Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gigi

tiruan

sebagian

adalah

suatu

alat

yang

berfungsi

untuk

mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama adalah
jaringan lunak di bawah plat dasar dan dukungan tambahan dari gigi asli yang
masih tertinggal dan terpilih sebagai gigi pilar. Restorasi prostetik ini sering
disebut juga removable partial denture. Pemakaian gigi tiruan mempunyai tujuan
bukan hanya memperbaiki fungsi pengunyahan, fonetik, dan estetik saja, tetapi
juga harus dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersisa.
Dalam proses pembuatan desain geligi tiruan sebagian lepasan berlaku
suatu yang umum dan penting. Pertama-tama, dokter gigi perlu mengetahui
selengkap-lengkapnya tentang keadaan fisik pasien yang akan menerima protesa.
Selain itu, sebelumnya, ia juga sudah memahami betul data-data mengenai bentuk,
indikasi dan fungsi dari cengkeram, letak sandaran, macam konektor, bentuk sadel
dan jenis dukungan yang akan diterapkan untuk sebuah geligi tiruan. Selanjutnya,
sebagai pemenuhan tanggung jawab kepada pasien, dokter gigi wajib membuat
rencana desain protesa yang akan diberikannya.
Setiap protesa yang dipasang dalam rongga mulut memiliki resiko
merusak kesehatan gigi dan jaringan pendukung, kerusakan ini dapat diperkecil
dengan membuat desain yang tepat dan dengan menginstruksikan pada pasien
tentang cara menjaga kebersihan mulut dan geligi tiruannya. Oleh sebab itu,
rencana pembuatan desain merupakan salah satu tahap penting dan merupakan
salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah geligi tiruan.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Memahami tujuan dan manfaat gigi tiruan sebagian lepasan.


Mengetahui indikasi dan kontraindikasi gigi tiruan sebagian lepasan.
Mengetahui klasifikasi gigi tiruan sebagian lepasan.
Memahami tahapan pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan.
Memahami faktor keberhasilan dan kegagalan gigi tiruan sebagian
lepasan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tujuan dan Manfaat GTSL
1. Mengembalikan fungsi estetik
Estetik adalah cab.dari filosofi yg berhubungan dengan keindahan dalam
alam. Dasar-dasar dari estetik adalah keindahan, keaslian, keharmonisan.
Kosmetik adalah hanya mementingkan keindahan sehingga kadangkadang

berlebihan,

tetapi

kurang

memikirkan

keaslian

dan

keharmonisannya dalam prosthodonsi yang perlu diperhatikan adalah


estetik membuat gigi tiruan secara:
- Hygiene.
- Harmonis dengan gigi asli.
- Tidak boleh kelihatan palsu.
2. Mengembalikan fungsi pengunyahan
Secara teori,apabila gigi posterior hilang menyebabkan pengunyahan
kurang baik sehingga mengakibatkan pencernaan terganggu dan akhirnya
timbul macam-macam penyakit pencernaan.
3. Mengembalikan fungsi bicara.
Ada 2 golongan huruf yaitu: s
- huruf hidup / vokal: A,I,U,E,O
- huruf mati / kongsonan: B,C,D,F.dan lain-lain
Alat bicara mempunyai 2 sifat:
- sifat statis
: gigi palatum.
- sifat dinamis: lidah,bibir,tali suara,mandibula suara berawal dari
laring-palatum-dan dibantu gigi gelligi shg terbentuk suara. Ruang
4.
5.
6.
7.
8.
9.

resonansi berada dalam rongga mulut dan sinus maksilaris.


Memperbaiki profil wajah.
Mempertahankan kesehatan jaringan.
Membantu mempertahankan gigi yang masih tertinggal.
Memperbaiki oklusi.
Meningkatkan distribusi beban kunyah.
Mempertahankan jaringan lunak mulut yang masih ada agar tetap sehat.

2.2 Indikasi dan Kontraindikasi GTSL


Indikasi GTSL:

1. Bila tidak memenuhi syarat untuk suatu gigi tiruan cekat:

Usia pasien masih muda, ruang pulpa masih besar, panjang mahkota
klinis masih kurang. Pasien usia lanjut dengan kesehatan umum yang
buruk, karena perawatannya memerlukan waktu yang lama.

Panjang daerah edentulous tida memenuhi syarat Hukum Ante.

Kehilangan tuang yang banyak pada daerah edentulous.

2. tidak ada abutment gigi posterior pada ruang edentulous (free end saddle).
3. bila dukungan sisa gigi asli kurang sehat.
4. bila dibutuhkan stabilisasi dari lengkung yang berseberangan.
5. bila membutuhkan estetik yang lebih baik.
6. bila dibutuhkan gigi segera setelah dicabut.
7. keinginan pasien.

