Anda di halaman 1dari 16

Mata Kuliah

: Etika Bisnis

Nama Anggota

: 1. Aji Brilliant Dewantara


2. Indra Oktavianto
3. Reza Andhika Putra

Kelas

: 4EA18

Judul

: Bab 1 (Definisi Etika dan Bisnis sebagai sebuah profesi)


Bab 2 (Prinsip etika dalam bisnis serta etika dan lingkungan)

Sumber

1. Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, M.A, Filsafat hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2006, Hal 27.
Drs. C.S.T. kansil, S.H, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 1989, hal 120.
2. Rahim, Supli. 2008. Etika Lingkungan dan Persfektif Filsafat.
3. Susilo, Rachmad K. D. 2008. Sosiologi Lingkungan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
4. Buku Pengantar Etika Bisnis.

BAB 1
Definisi Etika dan Bisnis Sebagai Sebuah Profesi
Hakekat Mata Kuliah Etika Bisnis
Menurut Drs. O.P Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas
asumsi-asumsi bisnis, baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral. Karena bisnis
beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya
mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan
pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian
bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
Contoh praktek etika bisnis yang dihubungkan dengan moral :
Uang milik perusahaan tidak boleh diambil atau ditarik oleh setiap pejabat perusahaan
untuk dimiliki secara pribadi. Hal ini bertentangan dengan etika bisnis. Memiliki uang dengan
cara merampas atau menipu adalah bertentangan dengan moral. Pejabat perusahaan yang sadar
etika bisnis, akan melarang pengambilan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi,
pengambilan yang terlanjur wajib dikembalikan. Pejabat yang sadar, disebut memiliki kesadaran
moral, yakni keputusan secara sadar diambil oleh pejabat, karena ia merasa bahwa itu tanggung
jawabnya, bukan saja selaku karyawan melainkan juga sebagai manusia yang bermoral.
Contoh tidak memiliki kesadaran moral :
Seorang berdarah dingin dijalan juanda, jakarta yang sangat ramai itu menodong dengan
cerulit dan merampas harta milik seseorang. Baginya menodong itu merupakan kebiasaan dan
menjadi profesinya. Apakah ada kesadaran moral bahwa perbuatan itu bertentangan dan dilarang
oleh ajaran agama, hukum dan adat? Sejak kecil ia ditinggalkan oleh ibu dan bapaknya akibat
perceraian, ia bergaul dengan anak gelandangan, pencuri. Sesudah dewasa menjadi penodong
ulung. Ia menodong atau membunuh tanpa mengenal rasa takut atau berdosa, bahkan sudah
merupakan suatu profesi.

Definisi Etika dan Bisnis


Pengertian Bisnis Menurut Para Ahli adalah :
Stainford (1979)
Business is all those activities in providing the goods and services needed or desired by
people. Dalam pengertian ini bisnis sebagai aktifitas yang menyediakan barang atau jasa yang
diperlukan atau diinginkan oleh konsumen. Dapat dilakukan oleh organisasi perusahaan yang
memiliki badan hukum, perusahaan yang memiliki badan usaha, maupun perorangan yang tidak
memiliki badan hukum maupun badan usaha.
Brown dan Petrello (1976)
Business is an institution which produces goods and services demanded by people.
Artinya bisnis ialah suatu lembaga menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Apabila kebutuhan masyarakat meningkat, maka lembaga bisnis pun akan
meningkat pula perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sambil memperoleh
laba.
Dalam ilmu ekonomi, Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada
konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa
Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas,
ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang
mendatangkan keuntungan. Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau
sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata bisnis
sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung skupnya penggunaan singular kata bisnis dapat
merujuk pada badan usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan
mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar
tertentu, misalnya bisnis pertelevisian. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh
aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi
bisnis yang tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini.

Etika dalam bahasa Yunani kuno: ethikos, berarti timbul dari kebiasaan) adalah
sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas
yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan
penerapan konsep seperti benar, salah, baik, burul dan tanggung jawab.
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif
(studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Pengertian etika menurut para ahli :
Menurut Rosita Noer : Etika adalah ajaran (normatif) dan pengetahuan (positif) tentang yang
baik dan yang buruk, menjadi tuntutan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Menurut Drs. O.P. Simorangkir : Etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku
menurut ukuran dan nilai yang baik.
Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : Etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan
manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Drs. H. Burhanudin Salam : Etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai norma
dan moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya Etika juga memiliki pengertian
arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari istilah itu.

Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas.

Bagi sosiolog, etika adalah adat, perilaku orang-orang dari lingkungan budaya tertentu.

Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti

kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan (ekspektasi) profesi dan masyarakat, serta
bertindak dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga
terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur.

Pengertian Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh
aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam
suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam
membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham,
masyarakat.
Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis
dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah
etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk
manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari
dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional.
Etika Bisnis Menurut Para Ahli
Menurut Velasques(2002), etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral
yangbenar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam
kebijakan, institusi dan perilaku bisnis.
Menurut Hill dan Jones(1998), menyatakan bahwa etika bisnis merupakan suatu ajaran untuk
membedakan antara salah dan benar guna memberikan pembekalan kepada setiap
pemimpinperusahaan ketika mempertimbangkan untuk mengambil keputusan strategis yang
terkaitdengan masalah moral yang kompleks. Lebih jauh ia mengatakan Sebagian besar dari kita
sudah memiliki rasa yang baik dari apa yang benar dan apa yang salah, kita sudah tahu bahwa
salah satu untuk mengambil tindakan yang menempatkan resiko kehidupan yang lain.).
Menurut Steade et al (1984 : 701), dalam bukunya Business, Its Natura and Environment An
Introduction Etika bisnis adalah standar etika yangberkaitan dengan tujuan dan cara membuat
keputusan bisnis..
Etika Moral, Hukum dan Agama

Pada dasarnya, etika moralitas berwacana untuk menentukan kita sebaiknya menjadi
orang seperti apa. Dalam etika moralitas, suatu tindakan dianggap benar jika tindakan itu
mendukung perilaku karakter yang baik (bermoral) dan dianggap salah jika tindakan itu
mendukung perilaku karakter yang buruk (tidak bermoral). Etika moral lebih bersifat pribadi,
namum moral pribadi akan berkaitan erat dengan moral bisnis. Jika perilaku seseorang dalam
kehidupan pribadinya bermoral, maka perilakunya dalam kehidupan bisnis juga akan bermoral.
Dalam memecahkan masalah, kita tidak perlu binggung untuk memilih teori mana yang
sebaiknya digunakan, sebab kita dapat menggunakan semua teori itu untuk menganalisis suatu
masalah dari sudut pandang yang berbeda dan melihat hasil apa yang diberikan masing-masing
teori itu kepada kita.
Hukum membutuhkan moral. Dalam kekaisaran roma terdapat pepatah quid leges sine
moribus? Yang artinya adalah apa guna undang-undang jika tidak disertai moralitas? Tanpa
moralitas, hukum akan kosong. Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu moralnya.
Karena itu hukum selalu harus diukur dengan norma moral. Disisi lain moral juga membutuhkan
hukum. Moral tidak ada artinya jika tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat.
Etika mendukung keberadaan Agama, dimana etika sanggup membantu manusia dalam
menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah. Perbedaan antara etika dan ajaran moral
agama yakni etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional. Sedangkan Agama menuntut
seseorang untuk mendasarkan diri pada wahtu Tuhan dan ajaran agama.
Klasifikasi Etika
Etika normatif : berfokus pada prinsip-prinsip yang seharusnya dari tindakan yang baik2.
Etika terapan: penerapan teori-teori etika secara lebih spesifik baik pada domain privat atau
publik.
Etika deskriptif: hanya melakukan observasi terhadap apa yang dianggap baik oleh
individuatau
Meta etika: berfokus pada arti dari pernyataan-pernyataan etika.

Konsepsi Etika

masyarakat.

Istilah etika berasal dan bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal
mempunyai arti kebiasaan-kebiasaan tingkah laku manusia; adat, ahlak, watak, perasaan; sikap;
dan cara berfikir. Dalam bentuk jamak ta etha mempunyai adat kebiasaan. Menurut filsuf Yunani
Aristoteles, istilah etika sudah dipakai untuk menunjukkan filsafat/moral. Sehingga berdasarkan
asal usul kata, maka etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat
kebiasaan.

