Anda di halaman 1dari 48

MAULIDA ANGRAINI

PARTUS PREMATURUS
IMMINENS

Prematuritas

6-15% dari seluruh


persalinan
Amerika Serikat: 11,5% terjadi
tiap tahunnya
75% mortalitas
50% ggn. Neurologis
jangka panjang

Penyebab utama mortalitas


dan morbiditas perinatal di
seluruh dunia.
70% kematian prenatal atau
neonatal.
Morbiditas jangka panjang
(RM, gangguan perkembangan, CP,
seizure disorder, kebutaan,
hilangnya pendengaran, dan
gangguan non-neurologi seperti
penyakit paru kronis, dan retinopati)

Pemahaman yang lebih baik


mengenai prematuritas
Program yang akurat untuk
mengidentifikasi wanita yang
berisiko mengalami prematuritas

Keberhasilan menurunkan angka


morbiditas dan mortalitas perinatal
yang berhubungan dengan
prematuritas

Definisi

Prematurit
as
Epidemiolog
i

persalinan yang berlangsung pada


kehamilan 20-37 minggu dengan BBL
< 2500 gram

6-10% dari seluruh persalinan


1,5-5% pada kehamilan <32 minggu
0,5% pada kehamilan <28 minggu 2/3
dari kematian neonatal

Etiologi dan Faktor Risiko

Umur Ibu (<20 th & >35 th)


Sosial Ekonomi (status sosek rendah)
Penyakit Penyulit yang Menyertai Kehamilan ( Pre-Eklampsia,
Korioamnionitis, KPD, Grandemultipara, Riw. Persalinan Lalu)
Penyebab lain
Janin dan Plasenta ( Cacat Bawaan Janin, Gemeli, Polihidramnion)
Ibu (DM, ISK, Stres Psikologik, Trauma, Perokok Berat, Kelainan
Imunologi, dll.)

Patofisiolo
gi

Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala persalinan prematur adalah sebagai berikut
Kram hebat seperti pada saat menstruasi.
Nyeri atau tekanan supra pubis.
Nyeri tumpul pada punggung bawah berbeda dari nyeri punggung bawah
yang biasa dialami oleh wanita hamil.
Sensasi adanya tekanan atau berat pada pelvis.
Perubahan karakter atau jumlah rabas vagin (lebih kental, lebih encer, berair,
berdarah, berwarna cokelat, tidak berwarna).
Diare.
Kontraksi uterus tidak dapat dipalpasi (nyeri hebat atau tidak nyeri) yang
dirasakan lebih sering dari setiap 10 menit selama 1 jam atau lebih dan tidak
mereda dengan tidur berbaring.
Ketuban pecah dini.

Penegakkan
Diagnosis

American College of Obtetricians and Gynecologist


1997 menyampaikan kriteria persalinan preterm, yaitu
terdapat 4 kontraksi uterus dalam waktu 20 menit
atau 8 dalam 60 menit disertai dengan perubahan
progresif pada serviks, dilatasi serviks lebih dari 1
cm, dan pendataran serviks lebih dari 80%.

Berikut ini kriteria diagnosis untuk persalinan preterm


(Wiknjosastro,2010):
Usia kehamilan 20-37 minggu atau 140-259 hari
His teratur, setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam 10
menit
Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah
mendatar 50-80%, atau sedikitnya 2 cm
Selaput ketuban seringkali telah pecah
Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku
menstruasi, rasa tekanan intrapelvik dan nyeri bagian
belakang
Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah
Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika

Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan Laboratorium:
CRP > 0,7 mg/ml
Leukosit dalam serum ibu > 13000/ml
Pemeriksaan kultur urin
Fibronektin janin; Pada kehamilan lebih dari 24 minggu, kadar
fibronektin janin lebih dari 50 g/mL mengindikasikan resiko
persalinan preterm.
Corticotropin Releasing hormone (CRH)
Sitokin Inflamasi berperan dalam sintesis PGE
Isoferitin plasenta menurun risiko PPI
Amniosentesis; Hitung leukosit (20 mL/lebih), pewarnaan Gram bakteri (+)
pasti amnionitis, kadar IL-1, IL-6, kadar glukosa cairan amnion.
Pemeriksaan Ultrasonografi; oligohodramnion, penipisan serviks,
kardiotopografi

