Anda di halaman 1dari 6

MODUL 1 PENGENALAN INSTRUMENTASI LABORATORIUM

Evan Febrianto (13214033)


Asisten: Zuhditazmi
Tanggal Percobaan: 08/09/2015
EL2001-Rangkaian Elektrik

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Instrumen di laboratorium merupakan
salah satu elemen vital yang wajib
dikpahami
oleh
praktikan.
Pada
percobaan ini, praktikan mempelajari
instrumen-instrumen
penting
di
laboratorium. Instrumen yang dipelajari
meliputi osiloskop, mutimeter analog,
multimeter digital, dan generator sinyal.
Tidak hanya mempelajari cara kerja
instrumen, tapi praktikan juga harus
memperhatikan spesifikasi instrumen
tersebut. Hasilnya, instrumen tidak akan
mengukur
dengan
akurat
saat
pengukuran dilakukan di luar range
spesifikasi instrumen.
Kata kunci:
spesifikasi

Instrumen,

pengukuran,

1. PENDAHULUAN
Praktikum
modul
ini
berisi
tentang
pengukuran-pengukuran
yang
dilakukan
dengan menggunakan instrumen yang telah
disediakan. Terdapat empat buah instrumen
yang disediakan, yaitu osiloskop, multimeter
digital, multimeter analog, dan generator
sinyal.
Sedangkan
pengukuran
yang
dilakukan meliputi mengukur arus searah,
mengukur tegangan searah, mengukur
tegangan
AC,
mengukur
resistansi,
mengecek kalibrasi osiloskop, mengukur
beda
fasa,
mengukur
frekuensi,
dan
mengukur faktor penguatan. Setelah selesai
melakukan
praktikum
ini,
praktikan
diharapkan dapat mengenal multimeter
sebagai pengukur tegangan, pengukur arus,
dan pengukur arus; memahami keterbatasan
alat ukur pada pengukuran arus DC;
memahami keterbatasan alat ukur pada
pengukuran tegangan jatuh DC dan AC pada
resistansi besar; memahami keterbatasan
alat ukur pada pengukuran tegangan AC
dengan
frekuensi
tinggi
dan
bentuk
gelombang
non-sinusoidal;
memahai
perbedaan
cara
pengukuran
resistansi
dengan 2 kawat dan 4 kawat; serta dapat
menggunakan osiloskop sebagai pengukur

tegangan dan sebagai pengukur frekuensi


dari berbagai bentuk gelombang.

2. STUDI PUSTAKA
Menurut
KBBI
(Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia), pengukuran memiliki arti proses
mengukur [1]. Proses pengukuran merupakan
sesuatu yang sangat penting di laboratorium.
Kesalahan
dalam
pengukuran
dapat
menyebabkan banyak hal yang tidak
diinginkan.
Alat-alat
pengukuran
yang
digunakan kali ini adalah multimeter,
osiloskop, dan generator sinyal.

2.1

MULTIMETER

Multimeter digunakan untuk mengukur


besarnya arus (AC maupun DC), tegangan
(AC maupun DC), dan hambatan dari resistor.
Saat menggunakan multimeter, pastikan
polaritasya tidak terbalik karena dapat
mengganggu akurasi pengukuran. Pada saat
pengukuran arus dan tegangan, pembacaan
multimeter akan paling teliti bila penunjukan
jarum terletak di pertengahan skala penuh,
sedangkan pada pengukuran resistansi bila
penunjukan jarum terletak di
daerah
pertengahan skala [2].

2.2

OSILOSKOP

Osiloskop digunakan untuk berbagai hal,


antara lain mengukur tegangan, mengukur
beda
fasa,
mengukur
frekuensi,
dan
mengukur faktor penguatan. Pengukuran
beda fasa dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu dual trace dan lissajous. Pengukuran
dengan cara dual trace akan didapatkan
beda fasa dengan rumus = t/T*3600.
Pengukuran dengan metode lissajous akan
menggunakan rumus = sin-1

c
d

Sama halnya dengan pengukuran beda fasa,


pada pengukuran frekuensi juga dapat
menggunakan cara langsung, dual trace, dan
lissajous. Cara langsung didapat dari
pengukuran langsung melalui osiloskop. Cara
dual
trace
akan
didapat
dengan
membandingkan kedua gelombang secara
bersamaan. Metoda lissajous digunakan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

dengan membandingkan frekuensi pada


grafik x-y yang ada. Untuk mengukur faktor
penguatan, ada dua cara, yaitu cara
langsung
dan
dengan
menggunakan
osiloskop dual trace.

