Anda di halaman 1dari 119

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI

GULA DI PG PAGOTTAN

Oleh:
TUTIK WIDARWATI
A14104134

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
TUTIK WIDARWATI. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi
Gula di PG Pagottan. Di bawah bimbingan HARMINI.
Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki arti
penting dan posisi yang strategis di Indonesia karena sebagian besar masyarakat
Indonesia mengkonsumsi gula. Permintaan gula akan terus meningkat tiap
tahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli
masyarakat, dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan
bakunya. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah
tangga di Indonesia yang mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun
2003 sampai tahun 2007. Meskipun terjadi peningkatan terhadap produksi gula
nasional namun angka produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan gula
dalam negeri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gula nasional Indonesia harus
melakukan impor gula.
Ketidakmampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula dalam
negeri disebabkan karena masih rendahnya produksi gula nasional. Rendahnya
produksi nasional antara lain disebabkan oleh : (1) Penurunan luas dan
produktivitas lahan, (2) Rendahnya rendemen industri gula Indonesia, (3)
Efisiensi pabrik gula yang masih rendah.
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang, maka diketahui
bahwa kondisi inefisiensi produksi tersebut diduga juga dialami oleh PG Pagottan
yang salah satunya diindikasikan oleh kualitas pasokan bahan baku tebu
(rendemen) yang masih rendah. Selain itu terjadi kecenderungan pemanfaatan
tenaga kerja yang berlebihan di dalam menjalankan kegiatan produksinya. Sesuai
dengan kondisi yang terdapat di PG Pagottan maka penelitian ini bertujuan untuk :
(1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan
dan (2) Menganalisis tingkat efisiensi kegiatan produksi gula di PG Pagottan.
Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan Madiun yang merupakan salah
satu pabrik gula yang berada di bawah pengelolaan PTPN XI wilayah kerja Jawa
Timur. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei 2008. Data utama yang
digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, meliputi: data output, input,
serta biaya rata-rata kegiatan produksi gula di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga
tahun 2007.
Analisis data yang dilakukan menggunakan model fungsi produksi CobbDouglas yang diolah dengan pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Kemudian
dilanjutkan dengan analisis terhadap efisiensi kegiatan produksi gula, dengan
asumsi terdapat kendala biaya. Pertumbuhan total produksi gula sejak tahun 2001
hingga tahun 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48 persen
per periode. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatan
produksi gula tebu sendiri (TS) dan tebu rakyat (TR) masing-masing sebesar 8,73
persen per periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula TR
terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan oleh perbaikan
mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada areal bongkaran
keprasan. Peningkatan juga terjadi pada jumlah tebu yang dipasok, rendemen, dan
tenaga kerja musiman. Sedangkan lama giling, jam mesin, dan bahan pembantu
mengalami kecenderungan yang menurun.

Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan,


yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja
musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dari hasil analisis regresi dengan
memenuhi asumsi OLS (uji normalitas, homoskedastisitas, non autokorelasi, tidak
terdapat gejala multikolinearitas) dan uji statistik , maka diperoleh faktor-faktor
yang secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktorfaktor produksi tersebut, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga
kerja pada selang kepercayaan 95 persen . Nilai koefisien regresi dari faktorfaktor produksi tersebut masing-masing sebesar 0,066, 1,01, 1,03, dan -0,239.
Nilai elastisitas yang negatif menunjukkan bahwa jika terdapat peningkatan satu
persen tenaga kerja maka akan mengurangi produksi gula sebesar 0,239 persen.
Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor produksi di
dalam kegiatan produksi gula. Dalam penelitian ini faktor-faktor produksi yang
diukur tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu karena faktor tersebut dapat diukur
tingkat harganya dan memenuhi syarat Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien
regrresi dari faktor poduksi tersebut antara nol dan satu.. Dengan menghitung nilai
rasio antara NPM (Nilai Produk Marjinal) dan BKM (Biaya Korbanan Marjinal)
diketahui bahwa nilai rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu
sebesar 0,01menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku belum efisien.
Berdasarkan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal
(BKM) dari faktor produksi jumlah tebu yang tidak sama dengan satu, maka dapat
disimpulkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien. Penggunaan bahan
baku tebu dalam produksi gula harus mencapai kondisi optimal agar efisiensi
dapat tercapai. Kondisi optimal dari penggunaan factor produksi ini terjadi apabila
rasio NPM dan BKM dari faktor produksi harus sama dengan satu.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN

Oleh :
TUTIK WIDARWATI
A14104134

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

Judul Skripsi
Nama
NRP

: Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di


PG Pagottan
: Tutik Widarwati
: A14104134

Menyetujui,
Dosen Pembimbing Skripsi

Ir. Harmini, MS
NIP. 131 688 732

Mengetahui
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr


NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG
BERJUDUL ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN BENAR-BENAR HASIL KARYA
SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI
LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN. SUMBER INFORMASI YANG
BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN
TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN
DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DI
BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI.

Bogor, September 2008

Tutik Widarwati
A14104134

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 14 Agustus 1986
dari keluarga Bapak Darno dan Ibu Minten Widarti. Penulis merupakan anak
pertama dari dua bersaudara.
Pendidikan akademis penulis dimulai sejak tahun 1991 dengan bersekolah
di TK Islam Wahyu, Cimanggis, Depok. Pendidikan dasar diselesaikan penulis di
SD Negeri Curug IV Depok pada tahun 1998, yang dilanjutkan dengan
pendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTP Negeri 1 Cimanggis sejak tahun
1998 hingga tahun 2001. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Depok dan
pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan
Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi
Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segala
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan sebagai
syarat untuk melakukan penelitian yang menjadi bagian dari penelitian skripsi
pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Skripsi ini berisi tentang penelitian mengenai PG Pagottan sebagai suatu
entitas usaha yang bergerak dalam pengolahan gula. Penelitian yang akan
dilakukan berupaya untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi gula di PG Pagottan serta tingkat efisiensi faktor-faktor produksi
tersebut.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, dan dapat diterima sebagi
syarat dalam penelitian skripsi.

Bogor, September 2008

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, hidayah serta karuniaNya kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad SAW, keluaraga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir
zaman. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari
kerjasama dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Ir. Harmini, MS, sebagai dosen pembimbing skripsi, yang tak hentinya
memberikan nasihat, motivasi dan masukan yang sangat berguna demi
kesempurnaan skripsi penulis.

2.

Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS, sebagai dosen penguji utama.

3.

Etriya, SP,MM, sebagai dosen penguji wakil komisi pendidkan.

4.

Amzul Rifin, SP. M. A. sebagai dosen Pembimbing Akademik yang juga


memberikan masukan, saran dan kritikan serta motivasi selama penulis
menyusun skripsi ini.

5.

Bapak Gampil, Bapak Arysad sebagai SKW Bagian Tanaman PG Pagottan


yang telah memberikan banyak informasi kepada penulis.

6.

Bapak Darno, Mas Yiyin, Mba Riski, Mba Yeni atas kerjasama yang baik
selama penulis melakukan penelitian.

7.

Pak Whumy, Pak Adit, Pak Budi, Pak Joseph yang banyak memberikan data
dan informasi penting kepada penulis, pelajaran singkat mengenai gula,
browsing gratis, dan kemudahannya lainnya yang telah diberikan kepada
penulis.

8.

Dosen-dosen IPB yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.

9.

Mas Ferry, Mba Etriya, Mas Yeka, Mas Arif, Mba Anita dan dosen lainnya
yang pernah menjadi asdos dan memberikan ilmunya kepada penulis.

10.

Mba Dian, Mba Dewi, Ibu Ida dan staff lainnya atas bantuannya kepada
penulis dalam mengurus birokrasi.

11.

Kedua orang tuaku, ibu dan bapak yang selalu memberikan bantuan baik
dukungan moril maupun dukungan semangat serta kasih sayang yang tak
hentinya dicurahkan kepada penulis.

12.

Adikku tercinta Ayub Dwi Prasetyo yang selalu meramaikan rumah dengan
keisengan dan kejailannya.

13.

Sahabat-sahabat terbaikku di dunia Rizki Amelia, Sevia Fitrianingsih, Nur


Novita Zayanty, Adisti Meisafitri, Imas Nunik Handayani, Rizal Syahrudin,
Yustika Muharastri atas keceriaan, kebahagiaan, suka dan duka selama
empat tahun. Semoga persahabatan kita akan selalu abadi, amin ya robbal
alamin. Terimakasih setulusnya kuucapkan untuk kalian semua.

14.

Purdiyanti Pratiwi, Tantri Dewi Putriana, Nurhayati Zaenal, Vera Nova


Gustrin, Jane Langking, dan Prety Elisabeth atas kebersamaan di rumah
kontrakan Pak Ukun.

15.

Ss, Aries, Tejo, Yanti, Lukman, Neng-Q, Wanti, Rudi, Sastrow, Effendi,
Pak De, Dian, serta teman-teman AGB 41 lainnya yang tidak bisa
disebutkan satu-persatu, terimakasih atas kebersamaannya selama kuliah di
IPB, menjadikan empat tahun ini warna-warni yang indah dalam hidupku,
sungguh beruntung mengenal kalian semua.

16.

Madyastato Prabudi, seseorang yang baik hatinya, memotivasi penulis dan


dengan tulus serta sabar membantu dan memfasilitasi penulis sehingga
dapat menyelesaikan skripsi ini. Ni shi wo de hen ke ai nanpengyou.

17.

Tante-tanteku tercinta Lek Nur dan Lek Pis, terimakasih Lek atas pelajaran
hidup yang bermakna.

18.

Sepupu perempuanku Ayu, yang dengan baiknya membantu penulis untuk


mentranslet buku-buku asing. Danke.

19.

Teman-teman KKP desa Cikadu Cita, Rena, dan Roni terimakasih atas
kebersamaannya selama masa KKP, pengalaman tak terlupakan.

20.

Fotocopy Prima yang banyak membantu terwujudnya skripsi ini serta pihakpihak yang banyak membantu penulis selama penyusunan skripsi.

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ..................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv
I PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

Latar Belakang ..................................................................................... 1


Perumusan Masalah ............................................................................. 6
Tujuan Penelitian ................................................................................. 7
Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7
Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 8

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5

Gambaran Umum Komoditi Tebu ........................................................ 9


Pengusahaan Tebu ............................................................................. 12
Pengusahaan Pabrik Gula ................................................................... 15
Jenis Gula .......................................................................................... 16
Penelitian Terdahulu .......................................................................... 18

III KERANGKA PEMIKIRAN


3.1

3.2

Kerangka Pemikiran Teoritis


3.1.1 Teori dan Fungsi Produksi ...................................................... 22
3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi ...................................................... 31
Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 36

IV METODE PENELITIAN
4.1
4.2
4.3
4.4
V

Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 39


Sumber dan Jenis Data ....................................................................... 39
Metode Analisis Data ......................................................................... 40
Pengukuran Variabel .......................................................................... 45

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan
5.1.1 Sejarah Perusahaan ................................................................. 49
5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan............................................... 50
5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim ................................................................ 53
5.3 Kemittraan Antara Pabrik Gula dan Petani ............................................ 54
5.4 Perkembangan Produksi Pabrik ............................................................. 55

5.5 Agribisnis Gula


5.5.1 Usahatani Tebu ....................................................................... 62
5.5.2 Pengolahan Tebu .................................................................... 66
5.5.3 Distribusi Gula ....................................................................... 73
VI EFISIENSI PRODUKSI GULA PASIR
6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi...................................................... 75
6.2 Analisis Elastisitas Produksi............................................................... 80
6.3 Analisis Efisiensi ............................................................................... 83
VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan ........................................................................................ 87
7.2 Saran.................................................................................................. 88
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 89
LAMPIRAN ..................................................................................................... 91

xii

DAFTAR TABEL
Nomor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Halaman

Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 .... 2


Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 ............................... 3
Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1997-2007 ........................................ 6
Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 40
Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan ............................................... 63
Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih......................................................... 72
Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi ....... 76
Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula Setelah Uji Validitas Asumsi OLS 79
Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan
Produksi Gula Pasir pada PG Pagottan per Periode...................................... 85

DAFTAR GAMBAR
Nomor
1.
2.
3.
4.
5.

Halaman

Proses Terbentuknya Gula di dalam Batang Tebu ....................................... 10


Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi........................................ 28
Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ..................................................... 38
Struktur Organisasi PG Pagottan ................................................................. 51
Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan ....................................................... 74

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Halaman

Luas Areal dan Produksi Gula Indonesia Tahun 1996-2008.......................... 92


Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ........................................... 93
Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ................................. 96
Perkembangan Luas Areal PG Pagottan ....................................................... 97
Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi .................................. 98
Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ............................ 99
Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi ......... 100
Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor
Produksi ..................................................................................................... 101
9. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi
OLS ........................................................................................................... 102
10. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas
Asumsi OLS .............................................................................................. 103
11. Dokumentasi PG Pagottan.......................................................................... 104

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki arti

penting dan posisi yang strategis di Indonesia. Meskipun telah beredar bahanbahan pemanis lainnya, seperti : madu, gula merah, fruktosa, glukosa dan gula
tropika namun preferensi masyarakat Indonesia terhadap gula tebu masih lebih
tinggi. Alasan kepraktisan (bentuk butiran), ketersediaan, dan berbagai kelebihan
lainnya menjadikan gula tebu sebagai pilihan utama (Churmen, 2001). Hal ini
mengindikasikan bahwa permintaan gula akan terus meningkat tiap tahunnya
seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat,
dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya1.
Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah tangga
di Indonesia mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun 2003 sampai
tahun 2007 (Tabel 1). Kecenderungan konsumsi yang meningkat seiring dengan
meningkatnya produksi gula. Namun, besarnya jumlah konsumsi gula tersebut
tidak diimbangi dengan jumlah produksi gula. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan dalam negeri
yang terus meningkat.
Pada Tabel 1 dapat dilihat nilai produksi gula nasional pada tahun 2003
hanya sebesar 1,63 juta ton padahal nilai konsumsi gula saat itu mencapai 2,29
juta ton. Kemudian pada tahun 2007 produksi gula nasional mengalami kenaikan
sebesar 4,7 persen dibandingkan tahun 2006 menjadi 2,42 juta ton, namun angka

Simatupang, Pantjar. 2005. Analisis Kebijakan Tentang Kebijakan Komprehensif Pergulaan


Nasional. www.pse.litbang.deptan.go.id diakses 10 April 2008.

ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang mencapai
2,69 juta ton. Peningkatan produksi gula nasional yang terjadi lima tahun terakhir
disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengenai penetapan
harga provenue gula pasir produksi petani yang bertujuan untuk menghindari
kerugian petani dan mendorong peningkatan produksi. Selain itu pemerintah juga
menetapkan tarif spesifik untuk impor gula mentah sebesar Rp 550 per kilogram
(setara 20 persen) dan gula putih Rp 700 per kilogram (setara 25 persen) yang
berlaku hingga sekarang untuk merangsang petani menanam tebu.
Tabel 1 Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun
2003-2007
Konsumsi Gula Rumah
Tangga (ton)
2003
2.294.539
2004
2.442.000
2005
2.625.540
2006
2.664.135
2007
2.699.832
Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007
Tahun

Produksi Gula (ton)


1.634.918,9
2.051.643,8
2.241.742,0
2.307.027,0
2.415.625,0

Kekurangan
(ton)
1.435.105,3
825.304,1
151.126,2
383.798,0
357.108,0

Salah satu penyebab rendahnya produksi gula nasional adalah bersumber


dari penurunan luas areal dan penurunan produktivitas. Sebagai contoh, rendemen
yang dicapai pada tahun 1970-an masih sekitar 10 persen, sedangkan rata-rata
rendemen pada sepuluh tahun terakhir hanya 7,19 persen (Lampiran 1).
Menurunnya rendemen tersebut selain disebabkan oleh faktor teknis di usahatani
tebu dan belum selarasnya hubungan antara PG dan petani, faktor teknis di pabrik
juga menjadi faktor penyebab (Susila, 2005).
Rendahnya produktivitas usahatani tebu Indonesia disebabkan rendahnya
produktivitas ton tebu per hektar maupun rendemen yang dihasilkan oleh tebu.
Rendahnya produktivitas berkaitan dengan teknik budidaya yang belum optimal
dan belum terpadunya jadwal tanam dan tebang/giling antara petani dan PG.

Kurang terpadunya jadwal tanam dan tebang mempunyai pengaruh yang


signifikan terhadap produktivitas, khususnya yang berkaitan dengan rendemen.
Rendemen yang terus menurun juga berkaitan dengan rendahnya efisiensi di
tingkat pabrik.
Angka rata-rata rendemen selama sepuluh tahun tersebut masih jauh di
bawah target rendemen rata-rata Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas
Gula Nasional sebesar 8,79 persen2. Adanya inefisiensi di pabrik gula ini
disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi pabrik gula, terutama yang ada
di Jawa, umumnya sudah tua sehingga tidak dapat mencapai efisiensi yang
maksimal. Berbagai upaya untuk melakukan pembaharuan beberapa peralatan
masih belum mampu menghilangkan inefisiensi secara maksimal, baik karena
keterbatasan dana maupun teknologi (PTPN XI, 2000). Faktor kedua adalah
keterbatasan ketersediaan jumlah bahan baku sehingga pabrik beroperasi dibawah
kapasitas optimal (Susila, 2005).
Dalam mencukupi kebutuhan gula dalam negeri gula dalam negeri,
pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tataniaga impor gula yang mulai
diberlakukan sejak tahun 1967. Dari tahun 1993 hingga tahun 2004 impor gula
Indonesia terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, untuk mengurangi
ketergantungan

pada

impor

pada

pertengahan

tahun 2004

pemerintah

mengeluarkan kebijakan melalui SK Memperindag No. 527/2004 tentang


Ketentuan Impor Gula. Dalam SK tersebut disebutkan bahwa institusi yang
diizinkan untuk mengimpor gula (IT) adalah PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PT.

RR Ariyani. 2006. Rendemen Gula PTPN XI Rendah. www.tempointeraktif.com diakses 10


April 2008.

RNI, dan PT. PPI3. Selain itu, pada tahun 2007 pemerintah telah menerbitkan
persetujuan impor gula kristal putih sebesar 250.000 ton kepada para importir
terdaftar (IT) gula dan PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untuk
memenuhi kebutuhan dan mengantisipasi terjadinya defisit stok gula nasional4.
Impor gula Indonesia mengalami fluktuatif dari tahun 2003 sampai tahun 2007
(Tabel 2). Pada tahun 2003, Indonesia mengimpor gula sebesar 647 ribu ton.
Sedangkan tahun 2007, impor Indonesia mencapai 448 ribu ton.
Tabel 2 Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007

Impor Gula (ton)


647.908
256.644
453.160
216.490
448.681

Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007

PTPN XI merupakan salah satu institusi yang berperan dalam produksi


gula nasional. Pada tahun 2008, produksi gula oleh PTPN XI diperkirakan
mencapai 458 ribu ton. Angka ini membuat PTPN XI menjadi perusahaan terbesar
kedua yang memberikan kontribusi terhadap stok gula nasional setelah PTPN X
(526 ribu ton) (Asosiasi Gula Indonesia, 2007). PTPN XI mengelola enam belas
pabrik gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Salah satu PG yang
dikelola oleh PTPN XI adalah PG Pagottan yang berada di Kabupaten Madiun.
Pada tahun 2006 PG Pagottan memiliki kapasitas giling yang cukup besar yaitu
2,26 ribu ton per hari. Selain itu, dilihat dari pertumbuhan rendemen dari tahun
1997-2007, rata-rata pertumbuhan rendemen PG Pagottan sebesar 4,93 persen per
tahun. Pada tahun 2007 rendemen PG Pagottan sebesar 7,96 persen dan
3

Mansur, Natsir. 2007. Rancunya Distribusi Gula Nasional. www.bisnisindonesia.comdiakses 13


Maret 2008.
4
Departemen Pertanian. 2007. Impor Gula Diharapkan Tidak Mendistorsi Pasar.
www2.kompas.com diakses 13 Maret 2008.

merupakan rendemen terbesar dibandingkan dengan pabrik gula lainnya di bawah


PTPN XI. Meskipun masih berada di bawah target rendemen pemerintah, namun
PG Pagottan memiliki potensi untuk mengoptimalkan nilai rendemennya.
Tahun 2009 pemerintah menargetkan Indonesia mencapai swasembada
gula nasional dan tahun 2010 diharapkan Indonesia sudah memasuki era
liberalisasi perdagangan gula. Oleh karena itu, setiap pabrik gula termasuk PG
Pagottan diwajibkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensinya. Hal ini
bertujuan untuk memenuhi target yang diharapkan, mencapai tujuan perusahaan
serta mampu bersaing dengan produsen-produsen gula negara lain.

1.2

Perumusan Masalah
PG Pagottan merupakan satu dari 16 pabrik gula yang dikelola oleh PTPN

XI (Persero), Surabaya. PG Pagottan sudah mulai beroperasi pada tahun 1905.


