Anda di halaman 1dari 27

SISTEM IMUN HEMATOLOGI

(SLE, ANEMIA, DIC, MYELOMA MULTIPLE)

SGD 7
Komang Noviantari

(1302105006)

Luh Putu Utami Adnyani

(1302105013)

Ni Komang Trisna Maha Natalya

(1302105019)

Ida Ayu Inten Ratna Keswari

(1302105029)

Putu Winda Mahayani

(1302105051)

Ni Ketut Natalia Kristianingsih

(1302105054)

Dewa Ayu Dwi Shintya Anggreni

(1302105067)

I Ketut Dian Lanang Triana

(1302105074)

Sagung Dyah Pridami Maheswari

(1302105083)

Ni Made Eny Tisna Wati

(1302105086)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2015

LEARNING TASK SISTEM IMUN HEMATOLOGI


(SLE, ANEMIA, DIC, MYELOMA MULTIPLE)
Kasus 1 (SGD 1&2)
Nn N, 25 tahun datang ke RS dengan keluhan badan terasa lemas, nyeri pada sendi, nafsu makan
menurun disertai penurunan berat badan 7 kg dalam waktu 2 bulan dan demam 38C sejak 3 hari
yang lalu. Dari hasil pemeriksaan klinis dapat dilihat adanya butterfly rush pada muka, alopesia
dan ulkus oral. Hasil lab menunjukkan trombosit 85.000/mm3, retikulosit 2500/mm3. ANA test
positif. Dokter mendidiagnosis Nn. N mengalami SLE. Nn N merasa sedih dengan kondisinya
sebab ia berencana akan menikah tahun depan.
Kasus 2 (SGD 3&4)
Ny R, 45 tahun datang ke IGD RS dengan keluhan badan terasa lemas dan sesak. Dari hasil
pemeriksaan fisik didapatkan TD 100/60 mmHg, Nadi 130 x/mnt, RR= 28x/mnt, suhu 37C,
konjungtiva pucat. Konjungtiva pucat, terdapat ekimosis pada lengan dan paha. Hasil
laboratorium ditemukan Hb 6 g/dL, Trombosit 7000/mm3, granulosit 200/mm3, leukosit
3000/mm3, retikulosit 0,2%. Pasien terdiagnosa Anemia Aplastik sejak 3 tahun yang lalu.
Pasien mengatakan pasrah dengan kondisinya saat ini.
Kasus 3 (SGD 5&6)
Tn W, 50 tahun datang dengan keluhan nyeri pada punggung skala 6 (skala 0-10) badan terasa
lemas, batuk yang tidak kunjung sembuh sejak 2 minggu yang lalu dengan dahak yang sulit
dikeluarkan.Pasien terdiagnosis Myeloma multiple sejak 1 th yang lalu. Dari hasil pemeriksaan
fisik ditemukan TD 100/60 mmHg, RR=24 x/mnt, nadi= 110x/mnt, S=38C, konjungtiva anemis
Hb 7 g/dL, LED 35 mm/jam, Adanya protein bence jones dalam urin, kalsium darah 18 mEq/L.
Pasien selalu bertanya kapan ia bisa sembuh dari penyakitnya.
Kasus 4 (SGD 7&8)
Tn S, 45 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas dan dilarikan ke RS kerena mengalami
perdarahan hebat. Saat ini pasien dikatakan mengalami sepsis. Berdasarkan hasil pemeriksaan

fisik ditemukan pasien mengalami penurunan kesadaran, TD 90/60, nadi 140 x/mnt, RR=30
x/mnt, suhu 39C. Terdapat tanda tanda ekimosis pada lengan, kaki. Melena (+). Hasil
laboratorium menunjukkan trombosit 5000/mm3, fibrinogen 120 mg/dL, PT

dan aPTT

memanjang, d dimer 600 ng/ml. Pasien didiagnosis mengalami DIC

Pertanyaan: Buatkan konsep dasar penyakit, Pathway dan asuhan keperawatan sesuai kasus
diatas.

PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian DIC (Diseminated intravascular coagulation)
Koagulasi intravascular diseminata atau DIC merupakan suatu sindrom kompleks
yang terdiri atas banyak segi, yang sistem homeostatic dan fisiologik normalnya
mempertahankan darahnya tetap cair berubah menjadi suatu sistem patologik yang
menyebabkan terbentuknya trombi fibrin difus yang menyumbat mikrovaskular tubuh.
(Price dan Wilson, 2005)
Koagulasi intravascular diseminata adalah suatu salah susun rumit pada mekanisme
homeostatis dimana koagulasi dipercepat dan aktivitas sistem fibrinolotik tampil serentak
dengan derajat thrombosis dan perdarahan yang bervariasi. (Taber, 1994)
DIC adalah suatu proses dimana koagulasi dan fibrinolisis terjadi bersamaan dalam
sirkulasi (Hayes & Mackay, 1997)
DIC adalah sindroma patologi yang terjadi sebagai komplikasi dari semua tipe syok
sirkulasi yang dibagi menjadi tiga tahap yaitu koagulasi konsumsi, koagulopasti primer
dan koagulopati dilusi (Sabiston,1995).
Koagulasi Intravaskular Diseminata (KID) ditandai dengan proses aktivasi dari sistem
koagulasi yang menyeluruh yang menyebabkan pembentukan fibrin di dalam pembuluh
darah sehingga terjadi oklusi trombotik di dalam pembuluh darah berukuran sedang dan
kecil. (Benzion, 1995)
Jadi DIC adalah suatu keadaan dimana ditemukan keadaan trombosis dan perdarahan
dalam waktu yang bersamaan dalam sirkulasi.
2. Epidemiologi DIC (Diseminated intravascular coagulation)
Kondisi DIC lebih terjadi sebagai respon terhadap faktor lain dibandingkan sebagai
kondisi primer. Tidak ditemukan factor predisposisi yang berhubungan dengan umur,
jenis kelamin, ataupun ras. (Hewish, 2005)
3. Etiologi DIC (Diseminated intravascular coagulation)
a. Solusio plasenta penyebab tersering dimana plasenta merupakan sumber yang kaya
akan tromboplastin jaringan.
b. Infeksi berat atau sepsis
c. Keganasan, luka bakar, cedera remuk juga dapat menyebabkan pelepasan
tromboplastin.
d. Leukemia promielositik dimana promielosit granular mengeluarkan aktivitas seperti
tromboplastin yang sering pada saat dimulainya kemoterapi dan dilepasnya granula.
(Price, 2005)

