensi dalam mempengaruhi peta
pemikiran persoalan pembangunan.

Nampaknya ketiga hasil kajian tersebut memiliki asumsi yang sama, yakni ketergantungan
pembangunan yang terjagi di negara-negara tersebut disebabkan oleh faktor luar, yang tidak
berada didalam jangkauan pengendaliannya, yang pada akhirnya posisi ketergantungan ini
akan membawa akibat jauh berupa keterbelakangan pembangunan ekonomi.

b. Ketergantungan dan faktor luar.


Tenaga inti yang dimiliki oleh teori dependensi klasik dapat diketahui dari kemampuannya
untuk mengarahkan peneliti dan pengambil keputusan untuk menguji sejauh mana dominasi
asing telah secara signifikan mempengaruhi roda pembangunan nasional.

c. Ketergantungan ekonomi.

Dengan merumuskan ketergantungan sebagai akibat dari adanya ketimpangan nilai tukar
barang dalam transaksi ekonomi, teori dependensi telah mampu mengarahkan para
pengikutnya untuk lebih memperhatikan dimensi ekonomi dari situasi ketergantungan.
Dalam hal ini, sekalipun teori dependensi sama sekali tidak mengesampingkan dimensi
politik dan budaya, persoalan ini hanya dilihat sebagai akibat lanjutan dari dimensi ekonomi.

d. Ketergantungan dan pembangunan.

Teori dependensi klasik hampir secara ”sempurna” menguraikan akibat negatif yang harus
dialami negara Dunia Ketiga sebagai akibat situasi ketergantungannya. Bahkan terkadang
tarasa agak berlebihan, ketika teori dependensi menyebutkan bahwa hanya dengan
menghilangkan sama sekali situasi ketergantungan, negara Dunia Ketiga baru akan mampu
mencapai pembangunan ekonomi.

e. Kritik terhadap teori dependensi.

Sejak tahun 1970-an, teori dependensi klasik telah demikian banyak menerima kritik. Pada
dasarnya kritik yang mereka ajukan mendasarkan diri pada ketidakpuasan mereka terhadap
metode kajian, konsep, dan sekaligus implikasi kebijaksanaan yang selama ini dimiliki oleh
teori dependensi klasik.

f. Metode pengkajian.

Teori dependensi menuduh ajaran teori modernisasi tidak hanya sekedar pola pikir yang
memberikan pembenaran ilmiah dari ideologi negara-negara barat untuk mengeksploitasi
negara dunia ketiga. Dalam menanggapai kritik ini, teori modernisasi membalas dengan tidak
kalah garangnya, dengan menunjuk bahwa teori dependensi hanya merupakan alat
propaganda politik dari ideologi revolusioner Marxisme. Baginya, teori dependensi bukan
merupakan karya ilmiah, melainkan lebih merupakan pamflet politik

g. Kategori teoritis.

Teori dependensi menyatakan, bahwa situasi ketergantungan yang terjadi di Dunia Ketiga
lahir sebagai akibat desakan faktor eksternal. Disinilah para penganut pola pikir neo-
Marxisme mengarahkan kritiknya. Mereka menuduh, bahwa teori dependensi secara
berlebihan menekankan pentingnya pengaruh faktor eksternal, dengan hampir melupakan
sama sekali dinamika internal, seperti misalnya peranan kelas sosial dan negara.

h. Implikasi kebijaksanaan.

Sejak dari awal penjelasannya, teori dependensi telah secara tegas dan detail menguraikan
akibat buruk dari kolonialisme dan pembagian kerja internasional. Teori ini berpendapat,
selama hubungan pertukaran yang tidak berimbang ini tetap bertahan sebagai landasan
hubungan internasional, maka ketergantungan negara dunia ketiga tetap tak terselesaikan.
Oleh karena itu, teori dependensi mengajukan usulan yang radikal untuk mengubah situasi
ketimpangan ini, yakni dengan revolusi sosialis.

Teori dependensi baru

a. Fase ketergantungan dinamis.

