Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Transistor sebagai saklar

Disusun oleh:

Eko Setya Utami

NIM 3.32.12.3.12

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2015

Halaman Judul

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Regulator 78xx ini
sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada
Bapak Ilham Sayekti, S.T., M.Kom selaku Dosen Teknik Elektronika yang telah memberikan
tugas ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Transisitor Sebagai Saklar. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami
harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

ii

Daftar isi
Halaman Judul .......................................................................................................................................... i
Kata Pengantar........................................................................................................................................ ii
Daftar isi ................................................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan ................................................................................................................................. 1
1.2

Latar Belakang......................................................................................................................... 1

1.3

Tujuan Dan Manfaat ............................................................................................................... 3

Bab II Pembahasan ................................................................................................................................. 4


2.1 Pengertian Transisitor ................................................................................................................... 4
2.2 Pengertian Transisitor Sebagai Saklar ........................................................................................... 5
Bab III Penutup ..................................................................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................................. 12
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 12

iii

Bab I Pendahuluan
1.2 Latar Belakang
Sejarah transistor pada awalnya di temukan oleh William Shockley dan John Barden pada
tahun 1948. Transistor awal mulanya di pakai dalam praktek pada tahun 1958. Pada saat ini
ada dua jenis tipe transistor, yaitu transistor tipe P N P dan transistor jenis N P N. Dalam
rangkaian difital, transistor di gunakan sebagai saklar untuk kecepatan tinggi. Beberapa
transistor juga dapat di rangkaian sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate,
memory dan komponen lainnya.
Kebanyakan ahli sejarah mengira bahwa dunia elektronika dimulai ketika Thomas Alpha
Edison menemukan bahwa filamen panas memancarkan elektron (1883). Untuk merealisasi
nilai komersial dari penemuan Edision, Fleming mengembangkan dioda hampa (1904).
Deforest menambahkan elektroda ketiga untuk mendapatkan trioda hampa (1906). Sampai
1950, tabung hampa mendominasi elektronik; mereka digunakan dalam penyearah, penguat,
osilator, modulator, dan lain-lainnya.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan berkurangnya penggunaan tabung hampa dimasa
sekarang ini. Hal ini dapat dilihat dari perbedaannya yang sangat mencolok jika dibandingkan
dengan transistor begitu pula dengan kelebihan dan kekurangannya.
Perbedaan tabung hampa dengan transistor adalah sebagai berikut:
1. Pada tabung hampa:
Tabung hampa mempunyai fisik besar dan kurang praktis.
Tabung hampa mempunyai tiga kaki yang terdiri dari Anoda, Katoda, dan Kasa kemudi.
Tabung hampa banyak terbuat dari kaca sehingga rangkaian di dalamnya tampak dengan nyata.
Tabung hampa tidak tahan terhadap goncangan. Memerlukan Tegangan atau energi yang cukup
besar.
1

2. Pada transistor:
Bentuk fisik kecil dan praktis.
Transistor mempunyai tiga kaki yan terdirti dari: Basis, Kolektor, dan Emitor.
Rangkaian dalam transistor tak kelihatan dari luar karena terbungkus plat atau mika.
Transistor than terhadap goncangan.
Transistor hanya membutuhkan tegangan atau energi listrik yang minimum, hanya kira-kira
beberapa volt saja.
Sejak ditemukannya transistor maka terjadilah revolusi di dalam dunia elektronika, karena
transistor memiliki keuntungan yang lebih dibanding tabung hampa. Namun pada dasarnya,
antara tabung hampa dengan transistor hampir sama dengan tabung elektroda atau tabung
elektron. Persamaan ialah pada kakinya sebagai berikut:
Katoda = Emitor
Anoda = Kolektor
Kasa kemudi = Basis
Transistor daya memiliki karakteristik kontrol untuk menyala dan mati. Transistor digunakan
sebagai elemen saklar, dioperasikan dalam wilayah satu rasi, menghasilkan dalam drop
tegangan kondisi on yang rendah. Kecepatan pensaklaran transisitor modem lebih tinggi
daripada thyristor dan transisitor secara normal digunakan dalam aplikasi daya rendah sampai
menengah.
Pada umumnya transisitor berfungsi sebagai suatu switching (kontak on-off). Adapun kerja
transistor yang berfungsi sebagai switching ini, selalu berada pada daerah jenuh (saturasi) dan
daerah cut off.