Tabel : etiologi DIC menurut Hayes dan Mackay, 2007

4. Patofisiologi DIC (Diseminated intravascular coagulation)


DIC adalah reaksi abnormal sistem fibrinolitik yang mengontrol pembekuan darah.
Sistem fibrinolitik diaktivasi oleh trombin di dalam sirkulasi, yang memecah fibrinogen
menjadi monomer fibrin. Trombin juga merangsang agregasi trombosit, mengaktivasi
faktor V dan VIII, serta melepas aktivator plasminogen yang membentuk plasmin.
Plasmin memecah fibrin, membentuk produk-produk degradasi fibrin dan selanjutnya
mengaktivasi faktor V dan VIII. Aktivasi trombin yang berlebihan mengakibatkan
berkurangnya fibrinogen, trombositopenia, faktor-faktor koagulasi dan fibrinolisis
(Linker,2001) yang mengakibatkan perdarahan difus. DIC bukan merupakan penyakit
melainkan akibat proses penyakit yang mendasarinya. Perubahan pada berbagai sistem
vaskular yaitu dinding pembuluh darah, protein plasma, dan trombosit dapat
menyebabkan suatu gangguan konsumtif (Coleman et al, 1993 dalam Price & Wilson,
2005).
Masuknya zat atau aktivasi prokoagulan ke dalam sirkulasi darah mengawali sindrom
tersebut dan dapat terjadi pada segala kondisi yang tromboplastin jaringannya dibebaskan
akibat destruksi jaringan, dengan inisiasi jalur pembekuan ekstrinsik (Price & Wilson,
2005).

Selama proses koagulasi, trombosit beragregasi dan bersama dengan faktor-faktor


koagulasi akan digunakan dan jumlahnya berkurang. Hasil trombus fibrin dapat atau
tidak menyumbat mikrovaskular. Bersamaan dengan ini sistem fibrinoitik diaktivasi
untuk pemecahan trombifibrin yang menghasilkan banyak fibrin dan produk degradasi
fibrinogen yang mengganggu polimerasi fibrin dan fungsi trombosit (Guyton, 2001). Aksi
ini menyebabkan perdarahan difus yang khas pada DIC (Price & Wilson, 2005).
5. Manifestasi Klinis DIC (Diseminated intravascular coagulation)
Manifestasi klinis yang timbul tergantung pada luas dan lamanya pembentukan
thrombin fibrin, organ-organ yang terlibat dan nekrosis serta perdarahan yang
ditimbulkan.organ-organ yang paling sering terlibat adalah ginjal, kulit, otak, hipofisis,
paru dan adrenal, serta mukosa saluran cerna. Terdapat perdarahan dimukosa membrane
dan jaringan dalam serta perdarahan di sekitar cedera, pungsi vena, penyuntikan dan
setiap orifisium. Sering dijumpai petekie, purpura, bula hemoragik, febris, hipotensi,
asidosis, perdarahan jaringan dalam, nyeri abdomen dan nyeri punggung. (Guyton, 2001).

Tanda dan gejala dibedakan berdasarkan kondisi yang terjadi :


Organ
Kulit
CNS
Renal
Kardiovaskuler

Iskemik
Pur. Fulmuninans
Ganggreng
Akral sianosis
Delirium/koma
Infark
Oliguria/azotemia
Kortikal nekrosis
Myocardial dysfxn

Hemoragik
Petekie
Ekimosis
Oozing
Perdarahan intrakranial
Hematuria
-

Paru-paru
Gastrointestinal
Endokrin

Dyspnea/hipoksia
infark
Ulcer
Infark
Infark adrenal

Hemoragik paru
Massive
Mual, diare, milena
Hemoragik

6. Pemeriksaan Fisik DIC (Diseminated intravascular coagulation)


Inspeksi : pada pemeriksaan dengan inspeksi kemungkinan ditemukan hematuria,
epitaksis, melena, pada bagian kulit dapat dilihat adanya petikie, purpura atau ekimosis
pada ekstremitas dan tubuh.
Palpasi : pada saat di palpasi kulit teraba hangat apabila pasien mengalami sepsis, denyut
nadi meningkat.
Auskultasi : mengukur tekanan darah, pada DIC biasanya ditemukan tekanan darah
menurun.
7. Pemeriksaan

Diagnostik

dan

Penunjang

DIC

(Diseminated

intravascular

coagulation)
a. PTT (Partial Tromboplastin time): memanjang pada 50-60% DIC
Pada tes PTT, fosfolipid ditambahkan pada plasma pasien yang sudah dicampurkan
dengan sitrat, mengakibatkan pembentukan bekuan dalam waktu 60 sampai 90 detik.
Penambahan agen pengaktivasi kontak seperti kaolin, mengurangi variabilitas
pemeriksaan, dan waktu yang diperlukan untuk pembentukan bekuan. Modifikasi ini
menghasilkan

waktu

tromboplastin

parsial

teraktivasi

(APTT).

