Anda di halaman 1dari 73

PROJECT BASED LEARNING

FAMILY AND HEALTH DEMOGRAPHIC

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
PSIK REGULER
1.
2.
3.
4.
5.
6.

I WAYAN GEDE SARASWATA


ATIKATSANI LATIFAH
MEIDA UNTARI
DSK MD DIAH PURNAMA
FRITA FERDINA
AISYAH PUTRI SARI DEWI
7. DIANIS PAHLEVI R
8. NUNIK FATMAWATI
9. ELMI ALFIA MUQOROBIN

115070200111021
115070200111023
115070200111027
115070200111029
115070200111031
115070200111033
115070200111035
115070200111037
115070200111039

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

POLA DAN PROSES KOMUNIKASI KELUARGA


LATAR BELAKANG
Komunikasi keluarga dikonsepkan sebagai salah satu dimensi
struktural dari sistem keluarga (family system), melalui kekuatan,

pengambilan keputusan, peran, serta nilai dan norma keluarga.


Keluarga merupakan bentuk sebuah sistem, sehingga disana terdapat
interaksi berkelanjutan dan umpan balik diantara lingkungan baik
eksternal maupun internal. Struktur keluarga sendiri dapat dievaluasi
melalui apakah keluarga mampu memenuhi fungsi umumnya

dan

tujuannya yang sangat berpengaruh terhadap anggotanya dan


masyarakat di sekitarnya). Struktur keluarga dan proses komunikasinya
sendiri memfasilitasi pencapaian keluarga dalam tujuan di atas. Terlebih
lagi, pola komunikasi ini mencerminkan peran dan hubungan dari
anggota-anggota keluarga. Perawat, khususnya perawat keluarga,
harus memberikan perhatian pada aspek ini (komunikasi) . Hartrick
(1997) menyarankan pendekatan alternatif bagi perawat untuk
berkomunikasi dengan klien / keluarga :
1.
2.
3.
4.
5.

Initiative, authenticity, responsiveness.


Mutuality and synchrony.
Honoring complexity and ambiguity.
Intentionally relating
Reimaging.

Sebagai perawat khususnya perawat keluarga , memang harus


memperhatikan

hubungan

dan

komunikasi

antar

perawat

dan

keluarga.
DEFINISI KOMUNIKASI
Komunikasi bisa diartikan sebagai sebuah proses pertukaran
perasaan, keinginan, kebutuhan, informasi, dan opini (McCubbin &
Dahl, 1985). Komunikasi keluarga merupakan sebuah hal simbolik,
proses transaksional untuk merancang dan membagi pengertian di
dalam keluarga (Galvin & Brommel, 1986). Komunikasi yang jelas dan
baik merupakan sarana penting untuk memelihara keutuhan lingkungan
keluarga. Sebaliknya, komunikasi yang tidak jelas dan tidak baik
diantara anggota keluarga akan turut menyumbang faktor gagalnya
suatu keluarga dalam mencapai tujuannya. Pada bagian ini akan
dibahas mengenai sesi yang berkaitan dengan komunikasi, yakni :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Elemen-elemen komunikasi.
Prinsip-prinsip komunikasi.
Saluran komunikasi.
Proses komunikasi fungsional dan disfungsional.
Pola komunikasi fungsional dan disfungsional.
Pelaku yang mempengaruhi pola komunikasi.
Komunikasi pada keluarga dengan masalah kesehatan.
Penerapan proses keperawatan pada komunikasi.

ELEMEN ELEMEN KOMUNIKASI


Komunikasi memerlukan beberapa elemen, diantaranya seperti
pengirim pesan, saluran pesan, penerima pesan, dan interaksi diantara
pengirim dan penerima pesan. Pengirim pesan merupakan orang yang
mengirim pesan ke orang lain ; penerima pesan merupakan target dari
pengirim pesan ; saluran pesan merupakan rute dari pesan.
Komunikasi diperluas dari kognisi (pemikiran) pengirim pesan melalui
ruang, ke kognisi (pemikiran) penerima. Modalitas komunikasi yang
disebut pada kebanyakan literatur meliputi lisan (spoken), tulisan
(written), dan media seperti televisi maupun internet. Modalitas yang
paling umum digunakan oleh keluarga adalah lisan ( spoken ). Akan
tetapi tidak sedikit pula keluarga yang tidak menggunakan bahasa lisan
dalam komunikasi sehari-hari dalam keluarga mereka seperti gangguan
pendengaran (tuli) pada kakek / nenek mereka . Mereka lebih
cenderung menggunakan bahasa isyarat. Interaksi merupakan sebuah
proses mengirim dan menerima pesan, meliputi respon bahwa pesan
telah diterima oleh penerima pesan. Pesan yang diinisiasi oleh pengirim
terkadang mengalami gangguan (baik saat masih terdapat pada
pengirim, penerima, atau bahkan saat interaksi diantara pengirim dan
penerima. Penyebab utama dari gangguan tersebut adalah kecemasan
diantara interaktan.

Semakin besar level kecemasannya, semakin

besar pula kemungkinan terdapat kesalahpahaman . Sementara faktor


lain yang mempengaruhi seperti budaya, usia, gender, dsb.
PRINSIP KOMUNIKASI

Prinsip

yang

pertama

dan

yang

paling

penting

adalah

keputusan/niat. Meskipun seseorang bisa tidak berkomunikasi secara


verbal, namun ekspresi non verbal bisa menampakkan bahwa orang
tersebut ingin berkomunikasi atau tidak.

Prinsip berikutnya adalah

komunikasi mempunyai dua isi , yakni informasi ( konten ) dan perintah


( instruksi ) . Konten merupakan apa yang dikatakan ( pesan verbal )
sedangkan instruksi menyampaikan maksud dari pesan (Goldenberg &
Goldenberg, 2000 ). Prinsip yang ketiga merupakan penanda maupun
rangkaian

dari

komunikasi.

Komunikasi

melibatkan

proses

transaksional dan pada pertukaran setiap respon mengandung


komunikasi terdahulu, sebagai tambahan dari riwayat hubungan
terdahulu (Hartman & Lairt, 1983 ). Diskusi dari feedback loops akan
mengklarifikasi lebih jauh mengenai ide pokok komunikasi.Komunikasi
sendiri bertindak sebagai pengorganisiran, penentu tujuan, dan proses
pengaturan diri sendiri pada keluarga.
Anggota keluarga dapat mengganggu komunikasinya sendiri
(output) berdasarkan informasi output sebelumnya dari anggota
keluarga yang lain. Pertukaran informasi berkelanjutan selalu terjadi
dalam

sebuah

keluarga

meliputi

mengoreksi informasi yang belum

pengenalan

informasi

baru,

benar, penyelesaian masalah,

penyelesaian kesalahpahaman dan konflik. Secara bertentangan,


umpan balik negatif justru dipikirkan sebagai sebuah hal positif karena
hal tersebut bertindak sebagai pengoreksi komunikasi dalam keluarga
karena akan memodulasi komunikasi atau arus informasi sehingga
sistem komunikasi dalam keluarga tersebut akan menjadi seimbang.
Negatif bukanlah sebuah arti yang benar-benar negatif, melainkan
menjadi suatu referensi dimana informasi informasi berkembang atau
mengalir.
Prinsip

keempat

dari

komunikasi

yang

dideskripsikan

oleh

Watzlawick dan pekerjanya (1967) bahwa terdapat dua tipe komunikasi


yakni : digital dan analog. Komunikasi digital bentuk komunikasi verbal
dimana menggunakan kata kata yang secara umum dimengerti

maknanya. Sedangkan tipe komunikasi analog merupakan dimana ide


atau sesuatu ditransmisikan secara non verbal pada sebuah tindakan
( Hartman & Laird, 1983 ). Tipe komunikasi analog biasanya disebut
sebagai body language ( bahasa tubuh ) mengirim sebuah pesan
melalui gerak tubuh, postur, ekspresi wajah, atau irama kata atau
bentuk non verbal lain dimana terdapat orang-orang yang mampu
melakukannya. Tipe komunikasi analog ini lebih kuat. Prinsip kelima
disebut dengan prinsip redundansi ( ulangan ) . Telah diamati bahwa
sebuah keluarga berinteraksi sepanjang rentang dari rangkaian
rangkaian perilaku yang berulang. Watzlawick dan rekannya (1967)
menunjukkan bahwa perilaku ulangan merupakan pola komunikasi
sirkular yang terjadi pada setiap keluarga. Pola interaksi ulangan pada
sebuah keluarga merupakan suatu bukti bahwa peraturan komunikasi
berlaku pada banyak keluarga. Prinsip komunikasi yang keenam adalah
bahwa semua interaksi komunikasi merupakan hal yang simetris dan
saling melengkapi ( Bateson, dkk , 1963 ). Pada interaksi komunikasi
yang simetris, perilaku salah seorang interaktan mencerminkan perilaku
interaktan lainnya ( dua orang yang memutuskan tujuan liburan ).
Sedangkan pada interaksi komuniksi yang saling melengkapi , perilaku
seorang interaktan akan melengkapi perilaku interaktan lainnya (contoh
: seorang suami telah memutuskan kemana ia dan istrinya akan pergi
berlibur dan istrinya mengangguk sebagai isyarat setuju ). Ketika suatu
keluarga memakai salah satu tipe komunikasi di atas, maka akan
mencerminkan nilai nilai dari sebuah keluarga, peran, serta kekuatan.
SALURAN KOMUNIKASI
Saluran komunikasi merupakan rute ketika informasi itu dikirim
hingga sampai pada penerima. Jaringan komunikasi keluarga bisa
berupa maju maupun mundur. Hal ini tergantung pada lingkungan
keluarga itu sendiri. Misalnya pada keluarga patriatikal : Saluran
komunikasinya akan berjalan dari ayah ke ibu lalu dari ibu baru ke
anak. Saluran komunikasi ini menggambarkan mengenai struktur

kekuasaan , kedekatan dari hubungan antar anggota keluarga, peran


keluarga dan kepopuleran individu diantara keluarga.
1. PROSES KOMUNIKASI FUNGSIONAL
Menurut banyak sumber menganai terapi keluarga, disebutkan
bahwa

komunikasi

fungsional

dipandang

sebagai

inti

dari

kesuksesan dan kesehatan sebuah keluarga ( Goldenberg &


Goldenberg, 2000 ) serta didefinisikan sebagai komunikasi yang
jelas penyampaian secara langsung dan mendapatkan penerimaan
baik dari segi konten maupun informasi. Komunikasi efektif artinya
menyesuaikan arti dan mencapai konsistensi dan kongruensi
diantara maksud dan penerimaan pesan. Sehingga, komunikasi
efektif dalam sebuah keluarga merupakan suatu proses kesatuan
makna dan pengartian makna kembali dimana agar mencapai level
isi informasi pesan yang tepat.
PENGIRIM FUNGSIONAL
Syarat :
Dapat menyatakan permasalahannya secara gamblang harus
kongruen dari segi konten dan instruksi.
Contoh : Jika seseorang marah, pesan yang akan muncul
secara konsisten dapat dilihat dari nada bicara, posisi tubuh,
dan gestur.

Mengklarifikasi yang dikatakan.


Sebuah pernyataan yang mampu membuat pengirim pesan
untukmemahami

suatu

isu

menjadi

lebih

spesifik

dan

memeriksa kembali pernyataan sebelumnya.

Menanyakan umpan balik.


Untuk memverifikasi ulang apakah pesan yang dikirimkan
pengirim benar-benar diterima oleh penerima pesan atau tidak
serta demi mendapatkan informasi untuk diklarifikasi kembali.
Contoh : Saya masih saja memikirkan apakah sebaiknya saya
memberitahu anak-anak jika saya terkena kanker ? Bagaimana
menurutmu ?

Menerima umpan balik.


Pengirim pesan yang dapat menerima umpan balik akan
mampu menunjukkan kesediaannya untuk mendengarkan,
bereaksi secara tidak defensif, dan mampu menempatkan diri
untuk mengerti.

PENERIMA FUNGSIONAL
Penerima pesan fungsional akan membuat pengkajian yang
akurat tentang maksud dari pesan yang dikirimkan. Dengan
melakukan hal tersebut, penerima pesan dapat mempertimbangkan
arti dari pesan yang dikirim oleh pengirim, dapat mengamati dan
mempertimbangkan secara tepat perilaku pengirim pesan, maksud,
dan perasaan yang diekspresikan dalam pesan. Mendengarkan
secara

efektif,

memberikan

umpan

balik,

dan

memvalidasi

merupakan tiga teknik komunikasi yang mampu membuat penerima


untuk memahami dan berespon secara penuh terhadap pesan yang
dikirim oleh pengirim.
MENDENGARKAN
Mendengarkan secara efektif artinya berfokus penuh pada
sesuatu yang sedang dikomunikasikan dan menghambat distraksi
dari luar. Pendengar yang pasif akan merespon pesan dengan
ekspresi kosong dan kelihatan acuh sementara pendengar yang
aktif merespon dengan gestur yang

yang aktif pula ( Gottman,

Notarius, Gonso, & Markman, 1977 ). Untuk mendengarkan secara


aktif, kita haruslah menunjukkan empati, memikirkan kebutuhan
dan hasrat orang lain, dan menghindari menyela saat pengirim
pesan membagi informasi melalui komunikasi.
MEMBERIKAN UMPAN BALIK
Karakteristik

kedua

dari

penerima

fungsional

adalah

memeberikan informasi kepada pengirim yang berisi tentang


bagaimana si penerima menginterpretasikan informasi yang

disampaikan oleh pengirim. Contoh : Apa maksud kamu ketika


kamu berkata saya frustasi dengan kelakuan adik saya ?
PEMBERIAN VALIDASI
Teknik ketiga dari penerima fungsional adalah validasi.
Penerima menyampaikan pemahamannya dari pemikiran pengirim
dan perasaannya ( contoh : Saya dapat melihat dan merasakan
apa yang sekarang jadi masalah anda.Validasi bukan berarti
penerima menyetujui pengirim, tetapi memperagakan dari aspek
penerimaan pesan (Gotman, et al., 1977 ).
2. KOMUNIKASI DISFUNGSIONAL
Selain

