Anda di halaman 1dari 33

TAX PLANNING ATAS

STRUKTUR INBOUND
INVESTMENT
Penyampai Materi :

Riyanto Sutiarso, SE., MAK., Akt., CA.,


BKP., SAS

Subject: a

Disampaikan di PPAk UII Yogyakarta


06 September 2015

BIODATA
D3

Pajak STAN Depkeu 1996


D3 Akuntansi - STAN 2002
Ekonomi Jurusan Akuntansi 2006
PPAk UII Yogyakarta (Angk-1)
2011
Magister Akuntansi (UII Angk2) 2012
Email:
riyanto.sutiarso@gmail.com
HP:

0818-270175
Sertifikasi: Sertifikat Konsultan
Pajak (BKP Tk. B), Sertifikasi
Akuntansi Syariah

PENGALAMAN
KERJA
A. Direktorat

Jenderal Pajak (DJP) :

1)

Pelaksana pada KPP Sukabumi (1996-2000)

2)

Pegawai Tugas Belajar pada Kantor Pusat DJP (2000-2002)

3)

Pelaksana KPP Yogyakarta Dua (2002-2007)

4)

Penelaah Keberatan di Kanwil Sul-SelBarTra (2007-2010)

5)

Account Representative KPP Pratama Wates (2010-2013)

6)

Account Representative KPP Pratama Bantul (2013- ....)

B. Di Luar DJP
1)

Instruktur Brevet Pajak A/B IAI Wilayah Yogyakarta

2)

Instruktur Brevet Pajak A/B UPN Yogyakarta

3)

Instruktur Brevet Pajak A/B Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

4)

Instruktur Brevet Pajak A/B Sekolah Vokasi UGM

5)

Instruktur Brevet Pajak A/B P2EB UGM

6)

Staff Pengajar Fak.Ilmu Sosial & Ekonomi Jur. Akuntansi UNRIYO

MANAJEMEN PAJAK

STRATEGI TAX PLANNING

INBOUND INVESTMENT

INBOUND INVESTMENT
X Corp.

X Corp.
Negara X

Deviden

Indonesia

Modal

Branch Profit Tax


PT.
X Indonesia

BUT X Corp
(Cabang)

X Tarif Pajak

Income

Jika Laba BUT dikirim ke Kantor Pusat, maka


ditambah lagi Branch Profit Tax. Jika Laba ditanam
kembali di Indonesia Tidak dikenakan Branch
Profit Tax

SUBJEK PAJAK
Pasal 2 ayat (2) UU PPh

SUBJEK PAJAK

DALAM NEGERI

LUAR NEGERI

SUBJEK PAJAK
LUAR NEGERI
Pasal 2 ayat (4) UU PPh

ORANG PRIBADI YG TIDAK BERTEMPAT


TINGGAL DI INDONESIA / BERADA DI
INDONESIA TIDAK LEBIH DARI 183 HARI
DALAM 12 BULAN
BADAN YG TIDAK DIDIRIKAN DAN TIDAK
BERTEMPAT KEDUDUKAN DI INDONESIA

YANG MENJALANKAN
USAHA ATAU
KEGIATAN MELALUI
BUT DI INDONESIA

YANG MENERIMA ATAU


MEMPEROLEH
PENGHASILAN DARI
INDONESIA BUKAN
DARI MENJALANKAN
USAHA ATAU KEGIATAN
MELALUI
BUT DI INDONESIA 10

BENTUK USAHA
TETAP
Pasal 2 ayat (5) UU PPh

BENTUK USAHA YANG


DIPERGUNAKAN OLEH

ORANG PRIBADI
SEBAGAI
SUBJEK PAJAK LN

BADAN
SEBAGAI
SUBJEK PAJAK LN

UNTUK MENJALANKAN
USAHA ATAU KEGIATAN
DI INDONESIA

11

BENTUK USAHA TETAP (BUT)


