Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Low Back Pain (nyeri punggung bawah) sering dijumpai dalam praktek seharihari, terutama di negara-negara industri. Diperkirakan 70 85 % dari seluruh
populasi pernah mengalami episode ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya
bervariasi dari 15 45 %, dengan point prevalensi rata-rata 30%. Di Amerika
Serikat nyeri ini merupakan penyebab paling sering dari pembatasan aktivitas
pada penduduk dengan usia < 45 tahun, urutan ke 2 untuk penyebab paling
sering berkunjung ke dokter, urutan ke 5 penyebab perawatan di rumah sakit,
dan penyebab paling sering untuk tindakan operasi.1,2
Data epidemiologi mengenai Low Back Pain di Indonesia belum ada, namun
diperkirakan 40 % penduduk pulau Jawa Tengah berusia diatas 65 tahun pernah
menderita nyeri pinggang, prevalensi pada laki-laki 18.2% dan pada wanita
13.6%. Insiden berdasarkan kunjungan pasien ke beberapa rumah sakit di
Indonesia berkisar 3 17 %.1
Penyakit low back pain menjadi kasus yang sangat serius dan terus meningkat
sepanjang tahun pada masyarakat barat. Telah diketahui faktor-faktor penyebab,
patofisiologi, biomekanik, psikologis, dan faktor sosial tetapi teori yang
memuaskan tentang patogenesis belum seluruhnya diketahui.2,3
Penyebab Low Back Pain bermacam-macam dan multifaktorial; banyak yang
ringan, namun ada juga yang berat yang harus ditanggulangi dengan cepat dan
tepat. Sebagian besar low back pain dapat sembuh dalam waktu singkat, sehingga
keluhan ini sering tidak mendapatkan perhatian yang cukup mendalam. Oleh
karena itu, kemungkinan penyebab yang lebih serius tidak dikenali sedini
mungkin. Dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti serta analisis
perasaan nyeri yang seksama dapat didiagnosis dengan tepat sedini mungkin.2,4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Nyeri Punggung Bawah (NPB) adalah nyeri yang dirasakan di daerah
punggung bawah, yang dapat merupakan nyeri lokal, maupun nyeri radikuler
atau keduanya, atau nyeri yang berasal dari punggung bawah yang dapat
menjalar ke daerah lain atau sebaliknya (referred pain).1,2,3,4
NPB merupakan perasaan nyeri di daerah lumbosakral dan sakroiliaka
yang disertai penjalaran ke tungkai dan kaki. Mobilitas punggung bawah
sangat tinggi, disamping itu juga menyangga beban tubuh, dan sekaligus
sangat berdekatan dengan jaringan lain yaitu traktus digestivus dan traktus
uranius. Kedua jaringan atau organ ini apabila mengalami perubahan
patologik tertentu dapat menimbulkan nyeri yang dirasakan di daerah
punggung bawah.1,2,4
Banyak faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya Nyeri
Punggung Bawah, antara lain:1,2,4
1. Faktor resiko fisiologis: usia 20-50 tahun, kurangnya latihan fisik, postur
tubuh yang tidak anatomis, kegemukan, skoliosis berat (kurvatura berat
>80), HNP, spondilitis, spinal stenosis, osteoporosis, merokok.
2. Faktor resiko lingkungan: duduk terlalu lama, terlalu lama menerima
getaran, terpelintir.
3. Faktor resiko psikososial: ketidaknyamanan bekerja, depresi, stres.
2.2 Etiopatologi
Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang
berespons hanya pada stimulus yang kuat, yang secara potensial merusak,
dimana stimuli tersebut sifatnya bisa kimia, mekanik, termal. Serabut saraf
ini bercabang sangat dekat dengan asalnya pada kulit dan mengirimkan
cabangnya ke pembuluh darah local. Stimuli serabut ini mengakibatkan
pelepasan histamin dari sel-sel mast dan mengakibatkan vasodilatasi.
Sejumlah substansi yang dapat meningkatkan transmisi atau persepsi nyeri

