Anda di halaman 1dari 51

AKTIFITAS EKSTRAK DAUN TURI (Sesbania grandiflora syn.

Aeschynomene
grandiflofa ) TERHADAP Candida albicans

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH:
GARVIANTI NURUL AMELIA
06.005

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


PUTRA INDONESIA MALANG
Juli 2009

AKTIFITAS EKSTRAK DAUN TURI (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene


grandiflofa ) TERHADAP Candida albicans

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan kepada
Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang
Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
program D III Bidang Analis Farmasi dan Makanan

OLEH:
GARVIANTI NURUL AMELIA
06.005

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


PUTRA INDONESIA MALANG
Juli 2009

Tak ada yang sulit di dunia ini


Tak ada yang tak mungkin di dunia ini
Hanya dengan doa
Hanya dengan usaha dan kerja keras
Serta dukungan dari orang- orang tercinta
Semua dapat terlewati dengan MUDAH, dan terwujud dengan INDAH.

Siang bagaikan malam


Malam bagaikan siang
Makan tak enak
Tidur pun tak nyenyak
Benar kata pepatah
Berakit- rakit kehulu
Berenang- renang ketepian
Bersakit- sakit dahulu
Bersenang- senang kemudian, dan inilah akhir dari sebuah kerja keras.

Untuk itu,
Karya tulis ilmiah ini kupersembahkan
Untuk kedua orang tuaku yang penuh kasih sayang memberikan semangat
dan doa.
Untuk kakak dan adikku yang telah memotivasi dan menghiburku
Untuk seseorang dan keluarganya yang tidak pernah berhenti memahamiku
dan memberi semangat
Untuk teman teman AKAFARMA yang sangat aku cintai
Untuk semuanya yang tak sempat disebutkan namanya satu per satu terima
kasih yang sedalam dalamnya.

Karya Tulis Ilmiah


Oleh Garvianti Nurul Amelia ini
Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan

Pembimbing,

Misgiati, A.Md, S.Pd.

ABSTRAK

Amelia, Garvianti Nurul. 2009. Aktifitas Ekstrak Daun Turi (Sesbania grandiflora
syn. Aeschynomene grandiflofa ) Terhadap Candida albicans.
Karya Tulis Ilmiah. Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia
Malang. Pembimbing Misgiati, A.Md, S.Pd.
Kata Kunci : Aktifitas, Daun Turi (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene
grandiflofa ), Candida albicans.
Salah satu masalah kesehatan pada wanita adalah keputihan, yang dalam hal
ini disebabkan oleh Candida albicans. Dalam dunia medis telah banyak obat kimia
yang diproduksi sebagai obat keputihan, namun sebaiknya digunakan obat tradisional
karena selain mudah dijangkau baik harga maupun ketersediaannya, juga menurut
beberapa penelitian memiliki efek samping yang relatif lebih rendah dibanding obat
kimia. Dalam penelitian ini menggunakan daun turi, yang memiliki kandungan
saponin sebagai antijamur.
Untuk mengetahui khasiat daun turi dalam menghambat Candida Albicans
menggunakan metode disk (Cakram kertas ). Pengukuran daerah atau zona hambat
yang ditandai dengan adanya zona jernih di sekitar cakram kertas dan diukur
menggunakan jangka sorong. Data yang diperoleh di analisa menggunakan uji
hipotesis dengan uji SD dan KV.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Akademi Analis
Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang, pada bulan April dan Juni 2009. Hasil
yang diperoleh bahwa ekstrak daun turi tidak efektif menghambat Candida Albicans
pada dosis75 gram. Hal tersebut menunjukkan bahwa daun turi pada dosis tersebut
tidak dapat digunakan sebagai pengobatan antijamur.
Berdasarkan hasil penelitian, di harapkan agar dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang daun turi menggunakan metode yang lain, menggunakan jamur atau
bakteri lain penyebab keputihan dan dilakukan penelitian aktifitas ekstak daun turi
berbunga putih dan rimpang kunyit sesuai ramuan tradisional.

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaika Karya Tulis Ilmiah yang berjudul
Aktifitas Ekstrak Daun Turi (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene grandiflofa )
Terhadap Candida albicans ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai persyaratn
untuk menyelesaikan program DIII di Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra
Indonesia Malang.
Sehubungan dengan terselesaikannya penulisan karya tulis ilimiah ini, saya
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak, yaitu :
1. Ibu Erna Susanti, S.Si, Apt, selaku Direktur Akademi Analis Farmasi dan
Makanan Putra Indonesia Malang.
2. Bapak Sentot S. Raharjo, S.Si, selaku PD I Akademi Analis Farmasi dan
Makanan Putra Indonesia Malang.
3. Ibu Misgiati, A.Md, S.Pd, selaku dosen pembimbing.
4. Ibu Dra. Chusnul Arifanti, Apt., selaku dosen penguji ahli.
5. Bapak Sentot S. Raharjo, S.Si, selaku dosen penguji nasional.
6. Bapak dan Ibu dosen Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra
Indonesia Malang serta seluruh staf yang turut membantu dan mendukung
penyelesaian karya tulis ilmiah ini.
7. Kedua orang tua, kakak, adikku, yang memberi doa serta motivasi.

ii

8. Rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak baik yang langsung maupun tak
langsung telah memberikan bimbingan, bantuan, serta arahan kepada penulis.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih
mempunyai beberapa kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran akan sangat
diharapkan.
Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat berguna dan bermanfaat.

Malang, juli 2009

Penulis

iii

DAFTAR ISI

ABSTRAK .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. vi
BAB I . PENDAHULUAN.
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 5
1.4 Kegunaan Penelitian ........................................................................... 5
1.5 Asumsi Penelitian ................................................................................ 5
1.6 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Masalah .......................................... 6
1.7 Definisi Istilah ..................................................................................... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keputihan .......................................................................................... ..7
2.2 Candida Albicans. ............................................................................. . 9
2.3 Obat tradisional...................................................................................... 11
2.4 Turi( Sesbania grandiflora (L.) pers.).. .............................................. .12
2.5 Definisi Saponnin. ............................................................................. .14
2.6 Ekstrak .............................................................................................. .16
2.7 Metode Difusi .................................................................................... .19
2.8 Kerangka Teori .................................................................................. .20
2.9 Hipotesis ........................................................................................... .21
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian.......................................................................... 22
3.2 Populasi dan Sampel ........................................................................... 22
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 23
3.4 Definisi Operasional Variabel............................................................... 23
3.5 Instrumen Penelitian dan Bahan .......................................................... 24

iv

3.6 Pengumpulan Data.............................................................................. 25


3.7 Analisis Data ...................................................................................... 28
BAB IV. HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Pengamatan Daun turi.................................................................. 31
4.2 Hasil Pengamatan ekstrak daun turi...................................................... 31
4.3 Hasil Pengamatan efektifitas ekstrak daun turi .................................... 32
BAB V. PEMBAHASAN ................................................................................ ......34
BAB VI. PENUTUP ......................................................................................... ......36
DAFTAR RUJUKAN ....................................................................................... ......37
LAMPIRAN GAMBAR ................................................................................... ......39