Semakin tingginya konsumsi masyarakat terhadap gula merupakan peluang bisnis
sekaligus tantangan bagi PG Pagottan.
Dengan tingginya permintaan dari masyarakat terhadap gula mendorong
peningkatan jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama, dengan
kata lain tingkat persaingan menjadi lebih tinggi. PG Pagottan harus mampu
bersaing dengan perusahan tersebut untuk tetap dapat melangsungkan proses
produksinya. Hasil realisasi produksi PG Pagottan periode tahun 1997 sampai
tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 3.
Dalam Tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2000 luas areal tebu mengalami
penurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 19,25 persen dari tahun
sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas areal tebu sendiri sebesar
4,41 persen dan penurunan luas areal TR sebesar 35,06 persen. Penurunan luas

areal tebu ini tidak mempengaruhi produksi gula yang dihasilkan. Jumlah
produksi gula justru mengalami peningkatan sebesar 1,29 persen. Meningkatnya
produksi gula ini disebabkan oleh adanya PG sesaudara yang ikut menggilingkan
tebunya di PG Pagottan.
Tabel 3 Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1998-2007
Produksi (ton)
/ha
Jumlah
1998
3.200,348
81,4
260.440,6
1999
3.218,593
56,8
182.904,1
2000
2.598,885
75,8
197.019,9
2001
3.559,704
69,1
246.069,1
2002
3.894,294
77,8
303.053,2
2003
3.422,461
67,1
229.782,0
2004
3.277,460
77,2
252.887,7
2005
4.221,772
81,3
343.367,8
2006
4.567,937
76,6
349.845,3
2007
5.708,739
71,8
409.796,5
Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008
Tahun

Luas (ha)

Rendemen %
5,49
7,68
7,22
7,04
6,88
6,84
7,58
7,68
8,07
7,96

Hablur (ton)
/ha
Jumlah
4,50
14.285,40
4,40
14.038,00
5,50
14.219,50
4,90
17.319,60
5,40
20.836,70
4,59
15.706,60
5,85
19.160,98
6,25
26.380,08
6,18
28.217,20
5,71
32.599,30

Tahun 2003 produksi gula mulai mengalami kecenderungan yang


meningkat. Pada tahun 2007 produksi gula mencapai 32.599,30 ton namun tingkat
rendemen menurun dari 8,07 persen pada tahun 2006 menjadi 7,96 persen pada
tahun 2007. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah sebesar 8,79 persen.
Hal ini memperlihatkan bahwa terjadi ketidakefisienan dalam produksi gula di PG
Pagottan. Proses produksi yang efisien dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi
yang digunakan. Faktor-faktor produksi yang biasa digunakan dalam proses
produksi antara lain modal, tenaga kerja, bahan baku, dan lain-lain. Produksi yang
dilakukan akan menjadi efisien jika faktor-faktor produksi tersebut dimanfaatkan
secara optimal.
PG Pagottan telah melakukan berbagai upaya yang sangat erat
hubungannya dengan pemanfaatan faktor-faktor produksinya untuk meningkatkan
produksi gula. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan penggantian varietas
unggul, intensifikasi budidaya dan perbaikan manajemen tebang-angkut, serta

penggunaan zat pemacu kemasakan (ZPK)5. Jika PG Pagottan mampu


memanfaatkan faktor-faktor produksinya secara optimal maka diharapkan
perusahaan mampu berproduksi secara efisien dan mempunyai daya saing tinggi.
Daya saing tersebut meliputi daya saing untuk mendapatkan bahan baku yang
berkualitas baik, mendapatkan sumberdaya manusia, penggunaan teknologi, dan
persaingan untuk mendapatkan konsumen. Oleh karena itu perlu ditelaah
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula serta efisiensinya agar
target pemerintah dalam swasembada gula terwujud, tujuan perusahaan tercapai
dan mampu bersaing dengan produsen lain.
Berdasarkan uraian di atas maka secara spesifik permasalahan yang akan
dianalisis dalam penelitian ini adalah :
1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi gula di PG. Pagottan?
2. Bagaimana tingkat efisiensi produksi gula di PG. Pagottan?

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula.


2. Menganalisis tingkat efisiensi produksi gula.

1.4

Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:

PTPN XI. 2006. 16 Pabrik Gula PTPN XI Siap Giling. www.kapanlagi.com diakses 13 Maret
2008.

1. Perusahaan, sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan dalam


pengambilan keputusan dalam usahanya untuk dapat meningkatkan produksi
dan efisiensinya.
2. Pemerintah, sebagai bahan masukan dan sumber informasi agar lebih
memperhatikan sektor pertanian, terutama industri gula sehingga pemerintah
dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan efisiensi
produksi sehingga produksi gula nasional meningkat dan impor dapat
dikurangi.
3. Penulis, penelitian ini berguna dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan
dan menambah pengetahuan penulis mengenai industri gula di Indonesia serta
dapat melatih kemampuan penulis dalam menganalisis setiap masalah sesuai
dengan disiplin ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi. Pembaca,
penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan bahan perbandingan
untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.

1.5

Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi hanya dalam pabrik dan

produksi gula tanpa membahas dan menganalisis hasil sampingan produksi gula.
Penelitian ini hanya berada pada sekup mikro, yaitu pabrik gula. Data yang
digunakan dalam penelitian ini berupa data perusahaan terutama produksi dari
masa giling tahun 2001-2007 per lima belas hari (per periode) dan data-data biaya
dari tahun 2001-2007. Penelitian ini juga hanya menganalisis efisiensi produksi
secara alokatif. Pengaruh yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah
tidak dibahas secara khusus dalam penelitian ini.

II

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Umum Komoditi Tebu


Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan tanaman perkebunan

semusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zat
gula (Supriyadi, 1992). Batang tanaman tebu beruas-ruas, dari bagian pangkal
sampai pertengahan ruasnya panjang-panjang, sedangkan di bagian pucuk ruasnya
pendek. Tinggi batang antara 2-5 meter, tergantung baik buruknya pertumbuhan,
jenis tebu maupun keadaan iklim. Pada pucuk batang tebu terdapat titik tumbuh
yang berperan penting dalam proses pertumbuhan. Akar tanaman tebu adalah akar
serabut, hal ini sebagai salah satu ciri bahwa tanaman ini termasuk ke dalam kelas
monocotyledone. Akar tebu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu akar stek dan akar
tunas. Akar stek disebut juga akar bibit yang masa hidupnya tidak lama, akar ini
tumbuh pada cincin akar dari stek batang. Sedangkan akar tunas merupakan
pengganti akar bibit. Pertumbuhan akar ada yang tegak lurus ke bawah dan ada
yang mendatar dekat permukaan tanah.
Daun tanaman tebu adalah daun tidak lengkap karena terdiri dari helai
daun dan pelepah daun saja. Kedudukan daun berpangkal pada buku, dengan
panjang helaian daun berkisar 1-2 meter sedangkan lebarnya 4-7 cm. Ujung daun
meruncing, tepinya seperti gigi, dan mengandung kersik yang tajam. Bunga tebu
merupakan malai yang berbentuk piramida, panjangnya antara 70-90 cm. Bunga
tebu biasanya muncul pada bulan April-Mei. Bunganya terdiri dari tenda bunga,
yaitu tiga helai daun kelopak dan satu helai daun tajuk bunga. Bunga tebu
mempunyai satu bakal buah dan tiga benang sari,-kepala putiknya- berbentuk
bulu-bulu.

10

Buah tanaman tebu termasuk buah padi-padian, bijinya hanya satu


sedangkan besar lembaga hanya sepertiga dari panjang biji. Daur kehidupan
tanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fase
pemanjangan batang, fase kemasakan, dan fase kematian. Fase perkecambahan
dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur satu minggu
dan diakhiri pada fase kecambah pada umur lima minggu. Fase pertunasan mulai
dari umur lima minggu sampai umur 3,5 bulan, lalu dilanjutkan dengan fase
pemanjangan batang, yaitu pada umur 3,5 bulan sampai sembilan bulan. Fase
kemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun
dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini kadar gula di dalam batang tebu
mulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus, dan
setelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah
yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Proses terbentuknya gula
di dalam batang tebu dapat dilihat pada Gambar 1.
kadar gula
10

Agustus

Gambar 1 Proses Terbentuknya Gula di Dalam Batang Tebu


Sumber : Ahmad Supriyadi, 1992

Pada Gambar 1 terlihat jelas bahwa rendemen berada pada masa optimal
sekitar bulan Agustus, setelah itu berangsur-angsur turun sampai titik akhir pada
fase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebu
berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas.

11

Ruas di bawah (lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkan
dengan ruas di atasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagian
pucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai masak optimal apabila
kadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagian
pucuk.
Menurut Mubyarto dan Daryanti (1991), tanaman tebu merupakan
tanaman yang sangat peka terhadap perubahan unsur-unsur iklim. Oleh karena itu,
waktu tanam dan panen harus diperhatikan agar tebu dapat membentuk gula
dengan optimal. Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa
pertumbuhan vegetatifnya dan membutuhkan sedikit air pada saat pertumbuhan
generatifnya.
Terdapat dua cara penanaman tebu, yaitu di lahan sawah dengan sistem
Reynoso (cara pengolahan tanah sawah untuk tanaman tebu) dan di lahan tegalan
dengan sistem tebu lahan kering. Perbedaan antara dua cara ini terletak pada
tersedia tidaknya fasilitas pengairan dan lamanya penggenangan air di musim
hujan. Lahan sawah merupakan lahan pertanian yang memiliki pengairan dan
mengalami genangan air lebih dari 30 hari secara terus menerus (memiliki
pengairan yang cukup). Lahan sawah hanya terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan
lahan kering tidak memiliki pengairan dan kemungkinan mengalami genangan air
kurang dari 30 hari berturut-turut, dan lahan kering ini hanya menggantungkan air
pada curah hujan (Adisasmito, 1989 dalam Nurrofiq, 2005).
Mubyarto dan Daryanti (1991), menyatakan bahwa perbedaan mendasar
kedua jenis lahan tersebut adalah kondisi tanah yang membawa konsekuensi pada
teknis budidaya yang diharapkan dapat memberi kondisi yang cocok bagi

12

pertumbuhan tanaman tebu. Selanjutnya dikatakan bahwa budidaya tebu di lahan


sawah bercirikan penggunaan tenaga kerja dan drainase yang intensif disertai
pemberian air yang cukup. Sedangkan budidaya tebu di lahan kering dicirikan
pada tidak adanya pengairan, pendayagunaan air dalam tanah dan air hujan secara
optimal, pengolahan tanah sebagian atau seluruhnya secara mekanis yang
ditujukan pada kelestarian dan peningkatan produktivitas lahan. Selain itu,
perbedaan antara dua cara ini terletak pada pengolahan permukaan tanah. Pada
sistem Reynoso tidak semua permukaan tanah diolah, namun hanya dibuat saluran
dan guludan saja. Sedangkan di lahan tegalan dilakukan dengan pembajakan atau
dengan traktor.
Teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan varietas unggul yang
paling sesuai dengan kondisi lahannya dapat menghasilkan tebu dengan tingkat
rendemen yang tinggi. Selain itu perlu diperhatikan kegiatan pasca panennya
karena kerusakan tebu pada saat penebangan maupun pengangkutan dan
banyaknya kotoran pada tebu dapat menyebabkan penurunan tingkat rendemen.
Tebu yang berkualitas adalah tebu yang memenuhi kriteria MBS (manis, bersih,
segar). Manis berarti tebu sudah cukup tua atau masak dengan Faktor Kemasakan
25-30 persen, Koefisien Daya Tahan dan Koefisien Peningkatan sebesar 90-100
persen. Bersih berarti tebu terbebas dari unsur non tebu (kotoran) maksimal lima
persen. Sedangkan kriteria segar secara teoritis adalah saat tebu ditebang dan
digiling maksimal 36 jam, kriteria ini yang paling sulit untuk dideteksi.
2.2

Pengusahaan Tebu
Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1930 Indonesia pernah menjadi

negara pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba. Keberhasilan tersebut

13

salah

satunya

bersumber

pada

kemudahan

pabrik-pabrik

gula

dalalm

memanfaatkan lahan yang subur untuk pertanaman tebu dengan sistem sewa
paksa dari petani. Kemudahan itu dijamin dalam UU Agraria 1870 (Agrarische
Wet 1870) dan UU Sewa Tanah (Grondhuur Ordonantie 1918). Pada saat itu
Indonesia mampu memproduksi gula sebesar 3 juta ton dengan luas lahan sekitar
200.000 hektar. Setelah era kemerdekaan banyak pabrik-pabrik gula yang
dinasionalisasi. Walaupun pemerintah telah mengambil alih pabrik-pabrik gula
tersebut tetapi sistem sewa tetap digunakan, yaitu pabrik gula menyewa lahan
milik petani lalu mengusahakannya sendiri. Dengan sistem sewa tersebut petani
hanya memperoleh pendapatan dari sewanya dan petani tidak memperoleh
kesempatan untuk meningkatkan pendapatannya.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka pada tahun 1975 dikeluarkan Inpres No.
9 Tahun 1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Pokok-pokok pikiran
yang terkandung di dalamnya dapat diringkas sebagai berikut:
1) Mengganti sistem sewa yang biasa dijalankan oleh pabrik gula dengan sistem
tebu rakyat. Petani melakukan usaha budidaya di lahannya sendiri dengan
menerapkan teknologi yang telah dianjurkan. Dalam pengelolaan usahatani
tebu dilakukan dalam satuan kelompok hamparan. Sedangkan pabrik gula
berperan sebagai perusahaan pengelola, yaitu bertanggung jawab secara
operasional dan sebagai pimpinan kerja pelaksana budidaya tanaman tebu di
wilayah kerjanya, serta menyusun perencanaan areal, melaksanakan
bimbingan teknis, menyediakan dan menyalurkan bibit.
2) Melaksanakan program intensifikasi tebu dengan sistem BIMAS (Bimbingan
Masyarakat).

14

3) Mendudukkan pabrik gula sebagai penggiling tebu yang dihasilkan oleh


rakyat hingga menjadi gula pasir dengan sistem bagi hasil.
Program TRI ini sebenarnya telah berhasil meningkatkan luas areal tebu,
yaitu mencapai 428.000 hektar pada tahun 1994. Namun perluasan luas areal
tanaman tebu tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas karena sebagian
besar perluasan areal tebu dilakukan di lahan kering tanpa irigasi. Kemudian
kebijakan ini dihapuskan pada tahun 1997 mengikuti persyaratan IMF
(International Monetary Fund) sehingga menurunkan luas areal produksi yang
telah ada. Akibatnya produksi tebu yang dihasilkan juga rendah dan menurun.
Pada tahun 2002, Departemen Pertanian menerapkan Program Akselerasi
Peningkatan Produktivitas Gula Nasional, yang meliputi kegiatan rehabilitasi atau
peremajaan perkebunan tebu

(bongkar

ratoon).

Program

ini bertujuan

memperbaiki komposisi tanaman dan varietas sehingga produktivitasnya


mendekati produktivitas potensial. Selain itu, program ini diperkirakan dapat
memberikan peningkatan hasil pada tahun-tahun mendatang. Hal ini disebabkan
oleh adanya pergantian ratoon seluas 7000 hektar, peningkatan produktivitas
lahan dengan adanya penggunaan bibit berkualitas, dan peningkatan modal
usahatani tebu melalui Kredit Ketahanan Pangan (KKP), serta pengendalian harga
melalui implementasi kebijakan tata niaga pergulaan nasional.
Selain itu bongkar ratoon ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat rendemen
tebu nasional dari 7,6 persen pada tahun 2007 menjadi delapan persen di tahun
2008. Sehingga pada tahun 2008 ditargetkan akan terjadi peningkatan produksi
gula nasional menjadi sebesar 2,6 juta 2,7 juta ton6.

www.els.bappenas.go.id Deptan Optimis Tak Perlu Impor Gula diakses 7 Februari 2008.

15

2.3

Pengusahaan Pabrik Gula


Sejak tahun 1975 pabrik gula telah dinyatakan secara resmi sebagai usaha

pemroses atau pengolah tebu menjadi gula pasir. Pabrik gula juga berperan
sebagai pembimbing petani dalam budidaya tebu. Kerja sama tersebut dilakukan
untuk memperoleh jumlah dan kualitas tebu sesuai harapan. Sebagai imbalan atas
pemrosesan tebu menjadi gula pasir, pihak pabrik gula menerima ongkos giling
yang dinyatakan dalam persen dari keseluruhan hasil giling. Sistem pembagian
hasil ini ditetapkan oleh pemerintah. Prinsip dasar pembagian adalah semakin
tinggi rendemen tebu yang digilingkan semakin tinggi pula persentase bagian
yang diterima petani. Dengan demikian, semakin banyak hasil gula semakin
rendah ongkos gilingnya. Walaupun telah beberapa kali dilakukan peninjauan,
ketentuan bagi hasil ini tidak banyak berubah. Ketentuan bagi hasil yang
tercantum dalam SK Mentan No.03/SK/Mentan/BIMAS/VI/187 menyatakan
bahwa:
1) Petani tebu akan mendapatkan 62 persen gula yang dihasilkan dari tebu yang
nilai rendemennya sampai dengan delapan persen, bila rendemen melampaui
delapan persen maka petani mendapatkan tambahan hasil.
2) Petani tebu akan mendapatkan bagian tetes sebanyak 4,5 kilogram untuk
setiap kuintal tebu yang digilingkan.
Berdasarkan kepemilikannya sebagian besar pabrik gula di Indonesia
adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sisanya adalah BUMS (Badan
Usaha Milik Swasta). Pada tahun 1930, Indonesia memiliki 179 pabrik gula (PG).
Jumlah PG semakin menurun karena secara ekonomis tidak menguntungkan.
Tahun 2006 tercatat sebanyak 50 unit PG milik BUMN (diusahakan oleh PTPN

16

dan RNI) dan delapan PG milik swasta 7. Pada umumnya pabrik-pabrik yang ada
beroperasi dibawah kapasitas giling. Sebagian besar PG mempunyai kapasitas
giling yang kecil (kurang dari 3.000 TCD) karena mesin yang sudah tua serta
tidak mendapat perawatan yang memadai yang menyebabkan biaya produksi per
kilogram gula tinggi.

2.4

Jenis Gula
Menurut Moerdokusumo (1993) sesuai dengan negara tujuan, secara

umum dikenal tiga jenis gula utama, yaitu gula mentah, gula merah (tidak
termasuk gula jawa, aren, dsb), dan gula putih (termasuk gula rafinade, SHS).
1) Gula mentah
Yang dimaksud dengan gula mentah adalah sejenis gula merah yang
berbutir tidak terlalu halus, terutama diperuntukkan sebagai bahan baku pabrik
gula rafinade. Gula mentah ini meliputi HS, NA, dan Muscovado. Jenis
muscovado sudah sejak lama tidak lagi dipakai sebagai bahan baku pabrik
rafinade. Negara yang menggunakan gula mentah dari Indonesia untuk bahan
rafinadenya adalah Hongkong, Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea, China,
India, dan beberapa negara di Eropa.
Sebagai gula mentah untuk bahan rafinade, HS dan NA terutama harus
memenuhi persyaratan ukuran butiran kristal gula, kadar air dan polarisasi.
Pasaran gula mentah ini sebagian besar telah hilang karena Indonesia tidak
mampu mengekspor gulanya. Hal ini diakibatkan produksi yang sangat merosot
bahkan untuk konsumsi dalam negeri pun masih kurang. Dalam rangka
memantapkan kebijakan pangan, timbul gagasan untuk tidak mengimpor gula
7

www.bei.co.id/images/_res/opini. Mengembalikan Kejayaan Si Manis diakses 10 April 2008.

17

putih melainkan mengimpor gula mentah (gula merah) untuk kemudian


diputihkan di pabrik gula tertentu di luar tahun gilingnya sendiri.
2) Gula merah
Ada beberapa jenis gula merah, antara lain:
a) HS atau gula utama adalah jenis gula dengan polarisasi minimal 98V.
Kebanyakan HS yang dijual mempunyai polarisasi antara 99,4V sampai
99,5V yang dapat lebih tinggi jika bahannya diambil dari SHS yang diberi
campuran karamel. Berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu untuk konsumsi
langsung atau bahan rafinade, HS masih dibagi lagi menjadi beberapa
golongan menurut nomor tipe warna standar Belanda. Daerah pasaran HS
untuk konsumsi langsung adalah Indonesia dan Malaysia.
b) NA (New Assortiment), yaitu gula dengan polarisasi 96,5V 97,25V dan
kadar bahan gula antara 2,5 sampai tiga persen. Faktor tahan simpan tidak
boleh melebihi 0,27. Jenis NA tidak digolongkan khusus menurut tipe warna.
3) Muscovado
Muscovado digolongkan dalam Java Assortiment dan termasuk gula merah
yang memiliki polarisasi minimal 96,5V. Sebagai bahan mentah gula rafinade,
muscovado sudah jarang digunakan.
Meskipun polarisasinya sama dengan NA, pada dasarnya kedua jenis gula tersebut
berlainan terutama sifat fisik dan kimianya. Muscovado dibuat dengan cara
mencampurkan HS dengan karamel untuk memperendah warna. Muscovado lebih
mudah dikeringkan dan lebih tahan lama daripada NA.

18

4) Gula tetes MS, gula sirup SS, dan gula sirup superior SSS
Meskipun warnanya merah, gula tetes tidak termasuk jenis gula kristal
merah tetapi jenis gula sirup. Gula sirup (SS) dan gula sirup superior (SSS)
dikenal sebagai soft sugar. Jenis gula ini tidak banyak diproduksi. SSS adalah
jenis gula berbutir halus merata yang telah dicampur dengan larutan gula invest.
5) Gula putih
Gula putih yang dimaksud adalah SHS dan gula rafinade. Untuk SHS
tidak ada pembagian atas dasar spesifikasi butir yang ketat.
6) Gula pasir dan bahan pemanis non gula pasir
Menurut Sawit et al. (1999) pemanis digolongkan menjadi dua, yaitu gula
dan non gula. Kelompok gula meliputi gula kristal, gula bukan kristal, dan gula
cair. Golongan non gula terdiri dari pemanis yang dibuat dari bahan tanaman
(misalnya dari Stevia) dan pemanis sintesis seperti saccharine (sodium).