BAB 2
Prinsip Prinsip Etika dalam Bisnis Serta Etika dan Lingkungan
Secara umum etika bisnis merupakan acuan cara yang harus ditempuh oleh perusahaan
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, etika bisnis memiliki prinsipprinsip umum yang dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan bisnis
yang dimaksud. Adapun prinsip prinsip etika bisnis tersebut sebagai berikut :
1. Prinsip Otonomi dalam Etika Bisnis
Prinsip otonomi dalam etika bisnis adalah bahwa perusahaan secara bebas memiliki
kewenangan sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya sesuai dengan visi dan
misi yang dipunyainya. Contoh prinsip otonomi dalam etika binis : perusahaan tidak tergantung
pada pihak lain untuk mengambil keputusan tetapi perusahaan memiliki kekuasaan tertentu
sesuai dengan misi dan visi yang diambilnya dan tidak bertentangan dengan pihak lain.
Dalam prinsip otonomi etika bisnis lebih diartikan sebagai kehendak dan rekayasa
bertindak secara penuh berdasar pengetahuan dan keahlian perusahaan dalam usaha untuk
mencapai prestasi-prestasi terbaik sesuai dengan misi, tujuan dan sasaran perusahaan sebagai
kelembagaan. Disamping itu, maksud dan tujuan kelembagaan ini tanpa merugikan pihak lain
atau pihak eksternal.
Dalam pengertian etika bisnis, otonomi bersangkut paut dengan kebijakan eksekutif
perusahaan dalam mengemban misi, visi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran ,
kesejahteraan para pekerjanya ataupun komunitas yang dihadapinya. Otonomi disini harus
mampu mengacu pada nilai-nilai profesionalisme pengelolaan perusahaan dalam menggunakan
sumber daya ekonomi. Kalau perusahaan telah memiliki misi, visi dan wawasan yang baik sesuai
dengan nilai universal maka perusahaan harus secara bebas dalam arti keleluasaan dan
keluwesan yang melekat pada komitmen tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan etika
bisnis.
Dua perusahaan atau lebih sama-sama berkomitmen dalam menjalankan etika bisnis,
namun masing-masing perusahaan dimungkinkan menggunakan pendekatan berbeda-beda dalam
menjalankannya. Sebab masing-masing perusahaan dimungkinkan menggunakan pendekatan

berbeda-beda dalam menjalankannya. Sebab masing-masing perusahaan memiliki kondisi


karakter internal dan pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan, misi dan strategi
meskipun dihadapkan pada kondisi dan karakter eksternal yang sama. Namun masing-masing
perusahaan memiliki otoritas dan otonomi penuh untuk menjalankan etika bisnis. Oleh karena itu
konklusinya dapat diringkaskan bahwa otonomi dalam menjalankan fungsi bisnis yang
berwawasan etika bisnis ini meliputi tindakan manajerial yang terdiri atas : (1) dalam
pengambilan keputusan bisnis, (2) dalam tanggung jawab kepada : diri sendiri, para pihak yang
terkait dan pihak-pihak masyarakat dalam arti luas.
2. Prinsip Kejujuran dalam Etika Bisnis
Prinsip kejujuran dalam etika bisnis merupakan nilai yang paling mendasar dalam
mendukung keberhasilan kinerja perusahaan. Kegiatan bisnis akan berhasil jika dikelola dengan
prinsip kejujuran. Baik terhadap karyawan, konsumen, para pemasok dan pihak-pihak lain yang
terkait dengan kegiatan bisnis ini. Prinsip yang paling hakiki dalam aplikasi bisnis berdasarkan
kejujuran ini terutama dalam pemakai kejujuran terhadap diri sendiri. Namun jika prinsip
kejujuran terhadap diri sendiri ini mampu dijalankan oleh setiap manajer atau pengelola
perusahaan maka pasti akan terjamin pengelolaan bisnis yang dijalankan dengan prinsip
kejujuran terhadap semua pihak terkait.
3. Prinsip Keadilan dalam Etika Bisnis
Prinsip keadilan yang dipergunakan untuk mengukur bisnis menggunakan etika bisnis
adalah keadilan bagi semua pihak yang terkait memberikan kontribusi langsung atau tidak
langsung terhadap keberhasilan bisnis. Para pihak ini terklasifikasi ke dalam stakeholder. Oleh
karena itu, semua pihak ini harus mendapat akses positif dan sesuai dengan peran yang diberikan
oleh masing-masing pihak ini pada bisnis. Semua pihak harus mendapat akses layak dari bisnis.
Tolak ukur yang dipakai menentukan atau memberikan kelayakan ini sesuai dengan ukuranukuran umum yang telah diterima oleh masyarakat bisnis dan umum. Contoh prinsip keadilan
dalam etika bisnis : dalam alokasi sumber daya ekonomi kepada semua pemilik faktor ekonomi.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan harga yang layak bagi para konsumen,
menyepakati harga yang pantas bagi para pemasok bahan dan alat produksi, mendapatkan
keuntungan yang wajar bagi pemilik perusahaan dan lain-lain.

4. Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri dalam Etika Bisnis


Pinsip hormat pada diri sendiri dalam etika bisnis merupakan prinsip tindakan yang
dampaknya berpulang kembali kepada bisnis itu sendiri. Dalam aktivitas bisnis tertentu ke
masyarakat merupakan cermin diri bisnis yang bersangkutan. Namun jika bisnis memberikan
kontribusi yang menyenangkan bagi masyarakat, tentu masyarakat memberikan respon sama.
Sebaliknya jika bisnis memberikan image yang tidak menyenangkan maka masyarakat tentu
tidak menyenangi terhadap bisnis yang bersangkutan. Namun jika para pengelola perusahaan
ingin memberikan respek kehormatan terhadap perusahaan, maka lakukanlah respek tersebut
para pihak yang berkepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Segala aspek aktivitas perusahaan yang dilakukan oleh semua armada di dalam
perusahaan, senantiasa diorientasikan untuk memberikan respek kepada semua pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan. Dengan demikian, pasti para pihak ini akan memberikan
respek yang sama terhadap perusahaan. Sebagai contoh prinsip hormat pada diri sendiri dalam
etika bisnis : manajemen perusahaan dengan team wornya memiliki falsafah kerja dan
berorientasikan para pelanggan akan makin fanatik terhadap perusahaan. Demikian juga, jika
para manajemennya berorientasikan pada pemberian kepuasan kepada karyawan yang
berprestasi karena sepadan dengan prestasinya maka dapat dipastikan karyawan akan makin loya
terhadap perusahaan.
Hak Dan Kewajiban
1. Hak
Hak adalah seperangkat kewenangan yang diperoleh seseorang baik berupa hak yang
melekat sejak ia lahir sampai meninggalnya yang biasa disebut hak asasi manusia maupun yang
muncul ketika melakukan interaksi sosial sebagai dengan sesamanya. Sebaliknya, kewajiban
adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya baik kewajiban sebagai
hamba yang dibebankan oleh penciptanya (Allah SWT) maupun kewajiban yang muncul ketika
melakukan interaksi dengan sesama. Oleh karena itu, kehadiran hukum dalam masyarakat adalah
untuk mengintegrasikan dan mengkordinasikan kebutuhan manusia baik dari penciptanya
maupun kepentingan manusia dalam masyarakat.

