Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.1.1 Fenomena ruang publik
Ruang dalam istilah umum yang didefinisikan sebagai tempat manusia baik individu
maupun berkelompok melalukan aktivitas, yang sering dipahami oleh banyak orang memiliki
batas fisik, sehingga keberadaannya dipahami dengan jelas dan mudah. Ruang terbagi atas
ruang dalam (interior) dan ruang luar (eksterior). Ruang terbuka publik merupakan salah satu
jenis ruang luar. Secara kefungsian, istilah ruang terbuka publik di kalangan masyarakat
umum memiliki arti yang sama dengan ruang publik, yaitu ruang luar yang biasanya
digunakan secara bebas oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas dan berinteraksi sosial.
Ruang publik atau ruang terbuka publik pada pusat kota biasanya digunakan sebagai pusat
wadah aktivitas luar bagi masyarakat.
Saat ini ruang terbuka publik menjadi salah satu elemen kota yang selalu mengalami
perkembangan akan isu dan fenomena yang terjadi. Seiring dengan perkembangan dan
pertumbuhan penduduk kota, ketersediaan tempat tinggal dan wadah untuk berkegiatan akan
semakin sempit. Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012 menyebutkan
bahwa kepadatan penduduk Indonesia mencapai sekitar 135 jiwa/km2, dibandingkan dengan
kepadatan penduduk pada tahun 2010 yang hanya 125 jiwa/km2. Penyediaan lahan untuk area
terbuka publik pun sering dibatasi atau malah diabaikan. Dalam UU No. 26 Tahun 2007
tentang

Penataan

Ruang

dan

Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

No.

05/PRT/M/2008 disyaratkan luas RTH minimal 30% dari luas wilayah (negara, provinsi,
kota/kabupaten), sedangkan ruang terbuka hijau publik minimal adalah 20% dari luas
wilayah. Namun pada kenyataannya, hanya kurang lebih 10% hingga 20% dari keseluruhan
luas perkotaan yang dapat dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau, yang artinya fakta luas
RTH publik juga kurang memenuhi. Dari data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa area
terbuka publik saat ini masih kurang memenuhi kebutuhan manusianya dalam hal
penggunaan sarana tersebut. Pada akhirnya, penggunaan area terbuka publik yang sudah ada
saat ini menjadi kurang teratur. Penggunaan ruang publik yang fungsinya telah ditetapkan
oleh pemerintah daerah maupun kota akhirnya tidak sesuai lagi dengan apa yang ada di
lapangan. Kepadatan penduduk ini berdampak pula pada tuntutan masyarakat itu sendiri
1

dalam memenuhi kebutuhannya yang beragam di tengah sempitnya lahan yang disediakan.
Dampak lain dari permasalahan tersebut ialah masalah terbentuknya pola-pola ruang aktivitas
yang ditimbulkan akibat dari tuntutan akan pemenuhan terhadap aspek kehidupan secara
kompleks oleh masing-masing individu, seperti kebutuhan akan sarana sosial dan rekreatif,
sarana untuk mencari nafkah (ekonomi), serta kebutuhan-kebutuhan lain apapun yang dapat
dilakukan di ruang publik tersebut, tergantung tingkat kebutuhan penggunanya serta adanya
potensi sekitar kawasan yang dapat berpengaruh.

1.1.2 Ruang publik Taman Bungkul di Kota Surabaya


Kota Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur dan merupakan kota
terbesar ke dua setelah kota Jakarta. Sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia,
Surabaya memiliki latar budaya dan sosial yang beragam, baik budaya lokal Surabaya itu
sendiri, hingga budaya luar lokal yang dapat menciptakan karakter sosial-budaya Surabaya
itu sendiri. Oleh karena itu, Kota Surabaya juga memiliki beragam sejarah yang
melatarbelakangi terbentuknya karakter tersebut. Ruang publik merupakan salah satu tempat
yang dapat merefleksikan latar budaya dan sosial masyarakat penggunanya. Di kota Surabaya
sendiri, pengadaan taman sebagai ruang publik telah banyak dikembangkan, dengan harapan
bahwa taman-taman tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga sebagai sarana
sosial dan rekreasi.
Kawasan Taman Bungkul Surabaya adalah salah satu kawasan publik yang
didalamnya mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat yang datang mengunjunginya.
Sebagai salah satu ruang terbuka publik, Taman Bungkul mewadahi berbagai macam
aktivitas sosial dan budaya masyarakatnya. Setelah Taman Bungkul direvitalisasi oleh
Pemkot Surabaya pada tahun 2007 dengan mengusung tema education, entertainment dan
sport, taman tersebut menyediakan berbagai fasilitas atau sarana yang bersifat rekreatif
seperti arena skate-board, playground dan amphitheater terbuka serta didukung dengan
adanya akses wifi atau hotspot, Taman Bungkul menjadi ruang publik yang dapat
menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Taman Bungkul awalnya dibangun karena
adanya makam tokoh sejarah seperti Ratu Kamboja, Ratu Campa, Tumenggung Jayengrono
dan Ki Ageng Supo (Mbah Bungkul yang kini dipakai sebagai nama taman). Keberadaan
Taman Bungkul yang pada awalnya berupa hutan belantara, dahulu merupakan tempat untuk
refleksi diri.

Saat ini, Taman Bungkul menjadi tempat wisata yang terbagi menjadi dua, yaitu
wisata religi makam Mbah Bungkul yang berada di bagian belakang dan wisata rekreatif
Taman Bungkul itu sendiri yang berada di bagian depan yang difungsikan sebagai taman
rekreasi dan olah raga masyarakat sekitar. Makam Mbah Bungkul sendiri terdiri atas satu
bangunan masjid dan pusara-pusara di samping masjid. Selain itu juga terdapat beberapa
bangunan rumah warga yang berada di sepanjang koridor jalan masuk menuju area makam
dan

masjid.

Kegiatan

penunjang

seperti

PKL

juga

terdapat

di

sekeliling

makam Mbah Bungkul. Karakter bangunan yang terdapat didalamnya merupakan bangunan
yang bercirikan bangunan Islam dengan dilengkapi gapura pada pintu masuknya. Menurut
Faber (1991), ornamen-ornamennya juga mencirikan bangunan asal dari pembawa Islam di
Pulau Jawa yang diadaptasikan dengan arsitektur Hindu Jawa yang terlihat pada gerbang
masuk makamnya. Inilah yang menjadi bukti bahwa Taman Bungkul telah ada sejak zaman
kerajaan Hindu berada di tanah Jawa. Bukti lain sejarah eksistensi Taman Bungkul juga
dikemukakan oleh Navitas (2011), bahwa Taman Bungkul sekitar tahun 1800-an hingga
1900-an dikenal sebagai kampung yang bernama Desa Bungkul. Setelah itu, pada tahun 1920
di bawah pemerintahan Belanda, kampung tersebut digusur dan hanya menyisahkan sepetak
lahan dan makam yang hingga kini dikenal sebagai Taman Bungkul. Dilihat dari latar
sejarahnya, maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi Taman Bungkul yang sampai saat ini
adalah dikarenakan oleh keberadaan makam tersebut. Sebagai salah satu tokoh penyebar
agama Islam di Surabaya, makam Mbah Bungkul juga memiliki potensi sebagai kawasan
wisata religi.

1.1.3 Fenomena pemanfaatan ruang di Taman Bungkul sebagai ruang publik


Dalam fenomenanya, Taman Bungkul saat ini masih terkesan kurang menyelaraskan
kawasan sosial-rekreatif dengan kawasan religi Makam Mbah Bungkul. Hal ini terlihat dari
intensitas pengunjung baik di area sosial-rekreatifnya maupun pada area makam Mbah
Bungkul yang sama banyak. Sebagai salah satu wisata religi bagi masyarakat lokal maupun
dari luar kota, Makam Mbah Bungkul seakan tenggelam oleh modernisasi yang terjadi di
Taman Bungkul itu sendiri. Terlebih setelah taman ini direvitalisasi oleh Pemkot Surabaya
tahun 2007 yang mengusung tema education, entertainment dan sport. Dari hasil survey yang
dilakukan oleh Kurniawanto tahun 2007 dalam menggali pengetahuan masyarakat tentang
Taman Bungkul, diketahui hanya 22% responden yang mengetahui adanya Makam Mbah
Bungkul di belakang Taman Bungkul. Dengan fenomena tersebut, ketimpangan sosial
memang telah terjadi pada ruang aktivitas antara ruang sosial (rekreatif) pada Taman
3

Bungkul itu sendiri dengan ruang religi di kawasan makam Mbah Bungkul. Dapat
disimpulkan bahwa desain Taman Bungkul saat ini masih kurang menjadikan wisata religi
Makam Mbah Bungkul sebagai bagian dari Taman Bungkul.
Permasalahan sosial juga beberapa kali terjadi di taman ini seperti adanya
penggunaan ruang publik taman sebagai tempat asusila (mesum) para pemuda yang seringnya
dilakukan di sekitar area makam, seperti bersandar pada tembok area makam Mbah Bungkul.
Padahal kawasan tersebut sering dikunjungi peziarah, baik dari lokal ataupun luar kota.
Kejadian tersebut kerap mendapat kritikan dari beberapa pihak seperti politisi bahkan Ketua
Pengurus Cabang NU. Hal tersebut juga diperjelas dengan adanya desakan dari Pengurus
Cabang NU kepada Pemkot Surabaya yang menuntut adanya revitalisasi kembali.
Menurutnya, revitalisasi tersebut dimaksudkan semata-mata untuk mencegah perbuatan
asusila, namun bukan berarti revitalisasi tersebut menjadikan kawasan tersebut murni
menjadi kawasan religius. Dalam usulan oleh Pengurus Cabang NU juga tidak akan
mematikan ruang publik yang saat ini sudah ada. Sebab usulan tersebut menitikberatkan pada
redesain kawasan agar bisa menyatu dengan area makam yang ada di dalamnya. Dengan
demikian, tata lingkungan fisik pada Taman Bungkul saat ini hanya mengedepankan
kepentingan taman sebagai sarana sosial-rekreatif saja, tanpa melihat kawasan religi makam
Mbah Bungkul sebagai tonggak sejarah eksistensi taman, yang sebenarnya berpotensi dalam
menciptakan kawasan wisata religi yang dapat berjalan selaras dengan wisata rekreatifnya
dan tanpa adanya ketimpangan sosial dalam pemanfaatan ruang publik kota.

