Anda di halaman 1dari 15

Sejarah Hukum Agraria

1. Masa pemerintahan belanda (Sesudah tahun 1870 berlaku hukum tanah


administratif Belanda).
a. Agrarische Wet(A W).
Pada tahun 1870 lahirlah Agrarische Wet yang merupakan pokok penting
dari hukum agraria dan semua peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan
pemerintah masa itu sebagai permulaan hukum agraria barat. Ide awal
dikelularkannya Agrarische Wet (AW) ini adalah sebagai respon terhadap
kaingina perusahaan-perusahaan asing yang bergerak dalam bidang pertanian
untuk berkembang di Indonesia, namun hak-hak rakyat atas tanahnya harus
dijamin.
AW ininmerupakan undnag-undang di negeri Belanda, yang diterbitkan
pada tahun 1870, dengan diundangkan dalam S.1870-55. dimasukkannya ke
Indonesia, dengan memasukkan Pasal 62 RR, yang pada mulanya terdiri dari 3
ayat, dengan penambahan 5 ayat tersebut sehingga Pasal 62 RR menjadi 8 ayat,
yakni ayat 4 sampai dengan ayat 8. pada akhirnya Pasal 62 RR ini menjadi Pasal
51 IS.
Terbentuknya AW merupakan upaya desakan dari para kalangan pengusaha
di negeri Belanda yang karenan keberhasilan usahanya mengalami kelebihan
modal, karenanya memerlukan bidang usaha baru untuk menginvestasikannya.
Dengan banyaknya persediaan tana hutan di jawa yang belum dibuka, para
pengusaha itu menuntut untuk diberikannya kesempatan membuka usaha di
bidang perkebunan besar. Sejalan dengan semangat liberalisme yang sedang
berkembang dituntut pengantian sisten monopoli negara dan kerja paksa dalam
melaksanakan cultuur stelse, dengna sisitem persaingan bebasa dan sistem kerja
bebas, berdasarkan konsepsi kapitalisme liberal.
Tuntutan untuk mengakihiri sistem tanam paksa dan kerja paksa dengan
tujuan bisnis tersebut, sejalan dengan tuntutan berdasarkan pertimbangan
kemanusiaan dari golongan lein di negeri Belanda, yang mellihat terjadinya
penderitaan yang sangat hebat di kalangan petani Jawa, sebagai akibat penyalah
gunaan wewenang dalam melaksanakan cuktuur stelsel oleh para pejabat yang
bersangkutan.

Dari itu jelaslah tujuan dikeluarkannya AW adalah untuk membuka


kmeungkinan dan memberikan jaminan hukum kepada para pengusaha swasta
agar dapat berkembang di Hindi Belanda.
Selain itu AW juga bertujuan untuk :
A. Memperhatikan perusahaan swasta yang bermodal besar dengan jalan :
1). Memberikan tanah-tanah negara dengan hak Erfacht yang berjangka waktu
lama, sampai 75 tahun.
2). Untuk memberikan kemungkinan bagi para pengusaha untuk menyewakan
tanah adat/rakyat.
B. Memperhatikan kepentigan rakyat asli, dengan jalan :
1). Melindungi hak-hak tanah rakyat asli.
2). Memberikan kepada rakyat asli untuk memperoleh hak tanah baru
(Agrarische eigendom).
Untuk pelaksanaan AW tersebut, maka diatur lebih lanjut dalam berbagai
peraturan dan keputusan, diantaranya dalam Agrarische Besluit.
b. Agrarische Besluit(A B).
Ketentuan-ketentuan AW pelaksanaannya diatur lebih lanjuta dalam
peraturan dan keputusan. Salah satu keputusan yang paling penting adalah apa
yang dimuat dalam Koninklijk Besluit (KB), yang kemudian dikenal dengan
nama Agrarische Besluit (AB), S.1870-118.
AB terdiri dari tiga bab, yaitu ;
1). Pasal 1-7 tentang hak atas tanah;
2). Pasal 8-8b tentang pelepasan tanah;
3). Pasal 19-20 tentang peraturan campuran.
Dalam Pasal 1 AB tersebut dimuat satu pernyataan yang asas yang sangat
penting bagi perkembangan dan pelaksanaan hukum tanah administratif Hindi
Belanda. Asas tersebut dinilai sebagai kurang menghargai, bahkan memperkosa
hak-hak rakyat atas tanah yang bersumber pada hukum adat.
Dinyatakan dalam Pasal 1 AB tersebut :
Behoudens opvolging van de tweede en derde bepaling der voormelde wet, blijft
het beginsel gehandhaafd, dat alle grond, waarop niet anderen reght van
eigendom wordt bewezen, domein van de staat is.
Jika diterjemahkan :
Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan dalam Pasal 2 dan 3 Agrarische

