Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Alat kesehatan yang diproduksi dan beredar diharapkan dapat terjamin
keamanan, mutu dan manfaat. Untuk memenuhi persyaratan tersebut dalam
produksinya harus memenuhi pedoman Cara Produksi Alat Kesehatan yang Baik
(CPAKB).
Pedoman tersebut telah disusun oleh Direktorat Bina Produksi dan Distribusi
Alat Kesehatan tahun 2006 berdasarkan acuan ISO 13485 : Medical Device
Quality Managemen System - Requirements for Regulatory Purposes dengan
melibatkan semua stake holder yang terkait sehingga diharapkan pedoman CPAKB
dapat digunakan sebagai acuan bagi semua pihak. Untuk melaksanakan pedoman
CPAKB disusun Petunjuk Teknis Cara Produksi Alat Kesehatan yang Baik yang
berisi petunjuk rinci bagi produsen dan stake holder yang terkait dalam rangka
menjamin keamanan, mutu dan manfaat dalam seluruh aspek produksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DETERGENT
Deterjen adalah campuran senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan
pembersih. Limbah cair deterjen banyak berasal dari air buangan domestik,
misalnya air bekas mandi, bekas cuci pakaian, perabotan rumah tangga serta jasa
pencucian komersial, buangan industri tekstil, pewarnaan industri komestik, dll.
Kandungan dari deterjen adalah materi organik yang dapat menurunkan tegangan
permukaan dan membentuk jembatan antara kotoran dengan senyawa pelarut
Deterjen terdiri dari surfaktan, builder yang berfungsi meningkatkan daya cuci
dan bahan aditif lainnya. Deterjen memiliki struktur kimia yang terdiri dari ujung
karbon hidrofobik dan ujung sulfat sehingga dapat mengemulsi lemak. Istilah
deterjen biasanya digunakan untuk berbagai macam bahan pembersih atau bahan
yang memiliki kemampuan membersihkan. (Sawyer, 1994).
JENIS-JENIS DETERGENT
Berdasarkan senyawa organik yang dikandungnya, detergen dikelompokkan
menjadi :
a. Detergen anionik (DAI)

Merupakan detergen yang mengandung surfaktan anionik dan dinetralkan


dengan alkali. Detergen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif apabila
dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan untuk pencuci kain. Kelompok utama dari
detergen anionik adalah rantai panjang (berlemak) alkohol sulfat, alkil aril sulfonat
, Olefin sulfat dan sulfonat

b. Detergen kationik
Merupakan detergen yang mengandung surfaktan kationik. Detergen ini akan
berubah menjadi partikel bermuatan positif ketika terlarut dalam air, biasanya
digunakan pada pelembut (softener). Selama proses pembuatannya tidak ada
netralisasi tetapi bahan-bahan yang mengganggu dihilangkan dengan asam kuat
untuk netralisasi. Agen aktif permukaan kationik mengandung kation rantai panjang
yang memiliki sifat aktif pada permukaannya. Kelompok utama dari detergen kationik
adalah :

Amina asetat (RNH3)OOCCH3 (R=8 sampai 12 atom C)

Alkil trimetil amonium klorida (RN(CH3))3+ (R=8 sampai 18 atom karbon)

Dialkil dimetil amonium klorida (R2N(CH3)2)+Cl- (R=8 sampai 18 atom karbon)

Lauril dimetil benzil amonium klorida (R 2N(CH3)2CH2C2H6)Cl


c. Detergen nonionik
Senyawa yang tidak mengandung molekul ion sementara, kedua asam dan

basanya merupakan molekul yang sama. Detergen ini tidak akan berubah menjadi
partikel bermuatan apabila dilarutkan dalam air tetapi dapat bekerja di dalam air
sadah dan dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. Kelompok
utama dari detergen nonionik adalah :

Etilen oksida atau propilen oksida

Polimer polioksistilen

Alkil amida
d. Detergen Amfoterik
Detergen jenis ini mengandung kedua kelompok kationik dan anionik.

Detergen ini dapat berubah menjadi partikel positif, netral, atau negatif bergantung
kepada pH air yang digunakan. Biasanya digunakan untuk pencuci alat-alat rumah
tangga. Kelompok utama dari detergen ini adalah : Natrium lauril sarkosilat
( CH3(CH2)10CH2NHCH2CH2CH2COONa) dan natrium mirazol.
PEMBUATAN DETERJEN
Bahan dasarnya adalah dodekil benzena. Reaksi dilakukan dalam reaktor
bersisi kaca yang dipasang dengan mixer efisien. Dodekil benzena dimasukkan ke
dalam reaktor kaca dicampur dengan asam 22% oleum, pada suhu antara 32-46C.
Kemudian dicampurkan pada suhu 46C selama kurang lebih 2 jam sampai reaksi
selesai. Tahapan berikutnya netralisasi dengan NaOH yang memberikan 60% alkil
aril sulfonat dan 40% diluet (natrium sulfat). Adapun pembuatan deterjen dengan
berbagai jenis deterjen dilakukan sebagai berikut :
a. Detergen Anionik
Alkil aril sulfonat terbentuk dari sulfonasi alkil benzena, alkil benzena
mengandung inti dengan satu atau lebih rangkaian alifatik (alkil). Inti alkil benzena
bisa benzena, toluene, xylena, atau fenol. Alkil benzena yang biasa digunakan
adalah jenis DDB (deodecil benzena). Pembuatan deodecil benzena (C 6H6C12H25)
dilakukan dengan alkilasi benzena dengan alkena (C 12H24) dibantu dengan katalis
asam. Alkilasi benzena kemudian dilakukan reaksi Fiedel-Craft. Detergen alkil
benzena yang dihasilkan melalui proses Fiedel-Craft memliki sifat degradasi biologis

