Anda di halaman 1dari 22

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
PENAMBAHAN PEMBELAJARAN OUTDOOR LEARNING
BERBASIS INKUIRI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

BIDANG KEGIATAN

PKM GAGASAN TERTULIS

Disusun oleh :
Indeka Dharma Putra

Pendidikan Biologi

(3415122159/2012)

Karina Pravitasari

Pendidikan Biologi

(3415131024/2013)

Rahma Amalia

Pendidikan Biologi

(3415136418/2013)

Tiara Arisenda K.

Pendidikan Biologi

(3415133073/2013)

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


JAKARTA
2015

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ....................................................................................... i


Daftar Isi .......................................................................................................... ii
Daftar Grafik ................................................................................................... iii
Daftar Gambar ................................................................................................ iii
Ringkasan ......................................................................................................... 4

PENDAHULUAN ............................................................................................. 5
1. Latar Belakang ....................................................................................... 5
2. Tujuan ..................................................................................................... 6
3. Manfaat .................................................................................................. 6

GAGASAN ......................................................................................................... 7
1. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan ...................................................... 7
2. Solusi yang Pernah Ditawarkan ............................................................. 8
3. Gagasan Baru yang Ditawarkan .............................................................. 9
4. Pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan ................................ 10
5. Langkah-langkah Penerapan Gagasan ................................................... 11

KESIMPULAN ................................................................................................... 12
1. Konsep Gagasan ....................................................................................... 12
2. Langkah Strategis Implementasi Gagasan ............................................... 12
3. Prediksi Keberhasilan Gagasan ............................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 13


DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... iii

ii

DAFTAR TABEL

Grafik 1 .............................................................................................................. 5

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.............................................................................................................. 20
Gambar 2 ............................................................................................................. 20
Gambar 3 ............................................................................................................. 21
Gambar 4 ............................................................................................................. 21

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota .......................................................... 14


Lampiran 2. Susunan Organisasi Tim dan Pembagian Tugas ........................... 18
Lampiran 3. Surat pernyataan Ketua Tim .......................................................... 19
Lampiran 4. Gambar Terkait Implementasi Gagasan ........................................ 20