Parameter-parameter yang dipakai untuk


memprediksi persalinan prematur:
1. Bishops Score
Nilai
Dilatasi
serviks
Penipisan

1-2

3-4 cm

>4

0-30%

cm
40-

60-70%

cm
>70

serviks
Station
Konsistensi

50%
-3

-2

-1

Kenyal

Mediu

Lunak

Anterior

serviks
Posisi
serviks

m
Posteri Medial
or

memprediksi
terjadinya
persalinan
prematur

Skor >5 76% premat

Parameter-parameter yang dipakai untuk


memprediksi persalinan prematur:
2. Skor tokolitik menurut
Baumgarten
Nilai
1
2
3

Kontrak

Tidak

Teratur

si
Ketuban

teratur
Utuh

Pecah

Pecah

diatas

dibawah/tidak
jelas

Perdara

Spotting

Banyak

han

Dilatasi
serviks

1cm

2cm

3cm

4cm

memprediksi
persalinan
prematur dengan
atau tanpa adanya
ketuban pecah dini
Skor <3 10%
prematur
Skor >4 85%
prematur

Penatalaksanaan
1. Rehidrasi dan Tirah Baring
500 cc RL IV dalam 30 dan 8-12 mg morfin sulfa IM
tidur dengan posisi kaki lebih tinggi (berbaring)
*tirah baring 3 hari berturut-turut hati-hati tromboemboli

Kortikosteroid
a.Betametason: 2x12mg IM
b.Deksametason: 4x6 mg IM
Antibiotika
a.eritromisin 3x500 mg
selama 3 hari
b.ampisilin 3x500 mg
selama 3 hari

Tokolitik
a.CCB: Nifedipin 10 mg, 2-3x/jam,
dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi
hilang
b.Obat -mimetik: salbutamol, terbutalin
c.Magnesium sulfat dan antiprostaglandin
(indometasin) jarang dipakai karena
efek samping pada ibu dan janin.

2. Medikamentosa

Indikasi Mutlak Persalinan


Prematur

Faktor Maternal
-

Penyakit hipertensi berat (contoh: serangan akut hipertensi kronik,


eklampsia, preeklampsia berat).

Penyakit paru atau jantung (contoh: edema paru, ARDS, penyakit katup
jantung, takiaritmia).

Dilatasi serviks progresif (>4 cm)

Perdarahan maternal (contoh: solutio plasenta, plasenta previa, DIC)

Faktor Fetal
-

Kematian janin atau anomali letal

Gawat janin

Infeksi intrauterin (korioamnionitis)

Terapi yang merugikan janin (contoh: gawat janin akibat induksi persalinan)

Perkiraan berat janin >2500 gram

Eritoblastosis fetalis

IUGR berat

Rekomendasi Penatalaksanaan Persalinan Preterm:


Konfirmasi diagnosis persalinan preterm
<34 minggu dan dilatasi >4 cm tanpa indikasi terminasi kehamilan
observasi ketat his dan djj serta VT serial (memantau pembukaan
serviks)
<34 minggu kortikosteroid
<34 minggu dan dilatasi <4 cm tokolitik, kortikosteroid, dan
antibiotik
>34 minggu observasi kemajuan persalinan
Dilatasi serviks >4 cm antibiotik profilaksis infeksi Streptococcus
pada neonatus

Persiapan Persalinan:
> 34 minggu : dapat melahirkan di tingkat dasar/primer, mengingat
prognosis relatif baik.
< 34 minggu : rujuk ke RS dengan fasilitas neonatus yang memadai

Presentasi kepala : pervaginam dengan episiotomi lebar dan perlindungan


forseps terutama pada bayi <35 minggu
Indikasi seksio sesarea:
Janin sungsang
TBJ < 1500 gram (masih kontroversial)
Gawat janin, bila syarat pervaginam tidak terpenuhi
Infeksi intrapartum dengan takikardi janin, gerakan janin melemah,
oligohidramnion, dan cairan amnion berbau bila syarat pervaginam tidak
terpenuhi
Kontraindikasi partus pervaginam lain (letak lintang, plasenta previa, dan
sebagainya)

Lindungi bayi dengan handuk


hangat, usahakan suhu 36-37 C
(rawat intensif di bagian NICU),
perlu dibahas dengan dokter
bagian anak. Bila bayi ternyata
tidak mempunyai kesulitan
(minum, nafas, tanpa cacat) maka

perawatan cara kangguru


dapat diberikan agar lama
perawatan di rumah sakit
berkurang.