komunikasi

fungsional,

juga

terdapat

komunikasi

disfungsional. Poin poin di bawah ini menjelaskan tentang bentuk


komunikasi disfungsional diantara pengirim, penerima, maupun
kedua duanya.
PENGIRIM DISFUNGSIONAL
MEMBUAT ASUMSI
Ketika sebuah asumsi dibuat, pengirim biasanya merasa tahu
apa yang dipikirkan si penerima tanpa memvalidasi apa yang
benar-benar dipikirkan penerima pesan. Hal ini bisa membuat
penerima pesan kadang marah atau kesal karena merasa opini
atau idenya dianggap tidak begitu penting oleh pengirim. Contoh
pernyataan : Saya tidak suka pergi ke klinik sama dengan setiap
orang lainnya .
MENYATAKAN KETIDAKJELASAN PERASAAN
Karena perasaan cemas atau takut terhadap penolakan
informasi oleh penerima, terkadang membuat pengirim pesan ,
menyembunyikan ekspresi perasaannya yang sesungguhnya.
Kadang pengirim pesan menunjukkan sindiran , namun sering tidak
jelas dan mampu membuat pengirim pesan untuk menghindari rasa
jengkel mereka . Jika dikonfrontasi, pengirim akan membuat suatu
pernyataan yang nampak seperti humor , contoh : Tentu saja,

ayahnya asyik bermain dengan anaknya, sedangkan ibunya malah


mengerjakan semua kerja keras untuk membesarkan mereka. )
BERPRASANGKA (JUDGEMENTAL)
Membuat prasangka dikarakteristikan sebagai evaluasi pesan
berdasarkan

pemikiran

pengirim

pesan

itu

sendiri

tanpa

memperhatikan pendapat dari penerima pesan. Bentuk dari


membuat

prasangka

juga

terwujud

dalam

hal

lain

yakni

ketidakpuasan pada interaktan lain . Contoh : Kamu sangat kikuk


(maksud sebenarnya misalnya : Aku ingin kamu lebih berhati-hati
saat membawa segelas susu.)
KETIDAKMAMPUAN MENENTUKAN KEBUTUHANNYA SENDIRI
Pengirim yang tidak fungsional bukan saja tidak mampu
mengekspresikan kebutuhan mereka sendiri, melainkan juga takut
terhadap penolakan dari penerima pesan. Pengirim pesan juga
sering secara tidak sadar merasa tidak pantas, tidak berhak untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Terkadang pengirim pesan juga
diam, padahal dia membutuhkan bantuan dari penerima pesan.
Contoh : Setelah terapi radiasi, Jane sering merasa mual.
Temannya, Margaret yang tidak menyadari ketidaknyamanan Jane,
tidak menyiapkan makan malam. Ketika Jane meminta tolong
kepada Margaret untuk membantu, dia merasa marah meskipun
dengan cepat Margaret menyetujuinya. Pengirim punya maksud
yang sebenarnya tersembunyi tanpa memperjelas maksudnya
sendiri. Bentuk lainnya adalah berupa komplain, contoh : Kamu
tidak pernah mengunjungi kami. (maksud sebenarnya adalah
datanglah untuk makan malam rabu sore nanti).
KOMUNIKASI INKONGRUEN
Terjadi ketika dua atau lebih pesan yang kontradiktif
disampaikan secara bersamaan ( Goldenberg & Goldenberg,
2000 ). Penerima pesan ditinggalkan dengan teka teki. (Contoh :
Jimmy anak yang baik kemudian segera diikuti oleh interaktan lain

Tidakkah aku mengatakan kepadamu bahwa dia berkelahi lagi di


sekolah? )
PENERIMA DISFUNGSIONAL
GAGAL MENDENGARKAN
Banyak faktor yang mempengaruhi gagalnya seseorang untuk
mendengarkkan, diantaranya :tidak mau memperhatikan, yang
disebabkan karena adanya distraksi seperti kebisingan, waktu yang
tidak tepat, atau kecemasan (Sells, 1973) atau memang karena
adanya gangguan pendengaran. Diskualifikasi merupakan respon
tidak langsung yang membuat penerima pesan untuk tidak setuju
tanpa benar-benar tidak setuju.
PENOLAKAN
Penerima

disfungsional

mungkin

akan

menampakkan

penghindaran untuk menolak pesan dengan menghindari isu-isu


penting. Mungkin penerima bisa setengah setuju lalu tak lama
kemudian mengatakan tidak setuju. Contoh : Saya setuju dengan
cara itu, tapi mungkin tidak tepat untuk dia.
RESPON NEGATIF DAN OFENSIF
Respon

ofensif

dalam

komunikasi

menandakan

bahwa

penerima pesan bereaksi negatif seperti terancam. Penerima


bersikap defensif terhadap pesan melalui posisi menyerang.
Pernyataan yang dibuat juga bersifat negatif dan sikap yang
ditunjukkan negatif (Harris, 1975).
GAGAL UNTUK MENGEKSPLORASI PESAN
Untuk lebih mengklarifikasi informasi yang diberikan pengirim,
penerima

pesan

biasanya

mencari

penjelasan

tambahan.

Sebaliknya, pendengar disfungsional justru membuat asumsi


sendiri, saran yang tidak tuntas, atau memotong komunikasi. Ketika
pendengar disfungsional tidak ingin melanjutkan komunikasi, ia
akan membuat pernyataan yang membatasi komunikasi agar tidak
berjalan lebih jauh. Misalnya : Sudah, lupakan saja / itu tidak

penting. Atau bisa melalui perilaku seperti meninggalkan ruangan,


bertngkah sibuk, dsb.
GAGAL UNTUK MEMVALIDASI PESAN
Kurangnya
merespon

validasi

secara

menunjukkan

netral

(antara

bahwa

penerima tidak

setuju/tidak

setuju)

atau

menghambat atau salah mengartikan pesan. Menerima daripa


mengklarifikasi menunjukkan kurangnya bentuk validasi dari
penerima pesan.
PENGIRIM DAN PENERIMA DISFUNGSIONAL
Ketidaksehatan komunikasi seperti ini disebut dengan parallel
talk

dan

didemonstrasikan

sebagai

ketidakmampuan

untuk

berfokus pada satu isu. Pada parallel talk, masing-masing elemen


komunikasi ini secara konstan menyatakan pendapatnya masing
masing tanpa benar benar mendengarkan sudut pandang dari
lawan bicaranya. Contoh :
Mark : Aku kesal saat ibumu sering datang tanpa menelpon dulu,
Bill

: Kapan kamu bekerja?

Mark : Segera sampai kamu belajar untuk menyeimbangkan buku


tabungan,

POLA KOMUNIKASI FUNGSIONAL KELUARGA


Kemampuan dari anggota anggota keluarga untuk mengenali dan
berespon terhadap pesan nonverbal merupakan sarana penting untuk
komunikasi sehat di lingkungan keluarga. Kebanyakan komunikasi
keluarga terletak sepanjang subsistem ( orangtua anak, pasangan
orang tua , antar saudara ). Curran(1983), menuliskan bahwa ciri dari
keluarga yang sehat adalah adanya komunikasi yang jelas dan
kemampuan untuk mendengarkan satu sama lain. Komunikasi yang
baik dibutuhkan untuk memelihara dan mengembangkan suatu
hubungan yang saling mengasihi.

BERKOMUNIKASI SECARA JELAS DAN KONGRUEN


Kongruensi merupakan kondisi dari wujud dan cara berkomunikasi
(Satir et al.,1991 p.65 ). Apa yang sebenarnya dikatakan, sebanding
dengan maksud dari pesan itu sendiri. Cara kita bicara juga , pengaruh
dari ekspresi kita, dan perilaku yang kita tampilkan semua konsisten
satu sama lain. Melalui kongruensi, penerima pesan mampu untuk lebih
jelas memahami pesan dari pengirim, membuat komunikasi diantara
keluarga menjadi lebih sehat. Satir menjelaskan lebih lanjut mengenai
kongruensi , yaitu apabila pengirim, penerima dan konteks serta situasi
dari komunikasi menjadi sebuah harmoni satu dengan yang lainnya
(Satir, 1975).

Satir (1976) juga menyatakan bahwa keluarga yang

sehat adalah keluarga yang mengenali perbedaan satu sama lain,


prasangka (judgement) yang minimal, serta kritik yang membangun
satu sama lain. Komunikasi pada keluarga yang sehat merupakan
komunikasi yang sangat dinamis dan mempunyai timbal balik. Pesan
tidak hanya dengan sederhana dikirim dan diterima. Misalnya : Saat
pengirim mulai mengirim pesan, penerima mungkin akan menunjukkan
ekspresi wajah yang mungkin akan memberikan umpan balik negatif,
mengubah pesan pengirim sebelum mereka selesai berbicara. Sebagai
hasilnya, pengirim akan mengubah perkataan pesan pada tengahtengah pengiriman sehingga penerima bisa mempunyai pemikiran yang
sama. Kebiasaan komunikasi yang dinamis ini, meskipun begitu akan
membuat interaksi lebih kompleks dan tidak bisa diprediksi.
KOMUNIKASI EMOSIONAL
Komunikasi emosional berhubungan dengan ekspresi emosi seperti
marah, terluka, kesedihan, iri dengan kebahagiaan, cinta, dan
kelembutan (Wright & Leahey, 2000). Lewis dkk (1976) mempelajari
tentang perbedaan diantara keluarga fungsional dan disfungsional
putih, Non Hispanik dan ditemukan bahwa pada keluarga fungsional,
nampak penuh dengan ekspresi perasaan sedangkan pada keluarga
disfungsional, ekspresi emosinya lebih terbatas dan cenderung kaku.
Pada keluarga yang disfungsional, kemarahan dapat diijinkan asal

bersal dari orang tua ke anak, bukan anak ke orang tua. Ekspresi
kelembutan dan kasih sayang tidak begitu nampak pada keluarga
disfungsional. Pada suatu studi dikonfirmasi bahwa penggunaan
ekspresi emosi (baik pada anak maupun orang tua akan berdampak
positif) yakni pada kehidupan sosial anak sendiri (Boyum & Parke,
1995).
Komunikasi afektif pesan verbal dari kepefulian dan nonverbal,
gestur fisik dari sentuhan, pegangan, dan pandangan juga dinilai
penting. Seperti yang didemonstrasikan oleh Bowlby (1966) , ekspresi
fisik kasih sayang pada infant dan anak-anak adalah penting untuk
perkembangan respon afeksional normal.
AREA KOMUNIKASI TERBUKA DAN PENGENALAN DIRI
Keluarga dengan pola komunikasi fungsional: adanya rasa saling
menghormati pikiran, ide, dan perasaan satu sama lain, berdiskusi
mengenai banyak sisi kehidupan, baik sisi personal maupun sosial.
Kejujuran dan pengenalan diri sendiri merupakan syarat ideal untuk
mencapai keluarga yang sehat. Pada sebuah penelitian yang dilakukan
kepada pasangan yang baru saja menikah, masih banyak dari
pasangan yang sudah puas dengan rumah tangga mereka, yang
menyembunyikan sesuatu dari pasangannya dengan alasan akan
melukai perasaan pasangannya, atau akan menciptakan stres pribadi
(McCubbin & Dahl, 1985).
Pertimbangan lain yakni budaya keluarga juga menjadi sangat
penting disini dimana normal budaya berfokus pada kesederhanaan.
privasi, dan seksual berperan sangat besar dalam mempengaruhi area
komunikasi baik yang terbuka maupun yang tertutup dalam sebuah
keluarga.
KEKUATAN PEMIMPIN DAN PERAN KELUARGA
Sistem keluarga didasarkan pada kekuatan pemimpin dimana
suatu

komunikasi

mengandung

perintah.

Komunikasi

kekuatan

mempunyai karakteristik yang sudah muncul . Contoh : Joan, aku


ingin kamu naik ke kamar dan bersihkan ruanganmu atau aku tidak

akan mengantarmu ke mall siang ini, merupakan tipe komunikasi


paksaan. Kekuasaan dan kepemimpinan ini dibutuhkan apabila suatu
keluarga sedang menjalani tahap perkembangan.
KONFLIK KELUARGA DAN RESOLUSI KONFLIK
Konflik verbal merupakan bagian rutin dari suatu hubungan.
Keluarga yang sehat pun dapat mengalami konflik, namun mereka bisa
mengembalikan keadaan keluarga mereka ke dalam kondisi seimbang
kembali. George Simmel ( 1858 1918 ) ,bapak sosiologi merupakan
ilmuan pertama yang meneliti tentang adanya konflik pada suatu
hubungan. Dia percaya bahwa konflik akan selalu ada dimana-mana
dan penting untuk perkembangan sebuah kelompok serta untuk
memeliharanya ( Coser, 1956).
Tabel 02.
Kesimpulan dari pendapat Simmel mengenai konflik
1

Konflik dirancang untuk menyelesaikan dualisme divergen, merupakan sarana

2.

untuk menyatukan .
Konflik diperlukan untuk menjaga sebuah hubungan yang sedang berjalan

3.
4..
5.

agar tetap berjalan.


Hubungan yang dekat memang mengandung kasih sayang dan rasa benci.
Semakin erat hubungan kita, akan semakin mendekatkan kita dengan konflik.
Pada pernikahan dan keluarga, tidak adanya konflik akan membuat suatu
hubungan menjadi tidak fungsional.