meliputi histamin, bradikinin, asetilkolin dan substansi P. Prostaglandin


dimana zat tersebut yang dapat meningkatkan efek yang menimbulkan nyeri
dari bradikinin. 3
Kornu dorsalis dari medulla spinalis merupakan tempat memproses
sensori, dimana agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada system
assenden harus diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor
nyeri yang terletak dalam kulit dan organ internal. Proses nyeri terjadi
karena adanya interaksi antara stimulus nyeri dan sensasi nyeri. 3
Pada sensasi nyeri punggung bawah dalam hal ini kolumna vertebralis
dapat dianggap sebagai sebuah batang yang elastik yang tersusun atas
banyak unit vertebrae dan unit diskus intervertebrae yang diikat satu sama
lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligamen dan otot paravertebralis.
Konstruksi punggung yang unik tersebut memungkinkan fleksibilitas
sementara disisi lain tetap dapat memberikan perlindungan yang maksimal
terhadap sumsum tulang belakang. Lengkungan tulang belakang akan
menyerap goncangan vertical pada saat berlari atau melompat. Batang tubuh
membantu menstabilkan tulang belakang. Otot-otot abdominal dan toraks
sangat penting ada aktifitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai
akan melemahkan struktur pendukung ini. Obesitas, masalah postur,
masalah struktur dan peregangan berlebihan pendukung tulang belakang
dapat berakibat nyeri punggung. 1,2,3
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia
bertambah tua. Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas
fibrokartilago dengan matriks gelatinus. Pada lansia akan menjadi
fibrokartilago yang padat dan tak teratur. Degenerasi diskus intervertebra
merupakan penyebab nyeri punggung biasa. Diskus lumbal bawah, L4-L5
dan L5-S6, menderita stress paling berat dan perubahan degenerasi terberat.
Penonjolan diskus atau kerusakan sendi dapat mengakibatkan penekanan
pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis, yang mengakibatkan
nyeri yang menyebar sepanjang saraf tersebut. 1,2,3
2.3 Klasifikasi
a.

Berdasarkan perjalanan klinis1


1. Acute Low Back Pain

Rasa nyeri yang menyerang secara tiba tiba, keluhan dirasakan kurang
dari 6 minggu. Rasa ini dapat hilang atau sembuh. Acute Low Back
Pain dapat disebabkan karena luka traumatik seperti kecelakan mobil
atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut
dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon..
2. Chronic Low Back Pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang
berulang ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki
onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. Chronic low
back pain dapat terjadi karena osteoartritis, rheumatoidarthritis, proses
degenerasi discus intervertebralis dan tumor.
b.

Berdasarkan keluhan nyeri1,4


1. Nyeri yang bersifat lokal
Nyeri lokal yang berasal dari proses patologik yang merangsang ujung
saraf sensorik, umumnya menetap , namun dapat pula interminten,
nyeri dipengaruhi perubahan posisi, bersifat tajam atau tumpul.
2. Nyeri radikular
Nyeri radikular berkaitan erat dengan distribusi radiks saraf saraf spinal
(spinal never root), dan keluhan ini lebih dirasakan berat pada posisi
yang mengakibatkan tarikan seperti membungkuk dan berkurang
dengan istirahat.
3. Nyeri menjalar (referred pain)
Nyeri alih atau menjalar dari pelvis visera umum yang mengenai
dermatom tertentu, bersifat tumpul dan terasa lebih dalam.

c.

Berdasarkan karakteristik NPB1,2,3,4


1. NPB Viserogenik
NPB Viserogenik disebabkan oleh adanya proses patologik ginjal atau
visera didaerah pelvis, serta tumor retroperitonial. Riwayat nyeri
biasanya dapat dibedakan dengan NPB yang bersifat spondilogenik.
Nyeri viserogenik ini tidak bertambah berat dengan aktivitas tubuh,
dan sebaliknya tidak berkurang dengan istirahat. Penderita NPB
viserogenik yang mengalami nyeri hebat akan selalu menggeliat dalam
upaya untuk meradakan perasaan nyerinya. Sementara itu NPB

spondilogenik akan lebih memilih berbaring diam dalam posisi


tertentu yang paling meredakan rasa nyerinya.
Adanya ulserasi atau tumor didinding ventrikulus dan duodenum
akan menimbulkan induksi nyeri didaerah epigastrium. Tetapi bila
dinding bagian belakang turut terlibat dan terutama apabila ada
perluasan retroperitoneal, maka nyeri mungkin juga akan terasa di
punggung. Nyeri tadi biasanya terasa digaris tengah setinggi lumbal
pertama dan dapat naik sampai torakal ke-6.
2. NPB Vaskulogenik
Aneurisma atau penyakit vaskular perifer dapat menimbulkan
nyeri