Pasal 2 ayat (5) UU PPh

DAPAT BERUPA

Tempat kedudukan manajemen


Cabang perusahaan
Kantor perwakilan
Gedung kantor
Pabrik
Bengkel
Pertambangan dan penggalian sumber alam,
wilayah kerja pengeboran untuk pertambangan
Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau
kehutanan
Proyek konstruksi/instalasi/perakitan
Pemberian jasa yang dilakukan lebih dari 60 hari
dalam jangka waktu 12 bulan
Agen yang kedudukannya tidak bebas
Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi luar
negeri yang menerima premi atau menanggung resiko
di Indonesia

Gudang
(m/ 2009)
Ruang untuk promosi dan penjualan
(m/ 2009)
Dedicated server u/ kegiatan usaha melalui internet (m/2009)

BUT FISIK ATAU AKTIVA:


a. tempat
kedudukan
manajemen;
b. cabang perusahaan;
c. kantor perwakilan;
d. gedung kantor;
e. pabrik;
f. bengkel;
g. pertambangan dan
penggalian sumber alam,
wilayah kerja pengeboran
yang digunakan untuk
eksplorasi pertambangan;
h. perikanan, peternakan,
pertanian, perkebunan,
atau kehutanan;

Perwujudan BUT di Indonesia:

BUT AGEN:
k. orang atau badan
yang
bertindak
selaku agen yang
kedudukannya tidak
bebas,

BUT
BUT PROYEK:
i. proyek konstruksi, instalasi,
atau proyek perakitan;
BUT JASA:
j. pemberian jasa dalam bentuk
apapun oleh pegawai atau oleh
orang
lain,
sepanjang
dilakukan lebih dari 60 (enam
puluh) hari dalam jangka waktu
12 (dua belas) bulan;

BUT ASURANSI:
l. Agen atau pegawai
dari
perusahaan
asuransi yang tidak
didirikan dan tidak
bertempat kedudukan
di Indonesia yang
menerima
premi
asuransi
atau
menanggung risiko di
Indonesia.

KANTOR PERWAKILAN
PERUSAHAAN LUAR
NEGERI
(REPRESENTATIVE
OFFICE)
mewakili
perusahaan
untuk
melakukan
kegiatan-kegiatan
yang sifatnya tidak mencari laba,
misalnya kegiatan-kegiatan yang
berupa
pengumpulan
data,
melakukan
feasibility
study,
melakukan kegiatan promosi dan
sebagainya untuk kepentingan
perusahaan luar negeri yang
bersangkutan

AZAS PENGENAAN
PAJAK

Azas
penduduk
(residence
principle):
pengenaan pajak kepada resident (SPDN) atas
seluruh penghasilan (worldwide income), dan
kepada non-residents (SPLN) atas penghasilan
yang bersumber dari negara itu.

Azas
sumber
(source
principle): yaitu
pengenaan
pajak
atas
penghasilan
yang
bersumber dari negara itu tanpa memandang dari
status Subjek Pajak dari si penerima penghasilan.

Azas kewarganegaraan (citizenship): adalah


pengenaan
pajak
berdasarkan
status
warganegara.

Justifikasi Pengenaan Pajak


Legal Connection

Factual/Economic
Connection

Residence Principal

Source Principle

Citizenship
Principle

DIMENSI PENGENAAN
PAJAK
Residence
Principle

Foreign
Perpajakan
Internasional

Extra
Territorial

Income

1
Domestic

Perpajakan
Domestik

Perpajakan
Internasional

Source
Principle

Residents

Residency

NonResidents

DIMENSI PENGENAAN
PAJAK

X Co.

Investment

Ph.Sewa

Negara S Negara
sumber
Diskusikan:
Dimensi dan azas
pemajakan apa yang
diterapkan agar S dapat
mengenakan pajak atas
penghasilan sewa itu?
Negara S

Negara D

Ali

Negara D Negara
domisili
Diskusikan:
Dimensi dan azas
pemajakan apa yang
diterapkan agar D dapat
mengenakan pajak atas
penghasilan sewa itu?