2.5

Penelitian Terdahulu
Meiditha (2003), menganalisis mengenai efisiensi produksi gula pasir di

PG Kebon Agung. Dalam pendugaan modelnya produksi gula dipengaruhi oleh


tujuh faktor produksi dan satu peubah dummy. Faktor produksi tersebut terdiri dari
bahan baku tebu, rendemen tebu, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja
musiman, residu dan jumlah bahan pembantu. Sedangkan variabel dummy
ditambahkan untuk mengetahui pengaruh dari kebijakan tataniaga gula dan
tataniaga impor terhadap produksi gula. Setelah dilakukan analisis regresi
dihasilkan lima variabel yang berpengaruh nyata, yaitu jumlah tebu, rendemen,
jam mesin, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman serta variabel dummy.

19

Analisis efisiensi yang dilakukan dengan membandingkan antara NPMxi dengan


BKMxi hanya dapat menilai tiga faktor produksi, yaitu tebu, tenaga kerja tetap,
dan tenaga kerja musiman yang ketiganya dinyatakan belum efisien secara
ekonomis. Sedangkan dua faktor produksi lainnya, yaitu rendemen dan jam mesin
tidak dapat dilihat efisiensinya karena tidak dapat diukur tingkat harganya.
Hidayat (2003), menganalisis kinerja produksi dan keuangan di PT PG
Rajawali II Unit PG Subang. Analisis yang dilakukan antara lain: Pertama,
analisis rasio untuk mengukur rentabilitas, aktivitas, dan leverage. Kedua, analisis
titik impas dan analisis profitabilitas untuk mengetahui hubungan biaya produksi
terhadap titik impas dan profitabilitas. Ketiga, analisis Du Pont untuk melakukan
identifikasi hubungan antara struktur biaya dengan kinerja keuangan. Hasil
analisis digunakan untuk merumuskan alternatif-alternatif perbaikan kondisi
perusahaan. Kinerja keuangan PG Subang cenderung naik pada tahun 1999-2001
dan menurun pada tahun 2002 untuk rentabilitas dan likuiditas.
Nurrofiq (2005), menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi gula di PG Djatiroto. Dalam analisisnya terdapat enam faktor produksi
yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlah
tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan
lama giling. Dari keenam peubah tersebut hanya lima faktor produksi yang
berpengaruh nyata terhadap model produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlah
tebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, dan lama giling.
Pengolahan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model regresi yang
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi gula di PG Djatiroto serta rasio

20

NPM dan BKM untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Untuk perumusan
model produksi gula dipergunakan model fungsi produksi linier berganda.
Wahyuni (2007), di dalam penelitiannya terdapat enam faktor produksi
yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Madukismo, Yogyakarta.
Faktor-faktor produksi tersebut antara lain: tenaga kerja tetap, tenaga kerja tidak
tetap, jumlah tebu, bahan pembantu, lama giling, dan jam mesin. Namun setelah
dianalisis menggunakan model regresi, ternyata hanya ada lima faktor produksi
yang berpengaruh nyata terhadap produksi gula, yaitu tenaga kerja tetap, tenaga
kerja tidak tetap, jumlah tebu, lama giling, dan jam mesin. Kemudian faktorfaktor tersebut diukur tingkat efisiensinya dengan melihat perbandingan antara
nilai NPM dan BKM. Dalam penelitian ini, faktor-faktor produksi yang diukur
tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja
musiman karena ketiga faktor produksi tersebut dapat diukur tingkat harganya.
Dari nilai NPM dan BKM dari setiap faktor produksi dapat dijelaskan bahwa
pengalokasian sumberdaya dari ketiga faktor produksi belum optimal. Untuk
perumusan model produksi gula menggunakan model fungsi produksi linier
berganda.
Dari penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan faktor-faktor yang
diduga berpengaruh terhadap produksi gula dapat dilihat dari berbagai
karakteristik, yaitu usahatani, karakteristik dalam pabrik, keadaan pasar, serta
karakteristik kebijakan. Dalam segi usahatani faktor-faktor yang biasa diduga
berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, dan tingkat rendemen.
Dalam pabrik faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,
yaitu jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, residu, jumlah bahan

21

pembantu, dan lama giling. Sedangkan karakteristik di pasar berupa harga gula di
pasaran (domestik dan impor) serta kebijakan pergulaan yang dikeluarkan
pemerintah. Untuk penelitian yang dilakukan di pabrik gula Pagottan faktor-faktor
yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, rendemen,
tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, jam mesin, serta lama
giling. Pendugaan ini berasal dari penelitian-penelitian terdahulu dan pengamatan
yang dilakukan di lapang. Dapat disimpulkan metode yang digunakan untuk
melihat faktor-faktor yang berpengaruh, yaitu metode OLS (Ordinary Least
Square). Model fungsi produksi yang biasa digunakan yaitu model fungsi CobbDouglas dan model fungsi Linier.
Dalam penelitian ini digunakan metode OLS (Ordinary Least Square)
dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Efisiensi merupakan hal penting yang
perlu diperhatikan dalam peningkatan produksi gula nasional. Efisiensi dapat
bermacam-macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi
ekonomis. Efisiensi teknis dapat diukur dengan melihat perbandingan antara
persentase kapasitas giling dengan kapasitas terpasangnya, atau dapat juga dengan
mengukur antara rasio bahan baku dan gula yang dihasilkannya. Efisiensi alokatif
dapat diukur dengan membandingkan antara NPM dan BKM. Sedangkan efisiensi
ekonomis dapat dilihat dari persentase harga pokok dengan persentase harga
provenue, nilai titik impas serta nilai kemampuan laba. Dalam penelitian ini akan
dicari tingkat efisien alokatifnya. Dengan efisiensi alokatif ini maka diketahui
efisiensi dari faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,
dimana efisiensi alokatif menilai pengorbanan yang dibutuhkan untuk menambah
suatu input terhadap hasil.

22

III

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1

Teori Dan Fungsi Produksi


Produksi merupakan kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Untuk

memproduksi barang dan jasa tersebut digunakan sumberdaya yang disebut


sebagai faktor produksi (Lipsey et al, 1995). Faktor produksi seperti lahan, pupuk,
tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya
produksi yang diperoleh. Keputusan kombinasi penggunaan sumberdaya untuk
mencapai target produksi ditentukan oleh kebijaksanaan produsen. Untuk
menjelaskan kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk menghasilkan
output, para ekonom menggunakan sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi.
Pappas (1995) menambahkan fungsi produksi adalah sebuah pernyataan deskriptif
yang mengaitkan masukan dengan keluaran, yang memperlihatkan keluaran
maksimum yang dapat diproduksi dengan jumlah masukan tertentu. Umumnya
untuk menghasilkan output diperlukan lebih dari satu input. Secara matematis
fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut:
Y = f(X1, X2, X3,....,Xn)

(1)

Dimana:
Y

: output

X1, X2, X3,....,Xn

: input-input yang digunakan dalam proses produksi

Dengan fungsi produksi tersebut di atas, maka hubungan Y dan X dapat


diketahui dan sekaligus hubungan X1, X2,, Xn dan X lainnya juga dapat

23

diketahui. Berbagai macam fungsi produksi telah dikenal dan dipergunakan oleh
berbagai peneliti, tetapi yang umum dan sering dipakai (Soekartawi, 1990), yaitu:
a. Fungsi Produksi Linier
Secara matematis fungsi produksi linier dapat ditulis sebagai berikut:
Y = f (X1, X2, X3,....,Xn)
Dimana:
Y : variabel yang dijelaskan (dependent variable)
X : variabel yang menjelaskan (independent variable)

Fungsi produksi linier dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi linier
sederhana dan linier berganda. Perbedaan ini terletak pada jumlah variabel X yang
dipakai pada model. Fungsi produksi linier sederhana biasa digunakan untuk
menjelaskan hubungan dua variabel. Model ini sering digunakan karena
analisisnya

dan

hasilnya

mudah

dimengerti

secara

cepat.

Sedangkan

kelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang digunakan dalam model.


Karena hanya satu variabel yang dimasukkan maka peneliti akan kehilangan
informasi karena ada variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = a + Bx + e
Dimana:
a : intersep (perpotongan)
b : koefisien regresi
e : error term
Untuk mengatasi masalah di atas maka peneliti biasanya menggunakan
fungsi produksi linier berganda. Berbeda dengan fungsi produksi linier sederhana,

24

fungsi produksi linier berganda menggunakan jumlah variabel lebih dari satu.
Secara matematis hal ini dapat ditulis berikut:
Y = f (X1, X2, X3,....,Xn); atau
Y = a + b1X1 + b2X2 + . + biXi + + b nXn + e
Dimana a, b, X,Y, dan e telah dijelaskan sebelumnya.
Estimasi garis regresi linier berganda ini memerlukan bantuan asumsi dan
model estimasi tertentu sehingga diperoleh garis estimasi atau garis penduga yang
baik.
b. Fungsi Produksi Kuadatrik
Rumus matematik dari fungsi produksi kuadratik atau juga disebut dengan
fungsi produksi polynomial kuadratik biasanya dituliskan sebagai berikut:
Y = a + bX + cX2 + e
Dimana:
Y

: variabel yang dijelaskan

: variabel yang menjelaskan

a,b,c

: parameter yang diduga

: error term

Berbeda dengan garis linier (sederhana dan berganda) yang tidak memiliki
nilai maksimum, maka fungsi kuadratik justru mempunyai nilai maksimum.
Dalam proses produksi pertanian, dimana berlaku hukum kenaikan hasil yang
semakin berkurang, maka fungsi kuadratik dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = a + bX cX2 + e
c. Fungsi Produksi Eksponensial
Secara umum fungsi produksi eksponensial dapat dituliskan sebagai
berikut:

25

Y = aXb (biasanya disebut fungsi Cobb-Douglas)


Menurut Soekartawi (2003) fungsi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau
persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu
disebut dengan variable yang dijelaskan (Y), dan yang lain disebut variabel yang
menjelaskan, (X). Penyelesaian hubungan antara Y dan X adalah biasanya dengan
cara regresi dimana variasi dari Y akan dipengaruhi oleh variasi dari X. Dengan
demikian kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsi
Cobb-Douglas. Karena di dalam fungsi produksi eksponensial ini ada bilangan
berpangkat maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma.
d. Fungsi Produksi CES
Fungsi produksi CES untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Arrow,
dkk (1960). Fungsi ini dipakai jika berlaku asumsi atau situasi constant return to
scale (CRS). Rumus matematik dari CES adalah sebagai berikut:
Y = [K-P + (1 - )L-P1-1/P]
Dimana:
Y : output
: parameter efisiensi ( > 0)
: distribusi parameter (0 < < 0)
K : kapital
L : input tenaga kerja
p : parameter substitusi (p > -1)

Oleh Fletcher (1968), fungsi produksi CES tersebut dimodifikasi dan juga
dipakai oleh Soskie (1968). Selanjutnya model CES yang telah di modifikasi ini
dilaporkan oleh Lau dan Fletcher (1969) dengan VES (variable elasticity of
substitution). Secara matematis fungsi VES dapat ditulis sebagai berikut:

26

= [K-p + (1 - ) (KL)-C(1+p)L-p]-1/p
Dimana: dan C adalah konstan.
Persamaan VES ini mempunyai cirri antara lain mempunyai produk
marjinal yang positif dan menurun ke bawah dan homogenitas. Persamaan VES
ini mempunyai ciri antara lain mempunyai produk marjinal yang positif dan
menurun ke bawah dan homogenitas derajat satu. Sedangkan kelemahan dari
fungsi VES ini adalah jumlah variabel yang dipakai terbatas, yaitu hanya dua
variabel. Bila digunakan lebih dari dua variabel maka penyelesaiannya akan
menjadi relatif lebih sulit.
e. Fungsi Produksi Transcendental
Rumus umum dari fungsi produksi transcendental adalah sebagai berikut:
Y=A
Dimana:

1 1

2 2

+u

Y : output
X : input
a, b, c : parameter yang akan diduga
e : bilangan konstan
u : galat (disturbance term)

Dalam kondisi-kondisi tertentu fungsi produksi transcendental ini akan


menjadi

fungsi

Cobb-Douglas.

Keunggulan

fungsi

ini

adalah

dapat

menggambarkan kondisi dimana produk marjinal dapat menaik, menurun, dan


menurun dalam negatif (negative marginal products). Sebaliknya kelemahan
dari fungsi ini adalah bila salah satu dari nilai X adalah nol maka fungsi tersebut
tidak dapat diselesaikan karena fungsi Y menjadi nol.

27

f. Fungsi Produksi Translog


Fungsi produksi translog dapat dituliskan sebagai berikut:
log Y = log A + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 (log X1 log X2) + u
Dimana:
Y : output
X : input
b1, b2, b3 : parameter yang diduga
A : parameter yang juga berfungsi sebagai intersep
u : galat (disturbance term)

Fungsi produksi translog ini dapat berubah bentuknya menjadi fungsi


produksi Cobb-Douglas jika parameter b tidak berbeda nyata dengan nol.
Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh hukum ekonomi produksi, yaitu
Hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang (The Law of Diminishing
Return). Hukum ini menyatakan bahwa jika faktor produksi terus menerus
ditambahkan pada faktor produksi tetap maka tambahan jumlah produksi per
satuan akan semakin berkurang. Hukum ini menggambarkan adanya kenaikan
hasil yang negatif dalam kurva fungsi produksi. Fungsi produksi tersebut dapat
dilihat pada Gambar 2.
Menurut Doll dan Orazem (1984) fungsi produksi klasik dapat dibagi
menjadi tiga wilayah atau tahap, masing-masing tahap tersebut penting dari segi
efisiensi penggunaan sumberdaya. Tiga tahap tersebut ditunjukkan pada Gambar
2. Tahap I terjadi ketika MPP lebih besar daripada APP. APP adalah peningkatan
seluruh Tahap I, mengindikasikan bahwa nilai rata-rata dimana input variabel, X,
ditransformasi menjadi produk, Y, meningkat hingga APP mencapai nilai
maksimum pada akhir Tahap I.

28

Y= output

(a)

(b)

II

TPP

III
X= input

MPP, APP

MPP

APP
I

II

III
X= input

Gambar 2 Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi


Sumber: John P. Doll dan Frank Orazem, 1984

Tahap II terjadi ketika MPP menurun dan kurang dari APP, tetapi lebih
besar dari nol. Efisiensi fisik dari input variabel mencapai puncak pada awal
Tahap II, hal ini terjadi ketika MPP sama dengan APP, batas ini ditunjukkan oleh
garis putus-putus (a). Di sisi lain, efisiensi input tetap terbesar adalah pada akhir
Tahap II. Hal ini dikarenakan angka unit-unit input tetap yang konstan, biasanya
pada angka satu. Oleh sebab itu, output per unit dari input tetap harus menjadi
yang terbesar ketika output total dari proses produksi mencapai nilai maksimum.

29

Tahap III terjadi dimana MPP bernilai negatif. Tahap III terjadi ketika jumlah
input variabel sudah berlebih dikombinasikan dengan input tetap yang sangat
besar, padahal total produksi sudah mulai menurun. Garis putus-putus (b) pada
Gambar 2. menunjukkan batas antara Tahap II dan Tahap III.
Berdasarkan nilai elastisitasnya, fungsi produksi dibagi atas tiga daerah,
yaitu elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), elastisitas produksi
antara nol dan satu (daerah II), dan elastisitas produksi lebih kecil dari nol (daerah
III). Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu,
artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan
penambahan produksi lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum masih
belum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan dengan penggunaan
faktor produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu, daerah I disebut daerah
irrasional.
Daerah II elastisitas produksinya bernilai antara nol dan satu. Hal ini
berarti bahwa setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan
menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah
nol. Pada tingkat penggunaan faktor produksi tertentu pada daerah ini akan
tercapai keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah yang
rasional karena produsen harus menetapkan tingkat produksi yang dapat mencapai
maksimum.
Elastisitas produksi pada daerah III adalah lebih kecil dari nol, yang
artinya setiap penambahan faktor-faktor produksi akan menyebabkan penurunan
jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian
faktor-faktor produksi yang tidak efisien. Daerah ini disebut daerah irrasional.

30

Produsen yang rasional akan berhenti berusaha atau berupaya mencari alternatif
lain.
Menurut Doll dan Orazem (1984) elastisitas produksi didefinisikan sebagai
sebuah konsep yang mengukur derajat responsivitas antara input dan output.
Elastisitas produksi, seperti elastisitas lainnya, tidak bergantung pada unit-unit
pengukuran. Elastisitas produksi ( p) dirumuskan sebagai berikut:
p

Dari sini, elastisitas produksi ditentukan menjadi:


p

= Y Y

X X

Pada Tahap I, MPP lebih besar dari APP. Oleh sebab itu,
dari satu. Pada Tahap II, MPP lebih kecil dari APP sehingga

p lebih besar

p kurang dari satu

tetapi lebih besar dari nol. Pada Tahap III, MPP bernilai negatif sehingga

bernilai negatif.

Menurut Lipsey et al (1990) ada beberapa macam nilai elastisitas baik


jangka panjang maupun jangka pendek, yaitu:
1. Jika nilai elastisitas sama dengan nol (E = 0), keadaan seperti ini dikatakan
inelastis sempurna, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan tidak
berubah dengan adanya perubahan harga.
2. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1), keadaan ini dikatakan
inelastis atau tidak responsif karena jumlah yang diminta atau yang

31

ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan


harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel indepeden
menyebabkan perubahan variabel dependen kurang dari satu persen.
3. Jika nilai elastisitas sama dengan satu (E = 1), keadaan seperti ini disebut
unitary elastis, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah
dengan persentase yang sama dengan perubahan harga.
4. Jika nilai elastisitas lebih dari satu (E > 1), keadaan seperti ini dikatakan
elastis atau responsif karena jumlah yang diminta atau yang ditawarkan
berubah dalam persentase yang lebih besar daripada perubahan harga. Pada
kondisi ini perubahan satu persen variabel independen akan menyebabkan
perubahan variabel dependen lebih dari satu persen.

3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi


Pada umumnya efisiensi diartikan sebagai perbandingan antara nilai hasil
atau output terhadap nilai masukan atau input (Lipsey et al, 1995). Suatu metode
produksi dikatakan lebih efisien dari metode produksi lainnya apabila
menghasilkan produk yang lebih tinggi nilainya untuk nilai tingkat korbanan yang
sama atau dapat mengurangi korbanan untuk memperoleh produk yang sama. Jadi
konsep efisiensi merupakan konsep yang bersifat relatif (Soekartawi, 2003).
Konsep efisiensi mengandung tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis,
efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis menyatakan sejumlah
produk yang dapat diperoleh dengan penggunaan kombinasi masukan yang paling
sedikit. Efisiensi teknis akan tercapai apabila di dalam mengalokasikan sumbersumber produksi tidak terdapat barang yang dapat diproduksi tanpa keharusan
untuk mengurangi produksi barang lainnya. Efisiensi alokatif menyatakan nilai

32

produk marginal sama dengan oportunitas dari masukan yang berarti setiap
tambahan biaya yang dikeluarkan untuk faktor produksi mampu menghasilkan
tambahan penerimaan yang besarnya sama dengan tambahan biaya. Produksi
output dikatakan efisien secara alokatif jika tidak ada cara lain untuk
memproduksi output yang dapat menggunakan seluruh nilai input dengan jumlah
yang lebih sedikit. Efisiensi teknis dan efisiensi alokatif merupakan komponen
dari efisiensi ekonomi (Semaoen, 1992 dalam Januarsini, 2000).
Menurut Doll dan Orazem (1984) efisiensi ekonomi adalah kombinasi
input-input yang memaksimalkan tujuan individu atau sosial. Efisiensi ekonomi
ditentukan dalam dua syarat, yaitu syarat kebutuhan dan syarat kecukupan. Syarat
kebutuhan ditemukan pada proses produksi ketika: pertama tidak mungkin
memproduksi output dalam jumlah yang sama dengan input yang lebih sedikit,
dan kedua tidak mungkin memproduksi lebih banyak output dengan input yang
sama. Dalam analisis fungsi produksi, syarat ini ditemukan pada Tahap II dimana
jika elastisitas produksi sama dengan atau lebih dari nol dan sama dengan atau
kurang dari satu (0

1). Berbeda dengan syarat kebutuhan yang objektif, syarat

kecukupan untuk efisiensi meliputi tujuan-tujuan individu atau sosial.


Kondisi efisien pada suatu perusahaan terkait dengan tujuan perusahaan
pada umumnya, yaitu untuk memaksimumkan keuntungan (profit). Keuntungan
tersebut dapat dicapai antara lain dengan cara memanfaatkan sejumlah input pada
tingkat optimumnya (Gambar 2). Secara matematis penggunaan input yang
optimum dapat diturunkan dari pengurangan keuntungan dengan biaya totalnya,
sesuai dengan persamaan berikut:
= Py.Y Px.X TFC

33

Dimana:
: keuntungan
Py

: harga output

Px

: harga input

: output

: input

TFC

: biaya input total (Total Fixed Cost)

Sedangkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum jika


diasumsikan bahwa di suatu perusahaan tidak terdapat kendala internal, maka
diisyaratkan bahwa turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol.
Sehingga persamaan umum menjadi:

= Py
Atau

Px = 0

= Py. MPPxi Pxi = 0

(2)
(3)

Py. MPPxi = Pxi

(4)

MPPxi =

(5)

Dengan membagi ruas kiri dan kanan dengan Py, maka persamaan menjadi:

Dengan demikian secara matematis dapat diketahui besarnya marginal produk.