POLA KOMUNIKASI DISFUNGSIONAL DALAM KELUARGA


Komunikasi disfungsional didefinisikan sebagai transmisi yang tidak
jelas dan/atau tidak langsung dan penerimaan dari salah satu atau
kedua isi dan maksud dari pesan dan/atau incongruency antara
tingkatan isi dan maksud dari pesan. Transmisi tidak langsung
mengacu pada pesan-pesan yang dibelokkan dari sasaran yang tepat
kepada orang lain dalam keluarga. Sedangkan transmisi langsung
berarti pesan mengenai sasaran yang tepat. Dalam interaksi keluarga
yang disfungsional, dua atau lebih anggota keluarga telah membentuk
jaringan berulang dan strategi komunikasi disfungsional yang mencoba

untuk mempertahankan keseimbangan dari unit keluarga. Prosesproses

disfungsional

sering

tidak

terlihat,

dan

maksud

dari

komunikasinya rahasia atau tersembunyi. Ada 3 jenis pola komunikasi


yang terkait dalam hal ini antara lain:

keegoisan, kebutuhan

kesepakatan mutlak dan kurangnya empati.


a. Keegoisan
Individu yang fokus pada kebutuhan mereka sendiri dengan
mengesampingkan kebutuhan, perasaan, atau sudut pandang
orang lain merupakan karakteristik dari komunikasi yang egois.
Dengan kata lain, Anggota keluarga yang egois berusaha untuk
mendapatkan sesuatu dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan
mereka sendiri. Ketika orang-orang ini harus memberikan, mereka
melakukannya dengan sikap enggan, bermusuhan, defensive atau
bersikap mengorbankan diri. Sehingga perundingan atau negosiasi
secara efektif menjadi sulit, karena orang yang egois percaya kalau
apa yang mereka berikan tidak memberikan hasil.
b. Kebutuhan kesepakatan mutlak
Nilai keluarga mempertahankan kesepakatan

mutlak

dan

menghindari konflik dimulai ketika dewasa atau perkawinan yang


menemukan bahwa masing-masing berbeda dari yang lain,
meskipun perbedaan itu mungkin sulit untuk dijelaskan.
c. Kurangnya empati
Anggota keluarga yang egois dan tidak bisa mentolerir perbedaan
juga tidak dapat mengenali pengaruh dari pikiran mereka sendiri,
perasaan, dan perilaku pada anggota keluarga lainnya, mereka
juga tidak dapat memahami pikiran, perasaan dan perilaku anggota
keluarga lain. Mereka dihabiskan dengan memenuhi kebutuhannya
sendiri dan tidak memiliki kemampuan untuk bersikap empati.
Komunikasi Tertutup
Sementara keluarga lebih fungsional memiliki area komunikasi lebih
terbuka, keluarga kurang fungsional sering menunjukkan area
komunikasi yang lebih tertutup.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLA KOMUNIKASI KELUARGA
Pola komunikasi keluarga dipengaruhi oleh berbagai factor, antara lain :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Konteks / situasi di mana interaksi berlangsung


Latar belakang etnis dan budaya dari anggota keluarga
Tahap siklus hidup keluarga
Perbedaan jenis kelamin
Bentuk keluarga
Faktor idiosyncratic: keluarga mini-budaya

a. Latar belakang etnis dan budaya dari anggota keluarga


Komunikasi tertanam dalam acuan keyakinan dan pola perilaku,
dimana itu banyak diperoleh dari budaya. namun dalam penelitian
dan literatur, komunikasi dalam keluarga sering dibahas tanpa
mempertimbangkan konteks budaya sekitarnya.
b. Perbedaan Komunikasi selama siklus hidup keluarga
Komunikasi keluarga bervariasi selama perkembangan tahap
keluarga atau karir dan dengan bersamaan perubahan umur dan
perkembangan anggota keluarga. Pola komunikasi juga berubah
dari waktu ke waktu, sebagai anggota keluarga melalui tahap
perkembangan individual dan semua orang menjadi lebih tua.
c. Perbedaan jenis kelamin
Penelitian telah menunjukkan perbedaan sikap dan pola
percakapan antara laki-laki dan perempuan yaitu pendekatan
pengambilan keputusan yang berbeda, cara yang berbeda untuk
menanggapi orang lain, dan perbedaan dalam pengakuan dan
resolusi konflik. Misalnya, wanita melihat percakapan sebagai cara
untuk

membangun

hubungan

dan

menciptakan

keakraban,

sedangkan laki-laki melihat percakapan sebagai cara untuk


menunjukkan status dan pengetahuan mereka. Ketika wanita
membicarakan masalah, mereka ingin memahami, sedangkan lakilaki menginginkan solusi. Ketika bekerja untuk memecahkan
konflik, perempuan cenderung mengambil, sikap afiliatif, kooperatif
dan ingin berbicara tentang ketidaksepakatan sedangkan pria
cenderung menganggap sikap kompetitif, lebih memaksa dan ingin
menjauhkan diri dari konflik. Secara umum, penelitian komunikasi
gender pasangan perkawinan telah menunjukkan bahwa istri
dibandingkan dengan suami lebih ekspresif, mengirim pesan yang

lebih jelas dan lebih sensitif dan responsif terhadap pesan


pasangan mereka selama percakapan dan konflik.
d. Perbedaan Komunikasi dalam Bentuk keluarga
Bentuk keluarga mengacu pada berbagai pengaturan struktural
keluarga, dari tradisional two-parent nuclear family, dengan
orangtua tunggal dan keluarga gay atau lesbian. Komunikasi
keluarga dipengaruhi oleh jenis bentuk keluarga yang sedang
dipertimbangkan .
e. Perbedaan komunikasi karena keluarga mini-budaya
Keluarga sebagai pribadi. Dalam budaya tradisional,

etnis

merupakan suatu cara hidup dan menghargai, sehingga keluarga


mini-budaya dan budaya yang lebih besar mirip satu sama lain.
Namun dalam masyarakat heterogen modern, anggota keluarga
individu mungkin berasal dari latar belakang etnis atau budaya
yang berbeda dan dapat bervariasi. Dalam situasi ini , keluarga
mini-budaya mungkin mencerminkan pengaruh budaya atau hampir
benar-benar tanpa pengaruhnya. Dalam nontradisional, keluarga
ada lebih banyak keterbukaan untuk menjadi unik .
KOMUNIKASI DALAM KELUARGA DENGAN PERUBAHAN STATUS
KESEHATAN
Perubahan kesehatan mengacu pada setiap perubahan yang
mempengaruhi proses kehidupan klien (fisik, psikologi, sosial budaya,
perkembangan, dan spiritual). Perubahan status kesehatan sering
termasuk

kronis

dan

penyakit

yang

mengancam

jiwa

dan

ketidakmampuan fisik atau mental akut atau kronis tetapi mungkin


termasuk perubahan dalam bidang kesehatan lain juga. Temuan
penelitian dari adaptasi keluarga untuk penyakit yang mengancam
kehidupan kronis dan telah secara konsisten menunjukkan bahwa
faktor utama dalam keluarga yang sehat adalah komunikasi terbuka,
jujur, dan jelas dalam berurusan dengan pengalaman kesehatan stres
dan isu-isu terkait. Ketika keluarga membahas isu-isu penting mereka
dihadapkan dengan, hasil emosional hubungan keluarga, dan stress

keluarga meningkat. Peningkatan stres mempengaruhi tidak hanya


hubungan keluarga tetapi juga kesehatan keluarga dan anggotanya .
PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan dengan memberikan pertanyaan berikut
harus dipertimbangkan ketika menganalisis pola komunikasi keluarga
1. Dalam mengamati keluarga secara keseluruhan dan/atau set
keluarga hubungan , seberapa luas yang pola komunikasi
fungsional yang digunakan?
2. Bagaimana pesan-pesan emosional disampaikan dalam keluarga
dan dalam subsistem keluarga?
3. Apa frekuensi dan kualitas komunikasi dalam jaringan komunikasi
dan hubungan keluarga?
4. Apakah sebagai mayoritas pesan dari anggota keluarga kongruen
dalam isi dan maksud (termasuk pengamatan pesan nonverbal)?
Jika tidak, siapa yang memanifestasikan inkongruensi?
5. Apa jenis proses disfungsional yang jelas dalam pola komunikasi
keluarga?
6. Apakah penting keluarga/jaringan pribadi yang terbuka dan tertutup
untuk diskusi?
7. Bagaimana faktor mempengaruhi pola komunikasi keluarga?
DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA
Didalam buku diagnose NANDA, hanya ada satu diagnose tentang
komunikasi yaitu gangguan komunikasi verbal, namun diagnose ini
hanya

fokus

pada

klien

secara

individu

yang

tidak

mampu

berkomunikasi secara verbal tanpa mempertimbangkan budaya klien


sehingga secara cultural diagnose ini tidak relevan. Terlepas dari
diagnosa NANDA, diagnosa komunikasi keperawatan keluarga yang
mungkin

muncul

misalnya

disfungsional

komunikasi

keluarga,

gangguan komunikasi keluarga, atau masalah komunikasi keluarga.


Beberapa

perawat

keluarga

mungkin

mengidentifikasi

masalah

komunikasi keluarga yang lebih spesifik, misalnya komunikasi afektif


minimal atau pola komunikasi kongruen.

INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA


Intervensi keperawatan keluarga pada terkait komunikasi antara
lain:
-

Primer
Sekunder

: pendidikan dan konseling


: kolaborasi, kontrak dan rujukan ke kelompok itu

sendiri, organisasi masyarakat, dan klinik/kantor terapi keluarga.


Role model juga merupakan jenis penting dari pengajaran. Itu
melalui pengamatan anggota keluarga dari professional kesehatan
keluarga dan bagaimana ia berkomunikasi selama situasi interaksional
yang berbeda, yang mereka pelajari untuk meniru sikap komunikasi
yang sehat, perawat harus mendengarkan dengan penuh perhatian,
dan empati, menindaklanjuti dengan mengklarifikasi pertanyaan dan
memberi harapan dengan pemikiran dan perasaan.
Konseling pada bidang komunikasi keluarga melibatkan mendorong
dan mendukung keluarga dalam upaya untuk meningkatkan komunikasi
antara diri mereka sendiri. Perawat keluarga adalah fasilitator proses
kelompok dan narasumber. Intervensi keperawatan keluarga dengan
fokus kognitif memberikan informasi baru atau ide-ide tentang
komunikasi. Informasi yang diberikan bersifat mendidik dan dirancang
untuk mendorong pemecahan masalah keluarga.
Topik penting lain untuk diskusi dengan anggota keluarga adalah
persepsi yang berbeda atau "multiple realitas" yang keluar di antara
anggota keluarga tentang situasi atau peristiwa tertentu. Untuk
menangani konflik atau situasi yang membutuhkan pengambilan
keputusan, persepsi anggota keluarga (dan perasaan) tentang situasi.
Dipahami dan dipertimbangkan, menghindari upaya untuk menyepakati
mana perspektif yang benar. Intervensi dalam ranah afektif yang
diarahkan mengubah ekspresi emosional dari anggota keluarga baik
dengan meningkatkan atau menurunkan tingkat komunikasi emosional
atau memodifikasi kualitas komunikasi emosional. tujuan keperawatan
spesifik di sini adalah dalam konteks budaya keluarga, untuk membantu
anggota keluarga mengekspresikan dan berbagi perasaan mereka satu
sama lain sehingga:

a. Kebutuhan emosional mereka dapat lebih baik disampaikan dan


ditanggapi
b. Lebih kongruen, terjadi komunikasi keluarga yang jelas
c. Upaya pemecahan masalah keluarga difasilitasi
Intervensi pengajaran dan konseling yang dirancang untuk mengubah
komunikasi keluarga meliputi:
1. Mengidentifikasi perubahan perilaku spesifik anggota keluarga yang
ingin menyampaikan dan mengembangkan rencana kolaboratif
untuk perubahan
2. Menyadari, mendukung, dan memuji anggota keluarga ketika
mereka mulai berupaya untuk berkomunikasi dengan jelas dan
kongruen
3. Pemantauan perubahan perilaku yang telah ditargetkan pada
pertemuan sebelumnya. Bertanya bagaimana perilaku komunikasi
yang baru telah bekerja, dan jika ada masalah yang terjadi dan jika
mereka memiliki pertanyaan atau masalah tentang perubahan itu.

KEKUATAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM


KELUARGA

Kekuatan Keluarga
Kekuasaan memiliki banyak arti ,diantaranya

kapasitas untuk

pengaruh, kontrol, mendominasi, dan untuk membuat keputusan.


Kekuatan keluarga merupakan kemampuan (potensial atau aktual) dari
individu (anggota keluarga) untuk mengendalikan atau mempengaruhi
untuk merubah perilaku dari anggota keluarga lainnya (Olson &
Cromwell, 1975).
Komponen Kekuatan Keluarga

Pengaruh : tingkat penggunaan tekanan formal maupun informal


oleh seorang anggota keluarga terhadap orang lain dan berhasil
dalam memaksakan pandangan orang tersebut

Pengambilan keputusan : proses pencapaian persetujuan dan


komitmen anggota keluarga untuk melakukan serangkaian tindakan
dengan kata lain sebagai alat untuk menyelesaikan segala sesuatu
(Mc Donald, 1997).

Ada lima unit yang berbeda yang dapat dianalisis dalam hal
karakteristik kekuasaan keluarga antara lain : marital or adult partner
power (kekuasaan pasangan dewasa yang telah menikah), parental
power (kekuasaan orang tua), spring power, sibling power (kekuasaan
saudara), kinship power (kekuasaan kekerabatan).

Power Bases (Dasar Kekuatan)


Salah satu aspek penting dari kekuatan keluarga menyangkut
dasar kekuasaan dalam keluarga dan subsistem yang merupakan

dasar dari mana kekuatan anggota keluarga berasal. Tipe dari dasar
kekuatan keluarga antara lain :
1) Legitimate power/authority (kekuatan yang sah/resmi)
Kekuasaan yang sah kadang disebut juga wewenang primer
dimana satu orang mempunyai hak untuk mengontrol tingkah laku
dari satu anggota keluarga lain, contohnya adalah kontrol
dominasi orang tua terhadap anak-anak. Hal ini merupakan
wewenag yang berdasar atas tradisi disini suami sebagai kepala
keluarga mengontrol seluruh anggota keluarga. Jika kekuasaan
sah ada, maka baik suami maupun istri sama-sama menerima
peran dominan, artinya sama-sama menunjukkan penerimaan
terhadap peran (Friedman, 1988).

2) Helpless or powerless power (Kekuatan ketidakberdayaan)


Tipe kekuasaan ini merupakan suatu bentuk penting dari
kekuasaan sah yang didasarkan pada pihak yang diterima secara
umum dari mereka yang tidak berdaya (Week dan Gacson, 1982
dikutip oleh Friedman, 1988) mereka juga menerangkan bahwa
korban

memperoleh

banyak

kekuasaan

palsu

dalam

keluarga.Kekuasaan yang tidak berdaya mungkin sangat efektif


dalam keluarga dimana salah satu anggotanya kronis, cacat,
lansia. Seorang suami / istri / anggota keluarga yang cacat dapat
mengontrol anggota keluarga atas dasar ketidakberdayaan
(Friedman, 1988) .Sebagai contoh, salah satu anggota keluarga
yang sakit kronis dapat mengontrol keluarga berdasarkan
kelemahan atau ketidakberdayaannya.

3) Referent power (seseorang yang ditiru)

Referent power adalah kekuatan yang dimiliki oleh seseorang


karena indentifikasi positive terhadap orang tersebut , contohnya
anak-anak yang mengidentifikasi positif orang tua mereka. Anakanak akan menirukan perilaku atau kebiasaan dari anggota
keluarga mereka , biasanya perilaku kedua orang tuanya yang
mereka anggap sebagai contoh atau role model mereka
(Friedman, 1988).