Wet, tetap dipertahankan asas, bahwa semua tanah yang pihak lain tidak dapar
membuktikan sebagai hak eigendomnya, adalah domein negara (milik) negara.
AB hanya berlaku untuk Jawa dan Madura, maka apa yang dinyatakan
dalam Pasal 1 AB tersebut, yang dikenal sebagai Domein Verklaring (Pernyataan
Domein) semulanjuga berlaku untuk Jawa dan Madura saja. Tetapi kemudian
pernyataan domein tersebut diberlakukan juga untuk daerah pemerintahan
langsung di luar Jawa dan Madura, dengan suatu ordonansi yang diundangkan
dalam S.1875-119a.
Maksud dari adanya pernyataan domein itu adalah untuk memberikan
ketegasan sehingga tidak ada keragu-raguan, bahwa satu-satunya penguasa yang
berwenang untuk memberikan tanah-tanah kepada pihak lain adalah Pemerintah.
Dengan adanya pernyataan domein, maka tanah-tanah di Hindi Belanda dibagi
menjadi dua jenis, yaitu :
1).Vrijlands Domein atau tanah negara bebas, yaitu tanah yang di atasnya tidak
ada hak penduduk bumi putera.
2).Onvrijlands Domein atau tanah negra tidak bebas, yaitu tanah yang di atasnya
ada hak penduduk maupun desa.
Dalam praktiknya, pernyataan domein mempunyai dua fungsi, yakni :
1). Sebagai landasan hukum bagi pemerintah kolonial untuk dapat memberikan
tanah dengan hak-hak barat seperti yang diatur dalam KUHPerdata, misalnya
hak eigendom, hak opstal, dan hak erfacht.
2). Untuk keperluan pembuktian pemilikan, yaitu apabila negara berperkara,
maka negara tidak pelu membuktikan hak eigendomnya atas tanah, tetapi piha
lainlah yang wajib membuktikan haknya.
Untuk diketahui bahwa hak rakyat Indonesia atas tanahnya adalah
berdasarkan hukum adat, sedangkan dalam hukum adat tidak adak ketentuan
hukum yang sama dengan Pasal 570 BW, maka denga sekaligus semua tanah dari
rakyat Indonesia termasuk menjadi tanah negara (domein negara).
Yang tidak termasuk tanah negara, menurut Pemerintah Hindia Belanda, adalah
tanah-tanah seperti di bawah ini :
1). Tanh-tanah daerah swapraja;
2). Tanah-tanah yang menjadi eigendom orang lain;
3). Tanah-tanah partikulir;
4). Tanah-tanah eigendom agraria (Agrarische eigendom).

c. Erfacht Ordonantie.
Mengenai pemberian hak erfacht kepada para pengusaha tersebut, menurut
AW harus diataur dalam ordonansi. Maka daka dalam pelaksanaannya dijumpai
berbagai peraturan mengenai hak erfacht, yaitu :
A.Untuk Jawa dan Madura, kecuali daerah-daerah Swapraja
1).Agrarische Besluit (S.1870-118) Pasal 9 sampai dengan 17;
2).Ordonansi yang dimuat S.1872-237a, yang beberapa kali mengalami
perubahan , terakhir dalam tahun 1913 disusun kembali dan diundangkan
dalam S.1913-699.
B.Untuk luar Jawa dan Madura, kecuali daerah-daerah Swapraja : semula ada
beberapa ordonansi yang mengatur hal-hal mengenai pemberian hak erfacht
yang berlaku di daerah-daerah tertentu,
1). S.1874f untuk Sumatera.
2). S.1877-55 untuk keresidenan Manado.
3). S.1888-58 utnuk daerah Zuider-en Oosteradeling Borneo.
Dalam tahun 1914 diundangkan satu ordonansi utnuk semua daerah
pemerintahan langsung di luar Jawa dan dimuat dalam S.1914-367 Ordonansi
yang baru itu dikenal dengan sebutan Erfachtordonantie Buitengewesten.
Semua ordonansi yang lama ditarik kembali kecuali Pasal 1-nya masing-masing.
Untuk daerah-daerah swapraja luar Jawa diatur dalam S.1910-61 dengan
sebutan

erfachtordonantie

Zelfbesturende.