Prognosis:
Usia Gestasi

Berat Lahir (gram)

Harapan Hidup (%)

24-25

500-750

60

26-27

751-1000

75

28-29

1001-1250

90

30-31

1251-1500

96

32-33

1501-1750

99

>34

1751-2000

100

(minggu)

Sumber: DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. 2007.


Current Diagnosis and Treatment Obstetrics & Gynecology 10 th Edition.
USA. McGraw-Hill Companies.

Komplikasi:
Pada ibu:
Infeksi endometrium sepsis
Lambatnya penyembuhan luka episiotomi

Pada
bayi
Komplikasi jangka pendek:
RDS (Respiratory Distress
Syndrome)
Perdarahan
intra/periventrikular
NEC (Necrotizing Entero
Cilitis),
Displasi bronko-pulmonar
Sepsis
Paten Duktus Arteriosus.

Komplikasi jangka panjang:


Serebral palsi
Retinopati
Retardasi mental
Disfungsi neurobehavioral
dan prestasi sekolah yang
kurang baik.

bayi yang lahir dari ibu yang menderita


anmionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali
lebih besar

Pencegahan:
Pendidikan masyarakat tentang prematuritas
Hindari:
Kehamilan muda
Jarak kehamilan dekat
Kerja berat
ANC yang berkualitas
Tidak merokok maupun napza
Nutrisi yang baik cegah gizi buruk dan anemia
Obati penyakit yang dapat menyebabkan persalinan
preterm.
Lakukan penanganan pada infeksi genital/saluran
kemih.
Deteksi dan pengamanan faktor risiko terhadap
persalinan preterm.

TERIMAKASIH

Abortus

Abortus adalah...

Patofisiologi abortus

Pengeluaran
janin dari
dalam rahim

Nyeri
perut
bagian
bawah
Nyeri
punggung

Perdaraha
n dari
kemaluan

Manifestasi klinis...
Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan
hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva
b. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau
sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari
ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk
dari ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai/
lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas

tidak menonjol dan tidak nyeri.

Berdasarkan kejadiannya

Pembagian abortus berdasarkan alasan


terjadinya:
1. Abortus spontan / alamiah
Terjadi pada usia kehamilan 12 minggu
Penyebab:
a. Faktor fetus (aborsi pada minggu ke-12):
kegagalan perkembangan embrio, kesalahan
implantasi pada ovum yang dibuahi,
kegagalan endometrium untuk menerima
ovum yang dibuahi

Abortus spontan

Penyebab:
b. Faktor plasenta (abortus pada minggu ke-14):
implantasi plasenta abnormal.

c. Faktor maternal (abortus pd minggu ke-11


sampai 19): infeksi maternal (sifilis,
toxoplasmosis, brucellosis, rubella, penyakit
sitomegali), masalah endokrin, trauma, faktor
imun (antibodi antifosfolipid), pemakaian
obat-obatan (kokain)

2. Abortus Terapeutik
Tujuan: melindungi kehidupan/ kesehatan ibu
Indikasi:
- Kehamilan mengancam jiwa wanita (penyakit
jantung kelas III/ IV)
- Kehamilan akibat hubungan dengan
saudara kandung (incest)
- Bila diteruskan akan menghasilkan keturunan
dengan kelainan herediter, deformitas fisik,
atau retardasi mental

3. Abortus Elektif

Dilakukan berdasarkan permintaan ibu, tapi bukan karena alasan


mengancam jiwa ibu/ penyakit pada janin.

Alasannya karena anak hasil perkosaan/ pasangan tidak


bertanggung jawab

Masalah etik, moral, hukum, agama

Tipe-tipe abortus spontan

Tipe-tipe abortus spontan


1. Abortus yang mengancam
(threatened abortion)
Perdarahan dari rahim
sebelum kehamilan
mencapai usia 20 minggu,
janin masih berada di dalam
rahim tanpa disertai
pembukaan dari leher rahim.