DIMENSI PI DALAM UU
PPH
Dimensi Pajak
Taxing the
foreign
income

Taxing the foreigner

Subjek Pajak

SP DN

SP LN BUT

SP LN non
BUT

Objek Pajak

Pasal 4 ayat
Pasal 5 ayat
Pasal 26 ayat
(1) minus ayat (1) a, b, dan c (1), (2) , dan
(3)
(4)

Pengurang

Pasal 6 dan 9

Pasal 5 ayat
(2)

Tarif Pajak

Pasal 17 ayat
(1) a atau b

Pasal 17 ayat
(1) b

Pelunasan
Pajak

Self
Assessment

Self
Withholding
Assessment &
Withholding

Penghilangan
Pajak
Berganda

Pasal 24
(Metode
kredit, per
country
limitation)

Pasal 26 ayat
(1), (2) , dan
(4)

MENGHITUNG PAJAK: BUT


DAN PMA
Bentuk Usaha Tetap

Penanaman Modal Asing


Foreign Parents

Head Office
Luar Negeri

Luar Negeri

Indonesia

Indonesia

BUT

Revenue
Pasal 5(1)

Expenses
Pasal 5(2),5(3)

PMA
(Domestic Subsidiary)

Revenue
Pasal 4(1)

Deductible
Expenses

Net
Profit

Branch
Profit
-

Dividen

Penghasilan Kena
Pajak: Pasal 16(3)

PPh Terutang

X
Tarif Pasal 17

PPh Terutang

Penghasilan Kena
Pajak: Pasal 16(1)
X
Tarif Pasal 17

OBJEK PAJAK BUT


Pasal 5 ayat (1) UU PPh

PENGHASILAN
DARI

PENGHASILAN
KANTOR PUSAT
DARI

- USAHA/KEGIATAN BUT
- HARTA YANG DIMILIKI/
DIKUASAI BUT

- USAHA ATAU KEGIATAN


- PENJUALAN
BARANG-BARANG
- PEMBERIAN JASA
DI INDONESIA
YG SEJENIS DGN
YG DILAKUKAN BUT
DI INDONESIA

PENGHASILAN
YG TERSEBUT
DLM PASAL 26
YG DITERIMA
ATAU
DIPEROLEH
KANTOR PUSAT

SEPANJANG ADA
HUBUNGAN EFEKTIF
ANTARA BUT DGN
HARTA/KEGIATAN YG
MEMBERIKAN
PENGHASILAN

ATRIBUSI FAKTUAL: PASAL 5 AYAT (1)


HURUF A
X Corp.
Negara X

Income
BUT
X Corp.

Indonesia

Sales Product X

Income
Assets
PT PQR

PT ABC

Atribusi Faktual: Objek Pajak BUT dari kegiatan


atau harta BUT tersebut.

OBJEK PAJAK BUT


PENGHASILAN KANTOR PUSAT DARI USAHA ATAU
KEGIATAN DAN PENJUALAN BARANG YG SEJENIS
DENGAN YG DILAKUKAN BUT DI INDONESIA

Penjelasan Pasal 5 ayat (1) huruf b


BANK
DI LUAR
INDONESIA

BANK BUT
DI
INDONESIA

PINJAMAN

PT. A
DI
INDONESIA

BUNGA
PINJAMAN

KANTOR
PUSAT
DI L. N

BUT DI
INDONESIA

BARANG
LISTRIK

LABA
BARANG LISTRIK

KANTOR
PUSAT
KONSULTAN
DI L. N

BUT DI
INDONESIA

PT. B
DI
INDONESIA

JASA
KONSULTASI

FEE
JASA KONSULTASI

PT. D
DI
INDONESIA
PT. C
DI
INDONESIA

PT. F
DI
INDONESIA
PT. E 22
DI
INDONESIA

FORCE OF ATTRACTION: PASAL 5 AYAT


(1) HURUF B

Income

X Corp.
Negara X
Indonesia

Sales Product X

BUT
X Corp.

