Anda di halaman 1dari 10

LI I MENJELASKAN DAN MEMAHAMI KELAINAN KATUP

Pada beberapa pasien yang mengalami demam rematik akut bisa terjadi
kelainan katup jantung lainnya yang bisa berakibat pada gangguan
katup jantung, gagal jantung (CHF), radang selaput jantung
(perikarditis).
Kelainan bunyi

LI II MENJELASKAN DAN MEMAHAMI PENYAKIT JANTUNG REMATIK


LO 2.1 DEFINISI
Penyakit jantung rematik(PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic
Heart Disease (RHD) adalah salah satu bentuk penyakit yang paling serius
dari penyakit jantung masa kanak-kanak dan remaja. Penyakit jantung
rematik disebabkan karena terjadi kerusakan pada seluruh jantung dan
selaput nya. Penyakit jantung rematik adalah komplikasi dari demam rematik
dan biasanya terjadi setelah serangan demam rematik.
LO 2.2 KLASIFIKASI
PJR lebih sering terjadi pada penderita yang menderita keterlibatan
jantungyang berat pada serangan DR akut. PJR kronik dapat ditemukan
tanpa adanya riwayat DR akut. Hal ini terutama didapatkan pada penderita
dewasa denganditemukannya kelainan katup. Kemungkinan sebelumnya
penderita tersebutmengalami serangan karditis rematik subklinis, sehingga
tidak berobat dantidak didiagnosis pada stadium akut. Kelainan katup yang
paling sering ditemukan adalah pada katupmitral, kira-kira tiga kali lebih
banyak daripada katup aorta. Klasifikasi PJR memiliki 4 (empat) bagian,di
antaranya insufisiensi mitral,stenosis mitral, insufisiensi aorta, dan stenosis
aorta.
a. Insufisiensi Mitral (Regurgitasi Mitral)
Insufisiensi mitral merupakan lesi yang paling sering ditemukan pada masa
anak-anak dan remaja dengan PJR kronik. Pada keadaan ini bisa juga terjadi
pemendekan katup, sehingga daun katup tidak dapat tertutup dengan
sempurna. Penutupan katup mitral yang tidak sempurna
menyebabkanterjadinya regurgitasidarah dari ventrikel kiri ke atrium kiri
selama fase sistol. Pada kelainan ringantidak terdapat kardiomegali, karena
beban volume maupun kerja jantung kiri tidak bertambah secara bermakna.
Hal ini bisa dikatakan bahwa insufisiensi mitral merupakan klasifikasi

ringan,karena tidak terdapat kardiomegali yang merupakan salah satu gejala


gagal jantung.Tanda-tanda fisik insufisiensi mitral utama tergantung pada
keparahannya.Pada penyakit ringan,tanda-tanda gagal jantung tidak akan
ada. Pada insufisiensi berat, terdapat tanda-tanda gagal jantung kongestif
kronis, meliputi kelelahan, lemah, berat badan turun, pucat.
b. Stenosis Mitral
Stenosis mitral merupakan kelainan katup yang paling sering diakibatkan
olehPJR. Perlekatan antardaun-daun katup, selain dapat menimbulkan
insufisiensi mitral(tidak dapat menutup sempurna) jugadapat menyebabkan
stenosis mitral (tidak dapatmembuka sempurna). Ini akan menyebabkan
beban jantung kanan akan bertambah,sehingga terjadi hipertrofi ventrikel
kanan yangdapat menyebabkan gagal jantungkanan. Dengan terjadinya
gagal jantung kanan, stenosis mitraltermasuk ke dalamkondisi yang berat
c. Insufisiensi Aorta (Regurgitasi Aorta)
PJR menyebabkan sekitar 50% kasus regurgitasi aorta. Pada sebagian besar
kasus ini terdapat penyakit katup mitralis serta stenosis aorta. Regurgitasi
aortadapat disebabkan oleh dilatasi aorta,yaitu penyakit pangkal aorta.
Kelainan inidapat terjadi sejak awal perjalanan penyakit akibat perubahanperubahan yang terjadisetelah proses radang rematik pada katup aorta.
Insufisiensi aorta ringan bersifat asimtomatik. Oleh karena itu, insufisiensi
aorta juga bisa dikatakansebagaiklasifikasi PJR yang ringan. Tetapi apabila
penderita PJR memiliki insufisiensi mitraldaninsufisiensi aorta, maka
klasifikasi tersebut dapat dikatakan sebagai klasifikasiPJR yang sedang.
Halini dapat dikaitkan bahwa insufisiensi mitral dan insufisiensi aorta
memiliki peluang untuk menjadi klasifikasi berat, karena dapat
menyebabkan gagal jantung.
d. Stenosis aorta
Stenosis aorta adalah obstruksi aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta
dimana lokasi obstruksi dapat terjadi di valvuler, supravalvuler, dan
subvalvuler.Gejala-gejala stenosis aorta akan dirasakan penderita setelah
penyakit berjalan lanjuttermasuk gagal jantung dan kematian
mendadak.Pemeriksaan fisik pada stenosisaorta yang berat didapatkan
tekanan nadi menyempit dan lonjakan denyut arteri melambat.
LO 2.3 ETIOLOGI

