Anda di halaman 1dari 9

1.

Pengantar
Jika kita berada pada abad ke-19, mungkin kita hanya akan paham tentang proses
fisika yang di lakukan oleh alam. Mekanika hukum Newton, termasuk hukum gravitasi,
telah di buktikan secara terperinci, dan kesuksesannya telah membuktikan dalam
pemahaman pada interaksi diantara benda-benda. Kelistrikan dan magnet telah di kemukaan
oleh teori Maxwell dan gelombang elektroagnetik yang si asumsikan oleh persamaan
Maxwell telah ditemukan dan di teliti pada eksperimen konduktifitas oleh Hertz. Hukum
termodinamika dan teori kinetik telah berhasil membuktikan tentang penjelasan dari banyak
fenomena yang berhubungan dengan panas dan suhu. Ketiga teori mekanika yang sukses itumekanika, kelistrikan,dan termodinamika-secara umumnya dapat disebut fisika klasik.
Pada masa pertengahan abad ke-19, dunia sudah mulai mengalami perubahan.
Revolusi Industri membuat laboratorium dapat digunakan untuk pabrik dan mempercepat
perpindahan dari agraria menuju sosial yang terpusat. Para pekerja membentuk inti dari
kemunculan kelas menengah dan sistem ekonomi yang baru. Dunia perpolitikan sudah
berubah, pengertian setiap aspek fundamental dari kebiasaan manusia adalah pilihan untuk
mengubah lebih kritis oleh pisikolog Freudian.
Dalam dunia fisika, ada kepastian bahwa efek dari revolusi industri akan
didampak dunia fisika. Meskipun banyak eksperimen yang membuktikan kebenaran fisika
klasik, beberapa eksperimen memberikan hasil yang tidak dapat dijelaskan secara tepat oleh
teori fisika klasik. Teori elektromagnetik klasik menyatakan bahwa media diperlukan untuk
merambatkan gelombang elektromagnetik, tetapi dalam eksperimen medium yang di
perlukan tidak ditemukan. Eksperimen untuk mempelajari emisi dari gelombang
elektromagnetik dengan panas, memberikan hasil yang tidak dapat dijelaskan oleh teori
fisika klasik dari termodinamika dan ekeltromagnetik.
Beberapa eksperimen tersebut mungkin tidak terlalu bersignifikan, terutama
ketika dilihat dari kesuksesan masa lalu dan kemengeritan dengan baik dalam eksperiment
di abad ke-19. Bagaimanapun, eksperimen itu setidaknya memiliki pengaruh, tidak hanya
dunia fisika, namun semua sains, dalam stuktur politik dunia, dan cara kita melihat diri
sendiri dan tempat kita di tata surya. Pada masa dua dekade, antara 1905 dan 1925,
kekurangan dari fisika klasik akan membawa kita ke teori umum dan spesial dari teori
relativitas dan teori kuantum.
Desain dari fisika modern biasanya berdasarkan pengembangan yang dimulai
pada tahun 1900 dan menuju teori kuantum dan teori relativitas, termasuk aplikasi terori ini
untuk memahami stuktur atom, inti atom dan partikel pembuatnya, penyusun atom dalam
molekul dan padatan, dalam skala kosmik, asal usul dan evolusi dari alam semesta.

2. Radiasi Thermal dan Postulat Planck


1

Pada waktu berada dekat dengan sebuah benda yang lebih pandas daripada tubuh
kita, kita merasa hangat. Rasa hangant ini berasal dari radiasi elektromagnetik yang berasal
dari benda tersebut. Radiasi ini dikenal dengan radiasi thermal.
Berdasarkan hasil eksperimen para ahli, diperoleh bahwa banyaknya radiasi
thermal yang dipancarkan oleh suatu benda dipengaruhi oleh:
a. Suhu benda, benda yang bersuhu tinggi akan memancaran lebih banyak
radiasi.
b. Sifat permukaan benda, permukaan kasar lebih banyak memancarkan radiasi
dibandingkan dengan permukaan halus.
c. Bentuk benda, permukaan yang lebih luas akan memancarka radiasi yang
lebih banyak
d. Jenis material, Tungsten dapat memancarkan radiasi dengan laju 23,5 W/cm 2
sedangkan molybdenum (dengan ukuran dan bentuk yang sama) hanya
meradiasikan 19,2 W/cm2.
Pada tahun 1879, berdasarkan hasil eksperimen Josef Stefan, ia merumuskan
besarnya intensitas radiasi yang dipancarkan oleh suatu benda. Menurut pengamatannya,
besar intensitas (I) ini sebanding dengan pangkat empat suhu (T).
I =K T 4
K merupakan suatu konstanta yang tergantung pada sifat benda dan sering di
tuliskan sebagai K=e . Bilangan e dinamakan emisivitas benda yang besarnya antara 0
sampai 1 (tanpa satuan), sedangkan

dinamakan tetapan Stefan-Boltzman yang

besarnya,
8

=5,67 x 10

W
( m2 K 4 )

I =e T 4
Daya P yang dipancarkan oleh benda, dihitung dengan mengalikan intensitas
dengan luas permukaan benda A,
P=e AT 4
Rumus tersebut dinamakan rumus Stefan-Boltzman, karena Stefan
menemukannya bedarsarkan eksperimen dan konfirmasi melalui perhitungan teori
termodinamika oleh Ludwig Boltzman.