MENGUKUR TEGANGAN SEARAH


Merangkai
Komponen

3. METODOLOGI

Ukur
tegangan

Alat dan komponen yang digunakan adalah:


1. Multimeter Analog

(1buah)

2. Multimeter Digital Genggam (1 buah)

Catat
datanya

3. Multimeter Digital Benchtop (1 buah)


4. Power Supply DC

(1 buah)

5. Generator Sinyal

(1 buah)

6. Osiloskop

(1 buah)

Ganti nilai R
dan ulangi
langkah 2

7. Kit Multimeter

(1 buah)

Gambar 3-2 Mengukur Arus Searah

8. Kit Osiloskop & Generator Sinyal


buah)

(1

9. Kit Box Osilator

(1 buah)

10. Resistor 0,1

(1 buah)

11. Kabel 4mm 4mm

MENGUKUR TEGANGAN AC
Merangkai Komponen

(min 5 buah)

12. Kabel BNC 4mm

(3 buah)

13. Kabel BNC BNC

(1 buah)

14. Konektor T BNC

(1 buah)

3.1

3.1

MENGUKUR ARUS SEARAH

Ukur tegangan dengan


multimeter analog dan
digital secara bergantian

Catat datanya dalam tabel

Merangkai
Komponen

Ganti nilai frekuensi dan


ulangi langkah 2

Gambar 3-3 Mengukur Tegangan AC

Ukur arus

3.2
Catat
datanya
Ganti nilai R
dan ulangi
langkah 2

MENGUKUR RESISTANSI
Siapkan kit multimeter

Ukur resistansi R1, R2, R3,


R4, dan R5 dengan
Ohmmeter

Gambar 3-1 Mengukur Arus Searah


Baca nilai pada gelang warna
berserta tolerasnsinya

Gunakan resistor 0,1 dan ukur


dengan multimeter mode 2W dan 4W

Gambar 3-4 Mengukur Tegangan AC

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

3.3

MENCEK KALIBRASI

3.5

Hubungkan output
kalibrator dengan input
X osiloskop

MENGUKUR TEGANGAN BOLAK


BALIK

Atur generator sinyal


pada frekuensi 1kHz
gelombang sinus, dan
tegangan 2 Vrms

Uur tegangan dan


periodanya untuk V/div
dan T/div

Ukur tegangan pada


osiloskop

Lakukan di kanal 1 dan


kanal 2

Ulangi untuk frekuensi


100Hz dan 10kHz

Catat datanya

Bandingkan hasilnya
dengan harga kalibrator

Tuliskan hasil
pengukuran

Gambar 3-5 Mencek Kalibrasi

3.4

MENGUKUR TEGANGAN SEARAH

Atur tegangan menjadi 2V


DC diukur dengan
multimeter digital

Gambar 3-7 Mengukur Tegangan Bolak Balik

4. HASIL DAN ANALISIS


Setelah praktikum, didapatkan data sebagai
berikut.

4.1

Ukur besar tegangan pada


osiloskop

Tabel 4-1 Data Pengukuran Arus dengan


Multimeter

Nilai
R1
dan
R2
()

Hitung
an

AMM

DMM 1

DMM 2

I (mA)

BU
(mA)

I(p)
(mA)

I(b)
(mA)

I(p)
(mA)

I(b)
(mA)

I(p)
(mA)

I(b)
(mA)

25

25

25

24.5

26.4

24.6

25.9

24.4

2.5

1.95

1.95

2.0

1.94

2.01
2

1.95

2.10-3

50.
10-3

2u.
10-3

2u.
10-3

0.01

0.01

1.95
u

1.95
u

Tuliskan hasil pengukuran


Gambar 3-6 Mengukur Tegangan Searah

MENGUKUR ARUS SEARAH

Saat dilakukan pengukuran secara terpisah,


hasilnya akan lebih mendekati perhitungan
matematis dibandingkan dengan pengukuran
saat bersamaan. Hal ini terjadi karena total
hambatan dalam pada multimeter akan
menjadi lebih besar jika disusun seri
bersama-sama, dan hal ini berdampak pada
hasil pengukuran yang diperoleh. Selain itu,
multimeter digital 1 juga sudah tidak dapat
mengukur dengan akurat jika komponen
yang diukur berada di luar jangkauan dari
spesifikasi multimeter tersebut.
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Bagian ini juga berisi uraian analisis atas data


yang diperoleh. Analisis yang didukung oleh
berbagai sumber pustaka akan lebih baik,
misalnya: grafik yang diperoleh pada
percobaan sesuai dengan pernyataan pada
halaman 44 di dalam rujukan [2].