Apabila harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh jumlah pembelian
faktor produksi, persamaan dapat ditulis sebagai berikut:
NPMXi = BKMxi

=1

(6)
(7)

Untuk penggunaan lebih dari satu faktor produksi (i faktor produksi),


maka keuntungan maksimum dapat dicapai jika:

34

Apabila rasio

NPM Xi
BKM xi

=1

(8)

< 1, maka penggunaan faktor produksi telah

melampaui batas optimal sehingga produsen yang rasional akan mengurangi


penggunaan faktor produksi agar mencapai kondisi optimal. Namun di dalam
kegiatan untuk mencapai keuntungan yang maksimum, pada umumnya
perusahaan akan dihadapkan oleh beberapa kendala, terutama berupa kendala
internal. Kendala tersebut dapat berupa keterbatasan modal yang dimiliki
perusahaan untuk membeli faktor-faktor produksi sehingga dapat mencapai
kondisi yang efisien.
Jika diasumsikan perusahaan menghadapi kendala internal berupa biaya
produksi maka kondisi tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan berikut:
Co =

Dimana:

n
i=1 xi

vi

(9)

C : kendala biaya
xi : faktor produksi ke-i
vi : harga faktor produksi ke-i
i : 1,2,3,...,n
Dengan melibatkan unsur kendala berupa keterbatasan modal, maka untuk
mencapai kondisi maksimum profit dapat digunakan pendekatan teknik optimasi
klasik

(clasical

optimization

technique).

Dengan

menggunakan

fungsi

Lagrangian, maka pendapatan yang diperoleh perusahaan dapat dirumuskan


sebagai berikut:
L = Py + [ Co

n
i=1 xi

vi ]

(10)

35

Dimana:
L : pendapatan perusahaan
p : harga output
y : jumlah output
: multiplier Lagrange
xi : faktor produksi ke-i
vi : harga faktor produksi ke-i
i : 1,2,3,...,n
Sedangkan untuk mencapai kondisi keuntungan maksimum, maka
disyaratkan turunan pertama dari persamaan (10) terhadap variabel X dan
multiplier Lagrange ( ) sama dengan nol. Sehingga persamaan umum menjadi:

=p

Dimana:

v =0

x v =0

= C

(11)

(12)

: Marjinal produk dari xi

: Nilai Produk Marjinal dari xi


Dari persamaan (11) dan (12), maka diperoleh persamaan sebagai berikut:
NPMxi
vi

(13)

Jika di dalam produksi digunakan lebih dari 1 faktor produksi (i faktor


produksi), maka dapat diperoleh persamaan sebagai berikut:
NPMx1
v1

NPMx2
v2

NPMxi
vi

(14)

36

Jika diasumsikan bahwa harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh


jumlah pembelian faktor produksi, maka persamaan (14) dapat dinyatakan dalam
bentuk:

(15)

Sehingga dapat diketahui bahwa dengan adanya kendala tertentu di


perusahaan kondisi efisien tidak lagi mutlak terjadi pada saat
dapat terjadi pada saat

3.2

NPM Xi
BKM xi

NPM Xi
BKM xi

= 1, namun

= , dengan lamda ( ) adalah suatu nilai tertentu.

Kerangka Pemikiran Operasional


PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur.

Luas lahan HGB (Hak Guna Bangunan) PG Pagottan adalah 225.891 m2.
Kegiatan utama pabrik ini adalah memproduksi gula. Pabrik ini diindikasikan
mengalami masalah dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Pabrik tersebut
mempunyai rata-rata produktivitas tebu per periode yang cukup besar, yaitu 75,8
ton per hektar selama tahun 2001 sampai 2007. Namun untuk rata-rata rendemen
dan produktivitas gula per periode dinilai masih rendah, yaitu sebesar 7,50 persen
dan 5,69 ton per hektar (Lampiran 3).
Berdasarkan studi terdahulu, teori-teori serta pengamatan di lapang maka
produksi gula di Pabrik Gula Pagottan diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa
variabel, yaitu jumlah tebu yang dipasok ke pabrik baik dari tebu rakyat maupun
tebu sendiri (tebu dari lahan sewa ke petani), rendemen tebu, jam mesin, tenaga
kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dugaan
pengaruh variabel tersebut terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu diduga

37

berpengaruh secara positif karena dengan semakin banyaknya tebu yang akan
digiling maka jumlah gula yang akan dihasilkan juga semakin banyak.
Rendemen tebu diduga berpengaruh positif, dengan semakin tinggi
rendemen tebu maka jumlah gula yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Jam
mesin diduga berpengaruh positif karena jika jumlah jam mesin yang tinggi maka
gula yang dihasilkan juga semakin banyak. Tenaga kerja tetap dan tenaga kerja
musiman diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula, secara umum
semakin banyak tenaga kerja maka semakin banyak produksi gula yang
dihasilkan. Jumlah bahan pembantu diduga berpengaruh positif terhadap produksi
gula karena dengan semakin banyak jumlah bahan pembantu yang digunakan
maka kotoran-kotoran yang menganggu dalam proses produksi semakin sedikit
dan proses produksi semakin cepat sehingga gula yang dihasilkan juga akan
semakin banyak. Sedangkan lama giling diduga berpengaruh negatif terhadap
produksi gula karena semakin lama waktu giling maka rendemen akan semakin
turun dan selanjutnya produksi gula akan menurun.

38

PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula yang memiliki kapasitas


giling besar di bawah PTPN XI.

Rendemen tebu yang dihasilkan masih rendah.

Terjadi inefisiensi terhadap penggunaan faktorfaktor produksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula:

Karakteristik Usahatani:
1. Jumlah tebu
2. Rendemen

Karakteristik Pabrik:
1. Tenaga kerja tetap
2. Tenaga kerja musiman
3. Lama giling

Model Fungsi Produksi Cobb-Douglas


dengan pendugaan OLS.

Analisis Elastisitas

Analisis Efisiensi

Efisiensi Produksi Gula di PG Pagottan


Gambar 3 Bagan Kerangka Pemikiran Operasional

39

IV

4.1

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan, Madiun, Jawa Timur.

Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan


bahwa pabrik gula ini merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur
yang masih dapat beroperasi dengan baik di saat banyak pabrik gula yang tutup
sehingga pabrik ini sangat berpotensi membantu penyediaan kebutuhan gula
nasional.
Penyusunan rencana penelitian (proposal penelitian) dilakukan pada Bulan
Maret 2008 sampai dengan Bulan April 2008. Selanjutnya pengumpulan data di
lapang berlangsung mulai Bulan Mei 2008. Kegiatan pengolahan data dan
penyusunan skripsi dilakukan mulai Bulan Juni sampai Agustus 2008.

4.2

Sumber dan Jenis Data


Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data primer dan data

sekunder. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
diperoleh dari catatan atau dokumen yang terdapat di Pabrik Gula Pagottan dan
lembaga-lembaga lain yang terkait. Data sekunder yang merupakan data time
series (deret waktu) terdiri dari data output dan input sejak tahun 2001 sampai
tahun 2007 serta harga input dan output rata-rata di PG Pagottan dari tahun 20012007. Sedangkan untuk data primer diperoleh dari wawancara terhadap
administratur, kepala bagian, karyawan pabrik, dan petani serta pengamatan

40

langsung untuk mendapatkan informasi tambahan. Secara terperinci jenis data


yang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Jenis dan Sumber Data Penelitian
Keterangan

Gambaran Umum Perusahaan

Data Output dan Input

4.3

Jenis Data
a. Sejarah Umum Pabrik
b. Tinjauan Geografis dan Iklim
c. Perkembangan Pabrik
d. Proses Produksi Gula
e. Struktur Organisasi
Perusahaan
Output
a. Produksi Gula
b. Produktivitas Gula
c. Harga Gula
Input
a. Produksi Tebu
b. Rendemen Tebu
c. TK Tetap
d. TK Musiman
e. Bahan Pembantu
f. Lama Giling
g. Harga Tebu
h. Gaji TK Tetap
i. Upah TK Musiman

Sumber

Pabrik Gula Pagottan

Pabrik Gula Pagottan

Metode Analisis Data


Data dan informasi yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan

kuantitatif. Pengolahan secara kualitatif digambarkan dengan perkembangan


perusahaan secara umum, proses produksi serta sistem agribisnis gula.
Pengolahan kuantitatif menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas untuk
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di Pabrik Gula
Pagottan serta rasio

NPMx1
BKMx1

untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Bentuk

model fungsi produksi yang digunakan untuk membuat fungsi produksi gula
adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Model ini dipilih karena fungsi
produksi Cobb-Douglas merupakan model yang umum digunakan dalam

41

penelitian ekonomi selain itu menurut Soekartawi (2003) terdapat tiga alasan
pokok mengapa fungsi produksi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh para
peneliti, yaitu: Pertama, penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebih
mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik karena
fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah ditransfer ke bentuk linier. Kedua,
hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien
regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastis. Ketiga, besaran
elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale. Namun
karena penyelesaian fungsi Coob-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah
bentuk fungsinya menjadi fungsi linear, maka ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi sebelum peneliti menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Persyaratan
ini antara lain:
a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol. Sebab logaritma dari nol adalah
suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite).
b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi
pada

setiap

pengamatan

(non-neutral

difference

in

the

respective

technologies). Ini artinya jika fungsi Cobb-Douglas yang dipakai sebagai


model dalam suatu pengamatan dan diperlukan analisis lebih dari satu model
(dua model) maka perbedaan model tersebut terletak pada intercept dan bukan
pada kemiringan garis (slope) model tersebut.
c. Tiap variabel X adalah perfect competition.
d. Perbedaan lokasi (pada fungsi tersebut) seperti iklim adalah sudah tercakup
pada faktor kesalahan, u.

42

Fungsi produksi Cobb-Douglas untuk produksi gula dapat dituliskan


sebagai berikut:
Y=
Dimana:

bi
7
i=1 Xi

eu

: jumlah hasil produksi (kuintal)

Xi

: faktor produksi ke-i

: 1,2,3,,7

X1

: jumlah tebu (ton)

X2

: rendemen (persen)

X3

: jam mesin (jam)

X4

: tenaga kerja tetap (orang)

X5

: tenaga kerja musiman (orang)

X6

: bahan pembantu (ton)

X7

: lama giling (hari)


: intersep

: error term (galat)

1, 2,..., 6 : nilai dugaan besaran parameter

Untuk variabel independent seperti jumlah tebu giling ( 1>0), rendemen


2>0),

jam mesin ( 3>0), tenaga kerja tetap ( 4>0), tenaga kerja musiman ( 5>0),

bahan pembantu ( 6>0) diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula,


artinya setiap penambahan satu satuan dalam variabel-variabel tersebut akan
menambah jumlah tertentu (satuan) variabel produksi gula di pabrik. Sedangkan
untuk lama giling ( 7<0) diduga berpengaruh negatif terhadap produksi gula,
artinya setiap penambahan jumlah hari giling dalam periode optimal (170-180
hari) akan mengurangi jumlah produksi gula di pabrik.
Sebelum dilakukan analisis lanjutan, maka harus dilakukan pemilihan
fungsi produksi Cobb-Douglas terbaik, yang sesuai untuk data produksi yang

43

tersedia. Pemilihan fungsi tersebut antara lain didasarkan pada asumsi OLS.
Asumsi pertama dari model regresi adalah suatu model dikatakan baik jika
memenuhi asumsi normalitas. Normalitas menunjukkan bahwa residu atau sisa
diasumsikan mengikuti distribusi normal. Pengujian ini dapat dilihat melalui
grafik yang dihasilkan output komputer. Apabila tebaran sisaan membentuk suatu
garis lurus maka asumsi ini terpenuhi. Asumsi OLS lain yang harus terpenuhi
adalah bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas di dalam fungsi. Gejala
multikolinearitas tersebut dapat ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor
(VIF). Menurut Kleinbaum dalam Meidhita (2003) tingkat multikolinearitas yang
tinggi ditunjukkan oleh nilai VIF yang lebih besar dari 10. Nilai VIF tersebut
dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
VIFxj =

(1

Dimana:
VIFxj : Variance Inflation Factors peubah bebas ke-j
R2j

: nilai koefisien determinasi pada xj yang merupakan fungsi dari


peubah bebas lainnya

Selain itu suatu fungsi dikatakan baik apabila telah memenuhi asumsi OLS
yang lain, yaitu tidak terdapat gejala autokorelasi. Autokorelasi dapat
didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang
diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series atau ruang seperti dalam
data cross-sectional (Gujarati, 1991). Salah satu metode yang dapat digunakan
untuk menguji gejala autokorelasi tersebut adalah dengan menggunakan Uji
Durbin-Watson (Gujarati, 1991) yang dapat diperoleh dari pengolahan data
dengan menggunakan program Minitab 14. Pada output komputer dapat dilihat

44

apabila nilai Durbin watson mendekati dua maka tidak terjadi masalah
autokorelasi (Pappas, 1995).
Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas
(ragam error yang sama). Untuk dapat membuktikan kesamaan varians
(homoskedastisitas) secara visual dengan cara melihat penyebaran nilai-nilai
residual terhadap nilai-nilai prediksi. Jika penyebarannya tidak membentuk pola
tertentu seperti meningkat atau menurun, maka keadaan homoskedastisitas
terpenuhi.
Model terbaik juga dapat dilihat dari nilai MSE yang merupakan akar dari
error term. Semakin kecil nilai MSE maka semakin baik suatu model karena
selisih jarak antara nilai aktual dan nilai model semakin kecil.
Suatu fungsi produksi dikatakan semakin baik apabila memiliki nilai
koefisien determinasi (R2) yang semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa
semakin tinggi nilai koefisien determinasi persamaan maka faktor-faktor produksi
di dalam persamaan model fungsi produksi semakin berpengaruh terhadap hasil
produksi. Dari fungsi produksi dugaan terbaik yang telah diperoleh sebelumnya,
maka dapat diketahui apakah faktor-faktor produksi telah dimanfaatkan secara
efisien. Yaitu dengan menghitung rasio antara nilai produk marjinal dan biaya
korbanan marjinal untuk faktor produksi tertentu.
Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglas besarnya produk marjinal faktor
produksi ke-i (MPPxi) adalah (Heady dalam Meiditha, 2003):
MPPxi =

Y
Xi

Y
Xi

45

Dimana:
MPPxi

: produk marjinal faktor produksi ke-i


: nilai dugaan parameter ke-i

Xi

: rata-rata geometri faktor produksi ke-i

Y*

: nilai dugaan output

: 1,2,3,...,7

Untuk mengetahui apakah rasio tersebut sudah memenuhi kondisi efisien,


maka diperlukan pengujian rasio tersebut secara statistik, yaitu dengan menguji
apakah nilai

NPMx1
BKMx1

secara signifikan berbeda dari satu. Apabila nilai rasio yang

dihasilkan lebih besar atau kurang dari satu maka faktor produksi yang digunakan
belum efisien, namun jika nilai rasionya sama dengan satu berarti faktor produksi
yang digunakan sudah efisien.

4.4

Pengukuran Variabel
Konsep pengukuran variabel yang dipakai dalam penentuan pendugaan

fungsi produksi gula ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) dan
variabel tidak bebas (dependent variable). Produksi gula merupakan variabel tak
bebas, yaitu peubah yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam model.
Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh faktor lain
dalam model, seperti jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap,
tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling.
Dalam menganalisis efisiensi produksi gula, variabel-variabel yang diukur
adalah:

46

1. Produksi gula (Y)


Gula yang dimaksud adalah gula tebu atau gula pasir atau gula putih
(refined sugar), gula ini dihasilkan dari tebu rakyat maupun tebu sendiri yang
dinyatakan dalam satuan ton. Setelah tata niaga gula lepas dari Bulog (Badan
Urusan Logistik) maka untuk pemasaran gula dilakukan dengan dijual sendiri
maupun dilelang dengan tingkat harga terendah sebesar harga provenue (harga
dasar yang ditetapkan pemerintah).
2. Jumlah tebu (X1)
Jumlah tebu adalah tebu yang dihasilkan dari tebu sendiri (TS) yang
lahannya adalah lahan sewa dan lahan tebu rakyat (TR). Satuan yang digunakan
adalah ton. Harga tebu diperkirakan berasal dari biaya pengolahan tanah,
pembibitan, budidaya, dan tebang-angkut tebu.
3. Rendemen (X2)
Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang
dinyatakan dalam satuan persen. Bila dinyatakan bahwa rendemen tebu 10 persen,
artinya bahwa dari 100 kilogram tebu yang digiling di PG akan diperoleh gula
sebanyak 10 kilogram. Nilai persentase rendemen tersebut diperoleh dari rumus:
Rendemen

= Sejumlah hablur (gula yang dihasilkan)

x 100%

Sejumlah tebu yang digiling


Rendemen ini diperkirakan tidak dapat dinilai efisiensi alokatifnya karena
tidak dapat ditentukan harganya, namun dengan menilai elastisitasnya maka dapat
diketahui pengaruhnya terhadap produksi gula.

47

4. Jam mesin (X3)


Mesin merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses
produksi gula. Jam mesin yang digunakan akan berpengaruh terhadap keluaran
yang dihasilkan dari kegiatan produksi tersebut. Berdasarkan sifat proses produksi
gula yang kontinyu, apabila terjadi kerusakan atau kemacetan pada salah satu
mesin maka akan mengakibatkan kemacetan pada proses produksi secara
keseluruhan sehingga kegiatan produksi gula dipengaruhi oleh kemampuan mesin
untuk beroperasi, salah satunya ditunjukkan oleh nilai jam mesin. Satuan yang
digunakan untuk jam mesin adalah jam.
5. Tenaga kerja tetap (X4)
Tenaga kerja tetap adalah pekerja yang sifat hubungan kerjanya tidak
ditentukan batas waktunya oleh peraturan-peraturan sehingga mereka harus
melakukan pekerjaannya baik pada saat giling maupun tidak giling. Satuan yang
digunakan adalah orang. Gaji tenaga kerja tetap dihitung berdasarkan tingkat
golongan pekerja.
6. Tenaga kerja musiman (X5)
Tenaga kerja musiman adalah pekerja yang sifat hubungannya ditentukan
oleh batas waktu yang pada umumnya bekerja pada saat giling. Satuan tenaga
kerja musiman yang digunakan adalah orang. Upah tenaga kerja dihitung dari
upah yang diberikan dalam suatu proses pekerjaan.
7. Bahan pembantu (X6)
Bahan pembantu yang banyak digunakan dalam proses produksi gula di
PG Pagottan adalah kapur tohor, belerang, P2O5, dan flokulant. Kapur tohor dan
belerang ini digunakan untuk memurnikan gula dengan sistem sulfitasi alkalis.

48

Sedangkan P2O5 digunakan sebagai peningkat kadar fosfat dalam nira mentah.
Flokulant berfungsi untuk mempercepat pengendapan kotoran di dalam nira
selama proses produksi berlangsung. Satuan yang digunakan adalah ton.
8. Lama giling (X7)
Lama giling adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengolah tebu menjadi
gula dalam satu musim giling. Satuan lama giling adalah hari.

49

5.1

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan

5.1.1 Sejarah Perusahaan


Pabrik Gula (PG) Pagottan didirikan oleh N.V. Kooy Coosteren Van
Voorhout pada tahun 1905. Sejarah perkembangan PG Pagottan terdiri dari
beberapa periode yang sering mengalami pergantian kepemilikan sesuai dengan
perubahan waktu dan perubahan pemerintahan sampai akhirnya PG Pagottan
menjadi sebuah BUMN. Berikut sejarah perkembangan PG Pagottan berdasarkan
pergantian kepemilikan:
1) Tahun 1941-1945 (masa pendudukan Jepang) : PG Pagottan digunakan untuk
memproduksi semen dengan bahan baku gipa.
2) Tahun 1945-1948 (masa revolusi fisik) : PG Pagottan diambil alih oleh rakyat
Indonesia dan dimanfaatkan untuk membuat ubin. Sedangkan sebagian
halaman pabrik digunakan untuk membuat senjata (granat tangan).
3) Tahun 1948-1949 (masa agresi Belanda) : Belanda kembali menguasai
Indonesia dan PG Pagottan dijadikan markas Belanda.
4) Tahun 1949-1956 (masa kedaulatan RI) : Dimulai pembangunan kembali PG
Pagottan yang rusak akibat perang.
5) Tahun 1956-1957 : Pada periode ini Bank Industri Negara (BIN) mengelola
Suiker Onderneming Pagottan dan merubah namanya menjadi Pabrik Gula
Pagottan.
6) Tahun 1958-1967 : Berdasarkan Keputusan Pengesahan Militer dan Menteri
Perkebunan N0. 1063/PMT/1957 tanggal 9 Desember 1957 PG Pagottan

50

dikelola oleh Pusat Perkebunan Negara dan jawatan Kementrian Pertahanan


dengan nama BPU-PPN Gula Daerah V yang berpusat di Surabaya.
7) Tahun 1968-1981 : Pemerintah membentuk badan hukum negara dengan nama
Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XX yang berpusat di Surabaya. PG
Pagottan termasuk dalam wilayah pengelolaan PNP XX.
8) Periode 1981-1996 : Berdasarkan peraturan pemerintah No.6 Tahun 1973 dan
PP No. 43 Tahun 1979, maka pada tanggal 2 Mei 1981 PNP XX berubah nama
menjadi PT Perkebunan XX (Persero).
9) Periode 1996-2008 : Berdasarkan PP No.16 tanggal 14 Februari 1996 PTP XX
dan PTP XXIV-XXV dibubarkan dan dibentuk badan usaha yang sama sekali
baru dengan nama PT Perkebunan Nusantara XI (Persero).

