Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI2051)

PERCOBAAN 8: UJI TRITERPEN DAN STEROID

Nama

: Cintya Nursyifa J. S.

NIM

: 11214007

Nama asisten

: Nadya P. N.

NIM asisten

: 10511008

Tanggal praktikum

: 21 Oktober 2015

Tanggal pengumpulan

: 28 Oktober 2015

Kelompok

:1

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

PERCOBAAN 8: UJI TRITERPEN & STEROID

1.

Tujuan Percobaan
1.1 Menentukan golongan suatu sampel tumbuhan ke dalam triterpen atau steroid.
1.2 Menentukan nilai Rf dari suatu sampel triterpen atau steroid.

2.

Dasar Teori
2.1 Triterpen
Hidrokarbon yang dikenali sebagai terpen dan senyawa yang mengandung oksiden
yang disebut terpenoid adalah unsur yang paling pokok dari minyak yang esensial.
Sebagian besar terpen memiliki rangka dengan 10, 15, 20, atau 30 atom karbon yang
berturut-turut diklasifikasikan ke dalam monoterpen, sesquiterpen, diterpen, dan
triterpen. (Solomon: 2011). Sebagai perbandingan triterpen dan senyawa terpen lainnya,
berikut tabel senyawa terpen dan keterangannya:
Berikut tabel senyawa terpen berserta keterangannya:
Tabel 1 Senyawa Terpenoid dan Keterangannya
No.
1.

2.

Senyawa

Sumber alam

Fungsi

Kegunaan

Monoterpen
Champor

Kamfer

Anti bakteria

Bahan pembuat pasta gigi

Sineol

Kayu putih

Espektoran

Penghangat tubuh

Thymol

Thymae

Anti bakteria

Penghilang bau badan

Bunga

Bahan

Matricia

spasmodik, anti merilekskan otot

Sesquiterpenoid
Chamomile

anti Mengatasi

kram

dan

inflamasi,
anodyne
3.

Triterpen
Cucubitans

Cucubita

azadirachtin

foctidissima
4.

Penolak

nafsu

akan

material

bagi

serangga

Politerpen
Lateks

Pohon karet

Penyusun

Bahan

material elastik

perangkat elastis

Triterpenoid adalah senyawa metabolid sekunder yang kerangka karbonnyaberasal dari enam
satuan isoprena dan diturunkan dari hidrokarbon C 30 asiklik,yaitu skualena (Widiyati:
2005). Sedangkan, steroid merupakan senyawa yang memiliki kerangka dasar
triterpenaasiklik

yang dibiosintesis

yaitupengubahan asam asetat

melalui

asam

mevalonat danskualen (suatu triterpenoid) menjadi lanosterol dan sikloartenol (Lenny:


2006). Triterpenoid merupakan suatu senyawa yang memiliki kerangka dasar yang terdiri
dari enam unit satuan isoprene dan dalam biosintesis diturunkan dari C3O asiklik yaitu
skualen. Triterpenoid merupakan golongan terbesar dari terpenoid dan tersebar luas
dalam tumbuhan dan hewan. Dialam triterpen terdapat dalam bentuk bebas, bentuk encer
atau bentuk glikosidanya (Ridnia: 2013). Sebagai suatu produk dari metabolism
(metabolit) sekunder dari organisme hidup, khususnya tumbuhan. Senyawa golongan ini
dapat ditemukan pada berbagai bagian dalam tumbuhan seperti, akar, batang, dan daun.
Triterpenoid berstruktur siklik yang rumit, kebanyakan merupakan alkohol, aldehida
atau asam karboksilat. Senyawa triterpenoid berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh
tinggi dan aktif optik yang umumnya sukar dicirikan karena tidak ada kereaktifan
kimianya. Triterpenoid dapat digolongkan menjadi triterpen sebenarnya, steroid, saponin
dan glikosida jantung (Harbone: 2006).
2.2 Steroid
Berbagai bagian dari lipid didapatkan dari tanaman dan hewan yang mengandung
senyawa penting lainnya yaitu steroid. Steroid adalah regulator biologis yang penting
yang hampir selalu muncul dalam efek fisiologi yang dramatis ketika senyawa-senyawa
tersebut terkandung dalam organisme hidup. Di antara senyawa-senyawa penting tersebut
terdapat hormon seksual pria dan wanita, hormone adrenokortikal, vitamin D, asam
empedu, dan racun bagi jantung tertentu. Steroid adalah derivatif dari suatu sistem cincin
perhidrosiklopentanofenantrena. (Solomon: 2011)
Steroid merupakan massanger kimia atau juga dikenal sebagai hormon. Steroid
disintesis didalam kelenjar dan dihantarkan oleh aliran darah ke jantung target untuk
merangsang atau menghambat suatu proses. Steroid bersifat non polar, karakter non
polarnya memungkinkannya untuk melewati membran sel dan memasuki sel target.
Semua steroid berasal dari jalur biosintesis asetil co-A. Ribuan steroid telah
diidentifikasi dari tanaman, hewan, fungi dan kebanyakan dari steroid ini mempunyai
aktivitas biologik yang menarik. Semua steroid paling sedikit memiliki gugus metil
pada posisi C-10 dan C-13 dimana metil-metil ini disebut sebagai metil angular.
Beberapa dari steroid memiliki hidroksil alkoholik yang terikat pada cincin dan dikenal
sebagai sterol (Sarker: 2009). Berikut tabel senyawa steroid dan keterangannya:

Tabel 2. Senyawa Steroid dan Keterangannya

No.

Senyawa

Sumber alam

Fungsi

Kegunaan

1.

Ergosterol

Ragi dan jamur

Supporter cell

Penyusun membran

2..

Asam kolat

Saluran empedu

emulsifier

Mengemulsi lemak

3.

Testosteron

Sel kelamin pria

Anabolic agent

Relaksasi otot

4.

Kolesterol

Sel otak/STB

Unsur pokok

Penyusun berbagai hormon

batu empedu
5.

Progesteron

Sel kelamin

Regulasi

Mempersiapkan implantasi

wanita
6.

Estrogen

sel pada rahim

Sel kelamin

Regulasi siklus

wanita

Membantu proses
perkembangan sekunder

Kandungan terpenoid atau steroid dalam tumbuhan dapat diuji dengan menggunakan
metode Liebermann-Bucchard yang nantinya akan memberikan warna jingga atau ungu
untuk terpenoid dan warna biru untuk steroid. Uji ini didasarkan pada kemampuan
senyawa triterpenoid dan steroid membentuk warna oleh adanya H2SO4 pekat dalam
pelarut asetat glasial sehingga membentuk warna jingga. (Marlinda: 2012).

3.

Data Pengamatan
Identitas sampel tumbuhan

: Serai/sereh wangi (Andropogon citrates DC)

3.1 Tabel Uji Lieberman-Burchard


SAMPEL

HASIL PENGUJIAN

Ekstrak serai

Membentuk warna merah keunguan lemah (+2)

3.2 Tabel Uji Busa


SAMPEL
Bagian yang tak larut

HASIL PENGUJIAN
Tinggi busa 1-2 cm (+1)

3.3 Hasil KLT


Sampel

Jarak Tempuh Noda

Jarak Tempuh Pelarut dari Batas Bawah

Serai

3 cm

4 cm

4. Perhitungan
Rf =

= 0.75

5. Pembahasan
Pengidentifikasian suatu senyawa triterpenoid dan steroid dapat digunakan uji
Liebermann-Bucchard. Prinsipnya, dalam uji Liebermann-Bucchard digunakan campuran
asam anhidrida asetat dan asam sulfat pekat sebagai reagennya untuk dihasilkan turunan
asetil. Produk yang dihasilkan dari reaksi tersebut menghasilkan panjang gelombang yang
beragam, sari hijau(steroid) hingga ungu (triterpenoid). Penambahan asam anhidrida asetat
bertujuan menyerap air dan mempermudah reaksi penambahan asam sulfat (oksidasi). Hal ini
bertujuan menghindari penggunaan air dalam reaksi, reaksi ini tidak dapat berjalan jika
terdapat kontaminan air.
Berdasarkan literature triterpenoid dan steroid teridentifikasi dengan munculnya warna
ungu terang hingga merah muda yang kuat yang merupakan warna dari kompleks yang
dihasilkan. Adapun persamaan reaksi yang terjadi pada uji Liebermann-Burchard adalah
sebagai berikut:

(hijau kebiruan)

Gambar 1. Persamaan Reaksi Uji Lieberman-Burchard


Berdasarkan literartur, serai mangandung triterpen yang akan teridentifikasi dengan
menghasilkan warna ungu hingga merah muda sedangkan steroid menunjukkan warna hijau
kebiruan. Hasil identifikasi kelompok kami, menunjukkan uji positif teriterpen dengan warna
merah keunguan (+2), identifikasi ini menunjukkan kesamaan dengan literatur.

Triterpen dan steroid adalah satu senyawa saponin namun berbeda dalam keasaman.
steroid menunjukkan sifat saponin netral, dan triterpen menunjukkan sifat saponin asam
berdasarkan literature. Prinsipnya adalah, pemberian air dan perlakuan mekanik dengan
mengocok

larutan

pada

tabung

reaksi

dilakukan

guna

mendeteksi

komponen lipida polar yang bersifat ampifilik (gugus hidrofilik dan hidrofobik). Selama
proses ini akan terbentuk misel dari lipida yang terdispersi dengan ekor hidrofilik yang
berkenaan langsung dengan fasa cair dan memberntuk buih. Mekanisme tersebut dapat
ditunjukkan dengan gambar berikut:

Gambar 2. Reaksi Uji Saponin dalam Air (Marliana : 2005)


Hasil busa yang didapatkan adalah setinggi 1-2 cm dikategorikan dengan nilai +2, karenaserai
mengandung triterpen berarti serai digolongkan pula saponin asam.
Pada KLT (kromatografi lapis tipis) dengan eluen kloroform:metanol (8:2) yang
dilakukan pada sampel tersebut didapatkan nilai Rf 0,75. Tidak ada noda pembanding,
sehingga tidak dapat ditentukan range kepolaran terpenoid. Kepolaran dapat ditaksir melalui
eluen dan plat, yaitu dengan Rf yang lebih dari 0,5 menunjukan senyawa terpenoid berada
pada bagian atas plat, yaitu tertarik lebih kuat pada eluen. Sehingga range kepolaran adalah :
pelat KLT< senyawa alkaloid < eluen. Selain itu hanya didapatkan 1 noda pada pelat
menandakan bahwa senyawa tersebut murni 1 jenis terpenoid.

6. Kesimpulan
6.1 Sampel tumbuhan (serai) tergolong kedalam senyawa terpenoid.
6.2 Nilai Rf sampel terpenoid dari serai adalah 0,75

7. Daftar pustaka
Harbone, J.B. 200. Metode Fitokimia. Penerbit ITB : Bandung
Lenny, Sovia. 2006. Senyawa Terpenoida dan Steroida. Medan : Universitas Sumatera
Utara.
Marliana, Doerya Dewi. 2005. Skrining Fitiokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis
Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechium jaca Swartz) dalam Ekstrak Etanol. Jurnal
Biologi FMIPA UNS Voume 3 Nomor 1
Marliana, S., Suryanti, Suyono, 2005, Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi
Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule Jacq. Swartz.) dalam
Ekstrak Etanol, Surakarta: Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Sebelas
Minhatun, Nafisah, dkk. 2014. Uji Skrining Fitokimia pada Ekstrak Heksan, Kloroform
dan Metanol dari Tanaman Patikan Kebo(Euphorbiae hirtae), Prosiding Seminar
Nasional Kimia. Surabaya
Sarker, S. 2009. Kimia Untuk Mahasiswa Farmasi. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Solomons, T.W. Graham., Fryhle, Craig B. 2011. Organic Chemistry Tenth Edition. New
Jersey. John Wiley & Sons, Inc.
Widiyati, Eni. 2005. Penentuan Adanya Senyawa Triterpenoid dan Uji Aktivitas Biologis
pada Beberapa Spesies Tanaman Obat Tradisional Masyarakat Pedesaan Bengkulu.
Jurnal Gradien Vol.2 No.1 Januari 2006 : 116-122

Anda mungkin juga menyukai