1.2 Identifikasi Masalah


Identifikasi masalah yang muncul di dalam latar belakang adalah:
1. Adanya kecenderungan ketimpangan sosial dalam pemanfaatan ruang publik Taman
Bungkul Surabaya
2. Tata lingkungan fisik Taman Bungkul sebagai ruang publik masih kurang
menyesuaikan pola aktivitas masyarakatnya.

1.3 Rumusan Masalah


Permasalahan yang akan diselesaikan dalam studi ini adalah:
1. Bagaimana kesesuaian antara pola aktivitas sosial dan religi dengan tata lingkungan
fisik pada ruang publik Taman Bungkul Surabaya?
4

2. Bagaimana rekomendasi tata lingkungan fisik Taman Bungkul sebagai ruang publik
kota yang dapat mengakomodasi segala aktivitas sesuai dengan potensi wisata
rekreatif serta religi yang dimiliki?

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam studi ini adalah:
1. Lokasi studi berada di Kawasan Taman Bungkul Surabaya
2. Batasan penelitian ditekankan pada dua aspek yaitu pola ruang aktivitas sosial-religi
dan tata lingkungan fisik kawasan Taman Bungkul Surabaya
3. Pemecahan masalah ditekankan pada pengidentifikasian pola aktivitas yang terjadi
dan tata lingkungan fisik kawasan tersebut yang mempengaruhi elemen fisik kota dan
lansekap pada Kawasan Taman Bungkul (termasuk area makam Mbah Bungkul)

1.5 Tujuan
Adapun tujuan dari studi ini adalah:
1. Mengetahui pola ruang sosial dan religi yang terbentuk di Kawasan Taman Bungkul
Surabaya
2. Mengetahui kesesuaian antara pola ruang aktivitas dengan tata lingkungan fisik pada
kawasan Taman Bungkul Surabaya
3. Memperoleh rekomendasi penataan lingkungan fisik kawasan Taman Bungkul
Surabaya untuk menyeimbangkan potensi kawasan ziarah Makam Mbah Bungkul dan
kawasan taman sosial-rekreatif sebagai kesatuan wisata di Taman Bungkul

1.6 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dengan adanya studi ini adalah:
1. Bagi Akademisi
Dapat memberikan kajian dan sebagai bahan literatur untuk dunia pendidikan,
khususnya perencanaan wilayah dan kota dalam menentukan konsep pemanfaatan
ruang publik di kawasan Bungkul Surabaya sebagai ruang publik yang menunjang
berbagai macam aktivitas di dalamnya.
2. Bagi Pemerintah Kota Surabaya

Dapat sebagai wacana dan pola pikir bagi para perancang kota dan stake holder dalam
mempertimbangkan konsep pemanfaatan ruang publik di kawasan Taman Bungkul
Surabaya sehingga dapat dijadikan bahan masukan.
3. Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi dan wawasan baru mengenai ruang publik yang
mengarah pada hasil yang diperoleh dari identifikasi pola ruang aktivitas sosial dan
religi yang terjadi dan kesesuaiannya dengan tata lingkungan fisik pada kawasan
Taman Bungkul sebagai setting perilakunya.

1.7 Sistematika Penelitian


Adapun sistematika penulisan laporan penelitian ini terdiri dari lima bab yaitu:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai latar belakang penelitian tentang kesesuaian antara pola
aktivitas terjadi di Kawasan Taman Bungkul Surabaya dengan tata lingkungan fisik
kawasannya. Selain itu dalam bab ini juga dibahas terkait permasalahan, maksud,
tujuan dan ruang lingkup penelitian objek studi.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


Bab ini membahas mengenai kajian pustaka yang digunakan sebagai acuan referensi
dalam penelitian. Pada kajian pustaka terdiri dari tinjauan umum yang berisi tentang
tinjauan ruang publik dan ruang terbuka publik, tinjauan pola ruang aktivitas dan
ruang sebagai setting perilaku, tinjauan tata lingkungan fisik serta penelitianpenelitian terdahulu.

BAB III : METODE PENELITIAN


Bab ini membahas tentang metode yang akan digunakan dalam menganalisis
permasalahan yang timbul sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif kualitatif (yang menjabarkan kesesuaian antara
pola aktivitas dan tata lingkungan fisik yang muncul pada ruang publik tersebut).

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN


Bab ini membahas tentang hasil dari penelitian yang dilakukan mengenai kesesuaian
pola aktivitas dan tata lingkungan fisik pada objek studi. Pada kajian hasil dan
pembahasan ini terdiri atas tinjauan umum lokasi studi, kondisi eksisting, hasil
6

analisis, hasil sintesis yang menguraikan hasil olahan data primer (hasil observasi dan
wawancara) dan data sekunder yang mendukung, serta rekomendasi sebagai
pemecahan masalah yang terjadi pada objek studi tersebut.

BAB V : PENUTUP
Bab ini membahas tentang kesimpulan serta saran mengenai hasil dari seluruh
pembahasan pada Bab IV.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Ruang Publik


Ruang publik ialah salah satu elemen kota yang berfungsi sebagai sarana interaksi
sosial bagi masyarakat, kegiatan ekonomi rakyat dan tempat apresiasi budaya. Menurut Anita
(2012), pengertian ruang publik (public spaces) adalah suatu ruang dimana seluruh
masyarakat mempunyai akses untuk menggunakannya. Sebagai salah satu elemen kota, ruang
publik memiliki fungsi utama untuk menampung berbagai aktivitas bersama. Selain itu, peran
ruang publik bagi masyarakat kampung kota sangat penting, selain menyangkut tata ruang
fisik lingkungan, ruang publik juga mengemban fungsi dan makna sosial dan kultural yang
sangat tinggi (Anita dkk., 2012).

Menurut Darmawan (2003), pentingnya fungsi ruang

terbuka publik dalam perencanaan kota adalah sebagai berikut:


1. Sebagai pusat interaksi, komunikasi masyarakat, baik formal maupun informal
2. Sebagai ruang terbuka yang menampung koridor-koridor, jalan yang menuju ke arah ruang
terbuka publik tersebut dan ruang pengikat dilihat dari struktur kota, sekaligus sebagai
pembagi ruang-ruang fungsi bangunan di sekitarnya.
3. Sebagai tempat pedagang kaki lima
4. Sebagai paru-paru kota yang dapat menyegarkan kawasan tersebut.
Berdasarkan pelingkupannya, menurut Carmona, dkk (2003), ruang publik dapat
dibagi menjadi beberapa tipologi antara lain :
1. External public space
Ruang publik jenis ini biasanya berbentuk ruang luar yang dapat diakses oleh semua orang
(publik) seperti taman kota, alun-alun, jalur pejalan kaki, dan lain sebagainya.
2. Internal public space
Ruang publik jenis ini berupa fasilitas umum yang dikelola pemerintah dan dapat diakses
oleh warga secara bebas tanpa ada batasan tertentu, seperti kantor pos, kantor polisi,
rumah sakit dan pusat pelayanan warga lainnya.
3. External and internal quasi public space

Ruang publik jenis ini berupa fasilitas umum yang biasanya dikelola oleh sektor privat dan
ada batasan atau aturan yang harus dipatuhi warga, seperti mall, diskotik, restoran dan lain
sebagainya.
Sedangkan menurut Brodin (2006), berdasarkan proses pembentukannya, ruang
publik terbagi atas:
a. Ruang Publik Metafora (Metaforic Public Space)
ruang publik ini dimaknai tidak menurut perwujudan fisiknya atau fungsi, tetapi menurut
bagaimana peranan ruang tersebut. Ruang terbentuk dalam konteks sosial yaitu dari proses
komunikasi antar manusia.
b. Ruang Publik Harfiah (Literal Public Space)
ruang publik ini dimaknai langsung sesuai sifat fungsional dan pelingkup fisiknya. Brodin
(2006) juga mengungkapkan bahwa ruang publik harfiah tidak terbentuk berdasarkan
aktivitas atau proses komunikasi yang terjadi, melainkan karena adanya akses.
Menurut Hakim (1987), berdasarkan sifatnya, ruang publik diklasifikasikan menjadi
2 yaitu:
a. ruang publik tertutup, yaitu ruang publik yang terdapat di dalam bangunan
b. ruang publik terbuka, yaitu ruang publik yang berada di luar bangunan, juga dapat disebut
sebagai ruang terbuka (open space)

2.1.1 Kriteria ruang publik


Menurut Carr dalam Anita dkk (1992:19) terdapat tiga kualitas utama sebuah ruang
publik, yaitu:
a. tanggap (responsive), berarti bahwa ruang tersebut dirancang dan dikelola dengan
mempertimbangkan kepentingan para penggunanya.
b. demokratis (democratic), berarti bahwa hak para pengguna ruang publik tersebut
terlindungi, pengguna ruang publik bebas berekspresi dalam ruang tersebut, namun tetap
memiliki batasan tertentu karena dalam penggunaan ruang bersama perlu ada toleransi
diantara para pengguna ruang.
c. dan bermakna (meaningful), berarti mencakup adanya ikatan emosional antara ruang
tersebut dengan kehidupan para penggunanya.

