Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

INOVASI PEMBELAJARAN BIOLOGI


LERANING CYCLE 3E, 5E, 7E

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur


Mata Kuliah : Inovasi Pembalajaran Biologi
Dosen pengampu : Ipin Arifin, M.Pd

Disusun oleh:
Nurul Syiam
14121620645
TIPA-Biologi C / Semester VI

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Learning
Cycle 3E, 5E, 7E untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Inovasi pembelajaran
Biologi. Sholawat serta salam tak lupa penulis haturkan pada junjungan Nabi besar
Muhammad SAW.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Ipin Arifin, M.Pd selaku dosen
pengampu mata kuliah Inovasi Pembelajaran Biologi yang telah memberikan bimbingan dan
arahan kepada penulis dalam menyelesaikan makalah ini, dan tak lupa penulis ucapkan
terima kasih kepada teman-teman dan pihak-pihak lain yang turut serta membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat kekurangan. Penulis
mengharapkan kepada teman-teman untuk bersedia memberikan kritik dan sarannya
menyangkut pembuatan makalah ini, sebagai bahan pertimbangan untuk membuat makalah
selanjutnya. Namun demikian, penulis sudah berusaha menyajikan makalah ini dengan sebaik
mungkin. Semoga makalah ini bermanfaat untuk pembaca, peminat keilmuan dan calon
penulis di masa mendatang.

Cirebon, April 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan
pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.Siklus belajar bersandar
pada konstruktivisme sebagai dasar teoritisnya. Konstruktivisme adalah model dinamis dan
interaktif tentang bagaimana manusia belajar, (Farza : 2014.). Sebuah perspektif
konstruktivis menganggap siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran mereka dan
konsep tidak ditransmisikan dari guru ke murid tapi dibangun oleh siswa. Model
pembelajaran berdasarkan teori konstruktivisme salah satunya adalah model pembelajaran
Learning Cycle (siklus belajar).
Pada tahun 1960-an, Robert Karplus dan rekannya mengusulkan dan menggunakan
model pembelajaran berdasarkan karya Piaget. Model ini akhirnya akan disebut Siklus
Belajar. (Hudojo : 2001). Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa siklus belajar
sebagai model pengajaran jauh lebih unggul daripada model transmisi pasif di mana siswa
penerima pengetahuan dari guru mereka (Jainuri : 2015). Sebagai model pembelajaran, siklus
pembelajaran memberikan pengalaman belajar aktif yang direkomendasikan oleh Standar
Pendidikan Sains Nasional.
Siklus Belajar (Learning Cycle) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada
pebelajar (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan
(fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat menguasai kompetensikompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Learning
Cycle pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep
(concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application). Learning Cycle 3E saat ini
telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi 5E dan dan 7E, (Jainuri : 2015).

B. Rumusan Masalah
1.

Bagaimanakah gambaran umum mengenai model pembelajaran Learning cycle ?

2.

Jelaskan mengenai Learning Cycle 3e, 5e dan 7e ?

3.

Bagaimanakah penerapan Learning Cycle dalam Pembelajaran IPA ?

C. Tujuan
1.

Untuk mengetahui gambaran umum mengenai model pembelajaran Learning cycle ?

2.

Untuk mengetahui mengenai Learning Cycle 3e, 5e dan 7e ?

3.

Untuk mengetahui penerapan learning Cycle dalam Pembelajaran IPA ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Learning Cycle
Wena (2011) mengatakan bahwa pada dasarnya para siswa memasuki kelas dengan
pengetahuan, ketrampilan dan motivasi yang berbeda-beda dari rumah. Ketika guru
memberikan suatu materi pelajaran dalam kelas, siswa dalam menerima pelajaran tersebut
ada yang cepat dan ada yang lambat. Untuk mengatasi masalah perbedaan kecepatan siswa
dalam menerima materi dalam kelas dapat digunakan model pembelajaran Leaning Cycle.
Learning Cycle, yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student
centered). Learning Cycle patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget, teori
belajar yang berbasis konstruktivisme, (Wibowo : 2010).
Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang
meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental
tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah
perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan
proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Lorsbach. 2002).
Ciri khas model pembelajaran Learning Cycle ini adalah setiap siswa secara individual
belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan guru yang kemudian hasil belajar
individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan oleh anggota kelompok, dan
semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung
jawab bersama.
Kelebihan model pembelajaran LC (Learning Cycle) meningkatkan motivasi belajar
karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran., dapat memberikan
kondisi belajar yang menyenangkan, meningkatkan ketrampilan sosial dan aktivitas siswa,
membantu siswa dalam memahami dan menguasai konsep-konsep fisika yang telah dipelajari
melalui kegiatan atau belajar secara berkelompok, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
fisika siswa. Sehingga, Model pembelajaran LC (Learning Cycle) ini cocok diterapkan dalam
pembelajaran fisika karena dapat mengatasi kesulitan belajar siswa secara individu untuk
memahami konsep karena lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah. (Ninty : 2013).