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Turi ( Sesbania grandiflora (L.) pers.)..........................................39


Gambar 2. Kontrol media ..............................................................................39
Gambar 3. Kontrol media + jamur ..................................................................40
Gambar 4. Kontrol media + jamur + etanol ....................................................40
Gambar 5. Kontrol media + jamur + kalpanax ...............................................41
Gambar 6. media + jamur + Infus daun Turi ..................................................41
Gambar 7. media + jamur + Ekstrak daun Turi ..............................................42

vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini, masalah kesehatan khususnya pada wanita masih kurang mendapat
perhatian atau terabaikan dari setiap individu wanita. Kebanyakan wanita mengalami
beberapa masalah khususnya pada organ kewanitaannya. Namun, mereka tidak mau
mengkonsultasikannya pada ahli kesehatan. Bahkan, kebanyakan dari mereka tidak
mengetahui sebab dan akibat penyakit yang dideritanya.
Salah satu penyakit yang perlu diperkenalkan pada kaum wanita adalah
keputihan. Penyakit ini sudah umum, bahkan enam dari tujuh wanita di dunia pasti
pernah mengalami keputihan minimal sekali dalam hidupnya. Hal ini terjadi tanpa
memandang umur, latarbelakang, pekerjaan, dan kondisi lainnya. Keputihan dapat
menimbulkan infeksi lebih lanjut ke organ reproduksi lain misalnya mulut rahim dan
rahim. Tidak menutup kemungkinan dapat mengganggu kesuburan ( kemandulan )
dan gejala kanker mulut rahim.
Keputihan yang dalam bahasa kedokteran disebut leukore atau flour albus,
merupakan cairan yang keluar dari vagina atau liang kemaluan secara berlebihan.
Keputihan dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi mikroorganisme.
Dalam hal ini infeksi di sebabkan oleh Candida albicans yang memiliki ciri-ciri :
cairan vagina yang keluar berwarna putih, kental, ada bercak putih yang melekat pada
dinding vagina, seringkali disertai rasa gatal yang intensif,dan bau apek. Tetapi dalam

keadaan normal, vagina yang sehat memproduksi cairan untuk membersihkan vagina
dari benda-benda asing yang tidak diinginkan dan cairan tersebut keluar bila
menjelang menstruasi, keadaan terangsang, letih, dan stress.
www.blogdokter.net/2007/10/22/keputihan-si-putih-yang menjengkelkan/-289kDalam dunia medis, sudah banyak obat kimia yang diproduksi sebagai obat
keputihan. Namun, ada bahan alam yang dapat digunakan sebagai obat keputihan
.Penggunaan bahan alam biasa disebut obat tradisional. Obat tradisional merupakan
obat yang diolah secara tradisional turun - temurun dari nenek moyang. Obat
tradisional masih

digunakan oleh masyarakat sebagai alternative penyembuhan

karena, selain lebih mudah dijangkau baik harga maupun ketersediaannya, juga
menurut beberapa penelitian memiliki efek sampingyang relatif rendah dibandingkan
obat kimia. Salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat
keputihan adalah daun Turi ( Sesbania grandiflora (L.) pers.).
Turi ( Sesbania grandiflora (L.) pers.) merupakan tanaman yang umumnya
tumbuh liar di pekarangan, di tepi jalan sebagai pohon pelindung, atau ditanam
sebagai tanaman pembatas pekarangan . Turi dibedakan menjadi dua yaitu : Turi
berbunga putih dan Turi berbung merah. Dari perbedaan tersebut, secara empiris
pemanfaatannya juga berbeda. Untuk Turi berbunga merah, daunnya digunakan untuk
penyembuhan yang ada hubungannya dengan darah, sedangkan Turi berbunga putih,
daunnya digunakan untuk penyembuhan keputihan.(Soedibyo, 1998:378) Di daerah
Jawa Tengah maupun Jawa Timur, Turi di konsumsi sebagai campuran sayur pecel.
Di kalangan masyarakat jawa, turi sangat popular, namun seiring dengan makin

berkurannya lahan tanam, maka turi makin sulit ditemukan khususnya di daerah
perkotaan.
Secara empiris, tanaman ini dapat digunakan sebagai alternative pengobatan
berbagai macam penyakit. Menurut ramuan tradisional penggunaan kulit batang
untuk memulihkan sariawan, disentri, diare, cacar air, dan deman. Sedangkan
daunnya dapat digunakan untuk keseleo, memar akibat terpukul, luka, keputihan,
batuk, memperkancar produksi ASI, dan lain-lain. Turi berbunga putih memiliki
kandungan senyawa aktif yaitu pada kulit batang memiliki tannin, sulfur,
peroksidase, calsium oksalat. Dan untuk daunnya memiliki kandungan senyawa aktif
yaitu saponin, yang bermanfaat sebagai pengobatan.
(Soedibyo, 1998:377)
Dalam kandungan senyawa aktif tersebut yang paling efektif menyembuhkan
keputihan adalah kandungan yang terdapat pada daunnya. Dikarenakan pada
daunnya, umumnya daun turi ( berbung putih) lebih efektif digunakan sebagai obat
keputihan dan juga berfungsi sebagai antijamur. Jamur pada keputihan umumnya
adalah Candida albicans karena jamur tersebut biasanya berkembang biak pada
daerah lembap khususnya pada vagina. Candida albicans adalah jamur penyebab
sariawan, keputihan, infeksi kulit, serta biasanya terdapat pada selaput lender saluran
pernafasan dan saluran pencernaan. Namun pada keadaan normal atau sehat, jamur
ini ada dalam vagina tanpa menimbulkan gejala apapun, tetapi jamur ini dapat
berkembang biak saat kondisi tubuh terganggu sehingga dapat menimbulkan infeksi.
.