Menurut Carr dalam Carmona (2003), ruang publik akan berperan secara baik jika
mengandung unsur antara lain:
a. Comfort
Merupakan salah satu syarat mutlak keberhasilan ruang publik. Lama tinggal seseorang
berada di ruang publik dapat dijadikan tolok ukur kenyamanan ruang publik. Dalam hal ini
kenyamanan ruang publik antara lain dipengaruhi oleh: environmental comfort yang
berupa perlindungan dari pengaruh alam seperti sinar matahari, angin; physical comfort
yang berupa ketersediannya fasilitas penunjang yang cukup seperti tempat duduk;
socialand psychological comfort.
b. Relaxation
Merupakan aktivitas yang erat hubungannya dengan psychological comfort. Suasana rileks
mudah dicapai jika badan dan pikiran dalam kondisi sehat dan senang. Kondisi ini dapat
dibentuk dengan menghadirkan unsur-unsur alam seperti tanaman/pohon, air dengan
lokasi yang terpisah atau terhindar dari kebisingan dan hiruk pikuk kendaraan di
sekelilingnya.
c. Passive engagement
Aktivitas ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Kegiatan pasif dapat
dilakukan dengan cara duduk-duduk atau berdiri sambil melihat aktivitas yang terjadi di
sekelilingnya atau melihat pemandangan yang berupa taman, air mancur, patung atau
karya seni lainnya.
d. Active engagement
Suatu ruang publik dikatakan berhasil jika dapat mewadahi aktivitas kontak/interaksi antar
anggota masyarakat (teman, famili atau orang asing) dengan baik.
e. Discovery
Merupakan suatu proses mengelola ruang publik agar di dalamnya terjadi suatu aktifitas
yang tidak monoton.
Menurut Project for Public Spaces, ada empat kualitas utama sebuah ruang publik
dapat dikatakan berhasil:
1. Mudah diakses (Access and Linkage)
Aksesibilitas yang baik dalam sebuah ruang publik adalah kemudahan dalam menemukan
dan mencapainya. Ruang publik dapat ditangkap baik secara visual maupun fisik, dan
dapat terlihat baik dari kejauhan maupun dari dekat.
2. Banyak orang yang terlibat dalam kegiatan di sana (Uses and Activities)
10

Ruang publik yang baik dapat memberi kesempatan semua orang untuk berpartisipasi di
dalamnya, melakukan keberagaman aktivitas.
3. Nyaman dan punya citra yang baik (Comfort and Image)
Kenyamanan pada ruang publik mencakup aspek keamanan, kebersihan, ketersediaan
sarana beraktivitas.
4. Tempat sosialisasi (Socialibility)
Ruang publik yang berhasil dapat mengakomodasi orang-orang untuk berinteraksi dan
bersosialisasi

Gambar 2.1: Diagram Indikator Kualitas Utama Ruang Publik


menurut Project for Public Spaces

2.2 Ruang Terbuka Publik


Menurut Hakim dalam Mukti (2011), ruang terbuka adalah ruang yang dipergunakan
oleh masyarakat yang dapat diakses secara langsung maupun tidak, dalam kurun waktu
terbatas maupun dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan menurut Shirvani dalam Zulfina
(2011), ruang terbuka adalah salah satu elemen rancang kota yang sangat penting dalam
11

pengendalian kualitas lingkungan ekologis dan sosial. Ruang publik yang berbentuk ruang
terbuka dapat digunakan sebagai wahana rekreasi, paru-paru kota, memberikan unsur
keindahan, penyeimbang kehidupan kota, memberikan arti suatu kota dan kesehatan bagi
masyarakat kota.
Tujuan ruang terbuka publik (Carr dalam Mukti,1992) adalah:
1. Kesejahteraan Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat menjadi motivasi dasar dalam penciptaan dan pengembangan
ruang terbuka publik yang menyediakan jalur untuk pergerakan, pusat komunikasi, dan
tempat untuk merasa bebas dan santai.
2. Peningkatan Visual (Visual Enhancement)
Keberadaan ruang publik di suatu kota akan meningkatkan kualitas visual kota tersebut
menjadi lebih manusiawi, harmonis, dan indah.
3. Peningkatan Lingkungan (Environmental Enhancement)
4. Pengembangan Ekonomi (Economic Development)
Pengembangan ekonomi adalah tujuan yang umum dalam penciptaan dan pengembangan
ruang terbuka publik.
5. Peningkatan Kesan (Image Enhancement)
Merupakan tujuan yang tidak tertulis secara jelas dalam kerangka penciptaan suatu ruang
terbuka publik namun selalu ingin dicapai.
Menurut Carr dalam Mukti (1992), macam-macam tipologi ruang terbuka publik:
1. Taman-taman publik (public parks), yang termasuk taman publik adalah:
a. Taman publik/pusat (public/central parks), termasuk dalam zona ruang terbuka pada
yang dibangun dan dipelihara oleh publik, terdapat pada dekat pusat kota, dan biasanya
lebih luas dibandingkan dengan taman lingkungan.
b. Taman di pusat kota (downtown parks), merupakan taman hijau yang berada pada pusat
kota, dapat berupa taman tradisional dan bernilai histori.
c. Taman lingkungan (neighbourhood parks), yaitu ruang terbuka yang dibangun dalam
lingkungan permukiman. Pengelolaan taman tersebut oleh publik karena menjadi
bagian dari pembangunan perumahan privat tersebut, yang mana antara lain taman
bermain, fasilitas olah raga, dan sebagainya.
d. Taman mini (mini/vest-pocket parks), yaitu taman kota berukuran kecil yang dibatasi
oleh bangunan gedung-gedung.

12

2. Lapangan dan plaza (squares and plaza), antara lain lapangan pusat (central squares) dan
corporate plaza.
3. Taman peringatan (memorial parks), yang merupakan tempat umum untuk mengenang
seseorang atau peristiwa penting di daerah/wilayah tertentu, bisa dalam skala lokal atau
nasional.
4. Pasar (markets), salah satu contoh dari pasar adalah pasar petani (farmers markets) yang
memiliki karakteristik sebagai sebuah ruang terbuka atau berupa koridor jalan yang
digunakan sebagai pasar, dapat bersifat temporer/tidak tetap (semi-fixed).

Menurut Shirvani (1985), terdapat enam kriteria desain tak terukur, antara lain :
1. Pencapaian (access)
Akses memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi para pengguna untuk
mencapai tujuan dengan sarana dan prasarana transportasi yang mendukung kemudahan
aksesibilitas yang direncanakan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna
sehingga

dapat

memberikan

kenyamanan

dan

kemudahan

dalam

menjalankan

aktivitasnya.
2. Kecocokan (compatible)
Kecocokan adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan lokasi, kepadatan, skala dan bentuk
massa bangunan.
3. Pemandangan (view), pemandangan berkaitan dengan aspek kejelasan yang terkait dengan
orientasi manusia terhadap bangunan. View dapat berupa landmark. Nilai visual ini dapat
diperoleh dari skala dan pola serta warna, tekstur, tinggi dan besaran.
4. Identitas (identity), identitas adalah nilai yang di buat atau di munculkan oleh objek
(bangunan/ Manusia) sehingga dapat di tangkap dan dikenali oleh indera.
5. Rasa (sense), rasa atau suasana yang ditimbulkan. Sense ini biasanya merupakan simbol
karakter dan berhubungan dengan aspek ragam gaya yang disampaikan oleh individu/
kelompok bangunan atau kawasan.
6. Kenyamanan (livability), kenyamanan adalah kenyamanan untuk tinggal atau rasa
kenyamanan untuk tinggal atau beraktivitas di kawasan.

13

2.3 Tinjauan Pola Ruang Aktivitas


2.3.1 Definisi pola ruang aktivitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pola adalah distribusi peruntukan ruang
dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budi daya.
Aktivitas di ruang publik dapat bercerita secara gamblang seberapa pesat dinamika
kehidupan sosial suatu masyarakat (Hakim dalam Mukti, 2011). Jayadinata dalam Ramdlani
(1999) merumuskan beberapa faktor yang menjadi penentu dalam pola penggunaan lahan
yang salah satunya adalah faktor perilaku masyarakat (social behaviour) yang dipengaruhi
oleh nilai-nilai sosial dan proses sosial yaitu: Sentralisasi, (terkumpulnya penduduk
disebabkan oleh prasarana ekonomi) dan desentralisasi.
Rapoport (1977) menyatakan bahwa terjadinya aktivitas di suatu lingkungan
termasuk ruang publik dapat dianalisa dalam empat komponen:
1. Aktivitas sesungguhnya (makan, berbelanja, minum, berjalan).
2. Aktivitas spesifik untuk melakukannya (berbelanja di bazaar, minum di bar, berjalan di
jalan, duduk di lantai, makan bersama orang lain).
3. Aktivitas tambahan, berdampingan atau terasosiasi yang mana menjadi bagian dari sistem
aktivitas (berbelanja sambil bergosip, pacaran sambil jalan jalan).
4. Aktivitas simbolik (berbelanja sebagai konsumsi yang menyolok, memasak sebagai religi,
cara menegakkan identitas sosial).

2.3.2 Hubungan antar pola ruang aktivitas


Menurut Ayu (2014), ada saat di mana terdapat aktivitas lain yang tidak
mengganggu aktivitas lainnya yang terjadi secara bersamaan namun bukan menjadi suatu
konflik (disebut dengan istilah coexisting), sehingga muncul perbedaan sifat ruang/tempat
yang terjadi dalam suatu bangunan. Hal tersebut juga dapat terjadi dalam skala kawasan
perkotaan.
A. Teori Linkage
Dalam sebuah ruang perkotaan, suatu tempat harus memiliki hubungan (linkage)
dengan tempat lain. Suatu elemen penghubung (linkage) dalam suatu kawasan akan
membantu orang untuk mengerti adanya fragmen kota sebagai bagian dalam keseluruhan
kota. Dalam teori linkage, ada tiga macam pendekatan yang dipakai:
1. Linkage visual

14

Linkage visual mampu menyatukan daerah kota dalam berbagai skala. Dalam linkage
visual dikenal dua cara penghubungan yaitu dengan menghubungkan dua daerah secara
netral atau dengan mengutamakan (memfokuskan) pada suatu daerah. Tujuan dari linkage
visual ini adalah menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain yang memiliki
perbedaan karakteristik spasial atau kefungsian dengan cara menciptakan harmonisasi
dalam penyusunan elemen fisik atau elemen visual. Ada lima elemen untuk menciptakan
linkage visual yang membentuk hubungan secara visual, yakni garis, koridor, sisi, sumbu,
dan irama.
2. Linkage yang struktural
Suatu kawasan dalam ruang kota hendaknya tidaknya hanya memperhatikan hal-hal yang
bersifat visual saja, tetapi juga hubungan strukturalnya. Sama seperti pada linkage visual,
linkage struktural dapat diamati dua perbedaan pokok yaitu dengan menggabungkan dua
daerah secara netral atau dengan mengutamakan (memfokuskan) satu daerah. Tidak setiap
kawasan memiliki arti struktural yang sama di dalam kota, sehingga cara hubungannya
secara hierarkis juga dapat berbeda (menyamakan dua kawasan atau mengutamakan salah
satu).