50

2,
8

2,
8

2,9
3

2,9

2,9
8

2,89

Analisis yang logis dan akurat sangat


diperlukan
karena
data
hasil
setiap
percobaan yang telah dilakukan mungkin
tidak sama persis dengan teori atau
pernyataan di dalam sumber pustaka.

500

2,
8

2,
8

2,9

2,8
8

2,9
2

2,89

5K

2,
8

2,
8

2,2
9

2,2
8

2,9
2

2,89

50K

2,
8

2,
8

0,3
6

0,3
6

2,9

2,88

500K

2,
6

2,
6

3,5

3,4

5M

0,
6

0,0
1

0,0
1

0,00
9

4.2

MENGUKUR TEGANGAN SEARAH

Tabel 4-2 Data Pengukuran Tegangan dengan


Multimeter
R1
dan
R2
(

Hitunga
n

AMM

B
U
(V
)

Vab (V)

DMM 1

DMM 2

Vp
(V
)

Vb
(V
)

Vp
(V
)

Vb
(V
)

Vp
(V
)

Vb
(V
)

120

10

3,
2

3,
2

3,
0

3,
0

3,
0

3,
0

1,5
K

10

3,
2

3,
2

3,
0

3,
0

3,
0

1,5
M

10

0,
8

0,
8

2,
8

0,
6

2,
8

0,
6

Pada data di atas, dapat dilihat bahwa


pengukuran
tegangan
searah
berbeda
dengan pengukuran arus searah. Ketika
diukur secara bersamaan, pada resistor 120
dan !,5K menunjukkan angka yang relatif
stabil dan dekat dengan hasil perhitungan. Ini
karena pada saat pengukuran bersama,
instrumen disusun secara paralel sehingga
tegangan dalam totalnya lebih rendah dari
tegangan
dalam
di
masing-masing
multimeter. Pada pengukuran resistor 1,5M,
ada penyimpangan pada AMM, hal ini karena
resistansi
sebesar
1,5M
berada
di
luarjangkauan dari spesifikasi AMM. Hal ini
juga berdampak pada saat pengukuran
bersama
yang
mengakibatkan
nilai
pengukuran menjadi jauh dari perhitungan.

Pengukuran di atas dilakukan dengan


menggunakan resistor 1,5K sebanyak 2 buah
yang disusun seri. Dari data di atas, diketahui
bahwa teryata frekuensi tidak mempengaruhi
besarnya
tegangan.
Pada
pengukuran
frekuensi 50KHz, DMM 1 sudah menunjukkan
ketidakakuratannya dalam pengukuran. Hal
ini dikarenakan frekuensi tersebut berada di
atas spesifikasi frekuensi maksimal pada alat
tersebut. Sedangkan AMM dan DMM 2 tidak
akurat dalam mengukur frekuensi 500Khzdan
5MHz.
Pada
awal
pengukuran
terjadi
kesalahan pemasangan resistor. Seharusnya
resistor yang digunkan masing-masing berilai
1,5K. Akan tetapi praktikan menggunakan
resistor masing-masing sebesar 120. Data
yang tersaji di atas merupakan data yang
diambil dengan resistor bernilai 1,5K
masing-masingnya.
Tabel 4-4 Data Pengukuran Tegangan variasi
bentuk gelombang
Bentuk
Gelomban
g

AMM

DMM 1

DMM 2

Vp
(V)

Vb
(V)

Vp
(V)

Vb
(V)

Vp
(V)

Vb
(V)

Sinusoid

2,8

2,8

2,9
3

2,9

2,9
8

2,8
9

Segitiga

2,2

2,2

2,2
9

2,2
8

2,3
8

2,3
6

Tabel 4-3 Data Pengukuran Tegangan AC


variasi Frekuensi

Segi
empat

4,8

4,8

4,8

4,7
7

4,3
5

4,3
2

Frekuen
si (Hz)

Bentuk gelombang berpengaruh terhadap


besarnya frekuensi. Hal ini disebabkan
karena tegangan efektif yang diberikan untuk
setiap bentuk gelombang berbeda.

