Anda di halaman 1dari 18

TINJAUAN PUSTAKA

Asfiksia Neonatorum
Asfiksia pada bayi baru lahir menjadi penyebab kematian 19% dari 5 juta
kematian bayi baru lahir setiap tahun. Data mengungkapkan bahwa kira-kira 10%
BBL membutuhkan bantuan untuk mulai bernapas dari bantuan ringan (langkah
awal dan stimulasi untuk bernapas) hingga resusitasi lanjut yang ekstensif. Dari
jumlah tersebut kira-kira hanya 1% saja yang membutuhkan resusitasi ekstensif.
Antara 1% sanoau 10% bayi baru lahir di rumah sakit membutuhkan bantuan
ventilasi dan sedikit saja yang membutuhkan intubasi dan kompresi dada.
Kebutuhan resusitasi dapat diantisipasi pada sejumlah besar bayi baru
lahir. Walaupun demikian, kadang-kadang kebutuhan resusitasi tidak dapat
diduga. Oleh karena itu tempat dan peralatan untuk melakukan resustasi harus
memadahi dan petugas yang sudah dilatih dan terampil harus tersedia setiap saat
di semua tempat kelahiran bayi.8,9
DEFINISI
Resusitasi adalah prosedur yang diaplikasikan pada BBL yang tidak dapat
bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah
lahir. Asfiksia ditandai dengan keadaaan hipoksemia , hiperkarbia dan asidosis.
Menurut APP dan ACOG (2004), berikut karakteristik asfiksia :
1. Asidemia metabolic atau campuran (metabolic dan respiratorik) yang jelas,
yaitu pH < 7 , pada sampel darah yang diambil dari arteri umbilical
2. Nilai apgar 0 7 pada menit ke 1
3. Manifestasi nerologi pada periode BBL segera, termasuk kejang ,
hipotonia , koma atau ensefalopati hipoksik iskemik
4. Terjadi disfungsi sistem multiorgan segera pada periode bayi baru lahir.8

FAKTOR RISIKO
1. Faktor Risiko Antepartum
- Diabetes pada ibu
- Hipertensi pada kehamilan
- Hipertensi kronik
- Anemia janin atau isoimunisasi
1

Riwayat kematian janin atau neonatus


Perdarahan pada trimester dua dan tiga
Infeksi ibu
Ibu dengan penyakit jantung , ginjal , paru , tiroid atau kelainan

nerologi
Polihidroamnion
Oligohidroamnion
Ketuban pecah dini
Hidrops fetalis
Kehamilan lewat waktu
Kehamilan ganda
Berat janin tidak sesuai masa kehamilan
Terapi obat seperti magnesium karbonat , beta blocker
Ibu pengguna obat bius
Malformasi atau anomaly janin
Tanpa pemeriksaan antenatal
Usia < 16 tahun atau > 35 tahun

2. Faktor Risiko Intrapartum


- Seksio sesaria darurat
- Kelahira dengan ekstraksi forsep atau vakum
- Letak sungsang atau persentasi abnormal
- Kelahiran kurang bulan
- Partus presipitatus
- Korioamnionitis
- Ketuban pecah lama (< 18 jam sebelum persalinan)
- Partus lama (> 24 jam)
- Kala dua lama (> 2 jam)
- Makrosomia
- Bradikardia janin persisten
- Frekuensi jantung janin yang tidak beraturan
- Penggunaan anestesi umum
- Hiperstimulus uterus
- Penggunaan obat narkotika pada ibu dalam 4 jam sebelum persalinan
- Air ketuban bercampur mekonium
- Prolaps tali pusat
- Solisio plasenta
- Plasenta previa
- Perdarahan intrapartum. 8,9

PENILAIAN
Penilaian

Penilaian awal dilakukan pada setiap BBL untuk menentukan apakah


tindakan resusitasi harus segera dimulai. Segera setelah lahir, dilakukan penilaian
dengan APGAR Score.

