Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan oleh
masyarakat. Dengan pola hidup yang sehat seseorang dapat menjalani dan
melakukan aktivitasnya dengan baik. Selain oleh diri sendiri, upaya
meningkatkan kesehatan dapat ditunjang dengan bantuan pelayanan
kesehatan diantaranya Rumah Sakit, Balai Pengobatan, Puskesmas,
Posyandu, Apotek dan lain-lain.
Apotek merupakan salah satu sarana yang diperlukan dalam
menunjang upaya pelayanan kesehatan. Apotek adalah suatu media praktek
kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi. Sediaan farmasi adalah obat,
bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Perbekalan kesehatan lainnya
yakni berupa semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan.
Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan dibidang
kefarmasian melalui keahlian yang diperolehnya selama pendidikan. Sifat
yang berlandaskan ilmu pengetahuan ini memberikan semacam otoritas
dalam berbagai aspek obat atau proses kefarmasian yang tidak dimiliki oleh
tenaga kesehatan lainnya.
Seorang farmasis memegang peranan yang sangat penting dalam
peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada pasien
(Patient Oriented). Peningkatan mutu pelayanan ini dapat dilakukan melalui
suatu proses pelayanan kefarmasian.
Oleh karena itu seorang tenaga kerja kefarmasian harus memiliki
pengetahuan mendalam tentang obat, terlatih dan memiliki keterampilan
dalam hal berkomunikasi serta dapat mengembangkan diri sebagai tenaga
kesehatan yang profesional berdasarkan nilai nilai yang dapat menunjang
upaya pembangunan kesehatan.
Kegiatan magang ini dilaksanakan untuk dapat mengasah pengetahuan
mahasiswa/mahasiswi farmasi dalam proses pelayanan kefarmasian kepada

I.2

masyarakat.
Maksud Pelaksanaan Magang
Maksud dilaksanakannya kegiatan magang ini agar mahasiswa dapat
mengetahui secara langsung proses pelayanan kefarmasian di apotek dan

menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kesehatan dibidang


I.3

farmasi.
Tujuan Pelaksanaan Magang
Memahami sistem manajemen Apotek Afiah Farma
Mengetehui pelaksanaan pelayanan kefarmasian khususnya konsultasi

dan konseling di Apotek Afiah Farma


Mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi di Apotek Afiah
Farma.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Apotek

Apotek

adalah

tempat

dilakukan pekerjaan

kefarmasian

dan

penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan kesehatan lainnya kepada


masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 2002). Menurut PP No.51 Tahun
2009, Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukannya
praktek kefarmasian oleh Apoteker. Dalam hal ini seorang apoteker
bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan suatu apotek. Supaya
pelayanan terhadap obat-obatan dalam masyarakat lebih terjamin baik dalam
segi keamanan maupun dalam segi kualitas dan kuantitasnya.
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien. Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi
obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
II.2 Peraturan

dan

Perundang-undangan

Tentang

Apotek/Tenaga

Kesehatan
Pada peraturan ini mengalami beberapa kali perubahan, yang pertama
kali berlaku adalah perundang-undangan pada zaman Belanda (DVG
Regleme) pasal 58 dan seterusnya. Pada tahun 1963 Pemerintah Indonesia
menerbitkan UU No.7 Tahun 1965 mengenai pengelolaan dan perizinan
Apotek dan kemudian peraturan ini disempurnakan oleh PP No. 25 tahun
1980 beserta petunjuk pelaksanaan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.
278 tahun 1981 tentang persyaratan Apotek No. 279 tahun 1981 tentang
ketentuan dan tatacara pengelolaan Apotek, SK Menkes RI No. 1332/
Menkes/ SK/ 2002, kemudian peraturan yang dipakai sampai saat ini adalah
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 pada Tahun 2009.
Berikut peraturan perundang-undangan mengenai Apotek dan Tenaga
Teknis Kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 tahun 2009 :
Pasal 33

Tenaga Kefarmasian terdiri atas :


1. Apoteker, dan
2. Tenaga Teknis Kefarmasian
Tenaga Teknis Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b terdiri dari Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis
Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
Pasal 34
1. Tenaga Kefarmasian melaksanakan pekerjaan Kefarmasian pada :
Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi berupa Industri Farmasi Obat,
Industri Bahan Baku Obat, Industri Obat Tradisional, Pabrik
Kosmetika dan Pabrik lain yang memerlukan Tenaga Kefarmasian
untuk menjalankan tugas dan fungsi produksi serta pengawasan
mutu.
Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi dan alat
kesehatan melalui Pedagang Besar Farmasi, penyalur alat
kesehatan, instalasi sediaan farmasi dan alat kesehatan milik
pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota, dan/atau
Fasilitas pelayanan kefarmasian melalui praktek di Apotek,
instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, Toko Obat,
dan Praktek Bersama.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian
dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 35
1. Tenaga Kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 harus
memiliki keahlian dan kewenangan dalam melaksanakan pekerjaan
kefarmasian.
2. Keahlian dan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dilaksanakan dengan menerapkan Standar Profesi.
3. Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) harus didasarkan pada Standar Kefarmasian, dan Standar Prosedur
Operasional yang berlaku sesuai fasilitas kesehatan dimana Pekerjaan
Kefarmasian dilakukan.
4. Standar Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 38