Berdasarkan ramuan tradisional, daun turi (berbunga putih) dipercaya dapat


menyembuhkan keputihan. Dengan ramuan : daun turi (berbunga putih) satu
genggam dan rimpang kunyit 1 ibu jari kemudian diinfus dengan penambahan air 110
ml, namun dalam penelitian ini hanya mengujikan aktifitas ekstrak daun turi terhadap
Candida albicans apakah peranannya mampu digunakan sebagai antijamur, pengujian
dilakukan secara mikrobiologi.
Ada dua metode untuk menguji kepekaan terhadap antimikroba in vitro yaitu
yang pertama, metode pengenceran (Dilution Method) dan yang kedua metode
penyebaran (Difusion Method). (Tim Mikrobiologi Universitas Brawijaya, 2003:122)
Dalam penelitian ini menggunakan metode penyebaran (Difusion Method), Adapun
digunakannya metode penyebaran (Difusion Method), karena dapat menentukan daya
hambat terhadap Jamur Candida albicans juga karena lebih praktis dan ekonomis.
Berdasarkan uraian di atas dan secara empiris yang di temukan di dalam
masyarakat, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai uji
aktifitas pada ekstrak daun turi ini terhadap Candida albicans.Dalam penelitian ini
menggunakan metode penyebaran (Difusion Method), dengan menggunakan dosis
yaitu 25 gram.
1.2 Rumusan Masalah
Daun Turi berbunga putih mengandung Saponin yang berkhasiat mengatasi
keputihan ,Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1.2.1 Apakah ekstrak daun turi (berbunga putih) pada dosis 25 gram efektif
menghambat Candida albicans ?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Tujuan umumnya adalah:
Mengetahui aktifitas ektrak daun turi (berbunga putih) terhadap
Candida albicans.
1.3.2 Tujuan khususnya adalah :
Mengetahui diameter daya hambat ekstrak daun turi (berbunga putih)
terhadap Candida albicans.

1.4 Kegunaan Penelitian


Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Dapat mengetahui aktifitas ekstrak daun turi (berbunga putih) terhadap
Candida albicans.
1.4.2 Dapat memberikan informasi kepada peneliti maupun masyarakat mengenai
manfaat daun turi sebagai obat keputihan.
1.4.3 Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi

pemanfaatan

tumbuhan yang memiliki khasiat obat.

1.5 Asumsi Penelitian


1.5.1 Esktrak daun turi (berbunga putih) merupakan jenis ekstrak dengan pelarut
semi polar dan menggunakan metode maserasi.

1.5.2 Candida albicans yang digunakan sebagai indikator jamur yang dapat
menimbulkan infeksi pada manusia dan salah satu penyebab keputihan pada
wanita.

1.6 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Masalah


1.6.1 Ruang lingkup penelitian ini adalah pengujian ekstrak daun turi (berbunga
putih) yang dapat menghambat Candida albicans.
1.6.2 Keterbatasan penelitian
1.6.2.1 Jenis daun turi (berbunga putih) yang di ambil di daerah X
1.6.2.2 Pengujian aktifitas ini hanya menggunakan mikroba Candida albicans
karena jamur ini merupakan salah satu penyebab keputihan.
1.6.2.3 Pengujian hanya untuk mengetahui aktifitas ekstrak daun turi ( Sesbania
grandiflora (L.) pers.) (berbunga putih) terhadap Candida albicans.

1.7 Definisi Istilah


1.7.1 Aktifitas adalah kemampuan suatu zat (simlisia) dalam menghambat
mikroba.
1.7.2 Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental, dan cair di buat
dengan cara menyari simplisia nabati atau hewani.
1.7.3 Keputihan merupakan cairan yang keluar dari vagina atau liang kemaluan
secara berlebihan disebabkan oleh jamur Candida albicans.
1.7.4 Antijamur merupakan zat yang dapat menghambat dan membunuh jamur
atau menekan pertumbuhannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keputihan
Dalam

dunia

kedokteran,

istilah

medis

untuk

keputihan

adalah

leucorrhea/fluor albus/white discharge/vaginal discharge. Pengertian leucorrhea


sendiri berdasarkan kamus kedokteran Dorland adalah discharge keputihan dan
kental dari vagina dan rongga uterus, yang dimaksud dengan keputihan adalah cairan
yang keluar dari alat genital wanita yang tidak berupa darah. Hal ini terjadi karena
pengaruh hormonal dalam tubuh. Keluarnya cairan selain darah ini dapat bersifat
normal ataupun tidak normal (patologis). Keputihan adalah masalah yang sejak lama
menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu apa itu
keputihan dan terkadang menganggap enteng persoalan keputihan .
Keputihan yang bersifat normal terjadi saat ovulasi (keluarnya sel telur dari
kandung telur), menjelang dan setelah menstruasi, adanya rangsangan seksual, serta
dalam masa kehamilan. Dalam keadaan stress, keputihan juga sering terjadi.
Keputihan yang bersifat patologis yang umumnya disebabkan oleh infeksi pada alat
genital, baik infeksi yang ditularkan langsung tanpa melalui hubungan seksual
ataupun yang ditularkan melalui hubungan seksual. Namun selain infeksi, keputihan
yang patologis juga dapat timbul jika terdapat tumor, baik jinak maupun ganas pada
alat genital. Pada keputihan yang normal, cairan yang keluar berwarna putih encer,
bila menempel pada celana dalam maka warnanya kuning terang, konsistensinya

seperti lendir (encer kental) tergantung dari siklus hormon, tidak berbau dan tidak
menimbulkan keluhan. Berbeda dengan keputihan patologis, selain memberikan rasa
tidak nyaman, timbul pula keluhan-keluhan lain seperti rasa gatal. Warna cairan yang
keluar tidak lagi jernih dan cairan yang keluar berbau. bila terjadi gejala gejala antara
lain: gatal pada organ intim perempuan, rasa terbakar, kemerahan, nyeri selama
berhubungan intim, nyeri saat berkemih, keluar cairan berlebihan dari organ intim
perempuan (baik berlendir ataupun bercampur darah), dan berbau maka perlu
diwaspadai karena keputihan tersebut disebabkan oleh penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme seperti jamur, virus, bakteri dan lain-lain, Cuaca yang lembab pun
ikut mempengaruhi.
2.1.1 Dampak keputihan terhadap kesehatan
Keputihan yang semakin lama tidak diobati dapat menimbulkan komplikasi
sehingga menjadi masalah yang serius antara lain: infertilitas, radang penyakit
panggul, dan pada wanita hamil dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat
badan lahir yang rendah.Telah terbukti pula dari 95% kasus kanker leher rahim pada
wanita Indonesia disebabkan oleh keputihan.
2.1.2 Penyebab keputihan
Keputihan pada wanita disebabkan karena kurang menjaga kebersihan pada
daerah kewanitaan, kurang asupan gizi, atau juga tindakan memasukkan suatu benda
baik secara sengaja maupun tidak ke liang vagina.Misalnya obat kontrasepsi dan alat
kontrasepsi.