Landschappen

Buitengewesten.

Berlakunya di masing-masing swaprajamenurut petunjuk Gubernur Jenderal.


Sebelum adanya ordonansi itu di daerah-daerah swapraja di luar Jawatidak
diberikan hakerfacht, melainkan hak konsesi untuk perusahaan kebun
besar.Persewaan tanah rakyat kepada perusahaan kebun besar diatur pula dengan
ordonansi, yang telah mengalami perubahan-perubahan menjadi :
1). Grondhuurordonantie (S.1918-88), yang berlaku di Jawa danMadura, kecuali
Surakarta dan Yogyakarta;
2).Vordtenlands Groondhuur Reglement (S.1918-20), yang berlaku didaerah
swapraja Surakarta dan Yogyakarta.
d. Agrarische Eigendom.
Agrarische eigendom adalah suatu koninklijk besluit tertanggal 16 April
1872, Nomor : 29, mengenai hak agrarische eigendom.

Yang dimaksud dengan Agrarische eigendom adalah suatu hak yang


bertujuan untuk memberikan kepada orang-orang Indonesia/pribumi,nsuatu hak
yang kuat atas sebidang tanah. Agrarische eigendom ini, dalam praktik untuk
membedakan hak eigendom sebgaimana yang dimaksud dalam BW.
Agrarische eigendom diatur dalam Pasal 51 ayat (7) I.S., diatur lebih lanjut
dalam Pasal 4 AB kemudian diatur lebih lanjut dalam KB tanggal 16 April 1872
Nomor : 29 (S. 1872-117) dan S. 1837-38. berdasarkan KB tersbut, tata cara
memperoleh Agrarische eigendom dijelaskan di bawah ini, yaitu :
1). Apabila seseorang Indonesia asli (=bumi putera) berkeinginan agar hak milik
atas

tanahnya,

dirubah

menjadi

Hak

Agrarische

eigendom,

maka

pemohonannya harus diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat, agar


ia ditetapkan sebagai pemiliknya. Inilah yang disebut : uitwijzing van erfelijk
individucel gebbruikrecht. Ini hanya mungkin apabila tanahnya diluar
sengketa, artinya tanpa berperkara dengan pihak lain.
2). Untuk ini semua sebelumnya diadakan pengumuman, di desanya yang
bersangkutan untuk memberi kesempatan kepada pihak ketiga yang merasa
berkepentigan akan mengajukan keberatan-keberatan terhadap permohonan
uitwijzing van erfelijk individucel gebbruikrecht di atas.
3). Dengan berlandaskan keputusan ketua pengadilan negeri tersebut, maka
agrarische eigendom dapat diberikan kepada pemohon oleh bupati yang
bersangkutan bertindak untuk dan atas nama pemberian gubernur jenderal.
4).Agrarische eigendom yang telah diperoleh dari bupati tersebut, maka
Agrarische eigendom tersebut harus didafatarkan menurut peraturan
sebagaimana dimuat dalam S.1873-38, dan kepada pemiliknya akan mendapat
surat tanda bukti hak.
5). Setiap peralihan hak, pembebanan degnan hypotheek, harus didaftarkan di
Kantor Pengadilan Negeri.
Tujuan

adanya

Agrarische

eigendom

sebetulnya

bertujuan

untuk

memberikan kepada orang-orang Indonesia asli dengan semata hak yang kuat,
yang pasti karena terdaftar dan haknya dapat dibebani dengan hypotheek. Tetapi
dalam praktiknya kesempatan untuk menggantikan hak miliknya dengan menjadi
Agrarische eigendom tidak banyak dipergunakan

