Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kanker payudara merupakan kanker yang sangat menakutkan kaum wanita

disamping kanker mulut rahim. Masalah etiologi yang belum diketahui; masalah
usaha-usaha pencegahan yang sukar untuk dilaksanakan serta perjalanan penyakit
yang sukar diduga dan apabila sudah dalam keadaan lanjut penderita akan masuk
dalam era penderitaan nyeri hebat menjelang akhir stadium penyakitnya 1.
Kanker payudara merupakan kanker paling umum terdapat pada wanita
diseluruh dunia, mencakup 16% dari semua kanker wanita. Diperkirakan bahwa
219.000 wanita meninggal paada tahun 2004 karena kanker payudara2.
Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, di
Indonesia, prevalensi kanker adalah 4,3 per 1.000 penduduk13. Menurut data yang
didapat dari Sistem Infromasi Rumah Sakit, kanker payudara menempati urutan
pertama pada pasien rawat inap di seluruh RS Indonesia, disusul kanker leher
rahim. Kanker tertinggi yang diderita wanita Indonesia adalah kanker payudara
dengan anka kejadian 26 per 100.000 perempuan, disusul kanker leher rahim
dengan 16 perempuan per 100.000 perempuan3.
Namun demikian usaha-usaha untuk penemuan dini dapat dilakukan
dengan baik dengan usaha peningkatan pengetahuan masyarakat melalui
penyuluhan-penyuluhan. Apabila ditemukan dalam stadium dini dan dapat terapi
yang tepat dan adekuat maka bukan tidak mungkin kanker payudara tersebut dapat
disembuhkan. Kemajuan-kemajuan dalam penemuan dini yang dilengkapi dengan
kemajuan terapi akhir-akhir ini baik tekhnik operasi, radiasi, hormonal terapi dan
kemoterapi serta imunoterapi atau pun pelaksanaan kombinasi terapi dari
modalitas terapi diatas; yang didasarkan pada ketepatan penentuan staging dan
pengenalan sifat-sifat biologis kanker yang baik; semakin membawa harapan baru
untuk para penderita kanker payudara1.

SMK Negeri 10 Medan adalah sekolah SMK NEGERI yang terletak di


Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan.. Lokasi terletak pada Jl. Teuku Cik Ditiro

No. 57 Medan Polonia. Sekolah menengah kejuruan ini merupakan salah satu
sekolah dengan mayoritas wanita muda terbanyak. Penyakit kanker payudara
paling sering ditemukan pada wanita. Usia kanker payudara saat ini cenderung
menurun tidak lagi hanya pada wanita usia 35 tahun. Namun kini sudah
merambah ke remaja putri, dalam rangka upaya pencegahan terhadap kanker
payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) penting didapatkan
informasi mengenai tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kanker
payudara. Berdasarkan fakta diatas penulis merasa tertarik untuk meneliti
gambaran perilaku remaja mengenai pencegahan kanker payudara di SMK Negeri
10 Medan.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditentukan sebagai suatu

rumusan masalah adalah belum diketahui gambaran perilaku siswi mengenai


kanker payudara dan pencegahannya.
1.3

Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran perilaku siswi SMK Negeri 10 Medan
mengenai kanker payudara dan pencegahannya.

a.

1.3.2 Tujuan Khusus


Untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi SMK Negeri 10 Medan

b.

mengenai kanker payudara dan pencegahannya.


Untuk mengetahui sikap siswi SMK Negeri 10 Medan mengenai kanker

c.

payudara dan pencegahannya.


Untuk mengetahui tindakan siswi SMK Negeri 10 Medan

mengenai

kanker payudara dan pencegahannya.


1.4

Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat

menambah

wawasan

mengenai

pencegahan kanker payudara, serta menjadi satu kesempatan yang

berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah


diperoleh selama masa kuliah dan untuk meningkatkan pengetahuan serta
pengembangan diri khususnya dalam bidang penelitian
1.1.1 Bagi Siswi SMK
Hasil penelitian digunakan sebagai masukan untuk pencegahan kanker
payudara.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kanker payudara


2.1.1 Definisi kanker payudara
Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan
payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltratif
dan destruktif, serta dapat bermetastase. Tumor ini tumbuh progresif, dan relative
cepat membesar. Pada stadium awal tidak terdapat keluhan sama sekali, hanya
berupa fibroadenoma atau fibrokistik yang kecil saja, bentuk tidak teratur, batas
tidak tegas, permukaan tidak rata, dan konsistensi padat dan keras6.

Kanker payudara adalah sekelompok sel yang tidak normal pada payudara
yang terus tumbuh berlipat ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
benjolan di payudara. Kanker payudara merupakan salah satu bentuk
pertumbuhan sel pada payudara. Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah
satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang dapat berubah-ubah
tetapi masih dalam batas normal. Akan tetapi, jika sel metaplasia ini dipengaruhi
faktor lain maka akan menjadi sel displasia. Yaitu sel yang berubah menjadi tidak
normal dan terbatas dalam lapisan epitel (lapisan yang menutupi permukaan yang
terbuka dan membentuk kelenjar-kelenjar). Dimana pada suatu saat sel-sel ini
akan berkembang menjadi kanker karena berbagai faktor yang mempengaruhi
dalam kurun waktu 10-15 tahun5.

2.1.2 Anatomi payudara

Gambar 2.1 Anatomi payudara normal

Payudara terdiri dari jaringan kelenjar, fibrosa, dan lemak. Jaringan ikat
memisahkan payudara dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan seratus
anterior. Sedikit dibawah pusat payudara dewasa terdapat papilla mamaria
(putting), tonjolan berigmen yang dikelilingi oleh areola. Putting mempunyai
perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil, yaitu aperture duktus
laktiferosa. Tuberkel tuberkel Montgomery adalah kelenjar sebasea pada
permukaan areola. Jaringan kelenjar membentuk 15 hingga 25 lobus yang
tersusun radier disekitar putting dan dipisahkan oleh jaringan lemak yang
bervariasi jumlahnya, yang mengelilingi jaringan ikat (stroma) diantara lobuslobus. Setiap lobus berbeda, sehingga penyakit yang menyerang satu lobus tidak
menyerang lobus lain1.