Hukum melindungi kepentingan seseorang melalui cara mengalokasikan suatu


kewenangan atau kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam memenuhi kebutuhannya.oleh
karena itu, tidak setiap kewenangan dalam masyarakat itu dapat disebut hak, melainkan hanya
kewenangan tertentu saja, yaitu yang diberkan huk um kepadanya.
Izin atau kekuasaan yang diberikan hukum itu disebut Hak atau wewenang.jadi
pemilik benda itu berhak untuk mengasingkan benda tersebut. Namun dalam pembahasan ini,
tidak terlalu teerfokus pada pengertian, karena dari pengertian hak secara detail sudah dibahas
pada makalah sebelumnya.
Hak dan kewajiban mempunyai hubungan yang sangat berkaitan, yaitu hak
mencerminkan adanya kewajiban dan sebaliknya kewajiban mencerminkan hak. Sebagai contoh,
si ahmad mempunyai suatu kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan yang ditujukan kepada
si akram. Hal ini berarti si ahmad telah melakukan kewajibannya. Sebalikanya, adanya
kewajiban si ahmad kepada si akram, maka si ahmad mempunyai hak kepada si akram, yaitu
berupa tuntutan untuk melaksanakan kewajibannya.
Contoh di atas, dapat diasumsikan bahwa suatu kepentingan merupakan sasaran dari hak,
bukan hanya ia dilindungi oleh hukum, melainkan juga ada pengakuan terhadapnya. Lain halnya,
bila burung maleo di Sulawesi tengah kehidupannya dilindungi oleh hukum, berarti burung
tersebut mempunyai hak untuk menikmati perlindungan hukum. Sebaliknya tidak berarti burung
tersebut mempunyai kewajiban kepada pemerintah daerah Sulawesi tengah.
2.Kewajiban
Selain pengelompokan hak di atas, perlu juga pengelompokan kewajiban, yaitu:
a. Kewajiban yang mutlak damn nisbi. Apabila memperhatikan definisi hak dan kewajiban yang
telah dikemukakan, dapat disebutkan bahwa tidak setiap kewajiban mempunyai pasangan hak.
Kewajiban ini disebut kewajiban mutlak yang melekat pada manusia berdasarkan status yang
dimilikinya. Misalnya, kewajiban orang muslim ketika balligh melakukan shalat lima waktu.
Beda halnya dengan kewajiban nisbi, yaitu kewajiban yang melibatkan hak dilain pihak.
b. Kewajiban public dan perdata.kewajiban public adalah kewajiban berkorelasi dari hak-hak
public. Contoh, kewajiban mematuhi hukum pidana;sedangkan kewajiban perdata berkorelasi

dari hak-hak keperdataan. Contoh, kewajiban yang timbul dari transaksi kontra sewa-menyewa.
c. Kewajiban positif dan negative. Kewajiban positif menghendaki dilakukannya perbuatan
positif. Contoh, kewajiban penjual menyerahkan barang kepada pembeli. Sedangkan kewajiban
negative menghendaki seseorang tidak melakukan sesuatu atau biasa disebut larangan. Misalnya,
kewajiban tidak menyusah tetangganya.
d. Kewajiban universal, umum dan khusus. Kewajiban universal ditujukan kepada setiap warga
Negara. Contohnya, kewajiban yang timbul dari adanya undang-undang, sedangkan kewajiban
umum ditujukan kepada orang yang tertentu, seperti kewajiban ayah dan ibu untuk memelihara
anaknya. Lain halnya dengan kewajiban khusus, kewajiban yang timbul dari hukum perjanjian.
e. Kewajiban primer dan kewajiban yang bersifat member sanksi. Kewajiban primer adalah
kewajiban yang tidak timbul dari perbuatan yang tidak melanggar hukum. Contoh, untuk tidak
mecemarkan nama baik seseorang, yang tidak timbul dari pelanggaran terhadap kewajiban
sebelumnya. Dan kewajiban bersifat memberi sanksi, yaitu kewajiban yang semata-mata timbul
dari perbuatan yang melawan hukum. Seperti, kewajiban tergugat untuk membayar gugatan
penggugat yang berhasil memenangkan perkara melalui siding pengadilan.
Teori Etika Lingkungan
Etika Lingkungan
Etika lingkungan lebih dipahami sebagai sebuah kritik atas etika yang selama ini dianut
oleh manusia dan menjadi petunjuk arah bagi manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral
lingkungan. Adanya etika lingkungan bertujuan untuk mengubah pemahaman dan perilaku
manusia terhadap lingkungan. Terdapat beberapa konsep tentang etika lingkungan yang
dikembangkan oleh manusia diantaranya antroposentrisme, biosentrisme, ekosentrisme, dan
ekofeminisme. Setiap konsep memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menilai keterkaitan
antara manusia dengan lingkungannya. Disini kami akan membahas tentang antroposentrisme
dan biosentrisme.

A.