Penggabungan

Penerusan

Gambar 2.2: Dua macam hubungan struktural secara diagramatis

3. Linkage Kolektif
Linkage kolektif merupakan linkage yang mengutamakan aspek sirkulasi sebagai
penghubung antartempat atau antarkawasan. Secara luasan wilayah yang dihubungkan
dengan sistem linkage kolektif ini terdapat tiga macam untuk menciptakan linkage tersebut
antara lain:
a. Composition Form
b. Group Form
c. Mega Form

15

B. Teritorialitas
Menurut Laurens (2005), teritorialitas adalah sebuah perwujudan ego atau privasi
seseorang, terkait adanya rasa memiliki, ingin mempertahankan atau dalam menggunakan
sesuatu. Dengan kata lain, teritorialitas merupakan pola tingkah laku dalam sebuah wilayah
yang dianggap telah adanya suatu hak kepemilikan bagi seseorang atau sekelompok orang
yang menempati atau menggunakannya. Lebih jauh lagi, teritorialitas juga memiliki fungsi
sosial dan komunikasi. Teritorialitas dapat mencerminkan berbagai lapisan sosial dalam
masyarakat. Menurut Altman (1980), teritori ruang diklasifikasikan atas dasar derajat, privasi,
afiliasi dan kemungkinan pencapaian. Klasifikasi tersebut antara lain:
1. Teritori Primer
Teritori primer merupakan tempat-tempat yang sifatnya pribadi, hanya boleh dimasuki
oleh orang-orang yang sudah akrab atau telah mendapat izin.
2. Teritori Sekunder
Teori sekunder merupakan tempat-tempat yang dimiliki bersama sejumlah orang yang
sudah cukup saling mengenal.
3. Teritori Publik
Teritori publik merupakan tempat-tempat yang bersifat terbuka untuk umum, seperti pusat
perbelanjaan, taman rekreasi, dan sebagainya. Namun terkadang teritori ini dapat dikuasai
oleh individu atau kelompok tertentu dan tertutup bagi kelompok lain.
Terdapat banyak cara dalam mengolah penggunaan elemen fisik untuk membuat
demarkasi teritori. Semakin banyak sebuah desain mampu menyediakan teritori primer bagi
penghuninya, desain tersebut akan semakin baik dalam memenuhi kebutuhan penggunanya.

2.4 Tinjauan Ruang Sebagai Setting Aktivitas (Behaviour Setting)


2.4.1 Ruang sebagai setting aktivitas sosial
Secara umum, istilah behaviour setting didefinisikan sebagai suatu kombinasi yang
stabil antara aktivitas, tempat, dan kriteria sebagai berikut:
a. Terdapat suatu aktivitas yang berulang, berupa suatu pola perilaku (standing pattern of
behaviour). Dapat terdiri atas satu atau lebih pola perilaku.
b. Dengan tata lingkungan tertentu (circumjacent milieu), milieu ini berkaitan dengan pola
perilaku
c. Membentuk suatu hubungan yang sama antarkeduanya
d. Dilakukan pada periode waktu tertentu
16

2.4.2 Ruang sebagai setting aktivitas religi Islam


Secara umum, ruang religi menurut Norget dalam Taufani (2000), merupakan ruang
yang terwujud pada suatu tempat khusus/sakral (sacred) atau pada waktu yang memiliki
kesakralan tertentu (Norget, 2000). Ruang religi adalah yang yang digunakan untuk aktivitas
yang bersifat keagamaan dan adat-istiadat (budaya).
Aziz et al. (2004) menjelaskan bahwa secara umum tujuan dan motivasi masyarakat
dalam melakukan ziarah ke makam tokoh (wali) ialah untuk berdoa meminta keselamatan
dan kesehatan, syukuran, serta sebagai bentuk ekspresi kecintaan/kebaktian pada tokoh.
Ziarah ke makam tokoh telah dipandang sebagai bagian dari rutinitas keagamaan. Fenomena
keberagaman aktivitas religi ziarah ke makam tokoh dapat dipengaruhi oleh faktor waktu.
Menurut Ayu (2014), beberapa aktivitas ritual (religi) yang dilaksanakan ada yang bersifat
rutin maupun insidentil, seperti kegiatan doa rutin, peringatan 1 suro, peringatan haul, ritual
malam jumat legi dan selamatan. Selain itu, intensitas penggunanaan ruang-ruang ritual
tertentu juga dapat dipengaruhi tingkat aksesibilitas oleh pengunjung. Hal itulah yang dapat
menciptakan ruang-ruang religi yang bersifat tetap dan yang bersifat temporal (sementara)
yang hanya akan muncul kembali saat terdapat suatu peringatan (Agustapraja dalam Ayu,
2014).

2.5 Tinjauan Tata Lingkungan Fisik


Elemen fisik dalam suatu kawasan dapat membentuk karakter pola ruang aktivitas
yang terjadi di dalamnya. Dalam hal ini, elemen fisik tersebut ialah elemen-elemen kawasan
yang berperan penting dalam mengakomodasi fungsi dan penggunaan ruang-ruang aktivitas
yang terjadi pada kawasan tersebut. Dengan demikian, aktivitas serta pola perilaku
masyarakat pengguna ruang tersebut terjadi juga dipengaruhi oleh adanya elemen fisik yang
mendukung terbentuknya pola-pola aktivitas tersebut.
Menurut Kustianingrum (2013) ruang terbuka publik merupakan tempat harus dapat
diakses secara fisik maupun visual oleh masyarakat umum. Oleh karena itu, elemen fisik
berperan penting dalam mendukung aktivitas serta membentuk pola perilaku pengguna
ruangnya.
Urban Design memiliki tekanan pada penataan lingkungan fisik kota. Menurut

Shirvani (1985), ada 8 elemen fisik perancangan kota yang berperan dalam pembentukan
pola ruang aktivitas, diantaranya:
1. Tata Guna Lahan
17

Tata guna lahan yang dimaksud ialah juga meliputi pola pemanfaatan ruang. Pada
kawasan yang dianggap kurang dapat mewadahi aktivitasnya lagi, maka seharusnya dapat
dikembangkan atau disesuaikan menurut kebutuhan dan pola perilaku pemakainya. (Mirsa,
2012)
2. Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing)
3. Sirkulasi dan Perparkiran (Parking and Circulation)
Struktur ruang kota biasanya terbentuk oleh adanya pola jaringan sirkulasi, yang mana
menghubungkan fungsi satu dengan yang lainnya dalam sebuah kawasan. Jadi dengan kata
lain, pola sirkulasi juga dapat mempengaruhi terbentuknya pola pemanfaatan ruang di
dalamnya. Jalan (sirkulasi) yang baik ialah jalan yang dapat mewadahi penggunanya
dalam melakukan segala kegiatan yang berbeda-beda (Mirsa, 2012). Penataan lingkungan
fisik kawasan yang disesuaikan dengan fungsi/pemanfaatan ruang salah satunya ialah
dengan unsur-unsur jaringan pergerakan, yaitu antara kepentingan pejalan kaki, kendaraan
bermotor dan kendaraan tak bermotor (Kautsary, 2002).
4. Ruang Terbuka (Open Space)
5. Tanda-tanda (Signage)
Penempatan dan kelengkapan tanda-tanda/penanda dalam sebuah kawasan dapat
berpengaruh terhadap kemudahan seseorang dalam mendapat informasi atau menemukan
arah. Hal tersebut juga akan berpengaruh pada pola pemanfaatan ruang dalam kawasan
perkotaan. Apabila kelengkapan atau penempatannya tidak sesuai, maka pola penggunaan
ruang kawasan bisa jadi tidak terjadi seperti yang telah direncanakan. Hatmoko dalam
Mirsa (2012) menyatakan bahwa kelengkapan penanda juga merujuk pada sesuatu yang
dapat menjadikan ruang koridor (jalan) menjadi lebih menarik dan mendukung
terbentuknya suatu aktivitas, contohnya keteduhan dan tempat duduk yang banyak dipilih
pengunjung untuk istirahat, dan jalur pejalan kaki yang cukup.
6. Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian Ways)
Perencanaan jalur pejalan kaki tidak hanya merupakan upaya peningkatan kualitas visual,
elemen pejalan kaki yang nyaman merupakan elemen pendukung yang salah satunya dapat
menciptakan lebih banyak aktivitas retail dan akhirnya akan membantu peningkatan
reproduktivitas sosial budaya dan ekonomi (Shirvani, 1985 dan Marco, 2003).
7. Pendukung Kegiatan (Activity Support)
8. Preservasi (Preservation)

18

Rapoport (1982) mengkategorikan elemen fisik dalam sebuah kawasan berdasarkan


elemen pembentukannya menjadi 3 yaitu:
1. fixed element, yaitu elemen tetap yang tidak dapat berpindah tempat (contoh: bangunan)
2. semi-fixed element, yaitu elemen pendukung yang dapat tetap namun dapat berubah pula
dengan cepat, memfasilitasi kegiatan dalam suatu kawasan ruang publik (contoh: street
furniture atau elemen dekorasi, sistem penanda, parkir)
3. non-fixed element, yaitu elemen yang berhubungan langsung dengan tingkah laku atau
perilaku yang ditujukan oleh manusia itu sendiri yang selalu tidak tetap, seperti posisi
tubuh dan postur tubuh serta gerak anggota tubuh. (contoh: pejalan kaki, pergerakan
kendaraan).