Gambar 2.2 sistem limfatik payudara

Payudara memiliki system limfatik yang didalamnya terdapat pembuluh


getah bening dan kelenjar-kelenjar getah bening. Pembuluh getah bening itu
sendiri, terdiri dari pembuluh getah bening aksila, pembuluh getah bening
mamaria interna dan pembuluh getah bening tepi medial kuadran medial bawah
payudara. Sementara itu kelenjar-kelenjar getah bening payudara, terdiri dari:
Kelenjar getah bening aksila
Terdapat lagi grup-grup dari kelenjar getah bening aksila, yaitu:
1) Kelenjar getah mammaria eksterna, untaiannya terletak dibawah tepi lateral
m. Pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksila

2) Kelenjar getah bening scapula, terletak sepanjang vasa subskapularis dan


torakodorsalis, mulai dari percabangan v. Aksilaris menjadi v. Subskapularis,
sampai ke tempat masuknya v. Torako-dorsalis ke dalam Latissimus dorsi
3) Kelenjar getah bening sentral (Central Nodes), terletak di dalam jaringan
lemak di pusat ketiak
4) Kelenjar getah bening interpektoral (Rotters nodes), terletak di antara m.
Pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v.Thorako-akromialis
satu sampai empat
5) Kelenjar getah bening v.Aksilaris, kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang
v.Aksilaris
6) Kelenjar getah bening subklavikula. Semua getah bening yang berasal dari
kelenjar-kelenjar getah bening aksila masuk kedalam jaringan ini. Seluruh
kelenjar getah bening aksila ini terletak dibawah fasia kostokorakoid
7) Kelenjar getah bening prepektoral, merupakan kelenjar tunggal yang
terkadang terletak di bawah kulit atau didalam jaringan payudara kuadran
lateral atas, di atas fasia pektoralis
8) Kelenjar getah bening mammaria interna, kelenjar-kelenjar ini tersebar
sepanjang trunkus limfatikus mammaria interna, kira-kira tiga sentimeter dari
pinggir sternum. Terletak di dalam lemak di atas fasia endotorasika, pada sela
iga. Diperkirakan jumlah kelenjar ini ada 6-8 buah2.
2.1.3 Etiologi & faktor resiko kanker payudara
Penyebab kanker payudara belum dapat ditentukan namun terdapat
beberapa faktor resiko yang telah ditetapkan, keduanya adalah lingkungan dan
genetik. Faktor lain yang berkaitan dan memiliki resiko tinggi antara lain:
a.
b.
c.
d.

Usia
Lokasi geografis
Ras
Status sosioekonomi

: Usia 30-50 tahun meningkat tajam


: Eropa Barat dan Amerika utara lebih dari 6-10 kali
: Keturunan Amerika, terkena sebelum usia 40 tahun
: Kelompok menengah keatas

e.

Status perkawinan

: Wanita tidak menikah resiko terkena meningkat

f.

50%
Paritas
Riwayat menstruasi

: Nulipara ; Primigravida pada usia diatas 30 tahun


: Menarche usia dini ; menopause lambat (setelah

usia 50 tahun)
Riwayat keluarga

: Famili perempuan maternal atau paternal terkena

kanker payudara
Bentuk tubuh
Penyakit payudara

: Obesitas
: Hiperplasia duktus dan lobules dengan atipia

beresiko 8 kali
Terpajan radiasi

: Peningkatan resiko untuk radiasi pada wanita muda

g.

h.

i.
j.

k.

l.

dan anak-anak
Kanker primer kedua : Kanker ovarium primer; kanker endometrium
primer7
Umur penderita kanker payudara yang termuda adalah 20-29 tahun, yang

tertua 80-89 tahun, dan terbanyak berumur 40-49 tahun. Secara epidmiologik
tendensi penyakit ini familial atau genetic dimana seorang wanita dengan ibu
penderita kanker payudara akan berkemungkinan lebih besar terkena kanker
payudara disbanding dengan wanita dengan ibu tanpa riwayat kanker payudara.
Juga pada wanita infertile lebih tinggi resiko terkena dibandingkan wanita fertile
karena saat hamil tidak ada ovulasi yang dikaitkan dengan munculnya kanker
payudara3.
Dapat dicatat bahwa faktor etiologinya sampai saat ini belum diketahui
pasti, namun dapat disimpulkan bahwa penyebabnya multifaktoral yang
mempengaruhi satu sama lain, antara lain:
a) Konstitusi genetika, berdasarkan:
i) Adanya kecenderungan pada keluarga tertentu lebih banyak kanker
payudara daripada keluarga lain
ii) Adanya distribusi predileksi antar bangsa atau suku bangsa
iii) Pada kembar monozygote; terdapat kanker yang sama
iv) Terdapat persamaan lateralitas kanker payudara pada keluarga dekat
dari penderita
b) Pengaruh hormone, berdasarkan:\
i) Umunya terjadi pada wanita, insidens pada pria lebih rendah
ii) Pada usia diatas 35 tahun insidensnya lebih tinggi

iii) Pengobatan hormonal banyak yang memberikan hasil pada kanker


payudara
c) Virogen
d) Makanan, terutama makanan yang mengandung lemak dan zat karsinogen
e) Radiasi pada daerah dada, karena radiasi dapat menyebabkan mutagen1.

2.1.4

Tanda dan Gejala Kanker Payudara


Geajala utama:
a. Benjolan
Adanya benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan.
Benjolan padat dan keras dengan atau tanpa rasa sakit dan bentuknya
tidak beraturan.
b. Perubahan kulit pada payudara
- Kulit tertarik (skin dimpling)
- Benjolan yang dapat dilihat (visible lump)
- Gambaran kulit jeruk (peu dorange)
- Eritema
- Ulkus
c. Kelainan pada puting
- Puting tertarik (nipple retraction)
- Eksema
- Cairan pada puting (nipple discharge)
Gejala tambahan, yang muncul sebagai tanda metastasis jauh ataupun

komplikasi dari kanker payudara, meliputi:


a.
b.

Benjolan di aksila atau leher


Nyeri pinggang / punggung atau tulang belakang, lemah atau

c.
d.
e.

kelumpuhan
Sesak napas atau batuk batuk
Rasa penuh, mual, perut gembung, mata kuning
Nyeri kepala yang hebat, muntah proyektil, kesadaran menurun 9.

2.1.5

Klasifikasi Kanker Payudara


1. Klasifikasi patologik meliputi kanker puting payudara, kanker ductus
lactiferous dan kanker dari lobules.
2. Klasifikasi Histologi Kanker Payudara.

Tabel 2.2: Histologi Kanker Payudara


1.

2.

Non-invasif

Invasif

a.

Karsinoma duktus in situ

b.

Karsinoma lobulus in situ

a.

Karsinoma invasif duktal

b.

Karsinoma

invasif

duktal

dengan

kompenen intraduktal yang predominant


c.

Karsinoma invasif lobular

d.

Karsinoma mucinous

e.

Karsinoma medullary

f.

Karsinoma papillary

g.

Karsinoma tubular

h.

Karsinoma adenoid cystic

i.

Karsinoma sekretori (juvenille)

j.

Karsinoma apocrine

10

k.

Karsinoma dengan metaplasia :


Tipe squamous
Tipe spindle-cell
Tipe cartilaginous dan osseous
Mixed type

Lain-lain

3. Pagets desease of the nipple7

3. Sistem penentuan stadium yang tersering digunakan yang telah dirancang oleh
American Joint Comittee on Cancer Staging dan Internasional Union Against
Cancer sebagai berikut :
a.

Stadium 0 : Karsinoma duktus in situ (DCIS) termasuk penyakit Paget pada


puting payudara dan karsinoma lobulus in situ (LCIS).

b.

Stadium I : Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang serta


kelenjar getah bening negatif.

c.

Stadium IIA : Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang disertai


metastasis ke kelenjar kelenjar getah bening atau karsinoma invasif lebih
dari 2 cm, tetapi kurang dari 5 cm dengan kelenjar getah bening negatif.

d.