1.3 Tujuan Dan Manfaat


Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memberikan informasi mengenai
karakteristik dan penerapan transisitor sebagai saklar
Manfaat nya adalah agar Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan karakteristik dari
transistor sebagai saklar

Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian Transisitor
Pengertian Transistor adalah komponen elektronika terbuat dari alat semikonduktor yang
banyak di pakai sebagai penguat, pemotong (switching), stabilisasi tegangan, modulasi
sinyal dan masih banyak lagi fungsi lainnya. Pengertian Transistor pada alat
semikonduktor mempunyai 3 elektroda (triode), yaitu dasar (basis), pengumpul
(kolektor) dan pemancar (emitor).
Pada dasarnya transistor juga memiliki banyak kegunaan, salah satunya adalah berfungsi
semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya
(FET) memungkinkan mengalirkan arus listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber
listriknya. Tegangan yang memiliki satu terminal contohnya adalah Emitor yang dapat
di pakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar dari pada input basis.
Dalam sebuah rangkaian analog, komponen transistor dapat di gunakan dalam penguat
(amplifier). Komponen yang terdapat dalam rangkaian analog antara lain pengeras suara,
sumber listrik stabil dan penguat sinyal radio. Jadi pengertian transistor dapat di bilang
sebagai pemindahan atau peralihan bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada
suhu tertentu.
Pengertian transistor merupakan komponen yang sangat penting dan di perlukan untuk
sebuah rangkaian elektronika. Tegangan yang terdapat pada transistor merupakan
tegangan satu terminal, misalnya emitor yang dapat di pakai untuk mengatur arus dan
tegangan inputnya, memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit
sumber listriknya.
Cara kerja transistor hampir mirip dengan cara kerja resistor, yang juga memiliki tipe
tipe dasar yang modern. Pada saat ini ada 2 tipe dasar transistor modern, yaitu tipe
4

Bipolar Junction Transistor (BJT) dan tipe Field Effect Transistor (FET) yang memiliki
cara kerja berbeda beda tergantung dari kedua jenis tersebut.

2.2 Pengertian Transisitor Sebagai Saklar


Transistor Sebagai Saklar maksudnya adalah penggunaan transistor pada salah satu kondisi
yaitu saturasi dan cut off. Pengertiannya adalah jika ada sebuah transistor berada dalam
keadaan saturasi maka transistor tersebut akan seperti saklar tertutup antara colector dan emiter,
sedangkan apabila transistor dalam keadaan cut off transistor tersebut akan berlaku seperti
saklar terbuka.
Pengertian dari Cut off adalah kondisi transistor di mana arus basis sama dengan nol, arus
output pada colector sama dengan nol, sedangkan tegangan pada colector maksimal atau sama
dengan tegangan supply. Saturasi adalah kondisi di mana transistor dalam keadaan arus basis
adalah maksimal, arus colector adalah maksimal dan tegangan yang di hasilkan colector-emitor
adalah minimal.
Apabila terdapat rangkaian transistor sebagai saklar banyak menggunakan jenis transistor
NPN, maka ketika basis di beri tegangan tertentu. Transistor akan berada dalam kondisi ON,
sedangkan besar tegangan pada basis tergantung dari spesifikasi transistor itu sendiri. Dengan
cara mengatur bias sebuah transistor menjadi jenuh, maka seolah akan di dapat hubungan
singkat antara kaki colector dan emitor.
Terminal basis akan dengan cepat mengontrol arus yang mengalir dari colector menuju
emitor. Arus yang di hasilkan dari tegangan input akan menyebabkan transistor saturasi
menjadi saklar tertutup, akibat dari kejadian ini arus akan mengalir dari colector ke emitor.
Pada saat kondisi tegangan colector emitor mendekati 0 volt.
Sebaliknya jika tegangan transistor sebagai saklar tidak di berikan arus tegangan, maka
transistor akan berada dalam kondisi Cut off dan terminal colector emitor terputus seolah
5

