Anda di halaman 1dari 27

Defenisi Bobot Jenis dan Rapat Jenis

Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat disbanding dengan volume zat
pada suhu tetentu (Biasanya 25oC). Sedangkan rapat jenis adalah perbandingan antara bobot jenis
suatu zat dengan bobot jenis air pada suhu tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25 o/25o, 25o/4o,
4o/4o). Untuk bidang farmasi, biasanya 25o/25o (1).
Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat terhadap air volume yang sama ditimbang di
udara pada suhu yang sama (2).
Menurut defenisi, rapat jenis adalah perbandingan yang dinyatakan dalam decimal, dari
berat suatu zat terhadap berat dari standar dalam volume yang sama kedua zat mempunyai
temperature yang sama atau temperature yang telah diketahui. Air digunakan untuk standar untuk
zat cair dan padat, hydrogen atau udara untuk gas. Dalam farmasi, perhitungan bobot jenis
terutama menyangkut cairan, zat padat dan air merupakan pilihan yang tepat untuk digunakan
sebagai standar karena mudah didapat dan mudah dimurnikan (3).
Pada 4oC, kepadatan air adalah 1 g dalam satu centimeter kubik. Karena USP menetapkan 1
ml dapat dianggap equivalent dengan 1 cc, dalam farmasi, berat 1 g air dianggap 1 ml (3).
Bobot jenis adalah konstanta/tetapan bahan tergantung pasa suhu untuk tubuh padat, cair
dan bentuk gas yang homogen. Didefenisikan sebagai hubungan dari massa (m) suatu bahan
terhadap volume (v).
(4)

Angka bobot jenis menggambarkan suatu angka hubngan tanpa dimensi, yang ditarik dari
bobot jenis air pada 4oC ( = 1,000 graml-1 ) (4).
Bobot jenis relative dari farmakope-farmakope adalah ebaliknya suatu besaran ditarik dari
bobot dan menggambarkan hubungan berat dengan bagian volume yang sama dari zat yang
diteliti dengan air, keduanya diukur dalam udara dan pada 200C (4).
Penentuan Bobot Jenis dan Rapat jenis
Penentuan bobot jenis berlangsung dengan piknometer, Areometer, timbangan hidrostatik
(timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris (4).
Ada beberapa alat untuk mengukur bobot jenis dan rapat jenis, yaitu menggunakan
piknometer, neraca hidrostatis (neraca air), neraca Reimann, beraca Mohr Westphal (5).

Bobot jenis zat cair


Metode Piknometer . Pinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan
penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang
air. Menurut peraturan apotek, harus digunakan piknometer yang sudah ditera, dengan isi ruang
dalam ml dan suhu tetentu (20oC). Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu
optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. Optimun ini terletak sekitar isi
ruang 30 ml. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan tipe pipet (6).
Neraca Mohr Westphal dipakai untuk mengukur bobot jenis zat cair. Terdiri atas tua dengan
10 buah lekuk untuk menggantungkan anting, pada ujung lekuk yang ke 10 tergantung sebuah
benda celup C terbuat dari gelas (kaca) pejal (tidak berongga), ada yang dalam benda celup
dilengkapi dengan sebuah thermometer kecil untuk mengetahui susu cairan yang diukur massa
jenisnya, neraca seimbang jika ujum jarum D tepat pada jarum T (5).
Densimeter merupakan alat untuk mengukur massa jenis (densitas) zat cair secara langsung.
Angka-angka yang tertera pada tangkai berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat cair
yang permukaannya tepat pada angka yang tertera (5).
Bobot jenis zat padat
Menurut defenisi kerapatan :

Dapat ditentukan pada volume V suatu bentuk pada dengan menimbangan massa m. Volume
V dengan permukaan bentuk teratur dapat dihitung dari bentuk geometrisnya. Untuk penentuan
kerapatan bentuk pdata yang volumenya tidak teratur, V dapat ditentukan melalui pendesakan
volume cairan (6)
Referensi :
1. Tim Asisten.,(2006),Penuntun Praktikum Farmasi Fisika, Jurusan Farmasi,
Universitas Hasanuddin, 34,35.
2. Ditjen POM.,(1995),Farmakope Indonesia , Edisi IV, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta, 1031.
3. Ansel H.C.,(1989),Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Terjemahan Faridah Ibrahim,
Universitas Indonesia Press, Jakarta, 625,626.
4. Voight,R.,(1994).Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Terjemahan Dr. Soendani
Noerono, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 65.

5. Sutoyo.,(1993),Fisika, Bina Usaha, Jakarta, 39,45.


6. Roth, Herman J.,(1994),Analisis Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta,
466.

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK KESATU


PENETAPAN KERAPATAN BOBOT JENIS
I.

JUDUL
PENETAPAN KERAPATAN BOBOT JENIS

II.
TUJUAN PERCOBAAN
Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1.
Mengenal alat penentuan Kerapatan Bobot Jenis
2.
Menentukan Kerapatan Bobot Jenis
III.

DASAR TEORI
Pengukuran kerapatan dan bobot jenis digunakan apabila mengadakan perubahan
massa dan volume. Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan
volume. Batasanya adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu
yang dinyatakan dalam system cgs dalam gram per sentimeter kubik (g/cm3).
Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan volume.
Batasannya adalah massa per satuan Volume pada temperature dan tekanan tertentu
dinyatakan dalam system cgs (g/cm3) dan dilambangkan dengan .
(http://anisnuryasmine.blogspot.com/2009/09/praktikum-farmasi-semester-3.html )
Bila kerapatan benda lebih besar dari kerapatan air, maka benda tersebut akan
tenggelam dalam air. Bila kerapatannya lebih kecil, maka benda akan mengapung. Benda
yang mengapung, bagian volume sebuah benda yang tercelup dalam cairan manapun sama
dengan rasio kerapatan benda-benda terhadap kerapatan cairan. Rasio kerapatan air
dinamakan berat jenis zat itu.
(http://nurulpharmacy08-j1e108206.blogspot.com/2010/04/penentuan-kerapatan-dan-bobotjenis.html )
Bobot jenis (bilangan murni tanpa dimensi ) adalah perbandingan bobot zat terhadap
air volume yang sama ditimbang di udara pada suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah
perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat pada suhu tertentu (Biasanya
25oC), Sedangkan rapat jenis adalah perbandingan antara bobot jenis suatu zat dengan bobot

jenis air pada suhu tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25 o/25o, 25o/4o, 4o/4o). Untuk bidang
farmasi, biasanya 25o/25 .
Angka bobot jenis menggambarkan suatu angka hubngan tanpa dimensi, yang ditarik
dari bobot jenis air pada 4oC ( = 1,000 graml-1 ) (4).
Bobot jenis relative dari farmakope-farmakope adalah sebaliknya suatu besaran ditarik dari
bobot dan menggambarkan hubungan berat dengan bagian volume yang sama dari zat yang
diteliti dengan air, keduanya diukur dalam udara dan pada 200C (4).
(http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/04/25/bobot-jenis-dan-rapat-jenis/).
Penentuan Bobot Jenis dan Rapat jenis
Penentuan bobot jenis berlangsung dengan piknometer, Areometer, timbangan hidrostatik
(timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris. Ada beberapa alat untuk mengukur bobot
jenis dan rapat jenis, yaitu menggunakan piknometer, neraca hidrostatis (neraca air), neraca
Reimann, beraca Mohr Westphal .
Bobot jenis zat cair
Metode Piknometer . Pinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan
penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan
menimbang air. Menurut peraturan apotek, harus digunakan piknometer yang sudah ditera,
dengan isi ruang dalam ml dan suhu tetentu (20 oC). Ketelitian metode piknometer akan
bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer.
Optimun ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan
tipe pipet .
Neraca Mohr Westphal dipakai untuk mengukur bobot jenis zat cair. Terdiri atas tua dengan
10 buah lekuk untuk menggantungkan anting, pada ujung lekuk yang ke 10 tergantung
sebuah benda celup C terbuat dari gelas (kaca) pejal (tidak berongga), ada yang dalam benda
celup dilengkapi dengan sebuah thermometer kecil untuk mengetahui susu cairan yang
diukur massa jenisnya, neraca seimbang jika ujum jarum D tepat pada jarum T .
Densimeter merupakan alat untuk mengukur massa jenis (densitas) zat cair secara langsung.
Angka-angka yang tertera pada tangkai berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat
cair yang permukaannya tepat pada angka yang tertera.
(http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/04/25/bobot-jenis-dan-rapat-jenis/ )
IV.
ALAT DAN BAHAN
a.