3. Sesudah Tahun 1942.


Pada periode sesudah tahun 1942, terjadi situasi yang cenderung pada :
A.Periode kacau di bidang pemerintahan mengakibatkan kebijaksanaan
pemanfaatana tanah dan penguasaan tanah tidak tertib;
B. Tujuan utama, usaha menunjang kepentingan Jepang;
C. Permulaan akupasi liar pada tanah-tanah perkebunan atau penebangan liar;
D. Usaha pengembalian kembali perkebunan milik Belanda;
E. Kerusakan fisik tanah karena politik bumihangus dan penggunaan tanah
melampaui batas kemampuannya.
Pada masa penjajahan tersebut di atas keadaan hukum agraria Indonesia menurut
hukum adat tidak terlepas dari hukum adat daerah setempat antara lain, perangkat
hukumnya tidak tertulis, bersifat komunal, bersifat tunai dan bersifat langsung.
Sedangakan mengenaihak atas tanah mengenal peristilahan yang lain ;
A. Hak persekutuan atas tanah yaitu hak ulayat;
B. Hak perorangan atas tanah :
1) Hak milik, hak yayasan;
2) Hak wenang pilih, hak mendahulu;
3) Hak menikmati hasil;
4) Hak pakai;
5) Hak imbal jabatan;
6) Hak wenang beli.
Pada masa kolonial ini tanah-tanah hak adat tidak terdaftar, kalaupun ada hanyalah
bertujuan untuk bukti setoran pajak yang telah dibayar oleh pemiliknya, sehingga
secara yuridis formal bukan sebagai pembuktian hak.
4. Hukum Agraria Masa Kemerdekaan Sampai Tahun 1960.
Diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945
oleh Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia mengakibatkan bangsa Indonesia
memperoleh kedaulatan di tangan sendiri. Pada masa itu pendudukan tanah oleh
masyarakt sudah menjadi hal yang sangat komplek karena masyarakat yang belum
berkesempatan menduduki tanah perkebunan dalam waktu singkat berusaha untuk
menduduki tanah.
Sejak pengakuan keadulatan oleh Belanda atas negara Indonesia, barulah
pemerintah mulai menata kembali pendudukan tanah oleh rakyat dengan

melakukan hal-hal berikut


A. Mendata kembali berapa luas tanah dan jumlah penduduk yang mengusahakan
tanah-tanah perkebunan untuk usaha pertanian. Di daerah Malang luasnya
tanah perkebunan 20.000 Ha. pendudukan oleh rakyat seluas 8.000 Ha.
Daerah Kediri luas tanah perkebunan 23.000 Ha. pendudukan oleh rakyat
seluas 13.000 Ha. dan menurut perkiraan dari luas tanah perkebunan di Jawa
yang seluas 200.000 Ha. telah diduduki rakyat seluas 80.000 Ha.
B. Pendudukan tanah perkebunan yang hampir dialami oleh semua perkebunan
lambat laun akan menghambat usaha pembangunan kembali suatu cabang
produksi yang penting bagi negara serta memperlambat pesatnya kemajuan
produksi hasil-hasil perkebunan yang sangat diperlukan. Sebagian tanah
perkebunan yang terletak di daerah pegunungan sehingga taidak cocok untuk
usaha pertanian, untuk itu perlu ditertibkan.
C. Pemakian tanah-tanah perkebunan yang berlokasi di daerah pegunungan
tersebut dikuatirkan akan menimbulkan bahayb erosi dan penyerapan air.
D. Pemakaian tanah-tanah oleh rakyat di beberapa daerah menimbulkan
ketegangan dan kekeruhan yang membahayakan keamanan dan ketertiban
umum.
Untuk itu, maka dikeluarkanlah Undang-undang Nomor : 8 Tahun 1954
tentang : Penyelesaian soal Pemakaian Tanah Perkebunan oleh Rakyat.
Penyelesaian akan diusahakan bertingkat 2 (dua) sebagai berikut :
A. Tahap pertama; terlebih dahulu akan diusahakan agar agenda segala sesuatu
dapat dicarikan penyelesaiannya atas dasar kata sepakat antar pemilik
perkebunan dengan rakyat/penggarap;
B. Tahap kedua; apabila perundingan sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu)
tidak berhasil, maka dalam rangka penyelesaian penggarapan tanah
perkebunan

tersbut

akan

mengambil

kebijakan

sendiri

dengan

memperhatikan :
1) Kepentingan rakyat dan kepentingan penduduk, letak perkebunan
yangbersangkutan;
2) Kedudukan perusahaan perkebunan di dalam susunan perekonomuian
negara. Agar pelaksanaan dari keputusan tersebut dapat berjalan dengan
sebaik-baiknya, maka diatur ketentuan sebagai berikut :