Stadium IIB : Karsinoma invasif berukuran garis tengah lebih dari 2 cm,
tetapi kurang dari 5 cm dengan kelenjar kelenjar getah bening positif atau
karsinoma invasif beukuran lebih dari 5 cm tanpa keterlibatan kelenjar
kelenjar getah bening.

e.

Stadium IIIA : Karsinoma invasif ukuran berapapun dengan kelenjar getah


bening terfiksasi (yaitu invasi ekstranodus yang meluas diantara kelenjar
getah bening atau menginvasi ke dalam struktur lain) atau karsinoma
berukuran garis tengah lebih dari 5 cm dengan metastasis kelenjar getah
bening nonfiksasi.

11

f.

Stadium IIIB : karsinoma inflamasi, karsinoma yang menginvasi dinding


dada, karsinoma yang menginvasi kulit, karsinoma dengan nodus kulit
satelit atau setiap karsinoma dengan metastasis ke kelenjar kelenjar getah
bening mamaria interna ipsilateral.

g.

Stadium IV : Metastasis ke tempat jauh7

4. Klasifikasi TNM Kanker Payudara Berdasarkan American Joint Comittee on


Cancer Staging Manual, 6th Edition.

Tabel 2.3 Stadium Kanker Payudara


TUMOR PRIMER (T)
TX

Ukuran tumor primer tidak dapat di perkirakan

T0

Tidak di temukan adanya tumor primer

Tis

Karsinoma insitu

Tis (DCIS)

Ductal Carsinoma Insitu

Tis (LCIS)

Labular Carsinoma Insitu

Tis (paget)

Penyakit paget di nipple tanpa di temukan tumor

T1

Ukuran tumor < 2 cm

T1mic

Mikroinvasif < 0,1 cm

T1a

Tumor > 0,1 - < 0,5 cm

T1b

Tumor > 0,5 cm - < 1 cm

T1c

Tumor > 1 cm - < 2 cm

T2

Tumor > 2 cm - < 5 cm

T3

Tumor > 5 cm

T4

Tumor dengan segala ukuran disertai dengan adanya


perlengketan pada dinding thoraks atau kulit

T4a

Melekat pada dinding dada, tidak termasuk musculus


pectoralis major

12

T4b

Edema (termasuk peau dorange) atau ulserasi pada kulit,


atau adanya nodul satelit pada payudara.

T4c

Gabungan antara T4a dan T4b

T4d

Inflamatory carcinoma

KELENJAR LIMFE REGIONAL (N)


NX

Kelenjar limfe regional tidak di dapatkan

N0

Tidak ada metastase ke kelenjar limfe

N1

Metastasis pada kelenjar limfe aksila

N2

Ada metastasis nodul ke kelenjar limfe aksila dan sudah


terjadi perlengketan satu sama lain atau ke jaringan
sekitarnya

N2a

Ada metastase nodul ke kelenjar limfe aksila dan sudah


terjadi perlekatan antara satu nodul dengan nodul lainnya

N2b

Ada metastase nodul ke kelenjar limfe aksila dan sudah


terjadi perlekatan nodul ke jaringan disekitarnya

N3

Ada metastase ke kelenjar limfe infra dan supraklavikular


dengan atau tanpa disertai metastase ke kelenjar limfe
aksila ataupun mammary internal

N3a

Metastase ke kelenjar limfe infraklavikular

N3b

Metastase ke kelejar limfe aksila dan mammary internal

N3c

Metastase ke kelenjar limfe supraklavikular


METASTASE JAUH (M)

Mx

Metastasis jauh tidak didapatkan

13

2.1.6

M0

Tidak ada bukti adanya metastasis

M1

Didapatkan metastasis yang telah mencapai organ

Diagnosis kanker payudara


Diagnosis dari kanker payudara dapat ditegakkan dari hasil anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan yang dilakukan oleh tenaga


kesehatan11.

A. Anamnesis
Anamnesis

bertujuan untyk mengidentifikasi identitas penderita, faktor

resiko, perjalanan penyakit, tanda dan gejala kanker payudara, riwayat pengobatan
dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Keluhan utama yang sering umumnya
adalah benjolan di payudara. Nyeri payudara dan nipple discharge adalah keluhan
yang sering tapi tidak selalu pertanda kanker, kelainan jinak seperti fibrocystic
disease dan papiloma intraductal juga bisa bergejala seperti ini. Malaise, nyeri
tulang, dispnea, benjolan diaksila atau leher, sesak napas atau batuk-batuk dan
kehilangan berat badan adalah keluhan yang jarang tapi merupakan indikasi
adanya metastasis jauh.
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik ditujukan untuk menentukan karakter dan lokasi lesi.
Pemeriksaan ini dilakukan sistematik dengan inspeksi dan palpasi dengan teknik
pemeriksaan payudara sendiri ( SADARI ).
Pemeriksaan ini ( Anamnesis dan pemeriksaan fisik ) mempunyai akurasi
untuk membedakan ganas atau jinak sekitar 60-80% oleh karenanya memerlukan
pemeriksaaan tambahan seperti :
1. Ultrasonografi (USG)

14

2. Mammografi
3. Biopsi aspirasi jarum halus (bajah)
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
2.1.7

Deteksi Dini Kanker Payudara


A. Pemeriksaan Fisik
SADARI
Periksa Payudara Sendiri
Pemeriksaan payudara sendiri atau sering disebut dengan SADARI adalah

suatu cara yang efektif untuk mendeteksi sedini mungkin timbulnya benjolan
pada payudara, sebenarnya dapat diketahui secara cepat dengan pemeriksaan
sendiri. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan secara berkala yaitu satu bulan sekali.
Ini dimaksudkan agar yang bersangkutan dapat mengantisipasi secara cepat jika
ditemukan benjolan pada payudara . Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang
wanita akan dapat menemukan benjolan pada stadium dini. Sebaiknya SADARI
dilakukan pada waktu yang sama setiap bulan1.
1. Melihat payudara

Berdirilah di depan cermin dengan


posisi seperti pada gambar. Kedua
lengan tergantung lemas di sisi tubuh.
Lihat:
Apakah kedua payudara simetris?
Adakah penonjolan/ lekukan/ tarikan
pada kulit?
Adakah perubahan warna kulit?
Apakah puting payudara tertarik masuk

15

Gamba r 2.2.6.1

Angkat kedua tangan anda ke atas


kepala, kemudian turunkan perlahan.
Lihat:
Apakah kedua payudara bergerak
bersama dengan tarikan lengan?
Atau salah satu payudara tampak
tertinggal?

Gambar 2.2.6.2
Bertolak pinggang dan tekan kedua
tangan pada pinggul untuk
mengencangkan otot dada.
Lihat:
Adakah perubahan bentuk?
Adakah penonjolan/ penarikan/
lekukan pada kulit?