2.2 Candida albicans


Candida albicans adalah satu dari sekian banyak jenis yeast yang namanya
cukup dikenal di bidang Mikrobiologi. Yeast sendiri merupakan fungi mikroskopis
bersel tunggal yang bereproduksi secara vegetatif dengan membentuk sejenis kuncup
(budding). Beberapa jenis yeast, termasuk Candida albicans, memiliki sifat
dimorphic. Ketika berada di alam ia akan tumbuh sebagai miselium dan ketika berada
di dalam tubuh ia akan tumbuh sebagai yeast yang bereproduksi Dengan membentuk
budding.
2.2.1 Klasifikasi Ilmiah :
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Ascomycota

Subphylum

: Saccharomycotina

Kelas

: Saccharomycetes

Order

: Saccharomycetales

Family

: Saccharomycetaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans

Candida albicans menimbulkan suatu keadaan yang disebut kandidiasis, yaitu


penyakit pada selaput lender mulut, Vagina, dan saluran pencernaan. Infeksi yang
lebih gawat dapat menyerang jantung (endokarditis), darah (septisemia), dan otak (
meningitis). Organisme ini dapat hidup sebagai saprofit pada selaput-selaput lender
tersebut di atas pada kebanyakan orang tanpa menyebabkan penyakit. Namun

10

demikian apabila inangnya menjadi lemah karena suatu penyakit, atau jika bakteri
saingannya tertekan seperti pada pengobatan antibiotic yang berlanjut Candida
albicans dapat menyebabkan infeksi .
( pelezar, dkk , 1986: 202-205 )
2.2.2 Hubungan Candida albicans dengan keputihan
Dalam kondisi normal, kehadiran Candida albicans dalam tubuh manusia
tidak menimbulkan gangguan apapun. Gangguan hanya akan muncul apabila
keseimbangan populasi flora normal ini mengalami perubahan. Entah itu jumlahnya
meningkat dengan pesat ataupun menurun secara drastis. Perubahan keseimbangan
flora normal dalam vagina dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain :

1. Penggunaan alat kontrasepsi oral. Penggunaan alat kontrasepsi oral ini dapat
menyebabkan perubahan kondisi hormonal yang pada akhirnya akan
mempengaruhi derajat keasaman (pH) vagina. Adanya perubahan pH ini akan
mempengaruhi keseimbangan flora normal yang ada di dalamnya.
2. Mengkonsumsi antibiotik (dari golongan tetracycline) secara berlebihan akan
mengganggu keseimbangan flora normal vagina dan berakibat lebih jauh akan
meningkatkan pertumbuhanCandida albicans.
3. Terlalu sering membasuh vagina dengan cairan pembersih vagina juga akan
mematikan flora normal tertentu dalam vagina, sehingga komposisi flora
normal menjadi tidak seimbang.
4. Pemakaian celana dalam yang terlalu ketat dan penggunaan pembalut yang
terlalu sering akan mengurangi aerasi di daerah vagina, sehingga akan

11

meningkatkan suhu dan kelembaban di sana. Kondisi semacam ini


memungkinkan yeast untuk berkembang biak dengan pesat.
2.2.3 Pencegahan terhadap keputihan yang di sebabkan oleh jamur Candida albicans
1. Jagalah kebersihan vagina dan sekitarnya, tapi usahakan untuk tidak terlalu
sering menggunakan cairan pembasuh vagina.
2. Setiap selesai buang air sebaiknya membasuh vagina dari arah depan ke
belakang (dari vagina ke anus).
3. Hindari penggunaan celana dalam yang ketat ataupun berbahan nylon,
lebih baik gunakan celana dalam berbahan katun yang dapat menyerap
keringat.
4. Jangan malas untuk mengganti pembalut sesering mungkin di saat
menstruasi.
http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=764
2.3 Obat Tradisional
Obat tradisional merupakan obat-obatan yang diolah secara tradisional, turuntemurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan
setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional. Menurut penelitian
masa kini, obat-obatan tradisional memang bermanfaat bagi kesehatan dan kini
digencarkan penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga
maupun ketersediaannya. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena
menurut beberapa penelitian tidak terlalu menyebabkab efek samping, karena masih

12

bisa dicerna oleh tubuh.


Beberapa perusahaan mengolah obat-obatan tradisional yang dimodifikasi
lebih lanjut. Bagian dari Obat tradisional yang bisa dimanfaatkan adalah akar,
rimpang, batang, buah, daun dan bunga. Bentuk obat tradisional yang banyak dijual
dipasar dalam bentuk kapsul, serbuk, cair, simplisia dan tablet.
http://id.wikipedia.org/wiki/Obat_tradisional

2.4 Turi (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene grandiflora)


Turi (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene grandiflora) merupakan
pohon kecil (tinggi mencapai 10m). Asal diduga dari Asia Selatan dan Asia Tenggara
namun sekarang telah tersebar ke berbagai daerah tropis dunia. Bentuk berupa pohon
dengan percabangan jarang, cabang mendatar, batang utama tegak, tajuk cenderung
meninggi, daun menyirip ganda. Bunganya tersusun majemuk, mahkota berwarna
putih, tipe kupu-kupu khas Faboideae. Buah polong, menggantung.
Turi dimanfaatkan sebagai pohon peneduh jalan atau pekarangan. Daun dan
bunganya dapat disayur. Bunganya biasanya digunakan dalam pecel. Kulit batang turi
berkhasiat sebagai obat radang usus, obat sariawan dan obat kudis.
Nama-nama lokal di Indonesia mencakup turi (Jawa Tengah), turi (Pasundan),
toroi (Madura), tuwi, suri (Mongondow), uliango (Gorontalo), gorgogua (Buol), kayu
jawa (Baree, Makasar), ajutaluma (Bugis), palawu (Bima), tanunu (Sumba), gala-gala
(Timor), tun (Ternate, Tidore).