punggung

atau

nyeri

menyerupai

iskialgia. Aneurisma

abdominal dapat menimbulkan NPB dibagian dalam dan tidak ada


hubungannya dengan aktivitas tubuh. Insufisiensi arteria glutealis
superior dapat menimbulkan nyeri dibagian pantat, yang makin
memperberat pada saat berjalan akan mereda pada saat diam berdiri.
Nyeri ini dapat menjalar kebawah, sehingga mirip dengan iskialgia,
tetapi nyeri ini tidak berpengaruh terhadap presipitasi tertentu,
misalnya membungkuk dan mengangkat benda berat.
Klaudikasio intermintens- nyeri interminten di betis sehubungan
dengan penyakit vaskular perifer, suatu saat akan sangat menyerupai
iskialgia yang disebabkan oleh iritasi radiks. Namun demikian, dengan
adanya riwayat yang khas ialah nyeri yang makin berat pada saat
berjalan, dan kemudian mereda pada saat diam berdiri, tetap
memberikan gambaran ke aarah insufiensi vaskular perifer.
3. NPB Neurogenik
a. Neoplasma
Neoplasma intrakanalis spinal yang sering ditemukan adalah
neurinoma, hemangioma, ependimoma, dan meningioma. Nyeri
yang diakibatkan neoplasma ini sering sulit dibedakan dengan nyeri
akibat HNP. Pada umumnya gejala pertama adalah nyeri kemudian
timbul gejala neurologik yaitu gangguan motorik, sensibilitas, dan
vegetatif. Rasa nyeri sering timbul waktu sedang tidur sehingga
membangunkan penderita. Rasa nyeri berkurang kalau untuk
berjalan. Dengan demikian penderita cenderung bangkit dari tempat
tidur untuk berjalan jalan.

b. Araknoiditis
Pada araknoiditis terjadi perlengketan-perlengketan. Nyeri timbul
bila terjadi penjepitan terhadap radiks oleh perlengketan tersebut.
c. Stenosis kanalis spinalis
Menyempitnya kanalis spinalis disebabkan oleh karena proses
degenerasi diskus intervetebralis dan biasanya disertai oleh
ligamentum flavum. Gejala klinik yang timbul ialah adalah
klaudikasio interminten yang disertai rasa kesemutan dan pada saat
penderita istirahat maka rasa nyerinya masih tetap ada. Bedanya
dengan klaudikasio interminten pada penyumbatan arteri ialah
disini denyut nadi hilang dan tidak rasa kesemutan.
4. NPB Spondilogenik
a. NPB Osteogenik
- Radang atau infeksi, misalnya osteomielitis vertebral dan
spondilitis tuberkulosa.
- Trauma, yang menyebabkan fraktur maupun spondilositesis.
- Keganasan, dapat bersifat primer (terutama multipel myeloma)
maupun sekunder yang berasal dari proses keganasan di kelenjar
tiroid, paru, payudara, hati, prostat, dan ovarium.
- Kongenital, misalnya skoliosis, yang mana nyeri timbulakibat
iritasi dan peradangan selaput artikulasi posterior satu sisi.
- Metabolik, misalnya osteoporosis dan osteofibrosis.
b. NPB Diskogenik
- Spondilosis, ini disebabkan oleh proses degenerasi yang progresif
pada diskus intervertebralis, mengakibatkan menyempitnya jarak
antar vertebra sehingga terjadi osteofit, penyempitan kanalis
spinalis, serta iritasi persendian posterior. Rasa nyeri pada
spondilosis ini disebabkan oleh terjadinya osteoartritis dan
tertekannya radiks oleh kantung duramater yang mengakibatkan
iskemia dan radang. Gejala neurologiknya timbul karena
gangguan pada radiks, yaitu gangguan sensabilitas dan motorik
(paresis, fasikulasi, atrofi). Nyeri akan bertambah apabila tekanan
cairan serebrospinal dinaikkan dengan tes Valsava atau dengan
tes Naffziger.
- Herniated Nucleus Pulposus (HNP), ialah keadaan dimana
nukleus pulposus keluar menonjol dan menekan ke arah kanalis
spinalis melalui anulus fibrosus yang robek. Penonjolan dapat