Gambar 2.2.6

16

2. Palpasi Payudara
Berbaringlah dengan beralas bantal
tipis pada bahu pada sisi payudara
yang akan diperiksa dan letakkan
lengan di belakang kepala

Gambar 2.2.6. 4
Gunakan sisi datar jari-jari tangan
yang berlawanan dengan sisi
payudara yang akan diperiksa dan
tekanlah dengan lembut, usahakan
agar seluruh area payudara terperiksa

Gambar 2.2.6.5
Akhirnya turunkan lengan anda
sejajar tubuh dan rasakan kekenyalan
payudara yang terletak di lipatan
ketiak.
Ulangi pemeriksaan pada sisi yang
lainnya.

17

Gambar 2.2.6.6

B. Pemeriksaan Penunjang
1. Clinical Breast Examination (CBE)
Adalah pemeriksaan klinis oleh tenaga medis terlatih, dipakai untuk
mendeteksi kelainan-kelainan yang ada pada payudara dan untuk
mengevaluasi kanker payudara pada tahap dini. Untuk wanita dengan
usia rata-rata di bawah 40 tahun atau yang lebih muda, deteksi dini
lebih efektif menggunakan CBE (Rasjidi et al, 2009).
2. Pemeriksaan Ultrasonography (USG)
Apabila pada pmeriksaan CBE terdapat benjolan dibutuhkan
pemeriksaan lanjutan dengan USG ataupun mammografi. USG
dilakukan terutama untuk membutikan adanya massa kistik dan
solid/padat yang mengarah pada keganasan, dan pada perempuan
dibawah usia 40 tahun (Rasjidi et al, 2009).
3. Mammografi
Mammografi adalah pemeriksaan sinar-X pada payudara. Skrining
mammografi digunakan untuk mencari penyakit atau kelainan pada
payudara perempuan yang tidak memiliki gejala-gejala (asimtomatik).
Mammografi dapat mendeteksi tumor radius 0,5 cm yang masih belum
dapat teraba dengan tangan dan mamografi sangat bermanfaat dalam
menemukan lesi berukuran sangat kecil, sampai 2 mm, yang tidak
teraba dalam pemeriksaan klinis (biasanya berukuran dibawah 1cm).
Dengan program skrining diharapkan dilakukan pemerikasaan dasar
mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 3550 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia
diatas 50 tahun. Pemerikasaan dasar ini akan memberikan data awal
jaringan payudara wanita (Bustan, 2007).
Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala setiap tahun
pada perempuan diatas 40 tahun dan dilakukan pada perempuan yang

18

bergejala dan pada perempuan yang tidak bergejala (opportunistic


screening dan organized screening)(Rasjidi et al, 2009).
4. Biopsi aspirasi jarum halus (bajah)
Dilakukan ketika lesi dideteksi melalui mammografi atau palpasi.
Setelah suntikan anestetik lokal (jika digunakan), jarum yang halus
pada ujung spuit diarahkan ketempat pengambilan sampel. Kemudian
spuit digunakan untuk mengambil jaringan atau cairan. Bahan
sitologik ini diusapkan di atas preparat kaca dan dikirim ke
laboratorium untuk dilakukan analisis (Smeltzer, 2001).
Pemeriksaan Bajah dilakukan atas indikasi:
-

Untuk diagnosis preoperatif, dugaan maligna yang operable

Untuk diagnosis konfirmatif

Untuk kultur mikrobiologik

Untuk morfologi sel tumor dan hormonal dependen (estrogen


receptor dan progesteron receptor) (Bustan, 2007).

5.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)


MRI merupakan instrument yang sensitif untuk deteksi kanker
payudara, karena itu MRI sangat baik untuk deteksi local reccurence
pasca Breast Conserving Treatment (BCT) atau augmentasi payudara
dengan implant, deteksi multifocal cancer dan sebagai tambahan
terhadap mamografi pada kasus tertentu. MRI sangat berguna dalam
skrining pasien usia muda dengan densitas payudara yang padat yang
memiliki resiko kanker payudara yang sangat tinggi. Sensitivitas MRI
mencapai 98% tapi spesifitasnya rendah, biaya pemeriksaan mahal
dan waktu pemeriksaan yang lama oleh karena itu MRI belum jadi
prosedur rutin.

2.1.8

Penatalaksanaan kanker payudara

19

Penatalaksanaan

kanker

payudara

dilakukan

dengan

serangkain

pengobatan meliputi pembedahaan, radioterpi, hormonal, dan kemoterapi.


Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau

membatasi

perkembangan penyakit serta menghilangkan gejala-gejalanya. Keberagaman


jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual.
1. Pembedahaan
Tumor

primer

biasanya

dihilangkan

dengan pembedahan.

Prosedur

pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada


tahapan stadium penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien secara
umum. Ahli bedah dapat mengangkat tumor (lumpectomy), mengangkat
sebagaian payudara yang mengandung sel kanker atau pengangkatan seluruh
payudara (mastectomy). Untuk meningkatan harapan hidup, pembedahan biasanya
diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi, hormonal, atau kemoterapi.
2. Radioterapi
Radioterapi untuk kanker payudara biasanya digunakan sebagai terapi kuratif
dengan mempertahankan payudara, dan sebagai terapi tambahan atau terapi
paliatif.
Biasanya seluruh payudara dan kelenjar aksila dan supraklavikula diradiasi.
Akan tetapi, penyulitnya adalah pemekakan lengan karena limfudem akibat
rusaknya kelenjar aksila suprakalvikula. Jadi, radiasi harus dipertimbangkan pada
kanker payudara.
3. Terapi Hormonal
Indikasi pemberian terpi hormonal adalah bila penyakit menjadi sistemik
akibat metastasisi jauh. Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif
sebelum kemoterapi karena efek terapinya lebih lama dan efek sampingnya
kurang, tetapi tidak semua kanker payudara peka terhadap terapi hormonal. Terapi
hormonal paliatif dapat dilakukan pada penderita yang pramenopause dengan cara

20

ovarektomi bilateral atau dengan pemeberian antiestrogen, seperti tamoksifen atau


aminoglutetimid.

4. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang digunakan bila ada penyebaran
sistemik, dan sebagai terapi tambahan. Kemoterapi tambahan diberikan kepada
pasien yang pada pemeriksaan histopatologik pascabedah mastektomi ditemukan
metastasis di sebuah atau beberapa kelenjar. Tujuannya adalah menghancurkan
mikrometastasis yang biasanya terdapat pada pasien yang kelenjar aksilanya
sudah mengandung metastasis. Obat yang diberikan adalah kombinasi
siklofosfamid, metotreksat, dan 5-fluorourasil (CMF) selama enam bulan pada
perempuan usia pramenopause, sedangkan kepada yang pasca menopause
diberikan terapi tambahan hormonal berupa pil antiestrogen11.
2.2 Pengertian Perilaku
Menurut Skiner (1993), seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa peilaku
merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
Dengan demikian, perilaku manusia terjadi melalui proses :
Stimulus Respon, sehingga teori Skiner ini disebut teori S O R tersebut,
maka perilaku manusia dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Perilaku tertutup (Covert Behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum
dapat diamati orang lain secara jelas. Respon seseorang masih tebatas dalam
bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus
yang bersangkutan. Bentuk covert behavior yang dapat diukur adalah
pengetahuan dan sikap. Contoh: Ibu hamil tahu betapa pentingnya periksa
hamil untuk kesehatan bayi dan dirinya sendiri (pengetahuan), kemudian ibu
tersebut bertanya kepada tetangganya dimana tempat periksa hamil yang dekat
(sikap).