13

2.4.1 Klasifikasi ilmiah :


Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Upafamili

: Faboideae

Bangsa

: Robinieae

Genus

: Sesbania

Spesies

: Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene grandiflora

(Hutapea,1991: 524 )

2.4.2 Penyakit yang dapat disembuhkan :


1. Sariawan
2. Sakit tenggorok
3. Penambah ASI
4. Disentri, berak darah
5. Kuku jari bengkak akibat tersandung atau terpukul
6. Keputihan
7. Batuk
8. Batuk berdahak
9. Radang tenggorok

14

2.4.3 Kandungan Tanaman Turi (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene


grandiflora)
Turi memiliki kandungan pada Kulit batang yaitu Tanin,egatin, zantoagetin,
basorin,

resin,

calsium oksalat,

sulfur,

peroksidase,

zat

warna.dan

pada

daun mengandung saponin ,kemudian pada Bunganya mengandung kalsium, zat besi,
gula, vit A dan B. Bagian tanaman yang digunakan adalah daunnya yang memiliki
kandungan saponin sebagai antijamur.
2.5 Definisi saponin
Istilah saponin diturunkan dari bahasa latin SAPO yang berarti sabun,
diambil dari kata SAPONARIA VACCARIA, suatu tanaman yang mengandung
saponin digunakan sebagai sabun untuk mencuci. Saponin tersebar luas di antara
tanaman tinggi. Keberadaan saponin sangat mudah di tandai dengan pembentukan
larutan koloidal dengan air yang apabila di gojog menimbulkan buih yang stabil.
Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin dan
sering mengakibatkan iritasi terhadap selaput lendir. Ada dua jenis Saponin yaitu
steroidal (ditemui dalam banyak tumbuhan monokotilidon) dan triterpenoid (dalam
tumbuhan dikotilidon). Dikenal dua jenis saponin ; glikosida triterpenoid alkohol dan
glikosida struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal. Kedua
jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Saponin
diketahui memiliki efek sebagai antimikroba, menghambat jamur, dan melindungi
tanaman dari serangan serangga. Saponin mempunyai tingkat toksisitas yang tinggi
melawan fungi. Aktifitas fungisida terhadap Trichomerd viride telah digunakan

15

sebagai metide untuk mengudentifikasi saponin. Mekanisme kerja saponin sebagai


antifungi berhubungan dengan interaksi saponin dengan sterol membran.
(http:jajo66.files.wordpress.com/2008/06/saponin.pdf)
Saponin merupakan metabolit sekunder yang banyak terdapat di alam.
Menurut Foerster dalam Wikipedia menyebutkan bahwa saponin memiliki aktivitas
antijamur dengan jalan meningkatkan penetrasi makromolekul seperti protein melalui
sel membran (Anonymous, 2009 : 1)
2.5.1 Sifat-sifat Saponin adalah:
1. Mempunyai rasa pahit
2. Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3. Menghemolisa eritrosit
4. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidrok-sisteroid lainnya
6. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7. Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasil-kan formula empiris
yang mendekati.

2.5.2 Kegunaan saponin


Saponin memiliki kegunaan dalam pengobatan , terutama karena sifatnya
yang mempengaruhi absorpsi zat aktif secara farmakologi.
2.5.3 Struktur saponin

16

2.6 Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental, dan cair di buat
dengan cara menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai yaitu
maserasi, perkolasi, atau penyeduhan dengan air yang mendidih.
( Anief, 1994 : 168)

2.6.1 Pemilihan penyari


Pemilihan cairan penyari harus sesuai dengan karakteristik bahan aktifnya
agar tidak rusak kandungan zat aktifnya. Untuk penyarian menurut farmakope
Indonesia menetapkan bahwa yang digunakan sebagai larutan penyari adalah air,
etanol, etanol-air, eter.
Pemilihan pelarut ekstraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
1. Mudah diperoleh dan murah
2. Stabil secara kimia dan fisika
3. Selektif, yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki
4. Bereaksi netral
5. Tidak mempengaruhi zat yang berkualitas
6. Diperbolehkan oleh peraturan

17

2.6.2 Jenis jenis cairan penyari


Ekstrak diperoleh dengan cara mengekstraksi simplisia dengan cairan penyari,
contohnya air, etanol, etanol-air yang kemudian sari yang di peroleh diuapkan.
1. Air
Keuntungan menggunakan penyari air adalah murah dan mudah diperoleh,
stabil, tidak mudah menguap, tidak beracun, alamiah. Sedangkan kerugian air adalah
tidak selektif, sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam karena
mudah ditumbuhi jamur dan bakteri sehingga mudah rusak dan memerlukan waktu
yang lama dalam proses pemekatan
2. Etanol
Keuntungan menggunakan pelarut etanol adalah etanol lebih slektif, sulit
ditumbuhi kapang, kuman, atau bakteri, tidak beracun, netral, absorbsinya baik,
etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, memerlukan waktu
yang lebih singkat dalam pemekatan karena etanol mudah menguap. Sedangkan
kerugiannya adalah harganya mahal namun untuk meningkatkan penyarian biasa
digunakan campuran antara etanol dan air.

2.6.3 Metode Ekstraksi


1. Infundasi
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati
dengan air panas pada suhu 900C selama 15 menit .Infus merupakan proses penyarian
yang pada umumnya di gunakan untuk menyari zat-zat kandungan aktif yang larut
dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang

18

tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang di
peroleh dengan cara ini tidak boleh di simpan lebih dari 24 jam.
- Cara pembuatan infuse :
Membasahi bahan baku, biasanya dengan air 2 kali bobot bahan, untuk bunga 4 kali
bahan dan untuk karagenan 10 kali bobot bahan .
1. Bahan baku di tambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit pada suhu
900-980C. Umumnya untuk 100 bagian sari di perlukan 10 bagian bahan. Pada
simplisia tidak di tambambah 10 bagian , hal ini di sebabkan karena :
- Kandungan simplisia kelarutannya terbatas
- Disesuaikan dengan penggunaannya dalam pengobatan
2. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang di tambah bahan kimia
3. Penyarian di lakukan saat cairan masih panas , kecuali bahan yang
mengandung bahan mudah menguap.
Simplisia yang di gunakan untuk infuse harus mempunyai derajat halus sebagai
berikut :
1. Derajat kehalusan 2/3 : Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih, dan daun
serai
2. Derajat kehalusan 3/6 : Dringo, kelembak
3. Derajat kehalusan6/8 : laos, temulawak, jahe
4. Derajat kehalusan8/24: Kulit kina, akar ipeka
(Farmakope Indonesia edisi IV, 1995:9)

19

2. Maserasi
Maserasi adalah proses pengambilan bahan berkhasiat pada temperature
rendah dengan cara perendaman. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang
mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari.
Keuntungan cara maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang
digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Cara melakukan maserasi adalah
dengan menuangi bahan obat dengan penyari yang sesuai sambil sesekali
diadukdalam sebuah wadah, kemudian tutup wadah dengan rapat dan simpan atau
tunggu selama 5 hari.
2.7 Metode Difusi
Cara yang mudah untuk menetapkan kerentanan organisme terhadap
antibiotik adalah dengan menginokulasi plat agar dengan biakan dan membiarkan
antibiotik berdifusi kemedia agar . Cakram yang telah mengandung antibiotik di
letakkan di permukaan plat agar yang mengandung organisme yang di uji. Konsentari
menurun sebanding dengan luas bidang difusi pada jarak tertentu dari masing-masing
cakram, antibiotik terdifusi sampai pada titik dimana antibiotik tidak lagi
menghambat pertumbuhan mikroba. Efektifitas antibiotik di tunjukkan oleh zona
hanbatan. Zona hambatan ini tampak sebagai area jernih / bening yang mengelilingi
cakram dimana zat dengan aktifitas anti mikroba terdifusi. Diameter zona dapat di
hitung dengan penggaris dan hasil dari eksperimental ini merupakan satu anti
biogram.