terjadi di bagian lateral dan ini yang banyak terjadi (HNP lateral),
atau dapat pula di bagian tengah (HNP sentral). Dasar terjadinya
adalah proses degenerasi diskus intervertebralis, yang banyak
terjadi pada usia pertengahan. Umumnya HNP didahului oleh
aktivitas yang berlebihan misalnya mengangkat benda berat
(terutama secara mendadak). Gejala yang timbul pertama kali
adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai nyeri di otot-otot
sekitar lesi dan nyeri tekan di tempat tadi. Hal ini disebabkan oleh
spasme otot yang menyebabkan mengurangnya lordosis lumbal.
HNP sentral menimbulkan paraparese flaksid, parestesi, dan
retensi urin. HNP lateral sering terjadi pada L5-S1 dan L4-L5.
- Spondilitis ankilosa, proses ini biasanya mulai dari sendi
sakroiliaka yang kemudian menjalar ke atas. Gejala permulaan
berupa kaku di punggung bawah waktu bangun tidur dan hilang
setelah mengadakan gerakan. Pada foto rontgen terlihat gambaran
yang mirip dengan ruas ruas bambu sehingga bamboo spine.
c. NPB Miogenik
- Ketegangan otot, sikap tegang yang konstan atau berulang pada
posisi yang sama akan memendekkan otot yang akhirnya
menimbulkan nyeri. Keadaan ini tidak terlepas dari kebiasaan
buruk atau sikap tubuh yang kurang fisiologik. Bila kontraksi
otot-otot menjadi lelah, maka ligamentum yang kurang elastis
akan menerima beban yang lebih berat. Rasa nyeri timbul oleh
karena iskemia ringan pada jaringan otot, regangan yang
berlebihan pada perlekatan miofasial terhadap tulang, serta
regangan pada kapsula.
- Spasme otot, disebabkan oleh gerakan yang tiba-tiba dimana
jaringan otot sebelumnya dalam kondisi yang tegang atau kaku
atau kurang pemanasan. Spasme otot ini memberi gejala khas,
yaitu setiap kontraksi otot disertai nyeri hebat.
- Defisiensi otot, disebabkan oleh kurang latihan sebagai akibat dari
mekanisme yang berlebihan, tirah baring yang terlalu lama,
maupun karena mobilisasi.

- Otot yang hipersensitif, akan menciptakan satu daerah kecil yang


apabila dirangsang akan menimbulkan rasa nyeri dan menjalar ke
daerah tertentu (target area). Daerah kecil tadi disebut sebagai
noktah picu, yang apabila ditekan dapat menimbulkan rasa nyeri
bercampur rasa sedikit nyaman.
5. NPB Psikogenik
Pada umumnya disebabkan oleh ketegangan jiwa atau kecemasan, dan
depresi atau campuran antara kecemasan dan depresi. Pada anamnesis
akan terungkap bahwa penderita mudah tersinggung, sulit tertidur atau
mudah terbangun di malam hari tetapi akan sulit untuk tidur kembali,
kurang tenang atau mudah terburu buru tanpa alasan yang jelas.
2.4 Tanda dan Gejala
a.

Simple Back Pain1,2


1. Adanya nyeri pada daerah lumbal atau lumbosakral tanpa penjalaran
atau keterlibatan neurologis.
2. Nyeri mekanik yang derajatnya bervariasi setiap waktu dan tergantung
dari aktivitas fisik.
3. Kondisi kesehatan pasien secara umum baik.

b.

LBP dengan keterlibatan neurologis dibuktikan dengan adanya 1 atau lebih


tanda atau gejala yang mendukung, seperti nyeri menjalar tungkai, rasa
tebal, adanya tanda iritasi radikular, gangguan motorik, maupun sensorik.1,2

c.

