Anda di halaman 1dari 10

IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR

KEGAGALAN PROSES PRODUKSI BESI BETON DENGAN METODE


FAULT TREE ANALYSIS
(STUDI KASUS DI PT. ASIAN PROFILE INDOSTEEL SURABAYA)

Elsavira Kristanti
Jurusan Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 60111
Indonesia
E-mail: tinz@plasa.com

ABSTRAKSI

Beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh sebagian besar industri manufaktur di Indonesia agar
perusahaan mampu bertahan hidup dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat antara lain produk yang
mereka produksi selalu tidak sempurna atau tidak bebas cacat (defect free) serta perusahaan harus mampu
memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk yang dihasilkan adalah produk yang berkualitas.
Untuk itu perlu diciptakan pengawasan pada produk mutlak diimplementasikan sebagai jaminan pada
konsumen bahwa produk yang dilemparkan kepasaran memiliki mutu atau kualitas yang baik sehingga
manajemen kualitas dari perusahaan berorientasi untuk terus menerus berupaya meningkatkan kualitas
dramatik menuju kegagalan nol (zero defect).
PT. Asian Profile Indosteel Surabaya merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang industri
manufaktur dengan produk yang dihasilkan adalah baja dan besi beton. Untuk menghasilkan produk
berkualitas tinggi PT. Asian Profile Indosteel Surabaya melakukan pengendalian kualitas dengan langkah
awal berupa pengidentifikasian kecacatan produk agar dapat mengurangi kesalahan proses seminimal
mungkin. Selama ini prosentase kecacatan produk yang terjadi dalam proses produksi PT. API sebesar
kurang lebih 5 %.
Tujuan dari dari penelitian ini adalah untuk menjawab pokok permasalahan yang telah disampaikan
di atas, yaitu mengetahui cacat produk yang ada di PT. Asian Profile Indosteel Surabaya dan menentukan
faktor-faktor penyebab kecacatan produk dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA), serta
memberikan usulan perbaikan untuk melakukan pencegahan dan mengurangi potensi penyebab kecacatan
produk.
Adapun hasil dari penelitian ini adalah kecacatan berupa bentuk besi beton bersirip (nguping) yang
menjadi sebab utama. Dalam pengambilan sampling produk dengan waktu 180 menit awal proses produksi
probabilitas terjadinya kecacatan tersebut sebesar 17,08 %, kedua adalah permukaan berlubang dengan
probabilitas 11,33% dan ketiga adalah dimensi ukuran tidak sesuai dengan probabilitas 4,91%.

( Kata Kunci : defect free, zero defect, besi beton, Probabilitas, fault tree analysis, Correction Action )

1. Pendahuluan

Beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh sebagian besar industri manufaktur di Indonesia agar
perusahaan mampu bertahan hidup dalam kompetisi bisnis yang semakin ketat antara lain produk yang
mereka produksi selalu tidak sempurna atau tidak bebas cacat (defect free) serta perusahaan harus mampu
memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk yang dihasilkan adalah produk yang berkualitas. Untuk
itu perlu diciptakan pengawasan pada produk mutlak diimplementasikan sebagai jaminan pada konsumen
bahwa produk yang dilemparkan kepasaran memiliki mutu atau kualitas yang baik sehingga manajemen
kualitas dari perusahaan berorientasi untuk terus menerus berupaya meningkatkan kualitas dramatik menuju
kegagalan nol (zero defect).
PT. Asian Profile Indosteel Surabaya merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang industri
manufaktur dengan produk yang dihasilkan adalah baja dan besi beton. Untuk menghasilkan produk
berkualitas tinggi PT. Asian Profile Indosteel Surabaya melakukan pengendalian kualitas dengan langkah
awal berupa pengidentifikasian kecacatan produk agar dapat mengurangi kesalahan proses seminimal
mungkin. Selama ini prosentase kecacatan produk yang terjadi dalam proses produksi PT. API sebesar kurang
lebih 5 %.
Faktor kecacatan yang sering terjadi pada proses produksi PT. API adalah faktor bentuk dengan jenis
cacat berupa permukaan berlubang, fisik gepeng dan produk nguping, kemudian dari faktor ukuran sering
terjadi produk terlalu panjang atau pendek. Salah satu penyebab terjadinya jenis–jenis cacat ini disebabkan
oleh kaliber mesin yang rusak atau setting mesin kurang tepat.
Untuk itu, penelitian Tugas Akhir ini akan mengadopsi sebuah metode perbaikan dan peningkatan
kualitas yaitu Fault Tree Analysis (FTA). Metode ini dapat digunakan untuk menganalisa berbagai penyebab
kesalahan yang akan dipresentasikan oleh sebuah pohon kecacatan (fault tree) serta menghitung probabilitas
terjadinya top event yang diperoleh dari prediksi keandalan peristiwa serta metode cut and tie set untuk
mengevaluasi probabilitas kesalahan dalam sistem produksi.
Penggunaan metode Fault Tree Analysis akan dapat mengidentifikasikan cacat produk yang ada di
perusahaan PT. Asian Profile Indosteel Surabaya, dengan menentukan faktor penyebab kecacatan berdasarkan
data kecacatan produk yang dicatat oleh bagian Quality Control sehingga kualitas produk yang baik akan
didapatkan dan tujuan perusahaan dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen
akan tercapai.