iii

RINGKASAN
Pada program kreativitas mahasiswa kali ini kami ingin menuangkan
gagasan kami yang berjudul Penambahan Pembelajaran Outdoor Learning Berbasis
Inkuiri pada Siswa Sekolah Menengah Pertama, kami memilih gagasan ini
dikarenakan saat ini banyak sekali siswa remaja yang kurang peduli dengan
lingkungan sekitarnya, disini di buktikan dengan keadaan lingkungan sekolah yang
tidak bersih dan hal tersebut dapat mengganggu siswa menjalankan proses belajar
mengajar.
Gagasan ini bertujuan untuk membangun moral remaja (murid Sekolah
Menengah Pertama) untuk memahami mengenai konservasi, penerapan konservasi,
dan pentingnya keseimbangan alam demi kelangsungan hidup manusia dan
makhluk lainnya. Pada gagasan ini, kami ingin menambahkan jam pelajaran pada
siswa SMP 1 kali pertemuan per 1 minggu, dalam waktu pelajaran ini kami ingin
membawa siswa SMP keluar dari kelas dan mengamati lingkungan alam yang
berada di sekitar lingkungan sekolah, siswa di beri kesempatan untuk mengamati
setelah siswa telah selesai mengamati maka siswa akan di arahkan untuk metode
diskusi dimana saat diskusi siswa dapat menanyakan ataupun menyampaikan hal
apa saja yang dilihatnya, setelah itu guru memberikan konfirmasi tentang hal yang
diamati siswa. Setelah jam pelajaran habis maka siswa akan kembali ke dalam kelas
dan melanjutkan pelajarannya lagi.
Dengan adanya tambahan jam pelajaran ini diharapkan siswa akan sadar dengan
kondisi lingkungannya, dapat melakukan konservasi sederhana di lingkungan
sekitarnya, siswa yang dapat lebih mencintai lingkungan, dan akan lebih merawat
lingkungannya.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Melihat semakin rusaknya lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia,
menimbulkan keprihatinan di beberapa kalangan manusia, termasuk mahasiswa
Biologi yang memiliki tugas lain sebagai agen konservasi. Bahkan saat ini,
kerusakan lingkungan tidak hanya disebabkan oleh orang yang sudah berumur
dewasa tetapi juga oleh remaja dan anak-anak. Meskipun kerusakan lingkungan
yang dilakukan remaja dan anak-anak nampak tidak terlalu besar tapi tetap saja hal
tersebut akan berefek bola salju ke depannya. Dengan moral yang masih belum
memahami benar tentang dampak kerusakan lingkungan, tentunya remaja dan
anak-anak tidak dapat disalahkan begitu saja atas perbuatan yang mereka lakukan,
ada andil manusia dewasa yang turut mempengaruhi perilaku remaja dan anakanak.
Seperti kita ketahui bahwa remaja dan anak-anak memilki andil dalam
pengerusakan lingkungan, tapi juga memiliki andil besar dalam melestarikan
lingkungan. Oleh karena itu, moral dan pengertian remaja serta anak-anak yang
masih dapat dikembangkan dengan baik, dapat menjadi celah untuk membangun
moral konservasi pada remaja dan anak-anak. Dan dengan dasar moral dan
konservasi yang baik tersebut, maka remaja dan anak-anak dapat berandil lebih
dalam konservasi lingkungan.
Moral konservasi ini dapat dikembangkan pada anak ketika dia belajar di
sekolah. Sekolah merupakan tempat dimana anak dapat menimba ilmu dan
menanamkan ilmu tersebut pada dirinya masing-masing dan juga lingkungan
sekitarnya. Selain itu, sekolah juga mempunyai peranan penting dalam membentuk
sikap dan kepribadian siswa terutama sikap mereka terhadap konservasi. Pemberian
materi tentang konservasi biasanya sudah diberikan oleh sekolah melalui pelajaran
biologi dan PLKH (Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan). Namun,
pembelajaran mata pelajaran ini dirasa belum cukup untuk menumbuhkan sikap
peduli dan jiwa konservasi siswa terhadap lingkungannya. Karena, pembelajaran
yang sering diberikan oleh sekolah-sekolah hanya berupa teori saja, bukan praktek
langsung pada lingkungan sekitarnya. Sekolah juga biasanya hanya melakukan
pembelajaran di dalam ruangan atau Indoor Learning daripada di luar ruangan atau
Outdoor Learning. Hal-hal ini yang membuat siswa tidak belajar secara langsung
mengenai fenomena alam berdasarkan pengamatannya sendiri sehingga proses
pembelajaran tidak bermakna dan siswa banyak yang tidak menerapkan konservasi
alam terhadap lingkungan.
Strategi pembelajaran yang tepat untuk menanamkan jiwa konservasi pada
siswa, yaitu Outdoor Learning. Outdoor Learning merupakan salah satu strategi
pembelajaran yang memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Pendekatan ini

berpengaruh terhadap minat, sikap dan hasil belajar siswa (Ali, 2008; Syawiji,
2009), namun kegiatan Outdoor Learning sering belum mendekati konteks
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan
inkuiri. Dalam kegiatan Outdoor Learning yang dilakukan siswa hanya sekedar
melakukan pengamatan saja, dan mengutamakan kegiatan pembelajaran yang
menyenangkan, sedangkan ketrampilan proses dan sikap ilmiah siswa kurang
terasah. Oleh karena itu, strategi pembelajaran ini dapat digabungkan dengan
Outdoor Learning berbasis inkuiri yang berpotensi mempengaruhi hasil dan sikap
belajar siswa, baik dalam ranah kognitif, afektif, psikomotornya, terutama aksi
konservasi mereka terhadap lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal
mereka.
Oleh sebab itu, kami ingin mengusulkan program kerja mahasiswa gagasan
tertulis yang berjudul Penambahan Pembelajaran Outcome Learning Berbasis
Inkuiri pada Siswa Sekolah Menengah Pertama. Kami memilih siswa sekolah
menengah pertama, dikarenakan siswa SMP daya berpikirnya sudah mulai
terbentuk dan juga karena siswa SMP merupakan masa transisi dimana siswa-siswa
tersebut akan banyak ingin tahu dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dengan
begini diharapkan siswa-siswa SMP tersebut dapat menerapkan jiwa konservasi
pada dirinya maupun orang lain dan melakukan konservasi pada lingkungan baik
dari sekarang hingga masa depan nantinya.

2. Tujuan
Membangun moral remaja (murid Sekolah Menengah Pertama) untuk
memahami mengenai konservasi, penerapan konservasi, dan pentingnya
keseimbangan alam demi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya.