1. Standar pendidikan Tenaga Teknis Kefarmasian harus memenuhi


ketentuan perundang-undangan yang berlaku di bidang pendidikan.
2. Peserta didik Tenaga Teknis Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) untuk dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian harus
memiliki Ijazah dari Institusi Pendidikan sesuai peraturan perundangundangan.
3. Untuk dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), peserta didik yang telah memiliki ijazah
wajib memperoleh rekomendasi dari Apoteker yang memiliki STRA
di tempat yang bersangkutan bekerja.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51,
Pasal 5 tahun 2009, tentang Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian
meliputi:
a) Pekerjaan Kefarmasian dalam Pengadaan Sediaan Farmasi;
b) Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan Farmasi;
c) Pekerjaan Kefarmasian dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan
Farmasi.
d) Pekerjaan Kefarmasian dalam Pelayanan Sediaan Farmasi.

II.3 Tugas dan Fungsi Apotek


Tugas dan Fungsi Apotek menurut Peraturan Pemerintah No. 25
Tahun 1980 pasal 2 berbunyi :
1) Tempat Pengabdian Profesi Apoteker atau Ahli Madya Farmasi yang
telah mengucapkan Sumpah Jabatannya dan yang telah memiliki Surat
Izin Kerja.
2) Sarana Farmasi yang melaksanakan peracikan, perubahan bentuk dan
penyerahan obat ataupun bahan obat.
3) Sarana penyaluran pembekalan farmasi yang harus menyebarkan obat
secara luas dan merata kepada masyarakat.
II.4 Persyaratan Pendirian Apotek dan Pencabutan Izin Apotek
1. Persyaratan utama untuk mendapatkan Izin Apotek
A. Bangunan Apotek

1) Bangunan Apotek sekurang-kurangnya memiliki ruangan


untuk penerimaan resep dan penyerahan obat, ruang racik,
ruang administrasi dan ruang kerja Apoteker, ruang tempat
pencucian alat/wastafel, WC.
2) Kelengkapan Bangunan Apotek terdiri atas sumber air : bisa
berasal dari sumur/PAM/sumur pompa
B. Perlengkapan Apotek
1) Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan terdiri dari mortir,
timbangan, termometer, gelas ukur, erlemeyer, gelas piala,
corong, cawan, dan lain-lain.
2) Perlengkapan dan alat pembekalan farmasi terdiri dari lemari
pendingin, rak obat, botol, pot salep, dan lain-lain.
2. Pencabutan Izin Apotek
Surat Izin Apotek dapat dicabut oleh Kepala Kantor Wilayah apabila :
a) Apoteker tidak dapat lagi memenuhi persyaratan sebagai Apoteker
Pengelola Apotek.
b) Apoteker tersebut tidak memenuhi kewajibannya dalam hal
penyediaan, penyimpanan, dan penyerahan semua pembekalan
farmasi.
c) Apoteker Pengelola Apotek berhalangan dalam melakukan
tugasnya lebih dari dua tahun secara terus menerus.
d) Terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan
yang berlaku tentang Narkotika, Obat Keras, dan ketentuan
perundang-undangan lainnya yang terjadi di Apotek.
e) Surat Izin Apoteker Pengelola Apotek dicabut oleh pihak yang
berwenang.
f) Pemilik Sarana Apotek terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat.
g) Apotek yang dikelola tidak lagi memenuhi ataupun tidak bisa
mencukupi semua persyaratan apotek.
Pencabutan Surat Izin Apotek dilakukan setelah adanya peringatan
tertulis sebanyak tiga kali berturut-turut selama 6 bulan setelah
penetapan pembakuan izin Apotek. Pembakuan ini dapat dicairkan lagi
setelah Apotek dapat menyelesaikan seluruh persyaratan yang telah
ditentukan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan

pelaksanaan Pemberian Izin, Pencairan Izin, Pencabutan Izin Apotek


sekali setahun kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Apabila surat izin ini dicabut Apoteker Pengelola Apotek ataupun
Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasinya,
mengamankan tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Melakukan investigasi terhadap semua persediaan Narkotika, Obat
Keras Tertentu (OKT), dan obat-obat lainnya beserta seluruh resep
yang ada di Apotek.
2. Untuk Narkotika, Psikotropika, dan semua resep disimpan pada
satu tempat yang aman, tertutup rapat dan terkunci.
3. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau kepada
Petugas yang diberikan wewenang tentang penghentian kegiatan
yang disertai laporan investigasi.
II.5 Peran dan Fungsi Tenaga Teknis Kefarmasian/Asisten Apoteker di
Apotek
Asisten Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK) yang
dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang menjadi salah satu tenaga
kefarmasian yang selalu bekerja dibawah pengawasan seorang Apoteker.
Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker dan Asisten
Apoteker di Apotek haruslah sesuai dengan Standar Profesi yang
dimilikinya dimana seorang Apoteker dan Asisten Apoteker dituntut oleh
masyarakat/pasien harus bersifat profesional dan ramah.
Tugas Asisten Apoteker menurut keputusan Menteri Kesehatan R.I
No.1332/MenKes/SK/2002 sebagai berikut :
1. Melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan standar
profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat serta melayani
penjualan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter.
2. Memberi informasi :
a. Yang berkaitan dengan penggunaan/pemakaian

obat

yang

diserahkan kepada pasien.


b. Penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional atas permintaan
masyarakat.
c. Dilakukan dengan benar, jelas, dan mudah dimengerti.

d. Dilakukan sesuai dengan kebutuhan, selektif, etika, bijaksana, dan


hati-hati.
3. Informasi yang diberikan kepada pasien sekurang-kurangnya meliputi :
a. Cara pemakaian dan penggunaan obat
b. Cara penyimpanan
c. Jangka waktu pemakaian obat
d. Hal-hal yang perlu dilakukan dan dihindari selama pemakaian obat
dan informasi lain yang diperlukan.

Hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang Asisten Apoteker :


a) Menghormati hak pasien dan menjaga kerahasiaan identitas serta
data kesehatan pribadi pasien.
b) Melakukan pengelolaan Apotek meliputi :
c) Pembuatan, pengolahan, peracikan,

pengubahan

bentuk,

pencampuran, penyimpanan, dan penyerahan obat dan bahan obat.


d) Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan sediaan
farmasi lainnya.
e) Pelayanan farmasi mengenai sediaan farmasi.
II.6 Pengelolaan Apotek
Pengelolaan Apotek meliputi hal-hal sebagai berikut :
Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan, dan penyerahan obat dan bahan obat.
Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan sediaan farmasi
lainnya.
Pelayanan farmasi mengenai informasi sediaan farmasi berdasarkan
kemampuan dan kebutuhan masyarakat.
Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan,
bahaya, dan mutu dari obat dan produk farmasi lainnya.
Dan disamping itu semua produk farmasi yang sudah tidak dapat
digunakan lagi dilarang untuk digunakan (kadaluwarsa) harus dimusnahkan
dengan cara dibakar atau dengan cara yang telah ditetapkan oleh Badan
POM. Pemusnahan ini dilakukan langsung oleh Apoteker dan dibantu

sekurang-kurangnya oleh karyawan Apotek dan wajib dibuat daftar berita


acara pemusnahan.
II.7 Jenis-jenis Pajak di Apotek
Jenis-jenis pajak yang dikenakan kepada Apotek :
1. Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah :
Pajak Reklame/Iklan dan Papan Nama Apotek
Surat Keterangan Izin Tempat Usaha (SKITU)
Pajak Kendaraan Dinas Apotek
Pajak Parkir Lokasi Apotek
2. Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat :
Materai
Pajak Bumi Dan Bangunan
Pajak Perseroan
Pajak Pendapatan
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Atas Bunga, Deviden, dan Royalty (PDBR)
II.8 Personalia Apotek
Sikap karyawan yang baik, ramah dan cepat melayani pembeli,
mengenal pasien di daerah sekeliling apotek sebanyak mungkin dapat
membangkitkan kesan baik, sehingga peran karyawan sangat penting dalam
laba yang diinginkan atau direncakan. Untuk mendapatkan karyawan yang
baik di dalam apotek, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan :
a. Mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan
b.

Mendorong para karyawan untuk bekerja lebih giat

c. Memberi dan menempatkan mereka sesuai dengan pendidikannya


d.

Merekrut calon karyawan dan mendidik sebagai calon pengganti yang


tua.