2. Metodologi Penelitian

A. Tahapan Fault Tree Analysis


Menurut Thomas Pyzdex (2002), Fault Tree mempunyai beberapa tahap umum untuk mencapai hasil
analisa yang optimal hingga ke akar-aakar penyebabnya, yaitu :
1. Tentukan kejadian paling atas, kadang–kadang disebut kejadian utama. Ini adalah kondisi kegagalan
dibawah studi.
2. Tetapkan batasan Fault Tree Analysis.
3. Periksa sistem untuk mengerti bagaimana berbagai elemen berhubung pada satu dengan
lainnya dan untuk kejadian paling atas.
4. Buat pohon kesalahan, mulai pada kejadian paling atas dan bekerja ke arah bawah.
5. Analisis pohon kesalahan untuk mengidentifikasi cara dalam menghilangkan kejadian yang
mengarah kepada kegagalan.
6. Persiapkan rencana tindakan perbaikan untuk mencegah kegagalan dan rencana
kemungkinan berkenaan dengan kegagalan saat mereka terjadi.

Fault tree Analysis merupakan pendekatan dari atas ke bawah yang menyediakan perwakilan grafik
kejadian yang mungkin mengarah pada kegagalan. Beberapa simbol digunakan dalam pembuatan pohon
kesalahan ditunjukkan dalam tabel 2.2.
Tabel Simbol – Simbol Logika (Gerbang) Dalam FTA

Simbol Gerbang Nama Gerbang Hubungan Kasual


Gerbang AND Kejadian keluaran terjadi jika semua
kejadian masukan terjadi serentak

Gerbang OR Kejadian keluaran terjadi jika satu dari


kejadian masukan terjadi

Gerbang Menghalangi Masukan menghasilkan keluaran saat


kejadian bersyarat terjadi

Gerbang AND prioritas Kejadiankeluaran terjadi jika semua


kejadian masukan terjadi degan urutan
dari kiri ke kanan

Gerbang OR Ekslusif Kejadian keluaran terjadi jika satu,


tetapi tidak keduanya, dari kejadian
masukan terjadi
Gerbang m-diluar-n (gerbang Kejadian keluaran terjadi jika m-
n inputs voting atau sampel) diluar-n kejadian masukan terjadi
m

Tabel Simbol – simbol logika (kejadian) dalam FTA

Simbol Kejadian Arti


Persegi Kejadian diwakili oleh sebuah gerbang

Lingkaran Kejadian dasar dengan data yang cukup

Belah Ketupat Kejadian yang belum berkembang

Putaran Baik terjadi atau tidak terjadi

Oval Kejadian bersyarat yang digunakan


dengan gerbang menghalangi

Segitiga Simbol perpindahan


B. Cut Set Method
Cut Set menurut P.L. Clemens, 2002 adalah kombinasi pembentuk pohon kesalahan yang mana bila
semua terjadi akan menyebabkan peristiwa puncak terjadi. Cut set digunakan untuk mengevaluasi diagram
pohon kesalahan dan diperoleh dengan menggambarkan garis melalui blok dalam sistem untuk menunjukkan
jumlah minimum blok gagal yang menyebabkan seluruh sistem gagal. Sebagai contoh bisa dilihat dari gambar
sebagai berikut:
T

