Anda di halaman 1dari 34

Buku-buku digital PATTIRO free download silahkan

disebarluaskan untuk dimanfaatkan oleh Masyarakat. Tersedia di


APP Store dan Goggle Play dan Webstore distributor ebook.
PATTIRO
PUSAT ANALISIS DAN TELAAH REGIONAL

PATTIRO adalah sebuah Organisasi Non-Pemerintah


yang didirikan 17 April 1999 di Jakarta, bergerak di isu-isu
pemerintahan daerah dan keterbukaan informasi publik, dengan
memanfaatkan pendekatan multistakeholder engagement.
Misi yang diemban oleh PATTIRO antara lain memperkuat
kapasitas warga untuk berperan dalam proses pembuatan
keputusan publik. PATTIRO mendorong transparansi dan
akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan, baik di tingkat
pusat maupun daerah.
Hubungi kami untuk Informasi dan kerjasama dibidang
penelitian, fasilitator, Capacity Building, advokasi pelayanan
publik, Perbaikan Pelayanan Publik, Reformasi Kebijakan Publik,
dan Reformasi Manajemen Keuangan Publik

Jl. Intan No.81, Cilandak Barat, Jakarta Selatan


T:+62-21 7591 5498 | F:+62-21 751 2503
info@pattiro.org | www.pattiro.org | Facebook page PATTIRO

SERI BUKU SAKU

TIPS & TRIK


Mengkritisi APBD
Panduan Praktis untuk Analisis APBD

Susana Dewi R

TIPS & TRIK Mengkritisi APBD


Panduan Praktis untuk Analisis APBD
ISBN 978-979-25-7394-7

Penulis: Susana Dewi R

Diterbitkan oleh
Pusat Telaah dan Informasi Regional
bekerja sama dengan
European Initiative Democracy and Human Rights (EIDHR)
Uni Eropa
Cetakan Pertama, Desember 2006

Diperbolehkan memperbanyak tulisan dalam buku ini,


sebagian atau seluruhnya, dengan mencantumkan
sumber aslinya

Penerbit
Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO)
Jl. Tebet Utara I F No. 6 Jakarta Selatan 12820
Telp.
: (62-21) 8379 0541, 7098 6724
Fax
: (62-21) 8379 0541
E-mail
: pattiro@cbn.net.id
sekretariat@pattiro.org

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................ 4


TIPS & TRIK Mengkritisi APBD:
Panduan Praktis untuk Analisis APBD ...................... 6
I . Tahap Penyiapan Tim Analisis .............................. 8
II. Tahap Penyiapan Dokumen dan Alat
Analisis APBD ............................................................. 9
III. Tahap Analisis Dokumen Perencanaan
dan Penganggaran ................................................ 12
IV. Tahap Analisis Alokasi Anggaran ...................... 19
Lampiran I .............................................................................. 26
Lampiran II ............................................................................. 28

KATA PENGANTAR

uku saku analisis APBD ini kami persembahkan


untuk para pendekar anggaran dalam peran
apapun. Peran dalam ruang lembaga Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah, pemerintah daerah dan juga temanteman gerakan CSO yang sedang memperjuangkan
kepentingan rakyat.
Buku kecil ini berasal dari perasan perjalanan PATTIRO
yang hampir selama lima tahun lebih berkecimpung
dalam kerja advokasi anggaran. Salah satunya adalah
assistensi teknis kepada DPRD dan pemerintah kota/
kabupaten di beberapa wilayah Indonesia. Karenanya,
beberapa contoh kasus dalam buku ini mencuplik
temuan di beberapa daerah itu.
Sebagai panduan praktis, kami berharap tips dan trik
dalam buku ini bisa secara mudah diterapkan.
Kami berharap buku ini bisa menjadi sarana dalam
mewujudkan komitmen bersama yaitu selalu berbuat
yang terbaik bagi Indonesia maju.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada mbak
Tanty, mas Alam Saragih, Alam SP, Ari Purbono dan
4

Agung BM dari DPRD kota Semarang atas seluruh ide


dan masukan atas buku ini.
Tentu saja, kritik dan saran untuk perbaikan buku ini
ke depan selalu kami nantikan.
Jakarta, Desember 2006