20

Metode difusi agar telah digunakan secara luas dengan cakram kertas saring
yan tersedia secara kormesial , kemasan yang menunjukkan konsentrasi antibiotik
tertentu juga tersedia. Efektivitas relative dari antibiotik yang berbeda menjadi dasar
dari spectrum sensitivitas suatu organisme. Informasi ini, bersama dengan berbagai
pertimbangan farmakologi, di gunakan dalam memilih antibiotic untuk pengobatan.
Ukuran dari zona hambatan dapat di pengaruhi oleh kepadatan atau viskositas
dari media biakan, kecepatan difusi antibiotik , konsentrasi antibiotik pada cakram
filter, sensitivitas organisme terhadap antibiotic, dan interaksi antibiotik dengan
media.
Media cakram difusi mewakili prosedur sederhana mempunyai aktivitas
antibiotik yang berguna.
( Biomed & Harminto , 2005 : 2-3 )
2.8 Kerangka Teori
Daun Turi berbunga putih merupakan salah satu tanaman yang dapat di
gunakan dalam pengobatan yang banyak digunakan oleh masyarakat. Bagian dari
tanaman ini yang dapat digunakan untuk pengobatan antijamur adalah pada bagian
daunnya. Pada bagian ini diekstraksi menggunakan metode maserasi, karena
memungkinkan kandungan aktif yang diinginkan tersari dengan baik, kemudian
ekstrak yang didapat digunakan sebagai antijamur. Salah satu jamur yang
menyebabkan keputihan pada daerah kewanitaan wanita adalah Candida albicans.
Dibuktikan khasiat

ekstrak turi berbunga putih sebagai antijamur, dapat

menggunakan metode penyebaran dengan cakram kertas karena lebih praktis


,ekonomis dan dalam penelitian ini hanya menguji aktifitas ekstrak daun turi.

21

Ekstrak daun turi berbunga putih dinyatakan memiliki aktifitas antijamur


apabila terdapat zona hambat pertumbuhan Candida albicans pada lempeng agar
Sabouraud Dextrosa Agar setelah di inkubasi pada suhu 370C selama 2 x 24 jam. Hal
ini ditunjukkan dengan adanya wilayah jernih di sekitar cakram kertas. Zona
hambatan yang terbentuk di ukur menggunakan jangka sorong.

2.9 Hipotesis
Ekstrak daun turi berbunga putih mampu menghambat pertumbuhan Candida
albicans di tandai dengan zona hambat.

22

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas ekstrak daun turi
berbunga putih terhadap pertumbuhan Candida albicans.
Penelitian ini bersifat deskritif dan meliputi tiga tahapan kerja . Pertama ,
tahap penyiapan bahan ekstrak daun Turi berbunga putih dengan cara ekstraksi
maserasi, persiapan media Sorbouraud Dextrosa Agar, persiapan cakram kertas,
persiapkan semua alat alat kemudian disterilisasi, persiapan biakan murni Candida
albicans. Kedua, tahap pelaksanaan yaitu pengujian aktivitas ekstrak daun Turi
berbunga putih terhadap Candida albicans. Ketiga, yaitu tahap penelitian dan
melakukan pengamatan terhadap hasil pengujian serta analisa data.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini ialah daun turi berbunga putih di daerah X
3.2.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini ialah daun turi berbunga putih sebanyak 25 gram.
3.2.3 Bahan Uji
Bahan uji dalam penelitian ini ialah Candida albicans

23

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.3.1 Lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Akademi Analis
Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang.
3.3.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian dimulai pada bulan April dan Juni 2009

3.4 Devinisi Operasional Variabel


Devinisi operasional variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas
dan variabel terikat. variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak daun turi
berbunga putih, dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktifitas terhadap
Candida albicans.
Tabel Definisi Operasional Variabel
Variabel

Definisi
daun

Pengamatan

Ekstrak daun turi

Ekstrak

Berbunga putih

Berbunga putih yang Bau

turi Warna

diperoleh dari proses Tekstur


maserasi

Rasa

Aktifitas

Zona hambat dalam

Mempunyai Aktivitas

antijamur ( daya

satuan mm

antijamur jika terdapat

hambat )

Skala ukur

zona jernih pada daerah


sekitar cakram.

Nominal

Nominal

24

3.5 Instrumen Penelitian dan Bahan


Instrumen penelitian ialah semua alat dan bahan yang di gunakan dalam
peneliian ini untuk pengumpulan data. Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah
sebagai berikut.
3.5.1 Bahan :
1. Alumunium foil
2. Aquadest steril
3. Biakan murni jamur Candida Albicans
4. Daun Turi berbunga putih
5. Etanol 70 %
6. Kertas saring
7. NaCl 0,9 %
8. Sorbouraud Dextrosa Agar
3.5.2 Alat :
1. Autoklaf
2. Batang pengaduk
3. Beker glass
4. Botol semprot
5. Bunsen
6. Cawan penguap
7. Cawan Petri
8. Blue tip
9. Pipet mikro

25

10. Corong glass


11. Corong buchener
12. Gelas ukur
13. Inkubator
14. Jangka sorong
15. Kertas Whatman no 2
16. Laminar air flaw
17. Oven
18. Penangas air
19. Pipet volume
20. Tabung reaksi
3.6 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui langkah kerja sebagai
berikut :
3.6.1 Pembuatan ekstrak Daun Turi berbunga putih
1. Sampel daun Turi berbunga putih dan cuci bersih dan dirajang halus.
2. Timbang dosis sebanyak 25 gram.
3. Siapkan etanol 70 % sebanyak 100 ml sebagai caian penyari.
4. Masukkan sampel daun turi dalam beker glass lalu tuang etanol 70 %
tersebut hingga sampel terendam semua.
5. Aduk aduk sebentar kemudian tutup dengan alumunium foil.
6. Simpan selama 5 hari.

