Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA TANAH

ATTERBERG LIMIT

KELOMPOK 8
Samuel Budi

1206217950

Alvina Mayora

1206237580

Danang Setiya

1206251023

Waktu Praktikum : 16 Maret 2011


Asisten Praktikum : Rachma Yuliana
Tanggal Disetujui : 27 Maret 2014
Nilai

Paraf Asisten

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2014

I. LIQUID LIMIT

A. Tujuan
Mencari kadar air pada liquid limit (batas cair) dari sampel tanah.

B. Alat dan Bahan


Alat Cassagrande
Standard Grooving Tool
Can
Spatula
Mangkuk porselin
Air suling
Oven
Timbangan dengan ketelitian 0.01 gram
Botol penyemprot

C. Teori Dasar
Liquid limit didefinisikan sebagai kadar air dimana contoh tanah yang telah
dimasukkan pada alat cassagrande, dibuat celah di tengahnya dengan standard grooving
tool lalu alat cassagrande diputar dengan kecepatan 2 ketukan per detik dan tinggi jatuh
10 mm, sehingga pada ketukan ke-25 contoh tanah yang digores dengan Grooving tool
merapat sepanjang 0.5 inch.
Batas cair antara cair dan plastis dapat ditentukan dengan percobaan
menggunakan alat liquid limit. Alat ini dikembangkan oleh cassagrande dan besarnya
batas cair ditentukan pada ketukan ke-25 .
Dalam batas cair kita mempelajari kadar air dalam keadaan tertentu. Selain itu
untuk percobaan selanjutnya tanah diuji dalam tiga keadaan, yaitu batas cair, batas plastis,
dan batas susut dari tanah, atau secara skematis diwakili pada sebuah diagram yaitu:

Sumber : Modul Percobaan Atterberg limits UNIKOM

2 Modul I | Atterberg Limits

Gambar 1. Diagram Atterberg Limits


Semakin ke kanan diagram di atas, kadar airnya semakin sedikit. Batas cair ini
ditentukan dengan percobaan memakai alat liquid limit. Alat ini dikembangkan oleh
cassagrande dan besarnya batas cair ditentukan pada ketukan ke-25.

Dimana :
W = kadar air
w1 = berat tanah basah + can
w2 = berat tanah kering + can
w3= berat can

D. Cara Kerja
Persiapan Percobaan
1. Menyiapkan tanah lolos saringan no. 40 ASTM , kering udara
2. Memastikan kebersihan alat
3. Mengkalibrasi timbangan yang akan digunakan
4. Mempersiapkan botol penyemprot dan air suling
5. Mempersiapkan dan mengeringkan can yang diperlukan

Jalannya Percobaan
1. Memasukkan contoh tanah kedalam mangkuk porselin dan kemudian mencampurnya
dengan air suling dan diaduk dengan spatula hingga homogen.
2. Memasukkan contoh tanah kedalam mangkuk cassagrande selapis demi selapis dan
diusahakan agar tidak ada udara diantara setiap lapisan dengan spatula - tebal tanah
yang dimasukkan kurang lebih hingga setebal 0.5 inch pada bagian tengahnya.
3. Membuat celah di tengah-tengah tanah dalam mangkuk cassagrande dengan
menggunakan grooving tool dalam arah tegak lurus mangkuk dilakukan dengan hatihati agar tidak terjadi retak pada bagian bawahnya.

3 Modul I | Atterberg Limits

Gambar 2. Membuat celah dengan grooving tool

4. Menjalankan alat cassagrande dengan kecepatan konstan 2 putaran perdetik dan tinggi
jatuh 1 cm, dilakukan hingga tanah tepat merapat 0.5 inch - pada saat itu alat
cassagrande dihentikan dan jumlah ketukan dicatat.

Gambar 3. Tanah merapat sepanjang inch

5. Menimbang can terlebih dahulu, lalu mengambil sebagian tanah dalam mangkuk
cassagrande dan memasukkanya kedalam can dan ditimbang berat can dan tanah,
terakhir can dan tanah dimasukan ke dalam oven.
6. Mengulangi seluruh langkah diatas untuk lima sampel dengan nilai ketukan antara 10
hingga 50 ketukan, hal ini dibantu dengan cara menambahkan air suling atau
menambahkan tanah.
7. Setelah kurang lebih 18 jam dalam oven, contoh tanah dikeluarkan dan ditimbang
kembali.
8. Menghitung kadar airnya.
E. Pengolahan Data
Data Hasil Praktikum (terlampir)
Perhitungan