Penyakit jantung reumatik (PJR) merupakan komplikasi yang


membahayakan dari demam reumatik. Katup-katup jantung tersebut rusak
karena proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi tenggorokan
yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus hemoliticus tipe A (contoh:
Streptococcus pyogenes), yang bisa menyebabkan demam reumatik. Kurang
lebih 39 % pasien dengan demam reumatik akut bisa terjadi kelainan pada
jantung mulai dari insufisiensi katup, gagal jantung, perikarditis bahkan
kematian. Dengan penyakit jantung reumatik yang kronik, pada pasien bisa
terjadi stenosis katup dengan derajat regurgitasi yang berbeda-beda, dilatasi
atrium, aritmia dan disfungsi ventrikel. Penyakit jantung reumatik masih
menjadi penyebab stenosis katup mitral dan penggantian katup pada orang
dewasa di Amerika Serikat.
LO 2.4 EPIDEMIOLOGI
Saat ini diperkirakan insiden demam reumatik di Amerika Serikat adalah
0,6 per 100.000 penduduk pada kelompok usia 5 sampai 19 tahun. Insidens
yang hampir sama dilaporkan di negara Eropa Barat. Angka tersebut
menggambarkan penurunan tajam apabila dibandingkan angka yang
dilaporkan pada awal abad ini, yaitu 100-200 per 100.000 penduduk..
Sebaliknya insidens demam reumatik masih tinggi di negara
berkembang. Data dari negara berkembang menunjukkan bahwa prevalensi
demam reumatik masih amat tinggi sedang mortalitas penyakit jantung
reumatik sekurangnya 10 kali lebih tinggi daripada di negara maju. Di
Srilangka insidens demam reumatik pada tahun 1976 dilaporkan lebih
kurang 100-150 kasus per 100.000 penduduk. Di India, prevalensi demam
reumatik dan penyakit jantung reumatik pada tahun 1980 diperkirakan
antara 6-11 per 1000 anak. Di Yemen, masalah demam reumatik dan
penyakit jantung reumatik sangat besar dan merupakan penyakit
kardiovaskular pertama yang menyerang anak-anak dan menyebabkan
morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Di Yogyakarta pasien dengan demam
reumatik dan penyakit jantung reumatik yang diobati di Unit Penyakit Anak
dalam periode 1980-1989 sekitar 25-35 per tahun, sedangkan di Unit
Penyakit Anak RS. Cipto Mangunkusumo tercatat rata-rata 60-80 kasus baru
per tahun.
Insidens penyakit ini di negara maju telah menurun dengan tajam
selama 6 dekade terakhir, meskipun begitu dalam 10 tahun terakhir ini telah
terjadi peningkatan kasus demam reumatik yang mencolok di beberapa
negara bagian Amerika Serikat. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa

demam reumatik belum seluruhnya terberantas, dan selalu terdapat


kemungkinan untuk menimbulkan masalah kesehatan masyarakat baik di
negara berkembang maupun negara maju
LO 2.5 PATOFISIOLOGI
Terjadinya Jantung Rematik disebabkan langsung oleh demam rematik,
suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh infeksi streptokokus grup A.
demam rematik mempengaruhi semua persendian, menyebabkan
poliartritis. Jantung merupakan organ sasaran dan merupakan bagian yang
kerusakannya paling serius.
Kerusakan jantung dan lesi sendi bukan akibat infeksi, artinya jaringan
tersebut tidak mengalami infeksi atau secara langsung dirusak oleh
organisme tersebut, namun hal ini merupakan fenomena sensitivitas atau
reaksi, yang terjadi sebagai respon terhadap Streptokokus Hemolitikus.
Leukosit darah akan tertimbun pada jaringan yang terkena dan membentuk
nodul, yang kemudian akan diganti dengan jaringan parut. Miokardium tentu
saja terlibat dalam proses inflamasi ini, artinya, berkembanglah Miokarditis
Rematik, yang sementara melemahkan tenaga kontraksi jantung. Demikian
pula pericardium juga terlibat; artinya, juga
terjadi Pericarditis Rematikselama perjalanan akut penyakit. Komplikasi
miokardial dan pericardial biasanya tanpa meninggalkan gejala sisa yang
serius. Namun sebaliknyaEndokarditis Rematik mengakibatkan efek
samping kecacatan permanen.

