Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Pada hakekatnya, kegiatan pengembangan masyarakat adalah sebuah
pembangunan yang menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi kemajuan
kehidupan diberbagai bidang, yaitu kondisi yang memungkinkan terciptanya
partisipasi aktif masyarakat dan adanya kepercayaan penuh pada masyarakat
untuk memegang inisiatif tersebut. Pengembangan masyarakat memiliki tujuan
yaitu memajukan pada setiap aspek kehidupan masyarakat, baik ekonomi, sosial
budaya maupun aspek kehidupan lain sehingga tercapai kesejahteraan, selain itu
juga untuk membangun kehidupan manusia sebagai individu dan sebagai anggota
komunitasnya dengan cara mengembangkan pandangan, kemandirian, dedikasi
terhadap tujuan komunitas dan kerjasama.
Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi beberapa sektor, yaitu
ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya. Dalam praktek pengembangan
masyarakat yang dilakukan oleh banyak pihak, seringkali terbatas pada
pemberdayaan ekonomi dalam rangka pengentasan kemiskinan (poverty
allevation) atau penanggulangan kemiskinan (poverty reduction), karena itu
kegiatan pemberdayaan masyarakat selalu dilakukan dalam bentuk pengembangan
kegiatan produktif untuk meningkatkan pendapatan (income generating).
Pembangunan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak
pernah berhenti, untuk terus mewujudkan perubahan-perubahan dalam kehidupan
masyarakat dalam mencapai perbaikan mutu hidup, dalam situasi lingkungan
kehidupan yang juga terus menerus mengalami perubahan-perubahan. Meskipun
demikian, di dalam perencanaan pembangunan senantiasa memiliki batas waktu
yang tegas tetapi batasan-batasan itu pada hakekatnya hanyalah merupakan
tahapan-tahapan atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi
kondisi yang terjadi pada waktu yang sama, selanjutnya juga dimaksudkan untuk
terus memperbaiki mutu hidup masyarakat beserta individu-individu dalam
suasana perubahan lingkungan yang akan terjadi pada waktu tertentu. Di dalam
makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang langkah-langkah dalam
pengembangan masyarakat.
1

BAB II
PEMBAHASAN
Dalam pengembangan masyarakat kita telah mengetahui prinsip-prinsip
pengembangan masyarakat, namun dari sekian puluh prinsip yang ada, pokok
intinya adalah partisipasi, kemandirian dan keswadayaan. Partisipasi diartikan
bahwa setiap program melibatkan masyarakat, baik fisik, ide, dan materi.
Keterlibatan disini memiliki makna keikutsertaan masyarakat secara fisikal dan
mentalitas. Program selalu berasal dan untuk pemenuhan masyarakat, sehingga
yang merencanakan adalah agen bersama masyarakat. Kemandirian artinya tujuan
utama dari program untuk mengentaskan masyarakat dengan dirinya sendiri, dan
agen hanya sekedar memberi stimulasi gagasan. Keswadayaan artinya bahwa
setiap program harus dilakukan dengan kemampuan diri sendiri, sehingga segala
bentuk intervensi hanyalah sebagai insentif saja.
Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan berdasarkan beberapa
langkah yang perlu diperhatikan, baik dalam lingkup umum maupun khusus.
Pertama, melakukan analisis kebutuhan. Seseorang agen harus dapat mengenali
apa sesungguhnya yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ia harus melakukan need
assesment. Analisis kebutuhan dimaksudkan agar tidak terjadi kekeliruan di dalam
memetakan apa yang mestinya diperbuat untuk pemberdayaan masyarakat.
Kedua, melakukan analisis situasi sosial atau social analysis, yaitu melakukan
kajian terhadap berbagai hambatan dan potensi, baik fisik maupun non-fisik yang
mempengaruhi atas hidupnya masyarakat, dan kemudian menempatkan hasil
analisis kebutuhan tersebut di dalam peta hambatan dan potensi yang dimaksud.
Ketiga, menemukan berbagai program yang layak dijadikan sebagai basis
pengembangan masyarkat, mungkin akan ditemui sekian banyak program yang
relevan dengan analisis kebutuhan dan analisis situasi sosialnya.
Keempat, menentukan alternatif program yang diprioritaskan. Kelima,
melakukan aksi pemberdayaan masyarakat sesuai dengan program prioritaskan.
Keenam, melakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan

program dan faktor-faktor penyebabnya. Melalui evaluasi ini akan ditindaklanjuti


program berikutnya.
Masyarakat merupakan obyek tetapi juga sekaligus subyek pembangunan,
oleh karena itu kegiatan yang dilakukan tenaga pengembang masyarakat (pekerja
sosial) sejauh mungkin diarahkan kepada terwujudnya masyarakat yang lebih
mandiri, yakni masyarakat yang mampu merencanakan, mengambil keputusan,
melaksanakan dan menilai usaha dalam memenuhi kebutuhannya. Seseungguhnya
pengembangan swasembada masyarakat merupakan siklus kegiatan yang
bertahap, untuk materi pelatihan yang disusun mencakup:
1. Persiapan sosial identifikasi potensi, masalah dan kebutuhan (Need
Assessment)
Dalam persiapan sosial diperlukan adanya komunikasi antara pekerjaan sosial
dan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan prosedur administratif di lokasi
kegiatan. Informasi mengenai lokasi kegiatan perlu dimiliki, oleh karena itu
base line survey perlu diadakan. Setelah prosedur administrasi dan gambaran
umum lokasi didapat maka proses selanjutnya yaitu need assement

itu

merupakan dialog antara PSK dan anggota masyarakat untuk memperoleh


fakta (Fact Finding) antara lain kondisi fisik lokasi, sosial ekonomi, sumber
pendapatan dan lingkungan. Pada saat itu juga diungkapkan masalah-masalah
yang

berkaitan

dengan

masyarakat

dan

lingkungannya.

Selanjutnya

dirumuskan alternatif pemecahan masalah secara serta penentuan prioritasprioritas pemecahan masalah. Explanation PRA mungkin dapat membantu
untuk memperlancar proses ini.
2. Perencanaan program
Perencanaan program merupakan bagian dari pengembangan swadaya
masyarakat yang membahas dan memutuskan tentang tujuan, target, waktu,
pembagian peran dan tanggungjawab, sumber dana, sistem monitoring dan
evaluasi yang semua dipahami oleh anggota masyarakat. Planning PRA bisa
membantu analisis partisipatif terhadap penyusunan program.
3. Pembentukan dan dinamisasi kelompok. Kelompok sebagai sarana untuk
menangani masalah masyarakat, dapat dibentuk berdasarkan beberapa
alternatif pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan berdasarkan kesamaan masalah
3

Dalam hal ini masyarakat didekati menurut kesamaan masalah yang


dihadapi, misalnya masalah yang dihadapi pedagang makanan kecil,
pedagang buah-buahan, pengrajin bambu. Pendekatan ini memiliki kekuatan
antara lain memudahkan pendampingan karena masalahnya sama.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah sulit melakukan pendampingan
secara berkelompok karena mungkin tempatnya berjauhan.
b. Pendekatan berdasarkan tempat berkumpulnya
Masyarakat didekati berdasarkan tempat mereka berkumpul sehari-harinya,
misalnya para pedagang sektor informal di pasar, petani di pedesaan.
Pendekatan ini menguntungkan dari segi pengelompokan karena sudah
berkumpul disuatu tempat tertentu.
c. Pendekatan berdasarkan tempat tinggal
Pembinaan dilakukan dilokasi pemukiman, pendekatan ini mempunyai
kelebihan terutama mudah diketahuinya latar belakang keluarga.
4. Pelaksanaan program masyarakat
Koordinasi antara masyarakat dengan pihak-pihak yang terkait dalam rangka
merealisasikan program yang sudah ditentukan dengan sumber dana dan
sumber daya yang ada.
5. Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memantau sejauh mana program
dilaksanakan, apakah sesuai dengan perencanaan atau tidak. Dengan demikian
dapat mengetahui penyimpangan dan penyebabnya. Monitoring adalah
pemantauan kegiatan untuk melihat sejauh mana kemajuan pencapaian tujuan,
apakah ada penyimpangan-penyimpangan. Evaluasi adalah pemantauan untuk
melihat sejauh mana dampak yang diperoleh dalam kegiatan pengembangan
masyarakat.
6. Perencanaan tidak lanjut
Apabila dalam monitoring dan evaluasi ditemukan penyimpangan maka
dilakukan perbaikan-perbaikan yang dituangkan dalam perencanaan tidak
lanjut.