Formula fisika baru yang memberikan interpretasi yang tepat dari radiasi thermal
telah dikemukaan oleh fisikawan Jerman Max Planck pada tahun 1900. Radiasi ultraviolet
terjadi karena perkiraan rumusan Rayleigh-Jeans terlalu intensif pada panjang gelombang
yang singkat. Apa yang dibutuhkan adalah cara untuk membuat u 0 sebagai 0
atau sebagai f .
Planck mencoba menemukan cara untuk mengurangi jumlah frekuensi tinggi
gelombang tegak dengan mengurangi osilasi dari frekuensi tinggi tersebut. Berdasarkan
teorinya, didapatlah teori versi baru dari versi mekanika yang telah diketahui, yang
kemudian diketahui sebagai mekanika kuantum.
Dalam teori Planck, setiap osilator dapat memancarkan atau menyerap energi
hanya dalam jumlah yang merupakan kelipatan bilangan bulat dari kuantitas dasar energi
tertentu.
En=n n=1,2,3, .
dimana n adalah nomor quanta. Selanjutnya energi setiap quanta ditentukan oleh frekuensi.
=hf

dimana h adalah konstanta proporsionalitas, atau bisa juga disebut konstanta Planck.

3. Efek Fotolistrik teori dan Teori Kuantum Einstein


Fotolistrik merupakan peristiwa dipancarkannya elektron ketika permukaan suatu
logam disinari cahaya. Elektron yang terlepas dinamakan fotoelektron.
Gambar disamping adalah diagram percobaan fotolistrik. Ketika tabung
ditempatkan di tempat gelap, jarum amperemeter
menunjukkan angka nol (tidak ada arus yang
mengalir dalam rangkaian). Tetapi ketika cahaya
monokromatik denga panjang gelombang tertentu
menyinari
keping,
jarum
amperemeter
menyimpang (adanya arus yang mengalir dalam
rangkaian). Arus in berasal dari eletron yang
terpancar dari emitter dan dikumpulkan ke
collector.
Ada dua hasil yang unik pada
percobaan fotolistrik, yaitu:
a. Fotolistrik tidak tergantung pada intensitas cahaya datang
b. Fotolistrik tergantung pada frekuensi cahaya

Kesuksesan teori efek fotolistrik telah dikembangkan oleh Albert Einstein.


Berdasarkan teori Planck, Einstein mengemukakan bahwa energi radiasi elektromagnetik
tidak secara terus menerus disalurkan melewati gelombang, tetapi terkonsentrasi pada suatu
quanta. Menurut Einstein, cahaya terdiri dari foton-foton yang mempunyai energi sebesar hf.
Ketika cahaya mengenai permukaan logam, elektron logam menyerap foton sehingga
energinya naik sebesar hf. Jika frekuensicahaya cukup tinggi, maka energi yang diserap akan
mapu mengeluarkan elektron dari permukaan logam.
Frekuensi terkecil cahaya yang dapae melepaskan elektron dari permukaan logam
f0
dinamakan frekuensi ambang,
. Sedangkan energi terkecil yang harus diberikan agar
elektron terlepas dari permukaan logam disebut energi ambang.
E0=h f 0
Besarnya energi ambang ini harus sama dengan energi ikat elektron pada atom
logam, .
=h f 0

sering dinamakan fungsi kerja.

Ketika energi foton lebih besar dari fungsi kerja logam,kelebihan energi akan
E
digunakan sebagai energi kinetik elektron. Energi kinetik ini dinamakan ( K )maks .
Sehingga hubungan antara energi kinetik maksimum elektron dengan frekuensi. f cahaya
yang akan datang adalah
hf =+ ( E K )maks
Ketika

f =f 0

maka

h f 0= + ( E K ) maks

E
=0
atau ( K )maks
(elektron baru akan

terlepas dari inti atom).