B. Learning Cycle 3E
Model siklus belajar pertama kali dikembangkan oleh Robert Karplus dari Universitas
California, Barkley tahun 1970-an. Karplus mengidentifikasi adanya tiga fase yang
digunakan dalam model pembelajaran ini yaitu preliminary exploration, invention, dan

discovery. Berkaitan dengan tiga fase dalam learning cycle, Charles Barman dan Marvin
Tolman menggunakan istilah exploration,concept introduction, dan concept application.
Joseph Abruscato menggunakan istilah exploration, concept acquisition, dan concept
application. Sedangkan Edmund Marek menggunakan istilah exploration, term introduction,
dan concept application. Walaupun disebutkan dengan istilah yang berbeda, namun pada
dasarnya mempunyai makna yang sama menurut Purwanti (2012). Model siklus belajar
adalah model pembelajaran yang dilaksanakan dengan tiga fase, yaitu fase eksplorasi,
pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Kegiatan pembelajarannya dilakukan baik secara
individual maupun berkelompok. Namun, secara umum langkah-langkah pembelajarannya,
meliputi :
1.

Menyelidiki suatu fenomena dengan bimbingan minimal, untuk membawa siswa pada
identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diselidiki (fase eksplorasi).

2.

Mendiskusikan konsep-konsep yang berhubungan dengan fenomena yang diselidiki (fase


pengenalan konsep).

3.

Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah


diperkenalkan untuk penyelidikan lebih lanjut (fase aplikasi konsep), (Wena : 2011).

C. Learning Cycle 5E
Learning Cycle 5E adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student centered). Learning cycle 5E merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang
diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa berperan aktif untuk dapat menguasai
kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran. Learning cycle 5E
merupakan salah satu metode perencanaan yang telah diakui dalam pendidikan IPA. Learning
cycle 5E dikembangkan berdasarkan teori yang dikembangkan pada masa kini tentang
bagaimana siswa seharusnya belajar. Metode ini merupakan metode yang mudah untuk
digunakan oleh guru dan dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas
belajar IPA pada setiap siswa kita. Guru harus menemukan cara-cara memahami pandanganpandangan siswa, merencanakan kerangka alternatif, merangsang kebingungan antar siswa
dan mengembangkan tugas-tugas yang mengajukan konstruksi pengetahuan, (Wibowo :
2010).
Pembelajaran learning cycle terdiri dari lima tahap (Lorsbach, 2002) yang terdiri atas
tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation),
elaborasi (elaboration), dan evaluasi (evaluation).
1.

Tahap Pembangkitan Minat (Engagement)

Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini,
guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity)
siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan
dengan topik bahasan). Dengan demikian, siswa akan memberikan respon/jawaban,
kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui
pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan, kemudian guru perlu melakukan
identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Dalam hal ini guru harus
membangun keterkaitan/perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik
pembelajaran yang akan dibahas.
2.

Tahap Eksplorasi (Exploration)


Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa, kemudian
diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran
langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan
atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahnnya dengan teman
sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang
berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sabagai fasilitator dan
motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki
siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah sebagian benar.

3.

Tahap Penjelasan (Explanation)


Pada tahap penjelasan guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu
konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan
siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru. Dengan
adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang
dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.

4.

Tahap Elaborasi (Elaboration)


Pada tahap ini pengalaman baru dirancang untuk membantu siswa membangun
pemahaman yang lebih luas tentang konsep yang telah diterangkan. Siswa memperluas
konsep yang telah dipelajari, membuat koneksi dengan konsep lain yang berhubungan,
serta mengaplikasikan pemahaman mereka dalam dunia nyata. Siswa bekerja secara
kooperatif, mengidentifikasi dan menyelesaikan aktifitas baru.
Pada tahap ini guru berharap siswa menggunakan definisi, identifikasi dan penjelasan
yang diberikan sebelumnya, mendorong siswa untuk menerapkan atau memperluas
konsep serta keterampilan dalam situasi baru.

5.