Hasilnya

dibandingkan dengan APTT plasma normal. Kisaran normal adalah 26-42 detik.
Karena PTT mengukur jalur instrinsik dan jalur bersama, maka PTT akan memanjang
pada defisiensi pralikein, HMWK, faktor V, VIII,IX,X,XI, dan XII, protrombin, serta
fibrinogen. Jika hanya PT yang memanjang, maka dianggap terdapat defisiensi atau
penghambatan segala faktor jalur intrinsic. Jika keduanya memanjang, maka diduga
terdapat defisiensi atau penghambatan faktor V dan X jalur bersama, protrombin, dan
fibrinogen.
b. PT (prototombine time ) : memanjang pada 50-70% DIC
Pada tes PT, bagian plasma pasien yang sudah dicampur sitrat dicampur dengan
fosfolipid dan tromboplastin jaringan. Karena kalsium sudah dihilangkan, maka tidak
terjadi koaglasi. Kemudian kalsium ditambahkan, dan waktu yang diperlukan untuk
pembentukan bekuan dicatat. Dalam keadaan ini, plasma normal memerlukan waktu

11 sampai 13 detik untuk membeku. Defisiensi faktor-faktor VII, X dan V,


prototrombin, serta fibrinogen akan memperpanjang PT.
c. TT (Massa thrombin) atau pembekuan thrombin : memanjang
Pada massa trombin dimana nilai normalnya 10-13 detik bertujuan untuk mengukur
pembentukan firbrin dari fibrinogen. Thrombin eksogen ditambahkan pada plasma
yang sudah dicampur sitrat dan masa pemebekuan diukur. Tes ini dapat mendeteksi
kelainan polimerasi fibrin atau kadar fibrinogen yang rendah, maka pemeriksaan ini
untuk mencari factor-faktor pembekuan yang tidak ada jika tes PT dan PTT abnormal.
Heparin, suatu antikoagulan kuat meningkatkan efek netralisasi antitrombin III pada
factor-faktor IXa, Xa, Xia, thrombin, dan plasmin sehingga akan memperpanjang
masa PT, PTT dan TT.
d. Pada tes fibrinogen dan jumlah trombosit ditemukan kadar fibrinogen dan jumlah
trombosit menurun
e. D-dimer : meningkat
Suatu tes terbaru DIC adalah D-dimer. D-dimer merupakan hasil degradasi fibrin ikat
silang yaitu fibrinogen yang dirubah menjadi fibrin yang kemudian diaktifkan oleh
faktor XIII. Bertujuan untuk mengukur pemecahan produk-produk bekuan fibrin
plasma, dimana nilai normalnya < 500. Dari pemeriksaan atau tes yang paling banyak
dilakukan untuk menilai DIC, D-dimer, tampaknya merupakan tes yang paling dapat
dipercaya untuk menilai kemungkinan DIC. (Aru dan Sudoyo, 2006)
8. Penatalaksanaan DIC (Diseminated intravascular coagulation)
Penanganan DIC lebih ditujukan pada perbaikan mekanisme yang mendasarinya yang
mungkin memerlukan penggunaan obat-obat antibiotic, agen kemoterapeutik, dukungan
kardiovaskular, serta pada keadaan retensio plasenta isi uterus akan dikeluarkan.
Penggantian factor-faktor plasma dengan plasma dan kriopresipitat serta transfusi
trombosit dan sel darah merah mungkin diperlukan (Price dan Wilson, 2005).
Transfusi trombosit dan komponen plasma hanya diberikan jika keadaan pasien sudah
sangat buruk dengan trombositopenia berat dengan perdarahan masif, memerlukan
tindakan invasif, atau memiliki risiko komplikasi perdarahan. Terbatasnya syarat transfusi
ini berdasarkan pemikiran bahwa menambahkan komponen darah relatif mirip menyiram
bensin dalam api kebakaran, namun pendapat ini tidak terlalu kuat, mengingat akan
terjadinya hiperfibrinolisis jika koagulasi sudah maksimal. Sesudah keadaan ini
merupakan masa yang tepat untuk memberi trombosit dan komponen plasma, untuk
memperbaiki kondisi perdarahan.

Bila terjadi perdarahan hebat peran heparin yang sebagai antikoagulasi antitrombin
yang kuat masih sangat kontroversial. Heparin dapat menetralkan aktivitas thrombin dan
dengan demikian menghambat penggunaan factor-faktor pembekuan dan pengendapan
fibrin. Meningkatkan konsentrasi factor pembekuan dan trombosit dengan memberikan
infus plasma dan trombosit seharusnya menghambat diathesis perdarahan. Heparin
diindikasikan pada keadaan adanya pengendapan fibrin yang menyebabkan nekrosis
dermal (Logan, 1994). Heparin dosis rendah telah berhasil digunakan bersama dengan
agen kemoterapeutik pada pengobatan leukemia promielositik untuk mencegah DIC
akibat pelepasan tromboplastin oleh granula leukosit.
Pemberian heparin diberikan dengan sesuai dosis dewasa normal heparin drip 4-5
U/kg/jam IV infus kontinu, pemberian heparin harus dipantau minimal setiap empat jam
dengan dosis yang disesuaikan. Dosis selanjutnya ditentukan berdasarkan APTT atau
masa pembentukan (MP) yang diperiksa 2-3 jam sesudah pemberian heparin. Target
APTT kurang dari 1,5 kali kontrol atau MP kurang 2 kali kontrol, dosis heparin dinaikan.
Bila lebih dari 2,5 kali APTT kontrol atau MP ;lebih dari 3 kali kontrol maka diulang 2
jam. Kemudian bila APTT atau MP lebih dari 2,5/3 kali kontrol maka dosis dinaikan
sedangkan bila kurang, dosis diturunkan. Heparin dinaikan setiapa 4-6 jam dan dosis
diberikan sekitar 20.000-30.000
dosis 80-100