A
P
G
A
R

Tanda
Appearace
(warna kulit)
Pulse
(Denyut Nadi)
Grimace
(Refleks)
Activity
(Tonus Otot)
Respiration
effort
(Usaha
bernafas)

Nilai O
Nilai 1
Nilai 2
Seluruh tubuh Tubuh
merah Seluruh tubuh merah
biru atau putih
extremitas biru
Tidak ada
< 100x/menit
> 100x/menit
Tidak ada
Lunglai
Tidak ada

Perubahan
mimik/meringis
Ekstremitas
sedikit fleksi
Tak teratur

Bersin/menangis
Gerakan aktif
Ekstremitas fleksi
Menangis kuat

Tabel 1. Skor APGAR


Pembacaan APGAR Score :
1. Apgar score dinilai 3x pada menit ke 1 5 10
2. Menit pertama digunakan untuk menentukan diagnosis (sehat / asfiksia)
a. Nilai APGAR 8 10 : Vigorous baby
b. Nilai APGAR 7
: Asfiksia ringan
c. Nilai APGAR 4 6 : Asfiksia sedang
d. Nilai APGAR 0 3 : Asfiksia berat
3. Menit ke-5 dan 10 digunakan untuk menentukan prognosis perkebangan
bayi baru lahir.
PATOFISIOLOGI
1.

Fisiologi Janin Memperoleh Oksigen


Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau

jalan untuk mengeluarkan karbondioksida. Pembuluh arteriol yang ada di dalam


paru janin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO 2) parsial
rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat melalui paru karena
konstriksi pembuluh darah janin, Sehingga darah dialirkan melalui pembuluh yang
bertekanan lebih rendah yaitu duktus arteriosus kemudian masuk ke aorta.
Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai sumber
utama oksigen. Cairan yang mengisi alveoli akan diserap ke dalam jaringan paru,

dan alveoli akan berisi udara. Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan
oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar alveoli.
Arteri dan vena umbilikalis akan menutup sehingga menurunkan tahanan
pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik. Akibat tekanan
udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh darah paru akan
mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran darah bekurang.
Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah sistemik,
menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah dibandingkan tekanan
sistemik sehingga aliran darah paru meningkat sedangkan aliran pada duktus
arteriosus menurun.
Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami
relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang sebelumnya melalui
duktus arteriosus sekarang melalui paru-paru, akan mengambil banyak oksigen
untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.
Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan menggunakan
paru-parunya untuk mendapatkan oksigen. Tangisan pertama dan tarikan napas
yang dalam akan mendorong cairan dari jalan napasnya. Oksigen dan
pengembangan paru merupakan rangsang utama relaksasi pembuluh darah paru.
Pada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh darah, warna kulit bayi akan
berubah dari abu-abu/biru menjadi kemerahan.

2.

Kesulitan yang dialami bayi selama masa transisi


Bayi dapat mengalami kesulitan sebelum lahir, selama persalinan atau
setelah lahir. Tanda klinis awal dapat berupa deselerasi frekuensi jantung janin.
Masalah yang dihadapi setelah persalinan lebih banyak berkaitan dengan jalan
nafas dan atau paru-paru, misalnya sulit menyingkirkan cairan atau benda asing
seperti mekonium dari alveolus, sehingga akan menghambat udara masuk ke
dalam paru mengakibatkan hipoksia. Bradikardia akibat hipoksia dan iskemia
akan menghambat peningkatan tekanan darah (hipotensi sistemik).
Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi arteriol pada
organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke jantung
dan otak tetap stabil atau meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen.
Walaupun demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi

kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan curah jantung,


penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ akan
berkurang. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi
jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang irreversible, kerusakan
organ tubuh lain, atau kematian.
Penelitian menunjukkan bahwa pernapasan adalah tanda vital pertama
yang berhenti ketika bayi baru lahir kekurangan oksigen. Setelah periode awal
pernapasan yang cepat maka periode selanjutnya disebut apnu primer. Rangsangan
seperti mengeringkan atau menepuk telapak kaki akan menimbulkan pernapasan.
Walaupun demikian bila kekurangan oksigen terus berlangsung, bayi akan
melakukan beberapa usaha bernapas megap-megap dan kemudian terjadi apnu
sekunder, rangsangan saja tidak akan menimbulkan kembali usaha pernapasan
bayi baru lahir.