Pada masa krisis moneter dan krisis kepercayaan melanda bumi Indonesia tercinta
banyak sekali permasalahan yang timbul akibat dari hal ini. Dampaknya dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat adalah makin meningkatnya jumlah angka kemiskinan yang
seharusnya turun dengan adanya priogram-program yang dilaksanakan pemerintah bukan
menjadi semakin terpuruk.

Hal itupun dirasakan oleh pemerintah Indonesia sebagai masalah baru yang harus
diselesaikan secepatnya. Jika tidak kondisi atau keadaan akan semakin terpuruk dan akan
menimbulkan kekacauan, konflik, tIndak kriminal, dan lain sebagainya.
Pada awal-awal terjadinya krisis moneter pemerintah Indonesia sangat bergantung
sekali dengan pihak luar. Karena pemerintah harus membangun negara ini dari tahap yang
terkecil hingga tahap yang terbesar. Kebijakan pemerintah pada saat itu adaLah dengan
menerima bantuan dana dari IMF (International Monetary Foundation) berupa bantuan
pinjaman dana yang harus dikembalikan pada waktu yang telah ditentukan sesuai dengan
kesepakatan yang telah dibuat.

Setelah krisis moneter telah berlalu yang ditandai dengan membaiknya kondisi
ekonomi dan segala aspek kegiatan di segala bidang serta hutang bantuan dana yang telah
dilunasi, negara ini tetap masih mengantungkan perputaran roda pemerintahan ini kepada
negara-negara luar. Hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya investor asing yang
menduduki peringkat atas dalam pemegang kekuasaan di industri-industri. Saham-saham
yang dimiliki indonesia pun ada sebagian dijual kepiha asing misalnya, Indosat, HM
Sampoerna, dan lain-lainnya. Hal ini, dapat membuktikan bahwa perekonomian negara ini
masih bergantung dengan negara-negara asing, dalam ini mengenai penanaman dana investor
untuk industri-industri di Indonesia, yang berakibat pemerintah Indonesia sangat sulit lepas
dari ketergantungan.

b. Kekuatan teori dependensi baru

Teori dependensi baru telah mengubah berbagai asumsi dasar yang dimilki oleh teori
dependensi klasik. Teori ini tidak lagi menganggap situasi ketergantungan sebagai suatu
keadaan yang berlaku umum dan memilki karakteristik yang serupa tanpa mengenal batas
ruang dan waktu. Situasi ketergantungan juga tidak lagi semata disebabkan oleh faktor
eksternal, lebih dari itu, teori dependensi baru ini tidak memberlakukan lagi situasi
ketergantungan sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi
regional dan keterbelakangan, ketergantungan, menurut teori yang telah diperbaharui ini,
lebih dikonsepkan sebagai sesuatu yang memiliki batas ruang dan waktu yang karenanya
selalu memiliki ciri yang unik. Dengan kata lain, situasi ketergantungan merupakan situasi
yang memiliki kesejarahan yang spesifik. Lebih dari itu, faktor internal memilki andil
lahirnya suasana ketergantungan, dan karenanya ketergantungan juga merupakan persoalan
politik sosial.
Dengan perubahan pendekatan seperti yang telah diuraikan, tidak heran jika teori
dependensi baru ini telah melahirkan berbagai ketegori ilmiah baru yang sebelumnya tidak
dimiliki oleh teori dependensi klasik seperti misalnya adalah ”pembangunan yang
bergantung”, ”negara birokratik otoriter”, ”aliansi tiga kelompok” dan ”pembangunan yang
dinamis”. Sebagai akibatnya, pengartian-pengartian baru ini telah mampu membantu
membuka jendela untuk melihat persoalan baru, atau paling tidak dengan pisau analisa baru,
yang pada gilirannya telah menghasilkan tidak sedikitnya karya penelitian baru yang menguji
secra lebih teliti persoalan pembangunan dan ketergantungan di negara dunia ketiga.