Fotolistrik sebagai fungsi beda


potensial V . Menurut Einstein, ketika
permukaan logam diberi cahaya dengan
frekuensi f, elektron mendapat energi kinetik
E
=hf h f 0
maksimum sebesar ( K )maks
.
Arus mencapai maksimum ketika
semua elektron yang terpancar mencapai
collector. Arus akan sama sekali not ketika
energi potensial elektron akibat energi
potensial ini sama dengan atau lebih besar
dari energi kinetik maksimum elektron
e V s=( E K ) maks
Karena nilai

( E K )maks hanya bergantung pada hf dan , maka nilai V s

juga hanya tergantung ada hf dan , tidak tergantung pada intensitas cahaya yang datang.
Sehingga nilai

Vs

sama untuk semua intensitas.

Einstein berpendapat bahwa intensitas cahaya berhubungan dengan jumlah foton.


Tiap foton berhubungan dengan 1 elektron. Semakin banyak jumlah foton, makan semakin
banyak elektron yang menyerap foton. Semakin besar intensitas, maka semakin besar arus
yang dihasilkan.
Banyaknya jumlah foton tidak berpengaruh pada energi kinetik elektron sehingga
intensitas cahaya tidak akan berpengaruh pada besar beda potensial penghenti. Peristiwa
fotolistrik berlangsung sangat cepat. Elektron dapat terpancar hanya dalam waktu yang
sangan singkat sekali, yaitu sekitar 10-9 detik setelah penyinaran,
Einstein menganggap bahwa ketika permukaan logam disinari, jutaan foton secara
serentak diserap oleh jutaan elektron sehingga dalam waktu singkat akan terdeteksi arus.
Sehingga cahaya dapat berkelakuan sebagai partikel.

4. Efek Compton dan Defraksi Sinar-X


Arthur Holly Compton dan temannya Peter Debye terobsesi oleh iden Einstein
tentang foton. Mereka menemukan bahwa hamburan foton dari sinar-X oleh elektron hanya
dapat dijelaskan dengan menganggap foton sebagai partikel dengan energi hf dan
momentum

hf
c , cocok seperti yang diusulkan Einstein.

Percobaan Compton cukup sederhana. Elektron disinari dengan sinar-X. Sinar-X


akan dihamburkan oleh elektron. Panjang gelombang sinar-X yang terhambur ini ternyata
5

hanya tergantung pada besar sudut hamburan. Sama sekali tidak tergantung pada lama
penyinaran.
Menurut teori gelombang, panjang gelombang sinar-X terhambur seharusnya
tergantung pada lama penyinaran. Semakin lama penyinaran, semakin banyak sinar-X yang
diserap elektron sehingga ketika sinar-X ini dipancarkan kembali, tentu panjang
gelombangnya akan semakin pendek. Maka dari itu sinar X atau cahaya tidak selalu
berkelakuan sebagai gelombang.
Gabar
disamping
menggambarkan
proses terjadinya hamburan sinar-X oleh elektron
(hamburan
Compton).
Mula-mula,
foton
mempunyai energi E dan momentum linear P yang
di berikan oleh
h
E
E=h f =
p=
dan

c
Elektron yang awalnya diam memiliki
energi diam
memiliki energi

m e c 2 , setelah berhambur, foton


E' =h c / '

yang memiliki sudut


total

Ee

dan momentumnya

p' =E' /c

dan bergerak pada pada arah

dari titik terjadinya hamburan. Elektron memiliki energi akhir

dan momentum

pe

dan bergerak dalam arah pada sudut dari titik terjadinya

hamburan. Sehingga didapat:

Difraksi sinar
X atau X-ray diffraction (XRD) adalah suatu metode analisa yang digunakan untuk
mengidentifikasi fasa kristalin dalam material dengan cara menentukan parameter struktur
kisi serta untuk mendapatkan ukuran partikel. Profil XRD juga dapat memberikan data
kualitatif dan semi kuantitatif pada padatan atau sampel. Difraksi sinar X ini digunakan
untuk beberapa hal, diantaranya:
a. Pengukuran jarak rata-rata antara lapisan atau baris atom
b. Penentuan kristal tunggal
c. Penentuan struktur kristal dari material yang tidak diketahui
d. Mengukur bentuk, ukuran, dan tegangan dalam dari kristal kecil
Difraksi sinar-X terjadi karena pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh
atom dalam sebuah kisi periodik. Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut

memberikan interferensi yang konstruktif. Penggunaan difraksi sinar-X untuk mempelajari


kisi kristal adalah berdasarkan persamaan Bragg berikut ini.
n=2 d sin
Dimana

adalah panjang gelombang sinar-X yang digunakan, d adalah jarak

antara dua bidang kisi.

adalah sudut antara sinar datang denga bidang normal, dan n

adalah bilangan bulat yang disebut sebagai orde pembiasan.