Tahap Evaluasi (Evaluation)


Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa
dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan
mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban dengan menggunakan observasi,
bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru
sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan model learning cycle yang sedang
diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang.
Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau
kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.
Berdasarkan tahapan dalam strategi pembelajaran learning cycle seperti yang telah
dipaparkan, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat
berperan aktif untuk menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap
konsep yang dipelajari. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan siklus belajar
(Learning Cycle) 5E. Berikut adalah kelebihan :
a. Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran.
b. Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa.
c. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Adapun kekurangan penerapan model learning cycle 5E yang harus selalu
diantisipasi adalah sebagai berikut :
a. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkahlangkah pembelajaran.
b. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan
proses pembelajaran.
c. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi, memerlukan
waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan
pembelajaran, (Lorsbach : 2002)

D. Learning Cycle 7e
Model pembelajaran yang dapat melibatkan aktivitas siswa dalam belajar agar dapat
meningkatkan sikap ilmiah dan prestasi belajar siswa adalah Learning Cycle 7E. Model
pembelajaran Learning Cycle 7E dapat memfasilitasi siswa untuk mengingat kembali materi
pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya, melatih siswa untuk menjadi lebih aktif
dan menambah rasa keingintahuan, melatih siswa belajar menemukan konsep melalui

kegiatan eksperimen, demonstrasi, dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, model
pembelajaran Learning Cycle memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut menurut Farza
(2014) adalah jika pelaksanaan pembelajaran dengan Learning Cycle tidak efektif dapat
menimbulkan

tidak

sistematisnya

pengetahuan

yang

dibangun

pada

siswa.

Ketidaksistematisan ini menimbulkan tidak efektifnya dalam penyampaian pengetahuan


kepada siswa yang akhirnya berdampak kurang pahamnya siswa terhadap konsep yang telah
diajarkan.
Berdasarkan penjelasan Farza (2014), ketujuh tahapan learning cycle 7e adalah :
1.

Elicit (memunculkan pemahaman awal siswa)


Pada tahap ini guru berusaha menimbulkan atau mendatangkan pengetahuan awal
siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari. Pertanyaan tersebut diambil dari beberapa contoh mudah
yang diketahui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan
respon dari siswa serta merangsang keingintahuannya terhadap jawaban-jawaban dari
pertanyaan yang diajukan oleh guru.

2.

Engagement (melibatkan)
Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian siswa, mendorong
kemampuan berpikirnya, dan membantu mereka mengakses pengetahuan awal yang telah
dimilikinya. Hal penting yang perlu dicapai adalah timbulnya rasa ingin tahu siswa
tentang tema atau topik yang akan dipelajari. Guru memberitahu siswa agar lebih
berminat dalam mempelajari konsep dan memperhatikan guru dalam mengajar. Tahap ini
dilakukan dengan cara demonstrasi, diskusi, membaca, atau aktivitas lainnya.

3.

Exploration (menyelidiki)
Pada fase eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk bekerja baik secara mandiri
maupun secara berkelompok tanpa instruksi atau pengarahan secara langsung dari guru.
Siswa memanipulasi suatu obyek, melakukan percobaan, penyelidikan, pengamatan,
mengumpulkan data, sampai pada membuat kesimpulan awal dari percobaan yang
dilakukan. Guru berperan sebagai fasilitator, yakni membantu siswa agar bekerja pada
lingkup permasalahan (hipotesis yang dibuat sebelumnya) dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menguji dugaan/hipotesis yang telah mereka tetapkan. Dengan
demikian, siswa diharapkan memperoleh pengetahuan dengan pengalaman langsung
yang berhubungan dengan konsep yang telah dipelajari.

4.

Explaination (menjelaskan)

Kegiatan belajar pada fase explain ini bertujuan untuk melengkapi, menyempurnakan,
dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru mendorong siswa untuk
menjelaskan konsep-konsep dan defenisi-defenisi yang dipahaminya dengan katakatanya sendiri serta menunjukkan contoh-contoh yang berhubungan dengan konsep
untuk melengkapi penjelasannya. Dari defenisi dan konsep tersebut kemudian
didiskusikan sehingga pada akhirnya menuju pada defenisi yang formal.
5.

Elaboration (menguraikan)
Pada fase elaborate siswa menerapkan simbol-simbol,definisi-defiisi, konsep-konsep,
dan keterampilan-keterampilan pada permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan
contoh dari pelajaran yang dipelajari.

6.

Evaluation (menilai)
Evaluasi merupakan tahap dimana guru mengevaluasi dari hasil pembelajaran yang
telah dilakukan. Pada tahap ini dapat digunakan berbagai strategi penilaian baik secara
formal maupun informal. Guru diharapkan secara terus-menerus melakukan observasi
dan memperhatikan kemampuan dan keterampilan siswa untuk menilai tingkat
pengetahuannya, kemudian melihat perubahan pemikiran siswa terhadap pemikiran
awalnya.

7.

Extend (memperluas)
Pada tahapan akhir ini, siswa dituntut untuk berpikir, mencari, menemukan, dan
menjelaskan contoh penerapan konsep dan keterampilan baru yang telah dipelajari. Guru
dapat mengarahkan siswa untuk memperoleh penjelasan alternatif dengan menggunakan
data atau fakta yang mereka eksplorasi dalam situasi yang baru. Selain itu, melalui
kegiatan ini Guru meransang siswa untuk mencari hubungan konsep yang mereka
pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum dipelajari.