Kontraindikasi GTSL:
1. Penderita yang tidak kooperatif, sifat tidak menghargai perawatan gigi
tiruan.
2. Umur lanjut, mempertimbangkan sifat dan kondisi penderita sebaiknya
dibuatkan GT temporer.
3. penyakit sistemik (epilepsy, DM tidak terkontrol)
4. OH jelek.

2.3 Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Daerah tak bergigi pada suatu lengkungan gigi dapat bervariasi, dalam hal
panjang, macam, jumlah, dan letaknya. Semua ini mempengaruhi rencana
pembuatan desain geligi tiruan, baik dalam bentuk sadel, konektor, maupun
dukungannya (Gunadi et al., 1995).
Klasifikasi menurut Osborne J & Lammie GA berupa klasifikasi geligi
tiruan berdasarkan distribusi beban, sebagai berikut.
1. Geligi tiruan tooth borne, semua pendukung untuk geligi tiruan berasal
dari gigi geligi.
2. Geligi tiruan mucosa borne, geligi tiruan ini seluruhnya didukung oleh
mukosa dan lingir alveolar dibawahnya.
3. Geligi tiruan tooth and mucosa borne, beberapa bagian geligi tiruan
didukung oleh gigi sebagian yang lainnya didukung oleh mukosa (Watt
& McGregor, 1992).
Kalsifikasi Keneddy, syarat:
1. Klasifikasi hendaknya dibuat setelah semua pencabutan gigi selesai
dilaksanakan atau gigi yang diindikasikan untuk dicabut selesai dicabut
2. Bila gigi M3 hilang dan tidak akan diganti, gigi ini tidak termasuk
dalam klasifikasi.
3. Bila gigi M3 masih ada dan akan digunakan sebagai pengganti, gigi ini
dimasukkan klasifikasi
4. M2 hilang tidak akan diganti jika antagonisnya sudah hilang.
5. Bagian tidak bergigi paling posterior menentukan Klas utama dalam
klasifikasi.
6. Daerah tidak bergigi lain daripada yang sudah ditetapkan dalam
klasifikasi masuk dalam modifikasi dan disebut sesuai dengan jumlah
daerah atau ruangannya.
7. Banyaknya modifikasi ditentukan oleh banyaknya ruangan yang tidak
bergigi.
8. Tidak ada modifikasi pada klasifikasi Kennedy Klas IV.
Klasifikasi Kennedy, yaitu:
Klas I:
5

Daerah tidak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih ada dan
berada pada kedua sisi rahang/Bilateral Free End. Keadaan ini sering
dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan
gigi.
Secara klinis dijumpai:
a. Derajat resorbsi residual ridge bervariasi.
b. Tenggang waktu pasien tidak bergigi akan mempengaruhi stabilitas geligi
c.
d.
e.
f.

tiruan yang akan dipasang.


Jarak antar lengkung rahang bagian posterior biasanya sudah mengecil.
Gigi asli yang masih tinggal sudah migrasi dalam berbagai posisi.
Gigi antagonis sudah ekstrusi dalam berbagai derajat
Jumlah gigi yang masih tertinggal di bagian anterior umumnya sekitar 6-

10 gigi saja.
g. Ada kemungkinan dijumpai kelainan Sendi Temporo Mandibula.
Indikasi pelayanan prostodontik Klas I:
Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan perluasan basis distal.

Klas II:
Daerah yang tidak bergigi terletak dibagian posterior gigi yang masih ada,
tetapi berada hanya pada salah satu rahang saja /unilateral free end. Klas ini
sering tidak diperhatikan pasien.
Secara klinis dijumpai keadaan:
a. Resorbsi tulang alveolar terlibat lebih banyak
b. Gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak teratur
c. Ekstrusi menyebabkan rumitnya pembuatan restorasi pada gigi antagonis ini.
6

d. Pada kasus ekstrim, karena tertundanya pembuatan protesa untuk jangka


waktu lama, kadang-kadang perlu pencabutan satu atau lebih gigi antagonis.
e. Karena pengunyahan satu sisi, sering dijumpai kelainan Sendi Temporo
Mandibula.
Indikasi pelayanan prostodontik Klas II:
Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan perluasan basis
distal.

Klas III:
Keadaan tak bergigi paradental dengan ke dua gigi tetangganya tidak lagi
mampu memberi dukungan kepada protesa secara keseluruhan.
Secara klinis dijumpai keadaan:
a. Daerah tidak bergigi sudah panjang.
b. bentuk atau panjang akar gigi kurang memadai.
c. Tulang pendukung mengalami resorbsi cervikal dan atau disertai
goyangnya gigi secara berlebihan.
d. Beban oklusal berlebihan.
Indikasi pelayanan prostodontik Klas III:
Geligi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dengan desain bilateral.

