Anda di halaman 1dari 25

STATUS OBSTETRI

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


Jl. Arjuna Utara No. 6. Kebon Jeruk- Jakarta Barat
SMF OBSTETRI RS MARDI RAHAYU KUDUS
Nama

: Alvivin

Tanda tangan :

NIM

: 11.2014.294

Dr pembimbing / penguji

: dr. Wahyu Jatmika,Sp.OG

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny.S
Umur : 38 tahun
Status perkawinan : Kawin (GIIIPIAI)
Pekerjaan :Karyawan swasta
Alamat :Pladen RT 03 RW.0, Pladen,

Jenis kelamin : Perempuan


Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Masuk Rumah Sakit : 13 Oktober 2015

Jekulo,Kudus

Pukul 07.45 WIB

Nama suami

: Tn. K

Umur

: 34 Tahun

Pekerjaan

: Karyawan Swasta

Alamat

: Pladen RT 03 RW.0, Pladen, Jekulo,Kudus

Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis tanggal 13 Oktober 2015, pukul 07.50 WIB
Keluhan utama :
Perut terasa kencang-kencang sejak 1 hari SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang dengan keluhan perut kencang-kencang sejak kemarin, perut kencang-kencang
dirasakan terus menerus, tidak menghilang walaupun dibawa jalan sejak 1 hari SMRS. Os
juga mengeluh keluar lendir disertai darah dari jalan lahir disertai dengan gumpalangumpalan. Saat ini os sedang hamil 39 minggu. Os datang dengan rujukan dari bidan sekitar
tempat tinggal os dengan kondisi kehamilan berupa letak sungsang. Os mengatakan bahwa
selama ini sudah rutin kontrol kehamilan ke bidan.
Os tidak mengeluhkan adanya demam, pusing, mual, muntah, dan mata berkunang. Os
memiliki riwayat keguguran sebelumnya dan sudah di kuret. Os juga tidak memiliki riwayat
1

trauma selama kehamilan. Os mengatakan hari pertama haid terakhir adalah tanggal 10
Januari 2015.
Riwayat Kehamilan:
ANC rutin di bidan..
Riwayat Haid:
Menarche

: 12 Tahun

Siklus

: 28-30 hari

Lama

: 5 hari

HPHT

: 10 Januari 2015

HPL

: 17 Oktober 2015

- Perkawinan

:1 kali

- Menikah usia

: 25 tahun

- Lama menikah

: 13 tahun

- Riwayat KB

: KB suntik 3 bulan pada tahun 2003 selama 4 tahun

- ANC

: teratur ke bidan

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


Hamil

Usia

Jenis

Penyuli

penolon

Jenis

ke

kehamila

persalina

kelamin lahir

n
37 minggu

1
2
3

normal

Bidan

2 bulan, Blighted Ovum


Hamil ini

BB/TB

3,7 kg

Umur

Masa

sekarang

Nifas

12 tahun

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak pernah menderita penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis, asma dan alergi.

OS memiliki riwayat operasi benjolan pada wajah sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis,
asma dan alergi.
Pemeriksaan Fisik
2

Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80x/menit

Pernafasan

: 20x/menit

Suhu

: 36,4oC

Mata

: Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik -/-

Jantung

: BJ I-II reguler murni, gallop (-), murmur (-)

Paru

: Suara napas dasar vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak membuncit sesuai massa kehamilan,tidak tampak linea nigra,


dan striae gravidarum. BU (+), Nyeri tekan (-).

Genitalia

: Lihat status obstetrikus

Ekstremitas

: Edema -/-, akral hangat+/+

Status Obstetrikus
Pemeriksaan Luar
Wajah
Payudara
Abdomen

: Chloasma gravidarum (-)


: pembesaran payudara (+), hiperpigmentasi areola mammae (+), puting
susu menonjol (+), pengeluaran ASI (-)
:

: Membuncit sesuai usia kehamilan, linea nigra (-) dan striae gravidarum

Inspeksi

(-), sikatrik (-), bekas operasi laparotomi (-)

Palpasi
:
Leopold I

Leopold II

: Tinggi Fundus Uteri 5 jari di bawah processus xyphoideus, 31


cm, teraba bagian bulat, melenting, dan keras di sebelah atas.
Tafsiran Berat Janin = (31 cm - 11) x 155 = 3100 gr
: teraba bagian memanjang dan keras di sebelah kiri, dan teraba
bagian terkecil di sebelah kanan.

Leopold III
Leopold IV

Auskultasi

: teraba bulat, keras, dan tidak melenting.


: bokong sudah masuk PAP

: denyut jantung janin (+) 146 x/menit

His (+) 2x dalam 10 menit selama 10 detik.