sakalar menjadi terbuka. Akibat dari pemutusan ini arus tidak akan mengalir dari colector
menuju emitor. Dalam kondisi ini tegangan yang di hasilkan akan maksimal.
Kalau misalkan transistor di pakai hanya pada dua titik, yaitu titik putus dan titik saturasi, maka
transistor akan di pakai sebagai saklar. Daya yang di serap oleh dua titik ini sangat kecil, tetapi
dalam keadaan aktif daya yang di serap transistor akan lebih besar. Sebab pemakaian yang
mana menggunakan arus lebih besar harus di upayakan agar daerah yang di lewati aktif,
sehingga transistor tidak menjadi terlalu panas.

Gambar 2.1. Rangkaian Transistor Sebagai Saklar


Salah satu fungsi dari rangkaian transistor emitor bersama adalah sebagai saklar seperti pada
gambar 2.1, yang bekerja pada dua daerah kerja yaitu daerah jenuh (saturasi) dan daerah mati
(cut-off), grafik terlihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Kurva Karakteristik Luaran Transistor


Jika = 0, maka I = 0 dan I = 0, pada kondisi ini transistor pada kondisi tidak
menghantarkan arus I atau dengan kata lain kondisi saklar terbuka (OFF). Analogi transistor
ketika OFF seperti pada gambar 2.3 berikut.

Analog dengan

Gambar 2.3. Analogi Transistor OFF

Daerah yang diarsir biru adalah daerah cut-off. Pada saat cut-off kondisi transistor adalah arus
output pada kolektor mendekati dengan nol, tegangan pada kolektor maksimum atau sama
dengan tengangan sumber dan arus basis mendekati nol.
Pada saat saturasi kondisi transistor adalah arus basis maksimal (I = max) sehingga
menghasilkan arus kolektor maksimum ( = ) dan tegangan kolektor emitor minimum
( = 0).

Analog dengan

Gambar 2.4. Analogi Transistor ON


Pada saat kondisi saturasi, sambungan Basis Emittor mendapat bias maju yang membuat
mengalir cukup besar yang menyebabkan saturasi seperti pada persamaan 2.1, sehingga :

()

()
. (2.1)

Jika nilai pada saat saturasi sangat kecil (0,2 sampai dengan 0,3 V) sehingga dapat
diabaikan, maka arus dapat dihitung dengan melihat persamaan 2.2:
()

(2.2)

Adapun minimum yang diperlukan untuk membuat saturasi pada persamaan 2.3 berikut:

(min)

()
(2.3)

Secara signifikan harus lebih besar dari (min) untuk membuat transistor dalam keadaan
saturasi. Dari rangkaian gambar untuk menghitung nilai diperoleh persamaan 2.4 sebagai
berikut :

(2.4)

pada kondisi saturasi (jenuh) dapat dinaikkan, tetapi tidak dapat menaikkan . Pada
kondisi ini, diperoleh persamaan 2.5 dan 2.6 sebagai berikut:

0 (kecil) (2.5)

2.6)

Keterangan :

= Penguatan transistor (kali).

= Arus pada basis (Ampere)

= Arus pada kolektor (Ampere)

= Tegangan pada kolektor (Volt)


= Tegangan pada kolektor emitor (Volt)

= Hambatan pada basis (Ohm)

= Hambatan pada kolektor (Ohm)

