Anda di halaman 1dari 17

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT,

BERBANGSA DAN BERNEGARA


A. Pengertian Paradigma
Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir
seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra
subjektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan
bagaimana seseorang menanggapi realita itu.
Istilah paradigama ilmu pertama kali diperkenalkan oleh Thomas
Kuhn melalui bukunya yang berjudul The Structur of Science Revolution.
Kuhn menjelaskan paradigma dalam dua pengertian. Di satu pihak paradigma
berarti keselurahan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki
bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma
menunjukkan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang konkrit yang jika
digunakan sebagai model, pola atau contoh dapat menggantikan kaidahkaidah yang secara eksplisit sebagai atau menjadi dasar bagi pemecahan
permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas.
Paradigma merupakan elemen primer dalam progress sains. Seorang
ilmuwan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah
dibangun berdasarkan paradigma dasar. Melalui sebuah paradigma seorang
ilmuwan dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka
ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tidak dapat dimasukkan
ke dalam kerangka ilmunya sehingga menuntut adanya revolusi paradigmatik
terhadap ilmu tersebut. Menurut Kuhn, ilmu dapat berkembang secara openended(sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan). Kuhn
berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah
dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu
dan aktifitas ilmiah sesungguhnya. Menurut Kuhn ilmu harus berkembang
secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum
rasionalis dan empiris klasik sehingga dalam teori Kuhn faktor sosiologis
historis serta psikologis ikut berperan.

Paradigma membantu seseorang dalam merumuskan tentang apa yang


harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus
diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh. Kata paradigma
berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu model, teladan, arketif dan
ideal. Berasal dari kata para yang berarti disamping memperlihatkan dirinya.
Arti paradigma ditinjau dari asal usul beberapa bahasa diantaranya :
1.
2.

Menurut bahasa Inggris : paradigma berarti keadaan lingkungan


Menurut bahasa Yunani : paradigma yakni para yang berarti disamping,
di sebelah dan dikenal sedangkan deigma berarti suatu model, teladan,

3.

arketif dan ideal.


Menurut kamus psycologi :
paradigma diartikan sebagai

1.

a.

Satu model atau pola untuk mendemonstrasikan semua fungsi yang

b.

memungkinkan adar dari apa yang tersajikan


Rencana riset berdasarkan konsep-konsep khusus, dan
Satu bentuk eksperimental

B. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan


Pengertian Pembangunan
Pembangunan dalam bahasa Inggris adalah Development yang
mempunyai arti sebagai pertumbuhan, perluasan, perkembangan,
ekspansi.

Pembangunan

dapat

diartikan

sebagai

suatu

proses

pertumbuhan, perluasan, perkembangan atau ekspansi yang berkaitan


dengan keadaan yang harus dibangun supaya dicapai kemajuan di masa
yang akan datang. Dapat disimplkan bahwa di dalam pembangunan
adalah ada proses perubahan yang terus menerus diupayakan untuk
mencapai kemajuan dan perbaikan guna mewujudkan cita-cita atau
tujuan yang hendak dicapai. Pembangunan yaitu suatu upaya yang
dilakukan oleh manusia untuk memerangi masalah seperti kemiskinan,
kebodohan dan keterbelakangan untuk menuju masyarakat yang sejahtera
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Dari pengertian paradigma dan pengertian pembangunan di atas,
kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengertian paradigma
pembangunan adalah suatu model, pola yang merupakan sistem berfikir

sebagai upaya mewujudkan perubahan yang direncanakan sesuai dengan


cita-cita kehidupan bermasyarakat menuju hari esok yang lebih baik
secara kuantitas maupun kualitasnya.
2.