Alat
Piknometer
Pipa kapiler
Termometer

b.

Bahan
Etanol
Aseton
Klorofom
Peluru
Lilin

V.

PROSEDUR

VI.

DATA HASIL PRAKTIKUM


DATA HASIL PENGAMATAN
Suhu percobaan 26oC
1. Bobot Piknometer Kosong
2. Bobot Piknometer + Air
3. Bobot Piknometer + Etanol
4. Bobot Piknometer + Aseton
5. Bobot Piknometer + Kloroform
6. Bobot Zat Padat (Peluru)
7. Bobot Piknometer + Peluru + Air

= 12,51 gram
= 22,08 gram
= 20,19 gram
= 20,07 gram
= 26,23 gram
= 0,55 gram
= 22,57 gram

8. Bobot Piknometer + Lilin + Peluru + Air


9. Bobot Lilin
Bobot Air
= 22,08 g 12,51 g
Bobot Etanol
= 20,19 g 12,51 g
Bobot Aseton
= 20,07 g 12,51 g
Bobot Kloroform = 26,23 g 12,51 g
PERHITUNGAN
Volume Air
BJ Aseton
BJ Etanol
BJ Kloroform

= Bobot Air / air


= Bobot Aseton / V air
= Bobot Etanol / Vair
= Bobot Aseton / V air

= 22,60 gram
= 0,17 gram

= 9,57 gram
= 7,68 gram
= 7,56 gram
= 13,72 gram
= 9,57/0,9981
= 7,56/9,588
= 7,68/9,588
= 13,72/9,588

= 9,588 g/mL
= 0,788 g/mL
= 0,801 g/mL
= 1,431 g/mL

Kerapatan

= Bobot air-(Bobot Piknometer+Peluru+air)+Bobot


peluru+Bobot Piknometer Kosong/ua air
= 9,57-(22,557)+0,55+12,51 / 0,9981
= 0,06 / 0,9981
= 0,060
padatan = Wp/Vp = W2 / W4-W3+W2 x air
= 0,55 / 22,08-22,57+0,55 x 0,9981
= 0,55/0,06 x 0,9981
= 9,167 x 0,9981
= 9,145 g/mL
Ket: W2 = Berat Padatan (Peluru)
W3 = Berat Piknometer + Air + Peluru
W4 = Berat Piknometer + Air
Vp
= V Padatan
Kerapatan = ( b d + x + a) / air
= 9,5722,57+0,55+12,51 / 0,9981
= 0,06 / 0,9981
= 0,060 g/mL
Padatan = Wp/Vp = W2 / W4-W3+W2 x air
= 0,17 / 22,08-22,60+0,17 x 0,9981
= 0,17/0,35 x 0,9981
= 0,48507 g/mL
VII.
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, penentuan kerapatan dan bobot jenis dilakukan dengan
menggunakan piknometer. Sampel yang digunakan adalah etanol, kloroform, aseton.
Pengukuran dengan menggunakan piknometer, sebelum digunakan harus dibersihkan dan
dikeringkan hingga tidak ada sedikitpun titik air di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk
memperoleh bobot kosong dari alat. Jika masih terdapat titik air di dalamnya, dapat
mempengaruhi hasil yang diperoleh. Pada pengisiannya dengan sampel, harus diperhatikan
baik-baik agar di dalam alat tidak terdapat gelembung udara, sebab akan mengurangi bobot
sampel yang akan diperoleh. Alat piknometer yang digunakan telah dilengkapi dengan

termometer, sehingga langsung dapat diketahui suhu sampel tersebut. Pada percobaan etanol,
pengukuran harus segera dilakukan ketika piknometer telah diisi sampel, sebab sampel akan
terus berkurang bobotnya. Dalam percobaan dengan menggunakan piknometer, aquadest
mempunyai kerapataan 0,06 g/cm3. Dan padatan lilin mempunyai kerapatan 0,48507 g/cm3.
VIII.

KESIMPULAN

Kerapatan adalah masa perunit volume suatu zat pada temperatur tertentu. Dalam
percobaan dengan menggunakan piknometer, aquadest mempunyai kerapataan 0,06 g/cm 3.
Dan padatan lilin mempunyai kerapatan 0,48507 g/cm3. Pada intinya, bobot cairan itu
berbeda, bobot air, etanol, aseton, kloroform mempunyai kerapatan yang berbeda, oleh sebab
itu jika masing-masing cairan tersebut ditimbang, akan menghasilkan berat yang berbeda,
walaupun dalam bentuk mililiter sama jumlahnya.
IX.
DAFTAR PUSTAKA
http://anisnuryasmine.blogspot.com/2009/09/praktikum-farmasi-semester-3.html
http://nurulpharmacy08-j1e108206.blogspot.com/2010/04/penentuan-kerapatan-danbobot-jenis.html
http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/04/25/bobot-jenis-dan-rapat-jenis/

BOBOT JENIS

Konsep

: Bobot Jenis

Subkonsep

: Bobot jenis zat cair

Tujuan

untuk mengetahui bobot jenis suatu zat cair.


untuk mengetahui kemurnian suatu zat cair
DASAR TEORI
Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25 C terhadap bobot air
dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan
membagi bobot zat dengan bobot air dalam piknometer, kecuali dinyatakan lain dalam
monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25 C [FI IV hal 1030].
Alat yang digunakan untuk mengukur bobot jenis suatu antara lain : piknometer (untuk
zat padat & zat cair), aerometer (untuk zat cair), densimeter (untuk menentukan bobot jenis zat
cair secara langsung). Piknometer digunakan untuk mengukur bobot jenis suatu zat cair dan zat
padat. Kapasitas volumenya antara 10 ml-25 ml. Bagian tutup mempunyai lubang berbentuk
saluran kecil.
Bobot jenis dapat digunakan untuk : mengetahui kepekaan suatu zat, mengetahui
kemurnian suatu zat, mengetahui jenis zat. bobot jenis = 1 air, bobot jenis < 1 zat yang

mudah menguap, bobot jenis > 1 sirup pulvis. Neraca Mohr Westphal : untuk mengukur
bobot jenis zat cair.
Tabel bobot jenis air (PH V hal 723)
Suhu
Bobot per L (g / l)
20
997,17
25
996,03
30
994,65

Bobot jenis (g / ml)