- Manifestasi klinis:
adanya bercak
darah,serviks menutup, kram
ringan pada uterus, nyeri
punggung/ perasaan ada
tekanan pada pelvis
- Penanganan: kaji riwayat
kehamilan, USG, evaluasi
ketidaknyamanan, sarankan
ibu membatasi aktivitas
seksual, cegah stres, dan
tirah baring.

Tipe-tipe abortus spontan


2. Abortus insipiens/ tidak dapat dihindari
perdarahan dari rahim pada kehamilan sebelum 20 minggu, ada
pembukaan serviks, namun janin masih berada di dalam rahim.
- Manifestasi klinis:
terjadi kontraksi uterus dan perdarahan. Perdarahan besar/ infeksi
bisa terjadi bila fetus tidak keluar secara tiba-tiba.
- Penanganan: kuretase

Tipe-tipe abortus spontan


3. Abortus tidak lengkap/ incomplete abortus
janin sebagian sudah keluar akan tetapi masih ada sisa yang tertinggal
di dalam rahim.
- Manifestasi klinis:
perdarahan uterus dan kram perut yang parah, serviks terbuka dan
menjadi jalan lahir untuk fetus dan jaringan plasenta.
- Penanganan: kuretase.

Tipe-tipe abortus spontan


4. Abortus lengkap
pengeluaran lengkap seluruh hasil konsepsi.
- Manifestasi klinis:
Setelah semua bagian janin sudah keluar, uterus berkontraksi,
perdarahan berkurang, dan serviks tertutup, uterus menjadi lebih
kecil dari usia kehamilan.
- Penanganan: biasanya tidak ada pengobatan yang diperlukan.
Ibu istirahat dan memantau adanya perdarahan, nyeri, atau demam.

Tipe-tipe abortus spontan


5. Missed abortion
janin telah mati tetapi tidak menimbulkan abortus spontan.
- Manifestasi klinis:
Ketika fetus mati, tandanya awal kehamilan (mual, payudara
lembek, frekuensi urin) tidak muncul. Uterus akan berhenti
tumbuh dan terus menurun ukurannya.
- Penanganan:
USG konfirmasi kematian janin. Pengobatan ditunda sampai 1
bln agar terjadi abortus spontan.

Tipe-tipe abortus spontan


6. Recurrent spontaneous abortion/ habitual abortion
Abortus berulang selama 3x atau lebih, disebabkan
masalah genetik dan anomali sistem reproduksi, fase luteal
inadekuat (ketidakcukupan sekresi progesteron) & faktor
imunologik.
- Penanganan:
1. Pemeriksaan serviks melihat kelainan anatomi
2. Tes genetik
7. Abortus septik
Abortus spontan dapat diikuti dengan komplikasi infeksi
(endometritis, yang bisa berkembang menjadi peritonitis)

Tipe

Jumlah

Kram

Jaringan yang

Jaringan di

Mulut serviks

abortus

perdarahan

rahim

keluar

vagina

internal

Ukuran rahim

1. Abortus yang mengancam (Threatened abortion)

Sedikit

Tidak ada

Tidak ada

Tertutup

Sesuai usia kehamilan

Sedang

Tidak ada

Tidak ada

Terbuka

Sesuai usia kehamilan

Berat

Ada

Mungkin ada

Terbuka dengan

Lebih kecil dari

Ringan

2. Tidak dapat dihindari (Insipiens abortion)

Sedang
3. Tidak komplet (incomplete abortion)

Banyak

jaringan di dalam usia kehamilan


serviks
4. Komplet (complete abortion)

Sedikit

Ringan

Ada

Mungkin ada

Tertutup

Lebih kecil dari


usia kehamilan

5. Missed

Sedikit

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tertutup

Lebih kecil dari


usia kehamilan

6. Septik (recurrent)

Bervariasi, biasanya Bervariasi,

Bervariasi,

Bervariasi,

Biasanya

Sesuai atau lebih

berbau, disertai

disertai

disertai demam

disertai demam

terbuka, disertai

kecil disertai nyeri

demam

demam

demam

tekan

Proses aborsi untuk mengeluarkan fetus dari


dalam uterus

Komplikasi apabila janin tidak


dikeluarkan

1. Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi


2. Pada missed abortion dengan retensi
lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan
pembekuan darah