Anda di halaman 1dari 14

PENUAAN (AGING)

PENUAAN (AGING)
Menua atau proses menua/menjadi tua (aging) adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan

kemampuan

jaringan

untuk

memperbaiki

diri/mengganti

diri

dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas
(termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menua merupakan proses yang
mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail (rapuh) dengan berkurangnya
sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai
penyakit dan kematian (Gambar 1).
Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi berbagai perubahan fisiologis yang tidak hanya
berpengaruh terhadap penampilan fisik, namun juga terhadap fungsi dan tanggapannya pada
kehidupan sehari-hari. Selain itu, akan terjadi kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan
menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut penyakit degeneratif
(hipertensi, aterosklerosis, diabetes melitus dan kanker).
Terdapat beberapa istilah dalam gerontologi (ilmu yang mempelajari proses menua dan semua
aspek biologi, sosiologi, dan sejarah yang terkait dengan penuaan), yaitu:
1. Aging; menunjukkan efek waktu, suatu proses perubahan, biasanya bertahap dan spontan.
2. Senescence; hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan berkembang (dan seiring waktu
akan menyebabkan kematian) atau turunnya fungsi efisiensi organisme sejalan dengan
penuaan dan meningkatnya kemungkinan kematian.
3. Homeostenosis; penyempitan/berkurangnya cadangan homeostasis yang terjadi selama
penuaan pada setiap sistem organ.
4. Geriatri; cabang ilmu kedokteran yang mengobati kondisi dan penyakit yang dikaitkan
dengan proses menua dan usia lanjut (multipatologi/penyakit ganda), yang merujuk pada
pemberian pelayanan kesehatan untuk usia lanjut.
5. Longevity; merujuk pada lama hidup seseorang individu.
6. Mean longevity; lam hidup rata-rata suatu populasi atau usia harapan hidup (life expectancy),
yang dirumuskan dengan penjumlahan umur semua anggota populasi saat meninggal dibagi
jumlah anggota populasi tersebut.

7. Maximum longevity; usia saat meninggal dari anggota populasi yang hidup paling lama
(sekitar 110-120 tahun).
Batas-batas lanjut usia, yaitu:
1. Batasan usia menurut WHO meliputi:
1. Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-59 tahun.
2. Lanjut usia (elderly), antara 60-74 tahun.
3. Lanjut usia tua (old), antara 75-90 tahun.
4. Usia sangat tua (very old), di atas 90 tahun.

2. Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan bahwa, seorang dapat dinyatakan sebagai
seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak
mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari
dan menerima nafkah dari orang lain.
3. Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia yang berbunyi, lansia adalah
seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Gambar 1. Penuaan (Aging)


Teori-teori proses menua
1. Teori Genetic Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap
spesies mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu di
dalam inti sel. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak
diputar, sehingga bila jam ini berhenti maka seseorang akan meninggal dunia.
2

Konsep genetik clock didukung oleh kenyataan bahwa adanya perbedaan harapan hidup pada
beberapa spesies, sebagai contoh pada manusia rekor rentang hidupnya 116 tahun (usia
maksimal) sedangkan pada gorila rekor rentang hidupnya 48 tahun. Sedangkan usia harapan
hidup tertinggi terdapat di Jepang yaitu pria 76 tahun dan wanita 82 tahun.
2. Teori mutasi somatik (Erros Catastrophe)
Faktor-faktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang
menyebabkan terjadinya mutasi somatik, di mana bila terpapar radiasi dan zat kimia dapat
memperpendek umur sedangkan jika menghindari paparan radiasi atau zat kimia yang
bersifat karsinogenik atau toksik maka dapat memperpanjang umur. Menurut teori ini,
terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya
penurunan kemapuan fungsional sel tersebut.
Teori mutasi somatik berhubungan dengan hipotesis Error Catastrophe, di mana menua
disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang beruntun sepanjang kehidupan. Setelah
berlangsung dalam waktu yang lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA
menjadi RNA), maupun proses translansi (RNA menjadi protein/enzim) yang akan
menyebabkan terbentuknya enzim yang salah, sebagai reaksi dan kesalahan-kesalahan lain
yang berkembang secara eksponensial dan akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme
yang salah, sehingga akan mengurangi fungsional sel. Walaupun dalam batas-batas tertentu
kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri
sendiri bersifat terbatas pada kesalahan dalam proses transkripsi (pembentukan RNA) yang
tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, sehingga dapat menimbulkan
metabolit yang berbahaya. Apalagi jika terjadi pula kesalahan dalam proses translasi
(pembentukan protein), maka akan terjadi kesalahan yang semakin banyak, sehingga terjadi
katastrop (bencana).
3. Teori rusaknya sistem imum tubuh
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pascatranslasi dapat menyebabkan
berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition).
Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka ini
dapat mengakibatkan sistem imun tubuh menanggap sel yang mengalami perubahan tersebut
sebagai sel asing dan menghancurkannya.

Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun. Hasilnya dapat berupa
reaksi antigen/antibodi uang luas mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam, efek menua
akan menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan. Teori ini dibuktikan
dengan bertambahnya prevalensi auto antibodi bermacam-macam pada orang lanjut usia.
Di pihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada
proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker
leluasa membelah diri yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kanker sesuai dengan
meningkatnya umur. Semua sel somatik akan mengalami proses menua, kecuali sel bibit
(gurma sel telur) dan sel yang mengalami mutasi menjadi kanker.
4. Teori menua akibat metabolisme (teori glikosilasi)
Teori glikosilasi menyatakan bahwa proses glikosilasi nonenzematik yang menghasilkan
pertautan glukosa-protein yang disebut advanced glycation end products (AGEs) dapat
menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi sehingga
menyebabkan disfungsi pada hewan atau manusia yang menua (Gambar 2). Protein glikasi
menunjukkan perubahan fungsional, meliputi menurunnya aktivitas enzim dan menurunnya
degradasi protein abnormal. Sehingga sewaktu manusia menua, AGEs berakumulasi di
berbagai jaringan termasuk kolagen, hemoglobin, lensa mata. Akibat muatan kolagen tinggi
maka jaringan ikat menjadi kurang elastis dan mengkaku, dan AGEs diduga juga berinteraksi
dengan DNA dan karenanya mungkin menggangu kemampuan sel untuk memperbaiki
perubahan pada DNA. Teori glikosilasi juga dikenal sebagai teori menua akibat metabolisme.
Teori glikosilasi didasarkan pada penelitian tikus-tikus yang dibatasi kalorinya mempunyai
gula darah yang rendah dan menyebabkan perlambatan penumpukan produk glikosilasi.
Dalam teori ini dijelaskan bahwa pengurangan intake kalori akan menghambat pertumbuhan
dan memperpanjang umur, yang dibukti dengan hewan yang terhambat pertumbuhannya
dapat mencapai umur 2 kali lebih panjang umur kontrolnya. Perpanjangan umur karena
penurunan jumlah kalori ini juga disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa
metabolisme, di mana terjadinya penurunan pengeluaran hormon yang merangsang
proliferasi sel (insulin, hormon pertumbuhan) sehingga akan terjadi penundaan proses
degenerasi.

Teori metabolisme ini juga didukung oleh penelitian Balin dan Allen, di mana perkembangan
lalat (Drosophila Melanogaster) lebih cepat dan umurnya lebih pendek pada temperatur
30oC, jika dibandingkan dengan lalat yang dipelihara pada temperatur 10 oC. Selain itu,
mamalia yang dirangsang untuk hibernasi selama musim dingin umurnya lebih panjang
daripada kontrolnya, sebaliknya jika mamalia ditempatnya temperatur yang rendah tanpa
dirangsang hibernasi maka metabolismenya meningkat dan berumur lebih pendek. Walaupun
umurnya berbeda, namun jumlah kalori yang dikeluarkan untuk metabolisme selama hidup
adalah sama. Pada penelitian lain, dijelaskan modifikasi cara hidup yang kurang bergerak
menjadi lebih banyak bergerak mungkin juga dapat meningkatkan umur panjang. Hal ini
menyerupai hewan yang hidup di alam bebas yang banyak bergerak dibandingkan hewan
yang hidup di laboratorium yang kurang bergerak dan banyak makan. Hewan di alam bebas
lebih panjang umurnya daripada hewan yang berada di laboratorium.