0,99718
0,99632
0,99462

KARAKTERISTIK BAHAN
Gliserolum (gliserin) FI IV
Pemerian : cairan jernih seperti sirup, tak berwarna, bau khas lemah, netral terhadap lakmus,
higroskopik.
Kelarutan : dapat bercampur dengan air & etanol, tak larut dalam kloroform, eter, minyak lemak
dan minyak menguap
BJ : 1,249
Parrafinum FI IV hal 652
Pemerian : Hablur tembus cahaya/agak buram, tidak berwarna/putih, tidak berbau, tidak berasa,
agak berminyak.
Kelarutan : Tidak larut dalam air & dalam etanol, mudah larut dalam kloroform, dalam eter,
dalam minyak menguap, dalam hampir semua jenis minyak lemak hangat, sukar larut dalam
etanol mutlak.
ALAT & BAHAN
1. piknometer
2. timbangan analitik
3. tissue
4. aquades
5. gliserin
6. kalkulator
PROSEDUR KERJA
1. Membersihkan dan mengeringkan piknometer
2. Menimbang piknometer kosong (a)
3. Menimbang pikno berisi air (b) dengan suhu 25 C

4. Menghitung bobot air (b a)


5. Buang air dalam pikno, bersihkan dengan etanol kemudian keringkan.
6. Menimbang pikno berisi zat cair uji (c)
7. Menghitung bobot zat cair uji (c a)
8. Menghitung bobot jenis zat cair uji, dengan rumus :
m air

mx

Vair . air

Vx . x

Vair = Vx x = m x . air
m air
keterangan :
m air
mx
V air
Vx
air
x

: bobot atau massa air (g)


: bobot atau massa zat cair uji (g)
: volume air (ml)
: volume zat cair uji (ml)
: bobot jenis air (g / ml)
: bobot jenis zat cair uji (g / ml)

HASIL PENGAMATAN.
Analisa Data
BJ air (270)
0,99462 x
x - 250 x 0,90632
300- 270 = 0,99462 x
27 - 25 x 0,90632
3 = 0,99462 x
2
x 0,90632
3 x 2,98896 = 1,98924 2 x
5 x = 4,9782
x = 0,99562 ml
Volume piknometer
Bobot pikno + air
= 39,8889
Bobot pikno kosong = 14,8499 Bobot air
= 25,0390
V.air = bobot air = 25,0390
0

= 25,1492 ml

300-

air

0,99562

Bobot pikno + gliserin = 46,3339


Bobot pikno kosong
Bobot gliserin
= 31,4840 g

= 14,8499 -

= m gliserin x air

Bobot jenis gliserin


m air

gliserin
= 31,4840 x 0,99562
25,1492
gliserin
= 1,2464 g / ml
Bobot pikno + paraffin
= 35,9901
Bobot pikno kosong
= 14,8499 21,1492
paraffin
= 21,1492 x 0,99562
25,1492
paraffin = 0,8369 g / ml
Konsep
: Bobot jenis
Subkonsep
: Bobot jenis zat padat
Tujuan
: untuk mengetahui bobot jenis suatu zat padat
DASAR TEORI
Zat padat berbeda dengan zat cair. Zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat
jenisnya tidak dpat terdefinisi dengan jelas.
berat jenis sejati : berat jenis yang dihitung tanpa pori pori atau rongga ruang.
berat jenis nyata : berat jenis yang dihitung sekaligus dengan porinya sehingga nyata < sejati.
KARAKTERISTIK BAHAN
Sukrosa (sukrosum)
Pemerian : hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk kubus, atau serbuk
hablur putih, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, sukar larut
dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan eter.
BJ : 1,59 (Merck Index)
Acidum Ascorbicum(Vit. C) FI IV.
Pemerian : Hablur atau serbuk putih/agak kuning oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi
warna gelap. Dalam keadaan kering stabil diudara dalam larutan cepat teroksidasi, melebur pada
suhu 1900.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, larut dalam kloroform, eter, &
benzena.
BJ : 1,65 (Merck Index)
ALAT & BAHAN
1. piknometer

2. timbangan digital / analitik


3. tissue
4. sendok tanduk
5. timbangan manual
6. perkamen
7. sukrosa
8. vitamin C
9. kalkulator
PROSEDUR KERJA
1. Membersihkan pikno dan keringkan.
2. Menimbang pikno kosong (p)
3. Menimbang pikno berisi air (25C) sampai penuh (F)
4. Menghitung bobot air (F p)
5. Menimbang pikno berisi zat padat uji (Q)
6. Menghitung bobot zat padat uji (Q p)
7. Menambahkan air sampai penuh pada pikno yang berisi zat padat uji (L)
8. Menghitung volume air yang tumpah L (p Q)
9. Menghitung bobot jenis zat padat dengan rumus :

zat padat =

mzat padat X air

mair yg tumpah

[(pikno + zat padat)

(pikno kosong)] X air


bobot air [(pikno + zat padat + air) (pikno + zat padat)]

HASIL PENGAMATAN & PEMBAHASAN


Analisa Data
a. Sukrosa
sukrosa =

(pikno kosong) x BJ air


(pikno + air) ( pikno kosong) (pikno+zat+air) (pikno+zat)
=
0,99562
(39,8889 14,8499) (40,5739 16,6881)
= 1,8382 x 0,99562
25,0390 23,8858
=1,5940 x 0,99562 = 1,5870 g/ml
b. Vitamin C
vit. C =
0,99562
(39,8889 14,8499) ( 40,3531 16,0005)
= 1,1506 x 0,99562
25,0390 24,3526
=1,6763 x 0,99562 = 1,6690 g/ml

(pikno + zat)

16,0005 14,8499

16,0005 14,8499

KESIMPULAN

Dari hasil pratikum kami bobot jenis dari gliserin adalah 1,2464 g / ml sedangkan
pada literatur bobot jenis gliserin adalah 1,249 sehinggan kami menyimpulkan bahwa bobot
jenis gliserin murni. Bobot jenis dari sukrosa adalah 1,5870 g/ml dan bobot jenis vitamin c
adalah 1,6690 g/ml sedangkan pada literatur bobot jenis sukrosa adalah 1,59 dan vitamin c
adalah 1,65 maka kedua zat padat tersebut adalah murni karna tidak berbeda jauh dengan
literatur.
Bobot jenis suatu zat dipengaruhi oleh :
Massa zat
Volume zat
Kesetabilan zat
Banyak atau sedikitnya factor kontaminan
Bobot jenis zat yang dipakai sebagai standar diketahui secara pasti.
[tutup]
Selamat datang di Wikipedia bahasa Indonesia

Teori fungsi rapatan


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Teori fungsi kerapatan (DFT, Density functional theory) merupakan salah satu dari
beberapa pendekatan populer untuk perhitungan struktur elektron banyak-partikel secara
mekanika kuantum untuk sistem molekul dan bahan rapat. Teori Fungsi Kerapatan (DFT)
adalah teori mekanika kuantum yang digunakan dalam fisika dan kimia untuk mengamati
keadaan dasar dari sistem banyak partikel.