a.Kemungkinan pencabutan dan pembatalan hak atas tanah perkebunan


milik para pengusaha, baik sebagian meupun seluruhnya, jika mereka
dengan sengaja menghalangi upaya penyelesaian;
b.Ancaman hukum terhadap mereka yang melanggar atau menghalangi;
c.Ancaman hukuman terhadap mereka yang tidak dengan seizin pemilik
perkebunan, masih terus memakai tanah perkebunan sesudah tuntutan ini
diberlakukan;
d.Ketentuan tentang harus mengadakan pengosongan.
Untuk mencegah pendudukan kembali tanah perkebunan oleh rakyat, maka
pemerintah megeluarakan perarturan tentang larangan pendudukan tanah tanpa izin
yang berhak yaitu Undang-undang Nomor : 51 Prp. Tahun 1960.

Selain ketentuan dia atas, dalam upaya menata kembali hukum pertanahan
pemerintah telah membuat kebijakan dengan mengeluarkan peraturan perundangundangan sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor : 19 Tahun 1956 tentang : Penentuan Perusahaan
Pertanian/Perkebunan Milik Belanda yang Dikenakan Nasionalisasi.
2. Undang-undang Nomor : 28 Tahun 1956 tentang : Pengawasan Terhadap
Pemindahan Hak Atas Tanah Perkebunan.
3. Undang-undang Nomor : 29 Tahun 1956 tentang : Peraturan Pemerintah dan
Tindakan-tindakan Mengenai Tanah Perkebunan.
4. Ketentuan lain yang menyangkut pemakaian tanah-tanah milik warga negara
Belanda yang kembali ke negerinya

ORDE LAMA
Sebagaimana disebut sebelumnya, peraturan mengenai redistribusi tanah telah
diawali dengan Undang-Undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 tentang redistribusi tanah
pertanian. Secara historis, Orde Lama telah menempatkan

landreform sebagai

kebijakan revolusioner dalam pembangunan semestanya. Bahwa syarat pokok untuk


pembangunan tata perekonomian adalah antara lain pembebasan berjuta-juta kaum
tani dan rakyat pada umumnya dari pengaruh kolonialisme, imperialisme, feodalisme

dan kapitalisme dengan melaksanakan landreform menurut ketentuan hukum nasional


Indonesia, seraya meletakkan dasar-dasar bagi industrialisasi, terutama industri dasar
dan industri berat yang harus diusahakan dan dikuasai negara. TAP MPRS RI Nomor
II/MPRS/1960 dan Manifesto Politik menyebut tiga landasan filosofis pembangunan
pada masa ini yaitu: anti penghisapan atas manusia oleh manusia (Iexploitation de I
homme per I homme); kemandirian ekonomi; dan anti kolonialisme, imperialisme,
feodalisme dan kapitalisme dengan landreform sebagai agenda pokoknya.
Demikian juga dari jumlah Peraturan Perundang-Undangan bidang Hukum
Pertanahan Periode 1960-1966, sebagian besar dari keseluruhan peraturan perundangundangan yang diterbitkan pada masa ini adalah tentang landreform dan pengurusan
hak atas tanah15. Tampak jelas bahwa era pemerintahan ini meletakkan isu agraria
sebagai pokok bidang yang harus segera diprioritaskan. Landreform sebagai bagian
mutlak daripada revolusi Indonesia adalah basis pembangunan semesta yang
berdasarkan prinsip bahwa tanah sebagai alat produksi tidak boleh dijadikan sebagai
alat penghisapan.
Menurut Utrecht, landreform merupakan strategi politik agraria yang
dilatarbelakangi oleh perseteruan beberapa kepentingan, terutama kepentingan para
petani tak bertanah melawan kepentingan para tuan tanah16. Kepentingan dari dua
golongan ini muncul pula di tingkat elite kenegaraan, dimana terbentuk tiga golongan
yaitu golongan radikal yang mengusulkan pembagian tanah berdasar prinsip tanah
bagi mereka yang benar-benar menggarapnya. Sedangkan mereka yang memiliki
tanah luas adalah telah melakukan penghisapan terhadap manusia lainnya. Golongan
ini terdiri dari PKI, PNI dan Partai Murba. Golongan kedua adalah golongan
konservatif yang terdiri dari Partai-partai Islam dan sebagian PNI. Inti dari pendapat
golongan ini adalah penolakan dilakukannya pembatasan atas luas pemilikan tanah
dan tuduhan pemilikan tanah luas sebagai penghisapan. Sedangkan golongan ketiga
adalah golongan yang kompromis terhadap kedua golongan lainnya. Mereka
menerima pendapat golongan radikal tetapi dengan penerapan yang bertahap. Dalam
golongan inilah Soekarno dan Sadjarwo (Menteri Agraria) sebagai dua tokoh penting
dalam perumusan UUPA menjadi anggotanya.
Pelaksanaan program ini ditandai dengan program pendaftaran tanah berdasar
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961, untuk mengetahui dan memberi
kepastian hukum tentang pemilikan dan penguasaan tanah. Kemudian penentuan
tanah-tanah berlebih (melebihi batas maksimum pemilikan) yang selanjutnya dibagi-