Wilson (Sumaryadi, 2004) mengemukakan bahwa kegitan pemberdayaan


pada setiap individu dalam suatu organisasi merupakan suatu siklus kegiatan yang
terdiri atas:
1) Menumbuhkan keinginan pada diri seseorang untuk berubah dan memperbaiki,
yang merupakan titik awal perlunya pemberdayaan. Tanpa adanya keinginan
untuk berubah dan memperbaiki maka semua upaya pemberdayaan masyarakat
yang dilakukan tidak akan memperoleh perhatian, simpati, atau patisipasi
masyarakat.
2) Menumbuhkan kemauan dan keberanian untuk melepaskan diri dari
kesenangan dan atau hambatan-hambatan yang dirasakan, untuk kemudian
mengambil keputusan mengikuti pemberdayaan demi terwujudnya perubahan
dan perbaikan yang diharapkan.
3) Mengembangkan kemauan untuk mengikuti atau mengambil bagian dalam
kegiatan pemberdayaan yang memberikan manfaat atau perbaikan keadaan.
4) Peningkatan peran atau partisipasi dalam kegiatan pemberdayaan yang telah
dirasakan manfaat / perbaikannya.
5) Peningkatan peran dan kesetiaan pada kegiatan pemberdayaan, yang
ditunjukkan berkembangnya motivasi-motivasi untuk melakukan perubahan.
6) Peningkatan efektivitas dan efisiensi kegiatan pemberdayaan.
7) Peningkatan kompetensi untuk melakukan perubahan melalui kegiatan
pemberdayaan baru.
Dilain pihak, Lippit (1961) dalam tulisannya tentang perubahan yang
terencana (planned change) merinci tahapan kegiatan pemberdayaan masyarakat
ke dalam 7 (tujuh) kegiatan pokok sebagaimana dikemukakan Kevin (....) yaitu:
1) Penyadaran, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menyadarkan masyarakat
tentang keberadaannya, baik keberadaannya sebagai individu dan anggota
masyarakat, maupun kondisi lingkungannya yang menyangkut lingkungan fisik
atau teknis, sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Proses penyadaran seperti
itulah yang dimaksudkan oleh Freire (1976) sebagai tugas utama dari setiap
kegiatan pendidikan termasuk di dalamnya penyuluhan.
2) Menunjukkan adanya masalah, yaitu kondisi yang tidak diinginkan kaitannya
dengan: keadaan sumberdaya (alam, manusia, sarana prasarana, kelembagaan,
budaya, dan aksesibilitas), lingkungan fisik/teknis, sosial budaya, dan politis.

Termasuk dalam upaya menunjukkan masalah tersebut adalah faktor-faktor


penyebab terjadinya masalah, terutama yang menyangkut kelemahan internal
dan ancaman eksternalnya.
3) Membantu pemecahan masalah, sejak analisis akar masalah, analisis alternatif
pemecahan masalah, serta pilihan alternatif pemecahan terbaik yang dapat
dilakukan sesuai dengan kondisi internal (kekuatan, kelemahan) maupun
kondisi eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi.
4) Menunjukkan pentingnya perubahan yang sedang dan akan terjadi di
lingkungannya, baik lingkungan organisasi dan masyarakat (lokal, nasional,
regional, dan global). Karena kondisi lingkungan ( internal dan eksternal) terus
mengalami perubahan yang semakin cepat, maka masyarakat juga harus
disiapkan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan tersebut melalui kegiatan
perubahan yang terencana.
5) Melakukan pengujian dan demonstrasi, sebagai bagian dan implementasi
perubahan terencana yang berhasil dirumuskan. Kegiatan uji-coba dan
demonstrasi ini sangat diperlukan, karena tidak semua inovasi selalu cocok
(secara: teknis, ekonomis, sosial budaya, dan politik atau kebijakan) dengan
kondisi masyarakatnya. Disamping itu, uji coba juga diperlukan untuk
memperoleh gambaran tentang beragam alternatif yang paling bermanfaat
dengan resiko atau korbanan yang terkecil.
6) Memproduksi dan publikasi informasi, baik yang berasal dari luar
(penelitian, kebijakan, produsen atau pelaku bisnis, dll) maupun yang berasal
dari dalam (pengalaman, indege-nous technology, maupun kearifan tradisional
dan nilai-nilai adat yang lain). Sesuai dengan perkembangan teknologi, produk
dan media publikasi yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik
(calon) penerima manfaat penyuluhannya.
7) Melaksanakan pemberdayaan atau penguatan kapasitas, yaitu pemberian
kesempatan kepada kelompok lapisan bawah untuk bersuara dan menentukan
sendiri

pilihan-pilihannya

kaitannya

dengan:

aksesibilitas

informasi,

keterlibatan dalam pemenuhan kebutuhan serta partisipasi dalam keseluruhan


proses pembangunan, bertanggung-gugat (akuntabilitas publik) dan penguatan
kapasitas lokal.