4) Resource power
Kekuasaan sumber adalah tipe dasar kekuasaan yang datangnya
dari sumber-sumber berharga dalam jumlah yang lebih banyak
dalam suatu hubungan. Jika kekuasaan didefinisikan sebagai
kemampuan untuk menekan atau mempengaruhi sumber
sumber atau atribut atribut tertentu, suasana, pemilikan
dipandang sebagai determinan utama kemampuan ini (Osmond,
1978) dikutip oleh Friedman, 1988. Misalnya suami dominan
karena ia mengontrol uang belanja / istri dominan karena istri
lebih praktis dan lebih terarah pada tujuan suami.

5) Expert power
Ketika sebuah keluarga memiliki anggota keluarga yang dianggap
expert atau ahli mereka akan lebih memutuskan untuk mengikuti
saran dari anggota keluarganya tersebut. Misalnya : salah satu
anggota keluarga adalah seorang perawat maka anggota
keluarga lainnya akan cenderung menunda berobat ke pelayanan
kesehatan (Friedman, 1988).

6) Reward power (Kekuatan penghargaan)


Kekuasaan penghargaan berasal dari adanya harapan bahwa
orang yang berpengaruh dan dominan akan melakukan sesuatu
yang positif terhadap ketaatan seseorang (Friedman, 1988).

7) Coercive power (Kekuatan dominasi atau paksaan)


Penggunaan yang efektif dari sumber-sumber kekuasaan ini
berdasarkan persepsi dan kepercayaan bahwa orang yang
memiliki kekuasaan mungkin akan menghukum dengan ancaman,
paksaan atau kekerasan yang bersifat memaksa digunakan
dengan pengambilan keputusan paksa pula (Friedman, 1988).

8) Informational power (pengaruh yang dilalui melalui proses


persuasi)
Dasar kekuasaan ini berasal dari pesan persuasif. Seorang anak
individu

diyakinkan

oleh

kebenaran

dari

pesan

karena

penjelasannya tentang pentingnya perubahan yang dilakukan


secara gemilang dan hati-hati (Roven, et, al, 1975 dikutip oleh
Friedman, 1988). Tipe kekuasaan ini sama dengan kekuasaan
ahli tapi ruang lingkupnya sempit.

9) Affective power ( kekuatan pengaruh )


Kekuatan Afektif merujuk pada kekuasaan yang diperoleh lewat
manipulasi

terhadap

seorang

anggota

keluarga

dengan

memberikan atau tidak memberikan afeksi dan kehangatan, serta,


pada kasus pasangan suami istri, seks. Seperti dibicarakan dalam

sebuah novel Womens hidden weapon. Karena mereka tidak


memiliki senjata sosioekonomi seperti pria, secara histeris, seks
sudah lama menjadi sebuah sumber kekuasaan wanita. Sebuah
sumber afeksi dari wanita termasuk dicintai oleh pasangannya,
bila dilatih, dapat menjadi sumber kekuasaan dalam perkawinan.
10)Tension management power (Kekuatan manajemen ketegangan)
Tipe dasar kekuasaan ini diturunkan dari control dimana dicapai
oleh suatu pasangan dengan mengatasi ketegangan dan konflik
yang ada dalam keluarga dengan menggunakan perdebatan
penuh air mata, cemberut, berdebat, dan ketidak sepakatan dalam
memasukkan anggota keluarga untuk mengalah adalah contoh
kekuasaan manajemen ketegangan. (Friedman, 1988).

Hasil Kekuatan/Kekuasaan
Bidang kedua dari pengkajian relative terhadap kekuasaan keluarga
adalah bidang dari hasil kekuasaan. Disini focus pada siapa yang
membuat keputusan akhir atau yang memiliki kendali utama. Sesuai
dengan kata-kata, siapa yang menang atau yang mengatakan
terakhir

(Cronvell

Pertanyaan
mendapatkan

khusus

dan

Olson,

dapat

informasi

ini.

1975;

ditanyakan
Sebagai

1975

Szinovacs,

tentang
contoh,

1987).

keluarga

untuk

seseorang

harus

menanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap bidang-bidang


kepentingan utama dalam hidup keluarga. Dalam kekuasaan hubungan
suami istri dapat bervariasi satu domain ke domain berikutnya, dengan
definisi peran yang menentukan siapa yang mempunyai kekuasaan
berkenaan dengan hubungan social kekerabatan dan

segala hal

kerumahtanggaan, sementara suami mempunyai lebih banyak kendali


terhadap keuangan. Pada kekuasaan keluarga yang lain mungkin lebih
terbagi imbang, dengan pola pembagian kekuasaan yang umum.

Proses Pembuatan Keputusan Atau Kekuasaan


Selain untuk mengkaji dasar kekuasaan dan hasil kekuasaan, proses
yang digunakan dalam tercapainya keputusan keluarga juga penting
dalam pengkajian kekuasaan keluarga. Proses pembuatan keputusan
adalah indeks prinsip dari kekuasaan (blood dan wolf, 1960).
Kenyataannya, pasangan berkuasaan atau dominan adalah hasil dari
proses

pembuatan

merujuk

pada

keputusan.

teknik

Pembuatan

interaksi

keputusan

keluarga

anggota

keluarga

dimana

menggunakan upaya-upaya mereka untuk meningkatkan kontrol dalam


negosiasi atau proses pemngambilan keputusan (mcdonald 1980).
Dalam pengkajian ini fokus utama adalah bagaimana keputusan
dibuat. Dengan memahami teknik-teknik yang digunakan dalam
pembuatan keputusan keluarga, pengkaji akan mampu lebih baik
untuk mengidentifikasi kekuasaan kerabat dari setiap anggota keluarga
dan partisipasinya dalam urusan keluarga dan keputusan.
1. Pembuatan Keputusan Dengan Konsesus
Teknik pertama pembuatan keputusan diistilakan konsesus. Disini
urutan tindakan tertentu secara bersama disetujui oleh semua yang
terlibat. Terdapat tanggung jawab seimbang pada keputusan, serta
kepuasan, oleh anggota keluarga atau rekanan.
2. Pembuatan Keputusan Dengan Akomodasi
Suatu perjanjian untuk setuju menggunakan keputusan umum
dalam

menghadapi

perbedaan

yang

tidak

dapat

disatukan. Akomodasi : tawar menawar (bargaining), kompromi,


paksaan (Turner, 1979).
3. Pembuatan Keputusan De-facto
Hasil perdebatan dimana tidak terdapat resolusi bila isu tidak
dibawa dan didiskusikan. Keputusan ini, kemudian dibuat dengan
tak ada aktivitas daripada dengan perencanaan.
Pembuatan keputusan defacto terlihat pada adanya disorganisasi,
keluarga banyak masalah, banyak dari mereka meyakini dan
merawa tak berdaya untuk mengendalikan takdir mereka sendiri.
Lebih dari itu, pembuatan keputusan defacto mungkin terbatas,

secara sitosional atau terjadi bila ada masalah dalam komunikasi,


saat masalah bermakna atau isu-isu tak didiskusikan norma-norma
budaya penting untuk dipertimbangkan disini, karena rintangan
utnuk komunikasi terbuka dan pembuatan keputusan aktif juga
dapat membunyai dasar budaya atau etnik. Sebagai contoh,
diantara pasangan latino tradisional hubungan seksual dan
keluarga berencana mungkin adalah area komunikasi tertutup,
kehamilan selanjutnya menjadi hasil dari pembuatan keputusan
defacto.
Variable-Variable Yang Mempengaruhi Kekuatan Keluarga
1. Hirarki kekuasaan keluarga
2. Tipe bentuk keluarga (orang tua tunggal, keluarga campuran,
keluarga inti dua orang tua tradisional)
3. Pembentukan koalisi
4. Jaringan komunikasi keluarga
5. Perbedaan jenis kelamin
6. Tahap perkembangan keluarga
7. Latar belakang budaya dan faktor interpersonal
8. Kelas social
1. Hirarki Kekuasaan Keluarga
Setiap keluarga memiliki hirarki kekuasaan . Pada keluarga inti
tradisional dan pada kebanyakan keluarga inti pada saat ini,
struktur kekuasaan adalah hirarki yang jelas, berarti bahwa struktur
kekuasaan

berjenjang.

Pria

sering

mengembangkan

atau

mempertahankan kekuasaan atas perempuan, dan orang tua

hampir selalu memiliki kekuatan lebih dari anak-anak (Hoffman,


1981).
2. Tipe Bentuk Keluarga
Bentuk keluarga adalah faktor lain yang mempengaruhi dinamika
kekuasaan keluarga,. Misalnya, baru terbentuk keluarga dengan
orangtua tiri, pernikahan kembali menempatkan tekanan pada
keluarga baru untuk mengubah hirarki kekuasaan yang ada dalam
keluarga sebelumnya. Konflik dapat terjadi ketika anak tiri merasa
kehilangan kekuasaan dan kontrol dalam keluarga orang tua tiri
baru. (Ganong, coleman, & Fine, 1995)
3. Pembentukan Koalisi Keluarga
Salah satu struktur kekuasaan keluarga diubah dengan bentukan
koalisi. Koalisi sementara, persatuan berdasarkan isu-isu atau
persatuan jangka panjang yang dibuat untuk mengimbangi dominasi
salah satu anggota keluarga atau lebih. Sub kelompok dalam ikatan
keluarga bersama saling dukung dan meningkatan posisi kekuasaan
relative terhadap anggota keluarga yang lain,(howick 1975).
Koalisi orang tua adalah sehat dan phenomena yang sangat
perlu untuk anak- orang tua secara efektif. Sebaliknya, koalisi anakorang tua jangka panjang tak sehat karena mereka mengganggu
fungsi utuh dari orang tua anak dan subsistem pasangannya .
Koalisi sibling juga umum, anak-anak menyatukan kekuatan untuk
lebih mamapu untuk melawan menolak aturan yang dibuat oleh
orang tua (turner,1975).
4. Jaringan komunikasi keluarga
Jaringan komunikasi berhubungan dengan struktur kekuasaan.
Usia,

jenis

kelamin,

dan

kepribadian

anggota

keluarga

mempengaruhi sifat dari jaringan komunikasi keluarga dan sehingga


komunikasi jarang sekali memilki intensitas yang sama dalam setiap
pasang hubungan dalam keluarga . Individu dalam keluarga yang
bertindak sebagai penghubung didalam komunikasi antara yang
lainnya ( dalam banyak contoh adalah ibu), tetapi siapa yang
mampu berinteraksi secara langsung dengan semua anggota

keluarga, memegang posisi pusat dalam jaringan komunikasi.


Semakin besar sentralisasi anggota keluarga tersebut, semakin
besar kekuatannya , karena kendalinya terhadap proses pembuatan
keputusan. Karena penghubung memahami siapa dan pendapat
kebanyakan anggota keluarga, ia dapat menggunakan informasi ini
untuk mempengaruhi anggota keluarga.

Pada keluarga besar

seseorang dapat mencari i penghubung skunder seperti anak lakilaki atau anak perempuan yang lebih tua yang bertindak sebagai
penghubung anak-anak yang lain dan ibu ( turner,1970).
5. Perbedaan jenis kelamin
Ada konsensus yang luas dalam literatur, khususnya literatur
feminis, bahwa hubungan gender didasarkan pada kekuasaan dan
bahwa perempuan biasanya memiliki kekuasaan yang lebih kecil
dalam keluarga dibandingkan laki-laki.
6. Faktor umur dan tahap perkembangan keluarga
Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sebuah keluarga
mempunyai hubungan yang sangat erat dengan siklus kehidupan
keluarga. Sebelum pasangan memiliki anak, pasangan cenderung
syncratic membahas dan saling memutuskan sebagian besar
keputusan utama antara diri mereka sendiri. kemudian dalam siklus
hidup keluarga, ketika anak-anak dibesarkan dan sistem yang lebih
kompleks, setiap pasangan biasanya telah jelas daerah kekuasaan
dan pengambilan keputusan, meskipun keputusan besar masih
bersama-sama dibuat. Dan pada orang tua (lansia) dalam keluarga
sering

mengalami

penurunan

kekuasaan,

karena

mereka

kehilangan sumber daya.


7. Latar belakang budaya danfaktor interpersonal
Perbedaaan budaya dan agama dalam keluarga menentukan
pengaturan kekuasaan dalam rumah tangga misalnya: dominasi pria
biasanya ditemukan dalam keluarga-keluarga migran dari Eropa,
Asia, dan Amerika Latin yang tidak berakulturasi. Namun beberapa
steriotipe kami menyangkut dominasi pria dikalangan keluargakeluarga hispanik dan dominasi wanita dikalangan keluarga kulit
hitam. Dalam keluarga imigran Asia tradisional di mana adanya

nilai-nilai confusian yang kuat

, laki-laki

dianggap sebagai

kekuasaan tertinggi dalam keluarga. Mereka percaya bahwa laki-laki


memiliki tanggung jawab yang penting, dan harus dibebaskan dari
kekhawatiran kehidupan sehari-hari.
Satu variabel orang penting adalah sumber daya keterampilan
interpersonal.

Ini

mencakup

kemampuan

untuk

berdebat

meyakinkan dan bernegosiasi atau keberhasilan tawar-menawar,


serta memanipulasi, berbohong, dan membujuk
Social Class
Ropers (1991), kelas social berpacu pada sekelompok orang besar
dengan pendapatan yang relative mirip, jumlah kekayaan, kondisi
kehidupan, kesempatan kehidupan, dan gaya hidup. Beberapa
penelitian sociological dan psikological menemukan bahwa kelas social
berbeda antara etnik grup satu dengan yang lainnya. Kelas social dapat
mempengaruhi gaya hidup dan kebiasaan termasuk interaksi keluarga
dan praktik layanan kesehatan.

Lower Class Families


Besmer (1967) meringkas karakteristik kekuatan dari keluarga
miskin di Amerika. Suami memiliki otoritas karena mereka laki-laki.
Mereka mengakui bahwa suami memiliki kewenangan lebih ke istrinya
karena sumber dayanya. Otoritas merupakan factor dasar kuat yang
mempengaruhi hubungan interpersonal masyarakat miskin.Seorang
suami yang memiliki penghasilan rendah akan kehilangan pengaruh
dalam keluarga. Seseorang yang dominan dalam keluarga diandalkan
sebagai seorang pengambil keputusan.
Istri dari suami kelas bawah lebih banyak memiliki tanggung jawab
daripada istri dari suami kelas menengah maupun kelas atas atau
suami dari kelas bawah sehingga istri dari suami kelas bawah lebih
banyak berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Secara
financial, istri dari suami kelas bawah menganggap bahwa tanggung

jawab dari seorang suami merupakan mencari nafkah/penghasilan


sedangkan istri bertanggung jawab membelanjakannya dengan bijak.
Working Class Families
Komarovsky

(1964)

dalam

studynya

menemukan

bahwa

pendidikan menjadi penentu pentingnya bagaimana struktur kekuatan


otoritas dalam keluarga yang bekerja. Semakin tinggi pendidikannya,
maka seseorang dikatakan ideal untuk dinikahi. Insiden dominasi oleh
suami menurun dengan pendidikan yang lebih baik dari suami dan
sebaliknya atribut patriarchal pada kalangan dengan pendidikan
kurang.
Middle Class Families
Kanter (1978) menyatakan bahwa pernikahan berdasarkan egaliter
akan

ditemukan

pada

diantara

kelas

menengah

ke

bawah.