Refleks Patella (+)
Pemeriksaan dalam (VT)
pembukaan 1cm, effacement 25%, KK (+)
3

bagian bawah janin bokong, hodge I+


teraba sacrum
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin
Golongan darah/Rh

A/+

Waktu perdarahan/BT

2.00 menit

(N : 1-3)

Waktu pembekuan/CT

5.30 menit

(N : 2-6)

Hemoglobin

11,8 g/dL

(N : 11,7 15,5)

Leukosit

10,78 ribu

(N : 3,6- 11,0)

Hematokrit

33,40%

(N : 36-46)

Trombosit

237 10^3/uL

(N : 150.000-440.000)

Imunoserologi

HbsAg
HIV stik

negatif (-)
negatif (-)

N : negatif (-)
N : negative (-)

Ringkasan
Os datang dengan keluhan perut kencang-kencang sejak kemarin. Os juga mengeluh keluar
lendir disertai darah dari jalan lahir disertai dengan gumpalan-gumpalan. Saat ini os sedang
hamil 39 minggu. Os datang dengan rujukan dari bidan sekitar tempat tinggal os dengan
kondisi kehamilan berupa letak sungsang. Os mengatakan bahwa selama ini sudah rutin
kontrol kehamilan ke bidan.Os memiliki riwayat keguguran sebelumnya dan sudah di kuret.
Menarche

: 12 Tahun

Siklus

: 28-30 hari

Lama

: 5 hari

HPHT

: 10 Januari 2015

HPL

: 17 Oktober 2015

Abdomen

: Membuncit sesuai usia kehamilan, linea nigra (-) dan striae gravidarum

Inspeksi

(-), sikatrik (-), bekas operasi laparotomi (-)

Palpasi
:
Leopold I

Leopold II

: Tinggi Fundus Uteri 5 jari di bawah processus xyphoideus, 31


cm, teraba bagian bulat, melenting, dan keras di sebelah atas.
Tafsiran Berat Janin = (31 cm - 11) x 155 = 3100 gr
: teraba bagian memanjang dan keras di sebelah kiri, dan teraba
bagian terkecil di sebelah kanan.

Leopold III
Leopold IV

Auskultasi

: teraba bulat, keras, dan tidak melenting.


: bokong sudah masuk PAP

: denyut jantung janin (+) 146 x/menit

His (+) 2x dalam 10 menit selama 10 detik.


Refleks Patella (+)
Pemeriksaan dalam (VT)
pembukaan 1cm, effacement 25%, KK (+)
bagian bawah janin bokong, hodge I+
teraba sacrum
Diagnosis Kerja

GIIIPIAI 38 tahun hamil 39 minggu

Janin I hidup intrauterin

Presentasi bokong, bsudah masuk PAP, puki

Inpartu kala I fase laten

letak sungsang

Rencana pengelolaan

VT : pembukaan 1cm, effacement 25%, KK (+)


Bagian bawah janin bokong, Hodge I+
Teraba sacrum

Sikap: Pengawasan 10
Infus RL 20 tpm
Puasa pro Sectio caesarea

Prognosis
Power

: ad bonam

Passage

: ad bonam

Passanger

: ad bonam
5

Follow Up
Tanggal 13 Oktober 2015, Jam 17.00
S : Perut terasa kencang-kencang
O : KU : baik

kesadaran: CM

TD : 130 / 90 mmHg

RR: 20 x/menit

HR : 80 x/menit

T : 36,4C

DJJ: 146 x/menit


HIS : 2x / 10 menit (10 detik)
PPV : (+) lendir darah
Tanda tanda inpartu kala I ( + )
VT :
1, KK ( + ) Eff 25%
Bagian bawah janin Bokong H I+
Teraba Sacrum
A:

GIIIPIAI 38 tahun hamil 39 minggu


Janin I hidup intrauterin
Presentasi bokong, bsudah masuk PAP, puki
Inpartu kala I fase laten
letak sungsang

Infus RL 20 tpm
Puasa
Masuk VK

P:

Operasi Sectio Caesarea


Tanggal 13 Oktober 2015 jam 09.35
-

insisi abdomen di linea mediana sepanjang 10 cm di atas symphisis


insisi diperdalam lapis demi lapis hingga peritoneum terbuka
Tampak uterus sesuai umur hamil aterm
Buka plica vesica uterina semilunar
Insisi pada Segmen bawah rahim 10 cm
Ekstraksi bokong bayi, bayi dilahirkan bokong, badan, bahu, kepala
Bayi perempuan 3540 gram, 49 cm, Apgar score 9-10-10
Plasenta dilahirkan manual, kotiledon lengkap
Jahit SBR dengan chromic catgut no 2 jelugur
Over hecting dengan CC no 2
6

Kontrol perdarahan, perdarahan berhenti


Adneksa dalam batas normal
Jahit peritoneum dengan plain catgut no 0
Jahit fascia dengan polysorb no 2
Jahit otot dengan plain catgut no 0
Jahit lemak subkutan dengan plain catgut no 2-0
Jahit kulit dengan jahitan subkutan nilon no 2.0 diskontinuitas
Perdarahan selama op 200 cc
Tindakan selesai