Klas IV:
Daerah tidak bergigi teretak pada bagian anterior dari gigi-gigi yang masih ada
dan melewati garis tengah rahang. Pada umumnya untuk Klas ini dapat dibuat
gigi tiruan sebagian lepasan, bila:
a. Tulang alveolar sudah banyak hilang, seperti pada kasus ruda paksa.
b. Gigi harus disusun dengan overjet besar, sehingga dibutuhkan banyak
gigi pendukung.
c. Dibutuhkan distribusi merata melalui lebih banyak gigi penahan, pada
pasien dengan daya kunyah besar.
d. Diperlukan dukungan dan retensi tambahan dari gigi penahan.
e. Mulut pasien depresif, sehingga perlu penebalan sayap untuk memenuhi
faktor estetik.
Indikasi pelayanan Prosthodontic Klas IV:
a. Geligi tiruan cekat, bila gigi-gigi tetangga masih kuat.
b. Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan dukungan gigi
atau jaringan atau kombinasi.
c. Pada kasus meragukan sebaiknya dibuat GTSL.

Klas V:
Daerah tak bergigi paradental dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai
sebagai gigi penahan atau tak mampu menahan daya kunyah. Kasus seperti ini
banyak dijumpai pada rahang atas, karena gigi kaninus yang dicabut karena
malposisi atau terjadinya kecelakaan.
Gigi bagian anterior kurang disukai sebagai gigi penahan, biasanya karena
salah satu alasan berikut ini:
a.
b.
c.
d.
e.

Daerah tak bergigi sangat panjang.


Daya kunyah pasien berlebihan.
Bentuk atau panjang akar gigi penahan kurang memadai.
Tulang pendukung lemah.
Penguatan dengan splin tidak diharapkan, dan sekalipun dilakukan tetap
tidak memberikan dukungan yang memadai, tetapi tetap dirasakan
perlunya mempertahankan geligi yang masih tinggal ini.

Indikasi pelayanan Prosthodontik Klas V:


Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan prinsip basis
berujung bebas tetapi di bagian anterior.

Klas VI:
Daerah tak bergigi paradental dengan ke dua gigi tetangga gigi asli dapat
dipakai sebagai gigi penahan. Kasus seperti ini sering kali merupakan daerah
tak bergigi yang terjadi pertama kalinya dalam mulut.
Biasanya dijumpai keadaan klinis:
a. Daerah tak bergigi yang pendek.

b. Bentuk atau panjang akar gigi tetangga memadai sebagai pendukung


penuh.
c. Sisa processus alveolaris memadai.
d. Daya kunyah pasien tidak besar.
Indikasi pelayanan prosthodontik Klas VI
a. Geligi tiruan cekat.
b. Geligi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dan desain unilateral
(protesa sadel).

Pemilihan geligi tiruan lepasan dalam hal ini didasarkan pada:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Usia pasien masih muda


Mencegah ekstrusi gigi antagonis
Pulpa gigi masih lebar
Kesehatan pasien tak memungkinkan dilakukannya preparasi segera
Kendala waktu untuk pembuatan gigi tiruan cekat
Pasien menolak pembuatan geligi tiruan cekat
Keadaan sosial ekonomi pasien tak menunjang

Selain ke enam Klas tersebut di atas, klasifikasi Aplegate Kennedy mengenai


juga modifikasi untuk daerah tak bergigi tambahan.
1. Bila tambahan ini terletak di anterior, maka disebut Klas.... modifikasi A
2. Pada penambahan yang terletak di posterior, sebutan menjadi Klas ...
modifikasi P.
3. Untuk penambahan ruangan yang lebih dari satu, dimuka huruf petunjuk
modifikasi. Diberi tambahan angka arab sesuai jumlahnya.
Contoh: Klas II Modifikasi 2A (atau 1P atau 2A dan 3P dan seterusnya).
2.4 Tahap Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
A. Kunjungan Pertama

10

1. Anamnesa Indikasi
2. Membuat Studi Model
- Alat: Sendok cetak nomor dua
- Bahan Cetak: Hyidrokoloid Irreversible (alginat)
- Metode Mencetak: Mucostatik
Posisi operator: rahang bawah: di kanan depan pasien
Posisi pasien: rahang baawah: pasien duduk tegak dan bidang oklusal
sejajar lantai posisi mulut setinggi siku operator.
-

Cara mencetak
Mula-mula dibuat adonan sesuai dengan perbandingan P/W yaitu 3:1,
setelah dicapai konsistensi yang tepat dimasukkan ke dalam sendok cetak
dengan merata, kemudian dimasukkan ke dalam mulut pasien dan tekan
posisi ke atas atau ke bawah sesuai dengan rahang yang dicetak. Di
samping itu dilakukan muscle triming agar bahan cetak mencapai lipatan
mukosa.