Dimungkinkan sebagai hasil dari ketersediaan waktu suami yang lebih


besar untuk berbagi tugas dan bertindak sebagai pendamping istrinya.
Sumber daya dan kekuatan ahli sering digunakan sebagai dasar untuk
kekuatan dalam keluarga kelas menengah ke atas.
KLASIFIKASI STRUKTUR KEKUATAN KELUARGA
Sistem klasifikasi sering digunakan untuk menyatakan apakah
keluarga didominasi oleh salah satu anggota (biasanya satu pasangan),
mempunyai

struktur

kekuatan

egalitarian,

tidak

mempunyai

kepemimpinan yang efektif. Beberapa penulis menunjukkan sebagian


besar klasifikasi digunakan untuk menggambarkan keluarga terlalu
sederhana dan tidak cukup mencerminkan sifat dinamis kekuatan
keluarga. Jika keluarga menunjukkan disfungsional struktur kekuatan,
dapat disimpulkana bahwa keluarga dimungkinkan membutuhkan
pelayanan sebagai diagnosis keperawatan keluarga.
Dua tipe keluarga yang paling sering digambarkan dalam literature
selama bertahun-tahun adalah (1) Patriarchal, traditional family, (2)

Democratic, egalitarian, atau modern family. Pada patriarchal dan


traditional family, ayah merupakan kepala keluarga dengan kekuatan
keluarga ada di tangannya; istri dan anaknya merupakan kekuatan di
bawahnya.

Sebaliknya

dengan

keluarga

democratic,

modern,

egalitarian didasarkan pada persamaan suami dan istri dalam


menyepakati sebuah pengambilan keputusan dan didukung oleh anakanak mereka sampai tumbuh dewasa.
Telah

terjadi

pergeseran

struktur

keluarga

dari

tradisional,

patriarchal ke arah yang lebih demokratis, egaliter. Namun peran lakilaki dan perempuan dalam keluarga dimediasi oleh social dan budaya
sehingga struktur keluarga berubah dengan perlahan. Pada system
egalitarian, penelitian menunjukkan bahwa pada system egalitarian
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang tinggi daro perempuan
sehingga perempuan memiliki kekuatan dalam keluarga.
Herbst (1954), klasifikasi lain dari kekuatan berdasarkan tipologi di
subsistem perkawinan atau keluarga adalah pembangunan. Herbst
membagi kekuatan perkawinan menjadi 3 pola yakni autocratic,
syncratic, dan autonomic. Autocratic merupakan pola dimana salah satu
naggota keluarga mendominasi keluarga sehingga pendominasi ini
menjadi pengambil keputusan untuk keluarga. Syncratic merupakan
pola dimana kedua anggota keluarga membuat keputusan dengan
melibatkan anggota keluarga. Autonomic merupakan pola dimana 2
orang berbagi kekuatan tetapi fungsi ini dilakukan secara independen
satu sama lain baik dalam pengambilan keputusan maupun kegiatan.
Lewis

(1976)

membangun

model

komprehensif

untuk

menyimpulkan struktur kekuatan keluarga. Lewis menggabungkan


beberapa tipe struktur kekuatan keluarga yang sering diamati.

Gambar 1. Struktur Kekuatan Keluarga (Lewis, 1976)


KEKUATAN KELUARGA DI KESEHATAN KELUARGA
Lewis (1976) mengkategorikan kesehatan keluarga menjadi 3
kelompok keluarga yakni severely dysfunction, yang dipresentasikan
dengan adanya struktur keluarga chaotic. Competent family, yang
dipresentasikan dengan struktur keluarga yang fleksibel.
Dalam kesehatan keluarga orang tua berperan sebagai koalisi,tidak
berperan sesuai dengan otoritasnya. Secara umum, tidak ada
kebingungan dalam kekuatan keluarga, ayah memegang kekuasaan
paing tinggi, ibu mempunyai kekuatan yang kurang dari ayah,
sedangkan anak memiliki sedikit kekuasaan. Sebaliknya dengan
severely dysfunction, semua anggota keluarga tidak mempunyai
kekuatan yang cukup. Ayah mempunyai kekuatan yang kurang
sedangkan ibu dan anak mempunyai koalisi yang kuat. Fungsi keluarga
yang efektif yakni keluarga memiliki fungsi komplementer dimana ayah
dan ibu bekerja sebagai sebuah tim.
KEKUATAN DINAMIS DAN KEKERASAN KELUARGA

Terdapat lima tipe kekerasan keluarga tergantung pada siapa


pelakunya dan siapa korbannya yakni pasangan / pelecehan pasangan
intim (termasuk hubungan gay atau lesbian), pelecehan terhadap anak
(fisik dan seksual), pelecehan terhadap saudara, dan pelecehan
terhadap

orang

tua.

Beberapa

penelitian

menunjukkan

bahwa

kekerasan keluarga banyak dialami oleh perempuan karena dengan


pendidikan wanita yang tinggi sehingga wanita tersebut memperoleh
pekerjaan dan penghasilan yang baik.

Keadaan yang seperti ini

menimbulkan kekuatan yang lebih pada wanita sehingga laki-laki


bereaksi aogresif dan menyebabkan kekerasan untuk mengurangi
kekuatan

yang

lebih pada

wanita. Tindakan kekerasan dapat

menyebabkan luka secara fisik maupun emosional pada anggota


keluarga (Wallace, 1996).
Teori Kekerasan Keluarga
Terdapat tiga teori untuk menggambarkan kekerasan keluarga yaitu
intraindividual, sociocultural, dan social-psucological). Intraindividual
merupakan ciri kepribadian dalam kekerasan terhadap seseorang dan
korban percaya penyebab kekerasan terjadi dan berkelanjutan.
Sociocultural merupakan focus kekerasan pada kondisi tingkat makro
yang menyebabkan masyarakat menciptakan kecenderungan untuk
keluarga tersebut. Social Psycological dimana kekerasan keluarga
sebagai fungsi antara individu dan masyarakat dengan menghormati
isu kekuatan, control, kelas social, pekerjaan, dan pendapat.
PENILAIAN KEKUATAN KELUARGA
Penilaian perawat terhadap keluarga dapat dilakukan dengan cara
kombinasi dari observasi keluarga ketika interaksi dengan self reporting
oleh anggota keluarga yang dapat mendukung validitas data tentang
kekuatan keluarga.
Hasil Kekuatan

Pertanyaan yang spesifik dapat ditanyakan untuk mendapatkan


informasi seperti beberapa pertanyaan berikut:
1. Finansial : Siapa yang membayar tagihan bulanan, siapa yang
membuat keputusan tentang bagaimana keluarga membelanjakan
uang?
2. Sosial : Siapa yang menjadi teman hidupnya, siapa yang biasanya
menemani kesehariannya?
3. Keputusan besar : Siapa yang memutuskan dalam perubahan
pekerjaan atau rumah?
4. Membesarkan anak : Siapa yang mendisiplinkan anak dan
mengambil keputusan terhadap aktifitas anak?
Keterbatasan yang mungkin terjadi adalah semua kekuatan dalam
keluarga sering tidak berkorelasi dengan baik.
Proses Pengambilan Keputusan
Teknik yang spesifik yang dimanfaatkan untuk pengambilan
keputusan dalam keluarga adalah dengan:
1. Kesepakatan dalam pengambilan keputusan
2. Akomodasi dalam pengambilan keputusan
a. Menawar
b. Mencurigakan
c. Memaksa
3. Kenyataan dalam pengambilan keputusan
Dasar Kekuatan
Dasar kekuaran berkaitan dengan sumber dari kekuatan tersebut,
darimana kekuatan dari anggota keluarga, untuk memperkirakan
sumber kekuatan anggota keluarga bisa menggunakan cara :
1. Kekuatan yang sah atau otoritas
2. Kekuatan yang berdaya
3. Acuan kekuatan
4. Kekuatan pengganti
5. Sumber daya atau kemampuan ahli
6. Penghargaan kekuatan
7. Kekuatan koersif
8. Informasi kekuatan baik langsung dan tidak langsung
9. Kekuatan afektif
10. Kekuatan memanajemen ketegangan

Variabel yang mempengaruhi Kekuatan Keluarga


Beberapa variable yang mempengaruhi kekuatan keluarga yaitu
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hirarki kekuatan keluarga


Tipe dari keluarga
Formasi dari koalisi
Jaringan komunikasi keluarga
Perbedaan gender
Umur dan factor siklus hidup keluarga
Budaya dan factor interpersonal
Kelas sosial

Sistem Keluarga dan Kekuatan Subsistem


Rangkaian kekuatan keluarga dapat menunjukkan data yang dapat
dianalisis secara visual. Pengaturan kekuatan pada rangkaian ini jika
ditemukan 2-4 maka hasilnya memuaskan atau dapat dikatakan system
keluarga sehat. Untuk menenyukan pola kekuatan keseluruhan,
pertanyaan yang diajukan harus terbuka, sebagai contoh siapayang
biasnya membuat keputusan penting? Siapa yang biasanya menang
saat berargumen?.Apakah kamu puas dengan keputusan yang
diambil? Subsitem juga penting untuk dilakukan penilaian. Observasi
dari interaksi orang dewasa, orang tua-anak, saudara, dan interview
data dinilai untuk penilaian karakteristik kekuatan subsistem.
FAMILY NURSING DIAGNOSIS
Untuk menentukan diagnosis keperawatan keluarga diperlukan
pemahaman tentang struktur kekuatan di keluarga sehingga intervensi
yang diterapkan dapat efektif untuk keluarga. Ketika mengambil
tindakan, perawat harus tahu siapa pengambil keputusan di keluarga,
siapapemegang kekuatan beberapa tipe keputusan dan seluruh
keputusan, ditambah dengan pengetahuan bagaimana pengambilan
keputusan dibuat, yang mana dari itu, perawat akan tahu bagaimana

perawat harus berbicara dengan tepat kepada seseorang pengambil


keputusan dalam keluarga.
Ketika pengambil keputusan dalam keluarga sudah jelas, perawat
akan memberikan dukungan atau memperkuat struktur kesehatan
keluarg. Hal ini penting karena akan mendorong kepercayaan orang
tua. Dalam kasus ini, sebuah kekuatan keluarga bisa berfungsi sebagai
promosi kesehatan diagnosis keperawatan keluarga seperti keluarga
secara konsisten menggunakan pengambilan keputusan konsensual
dimana

ketika

kekuatan

orang

tua

lemah,

perawat

dapat

mengidentifikasi keluarga dan menentukan diagnosis keperawatan


keluarga dan merencanakan cara untuk membantu pasangan atau
orang tua dalam penguatan subsistem tersebut.

INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA


Intervensi keperawatan daoat mengacu pada konflik maupun
konflik kekuatan lainnya. Jika anggota keluarga lebih memilihuntuk
menyelesaikan konflik maka, perawat dapat membantu keluarga dalam
mencar solusi dari konflik tersebut. Mc Farlance dan Mc Farland
menjelaskan diagnose NANDA untuk perawat dalam membantu
anggota keluarga dalam mencari solusi masalah keluarga.
Kekerasan

dalam

keluarga

dapat

diintervensikan

dengan

perlindungan anggota keluarga. Tujuan yang diharapkan adalah


sebagai berikut:
1. Keluarga melaporkan jika ada kekerasan kepada anak
2. Keluarga memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang
mengalami kekerasan seperti pasangan, anak, maupun orang tua
yang ada dalam keluarga tersebut, saudara, pelaku kekerasan, dan
unit keluarga.
3. Keluarga mengkoordinasikan perawatan keluarga dan anggota
keluarga dengan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dan
pekerja kesejahteraan social

Selain itu intervensi dapat dilakukan dengan model yang mana


orang yang dewasa memiliki kekuatan yang lebih daripada yang lain
dan orang tersebut dapat meningkatkan kekuatan dari orang yang
kekuatanya rendah dalam keluarga. Model ini dapat diaplikasikan untuk
pasangan suami-istri dapat juga digunakan untuk subsitem keluarga.

NILAI KELUARGA

DEFINISI NILAI, NILAI KELUARGA, NORMA, DAN ATURAN


KELUARGA
NILAI
Nilai merupakan suatu inti sari dari sistem kepercayaan individu
yang dikarenakan oleh sifatnya yang abadi. Nilai bukan merupakan
suatu sikap hidup yang sebentar atau pendek. Nilai.memberikan
panduan bagaimana cara bertindak. Nilai memberikan panduan
cara berperilaku. Nilai juga memberikan panduan perkembangan
kepercayaan keluarga, norma-norma, atau aturan - aturan.
Nilai tidak bersifat statis. Karena perkembangan individu
maupun keluarga dari waktu ke waktu dan situasi khusus dalam
masyarakat yg meliputi kehidupan perorangan atau keluarga,
adanya permintaan perbedaan prioritas. Beberapa nilai berpotensi
untuk mengalami perubahan. Hal ini ditambah dengan jarangnya
individu atau keluarga yang berperilaku sesuai dengan pola nilai
yang tetap.
Beberapa nilai bersaing dengan nilai lain yang berlangsung
secara bersamaan. Contobnya saja nilai tentang individualism dan
kebebasan dengan nilai tentang familism.Trrdapat hierarki dalam
nilai. Beberapa nilai lebih terpusat, pembentukan karakter, atau
mempengaruhi
sedangkan

hampir

beberapa

seluruh
nilai

aspek

lainnya

kehidupan

kurang

keluarga,

mempengarungi

kehidupan keluarga.
NILAI KELUARGA
Nilai keluarga didefinisikan sebagai suatu sistem ide, perilaku,
dan kepercayaan tentang pentingnya harga kesatuan atau konsep
yang secara sadar maupun tidak mengikat anggota keluarga dalam
budaya yang sama. Warisan budaya keluarga merupakan sumber
utama dari sistem nilai dan norma. Sebaliknya, kelompok keluarga
merupakan sumber utama sistem kepercayaan anggota keluarga.