Teori dependensi klasik Teori dependensi baru

1.Persamaan · Negara dunia ketiga o Sama

pokok perhatian
2.Level analisa · Nasional o Sama
3.Konsep pokok implikasi · Sentral-pinggiran o Sama

· Ketergantungan
4.Kebijaksanaan · Ketergantungan bertolak- o Sama
belakang dengan
pembangunan

5.Perbedaan · Abstrak pola umum o Historis-struktural situasi


konkrit ketergantungan
metode · ketergantungan

6.Faktor pokok · Eksternal kolonialisme dan o Internal negara dan


ketidakseimbangan nilai konflik kelas
tukar

7.Ciri-ciri politik · Fenomena ekonomis o Fenomena sosial


ketergantungan
8.Pembangunan dan · Bertolak-belakang o Koeksistensi:

ketergantungan · Hanya menuju pada o Pembangunan yang


keterbelakangan bergantung

Oktober 8, 2008 - Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized | asumsi dasar, ECLA, KEPBBAL,
ketergantungan, Neo-Marxisme, prayit, sejarah perkembangan, teori depedensi, teori dependensi
bar

PERSPEKTIF DEPENDENSI
Bab IV
Teori Dependensi Klasik
Sejarah Lahirnya
Pendekatan dependensi pertama kali muncul di amerika latin. Pada awal kelahirannya, teori ini
lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang di jalankan oleh komisi ekonomi
perserikatan Bangsa-bangasa untuk amerika latin (KEPBBAL). Teori ini lebih menitikberatkan
pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara dunia ketiga. Dalam hal ini, dapat
dikatakan teori dependensi mewakili “suara negara-negara pinggiran” untuk menantang
hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.
Secara ringkas , teori ini lahir sebagai paradigma baru ntuk memberikan jawaban atas kegagalan
program KEPBBAL, krisis teori marxis ortodoks, dan menurunnya kepercayaan terhadap teori
modernisasi di Amerika serikat.
Asumsi Dasar Teori Dependensi Klasik
Mirip dengan teori modernisasi, teori dependensi juga sangat bervariasi . para pendukung nya
berasal dari berbagai disiplin ilmu sosial, mereka mempelajari berbagai negara di ameika latin
maupun negara di belahan benua yang lain.para penganutaliran dependensi cenderung memiliki
asumsi dasar sebagai berikut:
1. keadaan ketegantungan dilihat sebagai suatu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruh
negara Dunia ketiga.
2. Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang di akibatkan oleh faktor “luar”
3. permasalahan ketergantungan lebih dilihatnya sebagai masalah ekonomi, yang terjadi akibat
mengalirnya surplus ekonomi dari negara dunia ketiga ke negara maju
4. situasi ketergantungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses polarisasi regional
ekonomi global
5. keadan ketergantungan dilihatnya sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan
pembangunan.

Implikasi kebijaksanaan Teori Dependensi Klasik Secra filosofis, teori dependensi


mengkehendaki untuk meninjau kembali pengertian “pembangunan”. Teori dependensi
menyadari sepenuhnya , bahwa para penguasa yang telah mapan, pemilik modal besar, petyani
kaya dan tuan rumah, para pemimpin organisasi keagamaan, pemimpin informal msayarakat,
serta para elit yang lain kemungkinan besar tidak akan menyetujui kebijaksanaan pembangunan
yang mencoba untuk memutuskan hubungan dengan negara majuyang selama ini telah terbina
dengan baik, sebagai akibat dari telah demikian erat keterkaitan kepentingan politik-ekonomi
mereka dengan kepentingan negara maju.
Perbandingan Teori Dependensi dan Teori Modernisasi
Pada bagian akhir bab ini akan dibahas kemungkinan persamaan dan perbedaan antara teori
dependensi klasik dengan teori modernisasi klasik. Dua teori ini juga sama-sama memiliki
perhatian yang sama yakni memempelajari persoalan-persoalan pembangunan dunia ketiga.
Disiamping kemiripanya, kedua teori ini juga memiliki perbedaan-yang bertolak belakang.
Teori modernisasi klasik sangat dipengaruhi oleh perkembangan teori evolusi eropa dan teori
struktural-fungsionalisme di amerika, sedangkan teori dependensi lebih dipengaruhi oleh
program liberal dan moderat dari KEPBBAL dan teori neo-marxis radikal.
Kedua teori ini juga berbeda dalam hal menjelaskan sebab keterbelakangan negara dunia ketiga.
Teori modernisasi lebih menekankan pada penjelasan “faktor dalam”, sedangkan teori
dependensi lebih menyebut kan “faktor luar”.
Bab V
Hasil Kajian Teori dependensi Klasik
Dalam bab ini akan disajikan tiga hasil kajian teori dependensi klasik, yaiu: hasil penelitian
Baran tentang kolonialisme di india, hasil penelitian Landsbergtentang munculnya imperialisme
baru di Asia timur, dan hasil kajian dari Sritua arief dan Adi sasono.Ketiga nya dianggap cukup
mewakili pemikiran-pemikiran teori dependensi klasik.