5.1.2

Struktur Organisasi Perusahaan


Pabrik Gula Pagottan merupakan salah satu unit usaha yang berada

dibawah naungan PTP Nusantara XI (Persero). Di dalam menjalankan kegiatan


produksinya, PG Pagottan mempunyai visi (Visi N-XI), yaitu PG Pagottan
menjadi perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan
stakeholders

secara

berkesinambungan.

Sedangkan

Misi

N-XI,

yaitu

menyelenggarakan usaha agribisnis utamanya yang berbasis tebu melalui


pemanfaatan sumberdaya secara optimal dengan memperhatikan kelestatrian
lingkungan. Selain visi dan misi, dalam menjalankan kegiatan operasionalnya PG
Pagottan juga menerapkan budaya perusahaan, yaitu: 1) Sukses merupakan hasil
kerja sama yang didukung prakarsa perseorangan, 2) Senantiasa berorientasi pada
pertumbuhan dengan menciptakan dan memanfaatkan peluang, 3) Mutu
melandasi setiap perilaku. Sistem organisasi di PG Pagottan secara garis besar

51

menganut sistem organisasi fungsional yang dipimpin oleh seorang administratur


dan dibantu oleh empat orang kepala bagian (Kabag), yaitu Kabag Tanaman,
Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan), Kabag Pabrikasi/Pengolahan, dan
Kabag Instalasi. Untuk lebih jelasnya strktur organisasi dapat dilihat pada Gambar
4.
ADMINISTRATUR

KABAG
TANAMAN

KABAG TUK

KABAG
PABRIKASI

KABAG
INSTALASI

KARYAWAN

Gambar 4 Struktur Organisasi Pabrik Gula Pagottan


Sumber : Pabrik Gula Pagottan, 2008

Adapun mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian adalah


sebagai berikut:
Administratur
1. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan
sesuai dengan yang telah digariskan.
2. Memimpin, mengendalikan, dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas
bagian Tata Usaha dan Keuangan (TUK), Tanaman, Pabrikasi, dan Instalasi
agar tercapai kesatuan tindak.
3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan rencana yang sudah ditetapkan direksi
dengan RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan).
4. Menyelesaikan dan memutuskan masalah baik dengan intern maupun ekstern.

52

5. Mengkoordinir dan memberikan pengarahan kepada setiap Kabag.


Kabag Tanaman
1. Menyediakan bahan baku tebu siap giling untuk diolah menjadi gula produk.
2. Memberikan saran, pendapat, dan umpan balik kepada administratur dalam
persoalan di bidang tanaman, tebang, dan angkutan tebu.
Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan)
1. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan
administratur dalam bidang TUK sesuai dengan yang digariskan oleh direksi
secara berhasil guna dan berdaya guna.
2. Mengkoordinir dan melaksanakan tugas-tugas dalam bidang TUK, antara lain:
a. Perencanaan, pembukuan, penggudangan, umum, kesekretariatan, dan
tenaga kerja.
b. Mengkoordinasi antar bagian dan mengawasi sub bagian.
c. Berdasarkan penunjukan mewakili administratur bila sedang tidak ada.
Kabag Pabrikasi
1. Bertanggung jawab terhadap proses produksi dalam pabrik mulai dari
penimbangan tebu sampai menjadi gula produk.
2. Bertanggung jawab terhadap penyimpanan gula di gudang sebelum di
pasarkan.
3. Memberikan pendapat dan umpan balik yang berhubungan dengan bidangnya.
4. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun rencana anggaran
belanja di bidang pengolahan.
5. Bertanggung jawab atas lancarnya operasi produksi pabrik.

53

Kabag Instalasi
1. Bertanggung jawab terhadap pengadaan, operasi, dan pemeliharaan mesinmesin serta perlengkapan lainnya.
2. Berkoordinasi dengan bagian-bagian lain yang berhubungan dengan masalah
proses produksi, penyediaan sarana dan prasarana perkantoran serta perumahan
karyawan.
3. Sebagai pembantu administratur dalam mengadakan hubungan dengan pihak
luar yang berkaitan dengan permasalahan instalasi pabrik.

5.2

Tinjauan Geografis dan Iklim Wilayah PG Pagottan


Pabrik Gula Pagottan berada di Desa Pagottan, Kecamatan Geger,

Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis PG Pagottan terletak pada


74211 - 74825 Lintang Selatan dan 1113220 - 1114211 Bujur Timur
dengan ketinggian 94m di atas permukaan laut. PG Pagottan terletak 175 km dari
ibukota propinsi dan 9 km dari ibukota kabupaten.
Iklim merupakan faktor yang sangat penting pengaruhnya terhadap proses
pertumbuhan tanaman tebu dan erat hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaan
dengan mekanisasi pertanian terutama terhadap pengoperasian alat dan mesin
pertanian. Iklim secara umum terdiri dari curah hujan, jumlah hari hujan, tipe
iklim suhu udara, kelembaban udara, dan lama penyinaran. Bila diklasifikasikan
menurut Oldeman dan Syarifuddin, PG Pagottan termasuk ke dalam tipe iklim C3
dengan 6 bulan basah dan 6 bulan kering yang sangat sesuai untuk pertumbuhan
tebu. Sedangkan menurut Schmidt dan Ferguson PG Pagottan termasuk ke dalam
tipe iklim basah. Rata-rata curah hujan per tahun di wilayah PG dan sekitarnya,

54

yaitu sebesar 1.544 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 98 hari. Suhu udara
PG Pagottan rata-rata sebesar 26,5C dan kelembaban nisbi sebesar 80 persen.

5.3

Kemitraan Antara PG dan Petani


Setelah Inpres No. 9/1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI)

dihentikan pelaksanaannya, maka PG diwajibkan untuk mengadakan hubungan


kemitraan dengan petani tebu, kemitraan ini juga didukung oleh Undang-undang
No. 9/1995 tentang Usaha Kecil dan PP No. 44/1997 tentang Kemitraan. Di
samping itu hubungan kemitraan merupakan tuntutan objektif dari PG-PG yang
tidak memiliki areal HGU tetapi masih memerlukan tambahan areal untuk
mencukupi kapasitas gilingnya seperti PG Pagottan.
Pola kemitraan di PG Pagottan didasarkan pada prinsip saling
menguntungkan antar petani tebu sebagai pemasok dan PG sebagai pemroses
(mengolah tebu menjadi gula). Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang
dirumuskan bersama-sama mencakup segala aspek baik pengadaan input,
budidaya, pengolahan maupun pemasarannya. Kemitraan secara menyeluruh
penting karena kemitraan pada dasarnya adalah strategi bisnis yang dilakukan
oleh dua atau lebih lembaga dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat
bersama, ataupun keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan
mengisi. Selain itu kemitraan merupakan instrumen kerjasama yang mengacu
pada terciptanya suasana antara keseimbangan dan keselarasan yang saling
bersinergi, saling membutuhkan, saling menguntungkan, saling memperkuat
(etika bisnis), keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta setara dalam hal
bargaining position.

55

Dalam pengadaan input kemitraan yang dibangun antara PG dan petani,


yaitu untuk input modal kerja, PG menjadi penjamin (avalist) kredit yang
disalurkan oleh pemerintah melalui bank kepada petani seperti Kredit Ketahanan
Pangan (KKP). PG juga mengenalkan varietas-varietas yang cocok untuk
dikembangkan agar dapat menghasilkan produksi tebu yang optimal. Untuk input
lahan, PG berlaku sebagai penyewa karena PG tidak mempunyai lahan HGU.
Biasanya PG menyewa lahan petani selama satu musim tanam dengan ketentuan
yang telah disepakati bersama. Perbandingan antara jumlah tebu yang ditanam
sendiri dan tebu rakyat adalah 34 banding 66. Dalam budidaya kemitraan
dilakukan dengan cara PG memberikan pembinaan budidaya tebu yang baik serta
melakukan pengawasan terhadap kebun-kebun petani agar dihasilkan tebu dengan
kriteria MBS (Manis, Bersih, Segar). Dalam kegiatan pasca panen PG
memberikan bantuan transportasi tebu kepada para petani khususnya yang
menerima kredit. Dalam pengolahan kemitraan yang dilakukan, yaitu petani
memasok tebu ke PG yang sesuai kriteria (MBS) serta tepat waktu. Sedangkan di
dalam pemasaran kemitraan dilakukan dimana PG dan petani bersama-sama
memperjuangkan agar menerima harga gula secara layak.

5.4

Perkembangan Produksi Pabrik


Perkembangan produksi di PG Pagottan dapat ditinjau dari beberapa hal,

antara lain penyediaan bahan baku, keberhasilan dalam proses pengolahan, serta
ketersediaan tenaga kerja. Data yang dianalisis merupakan data-data yang terjadi
selama tujuh tahun terakhir. Untuk melihat kinerja penyediaan bahan baku maka
dapat dilihat perkembangan dari luas lahan yang digunakan, jumlah tebu yang

56

dihasilkan, produktivitas tebu per ha serta tingkat rendemen yang dihasilkan.


Keberhasilan dalam proses pengolahan dapat dilihat dari data produksi gula, lama
giling serta pemakaian bahan pembantu, yaitu belerang, kapur tohor, P2O5, dan
flokulant. Sedangkan untuk melihat ketersediaan tenaga kerja dapat melihat
formasi karyawan PG Pagottan.
1) Luas lahan
Bahan baku yang dipasok ke PG Pagottan berasal dari dua sumber, yaitu
tebu yang berasal dari petani yang disebut sebagai Tebu Rakyat (TR) dan tebu
yang berasal dari lahan yang disewa PG Pagottan yang disebut sebagai Tebu
Sendiri (TS). Luas lahan yang dimaksud adalah luas lahan tebu yang digiling.
Berdasarkan Lampiran 3 terlihat bahwa dari periode pertama masa giling 2001
hingga periode akhir masa giling 2007, luas lahan mengalami peningkatan sebesar
2,44 persen per periode. Pada Lampiran 2 juga dapat dilihat bahwa pada tahun
2004 luas lahan dalam satu periode giling tidak sama, hal ini disebabkan oleh
adanya penambahan areal dari PG sesaudara, yaitu PG yang berada di wilayah
kerja PTPN XI dan letaknya masih dalam satu kabupaten. Total luas lahan yang
berasal dari PG sesaudara pada tahun 2004 adalah 1,665 ha.
Terdapat beberapa alasan mengapa PG sesaudara menggilingkan tebunya
di PG Pagottan. Pertama karena adanya kondisi cost major, yaitu kondisi tidak
normal yang dihadapi PG sesaudara, seperti terjadi kebakaran lahan tebu sebelum
waktunya giling sehingga dirasa lebih menguntungkan jika PG sesaudara ikut
menggilingkan tebunya pada PG yang telah memasuki masa giling. Alasan
lainnya adalah ketika PG sesaudara mengalami kerusakan mesin dan
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya, sehingga untuk

57

mengurangi kerugian maka PG sesaudara menggilingkan tebunya ke PG lain (PG


Pagottan).
2) Jumlah tebu
Tanaman tebu merupakan bahan baku utama dalam kegiatan proses
produksi gula pasir, sehingga ketersediaannya sangat mempengaruhi kegiatan
produksi. Dari perkembangan jumlah pasokan tebu yang terlihat pada Lampiran 3,
dapat diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan produksi tebu rata-rata di pabrik
dari periode awal masa giling 2001 sampai periode akhir masa giling 2007
cenderung mengalami peningkatan sebesar 1,45 persen per periode. Peningkatan
jumlah tebu ini sangat dipengaruhi oleh pasokan bahan baku dari tebu sendiri
yang mengalami peningkatan sebesar 4,68 persen per periode dan peningkatan
yang cukup signifikan dari tebu rakyat, yaitu sebesar 14,2 persen per periode.
Peningkatan produksi tebu, baik untuk tebu sendiri maupun tebu rakyat sangat
dipengaruhi oleh peningkatan luas lahan dan produktivitas tebu per hektar.
Penurunan produksi tebu yang cukup drastis terjadi pada tahun 2001 baik untuk
produksi tebu rakyat maupun tebu sendiri, dengan total penurunan mencapai 40
persen.
3) Kualitas tanaman tebu
Selain kuantitas pasokan bahan baku tebu, produksi gula juga dipengaruhi
oleh kualitas pasokan tebu tersebut. Kualitas tebu didasarkan pada kadar gula
dalam tebu, yang dapat ditunjukkan oleh tingkat rendemen. Besarnya nilai
rendemen antara lain dipengaruhi oleh budidaya tebu (jenis lahan, iklim, varietas,
pupuk, tanaman pertama atau keprasan), tingkat kemasakan sebelum ditebang,
jarak waktu tebang-giling, serta kinerja pabrik. Pada budidaya tebu di lahan sawah

58

umumnya mempunyai rendemen yang lebih tinggi daripada lahan tegalan.


Rendemen akan tinggi bila iklim dan jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan
kebutuhan pertumbuhan tebu dimana pada umumnya tebu membutuhkan banyak
air dan pupuk pada saat tanam dan membutuhkan keadaan yang kering sebelum
tebang agar berfotosintesis secara optimal. Disamping itu membudidayakan
tanaman pertama akan mendapatkan rendemen yang lebih tinggi daripada
membudidayakan tanaman keprasan. Untuk tingkat kemasakan tebu sangat
dipengaruhi oleh periode penebangannya. Apabila tebu ditebang pada periode
optimal maka akan diperoleh tingkat rendemen yang tinggi. Sebaliknya, apabila
penebangan dilakukan sebelum maupun sesudah periode optimal maka akan
diperoleh tingkat rendemen yang rendah. Setelah tebang, tebu harus digiling
maksimal 36 jam dari waktu tebang agar rendemen tidak menurun. Sedangkan
kelancaran di dalam proses produksi ditentukan oleh pengelolaan dari kegiatan
produksi serta keadaan mesin dan peralatan yang digunakan.
Perkembangan mengenai rendemen yang dihasilkan baik dari tebu rakyat
maupun tebu sendiri dapat dilihat pada Lampiran 3 pertumbuhan rendemen dari
periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007
menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 1,83 persen per periode,
peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan rendemen tebu sendiri sebesar 6,5
persen per periode, dan peningkatan rendemen tebu rakyat sebesar 3,3 persen per
periode. Tingkat rendemen tebu rakyat tiap tahunnya selalu lebih kecil daripada
tebu sendiri. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pola tebang yang diperbaharui
dimana pelaksanaan tebang-giling sudah proporsional dimana tebu sendiri dan
tebu rakyat sama-sama digiling pada waktu optimalnya dengan memperhitungkan

59

rasio jumlah tebu rakyat dan tebu sendiri, yaitu 40-45 bagian tebu sendiri dan 5560 bagian tebu rakyat.
4) Produksi gula
Gula produk yang dihasilkan PG Pagottan berupa gula kristal putih (direct
plantation white sugar) atau juga dikenal sebagai SHS (Superieur Hoofd Suiker).
Berdasarkan Lampiran 3, terlihat bahwa pertumbuhan total produksi gula sejak
tahun 2001 hingga 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48
persen per periode, peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatan
produksi gula tebu sendiri dan tebu rakyat masing-masing sebesar 8,73 persen per
periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula tebu rakyat yang
cukup signifikan terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan
oleh perbaikan mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada
areal bongkaran keprasan (bongkar ratoon).
Pada tahun 2001 hingga 2007 jumlah produksi gula yang dihasilkan oleh
PG terlihat selalu lebih besar daripada Petani Tebu Rakyat (PTR), meskipun pada
beberapa tahun tertentu jumlah rendemen dan produksi gula tebu rakyat lebih
besar daripada PG. Hal ini dapat dipahami bahwa data produksi gula tersebut
merupakan data bagi hasil, dengan demikian jumlah tebu yang dimiliki PG selain
kontribusi dari tebu yang dihasilkan di lahan sewa juga dihasilkan dari bagi hasil
pengolahan tebu rakyat. Bagi hasil ini merupakan upah yang diberikan petani
karena PG telah menggiling tebu mereka, dengan perjanjian bagi hasil, yaitu 66
persen untuk petani dan 34 persen untuk PG.

60

5) Lama giling
Lama giling merupakan waktu yang digunakan oleh pabrik untuk
mengolah tebu menjadi gula. Lama giling dinyatakan dengan satuan hari. Lama
giling sangat dipengaruhi oleh jumlah tebu yang akan digiling, semakin banyak
jumlah tebu yang akan digiling maka semakin lama waktu gilingnya demikian
pula sebaliknya. Di samping itu lama giling sangat mempengaruhi tingkat
rendemen gula yang dihasilkan, semakin banyak waktu yang digunakan untuk
menggiling maka tingkat rendemen akan turun sehingga akan mempengaruhi
jumlah gula yang dihasilkan. Namun bila lama giling terlalu cepat juga
menyebabkan rendemen turun karena tebu belum masak sudah digiling sehingga
dapat mempengaruhi jumlah gula yang dihasilkan. Pada umumnya waktu yang
optimal untuk lama giling, yaitu 170 sampai 180 hari. Sedangkan rata-rata lama
giling di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga 2007 adalah 15 hari per periode.
Secara umum perkembangan lama giling di PG Pagottan memperlihatkan
kecenderungan yang menurun sebesar 0,42 persen per periode selama tahun 2001
hingga 2007. Lama giling tercepat terjadi pada periode awal tahun 2002 dan
periode akhir tahun 2003 dengan lama giling 8 hari, hal ini terjadi karena jumlah
bahan baku yang sedikit dibandingkan periode sebelumnya.
6) Bahan pembantu
Dalam proses produksi gula PG Pagottan banyak menggunakan bahan
pembantu. Bahan pembantu tersebut digunakan untuk memperlancar proses
produksi. Penambahan bahan pembantu tersebut disesuaikan dengan kondisi
bahan baku tebu baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahan pembantu yang
banyak digunakan dalam proses produksi gula di PG Pagottan adalah kapur tohor,

61

belerang, P2O5, dan flokulant. Penggunaan bahan pembantu di PG Pagottan


selama periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007
cenderung mengalami penurunan sebesar 1,52 persen per periode. Penurunan
pemakaian bahan pembantu ini terutama disebabkan oleh penurunan penggunaan
belerang sebesar 3,63 per periode selama masa giling 2001-2007.
7) Tenaga kerja
Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor dalam kegiatan
produksi. Tenaga kerja merupakan sumberdaya yang dapat mengelola dan
mengkombinasikan faktor-faktor produksi lain sehingga dapat menghasilkan
suatu output yang diinginkan. Di PG Pagottan terdapat dua jenis tenaga kerja,
yaitu karyawan staf atau karyawan pimpinan dan karyawan non staf atau
karyawan pelaksana. Karyawan pelaksana dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
karyawan tetap bulanan dan karyawan tetap harian. Di samping itu juga ada
karyawan tidak tetap yang terdiri dari karyawan kampak, karyawan tebang,
karyawan musim tanam, karyawan musim lain-lain, dan karyawan ekstra atau
harian lepas.
Karyawan yang akan dilihat perkembangannya adalah karyawan pelaksana
yang terbagi atas karyawan tetap dan karyawan tidak tetap atau musiman. Secara
umum perkembangan karyawan tetap dari periode awal tahun 2001 hingga
periode akhir tahun 2007 mengalami kecenderungan penurunan sebesar 0,23
persen per periode. Penurunan ini disebabkan oleh karyawan tetap yang pensiun
ataupun mutasi pekerjaan. Sedangkan jumlah karyawan musiman mengalami
peningkatan sebesar 0,33 persen per periode. Meskipun demikian jika ada
pengurangan jumlah karyawan itu bukan disebabkan oleh PHK namun karena

62

adanya peningkatan golongan dari karyawan harian menjadi karyawan kampanye.


Sehingga jumlah karyawan tetap namun dengan komposisi yang berbeda.
Berkurangnya jumlah karyawan juga disebabkan oleh faktor usia (sudah lanjut).