Gambar 1. Perubahan frekuensi jantung dan tekanan darah selama apnu


Frekuensi jantung mulai menurun pada saat bayi mengalami apnu primer.
Tekanan darah akan tetap bertahan sampai dimulainya apnu sekunder (kecuali jika
terjadi kehilangan darah pada saat memasuki periode hipotensi). Bayi dapat
berada pada fase antara apnu primer dan apnu dan seringkali keadaan yang
membahayakan ini dimulai sebelum atau selama persalinan. Akibatnya saat lahir,
sulit untuk menilai berapa lama bayi telah berada dalam keadaan membahayakan.
Pemeriksaan fisik tidak dapat membedakan antara apnu primer dan sekunder,
namun respon pernapasan yang ditunjukkan akan dapat memperkirakan kapan
mulai terjadi keadaan yang membahayakan itu.
Jika bayi menunjukkan tanda pernapasan segera setelah dirangsang, itu
adalah apnu primer. Jika tidak menunjukkan perbaikan apa-apa, ia dalam keadaan
apnu sekunder. Sebagai gambaran umum, semakin lama seorang bayi dalam

keadaan apnu sekunder, semakin lama pula dia bereaksi untuk dapat memulai
pernapasan. Walau demikian, segera setelah ventilasi yang adekuat, hampir
sebagian besar bayi baru lahir akan memperlihatkan gambaran reaksi yang sangat
cepat dalam hal peningkatan frekuensi jantung.
KOMPLIKASI
Sistem
Sistem Saraf Pusat
Kardiovaskular
Pulmonal
Ginjal
Adrenal
Saluran Cerna
Metabolik
Kulit
Hematologi

Pengaruh
Ensefalopati hipoksik-iskemik, infark, perdarahan
intrakranial, kejang, edema otak, hipotonia, hipertonia
Iskemia miokardium, bising jantung, insufisiensi
trikuspidalis, hipotensi
Sirkulasi janin persisten, perdarahan paru, sindrom
kegawatan pernapasan
Nekrosis tubular akut atau korteks
Perdarahan adrenal
Perforasi, ulserasi, nekrosis
Hiponatremia, hipoglikemia, hipokalsemia
Nekrosis lemak subkutan
Koagulasi intravaskular
Tabel 2. Komplikasi Asfiksia

PENATALAKSANAAN

Resusitasi

Bagan 1. Alur resusitasi


Terapi medikamentosa :

1. Epinefrin :
Indikasi :
-

Denyut jantung bayi < 60 x/m setelah paling tidak 30 detik dilakukan
ventilasi adekuat dan pemijatan dada.

Asistolik.

Dosis :
-

0,1-0,3 ml/kg BB dalam larutan 1 : 10.000 (0,01 mg-0,03 mg/kg BB)


Cara : i.v atau endotrakeal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu.

2. Volume ekspander :
Indikasi :
-

Bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami hipovolemia dan tidak
ada respon dengan resusitasi.

Hipovolemia kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis


ditandai adanya pucat, perfusi buruk, nadi kecil/lemah, dan pada resusitasi
tidak memberikan respon yang adekuat.

Jenis cairan :
-

Larutan kristaloid yang isotonis (NaCl 0,9%, Ringer Laktat)

Transfusi darah golongan O negatif jika diduga kehilangan darah banyak.

Dosis :
-

Dosis awal 10 ml/kg BB i.v pelan selama 5-10 menit. Dapat diulang
sampai menunjukkan respon klinis.

3. Bikarbonat :
Indikasi :
-

Asidosis metabolik, bayi-bayi baru lahir yang mendapatkan resusitasi.


Diberikan bila ventilasi dan sirkulasi sudah baik.

Penggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia


harus disertai dengan pemeriksaan analisa gas darah dan kimiawi.

Dosis : 1-2 mEq/kg BB atau 2 ml/Kg BB (4,2%) atau 1 ml/kg bb (8,4%)


Cara : Diencerkan dengan aquabides atau dekstrose 5% sama banyak diberikan
secara intravena dengan kecepatan minimal 2 menit.
Efek samping :
8

Pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan CO2 dari bikarbonat


merusak fungsi miokardium dan otak.

4. Nalokson :
-

Nalokson hidrochlorida adalah antagonis narkotik yang tidak menyebabkan


depresi pernafasan. Sebelum diberikan nalakson ventilasi harus adekuat
dan stabil.

Indikasi :
-

Depresi pernafasan pada bayi baru lahir yang ibunya menggunakan


narkotik 4 jam sebelum persalinan.

Jangan diberikan pada bayi baru lahir yang ibunya baru dicurigai sebagai
pemakai obat narkotika sebab akan menyebabkan tanda with drawltiba-tiba
pada sebagian bayi.