E
C

A B

Gambar Contoh Struktur Cut Set

Peristiwa A, B, dan C membentuk menjadi peristiwa T. peristiwa A,B dan C disebut sebagai cut set.
Namun bukan kombinasi peristiwa terkecil yang menyebabkan peristiwa puncak. Untuk mengetahuinya
diperlukan minimal cut set (Alain Villemeur : 1992). Minimal cut set ini adalah kombinasi peristiwa yang
paling kecil yang membawa ke peristiwa yang tidak diinginkan. Jika satu dari peristiwa–peristiwa daalam
minimal cut set tidak terjaadi, maka peristiwa puncak atau peristiwa yang tidak diinginkan tidak akan terjadi.
Dengan kata lain minimal cut set merupakan akar penyebab yang paling terkecil yang berpotensial
menyebabkan kecacatan (peristiwa puncak).
Suatu pohon kesalahan berisi batasan minimal cut set, yaitu :
1. Pertama, minimal cut set menunjukkan kegagalan tunggal memproduksi peristiwa yang tidak
diinginkan (top event).
2. Kedua, minimal cut set menunjukkan kegagalan ganda yang mana jika kejadian terjadi secara simultan
atau bersamaan dan menyebabkan peristiwa tidak diinginkan.

C. Langkah Pembentukan Cut Set


Beberapa langkah membentuk cut set menurut P.L. Clemens, 2002, yaitu :
1. Mengabaikan semua unsur–unsur pohon kecuali pembentuk atau dasar.
2. Permulaan dengan seketika dibawah peristiwa puncak, menugaskan masing–masing
gerbang dan pembentuk atau penyebab dasar.
3. Kelanjutan menurut langkah dari peristiwa puncak mengarah ke bawah membangun
matrik menggunakan nomor dan huruf. Huruf ini mewakili gerbang peristiwa puncak menjadi masukan
matrik awal. Sebagai kontruksi maju :
a. Menggantikann nomor untuk masing–masing gerbang AND dengan nomor untuk semua gerbang yang
disebut masukan. Secara horizontal dalam matrik baris.
b. Memindahkan nomor–nomor untuk masing–masing gerbang OR dengan semua gerbang yang disebut
masukan. Memanjang vertikal dalam matrik kolom. Masing–masing gerbang OR dibentuk baris
bergantian harus pada berisi semua masukan lain dibaris induk asli.
4. Hasil matrik akhir, hanya menghasilkan angka–angka mewakili pembentuk. Masing–
masing bariss dari matrik ini adalah cut set Boolean. Dengan pemeriksaan, menghaapuskan baris manapun
yang berisi semua unsur–unsur yang ditemukan dalam baris lebih sedikit. Juga menghapuskan unsur–
unsur berlebihaan didalam baris dan baris yang menyalin baris lain. Baris yang sisa adalah minimal cut
set.
Pembentukan cut set dapat dilihat dengan jelas pada gambar 2.7.

TOP

B
D

2 4
1

2 3

Gambar Contoh Pembentukan Cut Set

D. Cut Set Quantitative


Perhitungan dalam Fault Tree Analisis digunakan untuk mengetahui nilai probabilitas dari kejadian
puncak yang terjadi. Untuk menghitung probabilitas hanya diperlukan jumlah seluruh proses yang sukses dan
kegagalan proses, hal ini ditunjukkan dalam rumus berikut ini (P.L Clemens : 2002) :
F
PF =
(S + F )

Keterangan :
S = Sukses (produk/proses)
F = Kegagalan (failure)
PF = Probabilitas Kegagalan
Untuk selanjutnya akan dihitung probabilitas dalam masing–masing gerbang, yaitu :
1. Untuk gerbang OR, probabilitas masing–masing peristiwa atau masukannya mengalami
penjumlahan dan pengurangan.
a. Untuk 2 masukan
PF = 1 – [(1 – PA)(1 – PB)]
PF = PA + PB - PAPB
b. Untuk lebih dari 2 masukan
PF = P A + PB + PC
2. Untuk gerbang AND probabilitas masing–masing masukannya dikalikan.
Dalam gerbang AND ini, untuk masukan sejumlah 2 atau lebih semua cara perhitungannya sama yaitu
dikalikan.