3.

Manfaat
Membangun moral manusia yang memahami konservasi.
Siswa dapat melakukan konservasi sederhana di lingkungan sekitarnya.
Membangun jiwa siswa yang mencintai lingkungan.

GAGASAN
1. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
Dewasa ini banyak siswa-siswa khususnya siswa Sekolah Menengah
Pertama kurang mencintai lingkungan sekitarnya, bahkan terkadang banyak siswa
yang merusak lingkungan sekitarnya, contohnya saja membuang sampah
sembarangan. Jika, siswa terus-menerus membuang sampah sembarangan, maka
akan menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungannya, seperti
banjir. Menurut data statistik yang dikemukakan oleh Walhi saja, sebagian besar
kota-kota di Indonesia setiap tahunnya selalu dilanda banjir besar dan penyebab
utamanya adalah sampah. Berikut grafik yang dikemukakan oleh Walhi mengenai
kejadian banjir dan penyebab banjir di Indonesia.

Grafik 1. Kejadian Banjir dan Penyebab Banjir di Indonesia

Melihat kondisi tersebut sungguh memprihatinkan, apalagi hal ini


disebabkan oleh ulah manusia, terutama orang dewasa. Walaupun kebanyakan hal
ini disebabkan oleh orang dewasa, tapi jika anak kecil atau siswa juga sudah
melakukan perbuatan tercela ini dari kecil, tentuya tidak menutup kemungkinan
perbuatan ini akan terus dilakukan terus-menerus hingga mereka dewasa nanti.
Meskipun, sudah ada beberapa siswa yang sudah memperhatikan
lingkungan, tapi sebagian besar siswa belum memperhatikan lingkungannya. Siswa
yang belum memperhatikan lingkungannya, biasanya siswa tersebut kurang
mendapat pengetahuan tentang lingkungan dan konservasi atau belum memahami
konsep dari pengetahuan tersebut, sehingga siswa sulit menerapkannya dalam
kehidupan sehari-harinya. Padahal, pemberian pengetahuan ini harus dilakukan
sejak dini, agar ke depannya siswa sudah dapat menerapkannya dalam kehidupan
sehari-harinya. Pengetahuan ini dapat dibentuk dan dibangun ketika siswa belajar
di sekolah.

Oleh karena itu, sekolah mempunyai peranan penting dalam membangun


pengetahuan tersebut kepada setiap siswa. Tapi, kebanyakan sekolah hanya
memberikan banyak teori dibandingkan dengan terjun langsung ke lapangan.
Sehingga dengan terlalu banyak teori ini, siswa menjadi kurang tanggap dengan
keadaan lingkungan sekitarnya. Pengajaran yang dilakukan di dalam kelas, juga
membuat siswa tidak belajar secara langsung mengenai fenomena alam berdasarkan
pengamatannya sendiri sehingga proses pembelajaran tidak bermakna.

2. . Solusi yang Pernah Ditawarkan


Sebelumnya, untuk menanamkan dan menciptakan rasa dan sikap peduli
siswa terhadap lingkungannya, pemerintah sudah memberikan solusi. Salah
satunya, pada tahun 1977/1978 pemerintah merintis Garisgaris Besar Program
Pengajaran Lingkungan Hidup yang kemudian diujicobakan di 15 Sekolah Dasar
Jakarta. Kemudian, pada tahun 1986, Pendidikan Lingkungan Hidup dan
Kependudukan dimasukkan ke dalam pendidikan formal dengan dibentuknya mata
pelajaran Pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH). Hal ini
dilakukan oleh Depdikbud, karena menurut Depdikbud sendiri PKLH harus mulai
diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Tidak hanya menambahkan mata
pelajaran PKLH, tapi Depdikbud sejak tahun 1989/1990, juga sudah memberikan
berbagai pelatihan tentang lingkungan hidup bagi guru-guru SD, SMP dan SMA
termasuk Sekolah Kejuruan.
Sebagian sekolah di Indonesia pun juga sudah menambahkan pelajaran
PLKH ini ke dalam mata pelajaran di sekolahnya, walaupun masih ada beberapa
sekolah di sebagian kota di Indonesia yang belum bisa menerapkan mata pelajaran
ini, karena kurangnya sosialisasi dan kurangnya fasilitas sekolah dari pemerintah.
Pemberian pengetahuan lingkungan ini tentunya sangat mempengaruhi sikap siswa
terhadap lingkungannya. Meskipun, penerapan pelajaran PLKH ini juga dirasa
belum maksimal, karena sebagian sekolah hanya memberikan teori saja, bukan
berupa penerapan langsung pada lingkungan. Kondisi proses belajar mengajar yang
dilakukan di dalam kelas (Indoor Learning), juga membuat siswa kurang maksimal
dalam menerapkan sikap peduli dan konservasi pada lingkungannya, karena mereka
tidak melihat secara langsung kondisi lingkungan dan mereka tidak tahu bagaimana
cara menerapkan sikap peduli dan konservasi secara langsung pada lingkungan,
baik lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal mereka masingmasing. Maka dari itu, dibutuhkan strategi pembelajaran yang memungkinkan
siswa untuk dapat mengenal lingkungan dan alam sekitarnya dan kondisi
lingkungan dan alam tersebut secara langsung, salah satunya strategi pembelajaran
yang dirasa sesuai adalah Outdoor Learning.