21

b. Perilaku terbuka (Overt Behavior)


Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut sudah
berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati dari luar atau observable
behavior. Contoh : Seorang ibu hamil memeriksakan kehamilannya ke
puskesmas atau kebidan praktik, seorang penederita TB paru minum obat anti
TB secara teratur, seorang anak menggosok gigi setelah makan, dan
sebagainya. Contoh-contoh tersebut adalah terbentuk nyata, dalam bentuk
kegiatan atau dalam bentuk praktik.
Meskipun perilaku dibedakan antara perilaku tertutup dan terbuka seperti
yang telah diuraikan sebelumnya, tetapi sebenarnya perilaku adalah totalitas yang
terjadi pada orang yang bersangkutan. Dengan perkataan lain, perilaku adalah
keseluruhan (totalitas) pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil
bersama antara faktor internal dan external.
Perilaku seseorang adalah sangat kompleks, dan mempunyai bentangan
yang luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan,
membedakan adanya 3 area wilayah, ranah atau dominan perilaku ini, yaitu
kognitif (cognitif), afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor). Kemudian
oleh ahli pendidikan di Indonesia, ketiga domain ini diterjemahkan ke dalam cipta
(kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotor).
Dalam pengembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh
Bloom ini, dikembangkan menjadi tiga tingkat ranah perilaku sebagai berikut :
1. Pengetahuan (Knowladge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya).

Dengan

sendirinya,

pada

waktu

penginderan

sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas


perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang
diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata).
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat

22

yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam enam tingkat


pengetahuan, yaitu :
a.

Tahu (Know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

b. Memahami (Comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekedar

dapat

menyebutkan,

tetapi

orang

tersebut

harus

dapat

menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.


c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut
pada situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalaah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.
e. Sintesis
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan
yang dimiliki.

f. Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan penilaian
terhadap suatu objek tertentu.
2. Sikap (Attitude)
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulasi atau objek tertentu,
yang sudah melibatkan faktor-faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang - tidak senang, setuju - tidak setuju, baik - tidak baik, dan
sebagainya). Menurut Campbell (1950), sikap adalah suatu kumpulan gejala

23

dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran,
perhatian, dan gejala kejiwaan.
3. Tindakan (Practice)
Seperti yang telah ditunjukkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan
untuk bertindak, Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk
terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu fasilitas atau sarana dan
prasarana.

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1.Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian yang dikemukakan, maka kerangka konsep
dalam penelitian ini adalah:

Perilaku siswi:
Pengetahuan

Pencegahan Kanker
Payudara

Sikap
Tindakan

Gambar 3.1 KerangkaKonsep

24

3.2.Definisi Operasional
3.2.1. Pengetahuan adalah pemahaman siswi mengenai kanker payudara dan
pencegahannya
3.2.2. Sikap

adalah

tanggapan

siswi

mengenai

kanker

payudara

dan

pencegahannya
3.3.3. Tindakan adalah usaha yang dilakukan siswi untuk mencegah kanker
payudara

No

Nama

Definisi

Variabel

Operasional

Pengetahuan

Pemahaman

Alat

Cara

Ukur

Ukur

Kuesioner

Wawancara

siswi

Hasil ukur/

Skala

kategori

ukur

Baik

Ordinal

Sedang

mengenai

Kurang

kanker
payudara
dan
pencegahan

Sikap

Tanggapan
siswi
tentang

Kuesioner

Wawancara

Baik

Ordinal

Sedang

25

kanker

Kurang

payudara
dan
pencegahan
3

Tindakan

Usaha yang

Kuesioner

Wawancara

dilakukan

Baik

Ordinal

Sedang

siswi untuk

Kurang

mencegah
kanker
payudara

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif, yaitu untuk
mengetahui gambaran perilaku wanita remaja di sekolah menengah kejuruan
negeri 10 medan mengenai kanker payudara dan pencegahannya.
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
4.2.1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 JL. Teuku
Cikditiro no.56 Medan Polonia.
4.2.2. Waktu Penelitian

26

Penelitian dilakukan mulai tanggal 6 juli 2015 sampai 21 agustus 2015


dalam pelaksanaannya pengumpulan data dilakukan secara bertahap.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswi
kelas XII di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Medan sebanyak 347
siswi.

4.3.2. Sampel
Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah seluruh siswi kelas XII
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Medan dengan alasan karena Sekolah
Menengah Kejuruan merupakan salah satu jenis sekolah dengan mayoritas wanita
muda terbanyak.
Pada penelitian ini yang diambil adalah siswi kelas XII dengan alas
insiden terjadinya kanker payudara paling banyak terjadi pada wanita dan saat ini
usia kanker payudara cenderung menurun tidak lagi hanya pada wanita usia diatas
35 tahun. Namun kini sudah merambah ke remaja putri, dalam rangka upaya
pencegahan terhadap kanker payudara penting didapatkan informasi mengenai
tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kanker payudara.
Siswi kelas XII terbagi atas 8 kelas. Dari populasi tersebut diambil 15 %
dari jumlah sampel sehingga jumlah sampelnya adalah 15% x 347 siswi = 52
siswi.
NO.

KELAS

JUMLAH SISWA

PERSENTASE

JUMLAH

27

Multimedia I

50

15%

Multimedia II

51

15%

Tata Boga I

43

15%

Tata Boga II

42

15%

Tata Busana I

43

15%

Tata Busana II

43

15%

Kecantikan I

37

15%

Kecantikan II

38

15%

JUMLAH

347

52

4.4. MetodePengumpulan Data


4.4.1 Sumber Data
Data Primer
Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui kuisioner
dan wawancara.
Data sekunder
Merupakan data yang diperoleh dari berbagai sumber antara lain dari
kantor administrasi SMK Negeri 10 medan berupa nama dan jumlah siswi.

4.5. Instrumen Penelitian


Instrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner yang terdiri dari 15
pertanyaan berdasarkan tinjauan pustaka sebagai berikut :
a. 5 (lima) Pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan siswi mengenai kanker
payudara

28

b. 5 (lima) Pertanyaan untuk mengetahui sikap siswi mengenai kanker


payudara
c. 5 (lima) Pertanyaan untuk mengetahui tindakan siswi dalam mencegah
kanker payudara
Tekhnik penilaian gambaran perilaku siswi kelas XII di SMK Negeri 10 medan
bersadarkan Teori Hadi Pratomo, yaitu :
a. Baik
: Jika jawaban benar >75% dari skor maksimum
b. Sedang
: Jika jawaban benar 40-75% dari skor maksimum
c. Kurang
: Jika jawaban benar <40 dari skor maksimum
1. Pengetahuan
Pengetahuan ini dapat diukur dengan metode skoring terhadap
kuesioner yang telah dinilai untuk pertanyaan pengetahuan :
a.
Untuk jawaban benar
:2
b.
Untuk jawaban kurang tepat
:1
c.
Untuk jawaban salah
:0
d.
Maksimum skor
: 10
Untuk

menilai

tingkat

pengetahuan

responden,

maka

dapat

dikategorikan pengetahuan responden berdasarkan tiga kategori :


a.
Untuk pengetahuan yang baik apabila nilai yang diperolehkan
b.