Sistem nilai dan norma mencakup sifat dan makna dari dunia
tempat mereka di dalamnya, dan bagaimana mencapai tujuan
pribadi dan aspirasi.
Konfigurasi nilai keluarga memaknai suatu kejadian krisis
tertentu dan pada saat yang sama memberikan jalan bagaimana
merespon situasi tersebut. Konfigurasi nilai ini memberikan definisi
dari suatu dimensi, yang terdiri dari konsep yang fokus pada
tanggung jawab dan harga dari individu dalam keluarga.
Nilai diperoleh dari para leluhur yang diturunkan secara turun
menurun.

Leluhur

menerima

nilai

sosial

dan

budaya

dan

memodifikasikannya sehingga sesuai dengan nilai yang dianutnya.


Nilai keluarga tidak hanya merefleksikan masyarakat dimana
mereka tinggal, tetapi juga masyarakat lain yang mereka kenal.
Jadi sudah sangat jelas apabila nilai yg dianut keluarga sesuai
dengan nilai dalam masyarakat, akan semakin mudah penyesuaian
diri seseorang dan akan semakin tinggi tingkat kesuksesan
keluarga dalam membina hubungan dalam komunitas. Keluarga
sering memiliki nilai yang tidak dapat mereka sadari. Kebutuhan
praktis belaka sering dapat mengubah nilai keluarga dalam
kehidupan sehari hari jadi mereka tidak menyadarinya.
KEPERCAYAAN
Wright, watson,

dan

Bell

(1996)

menyatakan

bahwa

tempat

kita

dunia.

kepercayaan

merupakan

lensa

Kepercayaan

merupakan

dasar

dari

melihat

kebiasaan

kita.

Dan

merupakan inti yang mempengaruhi kita. Kepercayaan merupakan


cetak

biru

dari

kontruksi

hidup

yang

kita

bangun

dan

menggabungkannya dengan hidup orang lain. Isgilah kepercayaan


telah disinonimkan dengan tingkah laku, penjelasan, dasar
pemikiran, nilai, dll. Kepercayaan memberikan panduan bertindak
kepada individu dan keluarga. Kepercayaan dan kebiasaan saling
berhubunngan satu sama lain. Sistem kepercayaan keluarga ini
diperoleh, dibagi, dan bertahan dari waktu ke waktu.

NORMA
Norma merupakan pola perilaku yang dianggap tepat dalam
suatu masyarakat tertentu dan, ditentukan berdasarkan sistem nilai
keluarga. Norma juga merupakan awal dari perilaku. Dengan kata
lain norma memberikan panduan kebiasaan yang sesuai untuk tiap
-tiap posisi dalam keluarga dan masyarakat khususnya bagaimana
hubungan timbal balik dapat dipertahankan.
ATURAN KELUARGA
Aturan keluarga secara spesifik lebih merefleksikan nilai
keluarga daripada norma keluarga. Aturan merupakan suatu
regulasi yang mengatur kebiasaan apa yang dapat dan tidak dapat
diterima dalam keluarga. Aturan keluarga merefleksikan tingkat
fungsiaonal dari keluarga. Whall(1986) menguatkan hubungan ini
dengan menyatakan bahwa secara umum adil untuk mengatakan
bahwa keluarga disfungsional memiliki aturan diafungsional karena
salah satu dapat menyebabkan yang lain.
PERBEDAAN DALAM SISTEM NILAI
1. Beragamnya nilai nilai social
Konflik yang tidak dapat dihindari di antara keluarga dan
masyarakat dikarenakan adanya banyak faktor dan pengalaman
yang dapat merubah nilai individu atau keluarga dan norma.
Masalah atau konflik yang belum terselesaikan sering terjadi karena
norma tradisional dan norma baru muncul secara bersamaan, baik
diluar maupun di dalam keluarga. Pada masyarakat atau individu
tertentu menolak norma norma baru dan melekat erat pada pola
yang lebih tradisional. Sebaliknya, beberapa madyarakat atau
individu tidak menerima konsep tradisional dan lebih condong pada
norma dan nilai yang baru. Hal inilah yang menyebabkan konflik.
2. Perselisihan nilai antara budaya dominan dan sub budaya atau
cultural
Sumber masalah lain dari konflik nilai adalah adanya

perselisihan nilai antara budaya dominan dengan budaya yang


dianut keluarga. Oleh karena itu, ketidakcocokan antara nilai
keluarga dan nilai masyarakat menyebabkan konflik nilai.
Temuan cleveland dan longaker( 1972) mengkonfirmasi adanya
konflik nilai yang bersifat destruktif pada keluar keluarga etnik.
Berdasarka data ekstensif yang dikumpulkan dari interview. Home
visit, tes, dan sesi terapeutik. Mereka menyimpulkan bahwa
masalah emosional pada anggota keluarga yang telah dipelajari
meripakan fungsi dari 2 proses, yaitu:
a. Sebuah konflik nilai antara masyarakat dan keluarga yang
tinggal di dalamnya dan dengan keluarganya sendiri.
b. sebuah kebiasaan menghina diri sendiri apabila mengalami
kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan orientasi nilai yang
kompatibel.
3. Perselisihan nilai antar generasi
Konflik nilai yang ketiga yaitu adanya perbedaan nilai antar
generasi dalam keluarga. Keluarga dapat terdiri dari generasi yang
berbeda. Masing masing generasi membawa nilainya sendiri.
Konflik nilai akan terjadi saat kakek dan nenek mempertahankan
nilai tradisional, ayah dan ibu mengkombinasikan nilai tradisional
dan nilai baru, dan anak menggunakan nilai baru.
PERBEDAAN ANTARA ANGGOTA KELUARGA DAN TENAGA
KESEHATAN PROFESIONAL
Salah satu stressor utama pada hubungan antara tenaga
kesehatan dan klien keluarga adalah jarak sosial yang terbentuk karena
kelas sosial dan atau perbedaan nilai budaya. Ketika tenaga profesional
dan keluarga tidak memiliki dasar kepercayaan dan nilai yang sama,
hasilnya tidak adanya tujuan yang spesifik, komunikasi yang tidak jelas
dan adanya masalah dalam interaksi.
VALUE CHANGES IN AMERICAN SOCIETY
Sejak tahun 1960 Amerika Serikat telah mengalami revolusi ide,
nilai dan

norma. Banyak referensi yang

menyebutkan

bahwa

pergerakan hak asasi sipil menandai revolusi budaya di Amerika.


Karena adanya peristiwa pergolakan dalam masyarakat, tingkat
kepuasan

sosial

yang

semakin

meluas,

peningkatan

angaka

kemiskinana, tingkat konsumtif dan materialistis yg tinggi (Lebey,


2001:samuelson,1986),

globalisasi

ekonomi,

dan

semakin

meningkatnya ancaman dari teroris. Nilai budaya Amerika secara


berkelanjutan dibentuk dan dimodifikasi.
ORIENTASI NILAI UTAMA
Meskipun penurunan etnik protestan dan adanya konflik nilai yang
tinggi. Sekelompok inti nilai masih terbentuk dalam tingkatan tertentu.
Masyarakat Amerika, dan juga membentuk kehidupan keluarga dan
perilaku tenaga kesehatan profesional. Inti dari nilai masyarakat
Amerika yaitu:
1. Produktivitas/ prestasi individu
Prestasi individu dan produktivitas telah diidentifikasi sebagai
kunci nilai tradisional pada masyarakat ini. Pada kelas menengah,
perhayian dipusatkan pada prestasi personal khusisnya prestasi
dalam bidang pekerjaan. Hal ini dapat menyebabkan konflik
interpersonal maupun keluarga Ketika prestasi pekerjaan tersebut
bersaing

dengan

persetujuan

nilai

yang

dipegang

yang

berhubungan perannya dalam keluarga.


2. Individual
Banyak dari tulisan yang membahas tentang perubahan
masyarakat Amerika dan keluarga setuju bahwa peningkatan
tingkat individualisme pada masyarakat merupakan salah satu
faktornya. terdapatnya tren lebih mementingkan diri sendiri dan
ketidak ketergantungan kepada keluarga telah melemahkan tetapi
tidak membunuh pernikahan permanen idaman. Tren nilai ini juga
menyebabkan pergeseran dari fokus terhadap anak menjadi fokus
terhadap diri sendiri.
3. Matrealistik
Kepemilikan

uang

dan

barang

tidak

hanya

menjadi

penghargaan untuk menjadi produktif, tetapi juga nilai tengah dari


masyarakat

dan

dirinya

sendiri.

Nilai

ini

disebut

sebagai

matrealisme. "Penemuan uang" dan masyarakat meningkatkan


kesenangan atas kekayaan sebagai ukuran pencapaian.Uang dan
kekayaan, keduanya landasan bbagi kekuasaan dan prestis serta
simbol utama keberhasilan dan penghargaan.
4. Etos kerja
Masyarakat Amerika terobsesi akan pekerjaan. Bahkan saat ini
banyak ditemukan individu yang dapat dikatakan gila kerja.
Berkaca dari inkeles(1977) dan Glick (1989), pada tahun 1960 dan
1970, adap kerja keras terkikis dengan cepat. Meningkatnya jumlah
penduduk pada tahun tersebut disebut sebut sebagi pencetus
utama

semakin

meningkatnya

upah

kerja

dan

semakin

memendeknya waktu bekerja.


5. Pendidikan
Bagi masyarakat menengah, pendidikan merupakan suatu hal
yang dibutuhkan untuk mencati pekerjaan dan meningkatkan
khualitas hidupnya. Letak nilai dalam pendidikan sejajar dengan
etos kerja, individualisme, dan kemajuan. Meskipun pendidikan
lebih ditempuh oleh masyarakat menengah ke atas, nilainya juga
mencolok

pada

masyarakat

bawah

dan

keluarga

imigran.

Perubahan demografi, sosial, dan ekonomi yang terjadi tahun 1960


sampai 1990 telah banyak menyebabkan peningkatan angka resiko
anak gagal dalam sekolahnya maupun masalah kebiasaan.
6. Persamaan
Nilai persamaan telah menjadi lebih penting pada masyarakat
Amerika dibandingkan pada masa lampau. persamaan personal
yang terkandung dalam budaya Amerika lebih banyak dari pada
budaya manapun. Persamaan ini lebih ditekankan pada emansipasi
wanita.

Sedangan

persamaan

dalam

hal

kesehatan

yaitu

bagaimana seluruh warga dapat mengakses perawatan kesehatan


tanpa adanya perbedaan.

7. Kemajuan dan penguasaan atas lingkungan


Nilai ini menjeladkan tentang hubungan manisia dengan alam.
Apakah manusia sebagai hal yang takhluk pada alam, bagian dari
alam itu sendiri , atau yang mendominasi alam. Masyarakat
Amerika -spanyol tradisional selalu menyerahkan semua hal pada
alam. Tidak ada sesuatu hal pun yang dapat dilakukan apabila
badai sudah menyerang.
Hubungan yang kedua antar manusia dan alam yaitu manusia
dan alam dilihat sebagai aspek.aspek yang harmonis secara
keseluruhan. Pada masa sekarang, masyarakat menckptakan
kemajuan kemajuan untuk melawan atau menguasai alam.
8. Orientasi masa depan
Seluruh masyarakat harus berhadapan dengan 3 waktu
dimensi, masa lalau, saat ini , dan.masa yang akan datang. Semua
budaya memiliki konsep dari masa lalu, yang dimiliki saat ini, dan
perhatian

akan

masa

depan.

Orientasi

waktu

masyarakat

Amerika.lebih mengarah pada masa depan yang dapat dilihat.


9. Efisiensi, ketertiban, dan kepraktisan
Ilmu merupakan suatu usaha untuk memperoleh hal yang lebih
efisien, praktis dan maju. Cara kita mengolah makanan dan
mengkonsumsinya mencerminkan nilai yang kita pegang. 70%
masyarakat saat ini telah menggunakan microwave. Hal ini
menunjukkan bahwa kita senang dengan perkembangan ilmu
pengetahuan yang dapat mengurangi waktu kita untuk memasak.
10. Rasionalitas
Rasional dan alasan merupakan hal yang dinilai tinggi dalam
masyarakat Amerika. Untuk dapat menjadi efisien, diinginkan, maju,
produktif, dan praktis, sesuatu hal itu harus dapat memeberika
reaksi terhadap pemecahan masalah dan berpikir logik dalam satu
situasi dan tujuan.
11. kualitas hidup dan mempertahankan kesehatan

Saat ini masyarakat tertarik untuk meningkatkan khualitas hidup


mereka. Hal ini seperti perubahan pola hidup menjadi lebih sehat.
Semua hal tersebut merupakan modifikasi nilai dasar menjadi hal
yang lebih baik dimana kebahagian individu maupun keluarga dan
kebebasan pembuatan keputusan merupakan hal yang utama.
Dengan berpegang pada hal ini, tenaga kesehatan profesional
harus memiliki pemahaman sari dinamika keluarga dan penyakit,
nilai komunikasi terbuka, saling menghormati dan pembuatan
kebutusan bersama sebagai pondasi hubungannya.
12. Toleransi keragaman
Keragaman dalam keluarga berarti terdapat tipe tipe keluarga
yang berbeda yang menggunakan banyak jalan untuk memenuhi
kebutuhan

mereka.

Keragaman

juga

mencakup

keragaman

budaya, agama, dan hak pria dan wanita dalam.masyarakat.


mungkin dengan adanya pergerakan

hak sipil dan anti perang

pada tahun 1960 dan atau karena semakin meningkatnya jumlah


nimoritad

di

Amerika,

toleransi

akan

keragaman

semakin

meningkat.
NILAI KELUARGA
Sistem nilai keluarga

adalah suatu pemikiran yang dipengaruhi

oleh nilai masyarakat , baik dari nilai subkultural keluarga dan kelompok
budaya tertentu.
Nilai keluarga didefinisikan sebagai suatu sistem ide, perilaku dan
kepercayaan tentang harga suatu kesungguhan /konsep tertentu yang
terbentuk baik secara disadari atau tidak disadari yang dipahami oleh
anggota keluarga dalam budaya umumnya.
Nilai keluarga dan sistem kepercayaan membentuk pola perilaku
yang

mempengaruhi

maslah

kesehatan.