5.5

Agribisnis Gula

5.5.1 Usahatani Tebu


5.5.1.1 Pengadaan Bahan Tanam dan Persiapan Lahan Tebu Giling
Pengadaan bahan tanam atau bibit merupakan kegiatan awal yang
memegang peranan penting dalam usaha mendapatkan pembibitan dengan
kualitas yang baik. Bibit tebu dengan varietas yang sesuai merupakan salah satu
modal utama dalam keberhasilan produksi tebu. Varietas tebu yang diusahakan di
PG Pagottan sangat beragam (17 varietas, namun yang sering digunakan 10
varietas) dan secara garis besar dibedakan atas empat kemasakan, yaitu masak
awal, masak awal tengah, masak tengah, dan masak tengah lambat (Tabel 5).
Untuk varietas yang diusahakan dalam pembibitan umumnya harus memenuhi
beberapa syarat, yaitu tingkat kemurnian tinggi (85 persen), bebas hama dan
penyakit, daya kecambah tinggi (90 persen), tahan kekeringan, tahan dikepras
(produksi tanaman keprasan tinggi), sesuai dengan bulan tanam serta sesuai lahan
dan iklim.
Tabel 5 Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan
No. Masak Awal
Awal Tengah
Tengah
BM 9605 (F 05)/KK
N XI 1-1
PS 85-1
1.
PS 92-1
PS 86-2
PS 82-1064
2.
PS JT 941
PS BM 88-144
PS 86-4
3.
PS CO 902
ROC 11
4.
PS BM 89-95
ROC 12
5.
ROC 13
6.
PA 117
7.
Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008

Tengah Lambat
BL
PS 95-1

63

Berdasarkan kepemilikan lahan PG Pagottan belum mempunyai Hak Guna


Usaha atau lahan Non HGU. Oleh karena itu, untuk budidaya tebu PG Pagottan
harus menyewa lahan dari petani atau masyarakat sekitar. Karena menggunakan
lahan sewa maka untuk mendapatkan lahan seluas satu hektar saja perlu menyewa
beberapa tempat. Luas lahan sewa yang digunakan PG Pagottan untuk tanaman
tebu per 2007 adalah 2.390,142 ha dengan komposisi lahan sawah sebesar
2.378,566 ha dan lahan tegalan sebesar 7,376 ha. Sisanya digunakan untuk kebun
bibit sebesar 4,2 ha. Lahan sewa tersebut dapat menghasilkan tebu sebesar
182.527,8 ton. Selain tebu sendiri PG Pagottan juga menampung tebu rakyat
sebesar 227.268,7 ton dari luas lahan 3.318,597 ha. Dari produksi tebu tersebut
terdapat perbedaan rendemen antara tebu sendiri dan tebu rakyat, yaitu masingmasing sebesar 8,86 persen dan 7,23 persen. Perbedaan tersebut diduga berasal
dari sistem penanaman dan pemeliharaan tanaman.

5.5.1.2 Sistem Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman


Ada dua macam cara tanam yang biasa digunakan pada lahan khususnya
pada lahan tegalan, yaitu tanam kering dan basah. Tanam kering dilakukan jika
pengairan sulit. Proses tanam kering, yaitu dilakukan penanaman dahulu setelah
itu dilakukan pengairan. Sedangkan cara tanam basah, pengairan dilakukan
sebelum tanam sehingga keadaan alas tanam membentuk jenangan. Dibandingkan
dengan tanam kering, tanam basah lebih menguntungkan karena dapat menghemat
pengairan dan mata tunas lebih cepat berkecambah.

64

Pemeliharaan tanaman bertujuan mendapatkan pertumbuhan tebu yang


baik. Pemeliharaan meliputi pemeliharaan tanaman pertama (plant cane/PC)
meliputi: penyulaman yang bertujuan mempertahankan populasi tanaman dalam
jumlah tetap pada satuan luas tertentu, pengairan, pengendalian gulma baik secara
mekanis maupun khemis, pemupukan, pembumbunan atau penimbunan tanah
disekitar tanaman, klentek atau membersihkan tebu dari kulit dan daun yang sudah
kering, pemberantasan hama dan penyakit serta kuras got yang bertujuan
memperdalam got sesuai ukuran standard agar mampu berfungsi dengan baik.
Sedangkan pemeliharaan tanaman keprasan pada umumnya sama dengan PC.
Adapun yang membedakan antara tanaman keprasan dan PC adalah kegiatankegiatan seperti : pedot oyot yang dilakukan segera setelah tanaman dikepras.
Pedot oyot, yaitu memotong disamping kanan dan kiri barisan tanaman dengan
kedalaman 20 cm dengan tujuan memutus akar-akar lama dan mendorong
tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat.

5.5.1.3 Tebang dan Angkut


Tebang, muat, dan angkut merupakan pekerjaan terakhir dari kegiatan
pengadaan bahan baku industri gula. Pelaksanaan kegiatan tersebut harus
direncanakan secara matang karena tebu merupakan tanaman semusim yang
mempunyai nilai produksi yang ditentukan oleh batasan waktu. Agar diperoleh
tebu yang manis, bersih, dan segar maka pelaksanaan tebang harus tepat dan
proses penebangan serta angkutan harus berpegang pada batasan-batasan tertentu.
Sebagai dasar penentuan suatu kebun cukup optimal untuk ditebang adalah
dengan analisa pendahuluan yang akan menghasilkan angka rendemen, Koefisien
Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP). Dari hasil analisa tersebut

65

kemudian diberi skor atau nilai yang selanjutnya dikalkulasikan. Kebun yang
mempunyai nilai tertinggi mendapat prioritas tebang terlebih dahulu. Analisa
pendahuluan dilakukan pada saat tebu berumur 1-45 hari. Tebu yang dianalisa
adalah tebu dari PC dan ratoon. Kegunaan dari analisa pendahuluan selain dari
yang disebutkan di atas, yaitu dengan analisa pendahaluan PG dapat menentukan
lahan mana yang akan diberikan perlakuan tambahan seperti pemberian ZPK (Zat
Pemacu Kemasakan).

5.5.1.4 Pasca Panen dan Kriteria Bahan Baku Tebu


Pengaturan tebu dari lori maupun truk di PG Pagottan menggunakan
sistem FIFO (first in first out). Maksudnya adalah tebu yang masuk paling awal
akan digiling terlebih dahulu sesuai jadwal. Truk dari kebun sebelum ditimbang
biasanya diatur di emplasment sesuai dengan jadwal kedatangan. Sedangkan
untuk lori setelah ditimbang diatur di emplasment sesuai dengan jadwal
kedatangan.
Kritera tebu giling sebagai bahan baku pabrik adalah manis, bersih, dan
segar. Yang dimaksud manis, yaitu tebu sudah cukup tua atau masak yang
ditebang pada saat rendemen puncak dan tebu ditebang dengan cara didongkel
atau pemotongan sampai tanah dengan Faktor Kemasakan (FK) sebesar 25-30
persen, Koefisien Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP) sebesar
90-100 persen. Besarnya faktor-faktor tersebut tergantung pada varietas tebu yang
ditanam. Adapun yang dimaksud bersih adalah bahan baku tebu terbebas dari
unsur non tebu (kotoran) maksimal 5 persen, meliputi: pucukan, tebu muda
(sogolan), daun tebu (pucuk dan daun kering/daduk), akar dan tanah, serta barang

66

asing lain. Sedangkan yang dimaksud tebu segar secara teoritis adalah saat tebu
ditebang dan digiling maksimal 36 jam, tebu tidak kering, dan tebu tidak dibakar.

5.5.2 Pengolahan Tebu


5.5.2.1 Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula
Proses produksi gula pasir di PG Pagottan pada dasarnya berupa aliran
proses produksi. Diagram tersebut menunjukkan bahwa proses pengolahan tebu
menjadi gula merupakan proses yang saling berhubungan, jika terjadi kemacetan
pada satu tahapan produksi akan mempengaruhi proses produksi selanjutnya.
Tahapan kegiatan produksi di PG Pagottan dapat dibagi berdasarkan uni
stasiun pelaksana proses produksi, yaitu:
1.

Stasiun Gilingan
Proses ini bertujuan mendapatkan nira mentah sebanyak-banyaknya dari

dalam batang tebu sehingga didapatkan kandungan gula semaksimal mungkin


dengan menekan kehilangan gula yang ikut bersama ampas sekecil mungkin.
Proses pada stasiun penggilingan tebu dimulai dari truk atau lori yang diterima
dibagian penerimaan kemudian dipindahkan ke keprak tebu melalui tipper atau
meja tebu yang selanjutnya dibawa ke cane cutter. Tebu yang masuk ke stasiun
gilingan dipotong dan dicacah, cacahan tebu kemudian digiling pada rol-rol
gilingan sehingga dihasilkan nira mentah dan ampas. Untuk memaksimalkan
pemerahan di stasiun gilingan PG Pagottan dilengkapi 5 unit rol penggiling.
Sedangkan untuk memperkecil kehilangan gula dalam ampas ditambahkan air
imbisisi pada gilingan ke IV dan V. Nira mentah yang dihasilkan dipompa ke
stasiun pemurnian dan ampas dipakai sebagai bahan bakar. Banyaknya komponen

67

di dalam nira akan membawa pengaruh terhadap sifat-sifat nira. Karena yang
diambil adalah saccharosa maka yang perlu dihilangkan adalah air dan komponen
bukan gula.
2.

Stasiun Pemurnian
Tujuan dari pemurnian adalah menghilangkan atau membuang bahan

organik maupun anorganik bukan gula yang terdapat dalam nira dengan cara
kimia atau fisika sehingga diperoleh kadar sukrosa yang semaksimal mungkin dari
nira dan kerusakan sukrosa yang serendah mungkin. Proses pemurnian ini
dilakukan dengan sistem sulfitasi alkalis, yaitu cara pemurnian nira dengan
menggunakan bahan pembantu penetralan berupa susu kapur (Ca (OH)2) yang
berguna untuk mencegah terjadinya inversi (kerusakan), mengendapkan kotorankotoran pada nira encer serta mengatur derajat keasaman (pH) nira. Selain itu di
dalam stasiun ini terdapat penambahan gas belerang (SO2) yang diperoleh dari
pembakaran belerang padat yang berguna untuk menetralkan kelebihan susu kapur
dalam nira. Pada penetralan dengan gas SO2 akan terjadi endapan ekstra kalsium
sulfit. Endapan ini akan mengabsorbsi kotoran-kotoran dalam nira.
Di stasiun pemurnian diperoleh nira jernih (nira encer) dan nira kotor. Nira
jernih akan dialirkan ke stasiun penguapan sedangkan nira kotor dialirkan ke
vacum filter untuk memisahkan kotoran padat (blotong) dengan kotoran cair (nira
tapis). Nira tapis dikembalikan lagi pada bak nira mentah tertimbang, sedangkan
blotong dijadikan bahan pembuatan kompos yang selanjutnya digunakan sebagai
pupuk.
3.

Stasiun Penguapan

68

Dalam stasiun ini terjadi proses penguapan (evaporasi) yang dialakukan


untuk menguapkan air yang terdapat dalam nira encer sehingga diperoleh nira
dengan kekentalan tertentu. Nira kental yang keluar dari pan penguapan dilakukan
pemberian gas SO2 sampai nilai pH nira kental mencapai 5,4-5,6 yang bertujuan
memucatkan warna nira kental agar kristal gula yang dihasilkan berwarna lebih
putih dan mencegah terjadinya perubahan warna karena gas SO2 mempunyai sifat
menahan peningkatan intensitas warna. Nira kental tersulfitir tersebut kemudian
dialirkan ke stasiun masakan untuk proses lebih lanjut. Di dalam proses
penguapan tersebut akan didapat hasil sampingan berupa air kondensat yang dapat
dimanfaatkan pada stasiun ketel.
4.

Stasiun Kristalisasi
Nira yang dihasilkan di stasiun penguapan masih mempunyai kadar air

yang tinggi sehingga sukrosa dalam keadaan terlarut. Bila nira kental ini diuapkan
airnya maka akan mencapai titik jenuh dan jika penguapan masih berlanjut maka
larutan akan menjadi sangat jenuh yang akhirnya terjadi pengkristalan. Akan
tetapi gula yang terkandung dalam nira kental tidak dapat dikristalkan seluruhnya
dan harus dilakukan secara bertahap dengan menggunakan pan masakan yang
bertekanan vakum di atas 65 mmHg dan suhu 70C, yaitu masakan A, C, dan D.
Pada stasiun ini akan dihasilkan larutan kristal gula (mascuite) serta hasil
sampingan berupa air kondensat yang dapat dimanfaatkan oleh stasiun ketel.
Pada tingkat masakan A, nira kental dimasak pada masakan A dengan
bibitan magma C, hasil masakan (mascuite) diputar menjadi stroop A dan gula
A1. Gula A1 dicampur dengan klare A menjadi magma A kemudian diputar lagi
sehingga menjadi gula produk (GKP) dan klare A. Bahan untuk membuat

69

masakan C adalah stroop A dengan bibitan magma D. hasil masakan C adalah


mascuite dan diputar menjadi stroop C dan gula C. Setelah dicampur air, gula C
akan menjadi magma C kemudian dipakai sebagai bibitan masakan A. Bahan
untuk membuat masakan D adalah stroop A, stroop C, dan klare D dengan bibitan
Fondan. Mascuite D setelah didinginkan kemudian diputar dan dihasilkan tetes
dan gula D1. Magma D1 diputar menjadi klare D dan gula D2. Gula D2 dicampur
dengan air menjadi magma dan dipakai sebagai bibitan masakan C.
5.

Stasiun Puteran dan Penyelesaian


Mascuite dari hasil proses pengkristalan dalam pan merupakan suatu

massa campuran yang terdiri dari larutan dan kristal sakarosa. Sesudah mengalami
pendinginan dalam palung pendingin selanjutnya dipisahkan kristal dan
larutannya. Pemisah dilakukan dalam suatu alat saringan (puteran) yang
menggunakan gaya sentrifugal sebagai kekuatan pendorongnya.
Langkah-langkah yang terjadi pada pemutaran mascuite terbagi atas tiga
langkah, yaitu:
a. Penghilangan larutan yang ada disekitar kristal dan memenuhi ruanganruangan di antara kristal-kristal.
b. Penghilangan sisa larutan yang masih tertinggal di antara kristal sehingga
hanya tinggal lapisan yang menempel pada kristal.
c. Mengurangi jumlah atau ketebalan lapisan larutan yang tertinggal pada
permukaan kristal.
Gula produk yang dihasilkan dari pemutaran mascuite A kondisinya masih
basah. Gula basah ini dijatuhkan pada talang goyang/getar. Pengeringan gula
dengan dihembus udara kering dan panas pada suhu 104 -132C. Gula yang

70

dihasilkan dibagi menjadi gula halus, normal dan kasar. Gula halus dan kasar akan
dilebur lagi sebagai bahan masakan A. Gula normal dengan diameter 0,9-1,1 mm
dimasukkan ke gudang untuk disimpan.

5.5.2.2 Limbah
Limbah diartikan sebagai bahan yang dihasilkan dalam suatu proses yang
tidak berguna lagi untuk proses tersebut. Semua proses menghasilkan limbah,
mulai dari proses hidup yang terjadi dalam tubuh organisme hidup, misalnya CO2
dan panas dari pernapasan serta O2 dari fotosintesis, sampai pada proses dalam
industri misalnya CO2, NO serta logam berat dari proses kimia tertentu dalam
pabrik. Limbah yang tidak berguna untuk proses tersebut keluar dari pabrik ke
lingkungan. Jika laju masukan limbah ke dalam lingkungan lebih besar daripada
laju asimilasi atau degradasi limbah maka akan merusak dan terjadilah
pencemaran.
Limbah pabrik gula Pagottan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu
limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Limbah padat terdiri dari blotong, abu
ketel dan ampas halus, namun limbah ini telah dapat dimanfaatkan oleh pabrik
baik menjadi pupuk maupun bahan berguna lainnya. Limbah cair dapat
digolongkan menjadi dua berdasarkan jumlah dan sifat pencemarannya, yaitu 1)
tingkat pencemaran rendah dengan jumlah besar seperti air bekas kondensor, 2)
tingkat pencemaran tinggi dengan jumlah sedikit seperti air cucian peralatan,
tumpahan nira, cucian tapisan, bocoran dari peralatan yang rusak, air cucian
evaporator, dan air buangan ketel. Limbah cair yang dihasilkan dapat diatasi
dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Sedangkan untuk limbah gas terdiri

71

dari CO2, CO, SO2, dan asap cerobong. Limbah inilah yang masih belum dapat
dikelola dengan baik oleh PG Pagottan.

5.5.2.3 Hasil Samping Gula Tebu


Dalam proses pengolahan tebu selain menghasilkan gula juga dihasilkan
produk-produk sampingan, yaitu berupa tetes, blotong, dan ampas. Tetes
merupakan larutan sisa yang tidak bisa lagi dimasukkan dalam proses untuk
diambil kristalnya. Saat ini tetes sudah bisa dijadikan barang produk dan sudah
merupakan kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan peranannya. Di PTPN XI
usaha diversifikasi yang telah dilakukan adalah mengolah tetes menjadi alkohol
dan spirtus yang pabriknya berlokasi di Djatiroto. Selain pembuatan alkohol di
Indonesia, tetes dapat dibuat bermacam-macam keperluan, misalnya bumbu
masak (MSG), pellet (makanan ternak), kecap, dan ragi. Blotong merupakan hasil
pemisahan di stasiun pemurnian, di PG Pagottan blotong dapat dijadikan pupuk
kompos yang dicampur abu ketel dan dijadikan bahan bakar karena mengandung
biogas. Sedangkan ampas adalah hasil pemisahan di stasiun gilingan. Ampas
dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan pulp kertas, solvent, particle
board, hard board, cellulose, dan lain-lain.

5.5.2.4 Standardisasi Mutu Gula


Standardisasi mutu gula produk ditentukan oleh P3GI. Adapun
standardisasi mutu gula dapat dilihat pada Tabel 6.

72

Tabel 6 Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih


No.

Unsur

Satuan

GKP

Metode

1.

Warna

1.1

Warna Kristal

CT

5,0 10,0

Refleksi

1.2

Warna larutan (ICUMSA)

IU

Max 300

Spektometris

2.

Berat jenis butir

mm

0,8 1,2

Ayakan

3.

Susut pengeringan

% bb

Max 0,15

Oven/IR driyer

4.

Polarisasi

Z, 20C

Min 99,5

Polarimetris

5.

Abu konduktiviti

% bb

Max 0,15

Konduktometris

6.

Bahan tambahan makanan

6.1

Belerang dioksida (SO2)

mg/kg

Max 30

Iodometri

Sumber: Bagian Pabrikasi PG Pagottan, 2008

5.5.2.5 Pengepakan dan Penyimpanan


Gula produk yang telah ditimbang dimasukkkan ke dalam karung goni
yang bagian dalamnya telah dilapisi plastik, tujuannya adalah melindungi kristal
gula dari uap air selama penyimpanan. Berat setiap karung adalah 50 kg. karung
yang telah diisi kemudian dijahit dan disimpan di gudang.
PG Pagottan mempunyai empat gudang penyimpanan gula (gudang A, B,
C, dan D) dan satu gudang cadangan (gudang E) dengan luas dan kapasitas yang
berbeda-beda. Luas gudang A, gudang B, gudang C, dan gudang D masingmasing adalah 1830 m2, 774 m2, 968 m2, 968 m2. Dengan kapasitas gudang A
sebesar 56.881 kuintal, gudang B sebesar 26.803 kuintal, gudang C sebesar
35.556 kuintal, dan gudang D berkapasitas 34.455 kuintal. Sedangkan gudang E
merupakan gudang cadangan yang digunakan jika semua gudang tidak mampu
menampung jumlah produksi gula. Biasanya gudang E digunakan sebagai gudang
rabuk (pupuk).

73

5.5.3 Distribusi Gula


5.5.3.1 Bagi Hasil Giling Antara PG dan PTR
PG Pagottan disamping mengolah tebu sendiri juga mengolah tebu rakyat.
Bagi hasil terhadap gula yang dihasilkan tebu rakyat mengacu pada kesepakatan
antara PTPN XI dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) mengenai tata cara atau
perhitungan bagi hasil gula, yaitu apabila rendemen tebu rakyat sampai dengan
enam persen maka petani mendapatkan 66 persen hasil sedangkan PG
mendapatkan 34 persen. Tetapi jika rendemen tebu rakyat di atas enam persen
maka hasil awal (rendemen enam persen) ditambah selisih di atas enam persen
dengan perhitungan bagi hasil 70 persen untuk petani dan 30 persen untuk PG.