bagikan kepada sebanyak mungkin petani tidak bertanah. Termasuk juga pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil.
Tetapi ketiga program tersebut mengalami hambatan sebagaimana dikatakan
oleh Sadjarwo bahwa kelemahan administrasi yang tidak sempurna yang menyulitkan
redistribusi tanah; dan kurangnya dukungan baik itu dari rakyat, organisasi petani,
organisasi politik, tokoh-tokoh dan panitia landreform sendiri. Hal ini kemudian
menyebabknan terjadinya aksi sepihak, baik itu oleh petani yang lapar tanah maupun
tuan tanah18. Akibat banyaknya aksi sepihak ini, dikeluarkanlah Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 1964 tentang Pengadilan Landreform.
Sehingga dapat dikatakan bahwa program landreform sebagai awalan
pelaksanaan tujuan tersebut, pada penerapannya mengalami kegagalan19. Hal itu
karena :
1. Kelambanan praktek-praktek pemerintah dalam pelaksanaan Hak Menguasai
Negara;
2. Tuntutan organisasi dan massa petani yang ingin meredistribusikan tanah secara
segera sehingga kemudian timbul aksi sepihak;
3. Unsur-unsur anti landreform yang melakukan berbagai mobilisasi kekuatan tanding
dan siasat mengelak dari dan untuk menggagalkan landreform;

4. Terlibatnya unsur kekerasan antara kedua pihak yaitu yang pro dan kontra
landreform. Konflik ini bahkan memuncak dan menimbulkan konflik yang lebih
besar di dalam konflik elite politik yang berujung pada peristiwa Gerakan 30
September 1965 dan jatuhnya rezim Orde Lama.
Akan halnya hasil dari program

landreform masa inimenurut Utrecht

adalah diredistribusikannya sekitar 450.000 hektar, yaitu sejak program ini


dicanangkan pertama kalinya hingga akhir tahun 1964. Perinciannya adalah tahap I
sejumlah 296.566 hektar dan tahap II sejumlah 152.502 hektar karena tahap II ini
belum selesai. Pembagian ini terutama baru dilaksanakan di Pulau Jawa, Madura, Bali
dan Nusa Tenggara. Sedangkan tanah kelebihan yang telah ditentukan adalah 337.445
hektar.
ORDE BARU