Dosis : 0,1 mg/kg BB (0,4 mg/ml atau 1 mg/ml)


Cara : Intravena, endotrakeal atau bila perfusi baik diberikan i.m/s.c
Suportif
-

Jaga kehangatan.

Jaga saluran napas agar tetap bersih dan terbuka.

Koreksi gangguan metabolik (cairan, glukosa darah dan elektrolit

PROGNOSIS
Pada

asfiksia

ringan-sedang,

prognosis

tergantung

pada

kecepatan

penetalaksanaan. Pada asfiksia berat dapat terjadi kematian atau kelainan saraf
pada hari-hari pertama. Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyebabkan kejang
sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya serebral palsi atau
retardasi mental.

Neonatal Infeksi
DEFINISI
Infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir dibagi dua yaitu early infection
(diperoleh dari ibu saat masih berada di dalam kandungan) dan late infection
(infeksi yg diperoleh dari lingkungan luar). 8
PATOFISIOLOGI
Infeksi pada neonates dapat dibagi menjadi beberapa cara, yaitu:
1. Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui sirkulai ibu ke plasenta. Selanjutnya
infeksi melalui sirkulasi umbilicus dan masuk ke janin. Yang dapat masuk
melalui cara ini antara lain:
a.
b.
c.
2.

Virus: rubella, poliomyelitis, coxakie, variola, varicella, CMV.


Spirochaeta: treponema palidum
Bakteri: E.Coli dan listeria monocytogenes
Infeksi intranatal
Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion
setelah ketuban pecah. Ketuban pecah lama (jarak waktu antara pecahnya
ketuban dengan lahirnya bayi lebih dari 12 jam) memilik peranan penting
terhadap timbulnya plasentisitas dan amnionitik. Infeksi dapat pula terjadi
walau ketuban masih utuh, misalnya pada partus lama dan seringkali
dilakukan manipulasi vagina. Infeksi janin terjadi melalui inhalasi likuor yang
septik sehingga terjadi pneumonia congenital selain itu infeksi dapat sebabkan
septisemia.infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan
kuman yang berasal dari vagina misalnya blenorea dan oral trush.

3. Infeksi pascanatal
Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. Sebagian besar infeksi yang
berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi pada saat
penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak steril atau sebagai akibat
infeksi silang. Infeksi pascanatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah.
Hal ini penting karena mortalitas pascanatal ini sangat tinggi.8,10

10

DIAGNOSIS
Diagnosis infeksi perinatal tidak mudah. Biasanya diagnosis dapat
ditegakkan dengan observasi yang teliti, anamnesis kehamilan dan persalinan
yang teliti, dan dengan pemeriksaan fisik serta laboratorium.
Diagnosis dini dapat ditegakkan bila kita cukup waspada terhadap kelainan
tingkah laku neonatus. Neonatus terutama BBLR yang dapat hidup selama 72 jam
pertama dan bayi tersebut tidak menderita penyakit maupun kelainan congenital
tertentu, namun tiba-tiba tingkah lakunya berubah, hendaknya selalu diingat
bahwa kelainan tersebut disebabkan infeksi.
Menegakkan kemungkinan infeksi bayi baru lahir sangat penting, terutama
pada bayi BBLR, karena infeksi dapat menyebar dengan cepat dan menimbulkan
angka kematian yang tinggi. Di samping itu, gejala klinis infeksi yang perlu
mendapat perhatian yaitu 8,10:

Bayi malas minum


Bayi tertidur
Tampak gelisah
Pernafasan cepat
Berat badan turun drastis
Terjadi muntah dan diare
Panas badan dengan pola bervariasi
Aktivitas bayi menurun
Pada pemeriksaan dapat ditemui: bayi berwarna kuning,

pembesaran hepar, purpura, dan kejang-kejang


Terjadi edema
Sklerema

Ada 2 skoring yang digunakan untuk menemukan diagnosis neonatal


infeksi yaitu Bell Squash Score dan Gupte Score: 10,11

Bell Squash Score:


1. Partus tindakan
2. Ketuban tidak normal
3. Kelainan bawaan
4. Asfiksia
5. Preterm
6. BBLR
7. Infeksi tali pusat
8. Riwayat penyakit ibu
9. Riwayat penyakit kehamilan

11

Hasil: < 4 Observasi NI; 4 NI

Gupte Score:
Prematuritas

Cairan amnion berbau busuk

Ibu demam

Asfiksia

Partus lama

Vagina tidak bersih

KPD
1
Hasil: 3-5 screening NI; > 5 NI
KLASIFIKASI
Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua
golongan besar, yaitu infeksi berat dan infeksi ringan.