Jika seberkas sinar-X di jatuhkan pada sampel kristal, maka bidang kristal itu
akan membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang sama dengan jarak antar kisi
dalam kristal tersebut. Proses difraksi sinar-X seperti disajikan pada Gambar. Sinar-X
dibiaskan dan ditangkap oleh detektor kemudian diterjemahkan sebagai sebuah puncak
difraksi. Semakin banyak bidang kristal yang terdapat dalam sampel, semakin kuat intensitas
pembiasan yang dihasilkan. Tiap puncak yang muncul pada pola difraktogram mewakili satu
bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncak-puncak
yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi
sinar-X untuk semua jenis material.
5. Dualisme Partikel Gelombang dan Prinsip Ketidakpastian Heinsberg
Dalam kehidupan sehari-hari konsep gelombang dan konsep partikel merupakan
dua konsep yang berbeda yang tidak ada hubungannya sama sekali. Partikl bukan
gelombang dan gelombang bukan partikel. Salah satu perbedaan menyolok antara
partikeldan gelombang adalah ketika dua gelombang atau dua partikel bertemu.
Ketika dua partikel bertemu, terjadi tumbukan. Kecepatan dan bentuk (keadaan
molekul-molekul) kedua partikel tidak sama sebelum dan sesudah tumbukan. Tetapi ketika
dua gelombang bertemu, kedua gelombang bersatu dan terjadi interferensi. Kecepatan dan
bentuk masing-masing gelombang sebelum dan sesudah pertemuan tetap sama.
Namun dalam dunia atom., konsep partikel dan konsep gelombang menjadi baur.
Gelombang dapat mempunyai sifat partikel dan partikel dapat mempunyai sifat gelombang
(dualisme partikel gemolbang). Misalnya cahaya dikenal sebagai gelombang
elektromagnetik, karena mempunyai sifat-sifat seperti pemantulan, pembiasan, intererensi,
7

dan difraksi. Namun cahya juga dapet berkelakuan seperti partikel, misalnya ketika
bertumbukan dengan atom.
Bukan hanya gelombang yang dapat berkelakuan seperti partikel, partikel pun
dapat berkelakuan seperti gelombang. Sepertipada percobaan Davisson dan Germer.
Pada tahun 1927 Davisson dan Germer memilih elektron sebagai partikel untuk
menguji hipotesa de Broglie, elektron-elektron diperoleh dari filamen yang di pijarkan,
kemudian elektron-elektron itu dipercepat dalam medan listrik yang tegangannya 54 volt.
Setelah dipercepat, elektron memiliki energi kinetik.
19
Ek =54 eV =54 1,6 x 10 Joule
Momentum elektron :
1
p=mv= 2 m m v 2
2

p= 2 m E k
p= 2 9,1 x 1031 54 16 x 1019
p=4 x 1024 kg

m
s

Pada tahun 1925 Werner Heinsberg mengajukan rumus baru dibidang fisika.
Suaturumus yang sangat radikal, jauh berbeda dengan rumus klasik Newton. Teori rumus
baru ini sudah mengalami beberapa perbaikan oleh orang-orang sesudah heisenberg dan
berhasil. Hingga kini rumus tersebut diterima dan digunakan dalam semua sistem fisika.
Prinsip ketidakpasstian menyatakan bahwa hampir tidak mungkin untuk
mengukur dua besaran secara bersamaan, misalnya posisis dan momentum suat partikel.
Prinsip ketidakpastian ini menjamin bahwa tidak mungkin membuat lebih dari sekedar
dugaan-dugaaan statistik. Prinsip ini merupakan prinsip yang mendalam dibidang ilmiah dan
paling punya daya jangau lebih jauh. Dalam praktik, prinsip ketidakpastian ini
mengkhususkan batas-batas teoritis tertentu terhadap keaanggupan dalam melihat hal-hal
ilmiah.

Daftar Pustaka
Krane, K. 2008. Modern Physics third edition. USA:John Wiley & Sons, Inc
Surya,

Yohanes.2009. Seri Bahan Persiapan


Modern.Tangerang:PT Kandel.

Olimpiade

Fisika,

Fisika

Tipler A. Paul, Llewellyn A. Ralph. 2008. Modern Physics fifth edition.


NewYork:W.H. Freeman and Company.
Duaslisme gelombang cahaya sebagai gelombang dan sebagai partikel. 2014.
http://www.onfisika.com/2013/01/dualisme-gelombang-cahayasebagai.html (diakses pukul 14.54 WIB tanggal 2 September 2015).
Difraksi Sinar-X. 2013. http://labterpadu.undip.ac.id/blog/2013/01/28/difraksi-sinarx/ (diakses pukul 13.12 WIB tanggal 2 September 2015).