Gambar 2. Teori Glikosilasi

5. Teori akibat radikal bebas


Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron tidak berpasangan (Gambar 3), di
mana radikal bebas terbentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses selular atau
metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Radikal bebas (RB) dapat terbentuk di alam
bebas dan di dalam tubuh jika fagosit pecah, dan sebagai produk sampingan di dalam rantai
pernapasan di dalam mitokondria. Untuk organisme aerobik, radikal bebas terutama
terbentuk pada waktu respirasi di dalam mitokondria karena 90% oksigen yang diambil tubuh
masuk ke dalam mitokondria. Waktu terjadi proses respirasi tersebut oksigen dilibatkan
dalam mengubah bahan bakar menjadi ATP, melalui enzim-enzim respirasi di dalam
mitokondria, maka radikal bebas akan dihasilkan sebagai zat antara. Radikal bebas yang
terbentuk tersebut adalah superoksida (O2), radikal hidroksil (OH), dan juga peroksida
hidrogen (H2O2). Radikal bebas ini bersifat merusak karena sangat reaktif, sehingga dapat
beraksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh, seperti membran sel dan dengan gugus
SH, yang selanjutnya menjadi molekul-molekul yang tidak berfungsi namun bertahan lama
dan mengganggu fungsi sel lainnya.
Selain itu, terdapat pula reactive ocygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS)
yang dihasilkan selama metabolisme normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara
kimiawi radikal bebas akan mencari pasangan elektron lain dengan bereaksi dengan substansi
lain terutama protein dan lemak tidak jenuh. Melalui proses oksidasi, radikal bebas yang
dihasilkan

selama

fosforilasi

oksidatif

dapat

menghasilkan

berbagai

modifikasi

makromolekul. Akibatnya, karena membran sel mengandung sejumlah lemak maka membran
ini dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran menjadi perubahan. Akibat
perubahan pada struktur membran ini maka membran sel menjadi lebih permeabel terhadap
beberapa substansi dan kemungkinan substansi tersebut melewati membran secara bebas.
Struktur di dalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh membran yang
mengandung lemak sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas, dan radikal bebas juga
dapat bereaksi dengan DNA yang menyebabkan mutasi kromosom dan dapat merusak mesin
genetik normal dari sel (Gambar 4).

Gambar 3. Radikal Bebas

Gambar 4. Kerusakan DNA Oleh Radikal Bebas pada Mitokondria


Tubuh sendiri sendiri sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menangkal radikal bebas
dalam bentuk enzim (Tabel 1), seperti:
1. Superoxide dismutase (SOD) yang berunsur Zn, Cu, dan juga Mn. Enzim ini dapat

mengubah superoksida menjadi 2O2, dalam reaksi:


2O2- + 2H+

SOD

H2O2 + O2

2. Enzim kalatase yang berunsur Fe dalam bentuk heme, dapat menguraikan hidrogen
peroksida menjadi air dan oksigen, dalam reaksi:
2H2O2

Katalase

2H2O + O2

3. Enzim glutation peroksidase berunsur selenium (Se) juga menguraikan hidrogen


peroksida, melalui reaksi:
H2O2 + GSH

GSSH + H2O

Di samping itu, radikal bebas dapat juga dinetralkan menggunakan senyawa nonenzimatik,
seperti vitamin C (asam askorbat), provitamin A (beta karoten), dan vitamin E (tocopherol).
Walaupun telah ada sistem penangkal, namun sebagian radikal bebas tetap lolos bahkan
makin lanjut usia makin banyak radikal bebas terbentuk sehingga proses pengrusakan terus
terjadi. Kerusakan organel sel makin lama makin banyak dan akhirnya sel mati. Jadi teori
radikal bebas menyatakan bahwa terdapatnya akumulasi radikal bebas secara bertahap di
dalam sel sejalan dengan waktu, dan bila kadarnya melebihi konsentrasi ambang maka
radikal bebas mungkin berkontribusi pada perubahan-perubahan yang seringkali dikaitkan
dengan penuaan.
Tabel 1. Pertahanan Selular Alami terhadap Radikal Bebas dan Distribusinya