Red Flag1,2
- Trauma fisik berat seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan
kendaraan bermotor
- Nyeri non mekanik yang konstan dan progresif
- Ditemukan nyeri abdomen dan atau torakal
- Nyeri hebat pada malam hari yang tidak membaik jika terlentang
- Riwayat atau adanya kecurigaan kanker atau HIV
- Penggunaan kortikosteroid jangka panjang
- Fleksi lumbal sangat terbatas dan persisten
- Saddle anestesi, dengan atau tanpa inkontinensia urin

2.5 Diagnosis
a. Anamnesis2,3
- Kapan mulai sakit, sebelumnya pernah tidak?
- Apakah nyeri diawali oleh suatu kegiatan fisik tertentu? Apa pekerjaan
sehari-hari? Adakah suatu trauma?
- Dimana letak nyeri? Apa ada penjalaran?
- Apakah bertambah pada kegiatan/postur tertentu?
- Apakah nyeri berkurang pada waktu istirahat?
- Adakah keluarga dengan riwayat penyakit serupa?
- Adakah gangguan miksi dan defekasi atau penurunan libido?
b. Pemeriksaan Fisik1,2,3,4
1. Inspeksi dan Palpasi
- Kurvatura yang berlebihan atau asimetris, pendataran arkus lumbal,
angulasi, muskular paravertebral atau pantat yang asimetris, postur
tungkai yang abnormal
- Observasi punggung, pelvis, dan tungkai selama bergerak apakah
ada hambatan dan gerakan yang tidak wajar atau terbatas
- Observasi pasien saat berdiri, duduk, bersandar, maupun berbaring
- Atrofi otot, fasikulasi, pembengkakan, perubahan warna kulit
- Pada palpasi, terlebih dahulu diraba daerah yang paling ringan
nyerinya, kemudian menuju ke arah daerah yang paling nyeri
2. Pemeriksaan Neurologik
- Pemeriksaan Sensorik
Bila nyeri pinggang bawah disebabkan oleh gangguan pada salah
satu saraf tertentu maka biasanya dapat ditentukan adanya gangguan
sensorik dengan menentukan batas-batasnya, dengan demikian
segmen yang terganggu dapat diketahui. Pemeriksaan sensorik ini
meliputi pemeriksaan rasa rabaan, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam,
dan rasa getar (vibrasi).
- Pemeriksaan Motorik
Dengan mengetahui segmen otot mana yang lemah maka segmen
mana yang terganggu akan diketahui, misalnya lesi yang mengenai

segmen L4 maka musculus tibialis anterior akan menurun


kekuatannya. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu kekuatan (fleksi dan
ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki, ibu jari, dan jari lainnya),
atrofi, dan fasikulasi.
- Pemeriksaan Refleks
Refleks tendon dari segmen yang terkena akan menurun atau
menghilang pada HNP. Pada HNP lateral di L4-L5, refleks lutut
negatif. Sedangkan pada HNP lateral L5-S1, refleks achiles negatif.
- Pemeriksaan Spesifik NPB
a. Tes Lasegue, meregangkan saraf ischiadicus, yang positif bila
menimbulkan nyeri menjalar dari pantat sampai ujung kaki.
b. Crossed Lasegue, positif bila tes Lasegue pada tungkai yang tidak
sakit menyebabkan rasa nyeri pada tungkai yang sakit.
c. Tanda Patrick dan Kontra Patrick, bila timbul rasa nyeri maka hal
ini berarti ada suatu sebab yang non neurologik misalnya coxitis.
d. Tanda Ober, penderita tidur miring ke satu sisi, sementara tungkai
pada sisi tersebut dalam posisi fleksi. Tungkai lainnya
diabduksikan dan diluruskan, lalu secara mendadak dilepas. Bila
terdapat kontraktur dari fascia lata pada sisi tersebut maka tungkai
akan jatuh lambat.
e. Tanda Neri, penderita diminta berdiri tegak, kemudian bila
membungkuk akan terjadi fleksi pada lutut sisi yang sakit.
3. Pemeriksaan Non Neurologik
- Pemeriksaan rectal, bila menduga adanya karsinoma prostat yang
metastase ke tulang, sindrom piriformis, penyakit urologik atau
ginekologik yang berada di panggul
- Pemeriksaan vaginal, bila menduga adanya gangguan pada
uterosacral ligament, misalnya penjalaran karsinoma uteri, malposisi
uterus, myoma uteri
- Pemeriksaan untuk mengetahui mobilitas dari sacroiliac joint
c. Pemeriksaan Laboratorium2,3

10

1. Pemeriksaan darah, seperti darah lengkap, LED, protein elektroporesis,


elektrolit, rheumatoid faktor, dan lain lain.
2. Pemeriksaan cairan otak, pada tumor myelum mungkin dijumpai
kenaikan jumlah protein tanpa kenaikan jumlah sel. Pada keradangan
myelum akan dijumpai kenaikan jumlah sel.
d. Pemeriksaan Radiologi3
1. Plain X-Ray
oblique

Columna Vertebralis, dalam posisi AP, lateral, atau

untuk

mendapatkan

gambaran

yang

lebih

jelas

dari

intervertebral space, foramen intervetebralis, dan sendi sacroiliac.