Penulis

TIPS DAN TRIK


MENGKRITISI APBD
PANDUAN PRAKTIS UNTUK ANALISIS APBD

iklus APBD, yang menjadi ritual tahunan daerah,


terdiri dari perencanaan, pembahasan dan penetapan APBD, pelaksanaan dan pertanggungjawaban.
Dalam siklus APBD diperlukan pengawalan dan
pengkritisan yang jeli. Hal ini dikarenakan banyak
permasalahan masyarakat yang perlu diselesaikan
dalam bentuk kebijakan (program) yang didukung oleh
anggaran yang memadai. Padahal, anggaran yang ada
hanya terbatas.
Di sinilah pentingnya rasa keberpihakan dari
pemerintah daerah dan DPRD pada kepentingan rakyat.
Peran aktif semua pihak, berdasarkan peran masingmasing, dibutuhkan untuk mengawal agar alokasi
anggaran dilakukan dengan tepat.
Dalam UU No 17 tahun 2006 dan juga Permendagri
No 13 tahun 2006 (pasal 4) telah jelas disebutkan
tentang Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah.
6

Ada sepuluh asas umum pengelolaan keuangan daerah,


yakni:
1. Tertib
2. Taat
3. Efektif
4. Efisien
5. Ekonomis
6. Transparan
7. Bertanggung jawab
8. Keadilan
9. Kepatutan
10. Manfaat untuk masyarakat
Analisis APBD dilakukan untuk memastikan munculnya kebijakan anggaran yang berpihak ke rakyat. Dan
juga, harapannya adalah diterapkannya azas umum
pengelolaan keuangan ini agar anggaran yang sejatinya
adalah uang rakyat, digunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat ( pasal 23 UUD 45 hasil amandemen
ke 4).
Mekanisme pembahasan dan penetapan APBD,
berdasarkan PP Nomor 1 tahun 2001 dan juga peraturan
tata tertib DPRD meliputi:

1. Penyampaian Nota Keuangan dari kepala daerah


kepada DPRD ;
2. Penyampaian Pandangan Umum Fraksi atas
Nota Keuangan dan RAPBD ;
3. Penyampaian Jawaban gubernur/walikota/
bupati atas pandangan fraksi ;
4. Pembahasan RAPBD di masing-masing komisi
dengan SKPD terkait ;
5. Pandangan akhir fraksi atas RAPBD ;
6. Pengesahan RAPBD menjadi peraturan daerah ;
dan
7. Pengundangan Perda APBD dalam Lembaran
Daerah oleh Pemerintrah Daerah agar semua
warga masyarakat mengetahuinya.
Langkah-langkah dalam melakukan analisis APBD
yakni:
I

TAHAP PENYIAPAN TIM ANALISIS


1. Buatlah tim yang akan melakukan analisis
RAPBD. Tim ini dapat berasal dari partai, staff
ahli DPRD, NGO atau ormas.
2. Bagilah peran di masing-masing tim analisis.

Misalnya peran untuk melakukan analisis


koneksitas perencanaan dan penganggaran,
peran untuk menilai kesesuaian item belanja dan
biaya dengan peraturan perundangan (uji
efektivitas dan efisiensi) di dokumen RKA SKPD,
atau peran lain sesuai dengan kebutuhan.
3. Buatlah time frame untuk tiap target tahapan
analisis. Misalnya, minggu pertama adalah
analisis korelasi perencanaan dan penganggaran, efisiensi dan efektifitas program. Minggu
kedua adalah tahap realokasi dan tahap ketiga
adalah pengusulan program alternatif yang pro
rakyat, dengan mendasarkan pada usulan
program di musrenbang dan saat penyerapan
aspirasi oleh DPRD ketika masa reses.
II. TAHAP PENYIAPAN DOKUMEN DAN ALAT
ANALISIS APBD
a. Pastikan seluruh dokumen perencanaan dan
penganggaran telah diserahkan secara lengkap.
Adapun checklistnya adalah:

NO DOKUMEN
1

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah


(RPJPD)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah


Daerah (RPJMD)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas


dan Plafon Anggaran (PPA)

Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja


Daerah (RAPBD)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


dua tahun sebelumnya

Rencana Strategis SKPD Renstra SKPD)

Dokumen Hasil Musrawarah Perencanaan


Pembangunan (tingkat kelurahan,
kecamatan, kabupaten/kota)

Dokumen hasil reses

ADA/TIDAK

10 Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja


Perangkat Daerah (RKA SKPD).
11 Dokumen jumlah aset daerah
(bergerak dan tidak bergerak)

b. Siapkan peraturan perundangan yang akan digunakan sebagai dasar argumen dalam melakukan pengkritisan.
Adapun checklistnya adalah:
10

NO PERATURAN PERUNDANGAN
1

Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang


Keuangan Negara

Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang


Perbendaharaan Negara

Undang-Undang No 25 Tahun 2004 tentang


Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang


Pemerintahan Daerah

Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang


Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah

Undang-Undang No 11 tahun 2005 tentang


Rativikasi hak ECOSOC

Undang-Undang Nomor 12 tahun 2005 tentang


Rativikasi hak SIPOL

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005


tentang Standar Akuntansi Pemerintahan

Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005


tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan
Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah

10

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005


tentang Pinjaman Daerah

11

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005


tentang Dana Perimbangan

ADA/TIDAK

11

12 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005


tentang Hibah
13 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
14 Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005
tentang PedomanPenyusunan dan penerapan
Standar Pelayanan Minimal
15 Permendagri No 13 tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaa Keuangan Daerah
16 Peraturan Daerah tentang retribusi dan pajak,
pinjaman daerah, pengelolaan keuangan
daerah dll
17 Surat Keputusan Gubernur / Walikota/
Bupati tentang standarisasi harga barang
dan jasa serta kegiatan
18 Penyiapan dokumen peraturan perundangan
terkait sektor/ SKPD
19 Penyiapan dokumen SPM sektor terkait/SKPD

III. TAHAP ANALISIS DOKUMEN PERENCANAAN


DAN PENGANGGARAN
1. Pelajari apakah terjadi konsistensi dan relevansi
antara perencanaan dan penganggaran.
Artinya, program-program yang menjadi prioritas
dalam dokumen perencanaan, harus muncul dalam
12

program/kegiatan dalam dokumen APBD (pasal 15


Permendagri No 13 tahun 2006). Adapun checklistnya adalah:
NO DOKUMEN

Usulan Program hasil


musrenbang

Usulan program
hasil reses

Usulan program
di RKPD

Usulan program
di KUA dan PPA

ADA/TIDAK
(DALAM
RAPBD)

ada

SKPD (MERUJUK SKPD


DI MANA
PROGRAMNYA ADA)
BAPPEDA

13

Contoh:
NO DOKUMEN

Usulan program musrenbangdes Desa Sukamaju 2007:


1. Lokalatih perangkat
desa untuk pelaksanaan
musrenbang yang
partisipatif

ADA/TIDAK
(DALAM
RAPBD)

ada

SKPD (MERUJUK
SKPD DI MANA
PROGRAMNYA
ADA)

BAPPEDA

2. Pastikan adanya koneksitas alokasi anggaran


dengan prioritas program. Program yang menjadi
prioritas, juga harus mendapatkan alokasi yang
prioritas.
Alokasi APBD diprioritaskan untuk melindungi dan
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam
upaya memenuhi kewajiban daerah. Perwujudan
kewajiban itu dalam bentuk peningkatan pelayanan
dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan
sistem jaminan sosial (pasal 31 Permendagri No 13
tahun 2006).
Adapun cheklistnya adalah:
14

NO USULAN PROGRAM

Usulan Program
hasil musrenbang

Usulan program
hasil reses

Usulan program di
RKPD

Usulan program di
KUA dan PPA

USULAN
ANGGARAN

USULAN
ANGGARAN
DI RAPBD

USULAN
ANGGARAN

USULAN
ANGGARAN
DI RAPBD

Rp.20.000.000

Rp.15.000.000

Contoh:
NO USULAN PROGRAM

Usulan Program hasil


musrenbangdes
Sukamaju 2007:
1.Pembangunan
sarana prasarana
air bersih di Desa
Sukamaju