II.9 Pengertian Obat


1. Obat Bebas

Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli


tanpa resep dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam,
mengelilingi bulatan berwarna hijau. Dalam kemasan obat disertakan

10

brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis,
aturan pakai, efek samping ,nomor batch, nomor registrasi, nama dan
alamat pabrik, serta cara penyimpanannya. penandaan akan berubah pada
produk obat bebas terbatas.
Contoh Obat Bebas adalah Paracetamol, Aspirin, Promethazine,
Guafenesin, Bromhexin HCL, Chlorpheniramine maleate (CTM),
Dextromethorphan, Zn Sulfate, Proliver, Tripid, Gasflat, Librozym
(penyebutan merk dagang, karena obat tersebut dalam kombinasi)
2. Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas yaitu obat yang


digunakan untuk mengobatipenyakit ringan yang dapat dikenali oleh
penderita sendiri. Obat bebas terbatas termasuk obat keras dimana pada
setiap takaran yang digunakan diberi batas dan pada kemasan ditandai
dengan lingkaran hitam mengelilingi bulatan berwarna biru serta sesuai
dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.6355/Dirjen/SK/69
tanggal 5 November 1975, disertai tanda peringatan P. No.1 sampai P.
No. 6 dan harus ditandai dengan etiket atau brosur yang menyebutkan
nama obat yang bersangkutan, daftar bahan berkhasiat serta jumlah yang
digunakan, nomor batch, tanggal kadaluarsa, nomor registrasi, nama dan
alamat produsen, petunjuk penggunaan, indikasi, cara pemakaian,
peringatan serta kontra indikasi.
Khusus untuk obat bebas terbatas, selain terdapat tanda khusus
lingkaran biru, diberi pula tanda peringatan untuk aturan pakai obat,
karena hanya dengan takaran dan kemasan tertentu obat ini aman
digunakan untuk pengobatan sendiri.

11

Tanda peringatan tersebut berupa empat persegi panjang dengan


huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari 6 macam yaitu P No. 1, P
No. 2, P No. 3, P No. 4, P No. 5, dan P No. 6 sebagai berikut :

Contoh Obat Bebas Terbatas : Theophiline, Allerin, Pseudoefedrin


HCL, Tilomix, Tremenza, Bodrex extra, Lactobion, Antasida plus,
Dexanta, asam acetylsalisil, Asmadex, ephedrin HCL, Dextromethorphan
dll (penyebutan merk karena obat kombinasi)
3. Obat Keras

Obat keras adalah obat yang hanya


boleh diserahkan dengan resep dokter, dimana pada bungkus luarnya
diberi tanda bulatan dengan lingkaran hitam dengan dasar merah yang
didalamnya terdapat huruf K yang menyentuh garis tepi.
Obat yang masuk ke dalam golongan obat keras ini adalah obat yang
dibungkus sedemikian rupa yang digunakan secara parenteral, baik
dengan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan
merobek

jaringan,

obat

baru

yang

belum

tercantum

dalam

kompendial/farmakope terbaru yang berlaku di Indonesia serta obat-obat


yang ditetapkan sebagai obat keras melalui keputusan Menteri kesehatan
Republik Indonesia. diperlukan informasi lengkap terkait penggunaan

12

obat ini karena jika tidak digunakan secara tepat dapat menimbulkan efek
samping yang tidak baik bagi tubuh sebaiknya konsultasikan kepada
Apoteker jika anda mendapatkan obat-obat berlabel obat keras dari resep
dokter, penggunaan obat yang terpat akan meningkatkan efektivitas obat
terhadap penyakit dan meminimalkan efek sampingnya.
Contoh Obat Keras : Loratadine, Pseudoefedrin, Bromhexin HCL,
Alprazolam, Clobazam, Chlordiazepokside, Amitriptyline, Lorazepam,
Nitrazepam, Midazolam, Estrazolam, Fluoxetine, Sertraline HCL,
Carbamazepin,

Haloperidol,

phenytoin,

Levodopa,

Benzeraside,

Ibuprofen, Ketoprofen.
4. Obat Narkotika

Obat narkotik adalah obat yang dapat menyebabkan penurunan atau


perubahan kesadaran, menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran warna putih
dan tanda palang merah, garis tepi warna hitam.
Kemasan obat golongan ini ditandai dengan lingkaran yang di
dalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat narkotika bersifat
adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketat, sehingga obat golongan
narkotika hanya dapat diperoleh dengan resep dokter yang asli (tidak
dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain:
Opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin. Dalam bidang kedokteran,
obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan
analgetika/obat penghilang rasa sakit.

13

5. Psikotropik

Obat

Psikotropik

adalah

obat

yang

secara

efektif

dapat

mempengaruhi susunan saraf pusat dan akan mempengaruhi tingkah laku


dan aktivitas.
Menurut UU No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika pasal 2 ayat (2),
psikotropika digolongkan menjadi :
1) Psikotropika golongan I, contohnya antara lain : lisergida
(LSD/extasy),

MDMA

(Metilen

Dioksi

Meth

Amfetamin),

meskalina, psilosibina, katinona.