Posisi

dipertahankan

sampai

setting,

kemudian

sendok

dikeluarkan dari mulut dan dibersihkan dari saliva. Hasil cetakan diisi
dengan stone gips dan di-boxing.
B. Kunjungan Kedua
1. Membuat work model
- Alat: sendok cetak fisiologis
- Bahan cetak: hyidrokoloid irreversible (alginat)
- Metode mencetak: mucocompresi
- Cara mencetak
Rahang Atas:
Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke
dalam sendok cetak. Posisi operator di samping kanan belakang.
Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, sehingga garis
tengah sendok cetak berimpit dengan garis median wajah. Setelah
posisinya benar sendok cetak ditekan ke atas. Sebelumnya bibir dan pipi
penderita diangkat dengan jari telunjuk kiri, sedang jari manis, tengah dan

11

kelingking turut menekan sendok dari posterior ke anterior. Pasien disuruh


mengucapkan huruf U dan dibantu dengan trimming.
Rahang Bawah:
Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke
dalam sendok cetak. Pasien dianjurkan untuk membuang air ludah. Posisi
operator di samping kanan depan. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak
ke dalam mulut, kemudian sendok ditekan ke processus alveolaris. Pasien
diinstruksikan untuk menjulur lidah dan mengucapkan huruf U. dilakukan
muscle trimming supaya bahan mencapai lipatan mucobuccal. Posisi
dipertahankan sampai setting.
2. Pembuatan cangkolan yang akan digunakan untuk retensi gigi tiruan dengan
melakukan survey model terlebih dahulu pada gigi yang akan dipakai
sebagai tempat cangkolan berada nantinya.
3. Pembuatan basis gigi tiruan dengan menggunakan malam merah yang
dibuat sesuai dengan desain gigi tiruan.
4. Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing,
polishing.
C. Kunjungan Ketiga
1. Try in basis gigi tiruan akrilik dengan cangkolannya.
2. Pembuatan gigitan kerja yang digunakan untuk menetapkan hubungan yang
tepat dari model RA dan RB sebelum dipasang di artikulator dengan cara:
pada basis gigi tiruan yang telah kita buat tadi ditambahkan dua lapis malam
merah dimana ukurannya kita sesuaikan dengan lengkung gigi pasien.
Malam merah dilunakkan kemudian pasien diminta mengigit malam
tersebut.
3. Pemasangan model RA dan RB pada artikulator dengan memperhatikan
relasi gigitan kerja yang telah kita dapatkan tadi.
4. Penyusunan gigi tiruan dimana pada kasus ini akan dipasang gigi posterior
maka perlu diperhatikan bentuk dan ukuran gigi yang akan dipasang. Posisi
gigi ditentukan oleh kebutuhan untuk mendapatkan oklusi yang memuaskan
dengan gigi asli atau gigi tiruan antagonis untuk mendapatkan derajat oklusi

12

yang seimbang. Malam dibentuk sesuai dengan kontur alami prosesus


alveolar dan tepi gingiva.
5. Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing,
polishing.

Flasking
Flasking ialah suatu proses penanaman model dan trial denture malam dalam
suatu flasfk/cuvet untuk membuat sectional mold. Berikut prosedur kerja flasking:
1. Pilih flask yang ukurannya sesuai dengan model, kemudian letakkan
model dalam flask bagian bawah untuk memastikan bahwa flasknya
cukup.
2. Sebelum flasking ulasilah seluruh bagian dalam flask dengan lapisan
vaselin tipis dan plug bagian bawah flask diletakkan.
3. Bagian tepi/dasar model dikuas dengan separating medium (vaselin/ air
sabun).
4. Aduklah adonan gips, kemudian letakkan di flask bagian bawah lalu
model ditanam dalm flask tersebut, setelah gips agak mengeras dirapikan.
5. Setelah gips mengeras, bagian gips dicat dengan vaselin/ air sabun.
6. Buatlah adonan stone dan kuaskan pada gigi-gigi dan malam geligi tiruan
sambil digetarkan untuk mencegah terjadinya gelembung-gelembung
udara. Pasang flask bagian atas tanpa tutup, lalu isikan stone kedalam
flask sampai batas permukaan oklusal gigi-gigi.
7. Setelah stone mengeras, buatlah adonan stone kedua dan tuangkan
kedalam flask sampai penuh lalu flask ditutup dan ditaruh di bawah press
(bagian-bagian flask kontak antar metal).
Cara flasking ada 2, yaitu:
a. Pulling the casting ialah seperti cara di atas: dimana setelah boiling out,
gigi-gigi akan ikut pada flask bagian atas. keuntungannya adalah
memulaskan separating medium dan packingnya mudah, karena seluruh
mold terlihat.
b. Holding the casting: permukaan labial gigi-gigi ditutup stone/gips
sehingga setelah boiling out akan terlihat seperti gua kecil. Pada waktu
packing adonan akrilik harus melewaqti bagian bawah gigi untuk
mencapai daerah sayap, yang disebut packing through).
13