2.6 Tinjauan Riset Terdahulu


Dalam jurnal berjudul Sosial Budaya Pembentuk Permukiman Masyarakat Tengger
Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan oleh Primanita dkk. (2010), menggunakan teori
Rapoport dalam Nuraini (2004:11) sebagai definisi yang menjelaskan bahwa terbentuknya
lingkungan binaan dimungkinkan karena adanya proses pembentukan wadah fungsional yang
dilandasi oleh pola aktivitas manusia serta pengaruh setting rona lingkungan, baik yang
bersifat fisik maupun yang bersifat non fisik (sosial-budaya) yang secara langsung
mempengaruhi pola kegiatan dan proses pewadahannya.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterkaitan antara sistem aktivitas
dengan ruang sebagai tempat pelaksanaannya membentuk pola pergerakan (lintasan) dan
hierarki ruang tertentu di dalam permukiman masyarakat Tengger Desa Wonokitri. Sosial
budaya pembentuk permukiman diidentifikasi berdasarkan empat aspek, yaitu riwayat
terbentuknya desa (legenda/sejarah), tokoh pendiri/pelindung desa, pola ruang pada beberapa
jenis kegiatan.
Sedangkan pada jurnal berjudul Fleksibilitas Teritori Ruang Religi pada Pesarean
Gunung Kawi Kabupaten Malang oleh Ayu dkk. (2014), menggunakan teori dengan
pendekatan budaya dan tradisi keislaman yang akhirnya membentuk pola ruang-ruang
tertentu yang digunakan dalam berbagai aktivitas religi pada waktu-waktu tertentu oleh
berbagai kelompok pengunjung.
Hasil dari studi tersebut menunjukkan adanya teritori ruang, di mana terdapat
beberapa aktivitas religi yang dilaksanakan pada Pesarean Gunung Kawi, baik yang besifat
19

rutin maupun insidentil. Aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan pada beberapa tempat yang
sama oleh kelompok pengunjung yang berbeda.

20

Tabel 2.1 Tinjauan Riset Terdahulu

No.
1.

2.

Peneliti dan Obyek


Penelitian

Metode penelitian

Dianing Primanita Metode deskriptif eksploratif


Ayuninggar
yang terdiri dari
analisis deskriptif
Sosial Budaya
analisis behaviour mapping
Pembentuk
dengan metode person
Permukiman
centered mapping
Masyarakat Tengger analisis family tree.
Desa Wonokitri,
Kabupaten Pasuruan

Dhinda Ayu
Fleksibilitas Teritori
Ruang Ritual Pada
Pesarean Gunung
Kawi Kabupaten
Malang

Menggunakan metode deskriptif


kualitatif.
Selanjutnya untuk mengetahui
penggunaan
ruang
religi
dilakukan dengan melakukan
pengamatan dan wawancara,
mengamati masyarakat sebagai
pengunjung Pesarean Gunung
Kawi dalam melakukan ritual
pada suatu ruang dengan pelaku
ritual lain yang berbeda.

Tujuan

Hasil Penelitian

Mengidentifikasi
dan
menganalisis karakteristik
sosial
budaya
yang
membentukpermukiman
di Desa Wonokitri.

Sosial budaya pembentuk


permukiman diidentifikasi
berdasarkan empat aspek,
yaitu riwayat terbentuknya
desa
(legenda/sejarah),
tokoh
pendiri/pelindung
desa, pola ruang pada
kegiatan sosial budaya,
serta pola ruang yang
terbentuk
berdasarkan
hubungan kekerabatan.

Mengetahui faktor-faktor
yang
menyebabkan
terjadinya
fleksibilitas
ruang pada pelaksanaan
ritual di Pesarean Gunung
KawiKabupaten Malang

Terdapat beberapa aktivitas


ritual yang dilaksanakan
pada
Pesarean
Gunug
Kawi, baik yang bersifat
rutin maupun insidentil,
dan ada beberapa kegiatan
religi yang dilakukan pada
beberapa tempat yang sama
oleh kelompok pengunjung
yang berbeda.

Temuan Terkait
Tema yang akan
Dilakukan
Identifikasi
pola
ruang
tebentuk
berdasarkan
sosial
budaya kawasannya,
dengan
menggunakan
sampel-sampel
kegiatan sosial yang
terjadi.

Identifikasi
pola
ruang yang terjadi
berdasarkan analisis
terhadap
jenis
aktivitas
dalam
waktu-waktu tertentu

Pembeda
Pada penelitian tersebut
menggunakan analisis
behaviour
mapping
(pemetaan
perilaku)
dengan
menentukan
jumlah sampel objek
yang diamati (dalam
kasus tersebut ialah
bangunan).
Sedangkan
pada
penelitian yang akan
dilakukan cukup dengan
menggunakan
teknik
pemetaan
aktivitas
(activity mapping) untuk
menemukan pola ruang
yang terbentuk
Dalam
penelitian
tersebut hanya terfokus
pada kegiatan ritual,
mengingat
lokasi
penelitian
merupakan
Kompleks
Pesarean
yang banyak digunakan
untuk aktivitas ritual.

21

3.

Dwi Kustianingrum,
dkk.
Fungsi dan Aktivitas
Taman Ganesha
sebagai Ruang
Publik di Kota
Bandung

metode
fenomenologi,
mengambil
data
melalui
observasi lapangan mengenai
fungsi yang terjadi, kelengkapan
sarana dan prasarana serta
mengambil data berupa foto dan
gambar kerja taman. Metode
penelitian ini mengambil data
melalui
obervasi
lapangan
dengan mengambil data berupa
foto, gambar kerja Taman
Ganesha serta menganalisis
fungsi dan aktivitas serta
kelengakapan
sarana
dan
prasarana di Taman Ganesha.

Mengidentifikasi fungsi
dan aktivitas yang terjadi
pada Taman Ganesha
Bandung,
serta
menganalisis kelengkapan
elemen lansekap yang ada
pada taman tersebut, yang
berpengaruh
terhadap
pola aktivitas disana.

Taman Ganesha setiap


harinya
mempunyai
aktifitas yang beraneka
ragam secara fungsional,
antara kegiatan rekreatif
dan non-rekreatif.
Analisis
kelengkapan
elemen
lansekap
menunjukkan
adanya
beberapa ketidaksesuaian
yang
menyebabkan
kurangnya akomodasi dan
kenyamanan pengunjung.

Identifikasi
berbagai
jenis
kegiatan sosial di
taman
yang
dianalisis melalui
pengamatan
lapangan setiap
hari,
sehingga
diketahui
perbedaan
intensitas
dan
jenis
kegiatan
yang
terjadi
antara hari biasa
dengan
akhir
pekan/hari libur.
Identifikasi
elemen lansekap
untuk mengetahui
kesesuaian fungsi
taman
dengan
kecukupan
saranaprasarananya.

Dalam
penelitian
tersebut hanya terfokus
pada kegiatan sosial,
karena
lokasi
dan
lingkungan sekitar yang
hanya
menunjang
kegiatan sosial dan
rekreasi.
Identifikasi
elemen
lansekap hanya sebatas
mengevaluasi
kesesuaian
dengan
kebutuhan
yang
seharusnya ada pada
taman, tidak sampai
pada analisis kaitan
antara elemen tersebut
dengan
pola
ruang
aktivitas yang terbentuk.

22

2.7 Landasan Teori


Dalam mencapai tujuan dari studi mengenai hubungan pola ruang religi dan sosial ini,
teori yang dapat dipakai sebagai acuan adalah sebgai berikut:

PRINSIP
DASAR
POLA
RUANG

LITERATUR

RISET 1

RISET 2

KESIMPULAN

distribusi
peruntukan
ruang
dalam suatu wilayah
yang
meliputi
peruntukan
ruang
untuk fungsi budi
daya serta tempat
untuk
keberlangsungan
aktivitas.

Proses pembentukan
wadah
fungsional
yang dilandasi oleh
pola aktivitas manusia
serta pengaruh setting
rona
lingkungan,
sehingga
mempengaruhi pola
kegiatan dan proses
pewadahannya (pola
ruang).

Pola
ruang
yang
terbentuk merupakan
sebuah pola yang
memiliki
teritori
(batas) dalam hal
pemanfaatan
ruangnya.

Pola ruang pada dasarnya


merupakan ruang-ruang
yang terbentuk akibat
adanya
keberagaman
fungsi dan aktivitas yang
terjadi didalamnya.

4 kualitas utama
ruang publik oleh
PPS:
1. Mudah diakses
2. Banyak

orang

yang

terlibat

dalam kegiatan di
sana
3. Nyaman
PARAMETER

dan

punya citra yang


baik
4. Tempat
sosialisasi
Dalam teori linkage,
ada tiga macam
pendekatan: linkage
visual,
struktural
(hirarki) dan bentuk
yang kolektif.

Sosial
budaya
pembentuk
permukiman
diidentifikasi
berdasarkan
empat
aspek,
yaitu
riwayat
terbentuknya
desa
(legenda/sejarah),
tokoh
pendiri
/
pelindung desa, pola
ruang pada kegiatan
sosial budaya, serta
pola
ruang
yang
terbentuk berdasarkan
hubungan
kekerabatan.

Tolak ukur dalam


studi pola ruang yang
digunakan
adalah
dengan
pendekatan
budaya dan tradisi
keislaman
yang
akhirnya membentuk
pola
ruang-ruang
tertentu
yang
digunakan
dalam
berbagai
aktivitas
religi pada waktuwaktu tertentu oleh
berbagai
kelompok
pengunjung.