4 Modul I | Atterberg Limits

Tabel 1. Data perhitungan hasil praktikum

II

III

IV

VI

18

32

42

52

59

Berat tanah basah + can

52.48 g

51.52 g

40.47 g

40.84 g

44.15g

49.73 g

Berat tanah kering + can

32.4 g

29.27 g

26.34 g

25.92 g

29.15 g

31.95 g

Berat can

9.74 g

6.37 g

8.12 g

8.03 g

8.15 g

7.94 g

Berat tanah kering

22.66 g

22.9 g

18.22 g

17.89 g

21 g

24.01 g

Berat air

20.08 g

22.25 g

14.13 g

14.92 g

15 g

17.78g

Kadar air

88.61%

97.16%

77.55%

83.40%

71.43%

74.05%

Jumlah ketukan

Kadar air rata-rata

82.03 %

Menentukan Nilai Liquid Limit


Cara I
Batas cair didapat dengan menarik garis vertikal pada N = 25 sampai memotong
grafik. Regresi logarithmic antara N (jumlah ketukan) dengan W (kadar air) :

Tabel 2. Data grafik kurva liquid limit

Jumlah ketukan (x)


Kadar air (y)

18

32

42

52

59

88.61%

97.16%

77.55%

83.40%

71.43%

74.05%

Kurva Liquid Limit


110
100

97.16

90

y = -9.548ln(x) + 114.18

88.61
83.4

80

77.55

Kadar Air (%)

74.05

70

Log. (Kadar Air (%))

71.43
60
50
40
0

10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65

Grafik 1. Grafik Kurva liquid limit

Berdasarkan grafik di atas diperoleh : y = -9.54ln(x) + 114.1


Sehingga, utuk ketukan ke-25, x = 25 akan diperoleh Liquid Limit sebesar :
y = -9.54ln(x) + 114.1
y = -9.54 ln (25) + 114.1
y = 83.392
Sehingga besar Liquid Limit dalam presentase yaitu 83.392 %
Cara II
Dengan menggunakan rumus :
[

Dimana :
LL

= Liquid limit

Wn

= kadar air pada ketukan ke-n

= jumlah ketukan
[

]
[

[
]

6 Modul I | Atterberg Limits

]
[

Tabel 3. Data perhitungan LL

Can

Jumlah Ketukan

Wn (%)

LL (%)

88.61

77.20

18

97.16

93.37

32

77.55

79.90

42

83.4

88.80

52

71.43

78.05

59

74.05

82.16

LL rata-rata

83.25 %

Kesalahan Relatif
Kesalahan relative LL = |

|x 100%

=|

| x 100%

= 0.17 %
Menentukan Harga Flow Index (FI)
Flow Index adalah hubungan linier yang terbaik antara kemiringan kurva
kadar air terhadap jumlah ketukan. Hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan ini
digambarkan dalam grafik semi-logaritma. Flow Index sendiri merupakan indikator
dari laju kehilangan kekuatan geser seiring dengan bertambahnya kadar air pada
tanah. Semakin rendah kekuatan geser maka semakin tinggi nilai flow index.
Untuk mendapatkan harga Flow Index (FI) ialah dengan menarik garis lurus
sehingga memotong sumbu pada ketukan ke-10 dan ketukan ke-100. Persamaan
grafik kadar airnya adalah,
y = -9.54ln(x) + 114.1
Selain itu, Flow indeks juga bisa diperoleh dengan manggunakan persamaan,
[
Kadar air untuk N = 10 (Wn10) yaitu,
y = -9.54ln(10) + 114.1
y = 92.13 %
Kadar air untuk N = 100 (Wn100) yaitu,

y = -9.54ln(100) + 114.1
y = 70.16%
Maka diperoleh harga Flow Index (FI) sebesar
Flow Index (FI) =

= - 21.97%

F. Analisis
Analisis Percobaan
Praktikum Liquid Limits ini adalah praktikum yang bertujuan mencari batas cari dari suatu
sampel tanah. Untuk mendapatkan batas cair tersebut, hal yang pertama dilakukan adalah
menyiapkan tanah yang lolos saringan no. 40 ASTM dalam kondisi kering udara.
Kemudian sebagian sampel tanah dimasukkan ke dalam mangkuk porselin (can)
secukupnya dan ditambahkan air suling secukupnya (perkiraan) lelu diaduk dengan saptuli
hingga tercampur secara merata (homogen).
Setelah didapat adukan yang homogen, tanah dimasukkan ke mangkuk cassagrande
dengan spatula selapis demi selapis secara hati-hati untuk menghindari terjadinya rongga
udara di dalam lapisan. Lapisan ini dibuat setebal kira-kira 0,.5 inci (dengan perkiraan).
Kemudian membuat celah di bagian tengah lapisan tadi dengan menggunakan grooving
tool dengan posisi grooving tool tegak lurus terhadap lapisan. Dalam membuat celah ini
harus hati-hati agar saat menggerakkan grooving tool tidak menyebabkan lapisannya retak
pada bagian bawahnya.
Kemudian menjalankan mesin cassagrande dengan kecepatan konstan 2 putaran perdetik
dan tinggi jatuh mangkuk 10 mm. Hal ini dilakukan sampai kedua sisi lapisan saling
menempel rapat, merapat sampai kira-kira 0.5 inci. Barulah mesin dimatikan dan jumlah
ketukan yang ditunjukkan papan pengitung dicatat.
Langkah-langkah di atas dilakukan secara berulang untuk perkiraan kada air yang berbeda
sampai didapatkan nilai ketukan antara 10 sampai 60 ketukan. Untuk mendapatkan nilai
ketukan yang diinginkan, misalnya membutuhkan nilai ketukan 20 kali, maka ketika
percobaan awal didapat hasil 15 ketukan, maka hal itu menunjukkan bahwa campuran
tanah kita masih kurang air. Sehingga kita bisa menambahkan air seling secukupnya sesuai
perkiraan dapat menghasilkan nilai ketukan mendekati 20 kali (bisa plus minus 2).
Sebaliknya, jika ternyata didapat nilai ketukan 25, maka kita bisa menambahkan tanah
agak campurannya tidak terlalu encer untuk menghasilkan 20 ketukan.

