Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM


(TLI-441)
FLOKULASI

OLEH:
FAUZI OKTAFIANTO

1010942012

NURUL HUDA ABDULLAH

1110941002

RESTU AYU HANDAYANI

1110942004

AROIYA ALAWIYAH

1110942013

VIVIE JUNIKA DAMID

1110942019

YUNIA RUSDA

1110942022

SHABRINA YUNITA SARI

1110942039

DOSEN:
DEWI FITRIA, PhD

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia,
baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun untuk kepentingan lainnya seperti
pertanian dan indutri. Oleh karena itu keberadaan air dalam masyarakat perlu dipelihara dan
dilestarikan bagi kelangsungan kehidupan. Air tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan,
tanpa air tidaklah mungkin ada kehidupan. Semua orang tahu betul akan pentingnya air
sebagai sumber kehidupan. Namun, tidak semua orang berpikir dan bertindak secara bijak
dalam menggunakan air dengan segala permasalahan yang mengitarinya. Malah ironisnya,
suatu kelompok masyarakat begitu sulit mendapatkan air bersih, sedangkan segelintir
kelompok masyarakat lainnya dengan mudahnya menghambur-hamburkan air. Kebutuhan
akan pentingnya air tidak diimbangi dengan kesadaran untuk melestarikan air, sehingga
banyak sumber air yang tercemar oleh perbuatan manusia itu sendiri. Ketidakbertanggung
jawaban mereka membuat air menjadi kotor, seperti membuang sampah ke tepian sungai
sehingga aliran sungai menjadi mampet dan akhirnya timbul banjir jika hujan turun,
membuang limbah pabrik ke sungai yang mengkibatkan air itu menjadi tercemar oleh bahanbahan berbahaya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan air yang telah
tercemar hingga layak digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Pemanfaatan air sebagai air bersih dan air minum, tidak dapat dilakukan secara langsung,
akan tetapi membutuhkan proses pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan dilakukan agar air
tersebut dapat memenuhi standar sebagai air bersih maupun air minum. Factor kualitas air
baku sangat menentukan efisiensi pengolahan. Faktor-faktor kualitas air baku dapat meliputi
warna, kekeruhan, pH, kandungan logam, kandungan zat-zat kimia, dan lain-lainnya. Untuk
melakukan proses pengolahan tersebut dibutuhkan suatu instalasi yang sesuai dengan
kuantitas dan kualitas yang diinginkan.
Koagulasi dan flokulasi merupakan salah satu cara pengolahan air untuk menghilangkan zatzat yang berbahaya dalam air untuk menghasilkan air bersih yang bisa digunakan manusia.
Koagulasi adalah proses destabilisasi koloid dan partikel-partikel yang ada di dalam air
sehingga membentuk flok dengan melakukan penambahan bahan kimia (koagulan) dan proses
pengadukan cepat. Proses koagulasi ini berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel kecil
yang tidak dapat mengendap dengan sendirinya. Sedangkan flokulasi adalah proses
penggabungan flok-flok yang dihasilkan dari proses koagulasi menjadi flok yang lebih besar

sehingga membuat partikel-partikel tersebut dapat mengendap. Penggabungan flok-flok


tersebut disebabkan karena proses pengadukan lambat. Karena itu koagulasi dan flokulasi
adalah proses yang terjadi berurutan dan tidak dapat dipisahkan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui arti proses flokulasi pada bangunan pengolahan air minum;
2. Mengetahui bagaimana kerja flokulasi pada instalasi pengolahan air minum;
3. Mengetahui seberapa efektif flokulasi pada unit produksi;
4. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses flokulasi;
5. Mengetahui kelebihan dari proses flokulasi dalam unit pengolahan air minum.
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.