Pancasila sebagai paradigma pembangunan


Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat
ilmu pengetahuan. Menurut Thomas Kuhn, Orang yang pertama kali
mengemukakan istilah tersebut menyatakan bahwa ilmu pada waktu
tertentu didominasi oleh suatu paradigma.
Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang
apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan.
Istilah paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang
ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum,
sosial dan ekonomi. Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian
sebagai kerangka pikir, kerangka bertindak, acuan, orientasi, sumber,
tolok ukur, parameter, arah dan tujuan. Sesuatu dijadikan paradigma
berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka, acuan, tolok ukur,
parameter, arah, dan tujuan dari sebuah kegiatan.
Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan
penting dalam melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia.
Pancasila sebagai paradigma, artinya nilai-nilai dasar pancasila secara
normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek
pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai
konsekuensi atas pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas
Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Hal ini sesuai
dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara
Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan
hidup manusia maka tidak berlebihan apabila pancasila menjadi landasan
dan

tolok

ukur

penyelenggaraan

bernegara

termasuk

dalam

melaksanakan pembangunan.
Nilai-nilai dasar Pancasila itu dikembangkan atas dasar hakikat
manusia.

Hakikat

manusia

menurut

Pancasila

adalah

makhluk

monopluralis. Kodrat manusia yang monopluralis tersebut mempunyai


ciri-ciri, antara lain:
a. susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
b. sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial
c. kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk
tuhan.
Berdasarkan itu, pembangunan nasional diarahkan sebagai upaya
meningkatkan harkat dan martabat manusia yang meliputi aspek jiwa,
raga,pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan. Secara singkat, pembangunan
nasional

sebagai

upaya

peningkatan

manusia

secara

totalitas.

Pembangunan sosial harus mampu mengembangkan harkat dan martabat


manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan
di berbagai bidang yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Pembangunan, meliputi bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan. Pancasila menjadi paradigma dalam pembangunan
politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Pembangunan

nasional

merupakan

rangkaian

upaya

pembangunan yang berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan


bermasyarakat,

berbangsa

dan

bernegara

yang

berguna

untuk

melaksanakan tugas mewujudkan tujuan Nasional sebagaimana yang


termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-empat. Keseluruhan
semangat,

arah,

dan

gerak

pembangunan

dilaksanakan

sebagai

pengamalan semua sila Pancasila secara serasi dan sebagai kesatuan yang
utuh, yang meliputi:
a. Pengamalan sila pertama Pancasila sebagai paradigma pembangunan
Pengamalan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu mencakup
tanggung jawab bersama dari semua golongan beragama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk secara terus
menerus dan bersama-sama meletakkan landasan spiritual, moral dan
etik yang kukuh bagi pembangunan nasional sebagai pengamalan
pancasila.
b. Pengamalan sila kedua Pancasila sebagai paradigma pembangunan
Pengamalan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, yaitu

mencakup peningkatan martabat serta hak dan kewajiban asasi warga


negara

serta

penghapusan

penjajahan,

kesengsaraaan,

dan

ketidakadilan di muka bumi ini.


c. Pengamalan sila ketiga Pancasila sebagai paradigma pembangunan
Pengamalan Sila Persatuan Indonesia antara lain mencakup
peningkatan pembinaan bangsa di semua bidang kehidupan manusia,
masyarakat, bangsa dan negara, sehingga rasa kesetiakawanan makin
kuat.
d. Pengamalan

sila

keempat

Pancasila

sebagai

paradigma

pembangunan
Pengamalan Sila Pancasila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, yaitu
mencakup upaya manik menumbuhkembangkan sistem politik
demokrasi Pancasila yang mampu memelihara stabilitas nasional
yang dinamis, mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab
warga negara, dalam proses pendidikan politk.
e. Pengamalan sila kelima Pancasila sebagai paradigma pembangunan
Pengamalan Sila Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu
mencakup upaya untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi
yang cukup tinggi dikaitkan dengan pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya kemakmuran yang
berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam sistem ekonomi
yang

disusun

sebagai

usaha

kekeluargaan.