2) Psikotropika golongan II, contohnya antara lain : amfetamin,
metamfetamin (sabu-sabu), metakualon, sekobarbital, fenmetrazin.
3) Psikotropika golongan III, contohnya antara lain penthobarbital,
amobarbital, siklobarbital.
4) Psikotropika golongan IV, contohnya antara lain : diazepam,
allobarbital, barbital. bromazepam, klobazam, klordiazepoksida,
meprobamat, nitrazepam, triazolam, alprazolam.
6. Obat generik berlogo
Obat esensial yang mutunya terjamin karena diproduksi sesuai
dengan persyaratan CPOB dan diuji ulang oleh PPOM
7. Obat asli
Obat yang didapat langsung dari bahan alamiah Indonesia, terolah
secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam
pengobatan tradisional
8. Obat Generik
Obat Generik adalah obat dengan nama INN (International Non Pro
Prientary) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat
berkhasiat yang dikandungnya.
Pengelolaan Resep : Penyimpanan obat generik disimpan dalam
lemari khusus generik yang terdapat diruang racikan dan disusun
menurut abjad.

14

9. Obat tradisional
Obat jadi/obat berbungkus yg berasal dari bahan tumbuhan, hewan,
mineral atau sediaan galenik atau campuran bahan tsb yg usaha
pengobatannya berdasarkan pengalaman.
10 . Obat Wajib Apotek (OWA)
Adalah obat keras yang dapat di serahkan oleh apoteker di Apotek
tanpa resep dari dokter. Penyerahan Obat Wajib Apotek (OWA) oleh
apoteker terdapat kewajiban kewajiban sebagai berikut :
1. Memenuhi batas dan ketentuan setiap jenis obat per pasien yang
disebutkan dalam Obat Wajib Apotek yang bersangkutan
2. Memuat catatan pasien serta obat yang diserahkan
3. Memberikan informasi tentang obat.
a) Oral kontrasepsi baik tunggal maupun kombinasi untuk satu
siklus
b) Obat saluran cerna yang terdiri dari:
Antasid+antispasmodik+sedatif.
Antispasmodik (papaverin, hioscin, atropin).
Analgetik + antispasmodik.
4. Pemberian maksimal 20 tablet.
5. Obat mulut dan tenggorokan, maksimal 1 botol.
6. Obat saluran nafas yang terdiri dari obat asmatablet atau mukolitik,
maksimal 20 tablet.
7. Obat yang mempengaruhi sistem neumuskular yang terdiri dari:
a) Analgetik
Antalgin, asammefenamat, glavenin, antalgin + diazepam, atau
derivatnya. Maksimal 20 tablet
b) Antihistamin, maksimal 20 tablet
8. Antiparasit yang terdiri dari obat cacing, maksimal 6 tablet.
9. Obat kulit topikal yang terdiri dari:
a) Semua salep atau cream antibiotik.
b) Semua salep atau cream kortikosteroid.
c) Semua salep atau cream antifungi.
d) Antiseptik lokal.
e) Enzim antiradang topikal.
f) Pemutih salep, maksimal 1 tube.
11. Obat Prekusor
Zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan
dalam pembuatan narkotika dan psikotropika. Undang-undang prekusor

15

Peraturan pemerintah RI No 44 tahun 2010 tentang prekusor pasal 2.


Obat prekusor tidak dapat diserahkan kepada pasien tanpa adanya resep
dari dokter.
Pengelolaan Obat Prekusor
Penyimpanan obat prekusor harus di lemari khusus untuk obat
prekusor terbuat dari bahan yang kuat (tidak boleh terbuat dari kaca).
Contoh Obat Prekusor :
Metilat
Cafergot
Pk Kristal
Metil Erigotritomesin
Efedrin
12. Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat
disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah
terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada
manusia dengan kriteria memenuhi syarat ilmiah, protokol uji yang telah
disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip etika, tempat
pelaksanaan uji memenuhi syarat. Dengan uji klinik akanlebih
meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di
saranapelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk
menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian
secara ilimiah.
Adapun masyarakat menggunakan bahan alam yang ada di sekitar
lingkungan tempat tinggalnya menggunkan sebagai obat tradisional maka
dari itu isi makalah ini membahas tentang resep obat tradisional dan bukti
penggunaannya di masyarakat.
Fitofarmaka dapat dikatakan sebagai obat herbal tertinggi dari Jamu
dan Herbal Terstandar karena proses pembuatannya sudah mengadopsi
CPOB dan sampai uji klinik pada manusia.