/ hari. Akhir-akhir ini dianjurkan heparin subkutan

/ kg tiap 4-6jam, bergantung pada keadaan klinis, tempat dan beratnya

pendarahan, trombosis, dan berat badan pasien. Tampaknya heparin subkutan sama
efektifnya atau bahkan mungkin lebih efektif daripada heparin dosis tinggi yang
diberikan intravena. Heparin juga dapat diberikan dengan kombinasi AT III atau
antiagregasi trombosit. Pemberian heparin intravena kontinu 20.000 30.000/24 jam,
segera menghentikan proses koagulasi. Namun perlu diingat resiko pendarahan yang
perlu diwaspadai. Kontraindikasi pemberian heparin subkutan maupun intravena pada
DIC yaitu pasien dengan pendarahan susunan saraf pusat, gagal hati, dan kasus kebidanan
tertentu. DIC juga dilaporkan berhasil diobati dengan AT III tiap 8 jam. Dosis yang
dibutuhkan dapat dihitung dengan jumlah total yang dibutuhkan = (kenaikan kadar yang
diinginkan dikurangi kadar permulaan) x 0,6 x berat badan. Kadar yang diinginkan

biasanya 125 %. Juga dilaporkan obat baru pada DIC yang potensial berguna yaitu
hirudin rekombinan, defriotide dan gabexate. (Stanley, Ramzi dan Vinay, 2007)
9. Diagnosis DIC (Diseminated intravascular coagulation)
Diagnosis DIC ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan temuan laboratorium.
Berdasarkan patogenesisnya gambaran klinik DIC dapat terjadi thrombosis, perdarahan
atau keduanya sekaligus sesuai dengan etiologi yang medasarinya. Namun, sebagian
besar ditandai dengan timbulnya emboli. Biasanya gejal yang timbul baru dapat dilihat
apabila telah mengalami disfungsi organ seperti ARDS (acute respiratory distress
syndrome), gagal ginjal akut, disfungsi serebral, gagal hati dan lain-lain. Hanya pada DIC
tertentu dapat diikuti pula gejala perdarahan, yang bisa dilihat dalam bentuk ekimosis,
petikie, purpura atau oozing (merembes) dari permukaan mukokutan. Gambaran klinis
purpura fulminas merupakan bentuk koagulopati yang sering diakibatkan karena sepsis,
biasanya terdiri dari lesi kulit yang mengalami nekrosis dan ganggren jari.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium tunggal yang spesifik dan sensitif untuk
menegakkan DIC, disamping harus ada kondisi klinik yang berhubungan dengan DIC,
seperti sepsis, malignansi, trauma, luka bakar dan lain-lain, ISTH mengajukan sistem
skor diagnostic dari tes koagulasi yang dilakukan secara luas. Tes tersebut meliputi
protrombin timen (PT) atau activated partial thromboplatin time (APTT), hitung
trombosit, kadar fibrinogen dan kadar FDP atau D/dimer. Bila didapatkan skor 5dan
dianjurkan menilai skor setiap hari. Jika 5 maka di duga non-overt DIC, skor harus
diulang dalam waktu 1 sampai 2 hari. Pada sistem skor yang curiga non-overt DIC perlu
ditambah pemeriksaan koagulasi spesifik seperti komples thrombin-antittrombin (TATc),
protein C, antitrombin. (Suharti, 2010)
Tabel : Sistem Skor untuk Diagnosis DIC
Hasil Pemeriksaan Tes Koagulasi
Hitung trombosit

Skor (0, 1, atau 2)


>100.000/L = 0
50.000 100.000 /L = 1
< 50.000 = 2
Tidak ada kenaikan = 0

D-dimer

Kenaikan sedang (500-1000) = 1


Pemanjangan

waktu

Kenaikan berat (>1000) = 2


protrombin <3 detik = 0

(dalam detik diatas batas normal)

3-6 detik = 1

Kadar fibrinogen

>6 detik = 2
>1.0 g/L = 0
<1,0 g/L =1

Skor
10. Komplikasi DIC (Diseminated intravascular coagulation)
DIC merupakan komplikasi atau akibat dari perkembangan penyakit lain dan
diperkirakan akan hadir sampai dengan 1% dari pasien rawat inap. DIC dapat
menyebabkan perdarahan, thrombosis pada pembuluh darah, hemoragic tissue necrosis.
Pasien lebih mudah meninggal akibat DIC daripada thrombosis atau perdarahan.
Efek patologik DIC bersifat multisistemik yaitu nekrosis cortex renalis, edema paru,
pankreatitis, miositis, perdarahan gastrointestinal, gagal hati dan manifestasi cerebrum
(kejang) (Sabiston,1995)
11. Prognosis DIC (Diseminated intravascular coagulation)
Prognosis dari DIC sangat dipengaruhi oleh kondisi yang mendasari yang
menyebabkan DIC dan juga dipengaruhi seberapa beratnya DIC yang terjadi. (Furlong,
2006).
12. Pendidikan Kesehatan
a. Jelaskan penyakit yang ada di dalam tubuh klien dan bahaya yang terjadi apabila
perawatan tidak adekuat.
b. Anjurkan kepada klien untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan
teratur (sesuai anjuran dokter) untuk diberi transfusi trombosit.
c. Anjurkanh kepada klien untuk melakukan terapi atau perawatan.
d. Anjurkan kepada klien untuk meminum obat sesuai aturan

dan

tidak

menghentikannya sendiri tanpa anjuran dokter serta beritahu dosis obat dan efek
sampingnya. Pengobatan dapat mengurangi efek peradangan (inflamasi).
e. Beritahu kepada keluarga klien bahawa klien perlu perhatian, dukungan, semangat
dari keluarga serta beritahu pada keluarga klien tentang penyakit klien secara adekuat.
(Handayani, 2008)
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
No. Rekam Medis : 12302102400
Nama
: Tuan S
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat/tanggal lahir : 17 Agustus 1970