5.5.3.2 Sistem Penjualan Gula PTR dan PG


Setelah lepas dari monopoli BULOG pada tahun 1999, saat ini sistem
perdagangan gula dikelola oleh masing-masing perusahaan. Sebagian besar gula
milik PTR dan PG bersama-sama dijual dalam pelelangan. Dalam pelelangan gula
milik PTR dan PG telah mendapatkan dana talangan yang besarnya sesuai harga
dasar yang disepakati antara petani, perusahaan selaku penjamin bahwa petani
yang mendapatkan dana talangan benar-benar memiliki gula dari hasil
penggilingan tebu, investor dana talangan, dan pemerintah. Dana talangan ini
dimaksudkan agar petani dapat melakukan kegiatan budidaya dikebun tanpa harus
menunggu kapan gula akan terjual semua. Di samping itu dana talangan juga
dimaksudkan untuk melindungi para produsen tebu dari kerugian. Dana talangan
tersebut biasanya dibayarkan oleh investor dengan perjanjian bila harga gula di
pelelangan lebih tinggi dari dana talangan maka kelebihannya tersebut akan dibagi
menurut perhitungan 60 persen untuk PTR dan 40 persen untuk PG sisa dari

74

masing-masing tersebut, yaitu 40 dan 60 persen akan diberikan kepada investor


sebagai penyedia dana talangan.
Selain dijual dalam pelelangan untuk gula milik PG sebagian kecil (lima
persen dari total produksinya) dijual dalam bentuk ritel ke perusahaan-perusahaan
seperti alfamart, indomaret, grosir, dan lain-lain dengan harga yang telah
disepakati bersama. Sedangkan untuk gula milik PTR (sepuluh persen dari total
produksinya) diberikan ke petani dalam bentuk natura. Natura ini diberikan agar
petani tebu mempunyai gula untuk konsumsinya sehari-hari. Untuk lebih jelasnya
mengenai pemasaran gula PG Pagottan dapat dilihat pada Gambar 5.
KD PASAR
MILIK
PG
TEBU

PABRIK

GULA

MILIK
PTR

PG RITEL
5%

LELANG
PTR

NATURA
10%

Gambar 5 Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan


Sumber: PG Pagottan, 2008

75

VI

6.1

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI GULA PASIR

Pemilihan Model Fungsi Produksi


Model fungsi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah model fungsi

produksi Cobb-Douglass. Sebelum menerima model fungsi yang diajukan


tersebut, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian terhadap ketepatan model
dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi yang mendasarinya dengan melihat
koefisien determinasi (R2), F-hitung dan t-hitung untuk masing-masing parameter
dugaan. Hal ini perlu dilakukan agar validitasnya terjamin.
Analisis regresi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan.
Factor-fakor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu
bahan baku tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman,
bahan pembantu, dan lama giling yang digunakan dalam proses produksi dari
tahun 2001-2007 (per periode) (Lampiran 2). Dari variable-variabel yang terdapat
pada Lampiran 2, maka dapat dibentuk suatu model regresi berganda. Hasil
analisis dan model regresi kegiatan produksi gula dengan memanfaatkan ketujuh
faktor produksi tersebut adalah sebagai berikut.
Hasil pendugaan awal yang diperoleh dari model Cobb-Douglas adalah :
Ln produksi gula = 2,60 + 0,0555 Ln jumlah tebu + 0,988 Ln rendemen + 1,126
Ln jam mesin + 0,329 Ln tenaga kerja tetap 0,796 Ln
tenaga kerja musiman 0,026 Ln bahan pembantu 0,084
Ln lama giling

76

Tabel 7 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor


Produksi
Variabel

Koefisien
Dugaan

T-Hitung

Nilai Peluang-t

Nilai VIF

Konstanta

2,599

2,42

0,019

Jumlah tebu (X1)

0,055

2,18

0,016

3,0

Rendemen (X2)

0,998

12,55

0,000

1,5

Jam mesin (X3)

1,126

10,38

0,000

9,7

Tenaga kerja tetap (X4)

0,329

1,98

0,220

4,1

Tenaga kerja musiman (X5)

-0,796

-3,62

0,031

4,0

Bahan pembantu (X6)

-0,029

-0,81

0,591

1,6

Lama giling (X7)

-0,084

2,39

0,024

10,0

R
: 96,2%
R2 adj
: 95,7%
F- hitung : 214,85
P-value : 0,000
MS
: 0,00261
Uji Durbin-Watson : 2,11653

Suatu model terbaik harus memenuhi beberapa asumsi OLS antara lain
adalah normalitas (kenormalan sisaan), homoskedastisitas (kehomogenan ragam),
tidak terdapat multikolinearitas (hubungan antar variabel) dan autokorelasi. Pada
Lampiran 7 dapat dilihat bahwa pada analisis regresi dengan tujuh faktor produksi
asumsi normalitas terpenuhi. Asumsi ini terpenuhi karena tebaran sisaan
membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga terpenuhi karena
penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola tertentu (Lampiran 8).
Dari hasil pengolahan, dapat dilihat bahwa nilai VIF lama giling sebesar
10,0. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika nilai VIF lebih besar
dari 10 maka diduga di dalam model terdapat gejala multikolinearitas. Variabel
independen lain yang diduga berkorelasi dengan variabel independen lama giling
adalah jam mesin yang memiliki nilai VIF sebesar 9,7. Nilai VIF kedua variabel
tersebut tidak berbeda nyata dari 10, sehingga diduga kedua faktor produksi

77

tersebut memiliki korelasi yang kuat. Hal ini sangat mungkin terjadi karena fakta
yang ada di lapang adalah jumlah jam mesin dipengaruhi oleh lamanya hari giling
atau lama kampanye. Jika lama giling meningkat maka jam mesin juga akan
meningkat (Lampiran 2).
Adanya gejala multikolinearitas tersebut, mengakibatkan model fungsi
produksi Cobb-Douglass dengan tujuh faktor produksi belum dapat dikatakan
sebagai

model

fungsi

produksi

yang

baik.

Dengan

demikian

gejala

multikolinearitas tersebut harus diatasi. Menurut Soekartawi, 2003, salah satu cara
untuk mengatasi gejala multikolinearitas tersebut adalah dengan mengurangi salah
satu atau beberapa variabel bebas yang memiliki tingkat korelasi yang tinggi
diantara satu dengan yang lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka di
dalam penelitian ini variabel lama giling dihilangkan dari model fungsi produksi.
Pengujian terhadap gejala autokorelasi sangat penting dilakukan karena
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series. Pengujian
autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW).
Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari model Cobb-Douglas
dengan tujuh faktor produksi sebesar 2,11653. Hal ini berarti bahwa pada model
tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai DW yang mendekati dua.
Setelah dilakukan pengujian terhadap asumsi OLS, maka selanjutnya
dilakukan pengujian secara statistik yang meliputi koefisien determinasi, uji-F,
dan uji-t. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan tujuh faktor produksi pada
taraf nyata lima persen menghasilkan koefisien determinasi (R2) yang tinggi,
yaitu 0,962. Hal ini berarti bahwa 96,2 persen dari variasi produksi gula dapat
dijelaskan oleh variasi faktor produksi jumlah tebu (X1), rendemen (X2), jam

78

mesin (X3), tenaga kerja tetap (X4), tenaga kerja musiman (X5), bahan pembantu
(X6), dan lama giling (X7) sedangkan sisanya 3,8 persen dijelaskan oleh faktor
lain yang tidak terdapat dalam model.
Uji secara bersama-sama dengan menggunakan uji-F didapat nilai sebesar
214,85 lebih besar dari F-tabel yang nilainya sebesar 2,95 dan berbeda nyata pada
tingkat kepercayaan 95 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketujuh faktor
produksi secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi gula di PG
Pagottan. Untuk uji setiap faktor produksi dengan menggunakan t-hitung pada
tingkat kepercayaan 95 persen terlihat terdapat dua faktor produksi yang
pengaruhnya tidak nyata terhadap produksi gula di PG Pagottan, yaitu faktor
tenaga kerja tetap dan faktor bahan pembantu. Sehingga berdasarkan hasil
pengolahan fungsi produksi dengan tujuh faktor produksi menghasilkan lima
faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap kegiatan produksi di PG
Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja musiman, dan
lama giling.
Selain itu, faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja musiman
dijumlahkan menjadi tenaga kerja total. Penggabungan didasarkan atas
pertimbangan bahwa di dalam penggunaan faktor produksi tenaga kerja tetap
kurang adanya variasi sehingga kurang mencerminkan adanya pengaruh yang
signifikan antara penggunaan input tenaga kerja tetap terhadap produksi gula.
Sehingga faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi gula di Pabrik
Gula Pagottan berupa bahan baku tebu, rendemen tebu, tenaga kerja total, jam
mesin, dan bahan pembantu.

79

Hasil pengolahan data dengan menghilangkan variabel independen lama


giling dan penggabungan faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja
musiman menjadi faktor produksi tenaga kerja total disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula setelah Uji Validitas Asumsi
OLS
Koefisien

Variabel

Dugaan

Konstanta

2,841

T-Hitung

Nilai
Peluang-t

2,80

0,007

Nilai VIF

Jumlah tebu (X1)

0,066

2,54

0,014

2,7

Rendemen (X2)

1,010

11,99

0,000

1,5

Tenaga kerja total (X3)

-0,239

-2,25

0,029

1,4

Jam mesin (X4)

1,030

16,84

0,000

2,7

Bahan Pembantu (X5)

-0,01543

-0,40

0,688

1,6

: 96,0%

: 95,6%

R adj

F- hitung : 255,65
P-value

: 0,000

MS

: 0,00259

Uji Durbin-Watson : 1,983035

Jika dibandingkan dengan hasil pendugaan dengan tujuh faktor produksi,


hasil dugaan lima faktor produksi dirasa lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari
asumsi normalitas yang terpenuhi (Lampiran 9). Asumsi ini terpenuhi karena
tebaran sisaan membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga
terpenuhi karena penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola
tertentu (Lampiran 10).
Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari semua faktor produksi
dugaan memiliki nilai VIF kurang dari 10 sehingga model memenuhi asumsi
OLS, yaitu tidak ada gejala multikolinearitas. Demikian halnya dengan pengujian
terhadap gejala autokorelasi pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari

80

model Cobb-Douglas dengan lima faktor produksi sebesar 1,983035. Hal ini
berarti bahwa pada model tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai
DW yang mendekati dua.
Demikian halnya dengan nilai R2 dan R2 adj yang tidak berbeda nyata
dibandingkan persamaan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar 96,0 persen
dan 95,6 persen dan memiliki nilai F hitung sebesar 255,65 yang nilainya lebih
besar dibandingkan nilai F tabel, yaitu 3,34 dan berbeda nyata pada tingkat
kepercayaan 99 persen. Sedangkan pengaruh faktor-faktor produksi secara parsial
dapat dilihat dengan menggunakan uji-t atau dengan melihat nilai dugaan-t (Tabel
8). Jika nilai dugaan-t lebih kecil dari

= 0,05 maka secara parsial faktor produksi

tersebut secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula. Dari Tabel 8 dapat
dilihat bahwa terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi
gula di PG Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja
total.
Dalam Tabel 8, terlihat bahwa persamaan dugaan dengan empat faktor
produksi koefisien dari variabel bebas jumlah tebu, rendemen, jam mesin
memiliki tanda yang sesuai dengan hipotesis yang diharapkan. Namun tanda
untuk variabel tenaga kerja total adalah negatif, tidak sesuai dengan hipotesa awal
yang diduga berpengaruh positif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jumlah tenaga
kerja total di PG Pagottan sudah melebihi batas normalnya sehingga bila ditambah
maka semakin memperkecil rasio antara jumlah tenaga kerja dengan produksi
gula yang dihasilkan.

81

6.2

Analisis Elastisitas Produksi


Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglass besaran koefisien regresi

merupakan nilai elastisitas produksi dari variabel-variabel yang digunakan dalam


fungsi. Sehingga pengaruh masing-masing faktor produksi gula pasir dapat
diketahui, yaitu sebagai berikut:
1. Jumlah tanaman tebu
Berdasarkan analisis regresi, jumlah tebu mempunyai pengaruh yang
positif dan nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil ini sesuai dengan
fungsi tebu sebagai bahan baku utama yang secara langsung mempengaruhi
produksi gula, dimana peningkatan jumlah tebu akan meningkatkan produksi
gula.
Nilai koefisien regresi yang diperoleh adalah sebesar 0,066. Nilai ini
menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu satu persen
maka produksi akan meningkat sebesar 0,066 persen, dengan asumsi semua
faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus).
2. Rendemen
Kualitas tebu ditunjukkan oleh tingkat rendemen, pada taraf nyata lima
persen ternyata faktor rendemen berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir
di lokasi penelitian. Elastisitas produksi faktor rendemen adalah sebesar 1,01
persen, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akan
memberikan peningkatan produksi gula pasir sebesar 1,01 persen, dengan asumsi
semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini berarti bahwa kualitas
tebu berpengaruh besar terhadap produksi gula pasir.

82

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa tingkat rendemen tebu


yang dipasok ke PG Pagottan dari tahun ke tahun cenderung mengalami
peningkatan.

Beberapa

kebijakan

perusahaan

telah

ditetapkan

untuk

meningkatkan kembali tingkat rendemen tersebut, antara lain dengan pemberian


pelatihan teknis kepada petani dan diperkenalkan beberapa varietas tebu unggul
kepada petani. Namun, tampaknya untuk beberapa tahun terakhir usaha tersebut
masih belum membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan rendemen
gula. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan produksi gula
maka tingkat rendemen juga perlu ditingkatkan.
3. Jam mesin
Sesuai dengan analisis regresi menunjukkan bahwa faktor jam mesin
berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir. Dengan nilai elastisitas produksi
sebesar 1,03 persen menunjukkan bahwa peningkatan sebesar satu persen jam
mesin akan meningkatkan produksi gula pasir sebesar 1,03 persen, dengan asumsi
semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan bahwa
jam mesin sangat berpengaruh terhadap produksi gula pasir dan dengan nilai
elastisitas produksi seperti ini produksi gula pasir masih dapat ditingkatkan
dengan melakukan penambahan jumlah jam mesin.
Berdasarkan catatan angka produksi perusahaan, diketahui bahwa jumlah
jam mesin yang digunakan diduga belum optimal karena setiap bulannya dalam
masa giling sering terjadi jam berhenti giling yang sebagian besar disebabkan oleh
peralatan produksi yang sudah tua. Sehingga mengurangi jam giling yang
menyebabkan produksi gula belum mencapai tingkat optimalnya.

83

4. Tenaga kerja total


Hasil analisis regresi pada taraf nyata lima persen menunjukkan bahwa
tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir di lokasi penelitian.
Berdasarkan persamaan fungsi produksi dengan lima faktor produksi, nilai
koefisien regresi tenaga kerja total sebesar -0,239. Nilai koefisien ini
menunjukkan hubungan yang negatif antara faktor tenaga kerja total dan produksi
gula di PG Pagottan. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa dengan adanya
peningkatan tenaga kerja total sebanyak satu persen maka akan mengakibatkan
terjadinya penurunan terhadap produksi gula pasir sebesar 0,239 persen, dengan
asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus).
Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa di lokasi penelitian terjadi
kelebihan pemanfaatan tenaga kerja total. Meskipun pemanfaatan jumlah tenaga
kerja total di PG Pagottan cenderung mengalami penurunan, namun ternyata
proporsi tersebut belum mampu mengatasi masalah inefisiensi dalam penggunaan
tenaga kerja. Oleh karena itu, untuk menghindari penurunan produksi gula pasir
lebih lanjut maka pihak perusahaan perlu melakukan pengaturan kembali terhadap
proporsi tenaga kerja yang dimanfaatkannya.

6.3

Analisis Efisiensi
Sebelum melakukan analisis efisiensi terhadap faktor-faktor yang

mempengaruhi terhadap produksi gula penting untuk mengetahui apakah nilai


koefisien regresi dari faktor-faktor produksi yang akan dinilai efisiensinya sudah
memenuhi syarat dari model Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien regresi berada
antara nol dan satu. Dari hasil analisis elastisitas yang telah dilakukan sebelumnya
dapat diketahui bahwa nilai koefisien regresi dari faktor produksi tenaga kerja

84

total tidak memenuhi syarat model Cobb-Douglas karena mempunyai nilai


koefisien regresi yang negatif sehingga faktor tersebut tidak dapat dinilai tingkat
efisiensinya terhadap produksi gula di PG Pagottan.
Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi secara alokatif pada kegiatan
produksi gula pasir dapat dilihat dari nilai perbandingan Nilai Produk Marjinal
(NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Nilai produk marjinal diperoleh
dari perkalian antara harga rata-rata gula pasir di Pabrik Gula Pagottan dengan
nilai produk marjinalnya. Sedangkan biaya korbanan marjinal diperoleh dari harga
rata-rata input, yaitu berupa harga rata-rata tebu yang dipasok ke Pabrik Gula
Pagottan.
Harga rata-rata tebu petani yang dipasok ke Pabrik Gula Pagottan
diperoleh dari bagi hasil dalam bentuk gula pasir (natura) yang diterima petani,
dengan mempertimbangkan tingkat rendemen nota gula yang telah ditetapkan
oleh pihak perusahaan. Besarnya bagi hasil petani tersebut nilainya bervariasi baik
dalam satu musim giling maupun antar musim giling. Dengan memperhitungkan
nilai bagi hasil rata-rata tersebut maka dapat diperoleh harga tebu per ton per
periode.
Namun di dalam kenyataannya, perusahaan memiliki keterbatasan modal
yang digunakan untuk membeli faktor-faktor produksi. Sehingga kendala tersebut
juga harus diperhitungkan di dalam analisis efisiensi produksi. Kondisi tersebut
mengakibatkan nilai perbadingan antara NPM dan BKM belum tentu bernilai
sama dengan satu, melainkan sama dengan nilai tertentu. Faktor produksi yang
akan diukur tingkat efisiensinya di dalam penelitian ini adalah faktor produksi

85

jumlah tebu. Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan bahwa faktor produksi
tersebut yang dapat diukur tingkat harganya.
Rata-rata produksi gula pasir per periode dari tahun 2001-2007 adalah
sebesar 2510,22 ton dengan harga jual rata-rata sebesar Rp 4.002.530,- per ton
(Tabel 9). Penggunaan rata-rata bahan baku tebu dalam proses produksi gula pasir
sebesar 33.144,7 ton per periode. Harga tebu per ton adalah Rp 1.956.190 per
periode. Penggunaan rata-rata faktor produksi serta harga rata-ratanya digunakan
untuk menduga besarnya rasio NPM dan BKM. Tingkat efisiensi penggunaan
faktor produksi pada PG Pagottan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal
Kegiatan Produksi Gula Pasir pada Pabik Gula Pagottan per
Periode
Variabel

Rata-rata
Penggunaan

Koefisien
Regresi

NPM (Rp)

BKM (Rp)

Jumlah tebu (ton)

33.144,7

0,066

20.006,74

1.956.190

Rasio
NPMBKM
0,01

Berdasarkan perhitungan pada Tabel 9, terlihat bahwa penggunaan faktor


produksi gula di PG Pagottan belum mencapai kondisi efisien. Hal ini ditunjukkan
oleh rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu tidak sama dengan
satu.
Jumlah tebu mempunyai NPM sebesar Rp 20.006,74 yang mempunyai arti
bahwa setiap penambahan pasokan satu ton tebu, akan memberikan tambahan
penerimaan sebesar Rp 20.006,74. Rasio NPM dan BKM diperoleh sebesar
0,01dengan harga rata-rata tebu sebesar Rp 1.956.190 per ton dan koefisien
regresi sebesar 0,066. Nilai rasio NPM dan BKM jumlah tebu kurang dari satu
menyatakan bahwa jumlah pasokan tebu sudah melampaui batas optimal. Oleh
karena itu, perusahaan harus mempertimbangkan kembali jadwal tebang angkut

86

sehingga tidak terlalu banyak tebu yang menurun rendemennya karena terlalu
lama menunggu di lori sehingga tebu tidak lagi memenuhi kriteria MBS yang
berakibat akan menurunkan jumlah produksi gula.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan
mengurangi harga jual tebu petani ke PG, karena dengan menurunkan harga
pasokan tebu petani maka perusahaan akan memperkecil tambahan biaya yang
akan dikeluarkan untuk menambah satuan input sehingga tambahan biaya yang
dikeluarkan akan sama dengan tambahan penerimaan yang diperoleh. Namun
upaya ini tidak sesuai dengan visi perusahaan, yaitu PG Pagottan menjadi
perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesjahteraan stakeholders
secara berkesinambungan. Sehingga tidak mungkin perusahaan menilai harga tebu
petani lebih rendah.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gula
yang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkan
tarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Dengan
meningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebu
di PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hingga
tahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akan
dapat beroperasi secara lebih efisien.
Dari beberapa analisis yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa
kegiatan produksi gula pasir di PG Pagottan belum efisien. Kondisi tersebut salah
satunya disebabkan oleh pengalokasian sumberdaya atau faktor-faktor produksi
yang kurang tepat. Akibatnya, pencapaian keuntungan perusahaan belum
mencapai tingkat yang maksimum.

87

VII

7.1

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis regresi dengan pendugaan OLS, maka dapat

diketahui terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh nyata pada taraf nyata
= 0,05 terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-faktor tersebut, yaitu
jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja. Dari hasil tersebut diperoleh
bahwa jumlah tebu, rendemen, dan jam mesin berpengaruh positif terhadap
produksi gula di PG Pagottan.
Berdasarkan analisis elastisitas diketahui nilai elastisitas untuk masingmasing faktor produksi, yaitu jumlah tebu sebesar 0,066, nilai menunjukkan
bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu sebesar satu persen maka
produksi akan meningkat sebesar 0,006 persen dengan asumsi semua faktor-faktor
lainnya tetap (cateris paribus). Elastisitas faktor produksi rendemen adalah
sebesar 1,01, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akan
memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,01 persen dengan asumsi semua
faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Sedangkan nilai koefisien regresi jam
mesin sebesar 1,03, nilai ini menunjukkan bahwa setiap penambahan satu persen
jam mesin maka akan memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,03 persen
dengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Nilai koefisien
regresi tenaga kerja sebesar -0,239. Nilai koefisien ini menunjukkan hubungan
yang negatif antara faktor tenaga kerja dan produksi gula di PG Pagottan. Nilai
tersebut dapat diartikan bahwa jika tenaga kerja ditambah sebesar satu persen
maka produksi gula akan menurun sebesar 0,239 persen.

88

Hasil analisis efisiensi alokatif dengan menggunakan rasio antara NPM


dan BKM jumlah tebu diperoleh nilai sebesar 0,01. Nilai ini menunjukkan bahwa
pemanfaatan faktor produksi tersebut belum efisien secara alokatif. Sehingga
perlu dilakukan upaya agar penggunaan jumlah tebu mencapai tingkat optimal
sehingga tercapai kondisi yang efisien.

7.2

Saran
Dalam rangka meningkatkan produksinya maka sebaiknya perusahaan

meningkatkan kualitas dari pasokan bahan baku tersebut dengan melakukan


pengaturan kembali terhadap jadwal tanam dan tebang. Karena hampir sebagian
besar bahan baku tebu yang akan digiling memiliki waktu tunggu yang lebih dari
36 jam sehingga mempengaruhi kualitas dari bahan baku tebu itu sendiri. Pada
akhirnya akan berpengaruh terhadap jumlah gula yang dihasilkan oleh PG
Pagottan.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gula
yang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkan
tarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Dengan
meningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebu
di PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hingga
tahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akan
dapat beroperasi secara lebih efisien.
Karena tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produksi gula maka
saran untuk peneliti selanjutnya dapat dilakukan penelitian mengenai tingkat
kinerja SDM di PG Pagottan.