* Keterkaitan antara dokumen perencanaan dengan dokumen


penganggaran bisa dilihat dalam diagram lampiran I.
15

3. Cermati apakah ada program/kegiatan yang


sama atau berulang dari APBD tahun sebelumnya.
Apabila ada, analisislah alokasi anggaran yang ada
dengan melakukan pencermatan tingkat kemajuannya dari tahun ke tahun. Ini bisa dilihat dalam
formulir RKA SKPD 2.2.1. Bila outputnya sama, ini
berarti, anggaran yang ada hanya berulang tanpa
ada pencapaian kinerja.
Adapun cheklistnya adalah:
NO USULAN PROGRAM
YANG SAMA
(N-1 DAN N)
Nama program yang
ada di tahun lalu, dan
muncul lagi di
tahun sekarang

Contoh:

16

HASIL/OUTCOME
PROGRAM
N-1

HASIL/
OUTCOME
TAHUN N

Hasil yang tercapai


dalam program
di tahun lalu

Hasil yang akan


dicapai di tahun
sekarang

NO USULAN PROGRAM
YANG SAMA
(N-1 DAN N)

HASIL/OUTCOME
PROGRAM
N-1

HASIL/
OUTCOME
TAHUN N

1.Meningkatkan hasil
produksi pada100
pengusaha kecil
penganyam bambu
2.Meningkatnya
kesejahteraan pengusaha penganyam
bambu sebanyak
60 orang

1.Meningkatkan hasil
produksi pada 200
pengusaha kecil
penganyam bambu
2. Meningkatnya
kesejahteraan
pengusaha
penganyam bambu
tradisional sebanyak
150 orang

Misal:
Pendampingan pengusaha
kecil penganyam bambu
tradisional

4. Pastikan bahwa RKA SKPD memuat indikator


kinerja secara lengkap. RKA SKPD harus dapat
memberikan gambaran atas program/kegiatan.
Hal ini terdiri dari: rencana pendapatan, rencana
belanja, rencana pembiayaan untuk tahun yang
direncanakan dirinci sampai dengan rincian objek
pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta
prakiraan maju untuk tahun berikutnya. RKA-SKPD
juga harus memberikan informasi tentang urusan
pemerintahan daerah, organisasi, standar biaya,
prestasi kerja yang akan dicapai.

17

3. Pelajari dengan cermat target pencapaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan,
standar analisis belanja, standar satuan harga,
standar pelayanan minimal, serta sinkronisasi
program dan kegiatan antar SKPD (pasal 90 ayat 2
Permendagri No 13 tahun 2006)
Yang harus diperhatikan:
1. Cermati input,output dan hasil/impact dari
kegiatan/program yang ada. Jangan sampai data
yang tersaji hanya bersifat fisikal dan administratif
semata.
2. Cermati apakah indikator output dan hasilnya
telah menunjukkan indikator capaian yang jelas
dan terukur.
3. Rumuskan solusi alternatif atas input,output dan
hasil/impact sesuai dengan fungsi program, yakni
kesejahteraan rakyat.
Contoh: proyek pembangunan 1 gedung puskesmas. Output dan outcomenya bukan sekadar
terbangunnya 1 gedung puskesmas. Namun
menurunnya angka kesakitan masyarakat (jumlah
orang sakit). Harus pula dihitung berapa jumlah
target capaian penurunan angka kesakitan di sekitar
puskesmas itu. Contoh lain: peningkatan produkti18

vitas perikanan. Output dan outcomenya bukan


sekadar berapa banyak peningkatan produksi
perikanan namun sejauh mana produksi perikanan
mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan. Berapa target kenaikan pendapatan
dan kesejahteraan nelayan. Hasil akhirnya adalah
menurunnya angka kemiskinan di wilayah nelayan
itu.
*

Diagram alur penyusunan RKA SKPD bisa dilihat dalam


lampiran II

IV. TAHAP ANALISIS ALOKASI ANGGARAN


a. Analisis Pendapatan:
1. Buatlah komparasi (perbandingan) penerimaan.
Hal ini dilakukan dengan membandingkan
jumlah total penerimaan daerah antar tahun
(jumlah penerimaan daerah pada 2006 dengan
2007, juga antar sumber penerimaan (jumlah
pendapatan Asli Daerah dengan jumlah Dana
Alokasi Umum/Dana Alokasi Khusus).