Berikut ini merupakan diagram pohon kesalahan beserta matrik dari salah satu top event yang terjadi dalam
proses produksi besi beton di PT. Asian Profile Indosteel yaitu terbentuknya sirip pada produk atau biasa
disebut dengan besi beton nguping.
Besi Beton
Nguping

A B

b c

Ao

3 4

1 2

Gambar Fault Tree Diagram Besi Beton Bersirip (Nguping)

Keterangan:
A : Kaliber mesin rusak 1 : Operator terburu-buru
Ao : Setting kaliber tidak pas 2 : Operator kurang terampil
B : Kemampuan mesin tidak maksimal 3 :Proses produksi baru berjalan
4 : Setelan mesin belum pas

Dari diagram pohon kesalahan atas kejadian besi nguping diatas maka langkah selanjutnya adalah
mengevaluasi akar-akar penyebab kejadian melalui matrik dalam minimal cut set. Seperti pada contoh gambar
1
2
3
4 5

Gambar Hasil akhir matrik minimal cut set


3. HASIL DAN PEMBAHASANM

Dari pengolahan data yang telah dilakukan maka didapatkan hasil probabilitas dengan struktur kecacatan
yang minimal. Setelah masing-masing dari bentuk kejadian kecacatan dan penyebab-penyebabnya
teridentifikasi dan dianalisa maka didapatkan pembahasan sebagai berikut:

1. Bentuk Besi Beton Bersirip (Nguping)


Bentuk besi beton bersirip (nguping) disebabkan oleh kemampuan mesin Rolling dan mesin pendukung
kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena proses produksi baru berjalan dan terjadi masalah saat proses
produksi berjalan digambarkan dengan gerbang OR, sehingga dalam matriks cut set dipetakan secara vertikal
karena kedua penyebab terjadi secara tidak serempak melainkan salah satu penyebab terjadi lebih dahulu.
Kecacatan yang terjadi pada saat produksi berjalan bisa disebabkan oleh setting mesin yang kurang pas,
operator terburu-buru, dan operator kurang terampil.
Sedangkan kecacatan yang timbul saat terjadinya masalah pada saat proses produksi berjalan disebabkan
oleh mesin tiba-tiba mengalami trouble dan kaliber mesin aus atau rusak digambarkan dengan gerbang AND
sehingga dalam matriks cut set dipetakan secara horizontal.
Hasil probabilititas yang dihitung setelah melakukan evaluasi adalah sebesar 0,1714 atau 17,14% per 180
menit awal proses produksi. Sedangkan probabilitas yang dihasilkan sebelum melakukan evaluasi sebesar
0,1708 atau 17,08%. Probabilitas ini menunjukkan bahwa kejadian atau cacat bentuk besi beton bersirip
(nguping) jauh dari angka 1 bahkan kurang dari 0,5 sehingga digolongkan pada kejadian yang sering terjadi.

2. Permukaan Berlubang
Penyebab utama terjadinya permukaan berlubang disebabkan oleh kemampuan mesin kurang maksimal.
Hal ini disebabkan karena proses produksi baru berjalan dan kaliber mesin Rolling aus/rusak. Kecacatan yang
terjadi pada saat produksi berjalan bisa disebabkan oleh mesin Pinc Roll kotor. Sedangkan kecacatan yang
timbul akibat kaliber mesin Rolling aus/rusak disebabkan oleh mutu Roll kurang baik dan air pendingin
kurang baik.
Hasil probabilititas yang dihitung setelah melakukan evaluasi adalah sebesar 0,1178 atau 11,78% per 180
menit awal proses produksi. Sedangkan probabilitas yang dihasilkan sebelum melakukan evaluasi sebesar
0,1133 atau 11,33%. Probabilitas ini menunjukkan bahwa kejadian atau cacat permukaan berlubang jauh dari
angka 1 bahkan kurang dari 0,5 sehingga digolongkan pada kejadian yang sering terjadi.