Apa itu proses flokulasi dalam pengolahan air minum;


Bagaimana proses flokulasi dalam pengolahan air minum;
Seberapa efektif flokulasi pada unit produksi;
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi proses flokulasi pada instalasi pengolahan air

minum;
5. Apa kelebihan dari proses flokulasi dalam usaha pengolahan air minum.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umum
Air merupakan senyawa kimia yang berbentuk cair, sehingga sangat flesibel digunakan oleh
makhluk hidup sebagai media transportasi makanan di dalam tubuhnya. Fungsi air bagi
kehidupan tidak pernah dapat digantikan oleh senyawa lain. Badan manusia terdiri dari sekitar
65% air, kehilangan cukup banyak air dari badan akan mengakibatkan banyak masalah dan
mungkin dapat menyebabkan kematian. Air ini digunakan manusia selain untuk minum juga
untuk kebutuhan sehari-hari lainnya seperti mandi, cuci, dan juga digunakan untuk pertanian,
perikanan, perindustrian, dan lain-lain.
Penyediaan air bersih untuk kebutuhan manusia harus memenuhi empat konsep dasar yaitu
dari segi kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan ekonomis. Dari segi kuantitas; air harus cukup
untuk memenuhi segala kebutuhan manusia, dari segi kualitas; air harus memenuhi
persyaratan kesehatan terutama untuk air minum., dari segi kontinuitas; air tersebut selalu ada
berputar pada siklusnya dan tidak pernah hilang, dan dari segi ekonomis; harga jual air
tersebut harus dapat terjangkau oleh segala kalangan masyarakat mengingat air sangat
dibutuhkan oleh semua golongan tanpa terkecuali.
2.2 Flokulasi
Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi
menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan
filtrasi.
Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan
flok-flok yang telah dibibitkan pada proses koagulasi. Partikel-partikel yang telah distabilkan
selanjutnya saling bertumbukan serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok
yang ukurannya makin lama makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan
merupakan faktor penting dalam desain bak flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka
gaya geser yang timbul akan mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradient
terlalu rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi
dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradien
kecepatan proses flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik.
Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap maka bak flokulasi dibagi atas
tiga kompartemen, dimana pada kompertemen pertama terjadi proses pendewasaan flok, pada
kompartemen kedua terjadi proses penggabungan flok, dan pada kompartemen ketiga terjadi
pemadatan flok. Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan dengan

metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses koagulasi, perbedaannya terletak
pada nilai gradien kecepatan di mana pada proses flokulasi nilai gradien jauh lebih kecil
dibanding gradien kecepatan koagulasi.

2.2.1 Efektivitas Flokulasi Gambar 2.1 Flokulasi (Slow Mixing)


Efisiensi dari proses flokulasi pada prakteknya seringkali dapat dilihat dari kualitas air setelah
dilakukan pemisahan flok secara mekanik. Dengan demikian, cara pemisahan zat padat atau
flok sangat penting dan sangat dipengaruhi oleh bentuk flok yang ada, misalnya untuk
melakukan flotasi diperlukan bentuk flok yang lain berbeda dengan flok untuk sedimentasi.
Jika dipakai sedimentasi diperlukan flok dengan berat jenis dan diameter yang besar. Pada
proses flotasi dibutuhkan flok yang lebih kecil dan mempunya berat jenis yang lebih ringan
tetapi mempunyai sifat untuk bergabung dengan gelembung udara. Untuk filtrasi dibutuhkan
flok yang kompak yang cukup homogen dengan struktur yang kuat terhadap abrasi dan
dengan sifat mudah melekat diatas partikel media penyaring (filter) untuk menjamin
pemisahan yang efisien dan operasional penyaringan yang ekonomis.
Untuk efek penjernihan air secara keseluruhan, belum cukup apakah flok bisa dipisahkan dari
air secara efektif, karena belum dapat menjamin dengan pasti apakah kualitas air yang
diinginkan bisa tercapai hanya dengan kondisi ini saja. Selain itu dibutuhkan bahwa semua zat
yang akan dihilangkan dari air juga melekat pada flok.
2.3. Proses pengolahan air (Koagulasi - Flokulasi)
Air baku dari air permukaan sering mengandung bahan-bahan yang tersusun oleh partikel
koloid yang tidak bisa diendapkan secara alamiah dalam waktu singkat. Partikel-partikel
koloid dibedakan berdasarkan ukuran. Jarak ukurannya antara 0,001 mikron (10-6 mm)
sampai 1 mikron (10-3 mm). Partikel yang ditemukan dalam kisaran ini meliputi (1) partikel
anorganik, seperti serat asbes, tanah liat, dan lanau/silt, (2) presipitat koagulan, dan (3)