Instruksi pasca tindakan


-

Infus RL/ Nacl / D5 30 tpm


Ceftriaxon 2 x 1
Alinamin F 1 x 1

Ketolorac 2 x 1

Vit C 1 x 1

cek Hb post operasi

Follow Up Post Operasi


Tanggal 14 Oktober 2015 pukul 09.45
S

: Nyeri luka bekas operasi, flatus (+)

: Keadaan Umum: Tampak sakit ringan


Kesadaran
: Compos mentis
TD

: 110/70 mmHg

N :80 x / menit

RR

: 20 x/ menit

Mata
C/P
Mammae
Abdomen
TFU
PPV
Ekstremitas

: CA -/- SI -/: BJ I-II murni reguler, SN Vesikuler +/+


: Puting menonjol, ASI (-)
: Supel, nyeri tekan (+), bising usus (-), kontraksi uterus baik
: 2 Jari di bawah pusat
: Lochea (+)
: Akral hangat, edema (-)

S :36.3o C

Hemoglobin post operasi : 11,6 g/ dl


A

: PIIAI post SC hari I atas indikasi letak sungsang

: tirah baring, terapi dilanjutkan

15 Oktober 2015 pukul 10.00


S:
O:

Nyeri luka bekas operasi.


Keadaan Umum: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
TD
: 110/70 mmHg
HR
: 80x/menit

RR
T

: 20 x/menit
: 36,9C
7

Mata
: CA -/- SI -/C/P
: BJ I-II murni reguler, SN Vesikuler +/+
Mammae
: Puting menonjol, ASI (+)
Abdomen
: Supel, nyeri tekan (+), bising usus (-), kontraksi uterus baik
TFU
: 2 Jari di bawah pusat
PPV
: Lochea (+)
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
A:
PIIAI post SC hari II atas indikasi letak sungsang
P:
- Tirah baring
- Minum, makan bubur halus
- Terapi dilanjutkan
16 Oktober 2015 pukul 09.00
S

: Nyeri di tempat jahitan

: Keadaan Umum: Baik


Kesadaran
: Compos mentis
TD
: 110/70 mmHg
RR
: 20x/menit
HR
: 80x/menit
T
T
: 36,6oC
Mata
: CA -/- SI -/C/P
: BJ I-II murni reguler, SN Vesikuler +/+
Mammae
: Puting menonjol, ASI (+)
Abdomen
: Supel, nyeri tekan (+), bising usus (+), kontraksi uterus baik
TFU
: 2 Jari di bawah pusat
PPV
: Lochea (+)
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)

: PIIAI post SC hari III atas indikasi letak sungsang

: Mobilisasi, pasien pulang

Tinjauan Pustaka
Pendahuluan
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan
kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri

(1)

. Tipe letak

sungsang yaitu: Frank breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi ; Complete breech (510%) yaitu tungkai atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi ; Footling (10-30%) yaitu satu
atau kedua tungkai atas ekstensi, presentasi kaki (1).
Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan presentasi bokong
sebesar 4-5 kali dibanding presentasi kepala. Kehamilan dengan presentasi bokong
merupakan kehamilan yang memiliki risiko. Hal ini dikaitkan dengan abnormalitas janin dan
ibu. Frekuensi dari letak sungsang ditemukan kira-kira 4,4 % di Rumah Sakit Dr. Pirngadi
Medan dan 4,6 % di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Banyak faktor yang dapat
8

menyebabkan kelainan letak presentasi bokong, diantaranya paritas ibu dan bentuk panggul
ibu. Angka kejadian presentasi bokong jika dihubungkan dengan paritas ibu maka kejadian
terbanyak adalah pada ibu dengan multigravida dibanding pada primigravida, sedangkan jika
dihubungkan dengan panggul ibu maka angka kejadian presentasi bokong terbanyak adalah
pada panggul sempit, dikarenakan fiksasi kepala janin yang tidak baik pada Pintu Atas
Panggul (1).
Definisi
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala
di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri (1). Tipe letak sungsang yaitu:
Frank breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi ; Complete breech (5-10%) yaitu tungkai
atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi ; Footling (10-30%) yaitu satu atau kedua tungkai
atas ekstensi, presentasi kaki (2).