Boiling Out
Setelah flasking dilakukan, mold harus betul-betul keras paling tidak
kurang lebih 1 jam sebelum bagian kuvet dipisahkan, dan malam dibuang. Kuvet
ditaruh pada dalam air yang mendidih dengan suhu 130oF, selama 15 menit untuk
melunakkan malam, dan memisahkan kuvet. Setelah pemisahan malam, bagian
mold dicuci dengan air panas hingga tidak terdapat lagi sisa residu.
Mold yang telah dicuci ditinggalkan untuk pendinginan selama 10 menit.
Panas membantu mempercepat penetrasi dalam pemisahan dental plaster dan
mempercepat pengeringan. Jika separator tidak sengaja menutupi bagian denture
gigi, maka material yang terkontaminasi dapat dihilangkan menggunakan sikat
atau alat yang lain. Setelah pemisahan kuvet telah mengering dan kuvet telah
mengering dengan suhu yang sesuai dengan suhu kamar, maka mold siap untuk
pembuatan resin akrilik.
Packing Acrylic
Packing acrylic adalah proses mencampur monomer dan polimer resin akrilik.
Yang mempunyai dua metode yaitu:
a. Dry method ialah cara mencampur monomer dan polimer langsung
didalam mold.
b. Wet method ialah cara mencampur monomer dan polimer di luar mold dan
bila sudah mencapai dough stage baru dimasukkan ke dalam mold.
Resin akrilik adalah suatu polimer yang berbentuk bubuk dan monomer yang
berbentuk cair. Penggunaannya adalah dengan mencampur kedua kemasan
tersebut sampai didapatkan massa yang plastis agar dapat dibentuk sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan.
Nama acrylic berasal dari bahasa latin yaitu acrolain yang berarti bau tajam.
Bahan ini berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehida.
Macam-macam bahan akrilik adalah:
1.

Bahan akrilik heat cured

2.

Bahan akrilik self cured


14

3.

Bahan akrilik light cured

Komposisi dari bahan polimerisasi:


1.

Powder: polimer, polimetil metakrilat baik serbuk yang diperoleh dari


polimerisasi metal metakrilat dalam air maupun partikel yang tidak
teratur bentukannya yang diperoleh dengan cara menggerinda batangan

2.

polimer.
Cairan: monomer yaitu metil metakrilat.

Stabiliser sekitar 0,006% hydroquinone untuk mencegah berlangsungnya


polimerisasi selama penyimpanan.
Initiator peroksida berupa 0,2-0,5% benzoyl peroksida
Pigmen, sekitar 1% tercampur dalam partikel polimer.
Proses pencampuran monomer dan polimer mengalami 6 stadium:
1. Wet sand/sandy stage: adoan seperti pasir
2. Puddled sand: adonan seperti lumpur basah
3. Stringy/sticky stage: adonan apabila disentuh dengan jari/alat bersifat
lekat, apabila ditarik membentuk serat. Butir-butir polimer mulai larut,
monomer bebas meresap ke dalam polimer.
4. Dough/packing stage: adonan bersifat plastis. Pada tahap ini sifat lekat
hilang dan adonan mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang kita
inginkan.
5. Rubbery stage: kenyal seperti karet. Pada tahap ini telah banyak monomer
yang menguap, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan
yang kasar.
6. Rigid stage: kaku dan keras. Pada tahap ini adonan telah menjadi keras
dan getas pada permukaannya, sedang keadaan dibagian dalam adukan
masih kenyal.
Prosedur kerja packing:
a. Pencampuran resin akrilik. tuang monomer kedalam mixing jar porselen
yang bersih dan masukkan polimer sampai semua cairan terserap dalam
bubuk (polimer:monomer, 3:1),
b. Aduk campuran dengan spatula stainless steal sampai monomer dan
polimer tercampur dengan baik,
c. Pasang tutup mixing jar untuk mencegah menguapnya monomer saat
polimerisasi dan diamkan selama waktu yang dianjurkan pabrik,

15

d. Jar dibuka dan bahan di tes dengan spatula, jika sudah lunak dan tidak
lengket (dough stage), adonan siap dimasukkan kedalam mold,
e. Packing resin akrilik yang sudah dough stage kedalam mold dengan jari
telunjuk yang terbungkus kertas selopan. Adonan dipacking satu arah
untuk menghindari terjebaknya hawa udara antar resin akrilik dan mold,
f. Letakkan kertas selopan diatas resin akrilik, dan pasang kuvet antagonis.
g. Press dan buang kelebihan sebanyak 2 kali, lepas kertas selopan, kemudian
press dan pasang baut.
Curing
Proses curing adalah polimerisasi antara monomer yang bereaksi dengan
polimernya bila dipanaskan atau ditambah zat kimia lainnya.
Polimerisasi ada 2 cara yaitu,
1. Secara thermis yang disebut heat curing
2. Secara khemis (zat kimianya sudah ditambah dengan monomer) yang
disebut dengan cold/self curing.
Pemberian panas dapat secara:
1. Dry heat: dipanaskan dengan udara kering
2. Vapour heat: dipanaskan dengan uap panas
3. Water heat: dipanaskan dengan air panas yang biasa digunakan di
laboratorium
Pemberian panas ini harus teratur karena reaksi kimia antara monomer dan
polimer itu sendiri bersifat exsothermis. Bila polimerisasi telah dimulai maka
temperature resin akrilik akan jauh lebih tinggi dari airnya dan monomernya akan
mendidih pada temperature 1000C. Oleh karena itu, pada tahap permulaan
polimerisasi, temperature air harus dijaga jangan terlalu tinggi. Dengan demikian
panas yang timbul dari reaksi polimerisasi dapat dialihkan ke bahan investingnya,
dan