2. Discografi, digunakan untuk mendapatkan sumber nyeri berdasarkan
anatomi. Dengan ini dapat diketahui adanya penyakit degeneratif pada
discus yang dapat menimbulkan nyeri.
3. CT Scan dan MRI, dapat memperlihatkan beberapa kelainan seperti
stenosis kanal sentral, lateral recess entrapment, fraktur, tumor, dan
infeksi. Bisa dilakukan dengan atau tanpa kontras.
2.6 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Low Back Pain Akut5,6
Sebagian besar pasien dapat diatasi secara efektif dengan kombinasi dari
pemberian informasi, saran, analgesia, dan jaminan yang tepat. Pasien juga
harus disemangati untuk segera kembali bekerja. Penjelasan dan saran
dapat juga dalam bentuk tertulis. Kronisitas low back pain dapat dihindari
dengan: memperhatikan aspek psikologis gejala yang ada, menghindari
pemeriksaan

yang

tidak

perlu

dan

berlebihan,

menghindari

penatalaksanaan yang tidak konsisten, serta memberikan saran untuk


mencegah rekurensi seperti menghindari mengangkat beban yang berat.
b. Penatalaksanaan Low Back Pain Kronik yang Menyebabkan Disabilitas5,6
Pengaruh terpenting dalam perkembangan kronisitas adalah psikologikal
dibandingkan dengan biomekanikal. Faktor-faktor psikologis yang
dimaksud adalah distress berat, kesalahpahaman tentang nyeri dan
implikasinya, serta penghindaran aktivitas karena takut membuat rasa
nyeri bertambah parah. Pilihan terapinya adalah interdisciplinary pain
management programme (IPMP), yang memfokuskan pada fungsi
dibandingkan penyakit, tatalaksana dibandingkan penyembuhan, integrasi

11

beberapa terapi spesifik, menekankan pada metode aktif daripada pasif,


dan self care daripada hanya menerima terapi.
c. Penatalaksanaan Low Back Pain Non Spesifik5,6
- Aktivitas, lakukan aktivitas normal. Penting untuk melanjutkan kerja
seperti biasanya.
- Tirah baring, tidak dianjurkan sebagai terapi, tetapi pada beberapa kasus
dapat dilakukan. Tirah baring 2-3 hari pertama bisa untuk mengurangi
nyeri.
- Medikasi, obat analgetik diberikan dengan interval biasa dan digunakan
jika diperlukan, dimulai dengan parasetamol atau NSAID. Jika tidak
ada

perbaikan,

coba

campuran

parasetamol

dengan

opioid.

Pertimbangkan tambahan muscle relaksan hanya untuk jangka pendek,


mengingat bahaya ketergantungan.
- Manipulasi, dipertimbangkan untuk kasus yang membutuhkan obat
penghilang nyeri ekstra dan belum dapat kembali bekerja dalam 1-2
minggu.

12

DAFTAR PUSTAKA

1.

Dundas T. Clinical practice guideline for low back pain. BCMJ.


2011;53(7):36-42.

2.

Deyo RA, Weinstein JN. Low Back Pain. N Engl J Med. 2001;344:363-70.

3.

Jackson MA, Simpson KH. Chronic Back Pain. Continuing Education in


Anaesthesia, Critical Care & Pain. 2006;6(4):152-5.

4.

Goodman DM, Burke AE, Livingston EH. Low Back Pain. JAMA.
2013;309(16):17-38.

5.

Delitto A, dkk. Low Back Pain: Clinical Practice Guidelines Linked to the
International Classification of Functioning, Disability, and Health. Journal of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy. 2012;42(4):1-57.

6.

Bodguk N. Management of chronic low back pain. Med J Aust.


2004;180(2):79-83.

13