Berbeda dengan Orde Lama, pemerintahan Soeharto ini memfokuskan


pembangunan pada pertumbuhan ekonomi, dan memulai kebijakan pembangunan
ekonominya dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang
Penanaman Modal Asing untuk menarik investasi asing dalam pengelolaan sumber
daya alam. Terjadi denasionalisasi (privatisasi) perusahaan asing pada tahun 1967
yang sebelumnya telah dinasionalisasi oleh pemerintahan Soekarno pada tahun
1958.Hal ini dengan alasan kondisi perekonomian yang kritis dan defisit sebagai
peninggalan Orde Lama. Bahkan sebelumnya dilakukan negosiasi penjadwalan ulang
atas utang-utang luar negeri sekaligus mengajukan pinjaman-pinjaman baru.
Stigma PKI atau subversif sering dicapkan kepada orang-orang atau
organisasi-organisasi yang tidak se-ide dengan rezim ini sehingga terjadi pembekuan
gerakan-gerakan revolusioner. Sebagaimana landreform yang merupakan salah satu
kebijakan Orde Lama yang populis, dianggap sebagai produk PKI sehingga
dihentikan secara total. Bahkan perebutan kembali tanah-tanah yang semula dientukan
sebagai tanah kelebihandan karenanya menjadi objek redistribusi tanahdilakukan
oleh sejumlah tuan tanah.
Kebijakan landreform pada masa ini hanya sebagai masalah tehnis, atau sebagai
program rutin birokrasi pembangunan. Rezim ini menghapus peraturan perundangundangan yang menjadi pokok landreform, terutama dikeluarkannya Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1970 yang menghapus Undang-Undang tentang Pengadilan
Landreform dan Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil yang secara sosiologis tidak
diberlakukan pada era ini.
Konsepsi hukum agraria Orde Lama yang cenderung populis sebagaimana
dalam UUPA, diganti dengan konsepsi yang berorientasi pada pembangunan
ekonomi. Landreform yang menjadi program pokok Orde Lama dalam pemerataan
tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat menjadi terabaikan. Kebijakan
pertanahan Orde Baru lebih ditujukan pada pemusatan penguasaan atas tanah dan
pembangunan ekonomi yaitu dengan peningkatan produksi pertanian sehingga
tercapai swasembada pangan (melalui Revolusi Hijau) dan bahkan ekspor hasil
pertanian ke sejumlah negara lain.
Dari data yang diperoleh pada Sensus Pertanian yang dilakukan tahun 1993,
didapatkan data penguasaan tanah pertanian sebagai berikut: (1) 22, 41% dari
19.713.806 rumah tangga tani hanya menguasai tanah seluas 0,25 sampai 0,49 hektar
lahan pertanian; (2) 48,61% memguasai lahan lebih dari 0,5 hektar. Tetapi terdapat

perincian yang menunjukkan ketimpangan yang tajam dalam penguasaan dan


pemilikan tanah pertanian tersebut, yaitu: (1) 8.726.343 atau 48,54% dari keseluruhan
rumah tangga tani hanya menguasai 13,6% dari keseluruhan lahan pertanian; (2)
217.720 atau 1,21% dari keseluruhan rumah tangga tani menguasai 1.457.477,46
hektar atau 9,44% dari keseluruhan lahan pertanian yang ada. Dari data tersebut,
berarti kelompok pertama hanya menguasai lahan pertanian rata-rata seluas 0,24
hektar, sedangkan kelompok kedua rata-rata penguasaannya adalah sekitar 22,174
hektar . Data tersebut menunjukkan ketimpangan penguasaan tanah pada rezim ini
yang didominasi oleh para pemilik modal. Demikian juga dalam hal penguasaan akan
hutan dan sumber daya agraria lainnya.
Selain itu, dalam hal pendaftaran tanah, rezim ini juga kemudian mengganti
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yang dinilai banyak pihak merupakan agenda
Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya di Indonesia. Berbeda
dengan produk Orde Lama yang bertujuan untuk kepentingan penataan penguasaan
tanah melalui landreform, produk hukum Orde Baru tentang pendaftaran tanah ini
adalah demi yang disebut kepastian hukum dari pemilikan hak atas tanah melalui
sertifikat.

Perbedaan lainnya adalah jika UUPA dan Peraturan Pemerintah Nomor 10


Tahun 1961 lebih mendasarkan pada pendaftaran tanah dengan stelsel negatif. Bahwa
apa-apa yang terdaftar tidak secara otomatis dan mutlak menjamin kebenaran akan
pemilikan tanah. Sebaliknya dalam stelsel positif, apa-apa yang terdaftar
merefleksikan keadaan yang sebenarnya. Dalam stelsel negatif, orang yang
sebenarnya berhak atas tanah dapat mengajukan gugatan pada pengadilan atas tanah
miliknya meskipun tanah tersebut telah didaftarkan sebagai hak orang lain. Dalam
peraturan yang baru disebutkan bahwa masih digunakan stelsel negatif sesuai dengan
UUPA. Tapi diakomodir juga stelsel positif, yang diimbangi dengan upaya untuk
meningkatkan kebenaran dari data yang terdaftar itu.
Ketika ini dikaitkan dengan LAP (Proyek Administrasi Pertanahan) yang
mengatakan:
...permasalahan tanah selama ini terletak pada sistem administrasi yang pluralistik
yang dimiliki masyarakat adat... terlihat bahwa peraturan ini bertujuan untuk