8 Modul I | Atterberg Limits

Setelah nilai ketukan didapatkan, sisa tanah nilai ketukan tersebut ditimbang, kemudian
dimasukkan ke dalam oven selama kurang lebih sehari lalu ditimbang kembali. Lalu can
dicuci bersih.

Analisis Hasil
Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan nilai batas cair. Memudahkan untuk
mendapatkan nilai tersebut, dalam percobaan ini digunakan 6 sampel hasil yaitu nilai
ketukan 10 sampai 60. Sesuai langkah di atas, awalnya mencampurkan sampel tanah
dengan air suling sesuai perkiraan bisa mendapat nilai 10 ketukan. Alasan kenapa
digunakan air suling adalah karena air hasil sulingan merupakan air yang telah benar-benar
murni dan bersih dari segala jenis kotoran baik itu organic maupun anorganik.
Sebagai langkah awal, maka kali ini penambahan air dilakukan dengan agak asal-asalan
karena belum diketahui gambaran perbandingan jumlah air dan nilai ketukan yang
dihasilkan. Setelah dilakukan percobaan sesuai prosedur, ternyata didapatkan nilai ketukan
44. Maka tujuan mendapatkan ketukan 10 dialihkan untuk mendapat ketukan 40. Tanah di
mangkuk cassagrande diangkat bersih dan penambahan sedikit tanah dilakukan untuk
agak mengkentalkan campuran. Akhirnya didapatkanlah nilai ketukan 42, nilai ini masih
masuk ke batas toleransi untuk nilai ketukan 40.
Kemudian percobaan dilakukan dengan penambahan sejumlah air untuk menghasilkan
ketukan 30, 20, 10, 50, dan 60 dengan jumlah air untuk ketukan 42 di awal tadi sebagai
acuan perkiraan penambahan. Sehingga didapatlah hasil nilai ketukan sebagai berikut,
Tabel 4. Data hasil nilai ketukan
Nilai
diharapkan
Nilai hasil

10

20

30

40

50

60

18

32

42

52

59

Dari hasil percobaan, terlihat 3 nilai ketukan menggunakan batas minimum dan 3 lainnya
menggunakan batas maksimum toleransi.
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan data berta kering dan berat air, sehingga bisa
dihitung nilai kadar air percobaan dengan rumus berat air / berat kering x 100%. Diperolah
hasil,

9 Modul I | Atterberg Limits

Tabel 5. Hasil perhitungan kadar air


Berat tanah kering

22.66 g

22.9 g

18.22 g

17.89 g

21 g

24.01 g

Berat air

20.08 g

22.25 g

14.13 g

14.92 g

15 g

17.78g

Kadar air

88.61%

97.16%

77.55%

83.40%

71.43%

74.05%

Kadar air rata-rata dari keenam sampel adalah 82.03 %.


Kemudian urntuk mendapat nilai liquid limits digunakan 2 cara. Cara pertama yaitu
dengan metode grafik. Dimana nilai ketukan sebagai nilai sumbu x dan kadar air sebagai
nilai sumbu y. Grafik yang dihasilkan akan menunjukkan nilai LL yaitu kadar air pada
nilai ketukan 25. Untuk mendapatkan besar kadar air pada ketukan 25 dari grafik yang ada,
ditunjukkan persamaan alogaritma dari grafik yang ada, y = -9.54ln(x) + 114.1, kemudian
mengganti nilai x dengan 25. Sehingga didapatkan nilai kadar air LL sebesar 83.392 %.
Cara yang kedua yaitu dengan metode perhitungan matematis dengan rumus
[ ]

dengan Wn adalah kadar air ketukan ke-n, dan N adalah jumlah

ketukan. Sehingga diperolah hasil,


Tabel 6. Hasil nilai LL dari setiap variasi ketukan
Nilai
ketukan
LL

18

32

42

52

59

77.20 %

93.37 %

79.90 %

88.80 %

78.05 %

82.16 %

Dari hasil perhitungan tersebut. Diperolah rata-rata kadar airnya 83.25 %. Dari kedua cari
tersebut, didapatkan kesalahan relative sebesar 0.17 %. Angka ini menunjukkan bahwa
percobaan ini sudah mendekati nilai yang benar.
Kemudian, nilai flow index yang diperoleh dengan rumus

adalah

sebesar -29.97 %. Tanda negatif menunjukkan bahwa kemiringan grafik kea rah kiri dan
nilai kemiringan terbilang cukup besar.