partikel organik, seperti zat humat, virus, bakteri, dan plankton. Dispersi koloid mempunyai
sifat memendarkan cahaya. Sifat pemendaran cahaya ini terukur sebagai satuan kekeruhan.
Koloid merupakan partikel yang tidak dapat mengendap secara alami karena adanya stabilitas
suspensi koloid. Stabilitas koloid terjadi karena gaya tarik van der Waal's dan gaya
tolak/repulsive elektrostatik serta gerak brown. Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan
proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan muatan
berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel yang berlawanan
cenderung bergabung membentuk inti flok.
Untuk penghilangan zat-zat berbahaya dari air, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
proses koagulasi dan flokulasi. Koagulasi dan flokulasi merupakan proses yang terjadi secara
berurutan untuk mentidakstabilkan partikel tersuspensi, menyebabkan tumbukan partikel dan
tumbuh menjadi flok.
Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok atau flok
kecil menjadi flok yang berukuran besar. Tahap awal dimulai dengan proses koagulasi,
koagulasi melibatkan netralisasi dari muatan partikel dengan penambahan elektrolit. Dalam
hal ini bahan yang ditambahkan biasanya disebut sebagai koagulan atau dengan jalan
mengubah pH yang dapat menghasilkan agregat/kumpulan partikel yang dapat dipisahkan. Hal ini
dapat terjadi karena elektrolit atau konsentrasi ion yang ditambahkan cukup untuk
mengurangi tekanan elektrostatis di antara kedua partikel. Agregat yang terbentuk akan saling
menempel dan menyebabkan terbentuknya partikel yang lebih besar yang dinamakan
mikroflok, dimana mikroflok ini tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Pengadukan cepat
untuk mendispersikan koagulan dalam larutan dan mendorong terjadinya tumbukan partikel
sangat diperlukan untuk memperoleh proses koagulasi yang bagus. Biasanya proses koagulasi ini
membutuhkan waktu sekitar 1-3 menit.
Tahap selanjutnya dari proses koagulasi adalah proses flokulasi. Flokulasi disebabkan oleh
adanya penambahan sejumlah kecil bahan kimia yang disebut sebagai flokulan (Rath &
Singh, 1997). Mikroflok yang terbentuk pada saat proses koagulasi sebagai akibat penetralan
muatan, akan saling bertumbukan dengan adanya pengadukan lambat. Tumbukan tersebut
akan menyebabkan mikroflok berikatan dan menghasilkan flok yang lebih besar.
Pertumbuhan ukuran flok akan terus berlanjut dengan penambahan flokulan atau polimer
dengan bobot molekul tinggi. Polimer tersebut menyebabkan terbentuknya jembatan,
mengikat flok, memperkuat ikatannya serta menambah berat flok sehingga meningkatkan rate
pengendapan flok. Waktu yang dibutuhkan untuk proses flokulasi berkisar antara 15-20 menit
hingga 1 jam.

Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat, (seperti
terlihat pada gambar 2.3) . Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia (disebut
koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur
secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran
besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.

Gambar 2.2 Proses Koagulasi-Flokulasi


Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah aluminium sulfat
atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit
dibutuhkan untuk memproduksi flok yang cepat mengendap. Faktor utama yang
mempengaruhi koagulasi dan flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi,
temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan tingkat agitasi
selama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan-pembantu.
Pemilihan koagulan dan kadarnya membutuhkan studi laboratorium atau pilot plant
(menggunakan jar test apparatus) untuk mendapatkan kondisi optimum.
Reaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah:

Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan alum, maka
perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida

Tabel 2.1 Beberapa Jenis Koagulan dalam praktek pengolahan


Air

2.3.1. Tahapan Pada Proses Koagulasi dan Flokulasi


Proses koagulasi-flokulasi dijelaskan secara ringkas dijelaskan sebagai berikut:
1. Partikel koloid tidak bisa mengendap karena bersifat stabil;
2. Kestabilan koloid dapat diganggu dengan penambahan koagulan dan pengadukan
cepat;
3. Partikel yang tidak stabil cenderung untuk saling berinteraksi dan bergabung
membentuk flok yang berukuran besar.

Gambar 2.3
2.3.1.1. Pengadukan
Faktor penting pada proses koagulasi-flokulasi adalah pengadukan. Berdasarkan
kecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi dua, yaitu pengadukan cepat dan
pengadukan lambat. Kecepatan pengadukan dinyatakan dengan gradien kecepatan (G),
yang merupakan fungsi dari tenaga yang disuplai (P):

a. Pengadukan mekanis
Merupakan metoda pengadukan menggunakan alat pengaduk berupa impeller
yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik. Umumnya pengadukan mekanis

terdiri dari

motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk (impeller), lihat

Gambar 2.4. Pengadukan lambat secara mekanis umumnya

memerlukan

tiga

kompartemen dengan ketentuan G di kompartemen I lebih besar daripada G di


kompartemen II dan G di kompartemen III adalah yang paling kecil.