bersama

berdasar

atas

asas

C. Pancasila Sebagai Paradigma Pengembangan IPTEK


Pengembangan dan penguasaan iptek menjadi sangat penting,
manakala dikaitkan dengan kehidupan global yang ditandai dengan
persaingan. Namun demikian pengembangan iptek bukan semata-mata untuk
mengejar kemajuan meterial melainkan harus memperlihatkan aspek-aspek
spiritual. Artinya, pengembangan iptek harus diarahkan untuk mencapai
kebahagiaan lahir dan batin. Dengan pemikiran diatas dapat kita ketahui
adanya tujuan essensial daripada iptek, yaitu demi kesejahteraan umat
manusia, sehingga pada hakikatnya iptek itu tidak bebas nilai, melainkan
terikat oleh nilai.
Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila silanya harus merupakan
sumber nilai, kerangka pikir serta asas moralitas bagi pembangunan iptek.
Sebagai bangsa yang memiliki pandangan hidup pancasila, maka tidak
berlebihan apabila pengembangan iptek harus didasarkan atas paradigma
pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengkomplementasikan ilmu
pengetahuan, mencipta, perimbangan antara rasional dan irasional, antara
akal, rasa dan kehendak. Sila ini menempatkan manusia di alam semesta
bukan merupakan pusatnya melainkan sebagai bagian yang sistematik dari
alam yang diolahnya (T. Jacob, 1986), dapat disimpulkan berdasarkan sila ini
iptek selalu mempertimbangkan dari apa yang ditemukan, dibuktikan, dan
diciptakan, adakah kerugian bagi manusia.
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, menekankan bahwa iptek
haruslah bersifat beradab dan bermoral, sehingga terwujud hakikat tujuan
iptek yaitu, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan untuk kesombongan
dan keserakahan manusia melainkan harus diabdikan demi peningkatan
harkat dan martabat manusia.
Sila Persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepada bangsa
indonesia bahwa rasa nasionalime bangsa indonesia akibat dari adanya
kemajuan iptek, dengan iptek persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud
dan terpelihara, persaudaraan dan persahabatan antar daerah diberbagai
daerah terjalin karena tidak lepas dari faktor kemajuan iptek. Oleh sebab itu
iptek harus dikembangkan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan

bangsa dan selanjutnya dapat dikembangkan dalam hubungan manusia


indonesia dengan masyarakat internasional.
Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, mendasari pengembangan iptek secara
demokratis. Disini ilmuwan tidak hanya ditempatkan untuk memiliki
kebebasan dalam pengembangan iptek, namun juga harus ada saling
menghormati dan menghargai kebebasan orang lain dan bersikap terbuka
untuk menerima kritikan, atau dikaji ulang dan menerima perbandingan
dengan penemuan teori lainya.
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, iptek didasarkan
pada

keseimbangan

keadilan

dalam

kehidupan

kemanusiaan,

yaitu

keseimbangan keadilan dalam hubunganya dengan dirinya sendiri, manusia


dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat
bangsa dan negara, serta manusia dengan alam lingkunganya (T. Jacob,
1986). Jadi dapat disimpulkan bahwa sila-sila pancasila harus merupakan
sumber nilai, kerangka pikir serta basis moralitas bagi pengembangan iptek.
D. Pancasila Sebagai Paradigma Sebagai Pengembangan Polek Sosbud
Hankam
Dalam bidang kenegaraan, penjabaran pembangunan dituangkan
dalam GBHN yang dirinci dalam bidang-bidang operasional serta target
pencapainya, bidang tersebut meliputi POLEKSOSBUD HANKAM. Dalam
mewujudkan tujuan seluruh warga harus kembali berdasar pada hakikat
manusia yaitu monopluralis. Maka hakikat manusia merupakan sumber nilai
bagi pengembangan POLEKSOSBUD HANKAM, guna membangun
martabat manusia itu sendiri.
1. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Bidang Politik
Politik sangat berperan penting dalam peningkatan harkat dan
martabat manusia, karena sistem politik negara harus berdasarkan hak
dasar kemanusiaan, atau yang lebih dikenal dengan hak asasi manusia.
Sehingga sistem politik negara pancasila mampu memberikan dasardasar moral, diharapakan supaya para elit politik dan penyelenggaranya
memiliki budi pekerti yang luhur, dan berpegang pada cita-cita moral
7