PREVALENSI
Kejadian presentasi bokong ditemukan sekitar 3-4% dari seluruh persalinan tunggal. (13)

Presentasi bokong adalah suatu keadaan pada letak janin memanjang dimana presentasi

bokong dengan atau tanpa kaki merupakan bagian terendahnya. Angka kejadiannya adalah 34% dari seluruh kehamilan. (1-3) Beberapa peneliti lain seperti Greenhill melaporkan kejadian
persalinan presentasi bokong sebanyak 4-4,5%.(1) Di Parkland Hospital 3,5 persen dari
136.256 persalinan tunggal dari tahun 1990 sampai 1999 merupakan letak sungsang

(1)

Sedangkan di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang sendiri pada tahun 2003-2007
didapatkan persalinan presentasi bokong sebesar 8,63%.
Mortalitas perinatal : kematian perinatal 13 kali lebih tinggi daripada kematian
perinatal pada presentasi kepala. Morbiditas perinatal : 5-7 kali lebih tinggi daripada
presentasi kepala. Gambaran ini dipengaruhi usia kehamilan, berat janin dan jenis presentasi
bokong. Sebab utama kematian perinatal pada presentasi bokong : hipoksia, trauma
persalinan, prematuritas dan kelainan kongenital. Kelainan kongenital terdapat 6-18% pada
presentasi bokong, dibandingkan 2-3% pada presentasi kepala (1,2,4).

Etiologi
Faktor predisposisi dari letak sungsang adalah prematuritas, abnormalitas uterus
(malformasi, fibroid), abnormalitas janin (malformasi CNS, massa pada leher, aneploid),
9

overdistensi uterus (kehamilan ganda, polihidramnion), multipara dengan berkurangnya


kekuatan otot uterus, dan obstruksi pelvis (plasenta previa, myoma, tumor pelvis lain). Fianu
dan Vacclanova (1978) mendapatkan dengan pemeriksaan USG bahwa prevalensi letak
sungsang tinggi pada implantasi plasenta pada cornu-fundal(1). Lebih dari 50 % kasus tidak
ditemukan faktor yang menyebabkan terjadinya letak sungsang (4).
Patofisiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan
dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif
lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian
janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban
relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada kepala,
maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan
kepala berada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat
dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih
tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam
presentasi kepala. Sayangnya, beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada
dalam posisi sungsang.
Tanda dan gejala
Kehamilan dengan letak sungsang seringkali oleh ibu hamil dinyatakan bahwa
kehamilannya terasa lain dari kehamilan sebelumnya, karena perut terasa penuh dibagian atas
dan gerakan lebih banyak dibagian bawah. Pada kehamilan pertama kalinya mungkin belum
bisa dirasakan perbedaannya. Dapat ditelusuri dari riwayat kehamilan sebelumnya apakah
ada yang sungsang.
Pada pemeriksaan luar berdasarkan pemeriksaan Leopold ditemukan bahwa Leopold I
difundus akan teraba bagian yang keras dan bulat yakni kepala. Leopold II teraba punggung
disatu sisi dan bagian kecil disisi lain. Leopold III-IV teraba bokong dibagian bawah uterus.
Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah kepala,

10

tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah kepala. Denyut jantung janin pada umumnya
ditemukan setinggi pusat atau sedikit lebih tinggi daripada umbilicus.
Pada pemeriksaan dalam pada kehamilan letak sungsang apabila didiagnosis dengan
pemeriksaan luar tidak dapat dibuat oleh karena dinding perut tebal, uterus berkontraksi atau
air ketuban banyak. Setelah ketuban pecah dapat lebih jelas adanya bokong yang ditandai
dengan adanya sakrum, kedua tuberositas iskii dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus
dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu
jari vang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama
dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan lama, bokong mengalami edema sehingga
kadang-kadang sulit untuk membedakan bokong dengan muka. Pemeriksaan yang teliti dapat
membedakan bokong dengan muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus
mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan kedalam mulut akan meraba
tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan, mulut dan tulang pipi akan membentuk
segitiga, sedangkan anus dan tuberosis iskii membentuk garis lurus. Pada presentasi bokong
kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba disamping bokong, sedangkan pada presentasi
bokong kaki tidak sempuma hanya teraba satu kaki disamping bokong. Informasi yang paling
akurat berdasarkan lokasi sakrum dan prosesus untuk diagnosis posisi.
Diagnosis
Diagnosis letak bokong dapat ditentukan dengan persepsi gerakan janin oleh ibu,
pemeriksaan Leopold, auskultasi denyut jantung janin di atas umbilikus, pemeriksaan dalam
dan pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan jika masih ada keragu-raguan dari pemeriksaan luar dan dalam,
sehingga harus di pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik atau M R I
( M a g n e t i c R e s o n a n c e I m a g i n g ) . Pemeriksaan ultrasonografik diperlukan untuk
konfirmasi letak janin, bila pemeriksaan fisik belum jelas, menentukan letak placenta,
menemukan kemungkinan cacat bawaan. Pada foto rontgen (bila perlu) untuk
menentukan posisi tungkai bawah, konfirmasi letak janin serta fleksi kepala, menentukan
adanya kelainan bawaan anak (1,2,4).