16

BAB III
TINJAUAN APOTEK
III.1 Sejarah Apotek Afiah Farma
Pada tahun 2004 Apotek Afiah pertama didirikan di Jalan Palu.
Semula apotek ini hanya memiliki dua orang karyawan dan satu apoteker,
dimana apoteker tersebut adalah pemilik dari apotek Afiah.
Satu tahun kemudian apotek Afiah dipindahkan di jalan Agusalim
dekat RS Islam. Hal ini dikarenakan lokasi apotek pertama yang tidak
strategis dan tidak berada di dekat jalan raya yang memungkinkan
kurangnya konsumen. Setelah itu apotek Afiah telah berkembang, dimana
obat-obatannya sudah mulai lengkap terutama sedian obat bentuk injeksi
yang kebanyakan dibutuhkan oleh pasien yang menginap di Rumah Sakit
Islam yang berada tepat disamping apotek. Selain itu juga obat-obat bebas

17

tingkat pembeliannya cukup naik dikarenakan keberadaan apotek Afiah


telah banyak diketahui masyarakat.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya permintaan akan
obat-obatan serta banyaknya pesaing apotek-apotek lain, sehingga apotek
Afiah membuat cabang apotek baru di jalan Sultan Botutihe no.43 yang
diberi nama Apotek Afiah Farma tepatnya pada tahun 2009. Semenjak
didirikannya apotek baru ini telah banyak inovasi-inovasi yang dibuat
apoteker selaku pemilik apotek ini, seperti telah bekerja sama dengan
dokter spesialis dan dokter umum dimana dengan menyediakan ruangan
prakter dokter masing-masing. Selain itu kelengkapan obat-obatan
disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dokter. Fasilitas lainnya
yang berada di apotek ini yaitu adanya swalayan, ruang tunggu bagi pasien
yang ditata rapi sedemikian rupa dan dilengkapi dengan sebuah televisi,
dan memiliki toilet yang bersih. Dengan majunya apotek ini serta
ditunjang dengan banyaknya fasilitas maka apotek Afiah Farma yang
berada dijalan Sultan Botutihe dijadikan sentral apotek. Dimana semua
pemesanan obat melalui PBF semuanya masuk di apotek Afiah Farma
yang selanjutnya disalurkan ke apotek Afiah yang berada di agusalim.
III.2 Lokasi Apotek Afiah Farma
Apotek ini berlokasi di Jalan Sultan Botutihe No. 43, Telp/fax (0435)
821795, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
III.3 Tata Ruang Aptek Afiah Farma
Di apotek Afiah Farma ruang-ruangan ditata sedemikian rupa
sehingga dapat membuat pengunjung ataupun pasien menjadi nyaman
selama memperoleh pelayanan ataupun sedang mengantri menunggu
giliran untu diperiksa oleh dokter. Dimana untuk pasien disediakan ruang
tunggu yang dilengkapi dengan sebuah televisi dan swalayan kecil yang
menyediakan minuman dingin dan makanan ringan. Ruangan dokter
dilengkapi dengan segala fasilitas yang menunjang sehingga dokter-dokter
dapat memeriksa penyakit ataupun keluhan pasien tanpa ada kendala dari

18

fasilitas, karena telah dilengkapi dengan alat-alat kesehatan yang cangkih.


Selain itu, apotek ini juga memiliki toilet yang bersih.
Untuk penempatan rak-rak obat diatur dengan berdasarkan
kebutuhan yaitu untuk obat-obat bebas, bebas terbatas, jamu, dll diletakkan
tepat didepan sehingga pengunjung yang ingin membeli dapat melihat
langsung obat apa yang mereka akan beli. Dan untuk obat-obat keras,
seperti obat generik, paten, generik berlogo, narkotika, psikotropika
diberikan tempat yang sulit untuk dijangkau oleh pasien atau berada tepat
di ruang racik. Hal ini disebabkan karena obat-obatan tersebut tidak bisa
dijual bebas tanpa ada resep ataupun persetujuan dari apoteker ataupun
asisten apoteker.
Selain itu apotek afiah juga memiliki tempat parkiran yang luas
sehingga pengunjung ataupun pasien dapat memarkirkan kenderaan
pribadi mereka tanpa harus menganggu lalu lintas di jalan sebab apotek ini
berada tepat di depan jalan raya yang setiap harinya ramai dengan
pengendara yang lalu-lalang.