Sebagai contoh, kita memiiliki lampu yang akan kita kendalikan (ON/OFF) dengan sebuah
saklar. Maka rangkaian sederhananya seperti yang terlihat pada gambar di bawah (a).
Sebagai ilustrasi, mari kita ganti saklar tersebut dengan sebuah transistor agar terlihat
bagaimana transistor dapat mengontrol aliran elektron melalui lampu. Harap diingat bahwa
arus yang mengalir melalui transistor harus berada diantara kolektor dan emitor, karena arus
itu lah yang mengalir kelampu dan yang akan kita kontrol, kita harus memposisikan kolektor
dan emitor dimana dua kontak saklar sebelumnya berada. Kita juga harus memastikan bahwa
9

arus lampu akan bergerak melawan arah anak panah emitor untuk memastikan bahwa bias
penyimpangan transistornya benar seperti yang terlihat pada gambar (b).

mechanical switch (a) NPN transistor switch (b) PNP transistor switch (c)
Transistor PNP juga dapat digunakan sebagai saklar, pernerapannya seperti yang terlihat pada
gambar di atas (c).

Penggunaan tipe transistor antara NPN dan PNP tidak dipermasalahkan, yang penting adalah
pembiasan arah arusnya benar (elektron mengalir melawan arah anak panah transistor).

Kembali ke transistor NPN dalam contoh rangkaian, kita dihadapkan dengan kebutuhan
untuk menambahkan komponen sehingga kita dapat memiliki arus basis. Jika basis tidak
memiliki input, maka arus basis akan selalu nol dan transistor tidak akan aktif, lampu pada
rangkaian pun tidak akan menyala. Harus diingat bahwa untuk transistor NPN, arus basis
harus terdiri dari elektron-elektron yang mengalir dari emitor ke basis (berlawanan arah
dengan simbol anak panahnya, seperti arus lampu). Mungkin hal yang paling sederhana yang
harus dilakukan adalah memasang saklar antara kaki basis dan kaki kolektor seperti yang
terlihat pada gambar di bawah (a).

10

Transistor: (a) cut off; lamp off, (b) saturated; Lamp on

Jika saklar dalam keadaan terbuka seperti gambar di atas (a), kaki basis transistor dibiarkan
menggantung atau tidak terhubung pada apapun dan tidak akan ada arus yang melaluinya.
Dalam keadaan ini, transistor dikatakan terpotong (cut off). Jika saklar ditutup seperti yang
terlihat pada gambar di atas (b), elektron akan dapat mengalir dari emitor ke basis, melalui
saklar dan naik ke sisi kiri lampu. Dalam keadaan ini, arus rangkaian menjadi maksimum dan
transistor berada di titik jenuhnya.
Mungkin anda berpikir bahwa rangkaian di atas terlihat sia-sia, menggunakan transistor untuk
mengendalikan lampu yang pada akhirnya anda masih membutuhkan saklar, benar kan???
Jika kita masih menggunakan saklar untuk mengontrol lampu lalu apa gunanya transistor
mengendalikan arus? Kenapa tidak kembali saja ke rangkaian originalnya dan menggunakan
saklar langsung untuk mengendalikan arus lampu?
Dua hal yang dapat disimpulkan dari rangkaian ilustrasi di atas adalah sebagai berikut:
1. Transistor hanya memerlukan arus basis yang relatif rendah agar ON dan transistor
dapat mengangkat arus beban (lampu) yang relatif lebih besar. Ini bisa menjadi
keuntungan karena kita bisa menyalakan lampu yang arusnya besar menggunakan
transistor yang kebutuhan arusnya kecil.
2. Dengan transistor kita dapat mengaplikasikan rangkaian kontrol lampu dengan cara
yang berbeda dari kontrol lampu yang hanya menggunakan saklar. Pertimbangkan
gambar di bawah. Sepasang sel surya (solar cell) menyediakan 1 volt untuk mengatasi
0,7 VBE transistor agar arus basis mengalir yang kemudian mengontrol lampu.

11

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan
Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya
didalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah
basis dan daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor
memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan
basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang
yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau
disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias
maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat
tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan
kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara
cepat.

3.2 Saran
Saran saya pada teman teman setelah membaca makalah ini yang berjudul Transistor sebagai
saklar, Teman teman dapat mempelajari Transistor yang di bahas dalam makalah ini,
Kemudian jika ada salah dalam penulisan, saya atas selaku penulis minta maaf sebesar
besarnya.

12