11

Jenis Persalinan
Untuk memilih jenis persalinan pada letak sungsang Zatuchni dan Andros telah
membuat suatu indeks prognosis untuk menilai apakah persalinan dapat dilahirkan
pervaginam atau perabdominal. Jika nilai kurang atau sama dengan 3 dilakukan persalinan
perabdominal, jika nilai 4 dilakukan evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan
janin; bila nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam, jika nilai lebih dari 5 dilahirkan
pervaginam (5).
ALARM memberikan kriteria seleksi untuk partus pervaginam yaitu jenis letak
sungsang adalah frank atau bokong komplit, kepala fetus tidak hiperekstensi dan taksiran
berat janin 2500-3600 gram serta tindakan augmentasi dan induksi persalinan diperbolehkan
pada janin letak sungsang.
Persalinan pervaginam dilakukan jika tidak ada hambatan pada pembukaan dan
penurunan bokong. Syarat persalinan pervaginam pada letak sungsang: bokong sempurna
(complete) atau bokong murni (frank breech), pelvimetri, klinis yang adekuat, janin tidak
terlalu besar, tidak ada riwayat seksio sesaria dengan indikasi CPD, kepala fleksi. Mekanisme
persalinan letak sungsang berlangsung melalui tiga tahap yaitu:

Persalinan bokong
1. Bokong masuk ke pintu atas panggul dalam posisi melintang atau miring.
2. Setelah trokanter belakang mencapai dasar panggul, terjadi putaran paksi dalam
sehingga trokanter depan berada di bawah simfisis.
3. Penurunan bokong dengan trokanter belakangnya berlanjut, sehingga distansia
bitrokanterika janin berada di pintu bawah panggul.
4. Terjadi persalinan bokong, dengan trokanter depan sebagai hipomoklion.
5. Setelah trokanter belakang lahir, terjadi fleksi lateral janin untuk persalinan trokanter
depan, sehingga seluruh bokong janin lahir.
6. Terjadi putar paksi luar, yang menempatkan punggung bayi ke arah perut ibu.
7. Penurunan bokong berkelanjutan sampai kedua tungkai bawah lahir.
12

Persalinan bahu
1. Bahu janin memasuki pintu atas panggul dalam posisi melintang atau miring.
2. Bahu belakang masuk dan turun sampai mencapai dasar panggul.
3. Terjadi putar paksi dalam yang menempatkan bahu depan dibawah simpisis dan
bertindak sebagai hipomoklion.
4. Bahu belakang lahir diikuti lengan dan tangan belakang.
5. Penurunan dan persalinan bahu depan diikuti lengan dan tangan depan sehingga
seluruh bahu janin lahir.
6. Kepala janin masuk pintu atas panggul dengan posisi melintang atau miring.
7. Bahu melakukan putaran paksi dalam.

Persalinan kepala janin


1. Kepala janin masuk pintu atas panggul dalam keadaan fleksi dengan posisi dagu
berada dibagian posterior.
2. Setelah dagu mencapai dasar panggul, dan kepala bagian belakang tertahan oleh
simfisis kemudian terjadi putar paksi dalam dan menempatkan suboksiput sebagai
hipomiklion.
3. Persalinan kepala berturut-turut lahir: dagu, mulut, hidung, mata, dahi dan muka
seluruhnya.
4. Setelah muka, lahir badan bayi akan tergantung sehingga seluruh kepala bayi dapat
lahir.
5. Setelah bayi lahir dilakukan resusitasi sehingga jalan nafas bebas dari lendir dan
mekoneum untuk memperlancar pernafasan. Perawatan tali pusat seperti biasa.
Persalinan ini berlangsung tidak boleh lebih dari delapan menit.

Mekanisme letak sungsang dapat dilihat dalam gambar berikut:


13

Tipe dari presentasi bokong:


1. Presentasi

bokong

(frank

bokong

kaki

breech)
2. Presentasi

sempurna (complete breech)


3. Presentasi bokong kaki tidak
sempurna dan presentasi kaki
(incomplete or footling)

Bokong masuk ke pintu atas


panggul dalam posisi melintang
atau miring.

Setelah

trokanter

belakang

mencapai dasar panggul, terjadi


putaran paksi dalam sehingga
trokanter depan berada di bawah
simfisis.

Penurunan bokong dengan trokanter


belakangnya

berlanjut,

sehingga

distansia bitrokanterika janin berada


di pintu bawah panggul.

Terjadi

persalinan

bokong,

dengan trokanter depan sebagai


hipomoklion.

14

Setelah trokanter belakang lahir,


terjadi fleksi lateral janin untuk
persalinan

trokanter

depan,

sehingga seluruh bokong janin


lahir.

Jika bokong tidak mengalami


kemajuan
berikutnya,

selama

kontraksi

episiotomi

dapat

dilakukan dan bokong dilahirkan


dengan traksi ke bawah perut.

Terjadi putar paksi luar, yang


menempatkan punggung bayi ke
arah perut ibu.

Penurunan bokong berkelanjutan


sampai kedua tungkai bawah lahir.