Alamat
: Jalan PB Sudirman, No. 123, Denpasar
Agama
: Hindu
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Swasta
Tanggal MRS : 31Maret 2015
Diagnosa
: DIC (Diseminated Intravascular Coagulation)
Identias penangguang jawab : b. Riwayat kesehatan saat ini
Keluhan utama : pasien mengalami perdarahan hebat
Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini : Tn S, 45 tahun
mengalami kecelakaan lalu lintas dan dilarikan ke RS kerena mengalami perdarahan
hebat. Saat ini pasien dikatakan mengalami sepsis.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Pada pasien dengan DIC kemungkinan pada masa lalu pernah mengalami infeksi
berat, penyakit keganasan, solusio plasenta, luka bakar atau penyakit hati menahun.
d. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ditemukan riwayat penyakit keluarga.
e. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : penurunan kesadaran
Tanda-tanda vital pasien
TD : 90/60 mmHg
Nadi : 140 x/mnt
RR : 30 x/mnt
suhu : 390C
Kulit, Rambut dan Kuku
Pada pasien DIC timbul petekie, purpura atau ekimosis pada kulit dan akral
sianosis. Pada kasus, Tuan S ditemukan ekimosis (memar/bercak kebiruan) pada

bagian lengan dan kaki.


Sistem pernapasan
Pada pasien DIC biasanya mengalami dyspnea, hipoksia. Pada kasus Tuan S

mengalami peningkatan pada laju pernapasannya yaitu 30 x/mnt.


Sistem kardiovaskular
Pada pasien DIC biasanya mengalami hipotensi dan frekuensi jantung meningkat.
Pada kasus, Tuan S mengalami penurunan tekanan darah 90/60 mmHg dan denyut

nadi diatas normal 140 x/menit.


Sistem gastrointestinal
Pada pasien DIC biasanya mengalami diare, mual dan muntah serta nyeri pada

abdomen. Pada kasus, Tuan S mengalami melena.


Sistem urinaria
Pada pasien DIC biasanya mengalami oliguria atau urinaria. Namun pada kasus,

Tuan S tidak mengalami gangguan pada sistem urinarianya.


Sistem saraf

Pada pasien DIC biasanya mengalami delirium atau koma. Pada kasus, Tuan S

mengalami penurunan kesadaran.


Sistem musculoskeletal
Pada pasien DIC mengalami nyeri otot, sendi dan punggung. Pada kasus Tuan S

tidak ditemukan gangguan pada sistem muskuloskeletalnya.


f. Pengkajian Pola Gordon
1. Pola Persepsi Kesehatan atau Penanganan Kesehatan
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan dan penanganan kesehatan. Persepsi
terhadap

arti

kesehatan,

menyusun tujuan,

dan

pengetahuan

penatalaksanaan
tentang

praktek

kesehatan,
kesehatan.

kemampuan
Pada

kasus

kemungkinan pasien dan keluarga tidak mengetahui penyakit tersebut dan


penyebabnya.
2.Pola Nutrisi Metabolik
Menggambarkan konsumsi relatif terhadap kebutuhan metabolik dan suplai gizi :
meliputi pola konsumsi makanan dan cairan, keadaan kulit, rambut, kuku dan
membran mukosa, suhu tubuh, tinggi dan berat badan. Pada kasus DIC biasanya
ditemukan perdarahan pada GIT.
3. Pola Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi ekskresi (usus besar, kandung kemih, dan kulit),
termasuk pola individu seharihari, perubahan atau gangguan, dan metode yang
digunakan untuk mengendalikan ekskresi. Pada kasus, pasien mengalami melena.
4. Pola Aktivitas dan Latihan
Menggambarkan pola olahraga, aktivitas, pengisian waktu senggang, dan
rekreasi; termasuk aktivitas kehidupan sehari-hari, tipe dan kualitas olahraga, dan
faktor- faktor yang mempengaruhi pola aktivitas (seperti otot-saraf, respirasi, dan
sirkulasi). Pada pasien dengan DIC aktivitas dan latihannya akan terbatas karena
seringkali menyebabkan rasa nyeri.
5. Pola tidur dan istirahat
Menggambarkan pola tidur, istirahat, relaksasi dan setiap bantuan untuk merubah
pola tersebut. Pada kasus DIC gangguan pola tidur biasanya disebabkan oleh
nyeri yang timbul, perdarahan dan manifestasi lainnya.
6. Kognitif Persepsi
Menggambarkan pola persepsi-sensori dan pola kognitif; meliputi keadekuatan
bentuk sensori (penglihatan, pendengarsn, perabaan, pengecapan, dan penghidu),

pelaporan mengenai persepsi nyeri, dan kemampuan fungsi kognitif. Pada pasien
DIC akan mengalami gangguan persepsi seperti adanya rasa nyeri pada bagian
abdomen dan punggung.
7. Persepsi dan Konsep Diri
Menggambarkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri; kemampuan
mereka, gambaran diri, dan perasaan. Pada pasien DIC jarang mengalami
gangguan konsep diri karena manifestasi klinis yang tampak tidak menyebabkan
perubahan pada bentuk tubuh dan lainnya tergantung pada penyakit primer yang
menyebabkan DIC.
8. Peran Hubungan
Menggambarkan pola keterikatan peran dengan hubungan; persepsi terhadap
peran utama dan tanggung jawab dalam situasi kehidupan saat ini.