19

NO PENERIMAAN

Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan

Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah


yang Sah

Dana Bagi Hasil


Pajak/Bagi Hasil
Bukan Pajak
Dana Alokasi
Umum
Dana Alokasi
Khusus
Pendapatan Hibah
Dana Darurat
Dana Bagi Hasil
Pajak dari Provinsi
dan Pemerintah
Daerah Lainnya

20

JUMLAH
POTENSI/
JUMLAH
KETERANGAN
PENERIMAAN ASUMSI
PENERIMAAN (BERTAMBAH
TAHUN N-1 JUMLAH
TAHUN N
/BERKUPENDAPATAN
RANG) SERTA
ALASANNYA

2. Telaah sumber pendapatan terbesar pada


penerimaan asli daerah.
3. Cermati apakah terjadi rasionalisasi penerimaan.
Ini bisa dilakukan dengan membandingkan
antara nilai estimasi penerimaan dengan asumsi
potensi pendapatan dari sumber itu.
4. Cermati apakah ada SKPD yang yang belum
menjalankan fungsinya untuk melakukan
penggalian pendapatan secara maksimal.
Hal ini dilakukan dengan melakukan penilaian
kinerja SKPD. Misalnya BUMD. Hal ini bisa dilihat
dari laporan kinerja tahunan dari BUMD itu.
5. Cermati apakah ada penggalian pendapatan
yang justru secara sosial ekonomi memberatkan
masyarakat miskin.
Misalnya retribusi kesehatan yang terlalu tinggi
dengan kualitas layanan yang masih kurang.
Retribusi pasar yang tinggi namun kualitas
pelayanan rendah (bisa dilihat dari hasil reses,
pengaduan masyarakat, atau berita di media)
b. Analisis Belanja
1. Cermati apakah besaran alokasi tiap item belanja
sesuai dengan SK Walikota/Bupati tentang
21

Standardisasi harga, barang dan jasa serta


kegiatan.
2. Buatlah komparasi (perbandingan) alokasi
anggaran per SKPD atau per unit program untuk
melihat prioritas alokasi anggaran.
3. Cermati apakah alokasi yang ada mencerminkan
adanya efisiensi dan efektivitas anggaran.
Check listnya adalah:
NAMA HARGA ITEM
ITEM BARANG
BARANG /JASA
/JASA DALAM
RKA SKPD

HARGA BERDASAR- KEBUTUHAN KESESUAI- KETEKAN SK BUPATI/ BERDASAR- AN DENGAN RANGAN


WALIKOTA TEN- KAN KON- PERATURAN
TANG STANDARI- DISI/FAKTA PERUNSASI HARGA,
DANGAN
BARANG DAN JASA
SERTA KEGIATAN

Contoh:
1. Belanja modal pembelian komputer. Berapa
harga komputer tipe x, kemudian diperbandingkan harganya (di RKA SKPD dan SK Bupati/
Walikota). Selain itu harus dilihat berapa banyak
kebutuhan di lapangan, artinya harus sesuai
dengan kebutuhan. Apakah kebutuhan kom22

puter harus dengan membeli atau cukup


mereparasi. Harus dicek juga berapa besar biaya
perawatannya. Selanjutnya, dicek apakah
belanja modal itu sesuai dengan peraturan
perundangan, misalnya PP No 7 tahun 2006
tentang Pedoman Pengadaan Sarana dan
Prasarana Pemerintah.
2. Belanja tunjangan atau tambahan penghasilan
Pegawai negeri Sipil. Selain harus sesuai dengan
SK bupati/walikota, belanja tunjangan atau
tambahan penghasilan itu juga harus sesuai
dengan Permendagri 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 39.
c. Analisis Pembiayaan
1. Cermati dan buatlah analisis atas dokumen yang
memuat informasi akurat dan rinci tentang Sisa
Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
Sebelumnya.
2. Cermati posisi aset daerah. Bagaimana kontribusi
aset yang ada bagi pendapatan daerah, bagaimana mekanisme dan proses atas pemindahan
hak/penjualan aset daerah.
3. Telaah tingkat kemanfaatan penyertaan modal
23