Baran: Kolonialisme di india


Menurutnya, india merupakan salah satu negara maju didunia pada abad ke-18.itu di karenakan
kondisi ekonomi india secara relatif sudah maju, dan usaha perdagangan, industri dan cara
berproduksinya tidak berbeda dengan yang ada di negara lain yang sudah maju.
Secara ringkas, Baran berpendaoat bahwa pemindahan surplus ekonomi dari india ke inggris,
kebijaksanaan deindustrialisasi india, dan pembanjiran barang produksi inggris ke india, serta
pemiskinan massal pedesaan india telah menjadi sebab dan sepenuhnya bertanggung jawab
terhadap keterbelakangan india.
Lsandberg: Tumbuhnya Imperialisasi Di Asia Timur
Dalam mengmati pelaksanaan dan hasil kebijaksanaan indusrialisasi dengan orintasi ekspor
(IOE) di korea, taiwan, singapura, dan hongkong, landsberg mengajukan pertanyaan tunggal
yakni apakah negara-negara ini akan atau harus dijadikan model pembangunan negara dunia
ketiga. Secara ringkas, Landsberg menyimpulkan bahwa sekalipun IOE “membantu tumbuhnya
undustri dan tersedianya lapangan kerja di dunia ketiga, strategi IOE tidak akan mampu
menumbuhkan tejadinya akumulasi modal dan pembangunan ekonomi yang mandiri dan
tangguh. Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan dan Keterbelakangan Indonesia
Secara ringkas, setelah memperhatikan tolak ukur yang digunakan, Arief dan sasono
menyimpukan bahwa situasi ketergantungan dan keterbeakangan sebagian besar telah telah
terbukti dapat menerangkan dan menganalisis proses ekonomi indonesia, sebagai negara bekas
jajahan, dan sebagai suatu negara yang mengandung banyak unsur yang tidak Egalitarian
Teori Depedensia

Teori ini muncul di Amerika latin, yang menjadi kekuatan reaktif dari suatu kegagalan teori
moderenisasi dalam pembangunan yang sedang dijalankan, dalam konsp berfikir teori
ketergantungan, pembagian kerja secara internasional adalah yang menyebabkan
keteberlakangan negara-nagera pertanian.

Kemudian muncul pertanyaan mengapa pembagiana kerja internasional bila tiap-tiap negara
mempunyai sepesialisasi produksi sesuai keuntungan komparatif yang dimilikinya, ternyata tidak
menguntungkan semua negara ?

Teori moderenisasi menjawab masalah tersebut dengan kesalahan terletak pada negara-negara
tersebut yang melakukan moderenisasi dirinya, disini teori depedensi yang berlandaskan
sterukturalisme berpandapat bahwa kemiskinan yang terdapat dinegara dunia ketiga yang
mengkhususkan pada produksi pertanian adalah akibat setruktur perekonomian dunia yang
bersifat ekploitatif, dimana yang kuat melakukan ekploitasi terhadap yang lemah. Maka surplus
dari negara-negara dunia ketiga berpindah ke negara-negara maju.