responden >75% dari maksimum skor (8-10)


Untuk pengetahuan yang sedang apabila nilai yang diperoleh

c.

responden 40-75% dari maksimum skor(4-7)


Untuk pengetahuan yang kurang apabila nilai yang diperoleh

responden <40% dari maksimum skor (<4)


2. Sikap
Sikap ini dapat diukur dengan metode skoring terhadap kuesioner
yang telah dinilai untuk pertanyaan sikap :
a.
Untuk jawaban benar
:2
b.
Untuk jawaban kurang tepat
:1
c.
Untuk jawaban salah
:0
d.
Maksimum skor
: 10
Untuk menilai tingkat sikap responden maka, dapat dikategorikan
pengetahuan responden berdasarkan tiga kategori :
a.
Untuk sikap yang baik apabila nilai yang diperolehkan
responden >75% dari maksimum skor (8-10)
a.
Untuk sikap yang sedang apabila
nilai yang diperoleh
responden 40-75% dari maksimum skor(4-7)

29

b.

Untuk

sikap yang kurang apabila nilai yang diperoleh

responden <40% dari maksimum skor (<4)


3. Tindakan
Tindakan ini dapat diukur dengan metode skoring terhadap kuesioner
yang telah dinilai untuk pertanyaan tindakan :
a. Untuk jawaban benar
:2
b. Untuk jawaban kurang tepat : 1
c. Untuk jawaban salah
:0
d. Maksimum skor
: 10

Untuk menilai tingkat tindakan responden, maka dapat dikategorikan


pengetahuan responden berdasarkan tiga kategori :
a.
Untuk tindakan yang baik apabila nilai yang diperolehkan
b.

responden >75% dari maksimum skor (8-10)


Untuk tindakan yang sedang apabila nilai yang diperoleh

c.

responden 40-75% dari maksimum skor(4-7)


Untuk tindakan yang kurang apabila nilai yang diperoleh
responden <40% dari maksimum skor (<4)

4.6. Pengelolaan Data


4.6.1. Pengelolaan Data
Data primer yang telah dikumpul selanjutnya diolah dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Pengeditan, yaitu mengecek kelengkapan data, kesinambungan
data sehingga validitas data dapat terjamin
b. Pengkodean, yaitu memberi kode tertentu untuk mempermudah
dalam mengklasifikasikan data
c. Tabulasi, yaitu mengelolah data serta pengambilan kesimpulan
yang akan dimasukkan dalam bentuk table.
4.6.2 Analisis Data
Analisis data dapat dilakukan dengan secara deskriptif yaitu data
ditampilkan dalam bentuk tabel univariat, kemudian dicari besarnya

30

persentase untuk masing-masing distribusi frekuensi tersebut. Kemudian


dibuat dalam kalimat narasi yang relevan sehingga dapat diambil suatu
kesimpulan.

BAB V
HASIL PENELITIAN

31

5.1 Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan


Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Medan merupakan Sekolah
Menengah Kejuruan yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, kota Medan yang
didirikan pada tahun 1952 dan telah dibuka 4 program kejuruan yaitu tata boga,
kecantikan, tata busana dan multimedia.
Lokasi terletak pada Jl. Teuku Cik Ditiro No. 57 Medan Polonia. Lokasi
ini juga sangat memungkinkan sebagai tempat melakukan penelitian karena
letaknya sangat strategis dan sering dilalui.
Luas: 11.040 m2
Batas-batas Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Medan :
Sebelah Utara

: Pemukiman penduduk

Sebelah Timur

: Gereja Cik Ditiro

Sebelah Selatan

: Pemukiman penduduk

Sebelah Barat

: Permukiman penduduk

5.2 Hasil Penelitian

32

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan
tindakan Santri Putra Tsanawiyah pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan
penyakit tinea kruris dan pencegahannya. Hasil penelitian ini diperoleh dari 67
responden yang berada di pesantren tersebut.
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi uji tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan
Santri PutraTsanawiyah Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah terhadap
penyakit tinea kruris dan pencegahannya
Baik

Sedang

Kurang

Jumlah

Perilaku

Pengetahuan

12

23

19

36,5

21

40,4

52

Sikap

29

55,7

15

28,8

15,4

52

Tindakan

10

19,2

17

32,7

25

48

52

BAB VI
PEMBAHASAN

33

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi sesudah orang


melakukan

pengindraan

terhadap

melalui pancaindra

objek

tertentu.

Pengindraan

manusia, yakni

terjadi
: indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasadan raba. Sebagian besar pengetahuan


manusia diperoleh melalui mata dantelinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat pentingdalam membentuk tindakan seseorang17
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dilihat dari aspek
pengetahuan responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki
pengetahuan yang kurang baik tentang penyakit penyakit kanker payudara yaitu
sebanyak 12 siswi (23%), sedangkan siswi yang memiliki pengetahuan sedang
sebanyak 19 siswi (36,5%) dan pengetahuan kurang sebanyak 21 siswi (40,4%).
Pengetahuan siswi yang sebagian besar adalah berpengetahuan kurang hal ini
didapatkan bahwa responden sebagian besar belum mengetahui gambaran,
penyebab, dan pencegahannya.
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulasi atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor-faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan (senang - tidak senang, setuju - tidak setuju, baik - tidak baik, dan
sebagainya). Menurut Campbell (1950), sikap adalah suatu kumpulan gejala
dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran,
perhatian, dan gejala kejiwaan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dilihat dari aspek sikap
responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang

34

baik tentang penyakit kanker payudara yaitu sebanyak 29 siswi (55,7%),


sedangkan siswi yang memiliki sikap sedang sebanyak 15 siswi (28,8%) dan
sikap kurang sebanyak 8 siswi (15.4%). Sikap siswi yang kurang didapat karena
siswi kurang memperhatikan asupan makanan mereka dan hal-hal yang beresiko
untuk memunculkan kanker payudara.
Seperti yang telah ditunjukkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan
untuk bertindak, Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk
terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu fasilitas atau sarana dan prasarana
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dilihat dari aspek tindakan
siswi menunjukkan bahwa sebagian besar siswi memiliki tindakan yang baik
tentang pencegahan penyakit kanker payudara yaitu sebanyak 10 siswi (19,2%),
sedangkan siswi yang memiliki tindakan sedang sebanyak 17 siswi (32,7%) dan
tindakan kurang sebanyak 25 siswi (48%). Tindakan siswi yang sebagian besar
adalah tindakan yang kurang baik. Hal ini didapatkan dari tidak adanya usaha
siswi untuk mencegah dan melakukan deteksi dini terhadap payudara sendiri.

BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan

35

Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dapat menarik kesimpulan


sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan siswi menunjukkan bahwa sebagian besar siswi
memiliki pengetahuan yang baik tentang penyakit kanker payudara yaitu
sebanyak 12 siswi (23%), sedangkan siswi yang memiliki pengetahuan
sedang sebanyak 19 siswi (36,5%) dan pengetahuan kurang sebanyak 21
siswi (40,4%) .
2. Tingkat sikap siswi menunjukkan bahwa sebagian besar siswi memiliki
sikap yang baik tentang penyakit kanker payudara yaitu sebanyak 29 siswi
(55,7%), sedangkan siswi yang memiliki sikap sedang sebanyak 15 siswi
(28,8%) dan sikap kurang sebanyak 8 siswi (15.4%).
3. Tingkat tindakan siswi menunjukkan bahwa sebagian besar santri bahwa
dilihat dari aspek tindakan siswi menunjukkan bahwa penyakit kanker
payudara yaitu sebanyak 10 siswi (19,2%), sedangkan siswi yang memiliki
tindakan sedang sebanyak

17 siswi (32,7%) dan tindakan kurang

sebanyak 25 siswi (48%).

7.2 Saran
7.2.1. Bagi Pengurus Sekolah
a. Perlu diadakannya kegiatan sosialisasi tentang penyakit-penyakit yang rentan
mengenai usia sekolah menengah atas. Dalam hal ini kanker kanker payudara.
b. Kebijakan tersebut dilaksanakan dengan kesungguhan

36

c. Perlu adanya sanksi atau penghargaan kepada guru guru yang memiliki
kemampuan lebih mengajarkan tentang sosialisasi tersebut.
7.2.2 Bagi Siswi
a. Meningkatkan pengetahuan mengenai kanker payudara.
b. Memberikan gambaran perilaku hidup sehat dan perilaku yang harus dijauhi
guna mencegah kanker payudara.
c. Melaksanakan dan membiasakan perilaku hidup sehat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi, konsep klinis proses-proses


penyakit. Edisi keenam. Volume 2. Jakarta: EGC. 2006.
2. WHO, 2004. Breast Cancer: Prevention and Control. Available at:
http://www.who.int/cancer/detection/breastcancer/en/index1.html
[Accessed July 13, 2015].

37

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Sitem Informasi Rumah


Sakit (SIRS), 2007. Jika tidak dikendalikan 26 juta orang di dunia
menderita

kanker.

Diunduh

dari

http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1060-jika-tidakdikendalikan-26-juta-orang-di-dunia-menderita-kanker-.html. ( diakses
13 juli 2015 ).
4. Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Edisi pertama. Jakarta:
Binarupa Aksara. 2010.
5. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu kandungan. Edisi kedua. Jakarta: Bina
Pustaka Sarwono Prawihardjo. 2009.
6. Netter, Frank H. Atlas of Human Anatomy. Fifth edition. USA:
Elesevier. 2011.
7. Kasdu. D. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara .
2005.
8. Ramli, Pencegahan kanker payudara. Diunduh dari:

http://www.

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/chapter%20II.pdf

(diakses

pada 22 juli 2015)


9. Robbins, L., S., Kumar, V., Cotron, S., R.. Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta: Buku kedokteran ECG. 2007.
10. Snell, R., S., Anatomi Klinik. Jakarta: Buku kedokteran ECG. 2006.
11. Suyatno., Pasaribu., Emir, T., Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi.
Jakarta: Sagung Seto. 2010
12. Sjamsuhidajat, R., Dejong, W., Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta:
ECG. 2005.
13. American

Science

Society,

2013.

Deteksi

dini

kanker

payudara.Diunduh dari: http://www.rsonkologi.com/registrasi/profillayanan/deteksi-dini-kanker-payudara/ (diakses 14 Juli 2015) .


14. RISKESDAS, 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional
2007.Diunduh dari:
http://www.k4health.org/sites/default/files/laporanNasional%20Riskes

38

das%202007.pdf ( diakses 13 juli 2015).


15. Notoatmodjo S . Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :
RinekaCipta. 2010
16. Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik.Jakarta : Rineka Cipta. 2006.
17. Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : RinekaCipta. 2010
18. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan Teori dan Perilaku. Jakarta :
RinekaCipta. 2010.

LAMPIRAN
1. NAMA-NAMA RESPONDEN
Multimedia
NO.

NAMA SISWI

KELAS

Vika Islamidina Lubis

XII A

Putri Azura

XII A

Anindita Seroja

XII A

Maysarah

XII A

Marzia Afriliani

XII A

Rizka Audiya Hasibuan

XII A

39

Ranti Pratiwi

XII A

Rahmatun Nisa

XII A

Mina Ainun Harahap

XII B

10

Emi Nurhaini

XII B

11

Ghazira Rizqina

XII B

12

Audy Andini Lubis

XII B

13

Zuhra Khalida

XII B

14

Ghina Sa'Adah Hasibuan

XII B

15

Muthia Ayu Siregar

XII B

16

Fadlatun Thoyyibah

XII B

Tata Boga
NO

NAMA SISWI

KELAS

17

Kana Rizky Ramadhani

XII A

18

Meiliyana Putri

XII A

19

Liza Laina Tussyifa

XII A

20

Syakinah Afny

XII A

21

Suci Iriani

XII A

22

Ika Ramdhaningsih

XII A

23

Fiha Nur Shabrina

XII B

24

Salmiah Nasution

XII B

25

Oryza Sativa Lubis

XII B

26

Habibah Lufiah

XII B

27

Zalshabila Izas Dewana

XII B

40

28

Latifah Linuri

XII B

Tata Busana
NO

NAMA SISWI

KELAS

29

Eva Sahnita Lubis

XII A

30

Siti Fatimah Br Sembiring

XII A

31

Mutiara Hasanah Nindi

XII A

32

Nashiroh Dini Amaliya

XII A

33

Dea Adinda Salsabila

XII A

34

Zikri Auliana

XII A

35

Nuri Syahputri

XII B

36

Nadiah Putri Halim

XII B

37

Shofyani Salasa

XII B

38

Tri Febri Wardani

XII B

39

Fadila Khofifa Tambunan

XII B

40

Raudhatul Fauziah

XII B

41

Tata Kecantikan
NO

NAMA SISWI

KELAS

41

Fathiyah Nabila

XII A

42

Hairani Salila R

XII A

43

Namira Az-Zahra

XII A

44

Nur Anjelina Siregar

XII A

45

Risky Dea Novita

XII A

46

Najmi Wahida

XII A

47

Endah Dwi Ningsih

XII B

48

Alifa Taqiyya

XII B

49

Lisa Marwah

XII B

50

Farha Kania Radhani

XII B

51

Khoiriyah Silvi Azzahra

XII B

52

Ratasya Maharani

XII B

42

43

44

45

MASTER DATA
GAMBARAN PERILAKU SISWI SMK NEGERI 10 MENGENAI KANKER
PAYUDARA DAN PENCEGAHANNYA
MEDAN
TAHUN 2015
PENGETAHUAN

NO.