10 Modul I | Atterberg Limits

Gambar 4. Atterberg Limit value untuk caly minerals

(Unified Soil Classification System)


Berdasarkan table klasifikasi tanah melalui unji atterberg limit value dari Unified Soil
Classification System, jenis tanah sampel yang memiliki kadat air untuk liquid limits
sebesar rentang 83.25 83.392 %, tergolong ke dalam jenis tanah Illite dan Kalolinite.

Analisis Kesalahan
Praktikum liquid limits ini merupakan praktikum yang banyak terdapat banyak perkiraan
dalam pelaksanaannya, sehingga dimungkinkan ada beberapa hal yang menjadi penyebab
kesalahan hasil percobaan. Kesalahan tersebut diantaranya,

Adukan tanah sampel dan air suling tidak tepat tercampur sempurna (homogen)

Terdapatnya rongga udara di dalam lapisan tanah di dalam mangkuk cassagrande

Tinggi atau tebal lapisan di alam mangkuk tidak tepat 0.5 inci, karena penentuan
tebal hanya berdasarkan perkiraan saja

Pembuatan celah dengan grooving tools tidak tepat pada posisi tegak lurus dengan
lapisan tanah

Pemberhentian mesin cassagrande saat tanah merapat dimungkinkan merapatannya


belum mencapai 0.5 inci atau bahkan melebihi 0.5 inci, lagi-lagi karena dalam
percobaan hanya mengandalkan perkiraan

Dalam membersihkan mangkuk untuk perocbaan nilai ketukan yang berbeda tidak
sepenuhnya bersih sehingga dimungkinkan mempengaruhi perobaan selanjutnya

11 Modul I | Atterberg Limits

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan Liquid Limit yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang
diperoleh, antara lain :
Nilai dari Liquid Limit dengan cara 1 adalah sebesar 83.392 %
Nilai dari Liquid Limit dengan cara 2 adalah sebesar 83.25 %
Dan didapat kesalahan relative sebesar 0.7 %
Serta nilai flow index sebesar 21.97 %

12 Modul I | Atterberg Limits

II. PLASTIC LIMIT

A. Tujuan
Mencari kadar air pada batas plastis (Plastic Limit) dari sebuah sampel tanah.

B. Alat dan Bahan


1. Pelat kaca
2. Container
3. Contoh tanah yang lolos saringan No.40 ASTM
4. Spatula
5. Mangkuk porselin
6. Air suling
7. Oven
8. Timbangan dengan ketelitian 0.01 gram

C. Teori Dasar
Plastic limit didefinisikan sebagai kadar air pada batas dimana contoh tanah
digulung pada pelat kaca hingga mencapai diameter kurang lebih 1/8 inch (3.2 mm) dan
tanah tersebut tepat retak-retak halus.
Dari percobaan ini dapat ditentukan Plastic Index (Ip), dimana :
Ip = LL-PL
Kadar air tanah dalam keadaan aslinya biasanya terletak antara batas plastis dan batas
cair. Rumusan yang digunakan adalah:

Dengan:
W = kadar air
w1 = berat tanah basah + can
w2 = berat tanah kering + can
w3 = berat can

13 Modul I | Atterberg Limits

D. Cara Kerja
Persiapan Percobaan
1. Membersihkan alat-alat yang akan digunakan
2. Mempersiapkan botol penyemprot dan air suling
3. Mempersiapkan tanah lolos saringan No.40 ASTM
4. Menimbang berat kedua container

Jalannya Percobaan
1. Memasukkan contoh tanah kedalam mangkuk porselin dan kemudian menimbangnya
dan mencampurnya dengan air suling dan diaduk dengan spatula hingga homogen.
2. Mengambil contoh tanah tersebut sedikit lalu menggulungnya diatas kaca sampai
berdiameter 1/8 inch. Bila kadar air berlebih pada waktu contoh tanah mencapai
diameter 1/8 inch tidak terjadi retak-retak maka percobaan ini harus diulang kembali
dangan menambahkan contoh tanah. Sedangkan bila kadar air kurang, contoh tanah
akan retak-retak sebelum mencapai diameter 1/8 inch. Percobaan ini harus diulang
kembali dengan menambah air sehingga contoh tanah tepat retak-retak pada waktu
mencapai diameter 1/8 inch.