Dalam kasus di Kawasan


Taman Bungkul, pola
ruang dapat diidentifikasi
menurut:
1. jenis pemanfaatannya
(kegiatan sosial-religi)
2. waktu penggunaannya
(intensitas:
tetaptemporal, lama-sebentar)
3.
jenis
pelaku
aktivitasnya, dengan dapat
memperhatikan teori PPS
sebagai
parameter
kualitas ruang publik
tersebut,
terkait
pemecahan
masalah
mengenai
keberadaan
Bungkul sebagai ruang
publik sekaligus tempat
wisata berbasis rekreatif
maupun religi tersebut

23

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Metode Penelitian


Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif yang
mendeskripsikan dengan jelas mengenai pola ruang sosial dan religi yang terjadi di sekitar
kawasan Taman Bungkul Kota Surabaya berdasarkan aktivitas suatu masyarakat sesuai
behavior setting-nya. Penelitian dilakukan agar dapat mengetahui pola-pola ruang aktivitas
yang terbentuk pada kawasan dan kesesuaiannya dengan tata lingkungan fisik Taman
Bungkul yang berperan dalam pembentukan pola aktivitas tersebut. Untuk itu, penelitian ini
mengarah pada penelitian arsitektur berbasis perilaku.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
(a) observasi lapangan, dalam hal ini untuk mengamati pola aktivitas yang ada pada kawasan
Bungkul, yang nantinya akan menunjukkan bagaimana pola interaksi yang ada di sana.
Selain itu, observasi juga dilakukan untuk mengamati pola tata lingkungan fisik kawasan
Taman Bungkul tersebut.
(b) melakukan pemetaan (mapping) aktivitas yaitu dengan metode place-centered mapping,
untuk menunjukkan aktivitas dalam sebuah gambar skematis, mengidentifikasi jenis dan
pola aktivitas yang terbentuk, serta menunjukkan keterkaitan aktivitas tersebut dengan
tata lingkungan fisik kawasan yang ada di ruang publik tersebut. Metode person-centered
mapping digunakan untuk menunjukkan kecenderungan pergerakan orang-orang dalam
menggunakan ruang publik tersebut.
(c) menggunakan metode time budget untuk mengamati perilaku berdasarkan periode waktu
tertentu (jam-jam tertentu dan hari-hari tertentu), dan
(d) teknik wawancara informal.

3.2 Objek Dan Lokasi Penelitian


3.2.2 Lokasi penelitian
Wilayah kajian meliputi seluruh wilayah taman Bungkul yang meliputi ruang publik
yang menjadi sarana sosial-rekreatif, kawasan ziarah Makam Mbah Bungkul serta koridor
jalan lingkungan yang mengelilingi kawasan Taman Bungkul tersebut.

24

Gambar 3.1 Lokasi Penelitian

: Taman Bungkul
: Makam Mbah Bungkul

3.2.2 Objek penelitian


Objek dalam penelitian ini adalah masyarakat pengunjung kawasan Taman Bungkul
serta pengunjung kawasan ziarah makam Mbah Bungkul, yang tujuannya untuk mengamati
aktivitas mereka yang membentuk pola ruang tersebut. Selain itu objek yang akan diamati
dalam penelitian ini ialah pada elemen tata lingkungan fisik kawasan yang berpengaruh
langsung pada pembentukan karakteristik pola aktivitas di kawasan tersebut.

3.3 Variabel Penelitian


Menurut Sugiyono (2009:38), variabel penelitian pada dasarnya adalah segala
sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
A. Pola aktivitas, yang terdiri atas:
1.

Jenis aktivitas, yang terdiri atas aktivitas sosial dan religi, yang mana merupakan
berbagai tingkah laku atau aktivitas masyarakat dalam menggunakan ruang publik
Taman Bungkul. Jenis aktivitas yang akan diamati antara lain:
a. Aktivitas utama
25

1) terkait aktivitas sosial: duduk santai, bermain, berjalan-jalan, olahraga,


mengobrol, makan
2) terkait aktivitas religi: beribadah, ziarah, wudlu/bersuci
b. Aktivitas pendukung
1) terkait aktivitas sosial: parkir kendaraan, berjalan, berjualan
2) terkait aktivitas religi: parkir kendaraan, makan, berjalan

2.

Waktu aktivitas
Waktu penelitian didasarkan pada intensitas penggunaan Taman Bungkul pada saat
ramai dikunjungi. Waktu-waktu tersebut antara lain:
a.

Hari biasa, yang bisa diamati pada hari senin-jumat, dengan waktu pengamatan
yang beragam yaitu:
1) Pagi hari, yang bisa diamati pada sekitar jam 06.0008.00 untuk mengamati
pemanfaatan ruang publik dalam beraktivitas sosial yang ada di taman saat
pagi hari (olahraga dan sebagainya).
2) Siang hari, yang akan diamati pada sekitar jam 12.0014.00, agar bisa
mengamati pola aktivitas sosial dan religinya pada saat menjelang hingga
selesai waktu sholat dhuhur.
3) Sore hari, yang akan diamati pada sekitar jam 16.0018.00, agar bisa
mengamati pola aktivitas sosial-rekreatif taman yang cenderung lebih ramai
karena berakhirnya jam kerja atau jam sekolah, juga untuk mengamati pola
aktivitas religi pada menjelang waktu sholat maghrib.
4) Malam hari, yang akan diamati pada antara jam 19.00 hingga jam 21.00.
waktu-waktu tersebut dipilih untuk dapat diamati aktivitas sosialnya,
terutama aktivitas-aktivitas menyimpang seperti asusila yang bisa lebih
banyak terjadi saat malam hari.

b.

Hari libur, yang bisa diamati pada hari sabtu dan minggu
Jam pengamatan juga disesuaikan seperti pada hari biasa. Namun, yang
membedakan hanya pada hari minggu pagi, di mana pengamatan akan
dilakukan setiap kurang lebih 2 jam yaitu pada jam 06.00, jam 08.00 dan jam
10.00 untuk mengamati aktivitas religi di kawasan makam serta aktivitas sosial
taman yang dikarenakan adanya Car Free Day di Jalan Raya Darmo.

3.

Jenis Pelaku Aktivitas

26

Jenis pelaku aktivitas dibedakan atas kelompok jumlah penggunanya dan rentang
usia.
a.

Berdasarkan jumlah penggunanya, pengamatan pola ruang aktivitas dibedakan


atas individu (1 orang), berpasangan (2 orang), dan berkelompok ( 3 orang)

b.

Berdasarkan rentang usianya, pengamatan pola aktivitas dibedakan atas usia


anak ( 12 tahun), usia remaja atau pemuda (13-20 tahun), dan usia dewasa atau
orang tua ( 21 tahun).

B. Tata lingkungan fisik dalam setting perilakunya, yang terdiri atas:


1.

Fixed-element, yang terdiri dari elemen tetap kawasan seperti bangunan tetap,
prasarana jalan bagi kendaraan dan jalur pejalan kaki

2.

Semi-fixed element, yang terdiri atas street-furniture kawasan, seperti signage, PKL,
tempat parkir pada tepi jalan.

Tabel 3.1 Varibel Aspek Pola Aktivitas


Tujuan

Variabel

Jenis Aktivitas

Sub-Variabel

Indikator

Sosial (utama dan

Intensitas Kegiatan

pendukung) dan
Religi (utama dan
pendukung)

(Taman Bungkul

pola aktivitas

dan Makam Mbah

dalam hal

Jenis Pelaku

pemanfaatan

Aktivitas
Pedagang

Waktu
Terjadinya
Aktivitas

Hari Biasa Hari


Libur
Pagi Siang
Sore Malam

(Pemetaan Aktivitas
dengan metode

pemanfaatan ruang

place-centered

publik

mapping)
Observasi

Usia Pengunjung

(Pemetaan Aktivitas
dengan metode

Bungkul)

ruang publik

Observasi

Zonasi

Pengunjung
Mengidentifikasi

Metode

place-centered
Zona untuk para

mapping) dan

pedagang (warung

Wawancara

dan PKL)

Informal

Intensitas
Penggunaan Ruang

Observasi

Publik

27

Tabel 3.2 Variabel Aspek Tata Lingkungan Fisik


Tujuan

Variabel

Sub-Variabel

Indikator

Metode

Batas fisik yang


Perkerasan jalan dan
pedestrian way,
Fixed Element

bangunan, tembok
pembatas, titik

menjadi teritori
pembentuk pola
aktivitas

Observasi

Orientasi

pohon dan vegetasi


Mengidentifikasi

Dimensi

Tata Lingkungan

Kecenderungan

Fisik dalam

elemen tersebut

Membentuk Pola

dalam

Aktivitas

Street Furniture dan

mempengaruhi pola

signage

perilaku

(Behavioral
Setting)

Semi-Fixed

Observasi

Orientasi

Element
Dimensi
Pengaruh
Pedagang Kaki Lima

pemanfaatan ruang

(PKL)

publik di sekitar area


PKL

Observasi dan
Wawancara
Informal

3.4 Tahap Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian


3.4.1 Tahap persiapan
Tahap persiapan adalah langkah awal dilakukannya penelitian ini, diperlukan
beberapa persiapan sebelum melakukan proses penelitian antara lain:
1. Mencari data mengenai Taman Bungkul Surabaya
2. Melakukan observasi awal berupa pengamatan mengenai kondisi kawasan Taman
Bungkul Surabaya untuk memperoleh gambaran awal tentang fenomena kehidupan sosial
dan religi masyarakat pengunjung kawasan tersebut. Observasi dilakukan sebagai salah
satu upaya untuk mengidentifikasi pola ruang aktivitas yang terbentuk.
3. Mengumpulkan literatur atau pustaka terkait dengan pembahasan penelitian. Fungsi dan
tinjauan pustaka sebagai landasan teori dan penetapan variabel penelitian yang digunakan
saat melakukan pengamatan di lapangan.
4. Menetukan metode penelitian yang sesuai untuk digunakan dalam pelaksanaan penelitian.
28

5. Menetapkan analisis data yang digunakan dalam melakukan penelitian hingga penyusunan
laporan penelitian.

3.4.2 Tahap pelaksanaan


Tahap pelaksanaan penelitian dibagi menjadi dua cara yaitu:
1. Pengambilan data primer dengan cara observasi langsung pada objek penelitian antara lain
dokumentasi foto pengamatan objek secara langsung untuk mengamati perilaku
berdasarkan periode waktu tertentu dan melakukan wawancara informal dengan
masyarakat sekitar.
2. Pengambilan data sekunder dengan cara pengumpulan data-data penunjang penelitian
yang dimiliki oleh arsip juru kunci makam (bila ada) serta arsip pemerintah daerah/kota
Surabaya yang dapat menunjang proses penelitian.
3. Kompilasi dan analisis data, dengan melakukan pemetaan (mapping) aktivitas, untuk
menunjukkan pola aktivitas dan menjelaskan keterkaitan pola aktivitas tersebut dengan
tata lingkungan fisik kawasan sebagai wujud perancangan kota yang berpengaruh dalam
pembentukan karakteristik pola ruang sosial-religi di kawasan ruang publik tersebut.