Yang cukup menarik adalah dalam perkembangannya, teori ketergantungan ini justru menolak
teori maxsis klasik yang memuat asusmsi:

1. Nagara Dunia ketiga adalah negara yang tidak dinamis, yang memakai cara berproduksi orang
asia yang sangat berbeda dengan orang eropa yang mengahasikan modal kapitalisme.
2. Negara-negara duinia ketiga ini setelah berhubungan dengan sitem kapitalisme akan mengikuti
jejak negara-negara kapitalis yang telah maju. Di kalangan pemikir teori ketergantungan yang
berkembang lebih lanjut, mereka membantah kedua tesis diatas dan mengembangkan inti
pemikiran yang lebih maju yaitu:

1. Negara-Negara pinggiran (Dunia ke III) yang pra kapitalis sebenarnay memiliki dinamikanya
sendiri apabila tidak berhubungan dengan sistem kapitalisme akan berkembang dengan
sendirinya
2. Justru karena penagruh sistem kapitalisme negara maju, parkembangan negara pinggiran jadi
terhambat.

Hal tersebut adalah beberapa contoh ditinggakatan makro analisis teori depedensi sedangakan di
tingkatan mikro dapat kita lihat bagaimana hal tersebut dapat dibuktikan oleh terori depedensi
dimana beberapa fenomena hubungan yang bersifat ekploitatif

1. Bagaimana Kerdit yang diberikan kepada rakyat kecil terbentuk (Pedagang kecil dan petani)
denga terkesan memberikan kebebasan kepeda mereka untuk berusaha secara alamiah di pasar
bebas?. Bagaimana pula campur tangan pihak birokrasi pemerintah dan pihak perbank-kan
memberi pengaruh yang tidak kecil ketika mengucurkan kredit kepada petani. Bagaimana
bantuan mereka selalu melalui lingkaran aparat birokrasi pemerintahan sehingga terkesan sangat
tidak sehat, karena aparat birokrasi ikut mengerogoti besar bantuan tadi dalam bentuk pembinaan
yang tidak Fungsional.

2. Bagaimana aparat birokrasi pemerintah menciptakan ketergantungan pelayanan kepada


pengusaha atau pemodal besar sehingga sehingga memberikan fasilatas kepada mereka dalam
kerangka pengembangan usaha mereka di pasar bebas

3. Bagaimana Multy National Corporation (MNC) mengembangkan usaha di negara


berkembang, dengan menciptakan ketergantunagan pelayanan pada pusat-pusat distribusi yang
mereka ciptakan (misal dalam layanan purna jual dll)

Saatnya negara-negara berkembang berani mengatakan tidak kepada negara maju dengan
sejumlah paket kerja ekonomi yang timpang, di indonesia sendiri kita bisa lihat banyak
perusahaan Trans Nasional yang mengalai kekayaan alam di Indonesia tapi tidak ada dampak
positif untuk masyarakat, yang paling mencolok adalah PT Freeport yang mengambil gunung
emas, dengan meninggalkan lubang dalam sisa penggalian, tetapi masyarakat sekitar hanya bisa
mengigit jari ketika gunung emasnya dibawa pergi, Negara Dunia Ketiga harus menentukan
nasibnya sendiri untuk emngembalikan kejayaanya.

Diposkan oleh Adhitya Johan Rahmadan, Special Region Yogyakarta di 03:54


GAMBARAN TEORI DEPENDENSI

Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan


pembangunan negara Dunia Ketiga. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi
mewakili “suara negara-negara pinggiran” untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya
dan intelektual dari negara maju. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik terhadap
arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini
mencermati hubungan dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat
sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan
merugikan Dunia Ketiga. Negara sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketiga
dengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral.
Bila teori Dependensi Klasik melihat situasi ketergantungan sebagai suatu fenomena
global dan memiliki karakteristik serupa tanpa megenal batas ruang dan waktu. Teori
Dependensi Baru melihat melihat situasi ketergantungan tidak lagi semata disebabkan faktor
eksternal, atau sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi regional
dan keterbelakangan. Ketergantungan merupakan situasi yang memiliki kesejarahan spesifik dan
juga merupakan persoalan sosial politik.