Endokarditis rematik secara anatomis dimanifestasikan dengan adanya


tumbuhan kecil yang transparan,yang menyerupai manik dengan ukuran
sebesar kepala jarum pentul, tersusun dalam deretan sepanjang tepi bilah
katup. Manik-manik kecil itu tidak tampak berbahaya dan dapat menghilang
tanpa merusak bilah katup, namun yang lebih sering mereka menimbulkan
efek serius. Mereka menjadi awal terjadinya suatu proses yang secara
bertahap menebalkan bilah-bilah katup, menyebabkan menjadi memendek
dan menebal dibanding yang normal, sehingga tidak dapat menutup dengan
sempurna. Terjadilah kebocoran, suatu keadaan yang disebut regurgitasi
katup. Tempat yang paling sering mengalami regurgitasi katup adalah katup
mitral.
LO 2.6 MANIFESTASI KLINIS

Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantung reumatik


dapat dibagi dalam 4 stadium.
Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus
Hemolyticus Grup A.Keluhan: Demam, batuk, rasa sakit waktu menelan,
muntah, diare, peradangan padatonsil yang disertai eksudat.
Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi
streptococcus denganpermulaan gejala demam reumatik; biasanya periode
ini berlangsung 1-3 minggu,kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau
bahkan berbulan-bulan kemudian.
Stadium III
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat
ini timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik/penyakit jantung
reumatik. Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala
peradangan umum danmenifesrasi spesifik demam
reumatik/penyakit jantung reumatik. Gejala peradangan umum: Demam
yang tinggi, lesu, anoreksia, lekas tersinggung, berat badan menurun,
kelihatan pucat, epistaksis, athralgia, rasa sakit disekitar sendi, sakit perut.
Stadium IV Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam
reumatik tanpa kelainan jantung/penderita penyakit jantung reumatik tanpa
gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala apa-apa.
Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan
katupjantung, gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya
kelainan. Pada fase ini baik penderita demam reumatik maupun penyakit
jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.

LO 2.7 PEMERIKSAAN FISIK DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


*Pemeriksaan Fisik
- Tanda tanda vital
- Kulit

- Anggota gerak
- Jantung
*Pemeriksaan Rontgen
Pada pemeriksaan rontgen thoraks didapatkan beberapa hal penting yaitu
terlihat pembesaran atrium kiri dan ventrikel kiri, serta mungkin tanda-tanda
bendungan paru pada kasus regurgitasi mitral yang berat. Kadang-kadang
terlihat pengapuran pada anulus mitral. Sedangkan pada kasus ringan tanpa
gangguan hemodinamik yang nyata, besar jantung biasanya normal.
Pada foto rontgen thoraks AP pasien ini didapatkan adanya pembesaran
jantung (kardiomegali) dengan pinggang jantung menghilang dan apeks
membulat yang menunjukkan pembesaran atrium kiri dan ventrikel kiri. Dari.
Dari hasil EKG pasien ini juga terdapat fibrilasi atrium yang sering menjadi
temuan penting pada penderita regurgitasi mitral.
*Pemeriksaan Elektrokardiografi
Elektrokardiografi
Ketika dilakukan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) saat istirahat
kelihatan normal. Akan tetapi pada saat melakukan aktifitas fisik atau emosi
ketidak seimbangan mulai terjadi, dan timbullah keluhan-keluhan akibat otot
jantung kekurangan oksigen. Itulah sebabnya, kemudian
dikembangkan pemeriksaan elektrokardiografi yang dilakukan pada saat
melakukan aktifitas fisik, pemeriksaan ini disebut uji latih jantung (test
treadmill).
EKG pencatatan aktifitas jantung atas dasar perbedaan potensial listrik
Berguna untuk :
Menentukan hipertrofi
Menentukan terdapat gangguan miokard
Membantu diagnosis spesifik disritmia
Membantu diagnosis perikarditis / efusi pericard
Mengetahui efek pelbagai obat terhadap kardiovaskular
Menentukan terdapat gangguan metabolik atau elektrolit
Ada 12 hantaran yang perlu dicatat pada EKG : I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1, V2,
V3, V4, V5, V6.
V3R dan V4R disebut hantaran dada kanan penting untuk menggambarkan
keadaan ventrikel kanan.
*Pemeriksaan Ekokardiografi
Menilai beratnya penyumbatan atau kebocoran katup tersebut. Bila
penyumbatan atau kebocoran ringan, tidak diperlukan tindakan khusus,