3. Dimensi Ukuran Tidak Sesuai


Untuk kejadian terakhir yang menyebabkan terjadinya kecacatan dalam proses produksi besi beton adalah
dimensi ukuran tidak sesuai dengan pesanan pelanggan. Hal disebabkan oleh kemampuan mesin kurang
maksimal dan kaliber rol aus.
Yang menjadi penyebab kejadian kemampuan mesin kurang maksimal adalah proses produksi baru
berjalan dan temperature Reheating Furnace tidak stabil. Akar penyebab dari proses produksi baru berjalan
adalah setting mesin kurang presisi, operator kurang terampil, dan operator terburu-buru. Sedangkan akar
penyebab dari temperatur Reheating Furnace tidak stabil adalah mutu bahan bakar (batubara) kurang baik dan
monitoring operator kurang.
Sedangkan yang menyebabkan kaliber rol aus karena pemakaian kaliber rol sudah maksimal dan
pemasang kaliber rol kurang tepat. Akar penyebab dari pemasang kaliber rol kurang tepat adalah desain
kaliber tidak sesuai dan operator kurang teliti.
Hasil probabilititas yang dihitung setelah melakukan evaluasi adalah sebesar 0,773 atau 7,73% per 180
menit awal proses produksi. Sedangkan probabilitas yang dihasilkan sebelum melakukan evaluasi sebesar
0,0491 atau 4,91%. Probabilitas ini menunjukkan bahwa kejadian atau cacat permukaan berlubang jauh dari
angka 1 bahkan kurang dari 0,5 sehingga digolongkan pada kejadian yang sering terjadi.
Dalam skala probabilitas, kejadian ketiga jenis cacat tersebut termasuk dalam kriteria 1 in 10 yang
berarti kejadian yang sering terjadi, dan urutan kejadian dari ketiga jenis cacat yang paling sering terjadi
adalah:
1. Bentuk besi beton bersirip (nguping)
Dalam waktu 180 menit awal proses produksi, peluang terjadinya cacat sebesar 0,1708 atau 17,08%
sehingga jika proses produksi tetap dilakukan dalam kondisi yang sama dalam beberapa hari atau
berbulan-bulan maka kemungkinan akan bertambah banyak jumlah produk besi beton yang bentuknya
bersirip (nguping).
2. Permukaan berlubang
Dalam waktu 180 menit awal proses produksi, peluang terjadinya cacat sebesar 0,1133 atau 11,33%.
3. Dimensi ukuran tidak sesuai
Dalam waktu 180 menit awal proses produksi, peluang terjadinya cacat sebesar 0,0491 atau 4,91%.
Sehingga dari ketiga jenis cacat yang perlu mendapat perhatian dan dilakukan perbaikan pada sistem
produksinya adalah peristiwa-peristiwa yang membentuk kejadian bentuk besi beton bersirip (nguping).
Usulan perbaikan yang dilakukan dengan menggunakan correction action terhadap peristiwa-peristiwa
tersebut agar dapat mengendalikan jalannya proses produksi dapat ditunjukkan dalam tabel 4.10 dibawah ini.

Tabel Correction Action Terhadap Penyebab Kejadian Besi Beton Bersirip (Nguping)
Bagian yang dikoreksi
Akar Penyebab Probabilitas Deskripsi Keadaan Correction Action
(diperhatikan)
Kekurangpresisian dalam
Agar setting awal pada
melakukan setting mesin sering
mesin lebih presisi maka
kali terjadi pada awal proses
dibutuhkan tenaga yang
produksi, karena operator yang
ahli dan disiplin dalam
Setting mesin kurang teliti pada saat
0,0952 menjalankan prosedur Tenaga kerja
kurang presisi mengoperasikan mesin dan
yang ada sesuai dengan
adanya setting yang hanya
peralatan yang ada dalam
berdasarkan visual / perasaan
proses produksi besi beton
operator saja serta karena
pada PT. API Surabaya
keterbatasan peralatan yang ada
Adanya target produk yang
Sebaiknya pimpinan setiap
dihasilkan per hari dan waktu
stasiun kerja lebih
baku yang minim yang
memperhatikan pekerja /
ditetapkan oleh perusahaan
operator. Dan tidak
membuat masing-masing
mendesak operator untuk
operator sangat disibukkan oleh
menyelesaikan secepat
aktivitasnya, sehingga terkesan
Operator mungkin. Akan tetapi
0,0366 terburu-buru dalam melakukan Tenaga kerja
terburu–buru memberikan motivasi
operasi dan ini dapat
pada operator bukan
mengakibatkan proses produksi
tekanan, sehingga operator
tidak berjalan sesuai prosedur
mengerjakan tidak
dan produk yang dihasilkan
terburu-buru, dan lebih
tidak sesuai dengan standar
terarah sesuai dengan
yang ditetapkan oleh
prosedur yang ada
perusahaan.
Operator 0,0361 Selain operator jarang Sebaiknya PT. API Tenaga kerja
kurang terampil memperhatikan prosedur proses Surabaya mengadakan
produksi, mereka juga kurang suatu training yaitu
mempunyai keterampilan pelatihan untuk para
dalam dalam hal proses
pekerja yang disesuaikan
produksi besi beton khususnya
dengan stasiun kerja
dalam hal melakukan setting
masing-masing.
mesin yang membutuhkan
Khususnya dalam hal
teknik dan cara yang berbeda
ketrampilan dalam hal
dengan proses produksi besi
mengatasi masalah yang
beton secara manual karena
mungkin muncul selam
alat/mesin yang digunakan
proses produksi berjalan.
berbeda.
Tindakan perbaikan
Hal ini disebabkan karena (maintenance) perlu
mesin bekerja secara kontinu ditingkatkan, jika perlu
24 jam. Dan tindakan dilakukan pengecekan
Maintenance pada Proses
Mesin trouble 0,0561 pemeliharaan (maintenance) setiap saat. Agar masalah
Rolling
yang kurang terutama untuk dalam proses produksi
tindakan preventive dan yang berhubungan dengan
prediktif maintenance kerusakan mesin dapat
diminimumkan
Diperlukan pengecekan
Mutu roll yang digunakan tiak terhadap mutu roll dan
Kaliber mesin sesuai dengan yang diharapkan desain kaliber roll yang
0,0609 Proses Rolling
aus/rusak dan setting/desain kaliber tidak akan digunakan, sehingga
sesuai. kemampuan mesin dapat
bekerja secara maksimal