Gambar 5. Proses menggulung sampel tanah

3. Contoh tanah yang mulai retak-retak halus pada diameter 1/8 inch dimasukkan
kedalam dua container yang sudah ditimbang beratnya. Berat container + tanah
minimum adalah 15 gr.
4. Container harus secepatnya ditutup agar kadar airnya tidak berkurang karena
penguapan. Container yang telah berisi tanah tersebut kemudian ditimbang .
5. Memasukkan container dalam keadaan terbuka kedalam oven berisi tanah yang telah
ditimbang guna mencari kadar airnya. Pada saat menghitung kadar air jangan lupa
14 Modul I | Atterberg Limits

untuk menambahkan berat penutup container agar berat total container seperti pada
saat menimbang berat tanah basah sebelumnya.

Perbandingan dengan ASTM


1 Pada percobaan, waktu penggulungan tanah tidak ditentukan, sedangkan pada ASTM
waktu penggulungan tanah maksimum adalah dua menit.
2 Pada percobaan, setelah tanah digulung dan terjadi retakretak, maka tanah tersebut
dibagi menjadi dua bagian sama besar dan dimasukkan ke dalam container.
Sedangkan pada ASTM, tanah yang telah digulung akan diremukkan kembali dan
digulung kembali sampai contoh tanah tersebut sukar untuk digulung kembali.

E. Pengolahan Data

Data Hasil Praktikum (terlampir)

Perhitungan

15 Modul I | Atterberg Limits

Tabel 7. Perhitungan kadar air plastic limit

Berat tanah basah + can (w1)

24.44

24.44

24.44

Berat tanah kering + can (w2)

19.75

19.67

19.53

Berat can (w3)

9.44

9.44

9.44

Berat tanah kering (w2- w3)

10.31

10.23

10.09

Berat air (w1 w2)

4.69

4.77

4.91

Kadar air

45.49%

46.63%

48.66%

Kadar air rata-rata (plastic limit)

46.93 %

Plastic Index (Ip)


Plastic indeks adalah rentang kadar air antara batas cair dan batas plastis, bisa juga
disebut sebagai rentang selisih kadar air yang dimiliki zona plastis.

Ip

= LL PL
= 83.4 46.93
= 36.47%

F. Analisis
Analisis percobaan
Percobaan plastic limit ini bertujuan untuk mencari nilai batas plastis daru suatu sempel
tanah. Langkah awal percobaan ini yaitu dengan memasukkan contoh tanah ke dalam
can dan menambahkan sejumlah air sulik kemudian diaduk secara merata hingga
homogeny. Jumlah air yang ditambahkan dikira-kira secukupnya. Setelah tercampur
sempurna, mengambil sedikit bagian lalu menggulungkan dengan tangan di atas kaca
sampai dicapai diameter 1/8 inci. ukuran diameter 1/8 inci ini tidak benar-benar diukur
dengan alat ukur, tapi sebatas dengan perkiraan saja.
Saat kira-kira sudah mencapai ukuran 1/8 inci, kondisi pilinan tanah harus sudah retakretak halus. Jika ternyata tanahnya belum mengalami retak-retak halus, hal itu berarti
adonan tanah terlalu encer, maka perlu ditamhabkan tanah kering ke adonan secukupnya.
Apabila ternyata saat mencapai diameter 1/8 inci retakannya besar atau bahkan mau
patah, berarti tanah terlalu kering, maka perlu ditambahkan sedikit air.

16 Modul I | Atterberg Limits

Hasil pilinan tanah yang sudah benar, berdiameter kira-kira 1/8 inci dan sudah retakretak halus, dimasukkan ke dalam pan / container yang sudah ditimbang dan jangan
lupa untuk ditutup agar kadar airnya tidak berkurang akibat menguap ke udara. Pilinan
dilakukan sampai mendapatkan berat bersih tanah pilinan sebanyak 15 gram.
Setelah mendapatkan berat bersih pilinan 15 gram, container dimasukkan kedalam oven
selama kurang lebih 1 hari dalam konsisi terbuka. Tujuannya agar kandungan air dalam
pilinan benar-benar menguap ke luar secara keseluruhan. Setelah itu ditimbang kembali
untuk mengetahui berat bersih tanah kondisi kering.

Analisis hasil
Percobaan di atas akan menghasilkan data berupa berat tanah basah dan berat kering.
Sehingga bisa didapat nilai kadar air dari tanah tersebut dengan menggunakan rumus,
berat air / berat tanah kering x 100%. Didapatkan hasil sebagai berikut,
Tabel 8. Kadar air tiap sampel
sampel

Kadar air

45.49%

46.63%

48.66%

Rata rata kadar air percobaan ini adalah 46.93 %.


Kemudian dari nilai ini, kita bisa menentukan nilai rentang tanah berada dalam konsisi
plastis atau biasa disebut indeks plastic (Ip). Nilai indeks plastis didapat dengan
menggurangkan nilai LL PL. Sehingga didapatkan nilai Ip sebesar 36.47 %. Nilai ini
cukup besar karena angkat 36.93 ini menunjukkan presentase jika suatu tanah di
tambahkan air secara berkala mulai dari kadar nol, selama 36.47 % dari batas plastis,
tanah akan berada dalam konsisi plastis sebelum mencapai batas cair.