89

DAFTAR PUSTAKA

Churmen, Imam. 2001. Menyelamatkan Industri Gula Indonesia Edisi 1. Jakarta :


Millenium Publisher.
Djauhari, Aman. 1999. Pendekatan Fungsi Cobb-Douglas Dengan Elastisitas
Variabel Dalam Studi Ekonomi Produksi. Suatu Contoh: Aplikasi Pada
Padi Sawah. Informatika Pertanian Vol. 8 (Desember 1999).
Doll, J. P. dan Frank Orazem. 1984. Production Economics Theory With
Application 2nd Edition. Canada : John Willey and Sons Inc.
Firdaus, M. 2004. Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikati. Jakarta : Bumi
Aksara.
Gujarati, Damodar. 1978. Ekonometrika Dasar. Penerjemah Soemarno Zain.
Jakarta : Erlangga.
Hafsah, M. Jafar. 2002. Bisnis Gula di Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Hidayat, Sutan Emir. 2003. Evaluasi Kinerja Produksi dan Keuangan PT PG
Rajawali II Unit Pabrik Gula Subang di Subang, Jawa Barat. Skripsi.
Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor.
Kartasapoetra, A. G. 1988. Pengantar Ekonomi Produksi Pertanian. Jakarta :
Bina Aksara.
Meiditha, Nilla. 2003. Analisis Efisiensi Produksi Gula Pasir di Pabrik Gula
Kebon Agung, Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Moerdokusumo, A. 1993. Pengawasan Kualitas dan Teknologi Pembuatan Gula
di Indonesia. Bandung : ITB.
Mubyarto dan Daryanti. 1991. Gula Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta:Aditya
Media.
Mubyarto. 1979. Pengantar Ekonomi Petanian Edisi Ketiga. Jakarta : LP3ES.
.1984. Masalah Industri Gula di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.
Muin, G. M. 2006. Ilmu Teknologi Gula dan Pengawasan Fabrikasi. Situbondo :
PG Assem Bagoes.
Muljana, Wahyu. 1983. Teori dan Praktek Cocok Tanam Tebu dengan Segala
Permasalahannya. Semarang: Aneka Ilmu.

90

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.


Nurrofiq, Akhmad. 2005. Analisis Efisiensi Produksi Pabrik Gula. Skripsi.
Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor.
Pappas, James L. dan Marks Hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial Edisi Keenam
Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara.
Sawit, M. Husein, et al. 2004. Penyelamatan dan Penyehatan Industri Gula
Nasional. Kajian Akademis. Jakarta : Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Rajawali Pers.
. 2003. Teori Ekonomi produksi Dengan Poko Bahasan Analisis
Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sulastri, Indahsih. 2008. Sosiologi dan Kemitraan. Yogyakarta: Lembaga
Pendidikan Perkebunan.
Supriyadi, Ahmad. 1992. Rendemen Tebu dan Liku-Liku Permasalahannya.
Yogyakarta: Kanisius.
Susila, Wayan Reda. 2005. Pengembangan Industri Gula Indonesia Analisis
Kebijakan dan Keterpaduan istem Produksi. Disertasi. Program Pasca
Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Umar, Husein. 1996. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada.
Wahyuni, I. T. 2007. Analisis Efisiensi Produksi Gula di PG Madukismo,
Yogyakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Wira, I. S. 2008. Taksasi Produksi dan Tebang Muat Angkut. Yogyakarta:
Lembaga Pendidikan Perkebunan.
Yenni. 2005. Optimalisasi Pengadaan Tebu Sebagai Bahan Baku Gula. Skripsi.
Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

91

LAMPIRAN

92

Lampiran 1 Luas Areal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun 1996-2008


Jumlah Tebu
Tahun

Luas Areal
(ha)

(ton)

(ton/ha)

403.266
28.603.532
70,9
1996
385.669
27.953.841
72,5
1997
378.293
27.177.766
71,8
1998
340.800
21.401.834
62,8
1999
340.660
24.031.355
70,5
2000
344.441
25.186.254
73,1
2001
350.723
25.533.431
72,8
2002
335.725
22.631.109
67,4
2003
344.793
26.743.179
77,6
2004
381.786
31.242.267
81,8
2005
396.441
30.232.833
76,3
2006
418.506
32.332.327
77,3
2007*
431.141
33.894.431
78,6
2008**
Keterangan :
*
Hasil Kesepakatan rapat November 2007
**
Sumber data Asosiasi Gula Indonesia 2007
Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007

Jumlah Hablur
Rendemen
%

(ton)

(ton/ha)

7,32
7,83
5,49
6,96
7,04
6,85
6,88
7,21
7,67
7,18
7,63
7,47
7,96

2.094.195
2.189.975
1.491.553
1.488.599
1.690.667
1.725.467
1.755.434
1.631.919
2.051.644
2.241.742
2.307.027
2.415.625
2.698.265

5,19
5,68
3,94
4,37
4,96
5,01
5,01
4,87
5,95
5,87
5,82
5,77
6,26

93

Lampiran 2 Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007

Masa giling

Luas (ha)

Ha
digiling

Jumlah
tebu
(ton)

ton
tebu
/ha

Rnd
(%)

jmlh
hablur
(ton)

2001 14-Jun
01-Jul
16-Jul
01-Agust
16-Agust
01-Sep
16-Sep
01-Okt
2002 8-Jun
16-Jun
01-Jul
16-Jul
01-Agust
16-Agust
01-Sep
16-Sep
01-Okt
2003 11-Jun
01-Jul
16-Jul
01-Agust
200416-Agust
01-Sep

3155,220
3155,220
3155,220
3155,220
3155,220
3155,220
3155,220
3155,220
3253,358
3253,358
3253,358
3253,358
3253,358
3253,358
3253,358
3253,358
3253,358
3900,282
3900,282
3900,282
3900,282
3900,282
3900,282

439,859
421,628
489,566
414,174
440,339
538,200
495,499
324,139
219,110
470,414
465,137
517,251
494,944
520,931
436,389
459,281
384,908
608,589
398,228
451,286
461,350
494,519
527,369

30239,5
30500,9
36286,0
31035,8
36557,0
32424,5
30133,4
18892,0
15873,5
34775,5
35075,6
38990,7
37375,8
38423,3
34105,9
33708,1
38216,4
44585,3
32682,9
35975,7
34213,7
35012,4
32272,0

68,7
72,3
74,1
74,9
83,0
60,2
60,8
58,3
72,4
73,9
75,4
75,4
75,5
73,8
78,2
73,4
99,3
73,3
82,1
79,7
74,2
70,8
61,2

6,82
6,54
6,82
6,96
7,13
7,35
7,71
6,95
6,82
6,75
6,55
6,96
7,39
7,22
7,40
7,12
5,92
6,51
6,53
6,59
6,55
7,00
7,81

2063,54
1994,20
2475,78
2158,87
2606,95
2383,06
2323,62
1313,55
1082,07
2347,01
2297,60
2714,18
2760,25
2774,42
2525,23
2401,22
2262,44
2900,73
2133,34
2370,59
2240,01
2449,31
2519,09

jml
gula/ha
(ton)

lm
kmpny
(hari)

jam
mesin
(jam)

b.p slf
(ton)

4,69
4,73
5,06
5,21
5,92
4,43
4,69
4,05
4,94
4,99
4,94
5,25
5,58
5,33
5,79
5,23
5,88
4,77
5,36
5,25
4,86
4,95
4,78

17
15
16
15
16
15
15
10
8
15
15
16
15
16
15
15
18
20
15
16
15
16
15

359,92
341,50
384,00
336,16
377,50
357,50
344,50
222,17
173,00
355,00
352,50
379,58
356,33
373,41
339,91
353,91
407,99
454,58
333,50
366,75
351,75
371,50
353,50

18,53
19,83
26,85
24,70
25,56
20,30
17,33
12,10
11,33
19,34
19,30
20,60
19,33
20,30
19,33
20,45
23,95
27,95
20,74
21,10
18,23
18,50
18,70

b.p
b.p
P2O5 flk
(ton) (ton)
1,65
1,76
2,36
1,46
1,68
1,58
1,54
1,05
0,81
1,19
1,04
1,11
1,46
0,93
1,63
1,52
1,60
2,05
1,64
2,13
0,75
4,75
4,50

0,07
0,07
0,07
0,06
0,07
0,07
0,07
0,05
0,04
0,07
0,07
0,08
0,07
0,08
0,08
0,11
0,13
0,05
0,04
0,05
0,06
0,11
0,06

b.p
kpt
(ton)

tot
bp
(ton)

36,71
35,78
58,67
51,78
57,48
41,43
39,31
25,20
23,57
47,24
49,07
54,36
51,51
56,81
48,60
47,82
54,37
48,88
36,83
40,10
38,30
39,99
38,41

56,96
57,43
87,96
78,00
84,80
63,37
58,24
38,39
35,74
67,84
69,48
76,14
72,37
78,11
69,63
69,90
80,05
78,92
59,23
63,38
57,33
63,34
61,67

tk
tetap

tkm

total
tk

15
15
15
15
15
15
15
15
14
14
14
14
14
14
14
14
14
13
13
13
13
13
13

201
201
221
201
241
214
218
201
234
244
245
246
242
241
234
234
234
252
242
242
242
248
250

216
216
236
216
256
229
233
216
248
258
259
260
256
255
248
248
248
265
255
255
255
261
263

94

Lanjutan Lampiran 2
16-Sep 3,442.558 481,117 15040,0
2004 23-Mei 3090,435 205,304 15029,8
01-Jun 3090,435 412,493 30397,9
16-Jun 3090,435 442,980 33860,4
01-Jul 3090,435 393,212 32140,9
01-Agust 3328,536 403,793 30099,1
16-Agust 3328,536 332,496 22396,6
01-Sep 3328,536 446,886 32885,4
16-Sep 3277,460 227,188 21981,1
2005 25-Mei 3676,408 610,207 47828,4
16-Jun 3676,408 368,476 27757,0
01-Jul 3676,408 394,548 30812,8
16-Jul 3676,408 424,454 36723,8
01-Agust 3676,408 432,977 35004,2
16-Agust 3676,408 425,938 35220,7
01-Sep 3676,408 426,329 33719,3
16-Sep 3676,408 410,775 34561,7
01-Okt 3676,408 364,553 30341,1
2006 11-Mei 3835,008 590,760 45372,5
01-Jun 3835,008 435,135 33942,4
16-Jun 3835,008 413,962 32216,7
01-Jul 3835,008 404,626 32381,2
16-Jul 3835,008 434,295 36719,0
01-Agust 3835,008 399,773 33180,8
16-Agust 3835,008 449,567 36627,6
01-Sep 3835,008 437,828 33920,6

31.3
73,2
73,7
76,4
81,7
74,5
67,4
73,6
96,8
78,4
75,3
78,1
86,5
80,8
82,7
79,1
84,1
83,2
76,8
78,0
77,8
80,0
84,5
83,0
81,5
77,5

7.27 1,093.55
6,65
999,80
6,63 2014,66
6,87 2326,34
7,34 2358,97
8,01 2412,25
7,94 1778,53
8,82 2899,59
8,38 1841,93
6,65 3180,14
6,97 1935,31
7,51 2313,70
7,47 2742,95
7,71 2700,08
8,29 2918,08
8,53 2877,49
8,52 2945,43
8,22 2494,52
7,01 3179,28
7,42 2517,20
7,68 2475,16
8,82 2857,53
8,42 3091,69
8,85 2938,12
8,71 3190,17
8,46 2869,42

2.27
4,87
4,88
5,25
6,00
5,97
5,35
6,49
8,11
5,21
5,25
5,86
6,46
6,24
6,85
6,75
7,17
6,84
5,38
5,78
5,98
7,06
7,12
7,35
7,10
6,55

8
9
15
15
15
15
16
15
10
22
15
15
16
15
16
15
15
15
21
15
15
15
16
15
16
15

183.25 10,34
195,00 113,20
354,00 21,84
358,50 20,61
333,83 19,50
322,00 19,81
249,00 14,73
384,50 20,53
243,25
9,55
521,00 32,38
309,75 20,87
325,25 20,13
380,50 22,28
357,00 20,68
361,50 21,15
350,42 20,35
358,00 20,68
324,09 18,58
487,82 28,00
360,00 20,98
345,25 19,88
342,50 19,71
380,00 21,80
344,00 19,48
380,00 21,58
356,00 20,28

2,15
0,93
2,31
2,36
2,15
1,90
1,06
0,18
1,24
2,94
2,29
1,44
2,99
2,40
2,54
1,75
2,10
1,82
2,61
2,36
2,28
2,28
2,48
2,08
2,48
2,20

0,03
0,03
0,07
0,07
0,07
0,62
0,44
0,65
0,47
0,15
0,15
4,08
0,19
0,16
0,09
0,08
0,09
0,10
0,15
0,12
3,85
1,10
1,20
0,10
0,10
0,11

19,24 31,76
18,26 132,41
35,68 59,89
34,79 57,83
32,64 54,35
31,63 53,95
23,67 39,89
35,07 56,43
24,57 35,82
57,38 92,85
39,19 62,50
40,08 65,72
46,76 72,22
43,34 66,57
44,26 68,04
43,57 65,75
44,12 66,99
38,83 59,33
48,60 79,35
38,76 62,22
29,49 55,48
33,86 56,93
37,91 63,39
34,14 55,80
37,29 61,44
34,33 56,92

13
13
13
13
13
13
13
13
13
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

242
230
240
236
237
238
239
230
230
239
232
232
234
233
236
235
238
232
219
219
221
223
224
226
221
219

255
243
253
249
250
251
252
243
243
251
244
244
246
245
248
247
250
244
231
231
233
235
236
238
233
231

95

Lanjutan Lampiran 2
16-Sep
01-Okt
2007
3-Jun
16-Jun
01-Jul
16-Jul
01-Agust
16-Agust
01-Sep
16-Sep
Rata-rata

3835,008
3835,008
4497,942
4497,942
4497,942
4497,942
4497,942
4497,942
4497,942
4497,942
3637,410

453,697
548,354
377,503
460,489
501,879
567,296
508,366
557,973
498,399
504,201
444,423

Sumber : PG Pagottan, 2008

32442,8
33041,7
26698,0
33874,2
36945,5
40749,8
37617,8
41501,3
37881,7
37267,2
33144,7

71,5
60,3
70,7
73,6
73,6
71,8
74,0
74,4
76,0
73,9
75,8

8,51
7,89
6,60
6,89
7,25
7,73
8,20
8,72
8,96
8,71
7,50

2760,23
2608,40
1762,92
2333,90
2679,81
3148,72
3084,44
3618,03
3395,57
3245,51
2510,22

6,08
4,76
4,67
5,07
5,34
5,55
6,07
6,48
6,81
6,44
5,69

15
17
13
15
15
16
15
16
15
15
15

346,30
361,90
280,25
338,00
360,00
379,50
341,50
379,00
384,50
346,25
349,77

20,05
21,65
17,35
21,08
22,88
24,57
22,66
25,21
23,00
22,95
22,11

1,54
2,66
0,14
3,43
2,33
3,12
2,98
3,36
2,61
3,05
2,01

0,09
0,09
0,09
0,12
0,13
0,14
0,12
0,14
0,13
0,12
0,29

58,60
41,24
38,80
31,14
41,34
43,57
41,22
46,40
42,38
42,15
40,62

80,28
65,64
56,37
55,77
66,67
71,39
66,97
75,11
68,12
68,26
65,03

12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
13

219
219
207
207
207
209
210
214
211
211
228

231
231
219
219
219
221
222
226
223
223
241

96

Lampiran 3 Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007


Tahun

Luas
Lahan
-2,49
12,32
-2,32
9,62
-4,92
0,03
4,84

Jumlah
Tebu
-4,65
16,34
-13,40
12,90
-3,73
-2,84
5,51

Rendemen

2001
0,40
2002
-1,49
2003
2,03
2004
3,50
2005
2,76
2006
1,52
2007
4,08
Rata2,44
1,45
1,83
rata
Sumber : PG Pagottan, 2008 (diolah)

Jumlah
Hablur
-3,69
14,43
-10,87
17,27
-1,11
-1,62
9,91

Lama
Giling
-6,32
13,54
-11,81
4,82
-3,87
-1,60
2,32

Jam
Mesin
-5,33
2,30
-9,41
9,63
0,96
0,94
3,57

Bahan
Pembantu
-5,66
2,15
-7,76
-2,55
0,56
0,75
1,85

Tenaga
Kerja
-5,77
2,17
-6,29
-0,30
0,58
0,79
2,27

3,48

-0,42

0,38

-1,52

-0,93

97

Lampiran 4 Perkembangan Luas Areal, Produktivitas Tebu, Rendemen,


dan Produksi Gula PG Pagottan Tahun 2001-2007
Kategori

Luas (ha)

2001
Tebu Sendiri
2287,995
Tebu Rakyat
678,709
2002
Tebu Sendiri
1747,954
Tebu Rakyat
2132,260
2003
Tebu Sendiri
1926,129
Tebu Rakyat
1496,332
2004
Tebu Sendiri
1971,876
Tebu Rakyat
1305,584
2005
Tebu Sendiri
2401,408
Tebu Rakyat
1820,364
2006
Tebu Sendiri
2424,708
Tebu Rakyat
1934,177
2007
Tebu Sendiri
2390,142
Tebu Rakyat
3318,597
Sumber : PG Pagottan, 2008

Produksi(ton)
/ha

jumlah

66,9
89,5

105068,6
91528,2

69,5
84,7

Rendemen

Hablur (ton)
/ha

jumlah

7,18
7,26

4,80
6,50

10768,30
6551,30

121549,7
180624,1

7,20
6,67

5,00
5,70

8748,50
12047,60

63,3
71,7

122486,8
107295,2

7,12
6,52

4,52
4,67

8715,20
6991,40

69,5
88,7

137089,1
115798,6

8,13
6,92

5,65
6,14

11146,98
8014,00

77,8
86,0

186777,0
156590,8

8,36
6,88

6,50
5,92

15608,94
10771,16

71,3
84,1

173000,5
162632,8

8,97
7,13

6,40
6,00

15514,25
11603,56

76,4
68,5

182827,8
227268,7

8,86
7,23

6,76
4,95

16166,60
16432,70

98

Lampiran 5 Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi


Residual Plots for PG
Regression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TKT; TKM; BP; LMG
The regression equation is
PG = 2,60 + 0,0555 JT + 0,999 RND + 1,13 JM + 0,330 TKT - 0797 TKM
- 0,029 BP
0,084 LMG

Predictor
Constant
JT
RND
JM
TKT
TKM
BP
LMG

Coef
2,599
0,05546
0,99897
1,1267
0,3298
-0,7969
-0,02909
-0,0840

S = 0,0547209

SE Coef
1,073
0,02550
0,07957
0,1085
0,1664
0,2201
0,03575
0,1166

R-Sq = 96,2%

T
2,42
2,18
12,55
10,38
1,98
-3,62
-0,81
2,39

P
0,019
0,016
0,000
0,000
0,220
0,031
0,591
0,024

VIF
3,0
1,5
9,7
4,1
4,0
1,6
10,0

R-Sq(adj) = 95,7%

Analysis of Variance
Source
Regression
Residual Error
Total

DF
7
51
58

SS
3,90974
0,15271
4,06246

MS
0,55853
0,00299

Durbin-Watson statistic = 2,11653

F
214,85

P
0,000

99

Lampiran 6 Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS


Regression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TTK; BP
The regression equation is
PG = 2,841 + 0,0664 JT + 1,01 RND

Predictor
Constant
JT
RND
JM
TTK
BP

Coef
2,841
0,06636
1,01122
1,03082
-0,2386
-0,01543

S = 0,0552418

SE Coef
1,014
0,02616
0,08433
0,06121
0,1062
0,03820

R-Sq = 96,0%

0,239 TTK + 1,03 JM

T
2,80
2,54
11,99
16,84
-2,25
-0,40

P
0,007
0,014
0,000
0,000
0,029
0,688

VIF
2,7
1,5
2,7
1,4
1,6

R-Sq(adj) = 95,6%

Analysis of Variance
Source
Regression
Residual Error
Total

DF
5
53
58

SS
3,90072
0,16174
4,06246

MS
0,78014
0,00305

Durbin-Watson statistic = 1,983035

F
255,65

P
0,000

0,015 BP

100

Lampiran 7 Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor


Produksi
Normal Probability Plot of the Residuals
(response is PG)
99,9
99

Percent

95
90
80
70
60
50
40
30
20
10
5
1
0,1

-0,0010

-0,0005

0,0000
Residual

0,0005

0,0010

101

Lampiran 8 Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan


Tujuh Faktor Produksi
Residuals Versus the Fitted Values
(response is PG)
0,00075

Residual

0,00050

0,00025

0,00000
-0,00025

-0,00050
7,00

7,25

7,50
Fitted Value

7,75

8,00

8,25

102

Lampiran 9 Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji


Validitas Asumsi OLS
Normal Probability Plot of the Residuals
(response is PG)
99,9
99

Percent

95
90
80
70
60
50
40
30
20
10
5
1
0,1

-0,0010

-0,0005

0,0000
Residual

0,0005

0,0010

103

Lampiran 10 Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi


Setelah Uji Validitas Asumsi OLS
Residuals Versus the Fitted Values
(response is PG)
0,00075

Residual

0,00050

0,00025

0,00000

-0,00025

-0,00050
7,00

7,25

7,50
Fitted Value

7,75

8,00

8,25