Antroposentrisme

Antroposentrime merupakan paham yang bahwa hanya manusia yang memiliki nilai
intrinsik sedangkan komponen-komponen lainnya baik yang hidup dan tak hidup atau ekosistem
hanya memiliki nilai instrumental (Froderman, et al.,2009). Hal ini berarti ekosistem yang berada
di luar manusia hanya berfungsi sebagai alat bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Rahim (2008), antroposentris ini memahami bahwa alam merupakan sumber
hidup manusia memiliki beberapa nilai pokok diantaranya:
a. manusia terpisah dari alam,
b. mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.
c. mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya
d. kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia
e. norma utama adalah untung rugi.
f. mengutamakan rencana jangka pendek.
g. pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya dinegara miskin.
h. menerima secara positif pertumbuhan ekonomi

B.

Biosentrisme
Biosentrisme adalah paham yang memfokuskan kehidupan sebagai satu kesatuan dan

menolak pandangan bahwa hanya manusia yang penting dalam kehidupan ini sedangkan
makhluk hidup yang lain tidak (Froderman, et al.,2009). Menurut Susilo (2008), paham
biosentrisme bukan hanya manusia yang memiliki nilai moral tetapi juga binatang sedangkan
menurut Kenneth dalam Rahim (2008) bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus
dihargai secara moral tetapi juga tumbuhan.
Biosentrisme merupakan paham yang memandang bahwa tidak hanya manusia yang
memiliki peran di lingkungan dan kepentingannya harus diutamakan namun juga terdapat hewan
dan tumbuhan yang juga berperan aktif dalam mengisi lingkungan dan manusia juga sangat
bergantung pada hewan dan tumbuhan sehingga paham ini manusia memilki keterkaitan moral
dengan tumbuhan dan hewan. Menurut Keraf dalam Susilo (2008) menyebutkan bahwa terdapat
tiga pilar yang menjadi pegangan dalam pelaksanaan biosentrisme diantaranya:
1. Manusia memiiliki kewajiban moral terhadap alam semesta yang dapat berupa: kewajiban untuk
tidak melakukan sesuatu yang merugikan alam dengan segala isinya, kewajiban untuk tidak

menghambat kebebasan organism lain untuk berkembangsesuai dengan hakikatnya, dan


kesediaan untuk tidak menyakiti hewan liar.
2. Bumi dan segala isinya adalah subjek moral. Oleh karena itu, bumi bukan obyek atau alat yang
bisa digunakan sesuka hati karena lingkungan juga memiliki daya dukung yang terbatas.
3. Anti spesiesme dan rasisme, pada lingkungan menyatakan bahwa tidak ada perbedaan ras dalam
melakukan upaya pengelolan lingkungan dan manusia merupakan spesies yang lebih unggul
dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan.

Prinsip-Prinsip Etika Lingkungan Hidup


Prinsip prinsip etika lingkungan merupakan bagian terpenting dari etika lingkungan yang
bertjuan mengarahkan pelaksanaan etika lingkungan agar tepat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai,
Pada lingkung yang lebih luas lagi diharapkan etika lingkungan mampu menjadi dasar dalam penentuan
kebijakan pembangunan berkelanjutan yang akan dilaksanakan. Menurut Keraf (2005) dalam UNNES
(2010) menyebutkan bahwa ada sembilan prinsip dalam etika lingkungan hidup diantaranya adalah
sebagai berikut:
a.

Sikap hormat terhadap alam atau respect for nature.


Alam mempunyai hak untuk dihormati, tidak saja karena kehidupan manusia bergantung

pada alam tetapi juga karena manusia adalah bagian dari alam. Manusia tidak diperbolehkan
merusak, menghancurkan, dan sejenisnya bagi alam beserta seluruh isinya tanpa alasan yang dapat
dibenarkan secaramoral.
b. Prinsip tanggung jawab atau moral responsibility for nature.
Prinsip tanggung jawab disini bukan saja secara individu tetapi juga secara berkelompok
atau kolektif. Setiap orang dituntut dan terpanggil untuk bertanggung jawab memelihara alam
semesta ini sebagai milik bersama dengan cara memiliki yang tinggi, seakan merupakan milik
pribadinya.
c.

Solidaritas kosmis atau cosmic solidarity.