17 Modul I | Atterberg Limits

Gambar 6. Grafik klasifikasi tanah

(Unified Soil Classification System)


Berdasarkan grafik plastisitas dengan sisten Unified di atas, jenis tanah sampel adalah
tanah lanau atau lempung dengan spesifikasi MH atau OH. MH berarti tanah sampel
merupakan tanah lanau anorganik dengan plastisitas tinggi. Sedangkan OH berarti tanah
sampel adalah tanah lempung organic dengan plastisitas tinggi.
Sedangkan jika ditinjau dengan table kalsifikasi atterberg limit,

Gambar 7. Atterberg Limit value untuk clay minerals

(Unified Soil Classification System)

18 Modul I | Atterberg Limits

Berdasarkan table di atas, tanah sampel dengan nilai plastic limit rata-rata 46.93 %
tergolong ke dalam jenis tanah Illite.

Analisis kesalahan
Terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi dan mempengaruhi hasil dari percobaan
plastis limit ini. Beberapa kesalahan itu antara lain,

Diameter pilinan tanah tidak benar-benar berdiameter 1 inci karena hanya


menggunakan perkiraan

Kondisi tanah saat dianggap sudah 1/8 inci bisa jadi kondisinya belum mengalami
retak-retak halus atau bahkan sudah mau mendekati patah tapi dianggap praktikum
memenuhi syarat karena kesalahan dalam penglihatan dan pengamatan

Tanah yang sudah dianggap memenuhi syarat yang dimasukkan ke dalam


container, tidak benar-benar tertutup rapat karena tutup dan container sudah rusak
sehingga dimungkinkan ada sebagian kecil kadar air yang menguap ke udara

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaaan Plastic Limit yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang
diperoleh, antara lain :
Nilai Plastic Limit didapat sebesar 46.93 %
Nilai Plastic Index didapat sebesar 36.47 %
Sampel tanah yang digunakan adalah tanah MH atauOH adalah tanah yang lanau
anorganik atau lempung organik dengan plastisitas yang tinggi.

19 Modul I | Atterberg Limits

III. SHRINKAGE LIMIT

A. Tujuan
Mencari kadar air pada batas susut (Shrinkage Limit) dari suatu sampel tanah.

B. Alat dan Bahan


1. Raksa
2. Timbangan dengan ketelitian 0.01 gr
3. Contoh tanah lolos saringan No.40 ASTM, kering oven.

C. Teori Dasar
Shrinkage limit adalah kadar air pada batas keadaan semi plastis dan beku. Di
dalam laboratorium, shrinkage limit didefinisikan sebagai batas dimana tidak akan terjadi
perubahan volume pada masa tanah, apabila kadar airnya dikurangi. Pada tahapan ini
tanah mengering tanpa diikuti perubahan volume. Batas susut ditunjukkan dengan kadar
air tanah pada tahap mengering dan tidak terdapat perubahan atau pengurangan volume.
Rumus yang digunakan ;

Dengan :
SL

= shrinkage limit

SR

= shrinkage ratio

Ww

= berat tanah basah

Wd

= berat tanah kering

Vw

= volume tanah basah

Vd

= volume tanah kering


= berat jenis air = 1 gr/cm3

20 Modul I | Atterberg Limits

D. Cara Kerja
Persiapan Percobaan
1. Mempersiapkan tanah lolos saringan No. 40 ASTM kering udara
2. Mempersiapkan air suling dan botol penyemprot
3. Menimbang coated dish atau container yang diperlukan

Jalannya Percobaan
1. Memasukkan butiran tanah kedalam mangkuk porselin dan diberi air suling
secukupnya kemudian diaduk dengan spatula hingga homogen
2. Sampel tanah yang sudah homogen tersebut diperlakukan seperti pada langkahlangkah percobaan Liquid limit, diusahakan tanah telah merapat sepanjang 0.5 inch
pada kisaran 20-25 ketukan
3. Mengambil sampel tanah dari alat cassagrande tersebut kedalam coated dish yang
sudah diolesi vaseline. Jangan lupa untuk mengetuk-ngetuk coated dish agar sampel
tanah mengisi penuh seluruh bagian coated dish dan permukaannya rata
4. Menimbang sampel tanah dan coated dish tersebut
5. Melakukan untuk dua kali percobaan
6. Mendiamkan coated dish dan sampel tanah diudara terbuka kurang lebih selama 18
jam agar tidak mengalami retak-retak akibat pemanasan secara tiba-tiba
7. Setelah 18 jam, baru sampel tanah dimasukkan kedalam oven
8. Sekitar 18-24 jam di oven, coated dish dan tanah kering dikeluarkan dari oven .
menimbangnya lagi, kemudian menghitung volume tanah basah dan tanah kering.
Menghitung volume tanah basah :
o Menimbang coated dish (w1)
o Memasukkan raksa ke dalam coated dish sampai penuh, lalu permukaan
raksa diratakan dengan pelat kaca agar sejajar dengan pinggiran coated dish
o Kemudian coated dish beserta isinya ditimbang (w2)
o Volume tanah basah adalah:

Menghitung volume tanah kering :


o Memasukkan raksa ke dalam shrinkage dish sampai penuh dan meratakannya
dengan pelat kacaMenimbang shrinkage dish beserta isinya dan diperoleh
berat air raksa dalam shrinkage dish (wHg+S)
21 Modul I | Atterberg Limits

o Mencelupkan contoh tanah kering ke dalam shrinkage dish yang berisi raksa
dengan menekannya secara hatihati dengan pelat kaca berkaki tiga sehingga
permukaan sampel tanah benarbenar berada tepat di permukaan air raksa
sebagian raksa akan tumpah keluar. Proses ini disebut sub-merging soil cake

Gambar 8. Proses sub-mergeing soil cake

o Mengeluarkan sampel tanah dan menimbang kembali shrinkage dish + raksa


yang tersisa (wHg)
o Volume tanah kering adalah:

Perbandingan dengan ASTM

Pada percobaan di dalam laboratorium, coated dish yang telah diolesi vaseline dan
diisi tanah diketukketuk agar tidak tersisa gelembung udara di dalamnya.
Sedangkan menurut standar ASTM D-427, coated dish hanya digoyanggoyangkan.

Pada metode ASTM alat yang dipakai untuk menampung tanah adalah mangkuk
porselin yang mempunyai diameter 1.75 inch dan tinggi 0.5 inch, sedangkan
dalam percobaan di dalam laboratorium dipakai coated dish.

E. Pengolahan Data

Data hasil Praktikum (terlampir)

Perhitungan

22 Modul I | Atterberg Limits

23 Modul I | Atterberg Limits

Tabel 9. Data perhitungan shringkage limit

Berat tanah basah + coated dish

57.43 g

55.12 g

63.43 g

Berat coated dish (wc)

39.33 g

37.84 g

41.10 g

Berat tanah basah (ww)

18.10 g

17.28 g

22.33 g

Berat tanah kering + coated dish

51.05 g

50.94 g

53.81 g

Berat tanah kering (wd)

11.72 g

13.10 g

12.71 g

Berat raksa + coated dish

255.04 g

259.19 g

255.56 g

Berat raksa (wHg)

215.71 g

221.35 g

214.46 g

Volume tanah basah (Vw)

15.94 cm3

15.85 cm3

Berat raksa + shrinkage dish

760.31 g

16.36
cm3
763.13 g

Berat raksa + shrinkage dish

644.96 g

640.41 g

637.39 g

Berat raksa yang dipindahkan

115.35 g

122.72 g

120.94 g

Volume tanah kering (Vd)

8.53 cm3

9.07 cm3

8.94 cm3

Shrinkage limit

21.16 %

22.11 %

22.94 %

Shrinkage ratio

10.16%

10.67%

10.51%

758.33 g

(setelah sub-merging soil cake)

F. Analisisi
Analisis Percobaan
Percobaan shringkage limits ini bertujuan untuk mencari kadair air pada batas antara
semi plastis dan beku atau secara singkat disebut batas susut. Langkah percobaan ini
sama seperti percobaan liquid limit karena adonan tanah yang digunakan dalam
percobaan ini adalah adonan tanah yang menghasilkan ketukan sebanyak antara 20 - 25
ketukan.
Setelah diperoleh adonan yang tepat, pada kali ini diperoleh adonan ketukan tepat 25
ketukan, dilanjutkan dengan memasukkan adonan kedalam coated dish. Namun sebelum
24 Modul I | Atterberg Limits

itu, coated dish harus dilumuri terlebih dahulu sisi dalamnya dengan Vaseline. Akan
tetapi dalam percobaan ini digunakan oli sebgagai pengganti Vaseline yang berfungsi
sebagai pelicin tanah saat nantinya akan dikeluarkan dari coated dish.
Saat memasukkan tanah ke dalam coated dish menggunakan spatula harus benar-benar
hati-hati dah teliti karena tidak boleh ada udara yang terperangkap di dalam tanah. Untuk
mengantisipasi adanya udara di dalamnya, maka saat memasukkan tanahnya sambil
sekali-kali di goyang-goyang atau dijatuh-jatuhkan dengan ketinggian yang secukupnya.
Coated dish harus benar-benar terisi secara penuh dan permukaannya dibuat rata.
Setelah selesai, sampet tanah dan coated dish itu ditimbang lalu didiamkan selama
kurang lebih 18 jam di udara terbuka agar tidak mengalami retak-retak akibat pemanasan
secara tiba-tiba, setelah 18 jam, barulan dimasukkan ke dalam oven dan dibiarkan selama
1 hari. Lalu tanah yang telah menyusut dikularkan dari coated dish.
Langkah selanjutnya adalah mengukur volume penyusutan dari tanah tersebut. Untuk
pengukur penyusutan ini, digunakan raksa. Pertama mengukur velume coated dish
dengan memasukkan raksa ke dalam coated dish secara penuh dengan bantuan perata
permukaan, lalu menimbangnya. Kemudian memasukkan raksa ke dalam shringkage
dish sampai benar-benar penuh dengan bantuan perata permukaan / plat kaca lalu
menimbangnya. Dilanjutkan dengan mencelupkan tanah sampel yang telah kering ke
dalamnya dan menekannya sampai penuh tenggelam secara rata dengan bantuan plat
kaca, sehingga sebagian raksa tumpah dari shringkage dish. Proses ini disebut submegeing soil cake. Kemudian mengeluarkan sampel tanah dan ditimbang kembali
sehingga bisa didapatkan volume tanahnya.
Analisis Hasil
Berdasarkan percobaan sesuai prosedur di atas, diperoleh data sebagai yang tercantum di
table terlampir. Dari data tersebut maka bisa diketahui volume coated dish, volume tanah
sampel, dan volume penyusutan bisa didapatkan.
Tabel 10. Volume hasil perhitungan percobaan
sampel

