Anda di halaman 1dari 21

REVIEW JURNAL TRANSGENDER

Shintya Deni P.

13/347136/PS/06525

Permata Sari 13/347090/PS/06495

Zahra Frida I. 13/346763/PS/06466


Nindya Dwi A.S

13/347272/PS/06559

Naila Kautsari 13/347106/PS/06505


Ariefa Nur I.

13/347075/PS/06493

R. Wien Dalu W.

Ezra Pradipta A.
Yoga Arta G.

13/347139/PS/06527
13/349395/PS/06580

13/349401/PS/06586

REVIEW JURNAL I
Judul : HIV Prevalence, Risk Behaviors, Health
Care Use, and Mental Health Status of
Transgender Persons: Implications for Public
Health Intervention
Penulis : Kristen Clements-Nolle, Rani Marx,
Robert Guzman, dan Mitchell Katz

I. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN


Transgender adalah istilah untuk individu yang
mengalami presistensi dan kegelisahan yang
tidak menyenangkan terhadap jenis kelaminnya.
Hasil dari suatu penelitian kualitatif
menyebutkan bahwa transgender perempuan ke
laki-laki dan laki-laki ke perempuan mengalami
diskriminasi berat di tempat kerja, lingkungan
tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan.
Tingginya prevalensi HIV ditemukan pada
pekerja seks transgender dan kecenderungan
narkoba.

II. METODE

Subjek
392 transgender laki-laki-perempuan dan 123
transgender perempuan-laki-laki. Karakteristik subjek
adalah berusia 18 tahun keatas, tinggal dan bekerja di
San Fransisco, berbahasa inggris, vietnam, spanyol, atau
tagalong, dan mengidentifikasi dirinya sebagai
transgender.
Instrumen Penelitian
Menggunakan wawancara dan pertanyaan tentang
demografis dan perilaku seksualnya serta prevalensi
penggunaan obat-obatan terlarang.
The 20-item Center of Epidemiologic Studies Depression
Scale dan test HIV.

III. HASIL
a.

b.

c.

HIV Risk Among Male-to-Female Participants

Sebanyak 35% dari subjek transgender laki-laki ke perempuan memiliki


hasil tes HIV positif. Dari hasil tersebut, persebaran transgender lakilaki-perempuan yang rentan terhadap resiko HIV adalah dari ras
African-American.
HIV Risk Among Female-to-Male Participants
Dua dari 123 subjek transgender perempuan ke laki-laki positif HIV.
31% pernah bekerja sebagai pekerja sex, dan 59% pernah diperkosa. 20%
subjek tidak melakukan hubungan seks selama enam bulan terakhir.
46% memiliki satu pasangan, 32% memiliki sampai 10 pasangan, dan
2% memiliki lebih dari 10 pasangan.
Health Care Use and Mental Health Status Among Male-to-Female
and Female-to-Male Transgender Individuals
Kurang dari sepertiga subjek melakukan percobaan bunuh diri, dan
seperlima dari masing-masing kelompok pernah dirawat terkait masalah
kesehatan jiwa. Hampir dua pertiga transgender laki-laki ke perempuan
dan 55% transgender perempuan ke laki-laki mengalami depresi.

REVIEW JURNAL II
Judul
:
Suicide and suicide risk in lesbian, gay, bisexual,
and transgender populations: review and
recommendations
Penulis
: Aan P. Haas Ph.D
Metode Penelitian : Kajian Jurnal

TEMUAN
Transgender merupakan istilah yang digunakan
untuk menjelaskan orang dengan identitas, ekspresi
atau perilaku yang berbeda dengan jenis kelaminnya
saatdilahirkan (Feinberg, 1992; Kirk & Kulkarni,
2006).
Di USA 1 dalam 30.000 pria dan 1 dalam 100.000
perempuan mencari cara untuk mengubah jenis
kelaminnya dengan cara operasi (American,
Psychiatric Association, 2000).
Percobaan bunuh diri lebih besar 19% - 25% pada
transgender yang melakukan operasi ganti kelamin.
1/3 transgender melakukan percobaan bunuh diri
semasa hidupnya

LGBT suicide prevention efforts:


Menunjukkan resiko bunuh diri pada LGBT dan
intervensi yang dapat dilakukan untuk
mengurangi resiko tersebut pada masyarakat.
Menciptakan intervensi yang lebih luas lagi
untuk mengurangi perilaku dan resiko bunuh
diri pada grup LGBT yang spesifik.
Menciptakan dan mengimplementasikan
program edukasi untuk meningkatkan
kompetensi pada resiko bunuh diri LGBT

REVIEW JURNAL III


Judul :
Experiencing Violence and Enacting Resilience:
The Case Story of a Transgender Youth
Penulis
: Gloria T. DiFulvio
I. Latar Belakang
Di Amerika Serikat 30 % sampai 80 % dari
minoritas seksual remaja dan orang dewasa
telah mengalami beberapa bentuk viktimisasi
-verbal atau fisik-berdasarkan orientasi seksual
mereka.

LANJUTAN LATAR BELAKANG

Menurut Massachusetts survei resiko perilaku


remaja, remaja minoritas seksual 3 kali lebih
mungkin untuk kehilangan sekolah karena
perasaan tidak aman dan 4 kali lebih mungkin
telah terluka atau diancam dengan senjata
menggunakan properti sekolah (Massachusetts
Department of Education, 2008). Para peneliti
telah menyerukan untuk memperluas pandangan
kita tentang ketahanan, khususnya cara di mana
remaja menafsirkan dan adaptif menanggapi
diskriminasi dan prasangka mungkin mereka
hadapi sebagai anggota kelompok marjinal
(Wexler, DiFulvio, & Burke, 2009).