Daftar isi

1 Penjelasan Teori

2 Model Pertama: Model Thomas-Fermi

3 Penurunan dan Formalisasi

4 Pendekatan

5 Penyetaraan Relativistik

6 Aplikasi

7 Software Pendukung DFT

8 Rujukan

Penjelasan Teori
Metode tradisional dalam perhitungan struktur elektron, seperti teori Hartree-Fock didasarkan
pada fungsi gelombang banyak-elektron yang rumit. Sasaran utama dari teori fungsi
kerapatan adalah menggantikan fungsi gelombang elektron banyak-partikel dengan kerapatan
elektron sebagai besaran dasarnya. Fungsi gelombang partikel-banyak bergantung pada 3N
variabel, yaitu tiga variabel ruang untuk masing-masing N elektron, sedangkan kerapatan
hanya merupakan fungsi dari 3 variabel, jadi merupakan suatu besaran yang sederhana untuk
ditangani, baik secara konsep maupun secara praktis.
Walaupun teori fungsi kerapatan memiliki dasar konseptualnya dalam model Thomas-Fermi,
DFT tidak berlandaskan pijakan teoretis yang kuat sampai munculnya teorema HohenbergKohn (HK) yang menunjukkan adanya pemetaan satu-satu antara kerapatan elektron keadaan
dasar dengan fungsi gelombang keadaan dasar dari sistem banyak-partikel. Selain itu,
teorema HK membuktikan bahwa kerapatan keadaan dasar meminimalkan energi elektron
total sistem tersebut. Karena teorema HK berlaku hanya untuk keadaan dasar, DFT juga
merupakan sebuah teorema keadaan dasar.
Teorema Hohenberg-Kohn hanya suatu teorema keberadaan, yang menyatakan bahwa
penggambaran itu ada, tetapi tidak menghasilkan penggambaran apapun yang tepat seperti
itu. Teorema tersebut dalam penggambaran ini dibuat pendekatan. Penggambaran yang paling
terkenal adalah pendekatan kerapatan lokal (LDA) yang memberikan pendekatan

penggambaran dari kerapatan sistem terhadap energi total. LDA digunakan untuk gas
elektron yang seragam, dikenal juga sebagai jellium.
Pada kenyataannya, teorema HK jarang digunakan secara langsung untuk membuat
perhitungan. Sebagai gantinya, implementasi teori fungsi kerapatan yang paling umum
digunakan saat ini adalah metode Kohn-Sham. Dalam kerangka DFT Kohn-Sham, masalah
interaksi elektron banyak partikel, potensial statis eksternal direduksi menjadi sebuah
masalah yang mudah dikerjakan dengan penggantian elektron yang tidak berinteraksi menjadi
sebuah potensial efektif. Potensial efektif meliputi potensial eksternal dan pengaruh interaksi
Colomb antar elektron.
Dalam banyak kasus, DFT dengan pendekatan kerapatan lokal memberikan hasil yang
memuaskan jika dibandingkan dengan data eksperimen pada daya komputasi yang relatif
rendah, ketika dibandingkan dengan cara-cara penyelesaian masalah mekanika kuantum
banyak-partikel yang lain.
DFT menjadi sangat terkenal untuk perhitungan dalam fisika keadaan padat sejak tahun 1970.
Akan tetapi, DFT tersebut tidak dapat dipertimbangkan cukup akurat untuk perhitungan
kimia kuantum sampai tahun 1990, ketika pendekatan digunakan dalam teori dihasilkan
perbaikan yang lebih baik. DFT kini merupakan suatu metode yang mengarahkan pada
perhitungan struktur elektron dalam berbagai bidang.
Akan tetapi, masih ada sistem yang tidak dapat dijelaskan dengan baik dengan LDA. LDA
tidak dapat menjelaskan dengan baik interaksi antar molekul, terutama gaya van der Waals
(dispersi). Hasil lain yang terkenal adalah perhitungan celah pita dalam semikonduktor, tetapi
larangan ini tidak dapat memperlihatkan kegagalan, karena DFT adalah teori keadaan dasar
dan celah pita adalah sifat keadaan tereksitasi.

Model Pertama: Model Thomas-Fermi


Teori fungsi kerapatan pertama kali dikembangkan oleh Thomas dan Fermi pada tahun 1920.
Mereka menghitung energi sebuah atom dengan energi kinetiknya diwakili sebagai fungsi
dari kerapatan elektron, ini dikombinasikan dengan ungkapan klasik untuk interaksi intielektron dan elektron-elektron (yang dapat juga diwakili dalam hubungan kerapatan
elektron).
Walaupun ini adalah tahap awal yang penting, ketelitian persamaan Thomas-Fermi terbatas
karena persamaan tersebut tidak dapat memperlihatkan pertukaran energi dari sebuah atom
yang diramalkan dengan teori Hartree-Fock. Fungsi pertukaran energi ditambahkan oleh
Dirac pada tahun 1928.
Akan tetapi, teori Thomas-Fermi-Dirac tetap tidak akurat untuk beberapa aplikasi, karena
teori tersebut sulit untuk memperlihatkan energi kinetik dengan sebuah fungsi kerapatan, dan
teori tersebut mengabaikan hubungan antara elektron keseluruhan.

Penurunan dan Formalisasi


Pada umumunya dalam perhitungan struktur elektron banyak partikel, inti yang dimiliki
molekul atau 'cluster' terlihat tetap (pendekatan Born-Oppenheimer), menghasilkan sebuah
potensial eksternal statis dimana elektron berpindah. Keadaan elektron yang mantap
'stationer' dijelaskan dalam fungsi gelombang
Schrodinger banyak elektron.

penyelesaian Persamaan

dengan adalah jumlah elektron dan adalah interaksi elektron-elektron. Operator dan
biasa disebut sebagai operator umum 'universal' karena operator tersebut berlaku untuk semua
sistem, dengan adalah sistem yang tidak dapat berdiri sendiri atau tidak umum/'universal'.
Dapat terlihat perbedaan yang nyata antara permasalahan partikel tunggal dengan
permasalahan banyak partikel yang rumit, yaitu pada persamaan interaksi . Sekarang,
banyak metode yang pintar untuk menyelesaikan persamaan Schrodinger, misalnya teori
gangguan diagramatis dalam fisika, sedangkan dalam kimia kuantum sering menggunakan
metode interaksi konfigurasi (CI), yang didasarkan pada pengembangan sistematis fungsi
gelombang dalam determinan Slater. Akan tetapi, permasalahan dengan metode ini adalah
membutuhkan kemampuan komputasi yang sangat besar, yang membuatnya tidak mungkin
untuk menerapkannya pada sistem kompleks yang lebih besar.
Dalam hal ini DFT memberikan suatu alternatif yang menarik, yang lebih bermanfaat karena
DFT memberikan suatu cara sistematis pemetaan permasalahan banyak-partikel, dengan ,
menjadi permasalahan partikel-tunggal tanpa . Dalam DFT, variabel kunci adalah kerapatan
partikel

yang diberikan oleh persamaan:

.
Hohenberg dan Kohn membuktikan pada tahun 1964 bahwa hubungan yang dinyatakan di
atas dapat dibalikkan, yaitu menjadi kerapatan keadaan dasar
. Prinsip ini
memungkinkan untuk menghitung fungsi gelombang keadaan dasar yang bersesuaian
. Yang berarti,

merupakan fungsi yang unik dari

, yang diberikan oleh

persamaan:

Dan sebagai konsekuensinya, semua keadaan dasar yang dapat teramati


fungsi dari

juga merupakan

Dari sini dengan mengikuti fakta-fakta yang ada, bahwa energi keadaan dasar juga
merupakan fungsi dari
,
Dengan kontribusi potensial eksternal
dalam persamaan kerapatan.

dapat ditulis secara eksplisit

Fungsi-fungsi
dan
disebut fungsi umum universal, sedangkan
merupakan
fungsi yang tidak umum tidak universal, karena fungsi tersebut bergantung pada sistem
yang sedang dipelajari. Setelah sebuah sistem ditetapkan, yaitu ... diketahui, langkah
selanjutnya meminimalkan fungsi tersebut.