(investasi) pemerintah daerah. Hal itu jangan


sampai justru membebani APBD secara terus
menerus.
Modus penyimpangan yang kerap terjadi dalam
proses penetapan dan pembahasan APBD:
1. Mark up (Penulisan item belanja yang melebihi
harga yang tertera dalam SK gubernur/walikota/
bupati tentang standardisasi harga barang dan
jasa serta kegiatan).
2. Mark Down (Pembuatan estimasi penerimaan
pendapatan yang tidak sesuai dengan potensi
yang ada sehingga terjadi potential loss).
3. Alokasi anggaran yang bertentangan dengan
Undang-Undang atau peraturan yang berlaku
(Pembelian mobil dinas yang tidak sesuai
dengan PP 7 tahun 2006).
4. Pemborosan anggaran atau inefisiensi (Pemberian Tambahan penghasilan kepada Pegawai
Negeri Sipil tanpa didasarkanok pada kriteria/
tunjangan atau gaji buta).
5. Duplikasi proyek (antara tahun sebelumnya dan
tahun sekarang).
6. Adanya proyek ganda (proyek yang target dan
24

kelompok sasarannya sama, namun dilakukan


oleh dua/lebih SKPD).
7. Duplikasi alokasi anggaran (ada alokasi yang
sama di belanja langsung dan belanja tidak
langsung).
8. Melanggar asas umum pengelolaan APBD yakni
manfaat yang sebesar-besarnya untuk rakyat
(misal pengadaan buku paket/ajar Rp 90.000.000
sedang untuk rehab kantor bupati yang masih
berdiri megah, alokasinya Rp 1.500.000.000).
9. Honor atau tunjangan ganda karena rangkap
jabatan (honor yang diberikan kepada satu
pejabat karena jabatannya misalnya sebagai
sekda, sebagai pembina, sebagai pemimpin
pelaksana dsb).

25

LAMPIRAN I

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH


(RPJPD)
Visi, Misi da Program KDH

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah


(RPJMD)
RKPD
RKPD
RKPD
RKPD
RKPD
Indikatif Indikatif Indikatif Indikatif Indikatif
1
2
3
4
5

MUSRENBANG
EVALUASI TAHUNAN
1. Analisis Kebijakan Nasional
2. Analisis Ekonomi Daerah
3. Proyeksi Estimasi Pendapaan
4. Survey Kepuasan Masyarakat
5. Survey Penjaringan Aspirasi
6. Evaluasi Program/Proyek

MUSRENBANGDES/
MUSRENBANGKEL

MUSRENBANG
KECAMATAN

MUSRENBANG
KABUPATEN/KOTA

RANCANGAN AWAL
RKPD
RANCANGAN AKHIR
RKPD
KEBIJAKAN UMUM
APBD

DPRD

PRIRITAS DAN
PLAFON ANGGARAN
SEMENTARA

R/APBD
Tahun Angaran
yang Direncanakan

26

PROFIL DAERAH
(Data & Informasi)
Rancangan Akhir

Rancangan Awal

RENSTRA SKPD/RENSTRA DINAS


RENJA
SKPD-1

RENJA
SKPD-2

RENJA
SKPD-3

RENJA
SKPD-4

RENJA
SKPD-5

RANCANGAN AWAL RKPD


APBD (TAHUN BERJALAN)
DOKUMEN PELAKSANAAN
ANGGARAN
RANCANGAN
AWAL RENJA
SKPD

MONITORING
& EVALUASI
(MONEV)

IMPLEMENTASI PROGRAM
(TAHUN BERJALAN)

RANCANGAN AKHIR
RENJA-SKPD

PEMDA
RKA SKPD
(TAHUN BERIKUTNYA)

DOKUMEN PELAKSANAAN APBD

27

LAMPIRAN II

28

29

30