3. Gagasan Baru yang Ditawarkan


Outdoor Learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang
memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berpengaruh terhadap
minat dan hasil belajar siswa (Ali, 2008; Syawiji, 2009), namun kegiatan Outdoor
Learning sering belum mendekati konteks pembelajaran yang memberi kesempatan
kepada siswa untuk melakukan kegiatan inkuiri. Dalam kegiatan Outdoor Learning
yang dilakukan siswa hanya sekedar melakukan pengamatan saja, dan
mengutamakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, sedangkan
ketrampilan proses ilmiah siswa kurang terasah. Oleh karena itu, hal ini dapat
digabungkan dengan Outdoor Learning berbasis inkuiri yang berpotensi
mempengaruhi hasil belajar siswa, baik dalam ranah kognitif, afektif dan
psikomotornya. Masih sedikit sekali informasi mengenai pengaruh Outdoor
Learning berbasis inkuiri terhadap hasil belajar siswa dan sikap siswa. Karena,
Outdoor Learning jarang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar, karena
berkaitan dengan sulitnya pengelolaan kelas yang merepotkan guru dan dalam
pelaksanaanya membutuhkan manajemen waktu yang ketat. Padahal banyak sekali
keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai
sumber belajar. Melalui pemanfaatan lahan di sekitar sekolah memungkinkan siswa
untuk belajar secara langsung mengenai fenomena alam berdasarkan
pengamatannya sendiri sehingga proses pembelajaran lebih bermakna dan siswa
dapat melakuakan konservasi secara langsung pada lingkungan sekolahnya
(Saptono 2009).
Oleh sebab itu, Outdoor Learning penting untuk diterapkan dalam
pembelajaran. Begitu juga dengan inkuiri, Scientific inquiry penting dikembangkan
dalam pembelajaran sains, seperti pembelajaran konservasi, pada tiap jenjang
pendidikan karena dalam pembelajaran siswa dilibatkan secara maksimal sehingga
dapat menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah (Rustaman,
2005; Wibowo, 2010; Gul 2002).
Adanya Outdoor Learning, kebosanan siswa dalam menerima pelajaran
juga dapat diatasi. Karena, Outdoor Learning berbasis inkuiri menuntut siswa untuk
mengeksplorasi lingkungan sekitar untuk menemukan sendiri dan mengamati
secara langsung objek dan kondisi lingkungan yang dipelajari sehingga dalam
memahami konsep menjadi lebih mudah dan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa dan sikap peduli siswa terhadap lingkungan. Melalui Outdoor Learning
berbasis Inkuiri ini juga, siswa berkesempatan untuk mengonstruksi sendiri
pengetahuan dengan cara berpikir kritis dan mendapatkan pengalaman nyata,
sehingga pembelajaran lebih bermakna.
Kegiatan pembelajaran konservasi melibatkan proses sains dengan
melakukan kegiatan pengamatan di lingkungan. Aktivitas yang dilakukan adalah
mencatat hasil pengamatan, siswa juga merancang dan mengorganisasikan kegiatan
proyek konservasi, serta membuat laporan kegiatan. Pengalaman-pengalaman