Dengan mengacu pada

, dengan asumsi memiliki ungkapan yang dapat dipercaya untuk

dan
. Keberhasilan meminimalkan fungsi energi akan menghasilkan kerapatan
keadaan dasar dan semua keadaan dasar yang dapat teramati.
Permasalahan variasi dalam meminimalkan fungsi energi
dapat diselesaikan dengan
menerapkan metode Lagrangian dari pengali yang tidak dapat ditentukan, yang telah
dilakukan oleh Kohn dan Sham pada tahun 1965. Dengan metode ini, salah satu kegunaan
nyata fungsi tersebut dalam persamaan di atas dapat ditulis sebagai fungsi kerapatan fiktif
dari fungsi yang tidak berinteraksi.
,
Dengan

notasi untuk energi kinetik yang tidak berinteraksi dan

eksternal di mana partikel berpindah. Secara nyata,


menjadi:

adalah potensial efektif


jika

dipilih untuk

.
Sehingga, dapat menyelesaikan persamaan Kohn-Sham dari sistem pelengkap yang tidak
saling berinteraksi.

Yang menghasilkan orbital


partikel yang sebenarnya.

itu dihasilkan kembali kerapatan

dari sistem banyak-

.
Potensial partikel-tunggal efektif

dapat ditulis lebih detail sebagai :

,
Dengan notasi persamaan kedua disebut persamaan Hartree yang menjelaskan tolakan
Coulomd antar elektron-elektron, sedangkan persamaan terakhir
hubungan pertukaran. Dengan

disebut potensial

meliputi semua interaksi banyak partikel. Karena

persamaan Hartree dan


bergantung pada
, yang bergantung pada , yang
bergantung pula pada , masalah penyelesaian persamaan Kohn-Sham dapat dilakukan
dengan sebuah cara "self-consistent". Biasanya dimulai dengan perkiraan awal untuk

lalu menghitung kesesuaian dan penyelesaian persamaan Kohn-Sham untuk . Dari


perhitungan ini sebuah kerapatan baru dan mulai kembali. Prosedur ini diulang terus menerus
sampai konvergensi dicapai.

Pendekatan
Masalah utama dengan DFT adalah bahwa fungsi yang tepat untuk hubungan dan pertukaran
tidak diketahui kecuali untuk gas elektron bebas. Akan tetapi, pendekatan yang ada
membolehkan perhitungan kuantitas fisik tertentu secara akurat. Dalam fisika, pendekatan
yang digunakan secara luas adalah pendekatan kerapatan lokal (LDA), dengan fungsi yang
hanya bergantung pada kerapatan pada koordinat dengan fungsi yang telah dievaluasi.

Pendekatan kerapatan spin lokal (LSDA) adalah penyetaraan secara langsung dari LDA yang
meliputi spin elektron:

Tingginya akurasi rumusan untuk kerapatan energi hubungan-pertukaran


dibangun dari simulasi gas elektron bebas.

telah

Pendekatan penyetaraan gradien (GGA) masih tetap lokal, tetapi mempertimbangkan gradien
dari kerapatan pada koordinat yang sama:

Menggunakan (GGA) tersebut memberikan hasil yang sangat baik untuk geometri molekul
dan energi keadaan dasar yang telah dicapai. Banyak tambahan peningkatan perhitungan
telah dibuat untuk DFT dengan pengembangan yang lebih representatif dari fungsi.

Penyetaraan Relativistik
Penyetaraan relativistik untuk formalisasi DFT mengarahkan pada teori fungsi kerapatan
arus.

Aplikasi
Dalam kenyataannya, teori Koh-Sham dapat diaplikasikan dalam 2 cara yang berbeda yang
bergantung pada apa yang diteliti. Dalam keadaan padat, basis set gelombang datar
digunakan pada syarat batas berkala. Selain itu, tekanan besar diletakkan pada konsistensi
yang tepat dengan model idealisasi dari gas elektron seragam, yang memperlihatkan
perilaku yang sama untuk keadaan padat yang tanpa batas. Dalam fase gas dan cair, tekanan
ini sedikit mengalami pengurangan, karena gas elektron yang seragam tersebut merupakan
model yang lemah untuk perilaku atom atau molekul yang diskrit. Karena batasan yang
dikurangi, sebuah variasi besar dari fungsi hubungan-pertukaran telah dikembangkan untuk
aplikasi-aplikasi kimia. Yang paling populer dari fungsi tersebut dikenal sebagai B3LYP.
Parameter-parameter yang dapat terukur dari fungsi-fungsi tersebut umumnya dicobakan
untuk training set molekul. Walaupun hasil yang diperoleh dengan fungsi tersebut biasanya
relatif akurat untuk beberapa aplikasi, tidak ada cara sistematis untuk meningkatkannya
(berlawanan dengan beberapa metode yang didasarkan pada fungsi gelombang tradisional
seperti interaksi konfigurasi atau penggabungan metode "cluster"). Oleh karena itu, dalam
pendekatan DFT saat ini tidak mungkin untuk menghitung kesalahan perhitungan tanpa
membandingkannya dengan metode lain ataupun dengan eksperimen.

Pembahasan rapatan

VII. PEMBAHASAN
Berat jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat
pada suhu tertentu (biasanya pada suhu 25C tapi yang kita gunakan 27 C), sedangkan rapat

jenis adalah perbandingan antara bobot zat pada suhu tertentu ( dalam bidang farmasi
biasanya digunakan 25/25). Berat jenis didefenisikan sebagai perbandingan kerapatan suatu
zat terhadap kerapatan air. Harga kedua zat itu ditentukan pada temperatur yang sama, jika
tidak dengan cara lain yang khusus. Oleh karena itu, dilihat dari defenisinya, istilah berat
jenis sangat lemah. Akan lebih cocok apabila dikatakan sebagai kerapatan relatif. Berat jenis
adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni. Air
murni bermassa jenis 1 g/cm atau 1000 kg/m. Berat jenis merupakan bilangan murni tanpa
dimensi (Berat jenis tidak memiliki satuan), dapat diubah menjadi kerapatan dengan
menggunakan rumus yang cocok.
Dalam bidang farmasi kerapatan dan berat jenis suatu zat atau cairan digunakan sebagai salah
satu metode analisis yang berperan dalam menentukan senyawa cair, digunakan pula untuk
uji identitas dan kemurnian dari senyawa obat terutama dalam bentuk cairan, serta dapat pula
diketahui tingkat kelarutan/daya larut suatu zat. alat yang digunakan dalam percobaan ini
yaitu piknometer. Piknometer digunakan untuk mencari bobot jenis dan hidrometer
digunakan untuk mencari rapat jenis. Piknometer biasanya terbuat dari kaca untuk erlenmeyer
kecil dengan kapasitas antara 10ml-50ml..
Untuk melakukan percobaan penetapan bobot jenis, piknometer dibersihkan dengan
menggunakan aquadest, kemudian dibilas dengan alkohol untuk mempercepat pengeringan
piknometer kosong tadi. Pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa dari permbersihan,
karena biasanya pencucian meninggalkan tetesan pada dinding alat yang dibersihkan,
sehinggga dapat mempengaruhi hasil penimbangan piknometer kosong, yang akhirnya juga
mempengaruhi nilai bobot jenis sampel. Pemakaian alkohol sebagai pembilas memiliki sifatsifat yang baik seperti mudah mengalir, mudah menguap dan bersifat antiseptikum. Jadi sisasisa yang tidak diinginkan dapat hilang dengan baik, baik yang ada di luar, maupun yang ada
di dalam piknometer itu sendiri.
Piknometer kemudian dikeringkan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan
piknometer pada bobot sesungguhnya. Akhirnya piknometer ditimbang pada timbangan
analitik dalam keadaan kosong. Setelah ditimbang kosong, piknometer lalu diisikan dengan
sampel mulai dengan aquadest sebagai pembanding nantinya dengan sampel yang lain.
Pengisiannya harus melalui bagian dinding dalam dari piknometer untuk mengelakkan
terjadinya gelembung udara. Akhirnya piknometer yang berisi sampel tadi ditimbang.
Adapun keuntungan dari penentuan bobot jenis dengan menggunakan piknometer adalah
mudah dalam pengerjaan. Sedangkan kerugiannya yaitu berkaitan dengan ketelitian dalam
penimbangan. Jika proses penimbangan tidak teliti maka hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan hasil yang ditetapkan literatur. Disamping itu penentuan bobot jenis dengan
menggunakan piknometer memerlukan waktu yang lama.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bobot jenis suatu zat adalah :
1. Temperatur, dimana pada suhu yang tinggi senyawa yang diukur berat jenisnya
dapat menguap sehingga dapat mempengaruhi bobot jenisnya, demikian pula halnya
pada suhu yang sangat rendah dapat menyebabkan senyawa membeku sehingga sulit
untuk menghitung bobot jenisnya. Oleh karena itu, digunakan suhudimana biasanya
senyawa stabil, yaitu pada suhu 25oC (suhu kamar).
2. Massa zat, jika zat mempunyai massa yang besar maka kemungkinan bobot jenisnya
juga menjadi lebih besar.
3. Volume zat, jika volume zat besar maka bobot jenisnya akan berpengaruh tergantung
pula dari massa zat itu sendiri, dimana ukuran partikel dari zat, bobot molekulnya
serta kekentalan dari suatu zat dapat mempengaruhi bobot jenisnya.