pemanasan

yang

berlebihan

sehingga

monomer

mendidih

akan

mengakibatkan terjadinya porositas pada hasil curing. Porositas dapat juga


disebabkan oleh mold yang kurang terisi atau selama curing kurang di press
sehingga terjadi shrinkage porosity.
Komposit pertama yang dikeraskan oleh proses polimerisasi teraktivasi kimia,
kadang kadang disebut sebagai cold curing. Cold curing diawali dengan
pengadukan kedua pasta. Selama proses pengadukan, hampir tidak mungkin

16

mencegah masuknya gelembung udara kedalam adukan. Gelembung udara ini


mengandng

oksigen

yang

menyebabkan

penghambatan

oksigen

selama

polimerisasi. Masalah lain dengan cold curing adalah bahwa operator tidak
memiliki pengendalian waktu kerja setelah bahan diaduk. Jadi, memasukkan
bahan dan pembentukan bahan pembentukan kontur restorasi harus diselesaikan
begitu tahap inisiasi selesai. Jadi, proses polimerisasi terus menerus terganggu
sampai operator telah menyelesaikan proses pembentukan kontur restorasi.
Untuk mengatasi masalah ini, bahan-bahan yang tidak memerlukan pengadukan
mulai dikembangkan. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan sumber sinar untuk
mengaktifkan system inisiator. Dengan mempertimbangkan kekurangan resin
cold curing, adalah bahwa bahan-bahan dengan pengerasan sinar memiliki
keuntungan dengan memungkinkan operator menyelesaikan baik pemasukan
bahan dan pembentukan kontur restorasi sebelum pengerasan dimulai.
Alat dan bahan curing:
1.

Alat perebus cuve (panci dan kompor)

2.

Timer

3.

Air

Prosedur kerja curing:


1.

Masukkan kuvet dan air di dalam panci (air yang masih dingin)

2.

Panaskan kuvet hingga air mendidih dan pertahankan selama 15 menit.

3.

Matikan api dan biarkan kuvet dalam panci sampai dingin.

4.

Setelah kuvet dingin, buka dan lepaskan model dari kuvet.

5.

Bersihkan sisa gips yang masih melekat pada gigi tiruan akrilik.

Finishing dan Polishing


Finishing
Finishing merupakan proses atau tahap penyelesaiaan geligi tiruan dari
menyempurnakan bentuk akhir geligi tiruan dengan membuang sisa-sisa resin

17

akrilik di sekitar gigi. Tonjolan tonjolan akrilik pada permukaan landasan geligi
tiruan akibat dari processing.
Waktu proses penyelesaian berhati-hatilah melindungi batas dan kontur
geligi tiruan . jika cetakan telah diboxing dengan baik dan geligi malam/ trial
denture telah diwaxing dengan baik, garis luar geligi tiruan dengan mudah dapat
ditentukan. Selain itu, jika geligi tiruan malam telah di wax contouring dengan
seksama sesuai dengan bentuk yang diinginkan, proses penyelesaian yang
diperlukan akan lebih sederhana.
Flash adalah resin akrilik yang menonjol keluar atara kedua mould karena
tekanan yang dilakukan selama prosedur processing . buanglah flash dari geligi
tiruan de ngan menekan sedikit batas geligi tiruan pada arbon band yang berputar
perlahan lahan. Jika geligi tiruan ditrial packing dengan hati hati ,aka flash hamya
sedikit sekali. Berhati-hatilah membuang flash dan sisa stone yang berada
disekitar leher gigi dengan sebuah cungkil kecil/pahat yang tajam.
Gelembung air atau bahan asing lainnya yang terjebak dibawah permukaan
stone akan membentuk ruang kosong didalam mould. Tekanan yang digunakan
waktu prosedur packing dapat menyebabkan resin akrilik patah didalam ruang
kosong tersebut dan akan terlihat sebagai gumpalan/nodul diperukaan geligi tiruan
yang telah diproses. Periksalah geligi tiruan dengan jari tangan terhadap
gelembung resin akrilik dan hati-hati buanglah bila ada dengan stone/bur bulat
kecil.
Polishing
Pemolesan geligi tiruan terdiri dari menghaluskan dan mengkilapkan
geligi tiruan tanpa mengubah konturnya .
Untuk mengkilapkan resin akrilik, semua guratan dan daerah kasar harus
dibuang, sehingga alat-alat abrasive harus digunakan untuk menghasilkan
permukaan geligi tiruan ang licin dan mengkilap. Suatu rag wheel khusus dan
brush wheel harus difunakan dengan salah satu bahan poles. Roda-roda ini tidak
boleh digunakan secara bergantian dengan bahan abrasive yang berbeda. Rag
wheel harus dibiarkan lembut dan basah dan digunakan dengan pumice basah
untuk mencegah panas yang berlebihan dari landasan geligi tiruan.