Infeksi berat (major infection): sepsis neonatal, meningitis,


pneumonia, diare epidemik, pielonefritis, osteitis akut, tetanus

neonatorum.
Infeksi ringan (minor infection): infeksi pada kulit, oftalmia

neonatorum, infeksi umbilicus, moniliasis.


1. Sepsis Neonatorum
Sepsis neonatorum sering didahului oleh keadaan hamil dan persalinan
sebelumnya dan merupakan infeksi berat pada neonatuss dengan gejala-gejala
sistemik.
Faktor resiko:
o
o
o
o
o
o
o

Persalinan lama
Persalinan dengan tindakan
Infeksi / febris pada ibu
Air ketuban bau, keruh
KPD > 12 jam
Prematuritas & BBLR
Fetal distress

Tanda & gejala:

12

o
o
o
o
o

Refleks hisap lemah


Bayi tampak sakit, tidak aktif, tampak lemah
Hipotermia atau hipertermia
Merintih
Dapat disertai kejang, pucat, atau ikterus

Prinsip pengobatan:
o Penggunaan antibiotika secara IV : Ampisilin 200 mg/kg/hr 3-4x
pemberian & gentamisin 5 mg/kg/hr 2x pemberian atau Kloramfenikol 25
mg/kg /hr 3-4x pemberian
o Pemeriksaan laboratorium urin
o Biakan darah dan uji resistensi

2. Meningitis pada Neonatus


Tanda dan gejala:
o
o
o
o

Sering didahului atau bersamaan dengan sepsis


Kejang
UUB menonjol
Kaku kuduk

Pengobatan:
o Gunakan antibiotic yang mampu menembus sawar darah otak diberikan
minimal 3 minggu
o Pungsi lumbal

3. Sindrom Aspirasi Mekonium


SAM terjadi di intrauterin akibat inhalasi mekonium dan sering sebabkan
kematian terutama pada BBLR karena refleks menelan dan batuk belum sempurna
Gejala:
o
o
o
o
o
o

Pada waktu lahir ditemukan meconium staining


Letargia
Malas minum
Apneu neonatal
Dicurigai bila ketuban keruh atau bau
Rhonki (+)

Pengobatan:

13

o Laringoskop direct segera setelah lahir bila terdapat meconium staining


o
o
o
o

dan lakukan suction bila terdapat mekonium pada jalan nafas


Bila setelah suction rhonki tetap ada, pasang ET
Bila setelah suction rhonki hilang, lakukan resusitasi
Terapi antibiotika spectrum luas
Cek darah rutin, BGA, GDS, foto baby gram

4. Osteitis akut
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus
Gejala :
o Suhu tubuh tinggi
o Bayi tampak sakit berat
o Terdapat pembengkakan dan bayi menangis saat bagian yang terkena
digerakkan, biasanya pada maksila dan pelvis
o Lokal ditemukan pus pada aspirasi
Pengobatan :
o Pemberian antibiotika : kloksasilin 50 mg/kg BB/hr scr parenteral
5. Tetanus Neonatorum
Etiologi:
o Perawatan tali pusat yang tidak steril
o Pembantu persalinan yang tidak steril
Gejala:
o Bayi yang semula dapat menyusu menjadi kesulitan karena kejang otot
o
o
o
o
o

rahang dan faring


Mulut mencucu seperti ikan (trismus)
Kekakuan otot menyeluruh (perut keras seperti papan) dan epistotonus
Tangan mengepal (boxer hand)
Kejang
Kadang disertai sesak dan wajah bayi membiru

Tindakan:
o
o
o
o
o
o

Berikan antikonvulsan dan bawa ke RS


Pasang O2 saat serangan atau bila ada tanda-tanda hipoksia
Pasang IV line dan OGT
Pemberian ATS 3000-6000 unit IM
Penisilin prokain G 200000 unit / KgBB / 24 jam IV selama 10 hari
Rawat tali pusat