PIKNOMETER
Massa jenis suatu zat dapat ditentukan dengan berbagai alat, salah satunya adalah
dengan menggunakan piknometer. Piknometer adalah suatu alat yang terbuat dari kaca,
bentuknya menyerupai botol parfum atau sejenisnya. Jadi dapat diartikan disini, piknometer
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis atau densitas
fluida. Terdapat beberapa macam ukuran dari piknometer, tetapi biasanya volume piknometer
yang banyak digunakan adalah 10 ml dan 25 ml, dimana nilai volume ini valid pada
temperature yang tertera pada piknometer tersebut. Berikut contoh gambar dari piknometer:
Bagian-bagian Piknometer, Adapun jenis atau bentuk piknometer yang kita ketahui itu terdiri
dari tiga bagian, yaitu:
1.Tutup piknometer, untuk mempertahankan suhu di dalam piknometer.
2. Lubang
3.Gelas atau tabung ukur, untuk mengukur volume cairan yang dimasukkan dalam
piknometer
Prinsip Kerja atau Cara Menggunakan Piknometer
Berikut tata cara menggunakan piknometer untuk menentukam massa jenis suatu zat:
1.Melihat berapa volume dari piknometernya (tertera pada bagiantabung ukur), biasanya
ada yang bervolume 25 ml dan 50 ml.
2.Menimbang piknometer dalam keadaan kosong.
3.Memasukkan fluida yang akan diukur massa jenisnya ke dalam piknomeer tersebut.
4.Menutup piknometer apabila volume yang diisikan sudah tepat.
5.Menimbang massa piknometer yang berisi fluida tersebut.
6.Menghitung massa fluida yang dimasukkan dengan cara mengurangkan massa pikno
berisi fluida dengan massa pikno kosong.
7.Setelah mendapat data massa dan volume fluidanya, kita dapat menentukan nilai
rho/masssa jenis () fluida dengan persamaan: rho () = m/V=(massa pikno+isi) (massa
pikno kosong) / volume. Adapun satuan yang biasanya di gunakan yaitu massa dalam satuan
gram (gr) dan volume dalam satuan ml = cm3
8.Membersihkan dan mengeringkan piknometer.
Piknometer AccuPyc seri II 1340 (Laboratory Desnsity meter)
Merupakan salah satu piknometer
yang cepat, analisis sepenuhnya otomatis yang
menyediakan kecepatan
tinggi, pengukuran presisi
tinggi volume dan perhitungan
kepadatan pada berbagai macam bubuk, padat, dan lumpur.
Piknometer ini menggunakan perpindahan gas untuk mengukur volume, AccuPyc 1340 dapat
menganalisis sampel
hanya dalam
waktu
kurang dari tiga menit. Instrumen ini dapat dioperasikan dengan tombol atau dapat juga
menggunakan sambungan ke komputer yang menyediakan pelaporan yang rinci dan
kemampuan pengarsipan. Kedua versi termasuk sampel masukan massa
langsung dari keseimbangan dan siklus pelaporan perpindahan berbasis volume.Dengan men
ggunakan sambungan ke Windows, fitur seperti pelaporan tekanan equilibrium berdasarkan
waktu dan perhitungan tambahan
seperti konten persen padatan dan volume pori total
disertakan.
Dalam pengukuran dengan ketelitian yang tinggi, AccuPyc II 1340 piknometer
dengan modul analisa
yang
terintegrasi dapat
mengendalikan
hingga lima modulanalisis tambahan eksternal. Setiap
modul dapat memiliki ruang ukuran sampel yang

berbeda (1 cm3, 10 cm3, 100 cm3, 350 cm3) memberikan fleksibilitas bahkan
lebih.
Piknometer jenis ini biasanya banyak digunakan dalam laboratorium besar karena alat ini
menggunakan ketelitian yang sangat tinggi dalam pengukurannya
.Piknometer Density Gradient Columns
Dirancang untuk mengukur densitas (g-cm3) dari padatan dengan
menggunakan
metode Density Gradient dengan bola dikalibrasi pada kepadatan yang telah diketahui.Jarak
operasi: 0,5 sampai 3 g- cm3. Akurasi: 4 angka signifikan. Tersedia dengan 1 sampai
6 kolom Model. Memenuhi ISO dan standar yang lainnya.

NERACA
Neraca Analitik
Adalah neraca yang digunakan untuk menimbang zat yang butuh ketelitian tinggi dan dalam
skala kecil/mikro (biasanya hingga 4 desimal 0,0001 gram) misal = meinmbang zat yang
digunakan untuk larutan standar primer
Neraca teknis = neraca yang digunakan untuk menimbang pereaksi dan dalam skala besar ( 2
desimal)
Neraca Analitik Digital
Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi,
neraca ini mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan
bekerja
dengan
neraca
ini
adalah:
Neraca analitik digital adalah neraca yang sangat peka, karena itu bekerja dengan neraca ini
harus
secara
halus
dan
hati-hati.
Sebelum mulai menimbang persiapkan semua alat bantu yang dibutuhkan dalam
penimbangan

Langkah
kerja
penimbangan
yang
meliputi:
a. Persiapan pendahuluan alat-alat penimbangan, siapkan alat dan zat yang akan ditimbang,
sendok,
kaca
arloji
dan
kertas
isap.
b. pemeriksaan pendahuluan terhadap neraca meliputi: periksa kebersihan neraca (terutama
piring-piring
neraca),
kedataran
dan
kesetimbangan
neraca.
c. penimbangan, dapat dilakukan setelah diperoleh keadaan setimbang pada neraca dan
timbangan pada posisi nol, demikian pula setelah penimbangan selesai posisi timbangan
dikembalikan seperti semula
Kalibrasi
a.
Pengontrolan
Neraca
Digital
Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang sudah terpasang
atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10 gr dan 100 gr. Timbangan/Neraca digital,
harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang
sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus
terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka nol harus dicek dan jika perlu
lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu kontrol, dimana pada lembar
tersebut tercantum pula berapa kali timbangan harus dicek. Jika timbangan tidak dapat
digunakan sama sekali maka timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier).
b. Penanganan Neraca