Solidaritas kosmis mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan dan

menyelamatkan semua kehidupan di alam. Alam dan semua kehidupan di dalamnya mempunyai
nilai yang sama dengan kehidupan manusia. Solidaritas kosmis juga mencegah manusia untuk
tidak merusak dan mencermati alam dan seluruh kehidupan di dalamnya. Solidaritas kosmis

berfungsi untuk mengontrol perilaku manusia dalam batas-batas keseimbangan kosmis, serta
mendorong manusia untuk mengambil kebijakan yang pro-lingkungan atau tidak setuju setiap
tindakan yang merusak alam.
d. Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam atau caring for nature.
Prinsip kasih sayang dan kepedulian merupakan prinsip moral satu arah, artinya tanpa
mengharapkan untuk balasan serta tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi
tetapi semata-mata untuk kepentingan alam. Semakin mencintai dan peduli terhadap alam
manusia semakin berkembang menjadi manusia yang matang, sebagai pribadi dengan identitas
yang kuat. Alam tidak hanya memberikan penghidupan dalam pengertian fisik saja, melainkan
juga dalam pengertian mental dan spiritual.
e.

Prinsip tidak merugikan atau no harm.


Prinsip tidak merugikan alam berupa tindakan minimal untuk tidak perlu melakukan

tindakan yang merugikan atau mengancam eksistensi mahkluk hidup lain di alam semesta.
Manusia tidak dibenarkan melakukan tindakan yang merugikan sesama manusia. Pada
masyarakat tradisional yang menjujung tinggi adat dan kepercayaan, kewajiban minimal ini
biasanya dipertahankan dan dihayati melalui beberapa bentuk tabu-tabu yang apabila dilanggar
maka, akan terjadi hal-hal yang buruk di kalangan masyarakat misalnya, wabah penyakit atau
bencana alam.
f.

Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam.


Prinsip ini menekankan pada nilai, kualitas, cara hidup yang paling efektif dalam

menggunakan sumber daya alam dan energi yang ada. Manusia tidak boleh menjadi individu
yang hanya mengumpulkan harta dan memiliki sebanyak-banyaknya dengan secara terusmenerus mengeksploitasi alam. Melalui prinsip hidup sederhana manusia diajarkan untuk
memilki pola hidup yang non-matrealistik dan meninggalkan kebiasaan konsumtif yang tidak
bisa membedakan antara keinginan dengan kebutuhan.
g. Prinsip keadilan.
Prinsip keadilan sangat berbeda dengan prinsip prinsip sebelumnya. Prinsip keadilan
lebih ditekankan pada bagaimana manusia harus berperilaku satu terhadap yang lain dalam
keterkaitan dengan alam semesta dan bagaimana sistem sosial harus diatur agar berdampak
positif pada kelestarian lingkungan hidup. Prinsip keadilan terutama berbicara tentang peluang
dan akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan

kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam dan dalam ikut menikmati
pemanfatannya.
h. Prinsip demokrasi.
Prinsip demokrasi sangat terkait dengan hakikat alam. Alam semesta sangat beraneka
ragam. Demokrasi memberi tempat bagi keanekaragaman yang ada. Oleh karena itu setiap orang
yang peduli terhadap lingkungan adalah orang yang demokratis, sebaliknya orang yang
demokratis sangat mungkin seorang pemerhati lingkungan. Pemerhati lingkungan dapat berupa
multikulturalisme, diversifikasi pola tanam, diversifiaki pola makan, keanekaragaman hayati,
dan sebagainya.
i.

Prinsip integritas moral.


Prinsip integritas moral terutama dimaksudkan untuk Pemerintah sebagai pengambil

kebijakan. Prinsip ini menuntut Pemerintah baik pusat atau Daerah agar dalam mengambil
kebijakan mengutamakan kepentingan publik.
Kesembilan prinsip etika lingkungan hidup tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman
dasar bagi setiap manusia untuk berperilaku arif dan bijaksana dalam berinteraksi dengan
lingkungan hidup. Penerapan kesembilan prinsip tersebut dapat menjadi awal yang baik atau
pondasi dasar bagi terlaksanannya pembangunan yang berkelanjutan.

Anda mungkin juga menyukai