III.4 Struktur Organisasi Apotek Afiah Farma


STRUKTUR ORGANISASI APOTEK

Muhammad. Kasim, S.Si,M.Si.Apt


Apoteker Penanggung Jawab Apotik

1. Hendrik Amd.Farm
2. Muslimin amin Amd. Farm
Asisten Apoteker

19

1. Femmy Pakaya
2. Hendrik
Amd.Farm
3. Novi

Femmy Pakaya
Bagian
keuangan

Femmy Pakaya
Bagian
pembukuan

Bagian penjualan

III.5 Kegiatan di apotek Afiah Farma


Kegiatan kami di apotek ini sebagai berikut :
1. Pelayanan resep
2. Meracik obat
3. Pelayanan informasi obat dengan dibantu oleh karyawan apotek
4. Pelayan pembelian obat-obat bebas

BAB IV
HASIL KEGIATAN
IV.1
Tinjauan Mengenai Apotek Afiah Farma
1. Lokasi Apotek
Apotek ini berlokasi di Jalan Sultan Botutihe No. 43, Telp/fax
(0435) 821795, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
2. Bangunan Apotek
Bangunan Apotek Afiah Farma memiliki tempat praktek dokter,
dan pada bangunan Apotek Afiah Farma sendiri terbagi atas beberapa
ruangan. Berikut gambaran denah bangunan Apotek Afiah Farma :

20

Keterangan Gambar :

Loket pendaftaran Pasien

Tempat obat

Etalase

Kasir

21

Ruangan praktek dokter

Ruangan operasi dokter spesialis bedah

Toilet
Tenaga kerja dokter :
1. dr. J. Novita I. A, Sp.S, M.Kes
2. dr. Romy Abdul, Sp.B
3. dr. Irfandy Husa
3. Perlengkapan Apotek Afiah Farma
a. Memiliki perlengkapan meracik obat seperti mortar, stamper,
cangkang kapsul, kertas perkamen dan sudip.
b. Perlengkapan dan perbekalan farmasi seperti lemari dan rak
penyimpanan obat, lemari besi untuk menyimpan obat-obat
narkotika dan psikotropika dan lemari pendingin
c. Wadah pengemas seperti plastik obat berbagai ukuran, etiket, dan
pot salep
d. Alat administrasi seperti kartu stok obat, salinan/copy resep,
kwitansi, nota penjualan, buku pembelian dan buku penjualan obat,

IV.2

buku pengeluaran dan pemasukan apotek serta cap apotek.


e. Buku pedoman seperti ISO dan buku-buku lainnya.
Struktur Organisasi Apotek
Dalam menjalankan apotek tidak ada struktur organisasi khusus yang

dibentuk untuk menjalankannya, semua anggota hanya bertugas sesuai


dengan yang diamanahkan oleh apoteker dan pemilik apotek. Karyawan
apotek terdiri dari 5 orang termasuk asisten apoteker. Ke 5 karyawan
tersebut memiliki tugas dan wewenang masing-masing. Dimana 1 orang
karyawan bertugas dalam proses pembelian dan pemesanan barang, 3
orang bertugas dalam bagian penjualan obat, melayani resep,meracik obat
dan menyerahkan obat kepada pasien. Sedangkan 2 orang lainnya bertugas
dalam bagian administrasi dalam hal ini bidang keuangan dan pembukuan.
IV.3
Kegiatan Mahasiswa Di Apotek Afiah Farma
1. Kegiatan Managerial

22

Apotek Afiah Farma merupakan salah satu apotek yang dimana


pemiliki apotek merangkap sebagai apotekernya. Kegiatan managerial
di apotek ini dilakukan langsung oleh pihak apotek terutama pemilik
apotek sekaligus sebagai apotekernya tanpa ada campur tangan dari
karyawan dan mahasiswa magang. Kegiatan manegerial seperti
pengadaan obat yang dilakukan langsung oleh pemilik apoteknya sesuai
laporan dari karayawannya yang mengetahui keberadaan jumlah obat
yang stok obatnya mulai habis. Selain itu perencanaan dan pengadaan
obat di apotek disesuaikan dengan permintaan dari dokter-dokter yang
bekerja sama dengan apotek ini, seperti menyediakan obat-obatan yang
diperlukan oleh para dokter tersebut untuk mengobati pasien sesuai
dengan keluahan yang pasien alami.

Namun yang berbeda dengan

apotek ini yaitu pada saat penerimaan obat yang datang dari PBF dan
supplier dilakukan oleh asisten apoteker maupun karyawan karena
apotekernya banyak memiliki kegiatan lain di luar apotek sehingga
kebanyakan kegiatan penerimaan stok obat dilakukan oleh karyawan
ataupun asisten apoteker.