Kedudukan timbangan harus diatur dengan sekrup dan harus tepat horizontal dengan Spirit
level (waterpass) sewaktu-waktu timbangan bergerak, oleh karena itu, harus dicek lagi. Jika
menggunakan timbangan elektronik, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur.
Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, anda hanya dapat bekerja pada batas
temperatur
yang
ditetapkan.
Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka nol harus dicek
dan jika perlu lakukan koreksi. Setiap orang yang menggunakan timbangan harus
merawatnya, sehingga timbangan tetap bersih dan terawat dengan baik. Jika tidak, sipemakai
harus melaporkan kepada manajer lab. timbangan harus dikunci jika anda meninggalkan
ruang kerja.
c.Kebersihan Neraca
Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan menimbang
harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan
membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan
(pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan
menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol.
Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan
menggunakan anak timbangan.
Prosedur
pengoperasian
neraca
analitik
digital
terdiri
dari
Berikut adalah prosedur yang harus diharus diketahui dan harus dilakukan dalam
mengoprasikan
neraca
digital
sebelum
hingga
setelah
penimbangan:
1.
Keadaan
neraca
harus
siap
pakai
2.
Neraca
harus
bersih
(terutama
piring-piring
neraca)
3.
Anak
timbangan
dalam
keadaan
lengkap
4.
Persiapan
pendahuluan
terhadap
alat
bantu
penimbangan
5.
Pemeriksaan
kedataran
neraca
dan
kesetimbangan
neraca
6.
Pekerjaan
penimbangan
dan
perhitungan
hasil
penimbangan
7.
Melaporkan
hasil
penimbangan
8. Mengembalikan neraca pada keadaan semula
Proses Pengukuran
Secara umum proses menimbangan dengan neraca elektronik/digital adalah:
1.
Pastikan
bahwa
timbangan
sudah
menyala.
2. Pastikan timbangan menunjukkan angka nol( jika tidak perlu di koreksi).
3. Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda.
4. Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut.
5. Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit, karena hanya
dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan.
Langkah kerja penimbangan dengan neraca analitik meliputi:
1.
Persiapan
alat
bantu
penimbangan
Untuk
menimbang
zat
padat
diperlukan:
Kaca arloji yang kering dan bersih, digunakan untuk menampung kelebihan zat yang
ditimbang, karena kelebihan zat tidak boleh dikembalikan ke botol zat.

Sendok
(biasanya
sendok
plastik)
Kertas isap untuk memegang tempat menimbang pada saat memasukan/mengeluarkan alat
timbang
(dan
zat)
ke
atau
dari
dalam
neraca

Botol
timbang
sebagai
tempat
penimbangan

Zat yang akan ditimbang dan setelah penimbangan selesai, botol zat harus dikembalikan ke
tempatnya

PIKNOMETER
Massa jenis suatu zat dapat ditentukan dengan berbagai alat, salah satunya adalah
dengan menggunakan piknometer. Piknometer adalah suatu alat yang terbuat dari kaca,
bentuknya menyerupai botol parfum atau sejenisnya. Jadi dapat diartikan disini, piknometer
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis atau densitas
fluida. Terdapat beberapa macam ukuran dari piknometer, tetapi biasanya volume piknometer
yang banyak digunakan adalah 10 ml dan 25 ml, dimana nilai volume ini valid pada
temperature yang tertera pada piknometer tersebut. Berikut contoh gambar dari piknometer:
Bagian-bagian Piknometer, Adapun jenis atau bentuk piknometer yang kita ketahui itu terdiri
dari tiga bagian, yaitu:
1.Tutup piknometer, untuk mempertahankan suhu di dalam piknometer.
2. Lubang
3.Gelas atau tabung ukur, untuk mengukur volume cairan yang dimasukkan dalam
piknometer
Prinsip Kerja atau Cara Menggunakan Piknometer
Berikut tata cara menggunakan piknometer untuk menentukam massa jenis suatu zat:
1.Melihat berapa volume dari piknometernya (tertera pada bagiantabung ukur), biasanya
ada yang bervolume 25 ml dan 50 ml.
2.Menimbang piknometer dalam keadaan kosong.
3.Memasukkan fluida yang akan diukur massa jenisnya ke dalam piknomeer tersebut.
4.Menutup piknometer apabila volume yang diisikan sudah tepat.
5.Menimbang massa piknometer yang berisi fluida tersebut.
6.Menghitung massa fluida yang dimasukkan dengan cara mengurangkan massa pikno
berisi fluida dengan massa pikno kosong.
7.Setelah mendapat data massa dan volume fluidanya, kita dapat menentukan nilai
rho/masssa jenis () fluida dengan persamaan: rho () = m/V=(massa pikno+isi) (massa
pikno kosong) / volume. Adapun satuan yang biasanya di gunakan yaitu massa dalam satuan
gram (gr) dan volume dalam satuan ml = cm3
8.Membersihkan dan mengeringkan piknometer.
Piknometer AccuPyc seri II 1340 (Laboratory Desnsity meter)
Merupakan salah satu piknometer
yang cepat, analisis sepenuhnya otomatis yang
menyediakan kecepatan
tinggi, pengukuran presisi
tinggi volume dan perhitungan
kepadatan pada berbagai macam bubuk, padat, dan lumpur.
Piknometer ini menggunakan perpindahan gas untuk mengukur volume, AccuPyc 1340 dapat
menganalisis sampel
hanya dalam
waktu
kurang dari tiga menit. Instrumen ini dapat dioperasikan dengan tombol atau dapat juga
menggunakan sambungan ke komputer yang menyediakan pelaporan yang rinci dan
kemampuan pengarsipan. Kedua versi termasuk sampel masukan massa

langsung dari keseimbangan dan siklus pelaporan perpindahan berbasis volume.Dengan men
ggunakan sambungan ke Windows, fitur seperti pelaporan tekanan equilibrium berdasarkan
waktu dan perhitungan tambahan
seperti konten persen padatan dan volume pori total
disertakan.
Dalam pengukuran dengan ketelitian yang tinggi, AccuPyc II 1340 piknometer
dengan modul analisa
yang
terintegrasi dapat
mengendalikan
hingga lima modulanalisis tambahan eksternal. Setiap
modul dapat memiliki ruang ukuran sampel yang
berbeda (1 cm3, 10 cm3, 100 cm3, 350 cm3) memberikan fleksibilitas bahkan
lebih.
Piknometer jenis ini biasanya banyak digunakan dalam laboratorium besar karena alat ini
menggunakan ketelitian yang sangat tinggi dalam pengukurannya
.Piknometer Density Gradient Columns
Dirancang untuk mengukur densitas (g-cm3) dari padatan dengan
menggunakan
metode Density Gradient dengan bola dikalibrasi pada kepadatan yang telah diketahui.Jarak
operasi: 0,5 sampai 3 g- cm3. Akurasi: 4 angka signifikan. Tersedia dengan 1 sampai
6 kolom Model. Memenuhi ISO dan standar yang lainnya.