6. Teori DNA repair


Teori ini menjelaskan bahwa adanya perbedaan pola laju repair kerusakan DNA yang
diinduksi sinar UV pada berbagai fibroblas yang dikultur. Fibroblas pada spesies yang
mempunyai umur maksimum terpanjang menunjukkan laju DNA repair terbesar, dan kolerasi
ini dapat ditunjukkan pada berbagai mamalia dan primata.
Fisiologi penuaan dan perubahan-perubahannya
Homeostenosis merupakan karakteristik fisiologi penuaan, di mana terjadi penyempitan
(berkurangnya) cadangan homeostasis yang terjadi seiring meningkatnya usia pada setiap sistem
organ. Dengan bertambahnya usia maka jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapai berbagai
perubahan (challenge) berkurang. Setiap challenge terhadap homeostasis merupakan
pergerakkan menjauhi keadaan dasar (baseline), dan semakin besar challenge yang terjadi maka
semakin besar cadangan fisiologis yang diperlukan untuk kembali ke homeostasis. Di sisi lain,
dengan makin berkurangnya cadangan fisiologis maka seorang lansia lebih mudah untuk
mencapai suatu ambang (precipice), yang dapat berupa keadaan sakit atau kematian akibat
challenge tersebut. Konsep homeostenosis dapat menjelaskan perubahan fisiologis yang terjadi
selama proses menua dan efek yang ditimbulkannya. Walaupun merupakan suatu proses
fisiologis, perubahan dan efek penuaan terjadi sangat bervariasi dan variabilitas ini makin
meningkat seiring peningkatan usia. Variasi ini terjadi antara satu individu dengan individu lain
pada umur yang sama, antara satu sistem organ dengan organ lain, bahkan dari satu sel terhadap
sel lain pada individu yang sama.
Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadi kehilangan atau penurunan
anatomik dan fungsional atas organ-organnya makin besar. Kehilangan atau penurunan ini
ditunjukkan dengan adanya hukum 1% (Andres dan Tobin), yang menyatakan bahwa fungsi
organ akan menurun sebanyak 1% setiap tahunnya setelah berusia 30 tahun. Namun, pada
penelitian cros sectional (Svanborg) didapatkan bahwa perubahan yang terjadi pada organ yang
sama diikuti secara longitudinal ternyata tidak selalu dramitis dan baru dimulai setelah berusia
70 tahun.
Sebenarnya lebih tepat bila dikatakan bahwa penurunan anatomik dan fungsi organ tersebut tidak
dikaitkan dengan umur kronologik akan tetapi dengan umur biologiknya. Sebagai contoh,
9

mungkin seseorang dengan usia kronologik baru 55 tahun, tetapi sudah menunjukkan berbagai
penurunan anatomik dan fungsional yang nyata akibat umur biologiknya yang sudah lanjut
sebagai akibat tidak biaknya faktor nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan berkurangnya aktivitas.
Penurunan anatomik dan fungsional ini akan menyebabkan mudahnya timbul penyakit pada
organ (predileksi), hal ini sangat bergantung pada derajat kecepatan terjadinya perburukan atau
deteriorisasi (laju penurunan fungsi) dan tingkat tampilan organ yang dibutuhkan (tingkat kinerja
yang dibutuhkan). Jadi petanda penuaan adalah bukan pada tampilan organ atau organisme saat
istirahat namun pada saat bagaimana organ atau organisme tersebut dapat beradaptasi terhadap
stres dari luar. Contohnya pada orang tua mungkin memiliki denyut nadi yang normal pada saat
istirahat, tetapi tidak mampu meningkatkan curah jantung pada waktu melakukan aktivitas.
Kadang-kadang berbagai perubahan akibat proses menua berkeja sama dan saling mempengaruhi
sehingga menghasilkan nilai-nilai normal pada keadaan isitirahat. Contohnya pada filtrasi
glomerulus dan aliran darah ginjal yang menurun sejalan dengan meningkatnya usia, namun
kadar kreatinin tetap tidak meningkat. Hal ini disebabkan berkurangnya massa otot (lean body
mass) yang menyebabkan produksi kreatinin menurun.
Perubahan-perubahan Fisik
1. Sel
1. Lebih sedikit jumlahnya.
2. Lebih besar ukurannya.
3. Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
4. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
5. Jumlah sel otak menurun.
6. Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
7. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
2. Sistem Persarafan
1. Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap
harinya).
2. Cepatnya menurun hubungan persarafan.
3. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
4. Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran,
mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan
rendahnya ketahanan terhadap dingin.
5. Kurang sensitif terhadap sentuhan.
3. Sistem Pendengaran