Dan untuk pencatatan keuangan serta

perbekalan farmasi dilakukan langsung oleh apotekernya sendiri yang


sekaligus sebagai pemilik apotek.
Penataan ruangan dan penyimpanan obat dilakukan oleh pegawai
apotek, karena apotek ini memiliki cabang yang berada di jalan
Agussalim sehingga stok obat-obatan dibagi dua untuk disalurkan ke
apotek cabangnya. Kegiatan pencatatan pengeluaran obat-obat tertentu
seperti obat yang sering diresepkan sebagian dilakukan oleh mahasiswa
magang.
2. Kegiatan Pelayanan Kefarmasian
A. Pelayanan Non Resep
Pelayanan non resep atau pelayan obat ataupun alkes tanpa
resep dokter dilakukan oleh karyawan dan mahasiswa magang.
Obat-obat yang dapat dijual bebas seperti multivitamin, suplemen,
jamu dan obat-obat lainnya yang bisa dijual tanpa harus ada resep
dokter sesuai aturan permenkes No.919/Menkes/per/X/1993.
B. Pelayanan Resep

23

Pada kegiatan pelayanan resep dokter, sebagian dilakukan


langsung oleh mahasiswa magang namun tetap dalam pengawasan
dari apoteker maupun asisten apoteker untuk menjaga agar tidak
terjadinya kekeliruan dalam pembacaaan resep maupun pada saat
peracikan sampai pada penyerahan obat ke pasien. Alur pelayanan
resep in yaitu pertama penerimaan resep dari pasien, kemudian
diserahkan kepada karyawan ataupu asisten apoteker untuk
dihitung harga obat sesuai kebutuhan pasienyang tertulis dalam
resep. Setelah itu dilakukannya peracikan obat yang dilakukan oleh
mahasiswa namun dalam pengawasan asisten apoteker ataupun
apoteker. Setelah obat selesai diracik, sedian obat tersebut
kemudian diserahkan kepada pasien. Namun sebelum diserahkan
obat racikan tersebut pasien haruslah membayar dengan hraga yang
telah ditentukan. Pada saat penyerahan obat racikan diselingi
dengan informasi kepada pasien tentang waktu konsumsi obat, cara
penggunaan dan informasi lainnya yang patut diketahui oleh pasien
agar tidak terjadi kesalahan penggunaan obat. Bentuk sediaan yang
sering dibuat yaitu kapsul, puyer, suspensi, dan banyak juga sedian
obat yang tidak perlu diracik.
C. Pelayanan Konseling
Pelayaanan konseling merupakan salah satu tugas dari seorang
farmasis, kegiatan ini juga dilakukan oleh mahasiswa magang
dengan menyampaikan aturan pakai dan informasi lainnya yang
perlu diketahui oleh pasien pada saat penerimaan resep. Apabila
pasien memerlukan informasi lebih lanjut maka pertanyaanpertanyaan yang diajukan oleh pasien akan dijawab langsung oleh
apoteker penanggungjawab apotek ataupun asisten apoteker.

24

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil magang mahasiswa S1 Farmasi Universitas Negeri
Gorontalo di Apotek Afiah Farma, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
:
Kegiatan magang sangat bermanfaat bagi mahasiswa S1 Farmasi,
karena dapat menambah keterampilan, pengetahuan dan wawasan para
mahasiswa di bidang pelayanan, khususnya di Apotek.
Apotek Afiah Farma merupakan salah satu Apotek yang cukup
strategis untuk usaha perapotekan, karena lokasinya yang juga merupakan
tempat praktek dokter. Selain itu, jalur lalu lintas kendaraan umum maupun
pribadi juga ramai, sehingga memudahkan transportasi bagi para pasien atau
konsumen.
Sistem organisasi, administrasi keuangan dan kepegawaian di Apotek
Afiah Farma telah berjalan dengan cukup profesional.
V.2 Saran

25

Bagi Apotek Afiah Farma, kami sebagai mahasiswa S1 farmasi dapat


menyarankan agar :

Pemakaian komputer untuk memudahkan dan mengefektifkan dalam

pencatatan dan pelaporan Apotek.


Meningkatkan ketersediaan perbekalan farmasi.
Meningkatkan pelayanan terhadap pemberian informasi obat dan
konseling kepada pasien (konsumen)

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Laporan PKL . (online) (available : as http : // gudang laporan.blogspot.com/ laporan pkl -apotek.html. Diakses tanggal 13 Juli
2014).
Depkes RI. 2002. Keputusan Menkes No. 1332 / Menkes / SK / X / 2002 /
Pengertian Apotek,Wewenang Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Ratna, A. 2008. Laporan Praktek Kerja Profesi Framasi. (online). (available : as
https : // www.google.com/ = laporan+magang+apotek.pdf. Diakses 13 Juli
2014).