NERACA
Neraca Analitik
Adalah neraca yang digunakan untuk menimbang zat yang butuh ketelitian tinggi dan dalam
skala kecil/mikro (biasanya hingga 4 desimal 0,0001 gram) misal = meinmbang zat yang
digunakan untuk larutan standar primer
Neraca teknis = neraca yang digunakan untuk menimbang pereaksi dan dalam skala besar ( 2
desimal)
Neraca Analitik Digital
Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi,
neraca ini mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan
bekerja
dengan
neraca
ini
adalah:
Neraca analitik digital adalah neraca yang sangat peka, karena itu bekerja dengan neraca ini
harus
secara
halus
dan
hati-hati.
Sebelum mulai menimbang persiapkan semua alat bantu yang dibutuhkan dalam
penimbangan

Langkah
kerja
penimbangan
yang
meliputi:
a. Persiapan pendahuluan alat-alat penimbangan, siapkan alat dan zat yang akan ditimbang,
sendok,
kaca
arloji
dan
kertas
isap.
b. pemeriksaan pendahuluan terhadap neraca meliputi: periksa kebersihan neraca (terutama
piring-piring
neraca),
kedataran
dan
kesetimbangan
neraca.
c. penimbangan, dapat dilakukan setelah diperoleh keadaan setimbang pada neraca dan
timbangan pada posisi nol, demikian pula setelah penimbangan selesai posisi timbangan
dikembalikan seperti semula
Kalibrasi
a.
Pengontrolan
Neraca
Digital
Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang sudah terpasang
atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10 gr dan 100 gr. Timbangan/Neraca digital,

harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang
sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus
terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka nol harus dicek dan jika perlu
lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu kontrol, dimana pada lembar
tersebut tercantum pula berapa kali timbangan harus dicek. Jika timbangan tidak dapat
digunakan sama sekali maka timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier).
b. Penanganan Neraca
Kedudukan timbangan harus diatur dengan sekrup dan harus tepat horizontal dengan Spirit
level (waterpass) sewaktu-waktu timbangan bergerak, oleh karena itu, harus dicek lagi. Jika
menggunakan timbangan elektronik, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur.
Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, anda hanya dapat bekerja pada batas
temperatur
yang
ditetapkan.
Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka nol harus dicek
dan jika perlu lakukan koreksi. Setiap orang yang menggunakan timbangan harus
merawatnya, sehingga timbangan tetap bersih dan terawat dengan baik. Jika tidak, sipemakai
harus melaporkan kepada manajer lab. timbangan harus dikunci jika anda meninggalkan
ruang kerja.
c.Kebersihan Neraca
Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan menimbang
harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan
membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan
(pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan
menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol.
Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan
menggunakan anak timbangan.
Prosedur
pengoperasian
neraca
analitik
digital
terdiri
dari
Berikut adalah prosedur yang harus diharus diketahui dan harus dilakukan dalam
mengoprasikan
neraca
digital
sebelum
hingga
setelah
penimbangan:
1.
Keadaan
neraca
harus
siap
pakai
2.
Neraca
harus
bersih
(terutama
piring-piring
neraca)
3.
Anak
timbangan
dalam
keadaan
lengkap
4.
Persiapan
pendahuluan
terhadap
alat
bantu
penimbangan
5.
Pemeriksaan
kedataran
neraca
dan
kesetimbangan
neraca
6.
Pekerjaan
penimbangan
dan
perhitungan
hasil
penimbangan
7.
Melaporkan
hasil
penimbangan
8. Mengembalikan neraca pada keadaan semula
Proses Pengukuran
Secara umum proses menimbangan dengan neraca elektronik/digital adalah:
1.
Pastikan
bahwa
timbangan
sudah
menyala.
2. Pastikan timbangan menunjukkan angka nol( jika tidak perlu di koreksi).
3. Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda.
4. Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut.
5. Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit, karena hanya
dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan.
Langkah kerja penimbangan dengan neraca analitik meliputi:
1.

Persiapan

alat

bantu

penimbangan

Untuk
menimbang
zat
padat
diperlukan:
Kaca arloji yang kering dan bersih, digunakan untuk menampung kelebihan zat yang
ditimbang, karena kelebihan zat tidak boleh dikembalikan ke botol zat.

Sendok
(biasanya
sendok
plastik)
Kertas isap untuk memegang tempat menimbang pada saat memasukan/mengeluarkan alat
timbang
(dan
zat)
ke
atau
dari
dalam
neraca

Botol
timbang
sebagai
tempat
penimbangan
Zat yang akan ditimbang dan setelah penimbangan selesai, botol zat harus dikembalikan ke
tempatnya

PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS


OLEH : IMELDA SUNARYO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGEAHUAN ALAMUNIVERSITAS HASANUDDIN

ABSTRAK
Tel a h d i l a k u k a n p e n e l i t i a n p e n e n t u a n k e r a p a t a n d a n b o b o t j e n i s ,
d e n g a n m e t o d e neraca Wesphalt diperoleh hasil sebagai berikut: akuades
memiliki kerapatan 1,0561 g/cm 3
dan bobot jenis 1,0609 ; metanol memiliki kerapatan 0,8372 g/cm3

dan bobot jenis 0,8409 ;dan gliserol memiliki kerapatan 1,0760 g/cm 3
dan bobot jenis 1,0809. Sedangkan dengan metode piknometer diperoleh hasil sebagai
berikut: akuades memiliki kerapatan 0,9956 g/cm3
dan bobot jenis 1 ; metanol memiliki kerapatan 0,5103 g/cm 3
dan bobot jenis 0,9961 ; dang l i s e r o l m e m i l i k i k e r a p a t a n 1 , 0 5 6 2 g / c m 3
d a n b o b o t j e n i s 1 , 0 3 1 1 . S e d a n g k a n j i k a dibandingkan dengan teori,
gliserol memiliki kerapatan 1,1261 g/cm
pada suhu 25o
C,metanol memiliki kerapatan 0,7913 g/cm 3
pada suhu 20o
C , d a n a i r m e m i l i k i k e r a p a t a n 1,0000 g.cm -3
pada suhu 4oC.

PENDAHULUAN
Pengidentifikasian suatu zat kimia dapat diketahui berdasarkan sifat-sifat yang
khasdari zat tersebut. Sifat-sifat tersebut dapat dibagi dalam beberapa bagian
yang luas. Salahsatunya ialah sifat intensif dan sifat ekstensif. Sifat ekstensif adalah sifat
yang tergantung dariu k u r a n s a m p e l y a n g s e d a n g d i s e l i d i k i . S e d a n g k a n s i f a t
i n t e n s i f a d a l a h s i f a t ya n g t i d a k t e r g a n t u n g d a r i u k u r a n s a m p e l .
Kerapatan atau densitas merupakan salah satu dari sifat i n t e n s i f .
Dengan kata lain, kerapatan suatu zat tidak tergantung dari
u k u r a n s a m p e l . Kerapatan merupakan perbandingan antara massa dan volume
dari suatu senyawa. Makin b e s a r v o l u m e d a n m a s s a d a r i s u a t u
s e n y a w a , m a k i n k e c i l k e r a p a t a n n y a . B e g i t u j u g a sebaliknya, makin kecil
volume dan massa suatu senyawa, kerapatannya makin besar.
TINJAUAN PUSTAKA
Volume gas akan berubah dengan adanya perubahan suhu dan tekanan.
Karenanya, berat jenis gas juga akan berubah bila suhu dan tekanan berubah.
Semakin tinggi tekanans u a t u j u m l a h t e r t e n t u g a s p a d a s u h u y a n g k o n s t a n
a k a n m e n ye b a b k a n v o l u m e m e n j a d i semakin kecil dan akibatnya berat jenis akan
semakin besar (Bird, 1993)