rakyat yang luhur. Sebagai warga negara indonesia manusia harus


ditempatkan sebagai subjek atau pelaku politik, bukan sekedar objek
politik yang diharapkan kekuasaan tertinggi ada pada rakyat. Kekuasaan
adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena Pancasila
sebagai paradigma dalam berpolitik, maka sistem politik di indonesia
berasaskan demokrasi, bukan otoriter. Berdasar pada hal diatas,
pengembangan politik di indonesia harus berlandaskan atas moral
ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral kerakyatan, dan
moral keadilan, apabila pelaku politik baik warga negara maupun
penyelenggaranya berkembang atas dasar moral tersebut maka akan
menghasilkan perilaku politik yang santun dan bermoral yang baik.
2. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Ekonomi
Sesuai dengan Paradigma Pancasila dalam pembangunan
ekonomi, maka sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada nilai
moral daripada pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi harus
mendasarkan pada moralitas ketuhanan, dan kemanusiaan. Ekonomi yang
humanistik mendasarkan pada tujuan demi mensejahterakan rakyat luas,
yang tidak hanya mengejar pertumbuhan saja melainkan demi
kemanusiaan dan kesejahteraan seluruh bangsa. Tujuan ekonomi adalah
memenuhi kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih sejahtera,
oleh sebab itu kita harus menghindarkan diri dari persaingan bebas,
monopoli dan yang lainnya yang berakibat pada penderitaan manusia dan
penindasan atas manusia satu dengan lainnya.
3. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Sosial Budaya
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang
Pancasila berdasar pada hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu
sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila kemanusiaan yang adil
dan beradab, yang diharapkan menghasilkan manusia yang berbudaya
dan beradab. Dalam rangka melakukan reformasi disegala bidang,
hendaknya indonesia berdasar pada sistem nilai yang sesuai dengan nilainilai budaya yang dimiliki oleh bangsa indonesia itu sendiri yaitu nilai

pancasila yang merupakan sumber normatif bagi peningkatan humanisasi


khususnya dalam bidang sosial budaya.
Berdasar sila Persatuan Indonesia pembangunan sosial budaya
dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budayabudaya yang beragam di seluruh wilayah nusantara menuju pada
tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa. Pengakuan serta penghargaan
terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa sangat
diperlukan sehingga mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga
bangsa, dengan demikian pembangunan sosial budaya tidak akan
menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan
sosial.
4. Pancasila sebagai Paradigma Hankam
Dasar-dasar

kemanusiaan

yang

beradab

merupakan

basis

moralitas pertahanan dan keamanan negara. Maka dari itu pertahanan dan
keamanan negara harus mendasarkan pada tujuan demi terjaminya harkat
dan martabat manusia, terutama secara rinci terjaminya hak-hak asasi
manusia. Dengan adanya tujuan tersebut maka pertahanan keamanan
negara harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila, guna mencapai tujuan yaitu demi tercapainya
kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan YME (sila II),
Pancasila juga harus mendasarkan pada tujuan demi kepentingan warga
sebagai warga negara (Sila III), pertahanan keamanan harus mampu
menjamin

hak-hak

dasar,

persamaan

derajat

serta

kebebasan

kemanusiaan (sila IV) dan akhirnya pertahanan keamanan haruslah


diperuntukkan demi terwujudnya keadilan keadilan dalam hidup
masyarakat atau terwujudnya suatu keadilan sosial, dan diharapkan
negara benar-benar meletakkan pada fungsi yang sebenarnya sebagai
negara hukum dan bukannya suatu negara yang berdasarkan atas
kekuasaan sehingga mengakibatkan suatu pelanggaran terhadap hak asasi
manusia.

E. Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi


Saat ini Indonesia tengah berada pada era reformasi yang telah
diperjuangkan sejak tahun 1998. ketika gerakan reformasi melanda Indonesia
maka seluruh tatanan kehidupan dan praktik politik pada era Orde Baru
banyak mengalami keruntuhan. Bangsa Indonesia ingin menata kembali
(reform) tatanan kehidupan yang berdaulat, aman, adil, dan sejahtera. Namun
dalam mencapai terwujudnya reformasi bangsa Indonesia harus mengalami
berbagia dampak, baik dampak sosial, politik, ekonomi, terutama
kemanusiaan. Berbagai gerakan bermunculan yang disertai dengan akibat
tragedi kemanusiaan, yang banyak menelan korban terlebih rakyat kecil yang
tidak berdosa yang mendambakan adanya kehidupan penuh kedamaian
ketentraman serta kesejahteraan.
Namun demikian ada satu yang tersisa dari keterpurukan bangsa
Indonesia, yaitu keyakinan akan nilai yang dimilikinya, yaitu nilai yang
berakar dari pandangan hidup bangsa indonesia yaitu nilai-nilai Pancasila.
Jadi reformasi yang dilakukan bangsa Indonesia adalah menata kehidupan
bangsa dan negara dalam suatu sistem negara dibawah nilai-nilai Pancasila,
bukan menghancurkan dan membubarkan bangsa dan negara Indonesia. Oleh
karena itu Pancasila sangat tepat sebagai paradigma, acuan, kerangka dan
tolak ukur gerakan reformasi di Indonesia.
Dengan Pancasila sebagai paradigma reformasi, gerakan reformasi
harus diletakkan dalam kerangka Perspektif sebagai landasan sekaligus
sebagai cita-cita. Sebab tanpa suatu dasar dan tujuan yang jelas reformasi
akan mengarah pada suatu gerakan anarki, kerusuhan, disintegrasi, dan
akhirnya mengarah pada kehancuran bangsa.
Reformasi dengan Paradigma Pancasila rincianya sebagai berikut :
1. Reformasi yang berketuhanan YME, artinya gerakan reformasi
berdasarkan pada moralitas ketuhanan dan harus mengarah pada
kehidupan yang baik sebagai manusia makhluk Tuhan.
2. Reformasi yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya,
gerakan reformasi berlandaskan pada moral kemanusiaan yang luhurdan
sebagai upaya penataan kehidupan yang penuh penghargaan atas harkat
dan martabat manusia.
10

3. Reformasi yang berdasarkan nilai Persatuan. Artinya, gerakan reformasi


harus menjamin tetap tegaknya negara dan bangsa Indonesia sebagai satu
kesatuan. Gerakan reformasi yang menghindarkan diri dari praktik dan
perilaku yang dapat menciptakan perpecahan dan disintegrasi bangsa.
4. Reformasi yang berakar pada asas kerakyatan. Artinya, seluruh
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara harus dapat
menempatkan rakyat sebagai subyek dan pemegang kedaulatan. Gerakan
reformasi bertujuan menuju terciptanya pemerintahan yang demokratis
yaitu rakyat sebagai pemegang kedaulatan.
5. Reformasi yang bertujuan pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Artinya, gerakan reformasi harus memiliki visi yang jelas,
yaitu demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Perlu
disadari bahwa ketidakadilanlah penyebab kehancuran suatu bangsa.
Oleh karena itu apabila bangsa Indonesia meletakkan sumber nilai,
dasar filosofi serta sumber norma kepada nilai-nilai tersebut bukanlah suatu
keputusan yang politis saja melainkan keharusan yang bersumber pada
kenyataan obyektif pada bangsa indonesia sendiri. Perubahan yang dilakukan
reformasi dalam berbagai bidang sering diteriakkan dengan jargon reformasi
total tidak mungkin melakukan perubahan terhadap sumbernya itu sendiri.
Oleh karena itu reformasi harus memiliki tujuan, dasar, cita-cita serta
platform atau landasan yang jelas dan bagi bangsa Indonesia nilai-nilai
Pancasila itulah yang merupakan Paradigma Reformasi Total tersebut.
F. Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi Hukum
Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini mengandung
makna bahwa tugas dan tanggung jawab tidak hanya oleh penyelenggara
negara saja, tetapi juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Atas dasar
tersebut, sistem pertahanan dan keamanan adalah mengikut sertakan seluruh
komponen bangsa. Sistem pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia
disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan seluruh warga
negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara

11

dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total terpadu, terarah, dan
berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan
keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Penyelenggaraan sistem
pertahanan semesta didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga
negara, serta keyakinan pada kekuatan sendiri.
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai pancasila, di mana
pemerintahan dari rakyat (individu) memiliki hak dan kewajiban yang sama
dalam masalah pertahanan negara dan bela negara. Pancasila sebagai
paradigma pembangunan pertahanan keamanan telah diterima bangsa
Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002 tentang
pertahanan Negara.
Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pertahanan negara
bertitik tolak pada falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk
menjamin keutuhan dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan ditetapkannya UUD 1945, NKRI telah memiliki sebuah
konstitusi, yang di dalamnya terdapat pengaturan tiga kelompok materimuatan konstitusi, yaitu:
1. adanya perlindungan terhadap HAM,
2. adanya susunan ketatanegaraan negara yang mendasar, dan
3. adanya pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang juga
mendasar.
Sesuai dengan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat rumusan
Pancasila, Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian dari UUD 1945 atau
merupakan bagian dari hukum positif. Dalam kedudukan yang demikian, ia
mengandung segi positif dan segi negatif. Segi positifnya, Pancasila dapat
dipaksakan berlakunya (oleh negara); segi negatifnya, Pembukaan dapat
diubah oleh MPRsesuai dengan ketentuan Pasal 37 UUD 1945.
Hukum tertulis seperti UUDtermasuk perubahannya, demikian
juga UU dan peraturan perundang-undangan lainnya, harus mengacu pada
dasar negara (sila sila Pancasila dasar negara).

12

Dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai paradigma pengembangan


hukum, hukum (baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis) yang akan
dibentuk tidak dapat dan tidak boleh bertentangan dengan sila-sila:
1.
2.
3.
4.

Ketuhanan Yang Maha Esa,


Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan Indonesia,
Kerakyatan yang dipimpin oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, substansi hukum yang dikembangkan harus
merupakan perwujudan atau penjabaran sila-sila yang terkandung dalam
Pancasila. Artinya, substansi produk hukum merupakan karakter produk
hukum responsif (untuk kepentingan rakyat dan merupakan perwujuan
aspirasi rakyat).
G. Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi Politik
Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai
subjek atau pelaku politik bukan sekadar objek politik. Pancasila bertolak dari
kodrat manusia maka pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat
dan martabat manusia. Sistem politik Indonesia yang bertolak dari manusia
sebagai subjek harus mampu menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat.
Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem politik
Indonesia yang sesuai pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik
demokrasi bukan otoriter.
Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan atas
asas kerakyatan (sila IV Pancasila). Pengembangan selanjutnya adalah sistem
politik didasarkan pada asas-asas moral daripada sila-sila pada pancasila.
Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem politik Indonesia dikembangkan
atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral
kerakyatan, dan moral keadilan.
Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara
dikembangkan atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku
politik yang santun dan bermoral.

13

Pancasila sebagai paradigma pengembangan sosial politik diartikan


bahwa Pancasila bersifat sosial-politik bangsa dalam cita-cita bersama yang
ingin diwujudkan dengan menggunakan nilai-nilai dalam Pancasila.
Pemahaman untuk implementasinya dapat dilihat secara berurutan-terbalik:
1. Penerapan dan pelaksanaan keadilan sosial mencakup keadilan politik,
budaya, agama, dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari;
2. Mementingkan kepentingan rakyat (demokrasi) bilamana

dalam

pengambilan keputusan;
3. Melaksanakan keadilan sosial dan penentuan prioritas kerakyatan
berdasarkan konsep mempertahankan persatuan;
4. Dalam pencapaian tujuan keadilan menggunakan

pendekatan

kemanusiaan yang adil dan beradab;