3.5 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data


Untuk mencapai tujuan penelitian ini diperlukan data-data untuk menunjang
kelengkapan dalam melakukan kegiatan penelitian. Data dibagi menjadi dua yaitu data primer
dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil observasi lapangan secara langsung,
sedangkan data sekunder didapat dari literatur berupa buku dan jurnal ilmiah.
3.5.1 Data primer
Data Primer merupakan data yang bersumber dari hasil observasi berpartisipasi yaitu
dengan mengembangkan konsep-konsep di lapangan atau peneliti terlibat secara penuh di
lapangan (Nazir, 1999). Data primer didapat langsung dari penelitian adalah data kualitatif.
Data primer diperoleh melalui dua cara yaitu:
A. Wawancara
Tujuannya adalah untuk mendapatkan data yang lebih detail dan akurat dalam
menguatkan hasil observasi di lapangan terkait adanya fenomena atau apabila ada
permasalahan yang terjadi pada Taman Bungkul jika data yang dibutuhkan tidak dapat
ditemukan dalam literatur. Wawancara ditujukan kepada antara lain:

29

1.

Narasumber yang mengetahui sejarah dan perkembangan Taman Bungkul beserta


Makam Mbah Bungkul Sejarah dan perkembangan Taman Bungkul Surabaya.
Tujuannya adalah untuk mengklarifikasi serta mendapat data yang lebih akurat bahwa
eksistensi Taman Bungkul tidak lepas dari sejarah Makam Mbah Bungkul serta adanya
isu atau fenomena yang beredar di masyarakat mengenai perkembangan dan perubahan
yang terjadi.

2.

Masyarakat pengunjung taman dan makam, yang akan diwawancarai secara informal dan
tak terstruktur. Tujuan wawancara ini adalah untuk membuktikan atau mencari data yang
lebih detail terhadap hasil pengamatan di lapangan mengenai aktivitas yang dilakukan
serta pemanfaatan sarana di ruang publik sebagai setting aktivitas mereka.

B. Observasi Lapangan
Observasi lapangan digunakan dengan mengadakan survey atau pengamatan langsung
ke lokasi objek penelitian. Observasi ini dilakukan dengan pengambilan gambar
menggunakan kamera digital. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengamati dan
memahami fenomena pemanfaatan ruang publik sebagai sarana beraktivitas sosial dan religi,
terkait adanya makam Mbah Bungkul tersebut.
3.5.2 Data sekunder
Data sekunder merupakan data penunjang penelitian. Data sekunder dalam penelitian
antara lain:
A. Data statistik pengunjung Taman Bungkul dan daftar pengunjung Makam Mbah
Bungkul, yang dapat dipakai sebagai penunjang proses observasi dan tahap analisis data,
di mana dari data tersebut dapat diketahui tingkat intensitas pengunjung, berdasarkan
jenis pelaku aktivitas pengunjungnya.
B. Agenda kegiatan yang diselenggarkan oleh pengelola taman dan makam yang dapat
membantu proses observasi lapangan dan analisis data, di mana dari data tersebut dapat
diketahui jenis dan intensitas kegiatan, serta membantu dalam penyusunan jadwal
observasi, yang dapat belajar dari pengalaman pengadaan kegiatan sebelumnya.
C. Gambar kerja Taman Bungkul Surabaya, seperti site-plan atau layout-plan, yang dapat
membantu dalam proses observasi lapangan. Data tersebut dapat memudahkan dalam
pembuatan mapping aktivitas dan tata lingkungan fisik kawasan.

30

3.6 Tahap Analisis


Setelah melakukan pengumpulan data-data (primer dan sekunder) yang dibutuhkan,
maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis data, di mana dalam hal ini data primer
hasil observasi selanjutnya dianalisis sehingga didapat hasil dan kesimpulan mengenai
permasalahan dalam penelitian ini.
Analisis yang akan dilakukan dalam penelitian ini disesuaikan dengan variabel
penelitian yaitu pola aktivitas sosial-religi dan tata lingkungan fisik kawasan ruang publik.
Variabel pola aktivitas terdiri dari jenis aktivitas, waktu aktivitas dan jenis pelaku aktivitas.
Sedangkan pada variabel tata lingkungan fisik kawasan ruang publik terdiri atas komponen
fixed, komponen semi-fixed dan komponen non-fixed, untuk mengidentifikasi setting
perilakunya. Adapun langkah analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut:
A. Analisis pola aktivitas sosial-religi
Pada analisis pola aktivitas terdapat variabel yang dibahas meliputi jenis aktivitas, waktu
aktivitas serta jenis pelaku aktivitas. Analisis dari variabel-variabel tersebut berupa
penerjemahan hasil observasi berupa mapping aktivitas yang telah diamati pada proses
observasi. Hasil penerjemahan tersebut merupakan kesimpulan yang berupa zoning
pemanfaatan ruang publik secara umum pada Taman Bungkul.
B. Analisis tata lingkungan fisik kawasan ruang publik
Pada analisis tata lingkungan fisik kawasan terdapat variabel yang dibahas meliputi
komponen fix, komponen semi-fix dan komponen non-fix, untuk mengidentifikasi setting
perilakunya. Analisis dari variabel-variabel tersebut berupa penerjemahan hasil observasi
berupa mapping persebaran elemen-elemen fisik kawasan sebagai pendukung
terbentuknya pola aktivitas yang terjadi. Hasil penerjemahan tersebut merupakan
kesimpulan yang berupa penjabaran secara deskriptif mengenai kesesuaian antara pola
aktivitas yang terjadi dengan tata lingkungan fisik kawasan yang berperan penting dalam
menunjang aktivitas-aktivitas yang terjadi di ruang publik Taman Bungkul tersebut.

3.7 Tahap Rekomendasi


Dari hasil analisis-sintesis kemudian dapat dilakukan tahap rekomendasi yang sesuai
dengan tinjauan teori dan literatur sebelumnya untuk menanggapi permasalahan pada ruang
publik Taman Bungkul Surabaya yang ditemukan selama proses penelitian. Rekomendasi
bertujuan sebagai alternatif masukan dalam penataan lingkungan fisik sebagai kriteria
minimal yang harus dipenuhi pada sebuah ruang publik, terkait dengan pola aktivitas yang
terjadi. Rekomendasi ini berupa design guideline atau rincian konsep awal desain yang dapat
31

memaksimalkan penggunaan ruang publik sesuai dengan potensi kawasan yang dimiliki,
yang mana dalam kasus Taman Bungkul ini yang lebih dikenal memiliki potensi pada wisata
sosial-rekreatifnya agar dapat menyelaraskan dengan potensi wisata religi yang juga terdapat
pada ruang publik tersebut.

32

3.8 Kerangka Penelitian


Data
- data primer, yang meliputi
- data deskriptif hasil pengamatan mengenai fenomena aktivitas
sosial dan religi yang ada di kawasan Taman Bungkul Surabaya
- mapping hasil pengamatan lapangan mengenai fenomena aktivitas sosial dan religinya,
dan terbentuknya pola ruang tersebut berdasarkan waktu (hari biasa-libur, pagi-siang-malam),
serta jenis kegiatannya (sosial-rekreatif dan religi).
- mapping hasil pengamatan lapangan mengenai persebaran elemen fisik (elemen
lansekap kawasan): akses, sirkulasi dan parkir, vegetasi, signage, pedestrian ways dan
street furniture.
- foto hasil dokumentasi lapangan
- data hasil wawancara informal kepada beberapa masyarakat
pengunjung Taman dan Makam Mbah Bungkul, dan juru kunci makam.
- data sekunder, yang meliputi peta persil kawasan, site-plan/layout-plan taman, RDTRK dan Perda
Surabaya serta SOP sebagai acuan dalam memberikan rekomendasi.

Analisis Data
mengolah data yang ada hingga dapat diketahui hasil yang ingin diungkap mengenai pola ruang,
yang meliputi:
- tabel daftar aktivitas berdasarkan waktu dan intensitas penggunaannya
- mapping mengenai batas fisik dan non-fisik kawasan yang menjadi teritori tiap jenis aktivitas
yang terjadi antara pada ruang sosial dan religi.
- evaluasi kekurangan elemen fisik yang berpengaruh pada pola pemanfaatan ruang publik yang
kurang sesuai, terkait adanya aktivitas sosial serta religi yang ada dalam satu kawasan.

Kesimpulan Dan Pemecahan Masalah


pemecahan masalah dalam penelitian ini berupa rekomendasi desain elemen fisik pada
beberapa spot kawasan yang menjadi potensi untuk dikembangkan, dibenahi atau
direvitalisasi.

33

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum


Penelitian ini mengambil lokasi di Kawasan Taman Bungkul Surabaya, yang terdiri
atas area sosial-rekreatif Taman Bungkul, area religi Makam Mbah Bungkul, serta koridor
jalan yang mengelilingi Taman Bungkul. Koridor jalan yang ada meliputi Jalan Taman
Bungkul, Jalan Serayu dan Jalan Progo yang merupakan jalan lingkungan yang berada di
sebelah utara, timur dan selatan Taman Bungkul, serta Jalan Raya Darmo yang merupakan
jalan raya besar yang juga menjadi bagian dari ruang publik tersebut. Taman Bungkul
merupakan taman dengan luas 14.517 m.
4.1.1 Sejarah dan perkembangan taman
Taman ini merupakan taman yang direvitalisasi oleh Pemkot Surabaya pada tahun
2007. Pada awalnya, taman ini merupakan lahan kosong berupa lapangan yang tidak banyak
digunakan oleh warga karena minimnya prasarana yang dapat menjadi penunjang aktivitas
pada ruang publik tersebut. Kondisi taman sebelum direvitalisasi hanya memiliki playground
kecil yang berada di sebelah timur serta perkerasan-perkerasan pada taman yang menandai
adanya jalur sirkulasi dan panggung kecil terbuka yang berada di tengah.
Selain itu, di taman tersebut terdapat kompleks pemakaman salah seorang penyebar
agama Islam di Kota Surabaya, yaitu Ki Ageng Supo, atau yang lebih dikenal dengan nama
Mbah Bungkul. Sejak dahulu, kompleks makam tersebut telah ada sejak zaman kerajaan
Mahapahit. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya corak pada gerbang makam yang berciri
arsitektur hindu jawa (Faber, 1991). Beberapa perubahan fisik pada Taman Bungkul dari
zaman dahulu hingga sekarang tidak pernah sampai pada mengubah tata lingkungan fisik
ataupun sampai menggusur Kawasan Makam Mbah Bungkul tersebut (Navitas, 2011).
Karena latar sejarah itulah taman yang ada sampai saat ini dikenal dengan nama Taman
Bungkul. Sampai saat ini, keberadaan Makam Mbah Bungkul menjadi salah satu tempat
tujuan bagi para peziarah baik dari dalam kota maupun luar kota.