15

Jika

kaki

janin

telah

keluar,

penolong dapat menyusupkan tangan


sepanjang

kaki

anterior

dan

melahirkan kaki dengan flexi dan


abduksi

sehingga

bagian

badan

lainnya dapat dilahirkan.

Bahu janin mencapai pelvic 'gutter'


(jalan sempit) dan melakukan putar
paksi

dalam

sehingga

diameter

biacromion terdapat pada diameter


anteroposterior

diameter

pelvic

bagian luar.

Secara simultan, bokong melakukan


rotasi anterior 90o. Kepala janin
kemudian masuk ke tepi pelvik,
sutura sagitalis berada pada tepi
diametertransversal.Penurunan

ke

dalam pelvic terjadi dengan flexi dari


kepala.
Prinsip Dasar Persalinan Sungsang
1.

Persalinan pervaginam (2,3,4,6,7,8,9)


a. Persalinan spontan; janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara
ini disebut Bracht.
b. Manual aid (partial breech extraction); janin dilahirkan sebagian dengan tenaga
dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong.
c. Ektraksi sungsang (total breech extraction); janin dilahirkan seluruhnya dengan
memakai tenaga penolong.

16

2. Persalinan perabdominan (sectio caesaria).


Prosedur persalinan sungsang secara spontan :
1. Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai

pusar merupakan

fase

yang

tidak berbahaya.
2. Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut,
pada fase

ini kepala janin masuk PAP,

sehingga kemungkinan tali pusat terjepit.


3. Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh
bagian kepala, kepala keluar dari ruangan yang
bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang
tekanannya lebih rendah sehingga kepala harus
dilahirkan

perlahan-lahan

untuk

menghindari

pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).


Teknik persalinan
1. Persiapan ibu, janin, penolong dan alat yaitu cunam piper.
2. Ibu tidur dalam posisi litotomi, penolong berdiri di depan vulva saat bokong mulai
membuka vulva, disuntikkan 2-5 unit oksitosin intramuskulus. Dilakukan episiotomi.
3. Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkram dengan cara Bracht, yaitu kedua ibu
jari penolong sejajar sumbu panjang paha, sedangkan jari-jari lain memegang
panggul.
4. Saat tali pusat lahir dan tampak teregang, tali pusat dikendorkan terlebih dahulu.
5. Penolong melakukan hiperlordosis badan janin untuk menutupi gerakan rotasi
anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu, gerakan ini disesuaikan
dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan hiperlordosis, seorang asisten
melakukan ekspresi kristeller. Maksudnya agar tenaga mengejan lebih kuat sehingga
fase cepat dapat diselesaikan. Menjaga kepala janin tetap dalam posisi fleksi, dan
menghindari ruang kosong antara fundus uterus dan kepala janin, sehingga tidak
terjadi lengan menjungkit.
6. Dengan gerakan hiperlordosis, berturut-turut lahir pusar, perut, bahu, lengan, dagu,
mulut dan akhirnya seluruh kepala.
7. Janin yang baru lahir diletakkan diperut ibu.

17

Keuntungan :

Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir sehingga mengurangi infeksi.

Mendekati persalinan fisiologik, sehingga mengurangi trauma pada janin.

Kerugian :

Terjadi kegagalan sebanyak 5-10% jika panggul sempit, janin besar, jalan lahir kaki,
misalnya primigravida lengan menjungkit atau menunjuk.

Prosedur Manual Aid (partial breech extraction) :


Indikasi : jika persalinan secara bracht mengalami kegagalan misalnya terjadi kemacetan saat
melahirkan bahu atau kepala.
Tahapan :
1. Lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan tenaga ibu sendiri.
2. Lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong dengan cara klasik
(Deventer), Mueller, Louvset, Bickenbach.
3. Lahirnya kepala dengan cara Mauriceau (Veit Smellie), Wajouk, Wid and Martin
Winctel, Prague Terbalik, Cunan Piper.
Cara klasik :
1. Prinsip-prinsip melahirkan lengan belakang lebih dahulu karena lengan belakang
berada di ruangan yang lebih besar (sacrum), baru kemudian melahirkan lengan depan
di bawah simpisis tetapi jika lengan depan sulit dilahirkan maka lengan depan diputar

menjadi lengan belakang, yaitu dengan memutar gelang bahu ke arah belakang dan
kemudian lengan belakang dilahirkan.
2. Kedua kaki janin dilahirkan dan tangan kanan menolong pada pergelangan kakinya
dan dielevasi ke atau sejauh mungkin sehingga perut janin mendekati perut ibu.
3. Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir dan
dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai fossa cubiti kemudian
18

lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka
janin.
4. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin diganti
dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke bawah sehingga punggung janin
mendekati punggung ibu.
5. Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.
6. Jika lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan belakang.
Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkram dengan kedua tangan penolong
sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari tangan penolong terletak di punggung dan
sejajar dengan sumbu badan janin sedang jari-jari lain mencengkram dada. Putaran
diarahkan ke perut dan dada janin sehingga lengan depan terletak di belakang
kemudian lengan dilahirkan dengan cara yang sama.
Cara Mueller
1. Prinsipnya : melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan ekstraksi, baru
kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang.
2. Bokong janin dipegang secara femuro-pelviks, yaitu kedua ibu jari penolong
diletakkan sejajar spina sacralis media dan jari telunjuk pada crista illiaca dan jari-jari
lain mencengkram paha bagian depan. Badan janin ditarik curam ke bawah sejauh

mungkin sampai bahu depan tampak dibawah simpisis, dan lengan depan dilahirkan
dengan mengait lengan di bawahnya.
3. Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan janin yang masih dipegang
secara femuro-pelviks ditarik ke atas sampai bahu ke belakang lahir. Bila bahu
belakang tak lahir dengan sendirinya, maka lengan belakang dilahirkan dengan
mengait lengan bawah dengan kedua jari penolong.
Keuntungan :
19

Tangan penolong tidak masuk jauh ke dalam jalan lahir sehingga bahaya infeksi
minimal.
Cara louvset :
1. Prinsipnya : memutar badan janin dalam setengah lingkaran bolak-balik sambil
dilakukan traksi awam ke bawah sehingga bahu yang sebelumnya berada dibelakang
akhirnya lahir dibawah simpisis.
2. Badan janin dipegang secara femuro-pelviks dan sambil dilakukan traksi curam ke
bawah, badan janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi bahu
depan. Kemudian sambil dilakukan traksi, badan janin diputar lagi ke arah yang
berlawanan setengah lingkaran. Demikian seterusnya bolak-balik sehingga bahu
belakang tampak di bawah simpisis dan lengan dapat dilahirkan.

Cara Mauriceau (Veit-Smellie) :


1. Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalan lahir.
Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk dan jari ke 4 mencengkram
fossa kanina, sedangkan jari lain mencengkeram leher. Badan anak diletakkan di atas
lengan bawah penolong, seolah-olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke
3 penolong yang lain mencengkeram leher janin dari arah punggung.
2. Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah sambil seorang asisten
melakukan ekspresi kristeller. Tenaga tarikan terutama dilakukan oleh tangan
penolong yang mencengkeram leher janin dari arah punggung. Jika suboksiput
tampak di bawah simpisis, kepala janin diekspasi ke atas dengan suboksiput sebagai
hipomoklion sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, ubun-ubun
besar dan akhirnya lahir seluruh kepala janin.

20

Cara cunam piper :


Pemasangan cunam pada after coming head tekniknya sama dengan pemasangan
lengan pada letak belakang kepala. Hanya pada kasus ini, cunam dimasukkan pada arah
bawah, yaitu sejajar pelipatan paha belakang. Hanya pada kasus ini cunam dimasukkan dari
arah bawah, yaitu sejajar pelipatan paha
belakang. Setelah suboksiput tampak dibawah
simpisis, maka cunam dielevasi ke atas dan
dengan

suboksiput

sebagai

hipomoklion

berturut-turut lahir dagu, mulut, muka, dahi


dan akhirnya seluruh kepala lahir.
Prosedur Ekstraksi Sungsang
1. Teknik ekstraksi kaki
Tangan dimasukkan ke dalam jalan lahir mencari kaki depan dengan menelusuri bokong,
pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin
sehingga kaki bawah menjadi fleksi. Tangan yang diluar mendorong fundus uterus ke
bawah. Setelah kaki bawah fleksi pergelangan kaki dipegang oleh jari kedua dan jari
ketiga dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut. Kedua tangan memegang betis
janin, kaki ditarik curam kebawah sampai pangkal paha lahir. Pangkal paha dipegang
kemudian tarik curam ke bawah trokhanter depan lahir. Kemudian pangkal paha dengan
pegangan yang sama dielevasi keatas sehingga trokhanter belakang lahir dan bokong pun
lahir. Setelah bokong lahir maka untuk melahirkan janin selanjutnya dipakai teknik
pegangan femuro-pelviks, badan janin ditarik curam kebawah sampai pusat lahir.