Tentang hal ini, Tim Delivery (2004) menawarkan tahapan-tahapan kegiatan


pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari proses seleksi lokasi sampai dengan
pemandirian masyarakat. Secara rinci masing-masing tahapan tersebut adalah
sebagai berikut.
1) Tahap 1. Seleksi lokasi
2) Tahap 2. Sosialisasi pemberdayaan masyarakat
3) Tahap 3. Proses pemberdayaan masyarakat
a. Kajian keadaan pedesaan partisipatif
b. Pengembangan kelompok
c. Penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan
d. Monitoring dan evaluasi partisipatif
4) Tahap 4. Pemandirian masyarakat
Adapun penjelasan tahap-tahap diatas sebagai berikut.
1. Seleksi Lokasi/ Wilayah
Seleksi wilayah dilakukan sesuai dengan kriteria yang disepakati oleh
lembaga, pihak-pihak terkait dan masyarakat. Penetapan kriteria penting agar
pemilihan lokasi dilakukan sebaik mungkin, sehingga tujuan pemberdayaan
masyarakat akan tercapai seperti yang diharapkan.
2. Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat
Sosialisasi merupakan upaya mengkomunikasikan kegiatan untuk
menciptakan dialog dengan masyarakat. Melalui sosialisasi akan membantu
untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan pihak terkait tentang program
dan atau kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah direncanakan.
Proses sosialisasi menjadi sangat penting karena akan menentukan minat
atau ketertarikan masyarakat untuk berpartisipasi (berperan dan terlibat) dalam
program pemberdayaan masyarakat yang dikomunikasikan.
3. Proses Pemberdayaan Masyarakat
Hakekat pemberdayaan masyarakat adalah untuk

meningkatkan

kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya.


Dalam proses tersebut, masyarakat bersama-sama melakukan hal-hal berikut:
a. Mengidentifikasi dan mengkaji potensi wilayah, permasalahan serta
peluang-peluangnya.
Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat mampu dan percaya diri dalam
mengidentifikasi serta menganalisa keduanya, baik potensi maupun
permasalahannya. Pada tahap ini diharapkan dapat diperoleh gambaran
mengenai aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan.

Proses ini meliputi:


1) Persiapan masyarakat dan pemerintah setempat untuk melakukan
pertemuan awal dan teknis pelaksanaannya,
2) Persiapan penyelenggaraan pertemuan,
3) Pelaksanaan kajian dan penilaian keadaan, dan
4) Pembahasan hasil dan penyusunan rencana tindak lanjut.
b. Menyusun rencana kegiatan kelompok, berdasarkan hasil kajian meliputi:
1) Memprioritaskan dan menganalisa masalah-masalah
2) Identifikasi alternatif pemecahan masalah yang terbaik
3) Identifikasi sumberdaya yang tersedia untuk pemecahan masalah
4) Pengembangan
rencana
kegiatan
serta
pengorganisasian
pelaksanaannya
c. Menerapkan rencana kegiatan kelompok
Rencana yang telah disusun bersama dengan dukungan fasilitasi dari
pendamping selanjutnya diimplementasikan dalam kegiatan yang konkrit
dengan tetap memperhatikan realisasi dan rencana awal.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah pemantauan pelaksanaan dan
kemajuan kegiatan menjadi perhatian semua pihak, selain itu juga
dilakukan perbaikan jika diperlukan.
d. Memantau proses dan hasil kegiatan secara terus-menerus secara
partisipatif (participatory monitoring and ecaluation/ PME).
PME ini dilakukan secara mendalam pada semua tahapan pemberdayaan
masyarakat agar prosesnya berjalan dengan tujuannya. PME adalah suatu
proses penilaian, pengkajian dan pemantauan kegiatan, baik prosesnya
(pelaksanaan) maupun hasil dan dampaknya agar dapat disusun proses
perbaikan kalau diperlukan.
4. Pemandirian Masyarakat
Berpegang pada prinsip pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk
memandirikan masyarakat dan meningkatkan taraf hidupnya, maka arah
pemandirian masyarakat adalah berupa pendampingan untuk menyiapkan
masyarakat agar benar-benar mampu mngelola sendiri kegiatannya.
Tahapan kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat dibagi menjadi
beberapa tahapan, yaitu:
a. Penetapan dan pengenalan wilayah kerja
b. Sosialisasi kegiatan, yaitu upaya mengkomunikasikan rencana kegiatan
pemberdayaan masyarakat yang akan dilakukan di wilayah tersebut

c. Penyadaran masyarakat, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk


menyadarkan masyarakat tentang keberadaannya, baik secara individu
dan
d.
e.
f.
g.