34

Keterangan:
: Area Publik (lahan kosong)
: Panggung

: Playground
: Toilet

: Kompleks Makam Mbah


Bungkul

Gambar 4.1 Layout Eksisting Taman Bungkul Sebelum Revitalisasi

Gambar 4.2 Kondisi Eksisting Taman Bungkul Sebelum Revitalisasi;


(a) Main Entrance Taman Bungkul; (b) Playground; (c) Main Entrance Makam Mbah Bungkul
Sumber: DKP Kota Surabaya, 2006

4.2 Kondisi Eksisting


Setelah direvitalisasi oleh Pemkot Surabaya, lahan kosong tersebut diubah menjadi
taman dengan berbagai sarana dan prasarana yang dapat menunjang berbagai aktivitas sosialrekreatif serta dapat digunakan sebagai sarana olahraga, karena adanya pembangunan sarana
dan prasarana seperti perbaikan sarana playground, pembangunan beberapa sport area di
taman tersebut, antara lain arena skateboard dan lapangan hijau, serta pedestrian way dan
area parkir sepeda yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan aktivitas jogging
ataupun bersepeda di sekitar taman. Sedangkan lahan kosong yang berada di sebelah timur
Kawasan Makam Mbah Bungkul dijadikan sebagai area sentra kuliner.

35

Keterangan:
: Area Publik (RTH dan Sport Arena)
: Panggung terbuka
: Playground
: Plaza Area
: Kompleks Makam Mbah Bungkul
: Sentra Kuliner

Gambar 4.3 Layout Taman Bungkul (Setelah Revitalisasi)

36

4.3 Analisis Pola Ruang Aktivitas


4.3.1 Pola ruang aktivitas Taman Bungkul
Seperti yang telah disebutkan pada sub-bab sebelumnya mengenai kondisi eksisting
Taman Bungkul, bahwa taman tersebut merupakan ruang publik yang difungsikan sebagai
sarana rekreasi dan bersosialisasi. Tak jarang pula ruang publik tersebut digunakan sebagai
sarana belajar. Keberagaman aktivitas yang terjadi pada taman tersebut dipengaruhi oleh
faktor waktu. Hal inilah yang juga mempengaruhi intensitas keramaian (jumlah pengguna)
yang berbeda pada tiap zona ruang publik ataupun intensitas waktu berlangsungnya masingmasing aktivitas tersebut.
Pada Taman Bungkul ini, aktivitas yang berlangsung sangat beragam. Adanya
aktivitas utama serta aktivitas pendukung yang terjadi tergantung dari jenis pelaku
aktivitasnya. Pada Taman Bungkul ini terdapat dua jenis pelaku yang dominan yaitu
pengunjung/penikmat fasilitas ruang publik dan pedagang, baik pedagang tetap sentra kuliner
maupun pedagang kaki lima. Aktivitas-aktivitas tersebut digolongkan antara lain:
A. Aktivitas utama, yaitu aktivitas yang menjadi tujuan utama pengunjung menggunakan
ruang publik. Aktivitas utama yang dilakukan pengunjung/penikmat Taman Bungkul
antara lain:
1. Bermain/rekreasi
2. Bersosialisasi
3. Olah raga (yang biasa dilakukukan pada pagi hari)
4. Duduk santai
5. Belajar
6. Berjalan-jalan santai
7. Makan atau membeli makanan kecil
Sedangkan aktivitas utama yang dilakukan pedagang sentra kuliner maupun pedagang
kaki lima di sekitar taman ialah aktivitas berjualan.
B. Aktivitas pendukung, yaitu aktivitas sekunder yang menjadi pendukung tercapainya
aktivitas yang menjadi tujuan utama atau bisa juga pelengkap dalam sebuah serangkaian
aktivitas dalam rangka pemenuhan kepuasan. Di Taman Bungkul ini, aktivitas pendukung
yang terlihat dilakukan oleh pengunjung/penikmat ruang publik ialah antara lain:
1. Parkir kendaraan
2. Berjalan (berpindah tempat)
3. Berfoto
37

4. Makan atau membeli makanan kecil


Sedangkan aktivitas pendukung yang dilakukan oleh pedagang di sekitar taman ialah
parkir kendaraan (bila pedagang memiliki sarana transportasi atau pengangkut barang
dagangan) dan aktivitas berjalan yang tujuannya hanya untuk mencapai ke tempat
pedagang tersebut berjualan tetap atau sebagai cara mereka berjualan dengan
berkeliling/tidak tetap (pedagang kaki lima).
Adanya aktivitas utama dan pendukung yang terjadi setiap hari di Taman Bungkul
memilki intensitas kepadatan pelaku aktivitas dan lama terjadinya aktivitas yang berbedabeda. Bahkan antara pagi, siang, sore dan malam hari memiliki intensitas keramaian yang
berbeda-beda pula. Pada hari biasa (senin-jumat) aktivitas utama seperti bermain, berjalanjalan dan sebagainya mulai ramai terjadi saat sore hari. Pada pagi dan siang hari aktivitas
tersebut tidak banyak terlihat, dikarenakan masih dalam waktu aktif bekerja dan jam sekolah
bagi anak-anak. Sedangkan pada akhir pekan (sabtu-minggu) intensitas keramaian yang
terjadi di taman sangat tinggi dibandingkan dengan pada hari-hari biasa. Pada hari sabtu dan
minggu aktivitas rekreasi lebih banyak dilakukan dari pagi hari hingga malam hari.
Perbedaannya, pada hari sabtu malam di Taman Bungkul selalu ada bazar yang menjadi suatu
fenomena tersendiri bagi Taman Bungkul, dan pada sabtu malam taman tersebut selalu ramai
dipenuhi pengunjung dalam rangka bermalam minggu.

Keterangan:
: Area untuk aktivitas rekreasi
(berjalan-jalan, bermain, olahraga)
: Area untuk aktivitas makan (sentra
kuliner

38

4.3.2 Pola ruang aktivitas Makam Mbah Bungkul


4.4 Analisis Tata Lingkungan Fisik
4.4.1 Tata lingkungan fisik Taman Bungkul
4.4.2 Tata lingkungan fisik Makam Mbah Bungkul
4.5 Analisis Behavioral Setting pada Kawasan Taman Bungkul
4.6 Sintesis Behavioral Setting pada Kawasan Taman Bungkul

39

DAFTAR PUSTAKA

Agustapraja, H.R., Agung, M. N., &Lisa, D. W. 2011. Ruang Budaya pada Upacara Karo di
Desa Ngadas, Tengger. Makalah dalam Seminar Nasional Local Tripod. Jurusan
Arsitektur Universitas Brawijaya
Anita, J., dkk. 2012. Kajian Terhadap Ruang Publik Sebagai Sarana Interaksi Warga di
Kampung Muararajeun Lama, Bandung.Jurnal Online,Jurusan Tenik Arsitektur
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Nasional, Volume 1
Nomor 1, Juli. hal. 1-12.
Aziz, A. A. 2004. Kekeramatan Makam (Studi Kepercayaan Masyarakat terhadap
Kekeramatan Makam-Makam Kuno di Lombok). Jurnal Penelitian Keislaman I
(1): hal. 59-77.
Ayu, D., Antariksa, S., & Abraham, M. R. 2014. Fleksibilitas Teritori Ruang Religi pada
Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. Architecture Journal, Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya, Volume 7 Nomor 1, Juni. hal. 20-28.
Ayuninggar, D. P., Antariksa, S., & Dian, K. W. 2012. Sosial Budaya Pembentuk
Permukiman Masyarakat Tengger Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan,
Architecture Journal, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Volume 5 Nomor 1,
Maret. hal. 14-31.
Carmona, M. et al. 2003. Public Spaces-Urban Spaces, The Dimensions of Urban Design.
Burlington: Architectural Press.
Eka, Devi V. 2013. Pola Ruang Aktivitas Pengrajin Perak-Emas di Desa Pulo kabupaten
Lumajang. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Kustianingrum, D., dkk. 2013. Fungsi dan Aktifitas Taman Ganesha Sebagai Ruang Publik di
Kota Bandung. Jurnal Online,Jurusan Tenik Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan Institut Teknologi Nasional, Volume 1 Nomor 2. Agustus. hal. 1-14.
Mirsa, Rinaldi. 2012. Elemen Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mukti, L. S., Lisa, D. W., & Sigmawan, T. P. 2011. Ruang Terbuka Publik Pada Pusat
Perdagangan Dan Jasa Agribis Dolopo, Kabupaten Madiun. Architecture Journal,
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.
Sirvani, Hamid.1985. The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold
Company.

40

Zahnd, Markus. 2012. Perancangan Kota Secara terpadu: Teori Prancangan Kota dan
Penerapannya. Yogyakarta: KANISIUS.
http://www.pps.org/reference/grplacefeat/ , diakses pada 8 Desember 2014
http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2015/02/25/ngenesnya-ruang-publik-kita-708793.html
diakses 26maret2015 oleh andi kurniawan, 25feb2015

41