21

Selanjutnya untuk melahirkan badan janin yang lainnya dilakukan cara persalinan yang
sama seperti pada manual aid.
2. Teknik ekstraksi bokong
Dilakukan pada letak bokong murni
(frank breech) dan bokong sudah
berada di dasar panggul sehingga
sukar menurunkan kaki. Jari telunjuk
tangan penolong yang searah bagian
kecil janin dimasukkan ke dalam
jalan lahir dan diletakkan di pelipatan
paha depan. Dengan jari telunjuk ini pelipatan paha dikait dan ditarik curam kebawah,
sehingga trokhanter tampak dibawah simpisis, maka jari telunjuk penolong yang lain
segera mengait pelipatan paha ditarik curam kebawah sampai bokong lahir. Setelah
bokong lahir, bokong dipegang secara femuro-pelviks kemudian janin dapat dilahirkan
dengan cara manual aid.
Prosedur persalinan sunggang perabdominan
Beberapa kriteria yang dipakai pegangan bahwa letak sungsang harus perabdominam
adalah :
1. Primigravida tua
2. Nilai sosial tinggi
3. Riwayat persalinan yang buruk
4. Janin besar, lebih dari 3,5-4 kg
5. Dicurigai kesempitan panggul
6. Prematuritas

Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat
apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominan, sebagai berikut : (2,3,8,10)
0

2
22

Paritas
Umur kehamilan
Taksiran Berat Janin
Pernah letak sungsang
Pembukaan serviks
Station

Primigravida
>39 mgg
>3630 gr
Tidak
<2 cm
<-3

Multigravida
38 mgg
3629 gr 3176 gr
1x
3 cm
<-2

< 37 mgg
< 3176 gr
>2x
>4 cm
-1 atau lebih
rendah

Arti nilai :
< 3 persalinan perabdomen
4 evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin bila nilainya tetap maka
dapat dilahirkan pervaginam
> 5 dilahirkan pervaginam(10)
KOMPLIKASI
Komplikasi persalinan letak sungsang antara lain:
1. Dari faktor ibu:

Perdarahan oleh karena trauma jalan lahir atonia uteri, sisa placenta.

Infeksi karena terjadi secara ascendens melalui trauma (endometritits)

Trauma persalinan seperti trauma jalan lahir, simfidiolisis.

2. Dari faktor bayi:

Perdarahan seperti perdarahan intracranial, edema intracranial, perdarahan alat-alat


vital intra-abdominal.

Infeksi karena manipulasi

Trauma persalinan seperti dislokasi/fraktur ektremitas, persendian leher, rupture alatalat vital intraabdominal, kerusakan pleksus brachialis dan fasialis, kerusakan pusat
vital di medulla oblongata, trauma langsung alat-alat vital (mata, telinga, mulut),
asfiksisa sampai lahir mati.4

23

PROGNOSIS
Angka kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
letak kepala. Di RS Karjadi Semarang, RS Umum Dr. Pringadi Medan dan RS Hasan Sadikin
Bandung didapatkan angka kematian perinatal masing-masing 38,5%, 29,4% dan 16,8%.
Eastmen melaporkan angka-angka kematian perinatal antara 12-14%. Sebab kematian
perinatal yang terpenting akibat terjepitnya tali pusat antara kepala dan panggul pada waktu
kepala memasuki rongga panggul serta akibat retraksi uterus yang dapat menyebabkan
lepasnya placenta sebelum kepala lahir. Kelahiran kepala janin yang lebih lama dari 8 menit
umbilicus dilahirkan akan membahayakan kehidupan janin. Selain itu bila janin bernafas
sebelum hidung dan mulut lahir dapat membahayakan karena mucus yang terhisap dapat
menyumbat jalan nafas. Bahaya asfiksia janin juga terjadi akibat tali pusat menumbung, hal
ini sering dijumpai pada presentasi bokong kaki sempurna atau bokong kaki tidak sempurna,
tetapi jarang dijumpai pada presentasi bokong.7

DAFTAR PUSTAKA

24

1. Cunningham, F.G et al. 2005. Breech Presentation and Delivery In: Williams

Obstetrics.22st edition. New York: Mc Graw Hill Medical Publising Division, 509-536.
2. Kampono,

Nugroho,

dkk.

2008.

Persalinan

Sungsang.

Available

from:

http://geocities.com/abudims/cklobpt9.html. (Accessed: 2008, October 26).


3. Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL. Malpresentation. In: Obstetrics normal and problem

pregnancies.

3rd ed. New York: Churchill Livingstone. Ltd. 2000:478-90.

4. Giuliani A, Scholl WMJ, Basver A, Tamussino KF. Mode of delivery and outcome of 699

term singleton breeech deliveries at a single center. Am J Obstet Gynecol 2002;187:16948.


5. Manuaba, I.B. 1995. Persalinan Sungsang dalam: Operasi Kebidanan Kandungan dan

Keluarga Berencana untuk Dokter Umum. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 174201.
6. Supono. Pimpinan persalinan letak sungsang. Dalam: Ilmu kebidanan bagian patologi.

Bagian Obstetri dan Ginekologi/Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah Sakit


Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin, Palembang, 1983;15-33.
7. Winkjosastro, Hanifa, dkk. 2006. Letak Sungsang, dalam Ilmu kebidanan, edisi keenam.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 606-622


8. Winkjosastro, Hanifa, dkk. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan edisi pertama, cetakan kelima.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 103-132.


9. Wiknjosastro H. 2002. Patologi Persalinan dan Penanganannya dalam Ilmu Kebidanan,

edisi ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka: 607-622.

25