anggota

masyarakat,

maupun

kondisi

lingkungannya

yang

menyangkut lingkungan fisik/ teknis, sosial-budaya, ekonomi dan politik


Pengorganisasian masyarakat
Pelaksanaan kegiatan
Advokasi kebijakan
Politisasi, yang dalam arti terus-menerus memelihara dan meningkatkan
posisi tawar melalui kegiatan politik praktis

BAB III
PENUTUP
Pengembangan masyarakat adalah pembangunan suatu sikap masyarakat
dengan tujuan meninggkatkan taraf kehidupan dengan kondisi dimana setiap
masyarakat memiliki jiwa partisipatif dan percaya terhadap pemegang inisiatif
yang dimiliki oleh sebagian masyarakat. Pengembangan masyarakat memiliki
prinsip-prinsip yang banyak tetapi, inti dari banyaknya prinsip pengmbangan
masyarakat yaitu partisipatif, kemandirian, dan keswadayaan dari masyarakat.
Setelah mengetahui prinsip-prinsip pengembangan masyarakat sekarang kami
akan menerangangkan kesimpulan dari makalah ini yaitu langkah-langkah
pengembangan masyarakat yang pertama melakukan analisis kebutuhan, Ia harus
melakukan need assesment, kedua melakukan analisis situasi sosial atau social
analysis, ketiga menemukan berbagai program yang layak dijadikan sebagai basis
pengembangan masyarkat, keempat menentukan alternatif program yang
diprioritaskan. Kelima, melakukan aksi pemberdayaan masyarakat sesuai dengan
program

prioritaskan.

Keenam,

melakukan

evaluasi

untuk

mengetahui

keberhasilan atau kegagalan program dan faktor-faktor penyebabnya. Adapun dari


para pendapat berbagai sumber seperti Wilson (Sumaryadi, 2004) Menumbuhkan
keinginan pada diri seseorang untuk berubah dan memperbaiki, yang merupakan
titik awal perlunya pemberdayaan ,Menumbuhkan kemauan dan keberanian untuk
melepaskan diri dari kesenangan dan atau hambatan-hambatan yang dirasakan,
Mengembangkan kemauan untuk mengikuti atau mengambil bagian dalam

kegiatan pemberdayaan, Peningkatan peran atau partisipasi dalam kegiatan


pemberdayaan yang telah dirasakan manfaat / perbaikannya. Dan memiliki tahaptahap yang disampaikan oleh Tim Delivery (2004) menawarkan tahapan-tahapan
kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari proses seleksi lokasi sampai
dengan pemandirian masyarakat. Sedangkan dari pendapat Lippit (1961) dalam
tulisannya tentang perubahan yang terencana (planned change) merinci tahapan
kegiatan pemberdayaan masyarakat ke dalam 7 (tujuh) kegiatan pokok yaitu,
penyadaran, menunjukan adanya masalah, membantu pemecahan masalah, dsb.
DAFTAR PUSTAKA
A. Halim. 2005. Manajemen Pesantren. PT LKIS Pelangi Aksara.
Delivery.
2004.
Pemberdayaan
Masyarakat.
http://www.deliveri.org/guidelines/policy/pg_3/pg_3_sumary.htm.
Dhakidae, D. 1979. Teknologi. Prisma No.6 (Juni 1979):1
Freire, P. 1976. Extension or Communicating in Education for Critical
Consciousness. New York: Seaberg Press.
Mardikanto, T. 2010. Konsep-konsep Pemberdayaan Masyarakat. Cetakan 1.
UNS Press. Surakarta
Sri Kuntari. 2003. Metode Pengembangan Masyarakat Dua Arah. Departemen
Sosial RI Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial. Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
Yogyakarta. Yogyakarta.
Sumaryadi, I, N. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan
Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Citra Utama

10

TUGAS MAKALAH PENGEMBANGAN MASYARAKAT


Langkah-Langkah dalam Pengembangan Masyarakat

OLEH
Restie Novitaningrum

H0810097

Twin Tantriyati

H0810105

Vinda Kusuma A

H0810119

Wahyu Ramdhani P

H0810120

Widyaastuti

H0810121

11

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

12