Volume tanah basah (Vw)

15.94 cm3

Volume tanah kering (Vd)

8.53 cm3

25 Modul I | Atterberg Limits

2
16.36
cm3
9.07 cm3

3
15.85 cm3
8.94 cm3

Nilai Srhingkage limit bisa diperoleh dengan menggunakan rumus


serta nilai shringkage ratio diperoleh dengan rumus
. diperolah hasil,
Table 11. nilai shringkage tiap sampel
sampel

Shrinkage limit

21.16 %

22.11 %

22.94 %

Shrinkage ratio

10.16%

10.67%

10.51%

Rata rata dari ketiga nilai shringkage limit di atas yaitu 22.07 %. Angka ini
menunjukkan presentase penyusutan tanah dari volume awal ketika mengandung
sejumlah kadar air. Angka tersbut menunjukkan penyusutan yang cukup besar, berarti
pula kadar airnya cukup tinggi. Serta rata-rata shringkage ratio adalah 10.45 %. Angka
ini menunjukkan massa jenis tanah sampel yang telah mengalami penyusutan dalam
bentuk persen.

Analisis Kesalahan
Terdapat beberapa hal yang menjadi kesalahan dalam percobaan yang mempengaruhi
hasil dari percobaan. Kesalahan tersebut diantaranya adalah,

Dalam memasukkan tanah kedalam coated dish kurang hati-hati sehingga masih
terdapat rongga udara di dalam sampel tanah, terbukti dengan saat sampel telah
dikeringkan, bentuk keringnya tidak penuh tabung seperti bentukan coated dish,
terutama pada bagian bawah,

Saat melakukan penimbangan kurang hati-hati sehingga terdapat beberapa bagian


raksa yang terjatuh saat hendah menimbang, hal ini mengurangi volume penuh dari
coated dish atau shringkage dish,

Jumlah raksa yang dimasukkan ke dalam coated dish atau shringkage dish tidak
tepat penuh karena kurang tepatnya dalam meratakan permukaannya dengan pelat
kaca,

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaaan Shrinkage Limit yang telah dilakukan, maka dapat kesimpulan
yang diperoleh, antara lain :
Nilai shrinkage limit rata-rata sebesar 22.07 %
Nilai shringkage ratio didapat sebesar 10.45 %
26 Modul I | Atterberg Limits

Aplikasi Atterberg Limit

Batas-batas aterberg limit ini digunakan sebagai penentu konsistensi tanah.


Konsistensi tanah itu sendiri adalah derajad kohesi dan adhesi antara partikel-partikel
tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan
berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah.

Nilai-nilai batas atterberg ini akan digunakan sebagaii acuan untuk membuat kondisi
tanah dilapangan agar memiliki kondisi seperti yang diharapkan, apakah yang
diharapkan kondisi padat, plastis, atau cair.

Gambar 9. Ilustrasi kondisi tiap fase

Nilai nilai batas aterberg limits digunakan untuk mendukung analisa daya dukung
tanah, misalnya pada kasus jalan berlobang sebagai properti fisik yang nantinya juga
mendukung properti teknik.

Gambar 10. Ulistrasi kondisi jalan berlubang akibar kurangnya daya dukung
tanah
27 Modul I | Atterberg Limits

H. Referensi
Craig, R.F. Mekanika Tanah ed.4.Penerbit Erlangga. Jakarta. 1991.
Modul Praktikum Mekanika Tanah. Universitas Indonesia. Depok. 2014
Lecture note 5-atterberg limits test. Geotechnical Engineering Laboratory. University of
Texas. Arlington,
I. Lampiran

Pengolesan tannah pada cassagrande

Pemilinan Tanah sampai diameter 1/8

Pilinan untuk plastic limit

28 Modul I | Atterberg Limits

Pengetukan tanah dengan cassagrande

coated dish + tanah sebelum di oven

29 Modul I | Atterberg Limits