Peran

hubungan tergantung pada bagaimana pasien menyikapi penyakit yang


dideritanya.
9. Pola Seksualitas
Menggambarkan kepuasan atau ketidakpuasan dalam seksualitas; termasuk status
reproduksi wanita, pada anak-anak bagaimana dia mampu membedakan jenis
kelamin dan mengetahui alat kelaminnya. Sering kali terjadi perdarahan pada
bagian-bagian tubuh lainnya, salah satu contohnya perdarahan bisa terjadi pada
vagina sehingga seringkali pada wanita yang sudah menikah menyebabkan
gangguan pada pola seksualitas
10. Koping toleransi
Menggambarkan pola koping umum, dan keefektifan ketrampilan koping dalam
mentoleransi stress. Stress dapat timbul tergantung dari penyakit primer yang
menyebabkan DIC.
11. Nilai Keprercayaan
Menggambarkan pola nilai, tujuan atau kepercayaan (termasuk kepercayaan
spiritual) yang mengarahkan pilihan dan keputusan gaya hidup.
g. Pemeriksaan Penunjang
Hasil laboratorium
Pada kasus Tuan S didapatkan hasil laboratoriumnya yaitu : Trombosit 5000/mm 3,
fibrinogen 120 mg/dL , PT dan aPTT memanjang, d dimer 600 ng/ml.
2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
a. Analisa Data
No

Data

Interpretasi

Masalah
Keperawatan

Data subjektif :
Tidak ditemukan

data

subjektif dalam kasus


Data objektif :
Tejadi
penurunan
kesadaran, TD 90/60, nadi

DIC

PK Perdarahan

berkurangnya fibrinogen,
faktor-faktor koagulasi,
trombositopenia dan fibrinolisis

140 x/mnt, RR=30 x/mnt,


suhu 39C. Terdapat tanda
tanda

ekimosis

pada

lengan, kaki. Melena (+).


2

Terjadi perdarahan difus

Data subjektif :
Pasien
dikatakan
mengalami sepsis
Data objektif :
Sepsis (+) dan suhu 390C

PK Perdarahan
INFEKSI

PK Infeksi

Sepsis

invasi mikroorganisme
ke dalam darah dan
berbagai jaringan
3

Data subjektif :
Tidak ditemukan
subjektif dalam kasus
Data objektif :
Suhu tubuh 390C

Hipertermia
data

Infeksi
PK Infeksi

sel-sel darah putih


mengeluarkan pirogen eksogen

merangsang endoterium
hipotalamus menghasilkan
prostaglandin

meningkatkan patokan termostat


di termoregulasi hipotalamus
Produksi panas

memicu mekanisme
peningkatan panas
Hipertermia

b. Diagnosa Keperawatan
PK Perdarahan
PK Infeksi
Hipertemia berhubungan dengan sepsis ditandai dengan peningkatan suhu tubuh
390C, takipnea 30 x/menit dan takikardia 140 x/menit dan kulit teraba hangat.

3. Rencana Asuhan Keperawatan


No
1

Diagnosa
Keperawatan
PK Perdarahan

Tujuan dan Kriteria

Intervensi

Hasil
Keperawatan
Setelah
diberikan NIC Label : Bleeding
tindakan

keperawatan reduction
1. Identifikasi
selamax24
jam
penyebab
diharapkan
agar
perdarahan
perdarahan pada pasien
2. Terapkan penekanan
teratasi serta pasien
langsung
atau
kembali dalam keadaan
lakukan dressing
sadar penuh. Dengan 3. Pantau jumlah dan
kriteria hasil :

jenis dari darah yang

NOC Label:
Blood Coagulation
1. Perdarahan

dapat

teratasi (skala : 3)
2. Tidak ada tanda
ptekie,

purpura,

ekimosis (skala : 3)
3. Tidak terjadi melena

keluar.
4. Pantau

koagulasi

termasuk PT, PTT,


degradasi fibrin, dan
jumlah

platelet

dengan sesuai.
5. Rencanakan tranfusi
darah yang tersedia

(skala : 3)
4. PT dalam rentang

jika dibutuhkan
6. Instruksikan pasien

normal (11-13 detik)

dan keluarga tentang

(skala : 3)
5. PTT dalam rentang

tanda

perdarahan

dan tindakan yang

Rasional
Bleeding reduction
1. Mengidentifikasi
penyebab perdarahan
dapat

mengetahui

apakah

ada

kelainanan
proses

dalam

pembekuan

darah sehingga dapat


diberikan penanganan
yang tepat dan sesuai.
2. Pemberian
tekanan
langsung

atau

dressing (dep) pada


luka berfungsi untuk
mengatasi perdarahan
agar tidak semakin
berat sehingga pasien
tidak

sampai

kekurangan darah.
3. Menghitung jumlah
dan jenis darah yang
banyak

dikeluarkan

normal (26-42 detik)


(skala : 3)
6. Hemoglobin dalam
rentang normal (1113 gr/dL) (skala : 3)
NIC Label : Blood
Transfusion Reaction
1. Tidak terjadi demam
(suhu tubuh dalam
rentang
(36,5o

normal

37,5o))

(skala : 3)
2. Tidak

terjadi

penurunan

tekanan

darah (skala : 3)

semestinya.

akan
petugas

menyiapkan pasokan

reduction

darah

gastrointestinal

dibutuhkan

pasien

dan

jika

pasien

dari

kekurangan

1. Pantau

tanda

gejala
perdarahan
cek

seperti

seluruh

sekresi

hasil

contohnya
tanda

adanya

dari
syok

hipovolemik
3. Dokumentasikan

dalam

rentang

Hypovolemia

normal

(120/80

Management

mmHG) (skala : 3)
2. Denyut nadi dalam

1. Dorong

100 kali permenit)

termasuk intake dan

lembab dan turgor


kulit normal (skala :
3)
4. Intake dan output
cairan dalam 24 jam
seimbang (skala : 3)

output
3. Pantau

kehilangan

suatu

jumlah

merupakan
pemeriksaan

laboratorium

untuk
kelainan

hemostatic,

dimana

hasil pemeriksaan itu


akan

memberikan

PT dan PTT hasilnya


akan

memanjang

pada

keadaan

penyakit seperti DIC.


5. Tranfusi
darah
dilakukan jika pasien

cairan
4. Observasi

status

hidrasi

seperti

membrane mukosa,
turgor kulit dan CRT.
5. Monitor tanda-tanda
vital

dan

masing tes. Pada tes


pasien

banyak minum air


2. Pantau status cairan

mukosa

fibrin

karakteristik masing-

rentang normal (60(skala : 3)


3. Membran

darah

nantinya.
4. PT, PTT, degradasi

tidaknya

dan jumlah dari tinja


Label

akan

mengetahui ada atau

Balance

NIC

yang

platelet

feses.
2. Pantau

karakteristik, warna

darah

untuk

NIC Label : bleeding

NIC Label : Fluid


1. Tekanan

memudahkan

dikatakan mengalami
kekurangan

darah.