18

Gunakan rag wheel (putih) dan pumice halus untuk memoles tepi
permukaan lingual dan palatal geligi tiruan. Karena rag wheel dapat merusak
kontur asli dan stain pada permukaan fasial, maka tidak boleh menyentuh
permukaan fasial geligi tiruan.
Hilangkan semua kekasaran dari permukaan fasial yang distain dengan
brush wheel putih dan bubuk pumice halus yang basah. Pada permukaan fasial
digunakan tekanan seringan mungkin dan putaran roda serendah mungkin.
Permukaan landasan geligi tiruan yang berhadapan dengan jaringan tidak
boleh dipoles.
Bila gigi-giginya dari akrilik, maka pada waktu pemolesan gigi-gigi akrilik
tersebut harus dilindungi dengan menutupi gigi-gigi akrilik tersebut dengan tape,
sehingga anatomi gigi tidak akan rusak.
D. Kunjungan Keempat
Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTS lepasan dalam mulut pasien. Hal-hal
yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Part of insertion and part of removement
Hambatan pada permukaan gigi atau jaringan yang dijumpai pada saat
pemasangan dan pengeluaran gigi tiruan dapat dihilangkan dengan cara
pengasahan permukaan gigi tiruan (hanya pada bagian yang perlu saja).
2. Retensi
Yaitu kemampuan GTS untuk melawan gaya pemindah yang cenderung
memindahkan gigi tiruan ke arah oklusal. Retensi gigi tiruan ujung bebas
di dapat dengan cara:
-

Retensi fisiologis, diperoleh dari relasi yang erat antara basis gigi
tiruan dengan membarana mukosa di bawahnya.

Retensi mekanik, diperoleh dari bagian gigi tiruan yang bergesekan


dengan struktur anatomi. Retensi mekanik terutama diperoleh dari
lengan traumatic yang menempati undercut gigi abutment.

3. Stabilisasi
Yaitu perlawanan atau ketahanan GTS terhadap gaya yang menyebabkan
perpindahan tempat/gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan

19

berfungsi, misal pada saat mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan


dengan cara menekan bagian depan dan belakang gigi tiruan secara
bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergeseran pada saat tes
ini.
4. Oklusi
Yaitu pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral, dan
anteroposterior. caranya dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan
di bawah gigi atas dan bawah, kemudian pasien diminta melakukan
gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi pasien diminta
melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi diangkat dan
dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal terlihat warna
yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang
tidak merata pada oklusal gigi maka dilakukan pengurangan pada gigi
yang bersangkutan dengan metode selective grinding. Pengecekan oklusi
ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi.
Selective grinding yaitu pengrindingan gigi-gigi menurut hukum MUDL
(pengurangan bagian mesial gigi RA dan distal RB) dan BULL
(pengurangan bagian bukal RA dan lingual RB).
Instruksi yang harus disampaikan kepada pasien
o Mengenai cara pemakaian gigi tiruan tersebut, pasien diminta
memakai gigi tiruan tersebut terus menerus selama beberapa waktu
agar pasien terbiasa.
o Kebersihan gigi tiruan dan rongga mulut harus selalu dijaga. Sebelum
dipakai sebaiknya gigi tiruan disikat sampai bersih.
o Pada malam hari atau bila tidak digunakan, protesa dilepas dan
direndam dalam air dingin yang bersih agar gigi tiruan tersebut tidak
berubah ukurannya.
o Jangan

dipakai

untuk

makan

makanan

yang

keras

dan

lengket.\Apabila timbul rasa sakit setelah pemasangan pasien harap


segera kontrol.
o Kontrol seminggu berikutnya setelah insersi.