Gambar 2.4

Gambar 2.5
b. Pengadukan hidrolis
Merupakan pengadukan yang memanfaatkan
pengadukan. Sistem pengadukan ini
dihasilkan dari suatu aliran
gesek, energy

gerakan

menggunakan

air
energi

sebagai
hidrolik

tenaga
yang

hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa energi

potensial (jatuhan) atau adanya lompatan hidrolik dalam suatu

aliran. Beberapa contoh pengadukan hidrolis adalah terjunan (Gambar 2.6),


loncatan hidrolis, parshall 68 flume, baffle basin (baffle channel, Gambar 2.7),
perforated wall, gravel bed dan sebagainya.

Gambar 2.6

Gambar 2.7

c. Pengadukan pneumatis
Merupakan pengadukan yang menggunakan
yang dimasukkan ke dalam

udara (gas) berbentuk gelembung

air sehingga menimbulkan gerakan pengadukan

pada air (Gambar 2.8). Injeksi udara bertekanan ke dalam

suatu badan

air

akan menimbulkan turbulensi, akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan


air. Makin besar tekanan udara, kecepatan

gelembung udara yang dihasilkan

makin besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula.

Gambar 2.8

2.4. Kelebihan Flokulasi


Lebih cepat, efektif dan efisien menghilangkan bahan-bahan limbah dalam bentuk
koloid, dengan menambahkan koagulan. Dengan koagulasi, partikel-partikel koloid akan
saling menarik dan menggumpal membentuk flok (Suryadiputra, 1995), serta
memudahkan partikel-partikel tersuspensi yang sangat lembut dan bahan-bahan koloidal
di dalam air menjadi agregat/jonjot (proses sebelum penggumpalan) dan membentuk
flok, sehingga dapat dipisahkan dengan proses pengendapan dan dapat juga berfungsi
menghilangkan beberapa jenis organisme dalam air. Flokulasi terjadi setelah koagulasi
dan berupa pengadukan pelan pada air limbah. Dengan mengendapnya koloid,
diharapkan laju fouling yang terjadi pada membran akan berkurang, sehingga
penggunaan mikrofiltrasi dalam proses pengolahan air bersih menjadi layak untuk
dilakukan. Dengan aplikasi teknologi koagulasi-flokulasi zat yang berbentuk suspensi
atau koloid dirubah bentuknya menjadi zat yang dapat dipisahkan dari air. Agregasi
sebagai akibat dari pemakaian koagulan/flokulan adalah tahap awal dimana selanjutnya
dilakukan pemisahan flok dari air misalnya dengan proses sedimentasi, filtrasi atau
flotasi. Proses koagulasi-flokulasi selain untuk menurunkan tingkat kekeruhan untuk
memperoleh air yang bening, juga ada efek samping yaitu fraksi zat tersuspensi dalam air
yang seringkali menyebabkan pencemaran. Dengan koagulasi-flokulasi zat suspensi
tersebut yang juga sebagai pencemar, bisa dihilangkan dari air.
Tabel 2.2 Ringkasan Proses Koagulasi-Flokulasi
Koagulasi
Destabilisasi partikel koloid

Flokulasi
Pembentukan dan pembesaran flok

Pembubuhan bahan kimia:

Dilakukan pengadukan lambat

koagulan, misal koagulan, misal:

(slow mixing):

tawas

Pneumatis

Dilakukan pengadukan cepat

Mekanis

(rapid mixing):