4.3

MENGUKUR TEGANGAN AC

AMM
Vp
(V)

Vb
(V

DMM 1
Vp
(V)

Vb
(V)

DMM 2
Vp
(V)

Vb
(V)

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

4.4

MENGUKUR RESISTANSI

Tabel 4-5 Hasil


dengan multimeter

pengukuran

resistansi

memiliki keterbatasan untuk mengukur


hambatan dengan resistansi kecil, hal ini
karena resistansinya berada jauh di bawah
dari spesifikasi.

Hitun
gan
()

War
na
gela
ng

(
%
)

AM
M

DM
M1

DM
M2

DM
M2

4.5

2W

2W

2W

4W

Tabel 4-6
Osiloskop

R1=2
20K

Mer
ah,
mer
ah,
kuni
ng,
ema
s

+
5

22
0K

219
K

219
K

Cokl
at,
hija
u,
ema
s,
ema
s

+
5

Cokl
at,
hita
m,
hita
m,
ema
s

+
5

Ora
nye,
oran
ye,
oran
ye,
ema
s

+
5

Mer
ah,
mer
ah,
mer
ah,
ema
s

+
5

R2=1
,5

R3=1
0

R4=3
3K

R5=2
,2K

0,1

1,4

10,
3

Ka
na
l

MENCEK KALIBRASI
Pemeriksaan

Kondisi

Kalibrasi

Harga
Kalibrator

Skala
pembaca
an

Hasil pengukuran

Tega
nga
n (V)

Frek
uens
i
(Hz)

Ver
t.
(V/
div)

Hor
s.
(s/
div
)

Tega
nga
n (V)

Peri
ode
(s)

Frek
uens
i
(Hz)

0,5
Vpp

1K

10
m

0,2
m

44m

1,0
6m

943,
4

0,5
Vpp

1K

10
m

0,2
m

50m

1m

953,
2

Hasil pengukuran tidak sama dengan harga


kalibrator sebenarnya. Ini bisa disebabkan
karena adanya medan listrik lain yang
mendistorsi sistem. Selain itu, juga adanya
daya disipasi dari alat yang memungkinkan
adanya penyimpangan nilai dari harga
kalibrator, walaupu penyimpangannya tidak
terlalu signifikan.

10

4.6

MENGUKUR TEGANGAN SEARAH

Tabel 4-7 Hasil Pengukuran tegangan DC


dengan multimeter dan osiloskop

22
K

1,6
K

33,
3K

2,1
9K

33K

Tegangan terukur (V)


Multimeter

Osiloskop
Ch1

Osiloskop
Ch2

2V

2V

2V

Untuk
pengukuran
tegangan
searah
diperoleh hasil yang sama dari ketiga metode
tersebut.

2,2
K

4.7

MENGUKUR TEGANGAN BOLAK


BALIK

Tabel 4-8 Hasil pengukuran tegangan AC


dengan multimeter dan osiloskop

0,2

0,1
5

Multimeter DMM2 dengan mode 4W sangat


efektif untuk pengukuran resistansi yang
sangat kecil. Sedangkan multimeter lainnya

Ampituda Tegangan Terukur


Frekuen
si (Hz)

Multimet
er

Osilosko
p Ch1

Osilosko
p Ch2

Vrms

Vp

Vp

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

100

2,8

1K

2,8

10K

1,11

Untuk pengukuran ini didapatkan data relatif


sama, tetapi terdapat penyimpangan pada
pengukuran
frekuensi
10KHz
dengan
multimeter. Ini juga dikarenakan frekuensi
tersebut berada di luar range dari spesifikasi
yang digunakan.

5. KESIMPULAN
Percobaan tentang modul 1 yang berjudul
Pengenalan Instrumentasi Laboratorium ini
bertujuan untuk mengenalkan alat-alat

praktikum yang akan sering digunkan oleh


praktikan nantinya. Praktikan dituntut untuk
memperhatikan spesifikasi alat sebelum
menggunakannya. Hasil dari perhitungan
tidak sama dengan hasil yang didapat dari
percobaan. Banyak sekali hal-hal yang
mempengaruhi, dan praktikan diharapkan
untuk dapat menggunakan instrumen yang
tepat saat pengukuran. Tujuannya untuk
mendapatkan akurasi pengukuran yang
tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

http://kbbi.web.id/ukur,
September 2015, 02.04 WIB.

[2]

Hutabarat, Mervin T., Petunjuk


Praktikum
Rangkaian
Elektrik.
Laboratorium Dasar Teknik Elektro,
Bandung, 2015.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

10