selain pemberian obat untuk menunjang fungsi jantung. Namun jika


penyumbatan atau kebocoran memberat, diperlukan pergantian katup
jantung dengan operasi.
Ekokardigrafi Doppler dapat dipergunakan untuk mengetahui morfologi lesi
katup mitral, derajat atau beratnya MR. Hasil ekokardiografi yang telah
dilakukan pada pasien ini 1 bulan SMRS menunjukkan adanya mitral
regurgitasi dengan fungsi sistolik dari ventrikel kiri yang telah menurun,
selain itu dari gambaran ekokardiografi juga tampak dilatasi ventrikel kiri dan
atrium kiri.
Pemeriksaan Bakteriologi
Biakan hapus tenggorokan untuk membuktikan adanya streptococcus
Pemeriksaan serologi. Diukur titer ASTO, astistreptokinase, anti
hyaluronidase.

LO 2.8 DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING


DIAGNOSIS
Kriteria diagnosis oleh jones meliputi dua kriteria mayor atau satu kriteria
mayor dan satu kriteria minor
a. Kriteria Mayor
1. Karditis.
Karditis paling sering terjadi pada anak dan remaja. Adanya karditis dapat
dilihat dari gejala perikarditis, kardiomegali, gagal jantung, bising karena
regurgitasi aorta dan mitral
2. Eritema Marginatum
Eritema marginatum berupa makula yang cepat membesar berbentuk cincin
atau sabit dengan bagian tengah yang jernih. Eritema bisa menimbul,
berkonfluens, dan hilang timbul atau menetap.
3. Nodul subkutan
Nodul subkutan jarang temui kecuali pada anak. Diameter kurang lebih 2cm,
tidak dapat digerakkan, tidak nyeri tekan, dan menempel pada fasia atau
sarung tendon diatas tonjolan tulang. Nodul menetap selama beberapa hari
atau minggu, rekuens, dan tidak dapat dibedakan dari nodul reumatik.
4. Korea Sydenham
Pergerakan korea atetoid terutama pada wajah, lidah dan ekstermitas pada
bagian atas, mungkin merupakan manifestasi satu-satunya, hanya setengah
kasus mempunyai tanda-tanda demam reumatik yang jelas. Gadis remaja

lebih sering terkena, dan pada orang dewasa jarang. Kejadiannya sangat
jarang namun paling paling diagnostik untuk demam reumatik
5. Artritis
Merupakan poliartritis migran yang melibatkan sendi-sendi besar secara
berantai. Pada orang dewasa hanya satu sendi yang terkena. Artritis
berlangsung selama 1 sampai 5 minggu dan mereda tanpa deformitas sisa
b. Kriteria Minor
Meliputi demam, poliartralgia, interval PR yang menunjang reversibel, LED
meningkat, didahului infeksi streptococcus hemolyticus, atau riwayat
demam reumatik
DIAGNOSIS BANDING
1) Insufisiensi mitral:
Bentuk jantung pada insufisiensi mitral ini hampir sama dengan stenosis
mitral. Pada insufisiensi mitral, ventrikel kiri nampak besar; sedang pada
stenosis mitral ventrikel kiri normal atau mengecil.
2) Regurgitasi Aorta : Hipertrofi ventrikel kiri yang jelas, pengurangan bunyi
jantung pertama (S1) dan tidak adanya opening snap pada auskultasi
menyokong kearah regurgitasi aorta
LO 2.9 PENATALAKSANAAN
Tatalaksana bergantung dari tipe dan beratnya penyakit jantung rheuma.
Pada kebanyakan kasus, obat pengencer darah (aspirin) diberikan untuk
mencegah penumpukan. Dokter biasanya juga memberikan beta blocker dan
calcium channel blocker untuk menurunkan kerja jantung. Dan digitalis untuk
meningkatkan efisiensi kerja jantung.
Karena demam rheuma merupakan penyebab dari penyakit jantung rheuma,
pengobatan yang terbaik adalah untuk mencegah relaps dari demam
rheuma. Antibiotik seperti penisilin dan lainnya biasanya dapat mengobati
infeksi dari bakteri streptococcus. Dan menghentikan demam rheuma
bermanifestasi. Apabila anda mempunyai riwayat terkena demam rheuma
biasanya kan diberikan terapi antibiotik dalam jangka waktu yang panjang
untuk mencegah demam rheuma timbul kembali dan mengurangi risiko
terkena penyakit jantung rheuma. Untuk mengurangi gejala peradangan
dapat diberikan aspirin, kortikosteroid atau NSAID(obat anti inflamasi nonsteroid).
Terapi pembedahan dapat dilakukan untuk memperbaiki dan mengganti
katup jantung yang rusak.