5. Tidak dapat tidak; nilai-nilai keadilan sosial, demokrasi, persatuan, dan
kemanusiaan (keadilan-keberadaban) tersebut bersumber pada nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Di era globalisasi informasi seperti sekarang ini, implementasi tersebut perlu
direkonstruksi kedalam pewujudan masyarakat-warga (civil society) yang
mencakup masyarakat tradisional (berbagai asal etnik, agama, dan golongan),
masyarakat industrial, dan masyarakat purna industrial.
H. Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi Ekonomi
Sesuai dengan paradigma pancasila dalam pembangunan ekonomi
maka sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada
pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi harus mendasarkan pada dasar
moralitas ketuhanan (sila I Pancasila) dan kemanusiaan ( sila II Pancasila).
Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dam humanistis akan
menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan. Sistem ekonomi
yang menghargai hakikat manusia, baik selaku makhluk individu, sosial,
makhluk pribadi maupun makhluk tuhan.
Sistem ekonomi yang berdasar pancasila berbeda dengan sistem
ekonomi liberal yang hanya menguntungkan individu-individu tanpa
perhatian pada manusia lain. Sistem ekonomi demikian juga berbeda dengan
sistem ekonomi dalam sistem sosialis yang tidak mengakui kepemilikan
individu.

14

Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia sebagai


subjek. Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem
dan pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara
keseluruhan. Sistem ekonomi yang berdasar pancasila adalah sistem ekonomi
kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi Indonesia juga
tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral kemanusiaan.
Pembangunan ekonomi harus mampu menghindarkan diri dari bentukbentuk persaingan bebas, monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan
menimbulkan penindasan, ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan
warga negara.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan ekonomi lebih mengacu
pada Sila Keempat Pancasila; sementara pengembangan ekonomi lebih
mengacu pada pembangunan Sistem Ekonomi Indonesia. Dengan demikian
subjudul ini menunjuk pada pembangunan Ekonomi Kerakyatan atau
pembangunan Demokrasi Ekonomi atau pembangunan Sistem Ekonomi
Indonesia atau Sistem Ekonomi Pancasila.
Dalam Ekonomi Kerakyatan, politik/kebijakan ekonomi harus untuk
sebesarbesar

kemakmuran/kesejahteraan

rakyatyang

harus

mampu

mewujudkan perekonomian nasional yang lebih berkeadilan bagi seluruh


warga masyarakat (tidak lagi yang seperti selama Orde Baru yang telah
berpihak pada ekonomi besar/konglomerat). Politik Ekonomi Kerakyatan
yang lebih memberikan kesempatan, dukungan, dan pengembangan ekonomi
rakyat yang mencakup koperasi, usaha kecil, dan usaha menengah sebagai
pilar utama pembangunan ekonomi nasional.
Oleh sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan ini ialah
koperasi. Ekonomi Kerakyatan akan mampu mengembangkan programprogram kongkrit pemerintah daerah di era otonomi daerah yang lebih
mandiri

dan

lebih

mampu

mewujudkan

keadilan

dan

pemerataan

pembangunan daerah.
Dengan

demikian,

Ekonomi

Kerakyatan

akan

mampu

memberdayakan daerah/rakyat dalam berekonomi, sehingga lebih adil,

15

demokratis, transparan, dan partisipatif. Dalam Ekonomi Kerakyatan,


Pemerintah Pusat (Negara) yang demokratis berperanan memaksakan
pematuhan peraturan-peraturan yang bersifat melindungi warga atau
meningkatkan kepastian hukum.

16

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT,


BERBANGSA DAN BERNEGARA
Dosen : Dri Utaminingsih, S.H, S.Pd, M.Pd, M.H

Disusun Oleh :
KELOMPOK VI
(Ruang 404)
M. IQBAL

20015020517

TONI HIDAYAT

20015020695

SAUKAT UDIN

20015021057

MAT RIDOPI

20015020495

ASNAWI

20015021015

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PAMULANG
2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR PUSTAKA
+ POWER POINT

17