E. KESIMPULAN

Berdasarkan pengumpulan dan pengolahan data yang telah dilakukan dalam penelitian identifikasi
faktor-faktor kecacatan pada produk besi beton polos PT. Asian Profile Indosteel Surabaya dengan
menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA), maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Jenis cacat pada besi beton yang sering terjadi adalah bentuk bersirip (nguping), permukaan berlubang,
dan dimensi ukuran tidak sesuai.
2. Besarnya probabilitas terjadinya suatu kecacatan pada produk PT. Asian Profile Indosteel adalah sebagai
berikut:
a. Bentuk besi beton bersirip (nguping)
Probabilitas kejadian per 180 menit pertama awal proses produksi adalah sebesar 0,1708 atau
17,08%.
b. Permukaan berlubang
Probabilitas kejadian ini per 180 menit pertama awal proses produksi sebesar 0,1133 atau 11,33%
c. Dimensi ukuran tidak sesuai
Probabilitas kejadian ini per 180 menit pertama awal proses produksi sebesar 0,0491 atau 4,91%.
3. Usulan perbaikan untuk perusahaan berdasarkan Correction Action dilakukan pada jenis cacat yang
memiliki probabilitas yang paling tinggi yaitu pada jenis cacat bentuk besi beton bersirip (nguping).

DAFTAR PUSTAKA
Allan Villemeur. 1992. Reliability Evaluation of Engineering System Concepts and Techniques, 2nd edition. Plenum
Pree New York and London.
A-Z Indexs, www.batan.go.id.
Connor, P.D.T.O. 1993. Pratical Reliability Engineering, third edition. John Wiley and Sons Inc.
Chang, Richard Y. 1998. Alat Peningkatan Mutu Jilid 1. Penerjemah: Erlinda M. Nusron. Jakarta : PT. Pustaka
Binaman Pressindo.
Deddy Chrismianto. 2006. Aplikasi Fault Tree Analysis (FTA) Dalam Analisa Keandalan Sistem Pelumas Motor
Induk Kapal. Staf Pengajar Program Studi S-1 Teknik Perkapalan FT-UNDIP Semarang. www.google.com
Didik Siswoyo. 2006. Analisis Faktor–Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kecacatan Produk Dengan
Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) pada PT. Industri Marmer Indonesia Tulungagung.
Tugas Akhir S-1 (Skripsi) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Surabaya.
Dorothea W, Ariani. 2003. Pengendalian Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif. Yogyakarta: Ghalia Indonesia.
Gasperz, Vincent. 2001. Metode Analisis Untuk Peningkatan Kualitas. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Tama.
Hasnan Adnan. Mengenal Baja (Introduction of Iron). www.oke.or.id.
Maria Rita Joan Hosana. 2005. Identifikasi Tingkat Kecacatan Paving Stone Dilihat Dari Segi Kepuasan
Pelanggan Dengan Fault Tree Analysis (FTA) di CV. Sinar Terang Beton, Surabaya. Tugas Akhir S-1
(Skripsi) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Surabaya.
PL. Clemens. 2002. Fault Tree Analysis, fourth edition. Jacobs Sverdrup. George Washington University.
Thomas Pyzdek. 2002. The Six Sigma Hand Book Edisi 1. Jakarta : Salemba.