nyata yang dialami siswa akan membangun pengetahuan dalam diri siswa, hal ini
sesuai dengan pendapat Saptono (2009) yang menyatakan bahwa pembelajaran
yang mampu memberikan pengalaman nyata dapat meningkatkan hasil belajar
siswa dan sikap peduli siswa terhadap lingkungan dan alam sekitarnya. Sementara
itu, jika pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas kontrol siswa lebih banyak
mendapatkan pengetahuan secara langsung dari ceramah guru. Sholihin (2009)
mengatakan apabila penekanan pembelajaran terletak pada penyampaian informasi
secara langsung, siswa tidak akan banyak belajar untuk mendapatkan pemahaman
konsep yang mendalam.
Dengan demikian jika konsep atau materi ajar konservasi diajarkan dengan
cara tersebut di atas, yaitu dengan melibatkan siswa secara aktif (bukan hanya
mengisi LKS tetapi aktif secara mental) maka diharapkan terbentuk siswa yang
memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang peduli terhadap masalah
lingkungan dan mampu berperan aktif dalam memecahkan masalah lingkungan,
memiliki kemampuan menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan
dalam kehidupan sehariharinya.
Pengetahuan dan pengalaman siswa, juga dapat ditularkan kepada orang
lain seperti kepada orangtuanya, saudara-saudaranya, teman bermain di lingkungan
tempat tinggalnya. Dengan demikian akan terbangun masyarakat yang peduli dan
mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan. Jika masyarakat
mampu menerapkan prinsip keberlanjutan dan etika lingkungan maka masalah
lingkungan dapat diatasi.
4.

Pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan

Hal-hal tersebut dapat direalisasikan, jika pihak-pihak tertentu dapat


membantu mengimplementasikan gagasan ini, seperti pemerintah, sekolah dan
guru. Pemerintah dapat berkontribusi dengan cara mensosialisasikan betapa
pentingnya memberikan pelajaran konservasi melalui Outdoor Learning berbasis
inkuiri terhadap siswa kepada sekolah dan memberikan izin kepada setiap sekolah
khususnya Sekolah Menengah Pertama dalam menerapkan gagasan tersebut.
Pemerintah juga dapat mengadakan sosialisasi dan pelatihan terhadap guru-guru
Sekolah Menengah Pertama khusunya guru biologi atau guru lingkungan hidup,
agar dapat menjadi guru yang lebih profesional dan dapat menerapkan pelajaran
lingkungan dan konservasi ini melalui Outdoor Learning berbasis inkuiri ini
terhadap siswa-siswanya.
Berhasil tidaknya gagasan ini dipengaruhi oleh peran guru. Karena, guru
disini berperan dalam menyampaikan pelajaran ini terhadap siswa-siswanya. Jika,
seorang guru berhasil dalam mengimplementasikan pelajaran tersebut terhadap
siswa-siswanya dan siswa dapat mengimplementasikan pelajaran lingkungan dan
konservasi ini terhadap kehidupannya, maka gagasan ini dinyatakan berhasil.

10

Sedangkan, sekolah dalam hal ini berperan sebagai pengontrol kegiatan proses
belajar mengajar ini dan memberikan sosialisasi pada guru biologi atau lingkungan
hidup agar dapat menerapkan pembelajaran tersebut kepada setiap siswa-siswanya.
5. Langkah-langkah Penerapan Gagasan
a) Pemerintah pendidikan memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada
guru sekolah dan guru.
b) Sekolah mendapat surat perizinan dari pemerintah, agar dapat
membawa siswa ke luar kelas pada saat jam pelajaran
c) Setelah diberikan izin, guru yang bersangkutan khususnya guru
pendidikan lingkungan hidup dapat membawa siswa-siswi untuk
observasi langsung ke kebun sekolah atau lingkunga sekitar sekolah,
maupun lingkungan di luar sekolah mengenai kondisi lingkungan di
sana.
d) Setelah siswa melakukan pengamatan dan guru telah menjelaskan,
siswa akan melakuakan praktek sesuai dengan materi yang sedang
diberikan guru saat itu, lalu dibukalah sesi diskusi dimana siswa dapat
mengunkapkan pendapatnya tentang apa yang mereka amati dan
praktekan pada tempat pengamatannya atau lingkungan tersebut.
e) Setelah siswa puas dengan pengamatan, penjelasan dan praktek yang
dilakuakn secara langsung, maka siswa dapat dikembalikan ke dalam
kelasnya kembali.
f) Outdoor learning dapat dilakukan 1 x per 1 minggu.