26

7. Saring menggunakan corong buchner dan dievaporasi guna memisahkan


ekstrak dengan pelarut.
8. Hasil ekstrak diuapkan di water bath.
3.6.2 Pembuatan media Sorbouraud Dextrosa Agar
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sorbouraud Dextrosa Agar
untuk pembiakan jamur Candida albicans
Bahan

Jumlah

Pepton

10 gram

D (+) glukosa

40 gram

Agar

15 gram

Aquadest

1000 gram
pH 5,6 0,2

3.6.3 Persiapan cakram kertas


Cakram kertas dibuat dari kertas saring merek whatman no 2 yang di potong
bulat berdiameter 8 mm , kemudian masukkan dalam cawan petri dan di sterilkan
dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit .
3.6.3 Sterilisasi Alat
Sterilisasi alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua cara yaitu
sterilisasi panas basah dan sterilisasi panas kering. Sterilisasi panas basah adalah
sterilisasi untuk alat-alat yang terbuat dari bahan bahan kaca atau gelas yaitu
dengan cara dibungkus kertas perkamen, kemudian di masukkan dalam autoklaf
pada suhu 1210C selama 15 menit. Sedangkan sterilisasi panas kering adalah

27

sterilisasi untuk alat-alat yang terbuat dari bahan bahan logam atau porselin yaitu
dengan cara membungkus dengan alumunium foil, kemudian masukkan dalam oven
pada suhu 1700C selama 1 jam .

3.6.6 Persiapan biakan murni Candida albicans


1. Biakan Candida albicans ditanam pada media Sorbouraud Dextrosa Agar
pada cawan petri secara merata kemudian di inkubasi selama 24 jam pada
suhu 370C.
2. Biakan di suspensi dalam larutan NaCl steril 0,9 % dan kocok.
3. Serapan suspensi diukur dengan spektrofotometri visibel pada panjang
gelombang 580 nm sedemikian rupa sehingga dengan pengenceran tertentu
diperoleh transmitan 25%.
4. Sebagai blangko adalah larutan NaCl steril 0,9 %.
5. Buat inokulum dengan cara menanamkan sampel biakan yang memberikan
transmitan 25% pada media dalam cawan petri secara merata dan biarkan
lempeng mengering.

3.6.7 Pengujian aktifitas antijamur ekstrak daun Turi berbunga putih


Pengujian aktifitas antijamur ekstrak daun turi berbunga putih meliputi
tahap-tahap sebagai berikut :
1. Siapkan Candida albicans yang telah di ukur transmitanya.

28

2. Masukkan suspensi jamur kedalam cawan petri yang telah berisi media
Sorbouraud Dextrosa Agar sebanyak 1 ml, kemudian putar cawan petri
searah hingga homogen dan biakan menjadi padat dan mengering.
3. Cakram di ambil dengan pinset secara aseptis, rendam di dalam ekstrak
daun Turi berbunga putih selama 5 menit, kemudian pasang pada
permukaan agar yang telah memadat , dan pengujian ini dilakukan dalam 4
kali replikasi pengamatan.
4. Dibuat kontrol : kontrol media, kontrol media + jamur, kontrol media +
jamur + etanol, dan kontrol media + jamur + kalpanax.
5. Biakan perlakuan dan biakan kontrol di inkubasikan dalam inkubator pada
suhu 370C selama 2 x 24 jam.
6. Dilakukan pengukuran daerah atau zona hambat yang ditandai dengan
adanya zona jernih di sekitar cakram kertas dan di ukur dengan jangka
sorong.

3.7 Analisa Data


Dalam penelitian ini analis data dilakukan dengan mengukur zona bening
menggunakan jangka sorong pada masing-masing cawan Petri yang telah di inkubasi
pada suhu 370C selama 2 x 24 jam.
Data yang telah di peroleh dari hasil pengujian analisis untuk mendapatkan
suatu kesimpulan, diolah menggunakan uji hipotesis dengan uji SD dan KV.
Langkah perhitungan dari data yang di peroleh adalah:
1. Mencari rata-rata hitung

29

X=

x1
n

2. Menghitung Standart Deviasi


SD

(x1 - x) 2
n -1

3. Menghitung Koevisien Variabel


KV =

SD
x100%
X

Keterangan :
SD

= Standart Deviasi

KV

= Koefisien variasi

= Diameter Hambatan

= Rata- rata

= Banyaknya Replikasi

30

Tabel pengamatan diameter hambat dalam satuan mm terhadap Candida albicans


Replikasi

Diameter

(n)

hambat

Kontrol
Media

sampel
uji
I
II
III
IV
Total

Keterangan :
n

= Banyaknya replikasi

= Diameter Hambatan

Media

Media

Media

+ jamur

+ jamur

+ jamur

+ etanol

+ kalpanax

31

BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Pengamatan Daun turi ( Sesbania grandiflora (L.) pers.).


Daun turi yang diambil adalah daun dari pohon turi yang memiliki bunga
berwarna putih, daun turi yang digunakan dalam penelitian ini berwarna hijau, dan
berbentuk oval panjang .
4.2 Hasil Pengamatan ekstrak daun turi ( Sesbania grandiflora (L.) pers.).
Ekstrak daun turi yang diperoleh dari proses maserasi kemudian dievaporasi
untuk memisahkan ekstak dengan pelarutnya etanol 70 %, dan diuapkan di water
bath.
Tabel 4.2 Hasil ekstak di uji organoleptis meliputi :
organoleptis

Hasil pengamatan

Warna

Hijau tua

Bau

Daun

Tekstur

Kental

Rasa

Pahit

4.3 Hasil Pengamatan efektifitas ekstrak daun turi ( Sesbania grandiflora (L.)
pers.).
Ditinjau dari aktivitasnya terhadap Candida albicans , ternyata tidak terdapat
zona bening di sekitar cakram kertas,setelah di inkubasi pada suhu 370 C selama 2 x

32

24 jam. Dari hasil tersebut ekstak daun turi tidak efektif menghambat Candida
albicans pada dosis 25 gram.
Tabel 4.3 Hasil Pengamatan zona hambat ekstrak daun turi ( Sesbania grandiflora
(L.) pers.) terhadap Candida albicans.
Replikasi
(n)

Diameter
hambat (X)

Kontrol
Media

sampel uji

I
II

Media

Media

Media

+ jamur

+ jamur

+ jamur

+ etanol

+ kalpanax

Tidak

Tidak

Berwarna

Berwarna

Cakram

terdapat

ditumbuhi

putih susu

putih susu,

direndam

zona

jamur

karena

karena

kalpanax,

III

hambat di

media

etanol tidak

terdapat

IV

sekitar

ditumbuhi

membunuh

zona bening

cakram

jamur

jamur

disekitar

Total

cakram

Dari hasil pengamatan tersebut, diketahui tidak terdapat zona hambat disekitar
cakram kertas. Hal tersebut dimungkinkan karena kandungan saponin yang
dibutuhkan sebagai antijamur tidak terambil semua, atau dalam dosis 25 gram daun
turi mengandung saponin yan sangat sedikit / sangat kecil .
Dimungkinkan juga, dosis yang digunakan dalam pengobatan lebih tinggi
dibanding pengujian yang dilakukan. Adapun kemungkinan lain yaitu pada cakram
kertas dengan diameter 8 mm, tidak dapat menyerap satu dosis ekstrak daun turi
sehingga tidak tampak zona hambatan di sekitar cakram kertas.