NAMA RESPONDEN

NO.URUT PERTANYAAN
1

HASIL
5

Vika Islamidina Lubis

Baik

Putri Azura

Sedang

Anindita Seroja

Kurang

Maysarah

Kurang

Marzia Afriliani

Kurang

Rizka Audiya

Sedang

Hasibuan
7

Ranti Pratiwi

Kurang

Rahmatun Nisa

Sedang

Mina Ainun Harahap

Baik

10

Emi Nurhaini

Sedang

11

Ghazira Rizqina

Kurang

46

12

Audy Andini Lubis

Baik

13

Zuhra Khalida

Sedang

14

Ghina Sa'Adah

Kurang

Hasibuan
15

Muthia Ayu Siregar

Kurang

16

Fadlatun Thoyyibah

Sedang

17

Kana Rizky

Kurang

Ramadhani
18

Meiliyana Putri

Kurang

19

Liza Laina Tussyifa

Baik

20

Syakinah Afny

21

Suci Iriani

Sedang

22

Ika Ramdhaningsih

Kurang

23

Fiha Nur Shabrina

Sedang

24

Salmiah Nasution

Kurang

25

Oryza Sativa Lubis

Kurang

26

Habibah Lufiah

Baik

27

Latifah Linuri

Kurang

28

Zalshabila Izas

Baik

Sedang

Dewana
29

Eva Sahnita Lubis

Sedang

30

Siti Fatimah Br

Baik

Baik

Kurang

Sedang

Sembiring
31

Mutiara Hasanah
Nindi

32

Nashiroh Dini
Amaliya

33

Dea Adinda Salsabila

47

34

Zikri Auliana

Kurang

35

Nuri Syahputri

Baik

36

Nadiah Putri Halim

Baik

37

Shofyani Salasa

Kurang

38

Tri Febri Wardani

Sedang

39

Fadila Khofifa

Baik

Tambunan
40

Raudhatul Fauziah

Sedang

41

Fathiyah Nabila

Sedang

42

Hairani Salila R

Kurang

43

Namira Az-Zahra

Kurang

44

Nur Anjelina Siregar

Sedang

45

Risky Dea Novita

Sedang

46

Najmi Wahida

Kurang

47

Endah Dwi Ningsih

Sedang

48

Alifa Taqiyya

Kurang

49

Lisa Marwah

Sedang

50

Farha Kania Radhani

Baik

51

Khoiriyah Silvi

Kurang

Sedang

Azzahra
52

Ratasya Maharani

SIKAP

48

NO.

NAMA RESPONDEN

NO.URUT PERTANYAAN
1

HASIL
5

Vika Islamidina Lubis

Baik

Putri Azura

Baik

Anindita Seroja

Baik

Maysarah

Baik

Marzia Afriliani

Baik

Rizka Audiya

Baik

Hasibuan
7

Ranti Pratiwi

Sedang

Rahmatun Nisa

Sedang

Mina Ainun Harahap

Kurang

10

Emi Nurhaini

Baik

11

Ghazira Rizqina

Buruk

12

Audy Andini Lubis

Sedang

13

Zuhra Khalida

Baik

14

Ghina Sa'Adah

Baik

Hasibuan
15

Muthia Ayu Siregar

Kurang

16

Fadlatun Thoyyibah

Baik

17

Kana Rizky

Sedang

Ramadhani
18

Meiliyana Putri

Kurang

19

Liza Laina Tussyifa

Baik

20

Syakinah Afny

Baik

21

Suci Iriani

Baik

22

Ika Ramdhaningsih

Kurang

49

23

Fiha Nur Shabrina

Baik

24

Salmiah Nasution

Kurang

25

Oryza Sativa Lubis

Kurang

26

Habibah Lufiah

Baik

27

Latifah Linuri

Sedang

28

Zalshabila Izas

Baik

Dewana
29

Eva Sahnita Lubis

Kurang

30

Siti Fatimah Br

Baik

Baik

Sedang

Sembiring
31

Mutiara Hasanah
Nindi

32

Nashiroh Dini
Amaliya

33

Dea Adinda Salsabila

Baik

34

Zikri Auliana

Baik

35

Nuri Syahputri

Baik

36

Nadiah Putri Halim

Baik

37

Shofyani Salasa

Sedang

38

Tri Febri Wardani

Sedang

39

Fadila Khofifa

Baik

Tambunan
40

Raudhatul Fauziah

Sedang

41

Fathiyah Nabila

Baik

42

Hairani Salila R

Sedang

43

Namira Az-Zahra

Sedang

44

Nur Anjelina Siregar

Baik

45

Risky Dea Novita

Sedang

50

46

Najmi Wahida

Sedang

47

Endah Dwi Ningsih

Baik

48

Alifa Taqiyya

Sedang

49

Lisa Marwah

Baik

50

Farha Kania Radhani

Baik

51

Khoiriyah Silvi

Baik

Sedang

Azzahra
52

Ratasya Maharani

TINDAKAN

NO.

NAMA RESPONDEN

NO.URUT PERTANYAAN
1

HASIL
5

Vika Islamidina Lubis

Sedang

Putri Azura

Baik

Anindita Seroja

Sedang

Maysarah

Sedang

Marzia Afriliani

Sedang

51

Rizka Audiya

Baik

Hasibuan
7

Ranti Pratiwi

Sedang

Rahmatun Nisa

Sedang

Mina Ainun Harahap

Sedang

10

Emi Nurhaini

Baik

11

Ghazira Rizqina

Sedang

12

Audy Andini Lubis

Sedang

13

Zuhra Khalida

Sedang

14

Ghina Sa'Adah

Kurang

Hasibuan
15

Muthia Ayu Siregar

Kurang

16

Fadlatun Thoyyibah

Sedang

17

Kana Rizky

Sedang

Ramadhani
18

Meiliyana Putri

Kurang

19

Liza Laina Tussyifa

Baik

20

Syakinah Afny

Kurang

21

Suci Iriani

Kurang

22

Ika Ramdhaningsih

Kurang

23

Fiha Nur Shabrina

Kurang

24

Salmiah Nasution

Kurang

25

Oryza Sativa Lubis

Kurang

26

Habibah Lufiah

Baik

27

Latifah Linuri

Kurang

28

Zalshabila Izas

Baik

Dewana

52

29

Eva Sahnita Lubis

Sedang

30

Siti Fatimah Br

Baik

Baik

Kurang

Sembiring
31

Mutiara Hasanah
Nindi

32

Nashiroh Dini
Amaliya

33

Dea Adinda Salsabila

Sedang

34

Zikri Auliana

Kurang

35

Nuri Syahputri

Baik

36

Nadiah Putri Halim

Sedang

37

Shofyani Salasa

Kurang

38

Tri Febri Wardani

Kurang

39

Fadila Khofifa

Sedang

Tambunan
40

Raudhatul Fauziah

Kurang

41

Fathiyah Nabila

Kurang

42

Hairani Salila R

Kurang

43

Namira Az-Zahra

Kurang

44

Nur Anjelina Siregar

Kurang

45

Risky Dea Novita

Sedang

46

Najmi Wahida

Kurang

47

Endah Dwi Ningsih

Kurang

48

Alifa Taqiyya

Kurang

49

Lisa Marwah

Kurang

50

Farha Kania Radhani

Baik

53

51

Khoiriyah Silvi

Kurang

Kurang

Azzahra
52

Ratasya Maharani

54