11

KESIMPULAN
1. Konsep Gagasan
Outdoor Learning adalah strategi pembelajaran yang memanfaatkan alam sebagai
sumber belajar. Berbasis Inkuiri menuntut siswa lebih aktif dalam mengeksplorasi
materi pelajaran dan menerapkannya. Sedangkan konservasi adalah upaya
melestarikan lingkungan tanpa menghilangkan manfaat yang diperoleh.
2. Langkah Strategis Implementasi Gagasan
a) Pemerintah pendidikan memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada
guru sekolah dan guru.
b) Sekolah mendapat surat perizinan dari pemerintah, agar dapat
membawa siswa ke luar kelas pada saat jam pelajaran
c) Setelah diberikan izin, guru yang bersangkutan khususnya guru
pendidikan lingkungan hidup dapat membawa siswa-siswi untuk
observasi langsung ke kebun sekolah atau lingkunga sekitar sekolah,
maupun lingkungan di luar sekolah mengenai kondisi lingkungan di
sana.
d) Setelah siswa melakukan pengamatan dan guru telah menjelaskan,
siswa akan melakuakan praktek sesuai dengan materi yang sedang
diberikan guru saat itu, lalu dibukalah sesi diskusi dimana siswa dapat
mengunkapkan pendapatnya tentang apa yang mereka amati dan
praktekan pada tempat pengamatannya atau lingkungan tersebut.
e) Setelah siswa puas dengan pengamatan, penjelasan dan praktek yang
dilakuakn secara langsung, maka siswa dapat dikembalikan ke dalam
kelasnya kembali.
f) Outdoor learning dapat dilakukan 1 x per 1 minggu.

3. Prediksi Keberhasilan Gagasans


Dengan menambah jam pelajaran mengenai konservasi melalui Outdoor Learning
berbasis inkuiri ini, diharapkan siswa dapat memahami makna konservasi. Selain
itu, siswa diharapkan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan
menjadikan siswa lebih kritis dengan keadaan linkungannya.

12

DAFTAR PUSTAKA
Ali. 2008. Efektivitas Pembelajaran Biologi melalui Metode Out Door Study dalam
Upaya Meningkatkan Mina Belajar Siswa. Jurnal Bionature 8 (1): 18-23.
Gulo W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
Indonesia.
Rustaman N. 2005. Perkembangan Penelitian Pembelajaran Berbasis Inkuiri. On
Line at : http://file.upi.edu/Direltori/SPS/PRODI. PENDIDIKAN%20IPA
/195012311979032%20-0NURYANI%20RUSTAMAN/PenPemInkuiri.pdf.
Sapariah. 2014. Survei Walhi: Status Lingkungan Indonesia dalam Bahaya.
Diakses melalui http://www.mongabay.co.id/2014/06/24/survei-walhi-statuslingkungan-indonesia-dalam-bahaya/. Pada tanggal 20 Febuari 2015, pukul 21.00
WIB.
Saptono, 2009. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Semarang: Jurusan Biologi
FMIPA UNNES.
Sholihin A. 2009. Strategi Pembelajaran Aktif Berbasis Multiple Intelligences.
Jurnal Pendidikan 8 (14) : 1-7.
Syawiji. 2009. Metode Outdoor Learning dan Peningkatan Minat Belajar
Aritmetika Sosial. Jurnal Pendidikan 9 (1) : 30-46.
Wibowo Y. 2010. Bentuk-bentuk Pembelajaran Outdoor. Yogyakarta: Jurusan
Pendidikan Biologi FMIPA UNY.

13

14

15

16

17

Lampiran 2. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas

No

Nama / Nim

Indeka Dharma
Putra /
3415122159

Karina
Pravitasari /
3415131024

Rahma Amalia
/ 3415136418

Tiara Arisenda
K. /
3415133073

Program
Studi
Pendidikan
Biologi
Reguler
2012
Pendidikan
Biologi
Reguler
2013
Pendidikan
Biologi
Reguler
2013
Pendidikan
Biologi
Reguler
2013

Bidang
Ilmu

Alokasi
Waktu
(jam/minggu)

Uraian
Tugas

Sains

10/minggu

Pencetus
Gagasan

Sains

10/minggu

Penyusun
Proposal

Sains

10/minggu

Pencetus
Gagasan

Sains

10/minggu

Penyusun
Proposal

18

19

Lampiran 4. Gambar Terkait Implementasi Gagasan

Gambar 1

Gambar 2

20

Gambar 3

Gambar 4

21