Income

Sales Product X
PT ABC
PT PQR

Force of attraction: Income kantor pusat dari PT ABC


menjadi objek pajak BUT.

OBJEK PAJAK BUT


PENGHASILAN KANTOR PUSAT TSB DALAM
PASAL 26 SEPANJANG TERDAPAT HUBUNGAN
EFEKTIF ANTARA BUT DGN HARTA/KEGIATAN
YANG MEMBERIKAN PENGHASILAN
Penjelasan Pasal 5 ayat (1) huruf c

X. Inc
DI LUAR
INDONESIA
PERJANJIAN/
LISENSI
PENGGUNAAN
MERKX Inc

BUT
DI
INDONESIA

ROYALTI

PT. Y
DI
INDONESIA
JASA MANAJEMEN;
JASA PEMASARAN;
JASA PRODUKSI
24

HUBUNGAN EFEKTIF: PASAL 5 AYAT (1)


HURUF C
Royalty & fee
BT Corp.

Negara X
Indonesia

License
Agreement
Management
Agreement

BUT
Betah Corp.

PT ABC
Bangunan
Hotel

Terdapat hubungan efektif antara BUT dengan harta


atau kegiatan yang memberikan penghasilan kepada
kantor pusat royalty dan fee adalah objek pajak
BUT.

BIAYA YANG BOLEH


DIKURANGKAN DARI
PENGHASILAN BUT
Pasal 5 Ayat (2)

BIAYA YANG BERKENAAN


DENGAN
PENGHASILAN
KANTOR PUSAT

SEHUBUNGAN DENGAN :
- Usaha atau kegiatan,
- Penjualan barang,
- Pemberian jasa,
YG SEJENIS DGN YANG
DIJALANKAN BUT DI
INDONESIA

PENGHASILAN
SEBAGAIMANA
TSB DALAM PASAL 26
JIKA TERDAPAT
HUBUNGAN EFEKTIF
ANTARA BUT DENGAN
HARTA/KEGIATAN YG
MEMBERIKAN
PENGHASILAN 26

PENENTUAN LABA
BUT
Pasal 5 Ayat (3)
BIAYA ADM. KANTOR
PUSAT YG BOLEH
DIBEBANKAN
SBG BIAYA

BIAYA YG BERKAITAN
DGN USAHA
ATAU KEGIATAN BUT

BESARNYA DITETAPKAN
DIRJEN PAJAK
PEMBAYARAN KPD
KANTOR PUSAT YG
TIDAK BOLEH
DIBEBANKAN SBG
BIAYA

BUKAN SBG
PENGHASILAN BUT,
PEMBAYARAN DARI
KANTOR PUSAT
BERUPA

- ROYALTI/IMBALAN SEHUB.
DGN PENGGUNAAN HARTA,
PATEN, DAN HAK LAINNYA
- IMBALAN SEHUB. DGN JASA
MANAJEMEN DAN JASA
LAINNYA
- BUNGA, KECUALI BUNGA YG
BERKENAAN DGN USAHA
PERBANKAN

- ROYALTI/IMBALAN SEHUB.
DGN PENGGUNAAN HARTA,
PATEN, DAN HAK LAINNYA
- IMBALAN SEHUB. DGN JASA
MANAJEMEN DAN JASA
LAINNYA
- BUNGA, KECUALI BUNGA YG
BERKENAAN DGN USAHA
27
PERBANKAN

KEP 62/PJ./1995
BIAYA ADMINISTRASI
KANTOR PUSAT (1)
Besarnya

biaya administrasi
kantor
pusat
yang
diperbolehkan
untuk
dikurangkan dari penghasilan
bruto di Indonesia setinggitingginya adalah sebanding
dengan besarnya peredaran
usaha atau kegiatan bentuk
usaha tetap di Indonesia
terhadap seluruh peredaran
usaha
atau
kegiatan
perusahaan di seluruh dunia.