Pengobatan Jantung Reumatik


Apabila diagnosa penyakit jantung rematik sudah ditegakkan dan masih
adanya infeksi oleh kuman Streptococcus tersebut, maka hal utama yang
terlintas dari Tim Dokter adalah pemberian antibiotika dan anti radang.
Misalnya pemberian obat antibiotika penicillin secara oral atau benzathine
penicillin G. Pada penderita yang allergi terhadap kedua obat tersebut,
alternatif lain adalah pemberian erythromycin atau golongan cephalosporin.
Sedangkan antiradang yang biasanya diberikan adalah Cortisone and Aspirin.
NON FARMAKO:
*TERAPI DIET
Tujuan diet pada penyakit jantung adalah memberikan makanan secukupnya
tanpa memberatkan kerja jantung, mencegah atau menghilangkan
penimbunan garam atau air.
Syarat-syarat diet penyakit jantung antara lain: energi yang cukup untuk
mencapai dan mempertahankan berat badan normal, protein yang cukup
yaitu 0,8 gram/kgBB, lemak sedang yaitu 25-30% dari kebutuhan energi total
(10% berasal dari lemak jenuh dan 15% lemak tidak jenuh), Vitamin dan
mineral cukup, diet rendah garam 2-3 gram perhari, makanan mudah cerna
dan tidakmenimbulkan gas, serat cukup untuk menghindari konstipasi,
cairan cukup 2 liter perhari. Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui
makanan dapat diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral
atau sulemen gizi.

LO 2.10 PROGNOSIS
Adanya atau tidak adanya kerusakan jantung permanen menentukan
prognosis. Perkembangan dari penyakit jantung residual dipengaruhi oleh 3
faktor, yaitu :
1.Keadaan jantung pada awal terapi. Semakin berat keterlibatan jantung
pada saat pertama kali pasien diperiksa, semakin besar resiko timbulnya
kelainan jantung residual.
2.Kekambuhan demam reumatik. Semakin berat keterlibatan katup, maka
angka kekambuhannya semakin tinggi.
3.Regresi dari gangguan jantung. Bukti adanya keterlibatan jantung pada
serangan awal mungkin tidak terlihat pada 10 25 % pasien, dan baru
nampak kurang lebih 10 tahun setelah serangan awal.

LO 2.11 KOMPLIKASI
Gagal jantung dapat terjadi pada beberapa kasus. Komplikasi lainnya
termasuk aritmatika jantung, pankarditis dengan efusi yang luas,
pneumonitis reumatik, emboli paru, infark, dan kelainan katup jantung.
LO 2.12 PENCEGAHAN
Cara pencegahan paling efisien adalah dengan rajin membersihkan tempat
tinggal. Karena bakteri Streptococcus, pembawa penyakit demam rematik yang
memicu terjadinya jantung rematik, biasanya berkembang di lingkungan yang tidak
bersih.

Berolahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat juga harus dilakukan


untuk menjaga tingkat kekebalan tubuh. Menghindari rokok dan memakai
masker di udara berdebu sangat baik untuk dilakukan. Berhati-hati juga saat
terjadi perubahan cuaca ekstrem. Sebab di waktu tersebut biasanya
bakteri Streptococcus sering menginfeksi.
Kalau kondisi jantung rematik semakin memburuk, pilihan terakhir adalah
operasi.