E. Penerapan Learning Cycle dalam Pembelajaran IPA


Penerapan Learning Cycle dalam pembelajaran IPA menempatkan guru sebagai
fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan
(terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian
pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Implementasi
Learning Cycledalam pembelajaran IPA sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu :
1.

Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja
dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.

2.

Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang
dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.

3.

Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan


masalah (Hudojo, 2001).
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru

ke siswa, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan
siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan
menjadikan skema dalam diri siswa menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat
diorganisasi oleh siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hasil-hasil
penelitian di perguruan tinggi dan sekolah menengah tentang implementasi Learning
Cycledalam pembelajaran IPA menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar siswa. Purwanti (2012) menyatakan bahwa siswa yang
gurunya mengimplementasikan Learning Cycle mempunyai ketrampilan menjelaskan yang
lebih baik dari pada siswa yang gurunya menerapkan metode ekspositori. Lorsbach (2002)
menyatakan bahwa Learning Cyclemerupakan strategi bagi pembelajaran IPA di sekolah
menengah karena dapat dilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata guru dan
siswa. Dilihat dari dimensi guru penerapan strategi ini memperluas wawasan dan
meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan ditinjau
dari dimensi siswa, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai :
1.

Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses
pembelajaran.

2.

Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa

3.

Pembelajaran menjadi lebih bermakna.


Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan

sebagai berikut (Hudojo : 2001) :


1.

Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah
pembelajaran.

2.

Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses
pembelajaran.

3.

Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.

4.

Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan
melaksanakan pembelajaran.
Efektifitas penerapan Learning Cycle biasanya diukur melalui observasi proses dan

pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum
memuaskan, maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaannya harus lebih baik

dibanding siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus


sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dibahas, dapat disimpulkan bahwa :
1.

Learning Cycle, yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student
centered). Learning Cycle patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget,
teori belajar yang berbasis konstruktivisme.

2.

Karplus mengidentifikasi adanya Learning cycle 3e yang digunakan dalam model


pembelajaran ini yaitu preliminary exploration, invention, dan discovery.

3.

Learning cycle 5E merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi


sedemikian rupa sehingga siswa berperan aktif untuk dapat menguasai kompetensikompetensi yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran.

4.

Pembelajaran learning cycle terdiri dari lima tahap (Lorsbach, 2002) yang terdiri atas
tahap

pembangkitan

minat

(engagement),

eksplorasi

(exploration),

penjelasan

(explanation), elaborasi (elaboration), dan evaluasi (evaluation).


5.

Model pembelajaran Learning Cycle 7E dapat memfasilitasi siswa untuk mengingat


kembali materi pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya, melatih siswa untuk
menjadi lebih aktif dan menambah rasa keingintahuan, melatih siswa belajar menemukan
konsep melalui kegiatan eksperimen, demonstrasi, dan peristiwa dalam kehidupan
sehari-hari.

6.

Penerapan Learning Cycle dalam pembelajaran IPA menempatkan guru sebagai


fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan
(terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian
pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Implementasi
Learning Cycledalam pembelajaran IPA sesuai dengan pandangan kontruktivis.

DAFTAR PUSTAKA

Farza.
2014.
Model
Pembelajaran
Learning
Cycle 7e.
https://rahmihadrifarza.wordpress.com/2014/01/07/pembelajaran-learning-cycle-7e/.
Diakses pada 10 April 2015 pukul 08.00 WIB.
Hudojo, H. 2001. Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivisme. Malang : FMIPA
UM.
Jainuri.
2015.
Model
Pembelajaran
Learning
https://www.academia.edu/6942549/Model_Pembelajaran_Learning_Cycle.
pada 10 April 2015 pukul 07. 47 WIB.

Cycle.
diakses

Lorsbach. 2002. The Learning Cycle as a Tool for Planning Science Instruction. Tersedia:
www.coe.ilstu.edu/. diakses pada 10 April 2015 pukul 08. 43 WIB.
Ninty,
A.
2013.
Model
Pembelajaran
Learning
Cycle
5e.
http://nintyasintya.blogspot.com/2013/09/model-pembelajaran-learning-cycle-5e.html.
diakses pada 10 April 2015 pukul 08. 27 WIB.
Purwanti Widhy. 2012. Learning Cycle Sebagai Upaya Menciptakan Pembelajaran Sains
yang Bermakna. Yogyakarta : Universitas Yogyakarta.
Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara.
Wibowo, Arie. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Siklus Belajar (Learning Cycle) 5E
dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata pelajaran Teknologi Informasi
dan Komunikasi (Penelitian Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas VII SMPN 1
Lembang Tahun Ajaran 2009/2010).