10

1. Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran). Hilangnya kemampuan pendengaran pada


telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang
tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
2. Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
3. Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
4. Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
4. Sistem Penglihatan
1. Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
2. Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
3. Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
4. Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat
dan susah melihat dalam cahaya gelap.
5. Hilangnya daya akomodasi.
6. Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
7. Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.
5. Sistem Kardiovaskuler
1. Elastisitas dinding aorta menurun.
2. Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer
untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa
menyebabkan tekanan darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak.
5. Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

6. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh


1. Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis akibat metabolisme yang
menurun.
2. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas
otot menurun.
7. Sistem Respirasi
1. Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
2. Menurunnya aktivitas dari silia.
3. Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan
maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
4. Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
5. Kemampuan untuk batuk berkurang.
6. Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.
8. Sistem Gastrointestinal

11

1. Kehilangan gigi akibat Periodontal disease, kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang
buruk.
2. Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf pengecapm di lidah terhadap rasa
manis, asin, asam, dan pahit.
3. Eosephagus melebar.
4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
5. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6. Daya absorbsi melemah.
9. Sistem Reproduksi
1. Menciutnya ovari dan uterus.
2. Atrofi payudara.
3. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan
secara berangsur-angsur.
4. Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal kondisi kesehatan
baik.
5. Selaput lendir vagina menurun.
10. Sistem Perkemihan
1. Ginjal merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh melalui urin, darah
yang masuk ke ginjal disaring di glomerulus (nefron). Nefron menjadi atrofi dan aliran
darah ke ginjal menurun sampai 50%.
2. Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil meningkat dan
terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.
11. Sistem Endokrin
1. Produksi semua hormon menurun.
2. Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic Rate), dan
menurunnya daya pertukaran zat.
3. Menurunnya produksi aldosteron.
4. Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron, estrogen, dan testosteron.
12. Sistem Kulit (Sistem Integumen)
1. Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2. Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses keratinisasi, serta perubahan
ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.
3. Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
4. Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
5. Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan vaskularisasi.
6. Pertumbuhan kuku lebih lambat.
7. Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.
8. Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
13. Sistem Muskuloskletal
1. Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh.
12

2.
3.
4.
5.
6.

Kifosis
Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.
Persendiaan membesar dan menjadi kaku.
Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.
Atrofi serabut otot (otot-otot serabut mengecil). Otot-otot serabut mengecil sehingga

seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram dan menjadi tremor.


7. Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.
Perubahan-perubahan Mental
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
1. Perubahan fisik, khususnya organ perasa.
2. Kesehatan umum
3. Tingkat pendidikan
4. Keturunan (Hereditas)
5. Lingkungan
2. Kenangan (Memory)
1. Kenangan jangka panjang: Berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu mencakup beberapa
perubahan.
2. Kenangan jangka pendek atau seketika: 0-10 menit, kenangan buruk.
3. IQ (Inteligentia Quantion)
1. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.
2. Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor, terjadi perubahan pada
daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor waktu.
Perubahan-perubahan Psikososial
1. Pensiun: nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan
peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun (purna tugas), ia akan mengalami
kehilangan-kehilangan, antara lain :
1. Kehilangan finansial (income berkurang).
2. Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

segala fasilitasnya).
3. Kehilangan teman/kenalan atau relasi.
4. Kehilangan pekerjaan/kegiatan.
Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality)
Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit.
Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation).
Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan.
Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.
Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
13

9. Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman dan famili.
10. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik: perubahan terhadap gambaran diri, perubahan
konsep diri.
Perkembangan Spritual
1. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupan.
2. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal ini terlihat dalam berfikir dan
bertindak dalam sehari-hari.
3. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Folwer (1978), Universalizing,
perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara
memberikan contoh cara mencintai keadilan.

Daftar Pustaka
1.

H. Hadi Martono, dkk. Buku Ajar Boedhi-Darmojo: Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut), Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2009.

2.

Aru W. Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid 3. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006.

3.

Sjaifoellah Noer, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III, Jilid 2. Jakarta: Balai
Penerbitan FKUI, 1999.

4.

Ismayadi. Proses Menua (Aging Process). Medan: USU Digital Library, 2004.

14