Nilai

keluarga

dan

kepercayaan membentuk sudut pandang keluarga dalam menghadapi


stressor dan bagaimana mereka merespon stressor tersebut. Dengan
kata lain, kepercayaan keluarga dan nilai itu mempengaruhi suatu

keluarga dalam menghadapi suatu masalah kesehatan ataupun


stresssor lainnya.
Variabel Mayor yang Mempengaruhi Nilai Keluarga
1. Status Sosialekonomi Keluarga
Status sosial ekonomi keluarga membentuk gayahidup suatu
keluarga , hal ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh
terhadap nilai keluarga. Keluarga yang kurang mampu akan
membagi nilai dominan Amerika sebagai produktivitas dan
pekerjaan yang tak akan mampu mereka capai dari apa yang
mereka nilai (karena terbatasnya sumber). Keluarga dari kelas
menengah dalam perbandingannya, menggabungkan nilai waktu
dominan dan harapan yang tepat dan kemampuan manajemen
waktu yang baik. Beberapa keluarga memiliki tipikal yang
berorientasi pada masa depan dan memiliki rencana untuk
kedepannya.
2. Akulturasi dan etnik keluarga
Background etnik membuat perbedaan mayor , bagaimana
pentingnya setiap inti nilai dalam suatu keluarga. Contohnya dalam
budaya China , kelompok kohesif , perbedaan sosial, kepatuhan
adalah nilai. Orangtua Cina-Amerika memiliki pahaman tradisional
bahwa perilaku anak-anak mereka harus tepat dan sesuai dengan
keinginan

mereka.

mendengarkan

Anak-anak

mereka

diajari

bagaimana

orangtua dan mengikuti ajaran keluarga tanpa

suatu objek.
3. Lokasi Geografis( Urban, Suburban , rural )
Pada umumnya, penduduk perkotaan , populasi penduduk kota
bermacam-macam, umumnya terdiri dari spektrum kelas sosial
berdasarkan nilai-nilai etnik keluarga dan kelompok ras tersebut.
Keuangan, pendidikan dan faktor sosialekonomi berdampak pada
anggota keluarga dalam menerapkan nilai mereka.
4. Perbedaan Generasi
Sistem nilai generasi di Amerika, walaupun

nilai

mereka

ditanamkan sejak usia dini dari orang tua , mereka sebelumnya

dipengaruhi oleh nilai masyarakat yang terjadi dalam waktu tertentu


dan merupakan dipengaruhi oleh kondisi sosial politik.
DIAGNOSIS KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosis keperawatan keluarga dalam suatu nilai pada umumnya,
hal ini dikarenakan nilai tersebut dipengaruhi oleh suatu konflik nilai
dalam keluarga tertentu. Nilai konflik sering terlihat sebagaifaktor yang
berkontribusi dalam masalah keluarga (komunikasi, kekuatan, peran)
dan area fungsi (afektif, sosialisasi dan perawatan kesehatan) atau
dalam koping.
INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA
Pengetahuan dalam nilai keluarga merupakan data penting untuk
perawat dalam menentukan tujuan yang realistis dan strategi intervensi
dengan keluarga. Selain itu, pemahaman dalam hubungan nilai
keluarga ke dalam nilai komunitas yang akan membantu perawat
mempengaruhi ketepatan nilai keputusan.
Pengkajian dalam nilai keluarga harus secara individual, karena
setiap keluarga memiliki keunikan dalam setiap nilai keluarga dan
norma. Pengkajian nilai yang spesifik seperti budaya, kekuatan dan
generasi dan perbedaan berkembang yang memimpin konflik nilai
dapat terdeteksi.
Diagnosis keperawatan keluarga dalam suatu nilai tidak umum. Hal
ini dikarenakan masalah

nilai keluarga dipengaruhi oleh beberapa

faktor.
Klarifikasi nilai adalah suatu teknik atau proses yang digunakan
untuk meningkatkan kesadaran keluarga dalam memprioritaskan nilai
sesuai dengan derajat kongruensi dari setiap anggota keluarga, dari
perilaku,atittude

dll.

Nilai

ini

yang

mendasari

keluarga

dalam

menghadapi masalah dan bagaimana keluarga tersebut memecahkan


masalah tersebut.

STRESS, KOPING, DAN ADAPTASI DALAM KELUARGA


Dasar stres dan konsep koping
Stres adalah respon atau keadaan ketegangan yang dihasilkan
oleh stressor atau dengan permintaan aktual / dirasakan yang tetap
unmanaged (Antonovsky, 1979; Burr, 1973). Ini adalah ketegangan
atau regangan dalam seseorang atau sistem sosial (misalnya keluarga)
dan merupakan reaksi terhadap ukuran, peneliti dan praktisi sering
menilai stressor.
Stress

adalah

segala

situasi

dimana

tuntutan

non-spesifik

mengharuskan seorang individu untuk berespons atau melakukan


tindakan (Selye, 1976). Respons atau tindakan ini termasuk repons
respons fisiologis dan psikologis. Stress dapat menyebabkan perasaan
negatif atau yang berlawanan dengan apa yang diinginkan atau
mengancam kesejahteraan emosional. Stress dapat mengganggu cara
seseorang dalam menyerap realitas, meyelasaikan masalah, berpikir
secara umum; dan hubungan seseorang dan rasa memiliki. Selain itu,
stress dapat mengganggu pandangan umum seseorang terhadap
hidup, sikap yang ditunjukkan pada orang yang disayangi, dan status
kesehatan (Kline-Leidy, 1990; Oberst et al, 1991; Kosciulek, Mc Cubbin,
dan Mc Cubbin, 1993).
Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial
(tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara
bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas
berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan
subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara
individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu
sistem (WHO, 2003; 158).
Stres menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001) menyatakan
bahwa stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap
setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres
mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang
bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan

baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang
dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik),
tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk
stres mempunyaikonotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif,
hal tersebut dikatakan eustres.
Persepsi atau pengalaman individu terhadap perubahan besar
menimbulkan stres. Stimuli yang mengawali atau mencetuskan
perubahan disebut stressor. Stressor menunjukkan suatu kebutuhan
yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan
fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan, perkembangan, spiritual, atau
kebutuhan kultural.
Sterssor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai stressor
internal atau eksternal. Stressor internal berasal dari dalam diri
seseorang

misalnya

demam,

kondisi

seperti

kehamilan

atau

menopause, atau suatu keadaan emosi seperti rasa bersalah.


Sementara stressor eksternal adalah stressor yang berasal dari luar diri
seseorang misalnya perubahan bermakna dalam suhu lingkungan,
perubahan dalam peran keluarga atau sosial, atau tekanan dari
pasangan (Potter, Patricia A. 2005).
Stress dapat terjadi secara akut, atau biasa disebut dengan Stress
reaction acute. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah
gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya
gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau
mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau
hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang
memainkan

peranan

dalam

terjadinya

reaksi

stres

akut

dan

keparahannya.
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respons terhadap
situasi yang mengancam. Upaya individu dapat berupa perubahan cara
berfikir (kognitif), perubahan perilaku atau perubahan lingkungan yang
bertujuan untuk menyelesaikan stres yang dihadapi. Koping yang efektif
akan menghasilkan adaptasi. Koping dapat diidentifikasi melalui

respons, manifestasi (tanda dan gejala) dan pertanyaan klien dalam


wawancara (Keliat, B. A. 1998).
Koping juga dapat diartikan sebagai respons terhadap stress, yaitu
apa yang dirasakan, dipikirkan dan dilakuakan oleh individu untuk
mengontrol, mentolerir dan mengurangi efek negatif dari situasi yang
dihadapi (Fleming dkk, 1984). Berdasarkan berbagai definisi diatas,
maka dapat disimpulkan bahwa koping adalah cara yang digunakan
individu dalam menyesuaikan masalah, mengatasi perubahan yang
terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun
perilaku.
Krisis keluarga telah didefinisikan sebagai suatu kondisi yang terusmenerus disruptiveness, disorganisasi, atau menderita cacat dalam
sistem keluarga (Burr, 1973). Ada dua jenis situasi yang dapat
membuat keluarga menjadi krisis yaitu pengembangan dan peristiwa
situasional. Pengembangan atau peristiwa pematangan adalah mereka
yang berasal dari pengalaman keluarga dalam proses pertumbuhan
psikososial anggota (misalnya menjadi orang tua, mulai dewasa anak
sebagai remaja, pensiun). Peristiwa situasional yang tidak umum atau
biasanya diharapkan, seperti kematian seorang anak atau penyakit
yang serius dari salah satu anggota keluarga. Tergantung pada sumber
daya keluarga, mengatasi kemampuan dan persepsi peristiwa ini,
peristiwa perkembangan dan situasional dapat menjadi krisis bagi
keluarga.
Adaptasi adalah suatu proses mengelola permintaan stressor
melalui penggunaan sumber daya, mengatasi, dan strategi pemecahan
masalah. Hasilnya adalah sebuah negara yang berubah fungsi yang
mungkin positif atau negative. Adaptasi keluarga secara fungsional
didefinisikan oleh McCubbin (1993)., Sebagai proses di mana keluarga
terlibat dalam respon langsung terhadap tuntutan luas stressor, dan
menyadari bahwa perubahan sistemik diperlukan dalam unit keluarga
untuk memulihkan stabilitas fungsional dan meningkatkan kepuasan
keluarga dan kesejahteraan.
Koherensi Keluarga mengacu pada sumber daya resistensi alami
kunci dalam individu dan keluarga. Ini kualitas server disposisional

untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Keluarga yang


memiliki rasa yang kuat koherensi memiliki keyakinan bahwa dunia
bersifat komprehensif (stimuli internal dan eksternal dapat diprediksi
dan terstruktur), dikelola (sumber daya yang tersedia yang hadir
tuntutan alamat) dan bermakna (tuntutan dipandang sebagai penantang
investasi berharga dalam (McCubbin et al, 1998.)
Ketahanan keluarga didefinisikan sebagai proses adaptational
dalam sistem keluarga. Pendekatan ketahanan keluarga untuk bekerja
sama dengan keluarga didasarkan pada kompetensi dan kekuatan
anggota keluarga dan kebohongan keluarga, memungkinkan penyedia
layanan kesehatan untuk beralih dari model patogen ke model satu
kekuatan yang berbasis di mana kita melihat keluarga sebagai
ditantang, tidak rusak oleh kesulitan (Wals, 1998).
Tahapan Dari Stres Dan Strategi Coping
Perawat perlu menyadari setiap fase stres, serta strategi anggota
keluarga

melakukan

penanggulangan

dan

unit

keluarga

bisa

menggunakan masing-masing selama tiga periode waktu


Periode Antestress
Periode sebelum benar-benar menghadapi stressor (seperti rawat
inap anak), antisipasi kadang-kadang mungkin, bisa ada kesadaran
bahaya yang akan datang atau ancaman yang dirasakan dari
situasi. Jika keluarga atau membantu orang dapat mengidentifikasi
stressor

masa

depan,

bimbingan

antisipatif

serta

strategi

penanganan pencegahan dapat dicari atau disediakan untuk


melemahkan atau mengurangi dampak dari stressor.
Periode Stres sebenarnya
Strategi coping selama periode stres biasanya berbeda dalam
intensitas dan jenis dari yang digunakan sebelum terjadinya
stressor dan stres. Mungkin ada hidup yang sangat dasar, strategi
defensif yang digunakan selama periode ini jika stres dalam
keluarga adalah ekstrim. Contoh dari situasi yang terakhir adalah
ketika keluarga benar-benar mengatur kehidupan keluarga mereka
di sekitar perawatan anggota dengan penyakit kronis. Dalam situasi
ini mereka dapat menjadi sangat disfungsional dari waktu ke waktu

seiring dengan perkembangan kebutuhan mental para anggota


yang sehat pergi terpenuhi dan tentu saja perkembangan
kehidupan

keluarga

terdistorsi

(Reiss,

Steinglass,%

Howe,

1993). Respon koping yang paling membantu selama periode stres


sering intrafamilial (akan dibahas kemudian) dan mencari dukungan
spiritual (Friedman, 1985; Pravikoff 1985).
Periode Setelah Stres
Strategi koping digunakan setelah periode stres akut awal,
disebut

fase

pasca

mengembalikan

trauma,

keluarga

terdiri
ke

dari

strategi

keadaan

untuk

seimbang

homeostatis. Untuk mempromosikan kesehatan keluarga selama


fase

ini

keluarga

perlu

bekerja

sama,

perasaan

saling

mengungkapkan dan memecahkan masalah yang (Burgess, 1978)


atau mencari dan memanfaatkan dukungan keluarga untuk
menyelesaikan situasi stres.
Empat kemungkinan hasil stress pasca telah dikutip:
1. Keluarga berfungsi pada tingkat yang lebih tinggi dari
sebelumnya;
2. Keluarga berfungsi pada tingkat stres pra sama;
3. Keluarga berfungsi pada tingkat yang lebih rendah dari
sebelumnya, atau
4. Keluarga disolusi (yaitu, pemisahan, perceraian, ditinggalkan)
(Mederer & Hill, 1983).
Teori stress Keluarga
1. Hills Family Stress Theory
Hill (1949) landmark klasik, teori stres keluarga adalah yang
paling fasih, model yang pelit untuk menggambarkan krisis faktor
produksi atau non krisis dalam keluarga. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan di Bukit pemisahan perang diinduksi dan reuni, dia
mengembangkan teori stres keluarga disebut ABCDX Model di
mana ia mengidentifikasi set utama variabel (faktor A, B, C, D, X)
dan hubungan mereka yang menyebabkan keluarga Krisis / non
krisis. Dia juga teoritis dijelaskan krisis pasca "roller coaster" proses
penyesuaian bahwa keluarga pergi melalui. The ABCDX kerangka

memiliki

dua

bagian. Yang

pertama

adalah

proposisi

yang

berhubungan dengan determinan krisis keluarga: "A (acara dan


kesulitan terkait) berinteraksi dengan B (krisis sumber daya
pertemuan keluarga) berinteraksi dengan C (definisi krisis keluarga
bahwa keluarga membuat acara) yang diproduksi X (krisis) "(Hill,
1965). Bagian kedua adalah pernyataan yang berorientasi pada
proses lebih lanjut mengenai program penyesuaian setelah
krisis. Hiill

(1965)

menjelaskan

bahwa

proses

penyesuaian

keluarga setelah krisis melibatkan (1) periode disorganisasi, (2)


sudut pemulihan dan (3) reorganisasi dan tingkat baru fungsi
keluarga
2. Double ABCX Model
Model Hill yang telah dimodifikasi, dimana faktor A diperluas
untuk mencakup stressor asli dan tabrakan beruntun dari
stressor. Konsep mengatasi juga ditambahkan dan dilihat sebagai
variabel penjelas utama, yang mengarah ke tingkat yang berbeda
dari adaptasi keluarga di keluarga yang memiliki suami / ayah
hilang dalam aksi dalam perang Vietnam dan kemudian dalam
keluarga menyesuaikan diri dengan masa kanak-kanak penyakit
kronis (Faux, 1998)
3. Family Adjustment and Adaptation Responses (FAAR) Model
Model ini, dibangun pada model ABCDX ganda, menekankan
potensi hasil yang positif. Model ini konsisten dengan banyak
penelitian yang berfokus pada keluarga dan koherensi individu dan
ketahanan (Antonovsky, 1979). Situasional dan global makna
(seperti koherensi keluarga) dipandang sebagai mempengaruhi
baik tuntutan / stressor (strain dan gangguan) dan kemampuan
(sumber daya dan perilaku coping). Tuntutan terhadap kemampuan
mengarah ke berbagai tingkat penyesuaian keluarga (pra krisis)
dan adaptasi keluarga (pasca krisis).
4. The Resiliency Model

Model ini membangun tiga model sebelumnya dan menekankan


kekuatan

dan

resiliencies

keluarga. Konsep

jelas

baru

ditambahkan: pola baru didirikan berfungsi (jenis keluarga) dan


skema

atau

pandangan

dunia

keluarga. Variabel

mengatasi

diperluas dengan memasukkan pemecahan masalah.