yang buruk karena terdapat 300 isomer dari propilen tetramer. Olefin sulfat dan
sulfonat diproses dengan tiga cara, yaitu :
a) Proses Oxo Olefin direaksikan dengan karbon monoksida dan hidrogen pada
suhu 160C sampai 175C dengan tekanan 100-250 atm, menghasilkan
aldehida. Aldehida kemudian dihidrogenasi dengan bantuan nikel sebagai
katalis sehingga menghasilkan suatu senyawa alkohol. Aldehida berkurang
pada saat terbentuknya alkohol. Alkohol yang dihasilkan dari proses oxo
sebagian besar memiliki berat molekul kecil dibandingkan berat molekul
alkohol alami. Oxo-alkohol yang memiliki berat molekul tinggi mengalami
sulfonasi. Alkohol ini banyak digunakan untuk kosmetik dan produk cairan
rumah tangga (tidak digunakan untuk bahan dasar pembuatan detergen).
b) Proses Alfol ( Proses Ziegar) Pada proses ini aluminium trietil dihilangkan
dengan logam aluminium dan hidrogen untuk menghasilkan dietilaluminium
hidrida. Hidrida dihilangkan dengan etena untuk menghasilkan 3 mol
aluminium trietil. Dua pertiganya didaur ulang, sementara sisa trietil
direaksikan dengan etena untuk menghasilkan campuran berat molekul tinggi
pada aluminium alkil. Kemudian alkil aluminium dioksidasi dan dihidrolisis
dengan air untuk menghasilkan alkohol dan aluminium hidroksida.
c) Proses WI. Welsh Pada proses ini alfa olefin direaksikan dengan hidrogen
bromida dengan bantuan peroksida atau cahaya ultraviolet. Alkil bromida
diubah menjadi ester melalui logam halida yang katalisasi dengan asam
organik. Ester kemudian dihidrolisis menghasilkan alkohol.
b. Detergen kationik
Amina asetat (RNH3)OOCCH3 Dihasilkan dengan menetralisasi amina lemak
dengan asam asetat dan dapat larut dalam air. Alkil trimetil ammonium klorida

(RN(CH3))3+Cl- Dihasilkan dari alkilasi lengkap amina lemak atau tetriari amina
dengan alkil halida lemak
c. Detergen nonionik
Proses pembuatannya dengan mereaksikan senyawa yang mengandung
kelompok hidrofobik dengan etilen oksida atau propilen oksida, dilakukan pada suhu
150-220C. Hasil yang diperoleh dinetralkan dengan 30% asam sulfur dan asam
asetat glasial.
e. Detergen amfoterik Proses pembuatannya yaitu amina lemak dasar (lauril
amina) direksikan dengan metil akrilat untuk menghasilkan ester N-lemak- amino propionik. Kemudian disaponifikasi dengan NaOH membentuk garam
natrium.
RANCANGAN PRODUKSI

Pembuatan deterjen cair


Langkah 1 - pembuatan premix Sabun
Deterjen cair mengandung sabun serta surfaktan sintetik. Hal yang pertama
dibuat adalah premixnya, bahan kemudian lain dicampur ke dalamnya. Langkah ini

hanya terdiri dari penetralan lemak dengan soda kaustik (NaOH) atau kalium
hidroksida.
Langkah 2 Pencampuran bahan
Semua bahan kecuali enzim ditambahkan dan dicampur pada suhu tinggi.
bahan-bahan digunakan dalam pembuatan deterjen cair biasanya natrium
tripolifosfat, soda kaustik, asam sulfonat, parfum dan air. Fungsi bahan-bahan ini
telah diuraikan pada tabel di atas.
Langkah 3
Campuran didinginkan dan digiling, dan enzim ditambahkan dalam bentuk
bubuk.
Analisis Deterjen
Penentuan Sulfat (SNI 06-6989.20-2004)
Penentuan Sulfat ini diambil dari deterjen yang telah dibuat menjadi limbah.
Penentuan sulfat dilakukan dengan metode turbidimetri. Pada metode ini
digunakan reagen kondisi dan kristal barium klorida. Prinsipnya yaitu terbentuknya
koloid BaSO4 berupa larutan keruh karena anion sulfat akan bereaksi dengan barium
klorida dalam suasana asam. Larutan ini kemudian diukur dengan menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm (Aprianti, 2008).
Batas kadar sulfat terlarut yang terdapat dalam air yang dapat diukur adalah
1-40 mg/L pada panjang gelombang 420 nm (SNI 06-2426-1991). Ion sulfat
diendapkan dalam suatu medium HCl dengan BaCl 2 sehingga terbentuk koloid
barium sulfat.
SO42- + BaCl2 putih BaSO4 + 2ClPenelitian

ini

menunjukkan

bahwa

kadar

sulfat

dalam

sampel

air

limbah laundry yang diambil masih berada di bawah ambang batas menurut
Permenkes No.416/MENKES/PER/IX/1990, yaitu 400 ppm untuk kualitas air bersih
dan Permenkes No.429/MENKES/PER/IV/2010, yaitu 250 ppm untuk kualitas air
minum.
Analisis Penguraian Limbah Deterjen (Biodegradbilitas)