20

E. Kunjungan Kelima
Kontrol dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Tindakan
yang perlu dilakukan:
1. Pemeriksaan subjektif
Pasien ditanya apa ada keluhan rasa sakit atau rasa mengganjal saat
pemakaian gigi tiruan tersebut.
2. Pemeriksaan objektif
o Melihat keadaan mulut dan jaringan mulut
o Melihat keadaan GTS lepasan baik pada plat dasar gigi tiruannya
maupun pada mukosa di bawahnya.
o Melihat posisi cangkolan.
o Melihat keadaan gigi abutment dan jaringan pendukungnya.
o Memperhatikan oklusi, retensi, dan stabilisasi gigi tiruan.
2.5 Faktor Keberhasilan Dan Kegagalan GTSL
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan GTS adalah:
1. Gigi tiruan tersebut harus tahan lama
2. Gigi tiruan tersebut harus dapat mempertahankan dan melindungi gigi
yang masih ada serta jaringan yang sekitarnya.
3. Gigi tiruan tersebut tidak boleh merugikan pasien dalam bentuk
apapun
4. Gigi tiruan tersebut harus mempunyai konstruksi dan desain yang
harmonis.
Keberhasilan pembuatan GTS adalah
1. Kooperatifan pasien.
2. Kondisi rongga mulut pasien
3. Kemampuan tekniker
4. Retensi dan stabilisasi GTS yang berasal dari cengkram dan anatomi
rongga mulut pasien.
5. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok
6. Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut
Kegagalan Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan:
21

1. Manipulasi yang salah: mencetak dan permukaan oklusal yang tidak


balance oclution
2. Perluasan landasan geligi tiruan yang tidak memenuhi syarat atau
landasan geligi tiruan yang tidak cermat.
3. Oklusi yang tidak layak yaitu relasi sentris, dimensi vertical dan
kontak premature yang salah, hubungan sentris dan eksentris serta
hubungan tonjol yang kurang seimbang
4. Daya horizontal dari bibir, pipi dan lidah pada gigi-gigi dan sayap
geligi tiruan.

22

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Tujuan dan manfaat GTSL
- Mengembalikan dan memperbaiki fungsi mengunyah dan bicara.
- Memperbaiki profil wajah.
- Mempertahankan kesehatan jaringan
2. Indikasi dan Kontraindikasi GTSL
Indikasi GTSL
-

Bila tidak memenuhi syarat untuk suatu gigi tiruan cekat.

Kontraindikasi GTSL
-

Penderita yang tidak kooperatif, sifat tidak menghargai perawatan gigi


tiruan.

Umur lanjut, mempertimbangkan sifat dan kondisi penderita sebaiknya


dibuatkan GT temporer.

penyakit sistemik (epilepsy, DM tidak terkontrol)

OH jelek.

3. Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Klasifikasi Gigi tiruan sebagian lepasan ada bermacam0macam, tetapi yang
paling sering digunakan adalah klasifikasi kennedy, yaitu:
Klas I Kennedy: daerah tidak bergigi di bagian posterior dari gigi

masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral)


Klas II Kennedy: daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari
gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu sisi saja

(unilateral)
Klas III Kennedy: daerah yang tak bergigi terletak di antera gigi-gigi

yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya unilateral.


Klas IV Kennedy: daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dan

gigi yang masih dan melewati garis median (tengah).


Klas V Kennedy: Daerah tak bergigi paradental dimana gigi asli
anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan atau tak mampu

23

menahan daya kunyah. Kasus seperti ini banyak dijumpai pada rahang
atas, karena gigi kaninus yang dicabut karena malposisi atau

terjadinya kecelakaan.
Klas VI Kennedy: Daerah tak bergigi paradental dengan ke dua gigi
tetangga gigi asli dapat dipakai sebagai gigi penahan. Kasus seperti
ini sering kali merupakan daerah tak bergigi yang terjadi pertama
kalinya dalam mulut.

4. Tahapan pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Tahapan dalam pembuatan Gigi tiruan sebagian lepasan adalah sebagai
berikut:
Anamnesa
Pemeiksaan
Pencetakan model study
Pembuatan desain
Penyusunan gig
flasking
moulding
packing
curing
deflasking
pengasahan
polishing dan finishing
insersi
5. Faktor keberhasilan dan kegagalan GTSL
Keberhasilan pembuatan GTS adalah
1.
2.
3.
4.

Kooperatifan pasien.
Kondisi rongga mulut pasien
Kemampuan tekniker
Retensi dan stabilisasi GTS yang berasal dari cengkram dan

anatomi rongga mulut pasien.


5. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok
6. Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut
Kegagalan Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan:
1. Manipulasi yang salah: mencetak dan permukaan oklusal yang
tidak balance oclution
2. Perluasan landasan geligi tiruan yang tidak memenuhi syarat atau
landasan geligi tiruan yang tidak cermat.
24

3. Oklusi yang tidak layak yaitu relasi sentris, dimensi vertical dan
kontak premature yang salah, hubungan sentris dan eksentris serta
hubungan tonjol yang kurang seimbang
4. Daya horizontal dari bibir, pipi dan lidah pada gigi-gigi dan sayap
geligi tiruan.

25