Hidrolis

Hidrolis: terjunan atau hidrolik

Waktu operasi: 15 30 menit

jump
Mekanis: menggunakan batang
pengaduk
Lamanya proses: 30 90 detik
Pentingnya koagulasi-flokulasi di IPA terhadap air baku air permukaan dan air tanah yang
sudah mengalami pengolahan pendahuluan, seringkali terdapat zat padat dalam bentuk

atau ukuran yang tidak memungkinkan mengendap pada proses sedimentasi saja atau
dengan proses lain di dalam waktu dentensi yang efisien.
Zat tersuspensi yang mempunyai ukuranlebih dari 5 10 m dapat dihilangkan agak
mudah dengan filtrasi atau sedimentasi dan filtrasi. Sedangkan penghilangan koloid yang
tidak tercemar berat dapat menggunakan Saringan pasir lambat. Timbul kesulitan
bilamana kualitas air baku tidak baik sehingga tidak semua zat koloid dan kotoran lainnya
dapat dihilangkan dengan saringan pasir cepat atau saringan pasir lambat. Untuk
mengatasi hal ini maka proses koagulasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan.
Selain itu juga penting bagi proses desinfeksi dengan adanya pemisahan zat padat
sebelum desinfeksi dilakukan, karena sering kali mikroorgamisme terdapat di dalam zat
padat, yang tidak dapat dimusnahkan oleh proses oksidasi reduksi, karena oksidan akan
tereduksi oleh zat organik didalam flok sebelum bisa menembus mikroorganisme untuk
dimusnahkan.
Proses koagulasi-flokulasi bisa juga menghilangkan sebagian atau seluruh zat terlarut,
sehingga hal ini yang menjadi fungsi utama dari koagulasi-flokulasi. Teknologi
koagulasi-flokulasi bisa juga dipadukan dengan proses pengendapan secara kimiawi
(bukan proses pengendapan flok secara fisik), akan tetapi reaksi kimia antara
koagulan/flokulan dan zat terlarut didalam air yang menghasilkan senyawa kimia yang
tidak larut.
2.5 Cara Melihat Kandungan Air Hasil Koagulasi-Flokulasi
Uji koagulasi-flokulasi dilaksanakan untuk menentukan dosis bahan-bahan kimia, dan
persyaratan yang digunakan untuk memperoleh hasil yang optimum. Variabel-variabel
utama yang dikaji sesuai dengan yang disarankan, termasuk :
a. Bahan kimia pembantu;
b. PH merupakan nilai ekstrim baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh terhadap
koagulasi/flokulasi, pH optimum bervariasi tergantung jenis koagulan yang
digunakan;
c. Temperatur: suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi/flokulasi dan
memerlukan pemakaian bahan kimia berlebih, untuk mempertahankan hasil yang
dapat diterima;
d. Persyaratan tambahan dan kondisi campuran.
Metode uji ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai jenis koagulan dan koagulan
pembantu pada proses pengolahan air bersih dan air Iimbah. Pengaruh konsentrasi
koagulan dan koagulan pembantu dapat juga dievaluasi dengan metode ini.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah, maka dapat disimpulkan:
1. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel-partikel terdestabilisasi
menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh sedimentasi dan
filtrasi;
2. Pertumbuhan ukuran flok akan terus berlanjut dengan penambahan flokulan atau polimer
dengan bobot molekul tinggi. Polimer tersebut menyebabkan terbentuknya jembatan,
mengikat flok, memperkuat ikatannya serta menambah berat flok sehingga meningkatkan
rate pengendapan flok. Waktu yang dibutuhkan untuk proses flokulasi berkisar antara 15-20
menit hingga 1 jam;
3. Reaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah:

4. Pentingnya koagulasi-flokulasi di IPA terhadap air baku air permukaan dan air tanah yang
sudah mengalami pengolahan pendahuluan, seringkali terdapat zat padat dalam bentuk
atau ukuran yang tidak memungkinkan mengendap pada proses sedimentasi saja atau
dengan proses lain di dalam waktu dentensi yang efisien.
3.2 Saran
Berdasarkan makalah yang dibuat, ddisarankan agar:
1. Dalam pengolahan air minum harus memenuhi criteria baku mutu yang telah ditetapkan;
2. Pengolahan koagulasi-flokulasi berjalan secara berurutan sehingga dihasilkan olahan yang
dapat dilanjutkan ke unit pengolahan selanjutnya;
3. Dalam proses flokulasi harus mengikuti proses yang sesuai dengan unit pengolahan
tersebut sehingga dihasilkan air bersih yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Layla , M. Anis, Shamin Ahmad and E.Joe Middebrooks. 1980. Water Supply Engineering Design.
Arm Arbon Science.
Droste, R.L. , Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment , John Wiley & Sons, Inc,
Singapore, 1997
Kawamura, Susumu. 1991. Integrated Design of Water Treatment Facilities. New York:
John Wiley & Sons, INC.