Anda di halaman 1dari 3

Tes Formatif 4

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan infrastruktur transportasi laut dan udara
perdesaan/lokal.
2. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang transportasi laut perintis dan pelayaran
rakyat, kaitkan penjelasan Anda dengan perannya masingmasing
3. Nyatakan secara luas kondisi kwalitatif dan kwalitas prasarana dan sarana angkutan
laut perintis dan pelayaran rakyat dalam menunjang perekonomian perdesaan dan
akses lokal.
4. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang pelayanan angkutan udara perintis. Kaitkan
penjelasan Anda dengan kebijakan pengembangan daerah terpencil/terisolasi dan
kawasan perbatasan.
5. Jelaskan strategi dan kebijakan pengembangan Infrastruktur transportasi dalam
upaya pengembangan regional/lokal atau tingkat aksesibilitas perdesaan.
Tantangan daiam pengembangan sistem transportasi laut dan udara
1.

adalah adanya perbedaan (letak, kualitas, dan kuantitas) potensi sumberdaya dan
manusia, sarana dan prasarana ekonomi baik pada level Pusat kegiatan Nasional,
Wilayah, maupun Lokal. Perbedaan ini menyebabkan timbulnya perbedaan jenis dan
aktivitas masyarakat pada suatu wilayah pengembangan dan keuntungan komparat'if
sehingga terjadi pola aliran

barang yang heterogen baik dari jumlah, bentuk

kemasan maupun nilai dan volume jenis. Hal ini dipengaruhi oleh potensi dan pemicu
pengembangan meliputi karakteristik permintaan, fasilitas infrastruktur pelabuhan,
kebijakan pengembangan kawasan-kawasan tertinggal/perdesaan, volume lalu lintas
melalui pelabuhan-pelabuhan regional dan lokal.
2. Angkutan laut perintis merupakan salah satu sub sistem dari sistem Angkutan Laut
Nasional, diselenggarakan oleh pemerintah, sejak tahun 1974/1975. Pelaksanaan
angkutan laut perintis dimaksudkan untuk melayanikebutuhan jasa angkutan laut
bagi wilayah-wilayah yang tergolong terpencil, terisolir/perdesaan dan belum
berkembang,

sehingga

diharapkan

pemerataan

pembangunan

serta

dapat

mendorong

mendorong

pengembangan

tumbuhnya

dan

pusat-pusat

pengembangan kegiatan regional dan lokal terutama I''di KTf (Rakomas Perintis,

2003). Penetapan trayek angkutan laut perintis ||fdisusun secara terpadu


berdasarkan

keadaan

dan

perkembangan

pelayaran

Idisetiap

wilayah

pengembangan, keadaan dan perkembangan hubungan 1 jalan raya dan angkutan


penyeberangan, serta wilayah terterrtu yang bersing.
3

Kondisi fasilitas pelabuhan regional yang dikelolah oleh Pelabuhan Indonesia


(BUMN) cukup memadai. Namun, dibeberapa pelabuhan regional dan lokal Kelas IV:
(UPT/Satker) dan perairan pedalaman khususnya yang disinggahi kapal-kapal
perintis dan pelayaran rakyat adalah sebagian besar beium memiliki fasilitas
dermaga yang permanen, sehingga menjadi kendala bagi kapal-kapal yang akan
berkunjung di daerah tersebut. Pelabuhanpelabuhan perintis yang berlokasi pada
kota-kota di kawasan pantai dan di daerah aliran sungai umumnya tidak memenuhi
syarat untuk disinggahi kapal, kondisi kedalaman perairan terbatas dan dipengaruhi
oleh pasang surut, serta dasar sungai khususnya pada muara-muara sungai
mempunyai endapan lumpur yang dinamis.

4 Angkutan Udara Perintis (AUP) diselenggarakan oleh pemerintah sebagaimana


halnya Angkutan Laut Perintis (ALP) untuk melayani daerahdaerah terpencil,
sehingga diharapkan dapat membuka keterisolasian daerah tersebut. Pemerintah
memberikan bantuan operasi atau subsidi operas dalam penyediaan sarana
angkutan udara pada rute yang telah ditetapkan dengan teratur/terjadwal. Rute-rute
angkutan udara perintis yang dipilih adalah rute yang menghubungkan daerah
pedalaman yang sukar dijangkau moda transportasi lain. Jumlah bandara yang
disinggahi angkutan udara perintis padatahun.
5 Mengingat kondisi refatif infrastruktur pelabuhan laut dan udara sangat bervariasi,
baik dllihat dari segi kineija pelayanan, kebutuhan daerah, standar minimum
pelayanan dan pembiayaan untuk rehabilitasi dan peningkatan serta pembangunan,
dan kondisi masing-masing wilayah sangat berbeda satu dengan lainnya. Begitupuia
terhadap sulitnya menemukan data dan informasi pembiayaan dengan waktu
relativef singkat.
yang terkait dengan pengembangan infrastruktur perdesaan. Untuk menghindari
produk kebijakan yang bias atau tidak tepat sasaran terhadap kebutuhan infrastruktur
dan pembiayaannya, diperlukan suatu studi yang lebihdalam terhadap masalah-

masalahefektifitas

peiaksanaan

kebijakan,

pengembangan infrastruktur perdesaan.

kebutuhan

dan

pembiayaan