33

BAB V
PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan ekstrak daun turi diperoleh dari proses maserasi menggunakan
pelarut semi polar yaitu etanol 70%. Kemudian suspensi Candida albicans yang telah
diukur transmitannya dipipet sebanyak 1 ml kedalam Media Sorbouraud Dextrosa
Agar yang telah steril dan memadat kemudian diputar homogen. Setelah itu
diinkubasi dengan suhu 37 0 C selama 1 x 24 jam. Setelah diamati ternyata ekstrak
daun turi tidak mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans di tandai dengan
tidak tampaknya zona bening di sekitar cakram kertas, kemudian dilanjutkan lagi
inkubasi dengan suhu 37 0 C selama 2 x 24 jam, 3 x 24 jam, 4 x 24 jam, dan 5 x 24
jam, tetap tidak tampak zona bening disekitar cakram .
Penggunaan kontrol media bertujuan untuk mengetahui adanya kontaminan kontaminan lain yang tumbuh pada media, dan kontrol media + jamur digunakan
untuk mengetahui apakah Candida albicans dapat tumbuh pada media Sorbouraud
Dextrosa Agar. Untuk kontrol media + jamur + etanol digunakan untuk mengetahui
apakah jamur Candida albicans dapat tetap tumbuh bila masih ada kandungan etanol
pada ekstrak daun turi . Sedangan untuk kontrol

media + jamur + kalpanax

digunakan untuk mengetahui keefektifan kalpanax dalam menghambat pertumbuhan


jamur Candida albicans.
Dari pengamatan tersebut

maka ekstrak daun turi tidak efektif sebagai

antijamur.Dimungkinkan ektrak dengan dosis 25 gram tidak terserap semua oleh

34

cakram kertas sehingga tidak efektif, dan dari ramuan tradisional menyatakan bahwa
daun turi (berbunga putih) satu genggam dan rimpang kunyit 1 ibu jari kemudian
diinfus dengan penambahan air 110 ml, dapat mengobati keputihan,jadi ada
kemungkinan yang memberikan efek sebagai antijamur dari ramuan tersebut adalah
rimpang kunyit dan daun turi (berbunga putih) hanya sebagai bahan tambahan yang
membantu proses penyembuhan. Dalam penelitian ini sebelumnya menggunakan
metode ekstraksi secara infus untuk mengambil zat aktif yang dibutuhkan sebagai
antijamur yaitu saponnin, namun setelah di ujikan ternyata tidak terdapat zona
hambat, ada kemungkinan hasil ekstraksi tersebut kurang optimal, lalu dilakukan
metode maserasi, kemudian di ujikan pada jamur, namun tetap tidak tampak zona
hambat. Untuk itu dilakukan peningkatan dosis dari 25 gram ditingkatkan 2 kalinya
yaitu 50 gram daun turi, dan peningkatan 3 kalinya yaitu 75 gram, namun tetap tidak
tampak zona hambat di sekitar cakram kertas.

35

BAB VI
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan tidak terdapat zona bening di sekitar cakram
kertas. Dari hasil tersebut ekstak daun turi

berbunga putih tidak efektif

menghambat Candida albicans pada dosis 75 gram.

Saran
Perlu kiranya dilakukan penelitian aktifitas ekstak daun turi berbunga putih,
menggunakan metode yang lain.
Perlu kiranya dilakukan penelitian aktifitas ekstak daun turi berbunga putih,
menggunakan jamur atau bakteri lain penyebab keputihan.
Perlu kiranya dilakukan penelitian aktifitas ekstak daun turi berbunga putih dan
rimpang kunyit sesuai ramuan tradisional.

36

DAFTAR RUJUKAN

Anief,

Mohammad.

1994.

Penggolongan

obat

berdasarkan

Khasiat

Dan

Penggunaan. Edisi IV. Yogyakarta : Gajahmada University Press

Anonymous.Candida Albicans,http://www.kafemuslimah.com/,diakses 3 januari 2009


Anonymous .2007.Keputihan Si Putih yang Menjengkelkan.www.blogdokter.net/2007
diakses 3 januari 2009
Anonymous.ObatTradisional Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Obat_tradisional
diakses 3 januari 2009
Anonymous .2008.Saponin,http:jajo66.files.wordpress.com/2008/06/saponin.pdf
diakses 10 Agustus 2009
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV.
Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Fardiaz, Srikandi, 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Harmita dan Biomed, Maksum Radji. 2005. Analisis Hayati. Depok : Departemen
Farmasi FMIPA Universatas Indonesia

Hutapea,Johnny Ria dan Syamsuhidayat, Sri sugati. 1991. Inventaris Tanaman Obat
Indonesia ( I ). Jakarta : Departemen Kesehatan RI Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan.

Nasir, Moh.1989. Metodologi Penelitian. Jakarta : Ghalilia Indonesia

37

Pelezar, J. Michael dan ECS Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi Kedokteran.


Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Sari, Nina Puspita. 2007. Uji Aktifitas Antibakteri Ekstrak Biji Jinten Hitam ( Nigella
Sativa ) terhadap Pseudomonas Aeruginosa Secara Invitro : Karya Tulis
Tidak Diterbitkan. Malang : Akademi Farmasi Malang.

Soedibyo, B.R.A Mooryati. 1998. Alam Sumber Kesehatan Manfaat dan Kegunaan.
Jakarta : Balai Pustaka.

Volk, A Wesley dan Margaret. F. Wheeler. 1990. Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima
Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

38

LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 1.

Turi ( Sesbania grandiflora (L.) pers.)


Gambar 2.

39

Kontrol media
Gambar 3.

Kontrol media + jamur

Gambar 4.

Kontrol media + jamur + etanol

40

Gambar 5.

Kontrol media + jamur + kalpanax


Gambar 6.

replikasi (1)

replikasi (2)

replikasi (3)

replikasi (4)

media + jamur + Infus daun turi (dosis 25 gram)

41

Gambar 7.

replikasi (1)

replikasi (2)

replikasi (3)

media + jamur + Ekstrak daun turi (dosis 25 gram)

replikasi (4)