II. METODE
Studi ini mencerminkan hasil dari 22 wawancara
dengan 15 orang antara usia 14 dan 22 tahun
dengan usia rata-rata 18 tahun. Tujuh dari 15
orang diwawancarai dua kali dan 8 diwawancarai
sekali untuk total 22 wawancara.
Peserta telah diidentifikasi sebagai seorang gay
kurang dari 1 sampai 7 tahun sebelum
penelitian, dengan rata-rata lama waktu 3
tahun. Peserta direkrut melalui metode
purposive sampling.

CERITA KATIE

Katie adalah seorang yang berumur 14 tahun


dan mengidentifikasi dirinya transgender dari
laki-laki menjadi perempuan yang berorientasi
pada heteroseksual. Ketie ingin menjalani
operasi ganti kelamin, namun menurut dokter
dan keluarganya bahwa ia terlalu muda untuk
melakukan operasi itu. Ketika mendapatkan
pesan tentang status minoritas seksual,
memahami dirinya berbeda dari orang lain
membuat Katie merasa terisolasi, dihina, dan
malu. Katie mengalami kekerasan setiap hari
sebagai akibat dari perbedaannya.

Katie dianggap berbeda oleh teman-temannya


karena dia memiliki sifat seperti perempuan tapi
berpenampilan laki-laki. Hal inilah yang
membuat dia merasa sendirian dan terisolasi.
Perasaan saat menjadi orang lain dan berjuang
untuk menjadi heteroseksual memunculkan
konsekuensi negatif tersendiri bagi Katie. Katie
pernah melakukan percobaan bunuh diri karena
mengalami konflik dengan dirinya sendiri
tentang orientasi seksual.

III. PEMBAHASAN

Kekerasan seksual yang dialami Katie selama


hampir setiap hari dapat menghancurkan
identitasnya. Katie harus menjadi seseorang
yang bukan dirinya. Katie berjuang dan
berusaha agar ia dapat diterima di lingkungan
sekitarnya terutama di sekolah yaitu dengan
menganggap bahwa dia heteroseksual. Orang
terutama remaja yang mengalami hal seperti ini
sangat membutuhkan dukungan orangtua
mereka.

REVIEW JURNAL IV
Judul
:
Transgender Emotional and Coping Processes:
Facilitative and Avoidant Coping Throughout
Gender Transition
Penulis
: Stephanie L. Budge, Sabra L. KatzWise, Esther N. Tebbe, Kimberly A.S. Howard,
Carrie L. Schneider, dan Adriana Rodriguez

I. LATAR BELAKANG
Sebuah studi tambahan pada pengembangan
identitas transeksual ditulis dalam narasi yang
menjelaskan bagaimana transeksual dan crossdressing individu mengalami identitas mereka
dan "diri sejati" (Mason-Schrock, 1996).
Emosi selama proses transisi berpusat pada
tekanan psikologis dan kecemasan. Tampaknya
fokus pada tekanan psikologis dapat
menyebabkan diskriminasi yang dialami oleh
orang-orang dalam komunitas transgender.

II. METODE

Partisipan
Partisipan adalah 13 male-to-female transsexual
(MTF) dan 2 female-to-male transsexual (FTM), 2
homoseksual, dan 1 biologically male crossdresser. Rentang usia partisipan yaitu antara 20
sampai 67 tahun. Orientasi seksual yang
dilaporkan adalah 6 lesbian, 6 biseksual, 3
heteroseksual, 2 homoseksual, 1 dipertanyakan,
1 aseksual, dan 1 panseksual.

III. PROSEDUR

Partisipan direkrut via email yang dikirimkan ke


LGBT Center yang mewadahi support groups
transgender (komunitas dan universitas) di dua
kota metropolitan midwest Amerika. Seluruh
wawancara dilakukan secara pribadi, biasanya di
ruangan pribadi peneliti atau ruangan pribadi di
LGBT Community Center. Wawancara
berlangsung antara 90 sampai 180 menit dan
partisipan diminta untuk mendiskusikan setiap
pertanyaan sepanjang yang mereka mau. Setelah
wawancara dilakukan, peneliti melakukan
verbatim.

IV. ANALISIS DATA

Data dianalisis menggunakan metode teori dasar


Charmaz (2006). Peneliti menganalisis data dalam 3
fase, yaitu yang pertama, menggunakan line-by-line
coding, yang kedua focused coding , dan terakhir
peneliti mengumpulkan semua kode line-by-line dan
kategori yang lebih tinggi dari setiap wawancara.
Untuk memastikan validitas, peneliti melakukan
beberapa metode berbeda : koding konsensual,
triangulasi, dan merekrut auditor untuk mereview
pekerjaan mereka.
Metode lain yang digunakan adalah triangulasi yang
biasanya menggunakan poin data atau konsultasi dari
penelitian sebelumnya.

V. DISKUSI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami


proses emosional dan koping individu transgender
selama mereka transisi. Cerita partisipan menarik,
informatif, dan unik, meskipun beberapa poin diskusi
lebih indikatif pada dampak transisi gender pada
proses emosi individu transgender.
Ada tiga tahap utama untuk rites-of-passage: (a)
pemisahan individu dari negara sosial mereka
sebelumnya, (b) masa transisi di mana orang tersebut
tidak dalam satu negara atau lain, dan (c) fase
reintegrasi di mana individu diserap ke negara baru
melalui berbagai upacara pendirian.