KEP 62/PJ./1995
BIAYA ADMINISTRASI
KANTOR PUSAT (2)

Bentuk usaha tetap di Indonesia yang


mengurangkan biaya administrasi kantor
pusat
wajib
menyampaikan
laporan
keuangan konsolidasi atau kombinasi dari
kantor pusat yang meliputi seluruh usaha
dan/atau kegiatan perusahaan di seluruh
dunia
untuk
tahun
pajak
yang
bersangkutan sebagai lampiran Surat
Pemberitahuan
Tahunan
Pajak
Penghasilan.
Laporan Keuangan konsolidasi atau
kombinasi harus sudah diaudit oleh
akuntan publik dan mengungkapkan
rincian peredaran usaha atau kegiatan
perusahaan serta jenis dan besarnya biaya
administrasi yang dibebankan kepada
masing-masing bentuk usaha tetap di
negara
tempat
perusahaan
yang
bersangkutan melakukan usaha atau
kegiatan

PEMOTONG, OBJEK DAN


TARIF PPh PASAL 26
Pasal 26

PEMOTONG
PPh 26

* BADAN PEMERINTAH
* SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI
* PENYELENGGARA KEGIATAN
* BENTUK USAHA TETAP
* PERWAKILAN PERUSAHAAN
LUAR NEGERI LAINNYA

OBJEK
PENGHASILAN WP LUAR NEGERI

DIVIDEN, BUNGA,ROYALTI, SEWA,


IMBALAN SEHUB. DGN. JASA,
PEKERJAAN,KEGIATAN,HADIAH
DAN PENGHARGAAN, PENSIUN DAN
PEMBAYARAN BERKALA LAINNYA
PENGHASILAN DARI PENJUALAN
HARTA DI INDONESIA KECUALI
YG DIATUR DLM PASAL 4 (2),
PREMI ASURANSI/REASURANSI
YANG DIBAYARKAN
KPD PERUSAHAAN ASURANSI LN
PKP SETELAH DIKURANGI PPh
BUT DI INDONESIA,
KECUALI PENGHASILAN TSB
DITANAM KEMBALI DI INDONESIA
PELAKSANAAN KETENTUANNYA DIATUR
LEBIH LANJUT DGN KEP.MENKEU

DIPOTONG
PPh PSL 26 DGN TARIF

20 % DARI
JUMLAH BRUTO
(FINAL)

20 % DARI
PERKIRAAN
PENGHASILAN
NETO (FINAL)
20 % DARI
PKP DIKURANGI
PPh BUT
30
(FINAL)

CONTOH PENGHITUNGAN
PPh PASAL 26 PADA BUT

PENGHASILAN KENA PAJAK


BUT DI INDONESIA
PPh TERUTANG :
25% X Rp
17.500.000.000,PKP SETELAH
DIKURANGI PAJAK

Rp 17.500.000.000,= (Rp 4.375.500.000)


= Rp13.125.250.000,-

Rp 13.125.000.000,-

PPh PSL 26 YG DIPOTONG (20%)

(Rp

2.625.000.000)

PENGHASILAN YG DIKIRIM KE
KANTOR PUSAT

Rp 10.500.000.000,-

Branch Profit Tax


APABILA
DITANAMKAN KEMBALI DI INDONESIA
SESUAI KEP. MENKEU, MAKA
TIDAK DIPOTONG PAJAK

31

PEMOTONGAN PPh PASAL 26


YANG TIDAK BERSIFAT FINAL
Pasal 26 ayat (5)

PEMOTONGAN ATAS :
a. -. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau
kegiatan penjualan barang atau pemberian
jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang
dijalankan oleh BUT di Indonesia
- Penghasilan yang diterima atau diperoleh
kantor pusat sepanjang terdapat hubungan
efektif antara BUT dengan harta atau kegiatan
yang memberikan penghasilan dimaksud
b. Penghasilan yang diterima atau diperoleh
orang pribadi atau badan luar negeri yang
berubah status menjadi Wajib Pajak dalam
negeri atau BUT

32

riyanto.sutiarso@gmail.com
0818 - 270175