Pemberian

tranfusi

darah

dapat

menggantikan
kehilangan

darah

6. Kombinasikan
larutan

kristaloid

dengan koloid

yang cukup banyak


akibat

perdarahan

yang terjadi
6. Pendidikan kesehatan
perlu diketahui oleh
pasien dan keluarga
untuk mengetahui apa
tanda-tanda
perdarahan

dan

tindakan

apa

saja

yang harus dilakukan


sebagai

pertolongan

pertama

sebelum

dibawa ke pelayanan
kesehatan.
Bleeding

reduction

gastrointestinal
1. Tanda

dan

gejala

perdarahan

akibat

kelainan

dari

pembekuan
dapat

darah

dilihat

dari

adanya

melena.

Melena

merupakan

terjadi

pada

perdaharan

yang

saluran

cerna.

Melena

biasanya

berwarna kehitaman
karena

adanya

gabungan dari HCL

dan darah.
2. Syok
hipovolemik
adalah suatu keadaan
dimana

pasokan

darah

tidak

terpenuhi.

Tanda

yang sering muncul


penurunan

tekanan

darah,

peningkatan

laju

pernapasan,

diaphoresis, gelisah,
kulit menjadi dingin
dan lembab. Dengan
mengetahui

tanda

tersebut maka dapat


segera

memberikan

tindakan yang tepat.


3. Pencatatan
karakteristik
dapat

tinja

mengetahui

apakah melena dapat


teratasi atau belum.
Apabila semakin hari
warna

tinja

kembali

sudah
normal

berarti

menandakan

bahwa

perdarahan

telah teratasi.
Hypovolemia
Management
1. Asupan cairan yang
banyak

digunakan

untuk

mengganti

cairan yang hilang


akibat

dari

perdarahan.
2. Status cairan harus
tetap

seimbang

sehingga

dengan

rutin

memantau

maka

dapat

mengetahui

apakah

status cairan pasien


menurun atau tidak
sehingga

dapat

dijadikan salah satu


cara untuk mencegah
syok hipovolemik.
3. Memantau
kehilangan

cairan

seperti

adanya

perdarahan

yang

hebat, muntah, diare


dan

takipnea

merupakan

kondisi

yang

dapat

menyebabkan
terjadinya

syok

hipovolemik, pasien
akan

mengalami

penurunan
kesadaran.
4. Memantau tanda dari
terjadinya

dehidrasi

dimana turgor kulit


akan kembali lambat,
membrane
pasien

mukosa

kering

dan

CRT > 2 detik.


5. Pada
syok
hipovolemik, tandatanda

vital

merupakan
khas

tanda

dimana akan

terjadi

penurunan

tekanan,

darah,

peningkatan

laju

respirasi,

serta

denyut nadi semakin


cepat.
6. Terapi

intravena

merupakan salah satu


penanganan

dalam

mengatasi

syok

hipovolemik. Terapi
intravena

dapat

dilakukan

dengan

kombinasikan larutan
kristaloid
saline

(normal

atau

ringer

laktat)

dengan

larutan

koloid

(Hespan
plamanate)

atau
untuk

menggantikan
volume

cairan

intravaskuler
sehingga

dapat

mencapai
2

PK infeksi

Setelah

dilakukan NIC Label : infection

tindakan

keperawatan control
1. Bersihkan lingkungan
selama
...x24
jam
sekitar
setelah
diharapkan
infeksi
digunakan
masingteratasi dengan kriteria
masing pasien
hasil:
2. Ajurkan pada pasien
NOC Label:
untuk meningkatkan
Infection Serevity
asupan nutrisi
1. Tidak terjadi demam 3. Ajurkan pemberian
(skala : 3)
2. Jumlah sel

antibiotik yang sesuai


darah 4. Ajarkan pasien dan

putih dalam rentang

keluarga

normal

tanda

(5000-

10000/mm3) (skala :
3)
3. Tidak terjadi letargi

mengenai
dan

gejala

infeksi
5. Ajarkan pasien dan
keluarga

atau malaise (skala :

cara

3)

infeksi

bagaimana
menghindari

keseimbangan.
Infection control
1. Membersihkan
lingkungan berfungsi
untuk

memutus

rantai

infeksi

sehingga

tidak

menyebar ke pasien
lain

yang

akan

menggunakan
lingkungan tersebut.
2. Asupan nutrisi yang
adekuat
membantu

mampu
dalam

meningkatan
kekebalan

tubuh

sehingga

secara

alami

dalam

mengatasi infeksi
3. Apabila infeksi telah
berat
pengobatan

maka
seperti

antibiotic

dapat

membantu

dalam

membunuh

bakteri

penyebab

infeksi

tersebut.
4. Pendidikan
kesehatan

tentang

tanda-tanda

infeksi

seperti

timbul

demam

dapat

membuat pasien dan


keluarga

lebih

terbuka

dalam

mengatasi

penyakit

sehingga akan lebih


cepat ditangani.
5. Menghindari infeksi
seperti

mejaga

kebersihan

dan

konsumsi

nutrisi

yang

adekuat

sehingga
meningkatkan sistem
imun dalam tubuh
dapat sebagai cara

Hipertemia

Setelah

berhubungan

tindakan

dengan

sepsis

ditandai

dengan

peningkatan suhu
tubuh

390C,

takipnea

30

x/menit

dan

takikardia

140

x/menit dan kulit


teraba hangat

diberikan NIC

Label

Fever

keperawatan Treatment
4. Pantau intake dan
selama x24 jam
output
diharapkan suhu tubuh
5. Pantau warna dan
pasien kembali normal.
suhu kulit
Dengan kriteria hasil :
6. Lakukan kompres
NOC
Label
:
hangat
pada
Thermoregulation
ketiak
atau
1. Suhu tubuh dalam
kipatan
paha
rentang
normal
pasien
(36,50-37,50C)
7. Kolaborasikan
(skala : 3)
pemberian
2. Suhu kulit tetap