14

o Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya


rangsangan
6. Oftalmia neonatorum
Merupakan infeksi mata yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae saat
bayi melewati jalan lahir
Dibagi menjadi 3 stadium:
o Stadium infiltratif
Berlangsung 1-3 hari. Palpebra bengkak, hiperemi, blefarospasme, bisa
terdapat pseudomembran.
o Stadium supuratif
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala tidak begitu hebat, terdapat sekret
bercampur darah, yang khas sekret akan muncrat dengan mendadak saat
palpebra dibuka.
o Stadium konvalesen
Berlangsung 2-3 minggu. Sekret jauh berkurang, gejala lain tidak begitu
hebat lagi.
Penatalaksanaan:
o Bayi harus diisolasi
o Bersihkan mata dengan larutan garam fisiologis sampai lendir hilang,
keringkan dengan kasa steril
o Beri salep mata antibiotik tiap 15 menit pada jam pertama, kemudian
dilanjutkan diberikan setiap jam selama 3 hari
o Penisilin prokain 50000 unit/KgBB IM pada anterolateral paha. 8

7. Infeksi Umbilikus
Merupakan infeksi pd pangkal umbilikus yang disebabkan oleh infeksi
Staphylococcus aureus.
Gejala :
o Tanda radang (+) dan bernanah
o Pada keadaan berat dapat menjalar ke hepar
o Pada keadaan kronik dapat terjadi granuloma

15

Pengobatan :
o Berikan salep yang mengandung neomisin & basitrasin, serta salep
gentamisin
o Bila terdapat granuloma, berikan Argentinitras 3%
Pencegahan :
o Perawatan tali pusat yang baik
o Tali pusat ditutup dengan kasa steril & diganti setiap hari
PENCEGAHAN
Prinsip pencegahan infeksi antara lain:

Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir


Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol
Gunakan teknik aseptic
Berhati-hati dengan instrument tajam dan bersihkan atau desinfeksi

instrument dan peralatan


Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin
Pisahkan bayi infeksius untuk mencegah infeksi nosokomial.8,10

Hiponatremia

16

DAFTAR PUSTAKA
1. F. Gary Cunningham., Kenneth J. L., Stephen L. B., Dwight J. Rouse.,
John C. H., Catherine Y. Spong. 2010. Fetal Growth Diorder Dalam :
EBook Williams Obstetric. 23st edition. New York : Mc graw Hill
2. Current : Pediatric Diagnosis and Treatment: Neonatal Intensive Care,
page 22-30. Edition 15 Th 2001 Mc Graw Hill Companies.
17

3. Markum A.H. Prematuritas dan Retardasi Pertumbuhan Intrauterine.


Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jilid I, cet.3, Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1996; 221-36
4. Wood David and Malan Atties : Notes On The Newborn Infant Fifth
Edition.1996.
5. Rudolfs Fundamental Of Pediatric, Page 161-164 Mc Graw Hill
Companies 2002.
6. Stell BJ. The-High Risk Infant. Nelson Textbook of Pediatrics 19th edition.
Dalam Kliegman RM, editor. Philadelphia, USA: Saunders 2011.
7. S a i f u d d i n , A B , A d r i a n z , G . M a s a l a h B a y i B a r u L a h i r .
D a l a m : B u k u A c u a n Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal; edisi ke-1. Jakarta :yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2000;376-8.
8. IDAI. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI; 2010
9. Rennie MJ, Roberton NRC. A manual of neonatal intensive care; edisi ke4. London:Arnold, 2002; 62-88.
10. Ann L, Ted R. Neonatal Sepsis.2011.Avalaible
at http://emedicine.medscape.com/article/964312 accessed at Oktober
10th, 2011
11. Aminullah A. Masalah Terkini Sepsis Neonatorum. Dalam : Update in
Neonatal Infection. Pendidikan Berkelanjutan IKA XL VIII.Jakarta
2005:1-13
12. Camilia R.M, Cloherty J.P. Neonatal hyperbilirubinemia. Dalam: Cloherty
J.P et al Manual of Neonatal Care 5th Ed., Lippincott Williams & Wilkins,
2004 : 185-221.
13. Depkes RI. 2001. Klasifikasi Ikterus Fisiologis dan Ikterus Patologis.
Dalam : Buku Bagan MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit).
Metode Tepat Guna untuk Paramedis, Bidan dan Dokter. Depkes RI.

18