Konsesntrasi deterjen anionic diukur menggunakan metode Metilen Blue


Active Substances (MBAS). Menggunaka alat spektrofotometer UV-Vis untuk
mengukur absorbansinya.
Untuk menganalisis kemampuan biodegradibilitasnya, digunakan lumpur
biologis

yang

telah

mengandung

beberapa

mikroorganisme

kemampuannya dalam menguraikan deterjen tersebut.

untuk

melihat

Analisis Iritasi Kulit secara In-Vitro


Analisis ini menggunakan Reconstructed human epidermis (RhE) yang
mengandung keratinosit.Uji dilakukan dengan deterjen dioleskan secara topical pada
model RhE 3 dimensi, terdiri atas keratinosit epidermal derivate manusia yang
ditransformasi, telah dikulturisasi untuk membentuk multilayer yang tersusun atas
lapisan

basal,

spinosus,

dan

granular, serta

multilayer

stratum

corneum

mengandung lapisan lipid lamelar interselular. Bahan kimia yang menginduksi iritasi
akan tampak dengan adanya eritema atau oedema sebagai hasil bahan kimia yang
terpenetrasi masuk ke bagian bawah keratinosit dan sel kulit lain.
Analisis Busa
Dilakukan dengan pengocokan selama beberapa menit deterjen yang telah
dicampurkan ke dalam air untuk melihat kemampuannya menghasilkan busa secara
maksimal.
Analisis pH
Menggunakan pH meter untuk mengetahui tingkat kebasaan sabun.
Analisis MIC
Mengetahui kadar hambat minimal deterjen terhadap mikroorganisme umum
seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeroginosa, dan
sebagainya.
Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia 06-3235-1994
dapat dilihat pada Tabel 1.

1. Kadar Air
Kadar air merupakan bahan yang menguap pada suhu dan waktu tertentu.
Maksimal kadar air pada sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun yang
dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian dan sabun tidak
mudah larut dalam air. Kadar air akan mempengaruhi kekerasan dari sabun (Qisti,
2009).
2. Jumlah Asam Lemak
Jumlah asam lemak merupakan jumlah total seluruh asam lemak pada sabun
yang telah atau pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun yang berkualitas baik
mempunyai kandungan total asam lemak minimal 70%, hal ini berarti bahan-bahan
yang ditambahkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan sabun kurang dari 30%.
Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses pembersihan kotoran berupa minyak
atau lemak pada saat sabun digunakan. Bahan pengisi yang biasa ditambahkan
adalah madu, gliserol, waterglass, protein susu dan lain sebagainya. Tujuan
penambahan bahan pengisi untuk memberikan bentuk yang kompak dan padat,
melembabkan, menambahkan zat gizi yang diperlukan oleh kulit (Qisti, 2009).
3. Alkali Bebas
Alkali bebas merupakan alkali dalam sabun yang tidak diikat sebagai
senyawa. Kelebihan alkali bebas dalam sabun tidak boleh lebih dari 0,1% untuk
sabun Na, dan 0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang keras
dan menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun dapat

disebabkan karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses
penyabunan. Sabun yang mengandung alkali tinggi biasanya digunakan untuk
sabun cuci (Qisti, 2009).
4. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas merupakan asam lemak pada sabun yang tidak terikat
sebagai senyawa natrium atau pun senyawa trigliserida (lemak netral). Tingginya
asam lemak bebas pada sabun akan mengurangi daya membersihkan sabun,
karena asam lemak bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam
proses pembersihan. Sabun pada saat digunakan akan menarik komponen asam
lemak bebas yang masih terdapat dalam sabun sehingga secara tidak langsung
mengurangi kemampuannya untuk membesihkan minyak dari bahan yang
berminyak (Qisti, 2009).
5. Minyak Mineral
Minyak mineral merupakan zat atau bahan tetap sebagai minyak, namun saat
penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai dengan
kekeruhan. Minyak mineral adalah minyak hasil penguraian bahan organik oleh
jasad renik yang terjadi berjuta-juta tahun. Minyak mineral sama dengan minyak
bumi beserta turunannya. Contoh minyak mineral adalah: bensin, minyak tanah,
solar, oli, dan sebagainya. Kekeruhan pada pengujian minyak mineral dapat
disebabkan juga oleh molekul hidrokarbon dalam bahan (Qisti, 2009).