menciptakan homogenitas administrasi pertanahan akan memudahkan kepentingan


bisnis untuk memperoleh tanah yang selama ini dimiliki masyarakat adat secara
komunal. Dan inilah yang kemudian dinilai banyak pihak semakin mengeliminir
keberadaan tanah ulayat.
Hasil redistribusi tanah yang didapat pada Juni 1998 adalah dari 1.397.167
hektar yang menjadi objek landreform, baru diredistribusikan sejumlah 787.931
hektar (56,4%) yang diterima oleh sejumlah 1.267.961 rumah tangga tani.
ORDE REFORMASI
Seiring dengan perubahan konstelasi politik, alam demokrasi yang semakin
menguat, dan dilaksanakannya sistem desentralisasi, maka semangat pembaruan
agraria juga menggema dan kemudian melahirkan Ketetapan MPR Nomor IX Tahun
2001 yang merekomendasikan dilakukannya pembaruan atau revisi terhadap UUPA.
Beberapa peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumber daya alam
(agraria) dikeluarkan sejak dilakukannya reformasi pemerintahan di tahun 1998. Baik
itu yang kemudian dinilai merupakan langkah maju maupun yang justru dinilai
mundur dari substansi peraturan-peraturan sebelumnya.

Landreform kembali masuk dalam program penting pembaruan agraria, yaitu


disebutkan dalam pasal 5 TAP MPR RI No. IX/MPR/2001 bahwa salah satu arah
kebijakan pembaruan agraria adalah:
-

melaksanakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan


pemanfaatan tanah (landreform) yang berkeadilan dengan memperhatikan
kepemilikan tanah oleh rakyat;

menyelenggarakan pendataan pertanahan melalui inventarisasi dan registrasi


penguasaan,

pemilikan,

penggunaan

dan

pemanfaatan

tanah

secara

komprehensif dan sisematis dalam rangka pelaksanaan landreform.


Selanjutnya pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, redistribusi
tanah pun kembali diagendakan. Berdasarkan catatan Kompas, pembagian 8,15 juta
hektar lahan ini akan dilakukan pemerintah tahun 2007 hingga 2014. Diperkirakan, 6
juta hektar lahan akan dibagikan pada masyarakat miskin. Sisanya 2,15 juta hektar

diberikan kepada pengusaha untuk usaha produktif yang melibatkan petani


perkebunan. Tanah yang di bagian ini tersebar di Indonesia, dengan prioritas di Pulau
Jawa, Sumatera, dan Sulawesi Selatan. Tanah itu berasal dari lahan kritis, hutan
produksi konversi, tanah telantar, tanah milik negara yang hak guna usahanya habis,
maupun tanah bekas swapraja.

DAFTAR PUSTAKA
Fauzi, Noer, 1999,

Petani&Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria di

Indonesia, kerjasama Insist Press, KPA dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta.


Harsono, Boedi, 1999, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan UndangUndang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya,

edisi revisi, Djambatan,

Jakarta;
Ismail, Nurhasan, 2006,

Perkembangan Hukum Pertanahan Indonesia: Suatu

Pendekatan Ekonomi-Politik, Disertasi pada Program Doktor Ilmu Hukum


Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Parlindungan, AP., 1991, Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar
Maju, Bandung;
Pembagian Lahan agar Hati-hati: Ada yang Dijual atau Digadaikan, Kompas 30
Januari 2007.
Simarmata, Ricardo, 2006, Pengakuan Hukum terhadap Masyarakat Adat di
Indonesia, UNDP Regional Centre in Bangkok;
Sumardjono, Maria SW, 1998, Kewenangan Negara untuk Mengatur dalam Konsep
Penguasaan Tanah oleh Negara, dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Hukum UGM, tanggal 14 Februari 1998 di Yogyakarta;
-------, 2001, Kebijakan Pertanahan: Antara Regulasi dan Implementasi, edisi revisi,
Kompas, Jakarta;
Suseno, Frans Magnis, 1993, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta;
Tjondronegoro, Sediono MP. &Gunawan Wiradi, 1984, Dua Abad Penguasaan
Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa,
Yayasan Obor Indonesia dan PT Gramedia, Jakarta;
Wignjosoebroto, Soetandyo, 1994, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional:
Dinamika Sosio-Politik Perkembangan Hukum di Indonesia, Rajawali Press,
Jakarta;