pencegahan

infeksi

yang

mudah

dilakukan
Fever Treatment
1. Mengetahui
banyaknya
yang

cairan

masuk

serta

keluar masih dalam


keadaan

seimbang

atau tidak.
2. Mekanisme
kompensasi

dari

vaodilatasi
mengakibatkan kulit
menjadi lebih hangat

hangat (skala : 3)
3. Tidak
ada

antipiretik
Label

berwarna

kemerahan

Temperature regulation
kulit (skala : 3)
1. Monitor
suhu
4. Tidak
terjadi
minimal setiap 2 jam
dehidrasi (skala :
2. Berikan
informasi
3)
mengenai penyebab
5. Laju
pernapasan
hipertermia
dan
dan denyut nadi
penatalaksanaan
dalam
rentang
kepada pasien dan
normal (RR = 16keluarga.
20 menit, nadi =

merupakan

perubahan

NIC

dan

warna

karakteristik

dari

hiperperfusi

pada

fase hiperdinamik.
3. Kompres
hangat
akan

membuat

pembuluh

besar yang ada pada


ketiak

dan

paha

60-100 x/menit)
NIC Label : Vital sign
8. Ukur
darah,

tekanan

darah
lipatan

mengalami

vasodilatasi sehingga
panas

tubuh

akan

denyut

keluar dengan cara

laju

konduksi ke handuk

nadi,

respirasi dan suhu


tubuh pasien

yang

digunakan

untuk mengompres.
4. Pemberian antipiretik
diberikan
panas

apabila

tidak

meskipun

turun
telah

dikompres.
Antipiretik

bekerja

sentral

pada

hipotalamus

yang

merupakan

tempat

thermostat tubuh.
Temperature regulation
1. Untuk

memantau

peningkatan ataupun
penurunan suhu tubuh

2. Informasi

mengenai

hipertermi

penting

diberikan

kepada

keluarga dan pasien


untuk
penatalaksanaan
hipertermi
keluarga

oleh
terutama

saat di rumah.
Vital sign
1. Memantau

TTV

dijadikan

patokan

apabila

terjadi

perubahan

status

kesehatan

dalam

tubuh

dapat

serta

mengevaluasi respon
pasien

terhadap

tindakan yang telah


diberikan
4. Evaluasi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
1. PK perdarahan

Evaluasi
S:
Pasien mengatakan tinjanya sudah tidak ada darah
lagi
O:
Ekomosis (-), melena (-), kesadaran compos
mentis, tekanan darah normal (120/90 mmHg),
denyut nadi normal (60-100 x/menit), dan laju
respirasi normal (16-20 x/menit)
A:

Paraf

Tujuan keperawatan tercapai


P:
Tingkatkan kondisi pasien dan lanjutkan intervensi
bleeding reduction dan syok hipovolemik
S:
Pasien mengatakan merasa lebih nyaman
O:
Jumlah leukosit dalam rentang normal (5000-

2. PK Infeksi

10000 mm3), tidak ada demam


A:
Tujuan keperawatan tercapai
P:
Pertahankan kondisi pasien

dan

lanjutkan

intervensi infection control


S:
Pasien mengatakan badannya sudah tidak panas

3. Hipertermia

lagi dan merasa l


O:
Suhu tubuh normal (36,50-37,50C), kuli hangat dan
tidak kemerahan, dehidrasi (-)
A:
Tujuan keperawatan tercapai
P:
Pertahankan kondisi pasien dan berhentikan obat
antipiretik.
DAFTAR PUSTAKA
Aru W., Sudoyo, dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran UI
Benzion. 1995. Kapita Selekta Kedaruratan Obstertri dan Ginekologi. Jakarta : EGC
Bulechek, G.M., Butcher, H.W. & Dochterman, J.M. 2008. Nursing intervention classification
(NIC). (5th edition). St Louis: Mosby Elsevier.
Furlong,

Mary

A.

2005.

Disseminated

Intravascular

Coagulation.

WebMD

(http://www.emedicine.com.htm) diakses pada tanggal 1 April 1995


Guyton, A.C dan Hall, J.E. 2001. Textbook of Medical Physiology ed 10. Philadelphia : WB
Saunders.

Handayani, Wiwik. 2008. Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem hematologi.
Jakarta : Salemba Medika.
Hayes, Peter C. dan Mackay, Thomas W. 1997. Buku Saku Diagnosis dan Terapi. Jakarta: EGC
Herdman, T. Heather.2012. Nursing diagnoses : definitions and classification 2012-2014. Jakarta
: EGC.
Hewish,

Paul.

2005.

Disseminated

Intravascular

Coagulation.

Diambil

dari

(http://www.patient.co.uk) diakses pada tanggal 1 April 2015


Linker, CA. 2001. Current Medical Diagnosis and Treatment, Ed.40. New York: Lange Medical
Books, McGraw-Hill
Logan, L. 1994. Hemostasis and Bleeding Disorders. In Mazza J, editor : Manual of clinical
hematology, ed 2. Boston Little, Brown.
Morrhead, S., Johnson, M., Maas, M.L. & Swanson, E. 2008. Nursing outcomes classification
(NOC) (5th edition). St.Louis: Mosby Elsevie.
Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses
Penyakit. Jakarta : EGC
Suharti, C. 2010. Penyakit Perdarahan. Semarang : Badan Penerbit Diponegoro.
Taber, Ben-Zion. 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC.
Vinay, Kumar., Ramzi S.Contran dan Stanley L. Robbins. 2007. Buku Ajar patologi Edisi 7.
Jakarta : EGC