Anda di halaman 1dari 10

MIASTENIA GRAVIS

patogenesis
Pada MG tjd atrofi membran reseptor

pd

motor end plate akibat proses


imunologik celah antara lipatan
membran tidak dpt menerima asetilkolin
dan celah sinap >> lebar
kolinesterase mempunyai kesempatan
waktu lb banyak menghancurkan
asetilkolin.

GAMBARAN KLINIS
1. Gambaran Umum

Awitan biasanya tak jelas (insidius), tp bila


sudah

berkembang

sangat

cepat,

dan

sering

didahului oleh emosional dan ISPA.


Kelemahan otot khas otot okulofasiobulbar yang
fluktuatif

disertai

keluhan

pusing,

kesulitan

mengunyah dan menelan.


Kelemahan
otot
levator
palpebrae
dan
otot2
ekstraokuler, bila otot leher terkena mk penderita
tak mampu menegakan leher dan tingkat lanjut otot
seluruh tubuh terkena.

2. Keadaan keadaan

krisis

Periode2 yg menyebabkan kematian tinggi :


a. Th pertama sejak timbul awitan infeksi dan atau
aspirasi.
b. Pd kasus yg progresif, masa krisis yg kedua adalah 4
7 th
stl awitan.
Krisis yg terjadi :
a. Krisis miastenik :

tjd akibat underdose obat antikolinesterase g/


MG lebih buruk.
b. Krisis

kolinergik

timbul ok obat antikolinesterase dpt merusak


sinap.

3. Klasifikasi MG menurut Osseman :


I. Miastenia Okuler.
II.A. Miastenia umum derajat ringan progresivitas lambat,
krisis(-), respon obat baik.
II.B. Miastenia umum derajat sedang tjd kelemahan berat
pd otot skletal dan bulber, krisis (-), respon
obat < baik.
III.

Miastenia

fulminan

akut

g/

memberat

dg

sangat

cepat,
krisis (+), respon obat buruk.
IV. Miastenia berat yg berkembang lamban : klinis spt gol
III
dan perlu waktu 2 th untuk beralih dr gol I atau
II.

DIAGNOSIS
1. Gejala Klinis
2. Tes Farmakologi : tes edrophonium, neostigmin
dan kurare.
3. Pemeriksaan elktromiografi (EMG)
4. Pemeriksaan laboratories.
5. Pemeriksaan radiologik.
6. Pemeriksaan Stapedius reflex decay

1. G.klinis:
Tergantung beratnya penyakit.
Pada anamnesa sesuai dengan gambaran umum.
Pada tahap awal kelemahan otot sering ringan dan
tidak konstan.
Pada px fisik; refl. Fisiologis (N), ggn
sensibilitas (-).
Tes klinis sederhana : selama 2 3 menit disuruh :
a. melirik keatas, maka tampak ptosis makin
memberat
b. melirik kelateral, maka akan tjd keluhan
diplopia,
dan keluhan tsb akan menghilang setelah
istirahat.

3. Pemeriksaan EMG
Tes ini dilakukan bila klinis meragukan.
Otot yang diperiksa:
Otot wajah, tangan atau ekstremitas proksimal ( bisep,
deltoid).
hasil pemeriksaan ; penurunan amplitudo dari potensiil
aksi otot pada saraf perifer dg frekwensi 3 Hertz .
amplitudo tampak normal lagi setelah pemberian
edrophonium atau neostigmin.

4. Tes Laboratris
Metode ; radioimmuno assay untuk menemukan adanya human
antireseptor IgC di dalam serum.
Tes ini sensitif dan sangat bermanfaat.
diperlukan pada kasus yang ringan dimana

EMG meragukan.

5. Px/ Radiologis
Digunakan

setelah

pengobatan

dengan

kortikosteroid jangka panjang , dimana pada Ro


thoraks tampak pembesaran gambaran mediastinum,
dibandingkan dengan sebelum pengobatan.

6. Px/ Stapedius refleks Decay


Alat

audiometer

earphone

disatu

telinga,

telinga yang lain memakai impedance bridge metal


tes probe.
Hasil

(+)

edrophonium,

adanya

refleks

decay

mg

45 perbaikan.

Tes ini analog dengan respon decremental EMG dari


aksi potensial otot thd stimulasi saraf.