Stressor dan Dampaknya
Selama 50 tahun lebih para peneliti telah menyadari bahwa
besarnya perbedaan kuantitas dan kualitas stressor yang dimiliki
individu. Pada tahun 1949 awal, para peneliti secara sistematis meneliti
kualitas dan kuantitas perubahan hidup sreta dampaknya pada
kesehatan individu (Holmes dan Rahe, 1967). Dari studi ini, bobot
diberlakukan terhadap berbagai peristiwa hidup (baik perubahan hidup
yang positif maupun negatif) yang menyebabkan kesehatan yang
buruk. Dari studu awal ini, pera peneliti mengembangkan alat berbasis
keluarga yang mengkaji perubahan hidup dalam keluarga. Alat
pengkajian yang sering digunakan adalah family inventory of live
events and changes (FILE) (McCubbin, Patterson, & Wilson, 1983).
FILE adalah instrument yang dapat digunakan untuk mengkaji atau
akumulasi stressor keluarga. Pada masing-masing 71 peristiwa hidup
dalam FILE diberi bobot berdasarkan bagimana stress tersebut. Tujuh
peristiwa hidup yang paling menimbulkan stress dalam skala hidup
FILE total adalah:
1. Kematian seorang anak
2. Kematian salah satu pasangan atau orang tua
3. Pasangan atau orang tua berpisah
4. Adanya penganiayaan fisik atau seksual atau kekerasan dalam
keluarga
5. Anggota keluarga mengalami cacat fisik atau penyakit kronik
6. Pasangan atau orang tua berselingkuh
7. Anggota keluarga dipenjara atau penahanan sementara pada anakanak
STRATEGI KOPING KELUARGA
Keluarga dan individu perilaku , kognitif , dan emosional strategi
coping yang dikonseptualisasikan sebagai masalah khusus . Burr dan
rekan ( 1991) menemukan perilaku koping yang paling berbahaya :

1. Menjaga perasaan (menekan emosi)


2. Mengambil perasaan satu sama lain (dalam hubungan)
3. Menjaga satu sama lain dari situasi buruk yang di ketahui
(kurangnya komunikasi)
4. Menyangkal, menghindari, atau lari dari masalah.
A. STRATEGI KOPING KELUARGA INTERNAL
Tiga jenis umum strategi coping intrafamilal :
1. Strategi hubungan keluarga
a. Grup Reliance (kepercayaan) dalam Keluarga.
Keluarga mencapai hal ini dengan menciptakan
struktur dan organisasi yang lebih besar dalam rumah dan
keluarga. Didirikan waktu keluarga dan rutinitas seperti
yang melibatkan waktu makan, waktu tidur, pekerjaan
rumah tangga, kunjungan dengan keluarga, dan penilaian
rutinitas

ini

dapat

menjadi

sumber

kekuatan

dan

prediktabilitas ketika keluarga berada di bawah stres


(McCubbin , 1991).
Seiring dengan penataan kebutuhan untuk beberapa
keluarga menjadi "kuat" dan belajar untuk menyembunyikan
perasaan dan ketegangan menguasai dalam diri mereka.
Namun, "kuat" keluarga terkadang memiliki ikatan lemah.
b. Berbagi hal penting bersama-sama (penguatan kohesi
keluarga)
Salah satu cara untuk membawa keluarga dekat
bersama-sama dan memelihara dan mengelola tingkat
stres dan semangat keluarga yang diperlukan adalah
dengan berbagi perasaan pikiran, dan terlibat dalam
pengalaman keluarga bersama atau kegiatan. Tingkat
kohesi yang fungsional untuk keluarga juga dipengaruhi
oleh latar belakang budaya, tingkat yang lebih tinggi kohesi
dalam kelompok budaya tertentu keduanya diinginkan dan
fungsional ( Olson , 1993).
Kohesi yang lebih besar dan berbagi keprihatinan dan
perasaan juga sangat menguntungkan dalam mengurangi

tingkat ketegangan keluarga karena penyakit akut atau


serius atau stressor utama lainnya. Tinggi kekompakan
keluarga

sangat

mengalami

membantu

trauma,

karena

ketika

keluarga

telah

anggota

keluarga

yang

membutuhkan jauh lebih besar dari dukungan (Figley,


1989).
Sebuah keterlibatan keluarga dalam ritual keluarga
yang memiliki makna dan nilai bagi keluarga adalah cara
lain di mana keluarga berbagi bersama-sama. Ritual dalam
keluarga yang berulang proses sosial atau pola interaksi
yang melestarikan identitas keluarga dan anggota keluarga
memberikan definisi bersama dunia (Hartman&Laird, 1983).
c. Fleksibilitas peran
Karena perubahan yang cepat dan meresap dalam
masyarakat kita dan karenanya dalam kehidupan keluarga,
fleksibilitas

peran

terutama

di

kalangan

pasangan,

merupakan jenis kuat strategi coping (olson, 1993). Sebuah


keluarga harus mampu beradaptasi dengan perubahan
perubahan perkembangan dan lingkungan. Ketika keluarga
berupaya berhasil ia mampu menjaga keseimbangan
dinamis antara perubahan dan stabilitas. Peran fleksibilitas
memungkinkan untuk keseimbangan ini untuk melanjutkan.
Davies dan rekan ( 1986) menemukan bahwa tingkat
mana peran keluarga yang fleksibel atau kaku. Tingkat
Differentiated fungsi dalam sampel mereka dari keluarga
yang berduka , dengan peran yang fleksibel terkait dengan
fungsi yang lebih baik (Walsh, 1998).
2. Strategi Kognitif Keluarga
a. Normalisasi
Normalisasi untuk

konsep

bagaimana

keluarga

mengelola salah satu anggota yang cacat (faux, 1998).


Normalisasi adalah proses manajemen keluarga yang
sering

digunakan

dalam

keluarga

dengan

masalah

kesehatan kronis. Ini adalah proses yang berkelanjutan


yang mengakui adanya kondisi kronis tetapi menjalaninya
seperti kehidupan keluarga yang normal, menjalani dampak
sosial memiliki anggota dengan kondisi kronis seperti
minimal, dan terlibat dalam perilaku yang menunjukkan
pada orang lain bahwa keluarga adalah normal (Deatrick,
dkk 1999) .
b. Mengontrol

makna

masalah

dengan

reframing

dan

penilaian pasif.
Strategi bertahan kognitif ini ameliorates atau kognitif
menetralkan mengancam rangsangan yang dialami dalam
kehidupan . Interpretasi yang diberikan kepada peristiwa
dapat membuat perbedaan antara lebih menanggapi situasi
(dimana dalam keluarga mengalami stres besar), bereaksi
dengan cara yang realistis (dimana situasi terlihat obyektif,
dinilai akurat), dan di bawah bereaksi (dimana unsur
penyangkalan

mungkin

hadir

dan

kurang

stres

menimbulkan). Dua cara untuk mengontrol makna dari


masalah yang disajikan di sini, reframing dan penilaian
pasif.
c. Mengikuti Problem solving
Dapat digambarkan sebagai situasi di mana sebuah
keluarga bersama-sama dapat membahas pada masalah
yang sedang di hadapi, mencari solusi diatur oleh logika,
dan

mencapai

konsensus

tentang

apa

yang

harus

dilakukan berdasarkan satu set sepenuhnya bersama


isyarat, persepsi, dan saran dari berbagai anggota
keluarga. Pemecahan masalah keluarga yang efektif
melibatkan tujuh langkah-langkah spesifik :
- Mengidentifikasi masalah
- Mendiskusikan masalah
- menggali solusi yang mungkin dapat di pakai
- Menentukan salah satu solusi
- Melakukan tindakan

Pemantauan

atau

pastikan

bahwa

tindakan

dilakukan
Mengevaluasi seluruh proses pemecahan masalah

itu

d. Mendapatkan informasi dan pengetahuan


Keluarga yang lebih kognitif berbasis merespon stres
dengan mencari pengetahuan dan informasi mengenai
stressor atau potensial stressor . Orang tua yang aktif
menghadapi orangtua dengan mencari informasi baru dan
sumber daya lainnya menunjukkan hasil positif perasaan
menghadapi

kehendak

dengan

tanggung

jawab

pengasuhan ( Pearlin & Schooler , 1978) . Penyediaan


informasi seringkali salah satu cara utama perawat dan
profesional kesehatan lainnya campur dengan keluarga .
3. Strategi Komunikasi
a. Bersikap terbuka dan jujur
Anggota keluarga yang menunjukkan keterbukaan,
kejujuran, pesan yang jelas, dan perasaan dan kasih
sayang yang dibutuhkan pada saat-saat (oliver, 1998).
Keterbukaan mengacu pada yang komunikatif dalam
berbagi ide dan perasaan. Pemecahan masalah kolaboratif,
dibahas sebagai strategi bertahan kognitif juga merupakan
komunikasi strategi coping, yang memfasilitasi koping
keluarga dan adaptasi.
b. Gunakan humor dan candaan
Humor dan tawa dapat mendukung sikap positif dan
penuh harapan, bukan perasaan tidak berdaya atau depresi
dalam situasi stres. Hal ini dapat berkontribusi untuk
meningkatkan sikap keluarga terhadap masalah dan
perawatan

kesehatan

dan

untuk

kecemasan dan ketegangan mereka.

menghilangkan

B. STRATEGI KOPING KELUARGA EKSTERNAL


Strategi koping keluarga eksternal mempertahankan hubungan
masyarakat yang aktif dan menggunakan sistem dukungan sosial
dan strategi spiritual.
1. Strategi Komunitas: mempertahankan Hubungan aktif dengan
Masyarakat
Anggota keluarga adalah peserta aktif (sebagai anggota aktif
atau dalam posisi kepemimpinan) di klub, organisasi, dan
kelompok masyarakat. The rasional pentingnya hubungan ini
sebagai upaya mengatasi didasarkan pada teori sistem, yang
menyatakan bahwa setiap sistem sosial harus memiliki
pergerakan informasi dan aktivitas melintasi batas-batas nya
jika ingin melakukan fungsinya (Whitchurch & Constantine,
1993).
2. Menggunakan Sistem Dukungan Sosial
Selain keluarga besar dan seluruh jaringan layanan
profesional, ahli, dan organisasi, terdapat reservoir besar
bantuan potensial: kerabat, teman, tetangga, pengusaha,
sesama karyawan, teman sekelas, guru, dan kelompokkelompok yang memiliki kepentingan sebuah keluarga yang
umum saham, tujuan, gaya hidup, keterlibatan rekreasi atau
identitas sosial.
a. Definisi konsep
Sementara jaringan sosial dapat didefinisikan sebagai
struktur hubungan, dukungan sosial adalah fungsi dari
hubungan (Cohen dan Syme, 1985). Dukungan sosial
keluarga mengacu pada dukungan sosial yang dirasakan
oleh anggota keluarga akan tersedia / diakses oleh keluarga
(dukungan sosial mungkin atau tidak boleh digunakan, tetapi
anggota keluarga memandang bahwa orang-orang yang
mendukung siap untuk memberikan bantuan dan bantuan
jika diperlukan)
b. Sumber dukungan sosial
Ada tiga sumber umum dukungan sosial. Ini terdiri
dari

spontan,

jaringan

informal,

dukungan

diselenggarakan tidak diarahkan oleh petugas kesehatan


profesional, dan diselenggarakan upaya oleh para
profesional perawatan kesehatan. Dari jumlah tersebut,
jaringan sosial secara informal (didefinisikan di atas
sebagai jaringan sosial keluarga) dipandang sebagai
kelompok yang memberikan jumlah terbesar dari bantuan
pada saat dibutuhkan.
c. Tujuan dari sistem dukungan sosial
Hal ini diterima secara luas bahwa orang yang berada
dalam lingkungan sosial yang mendukung umumnya
dalam kondisi yang lebih baik daripada rekan-rekan
mereka

tanpa

keuntungan

ini.

Caplan

(1976)

menjelaskan bahwa keluarga memiliki fungsi yang


mendukung termasuk:
- Dukungan informasi (keluarga berfungsi sebagai
-

kolektor dan penyebar informasi tentang dunia)


Dukungan Appraisal ( keluarga bertindak sebagai
sistem

bimbingan

umpan

balik,

panduan

dan

menengahi pemecahan masalah, dan merupakan


-

sumber dan validator identitas anggota )


Dukungan instrumental ( keluarga adalah sumber

praktis bantuan beton)


Dukungan emosional ( keluarga berfungsi sebagai
surga

bagi

istirahat

dan

penyembuhan

dan

berkontribusi terhadap penguasaan emosional )


Meningkatkan moral dari keluarga

d. Penggunaan yang tidak memadai jaringan sosial


Pertama, keyakinan bahwa ada layanan profesional
sering terbaik , tetapi karena mereka sangat mahal dan
sering di luar kemampuan keluarga, tidak ada bantuan
dari luar yang dicari. Kedua, sementara keluarga yang
dianggap sebagai tempat di mana individu dapat
dikecewakan pertahanan mereka dan menerima dan
memberikan

dukungan

dan

perawatan,

beberapa

percaya bahwa dalam menghadapi dunia di luar keluarga

harus

menunjukkan

kemandirian

dan

swasembada

(Wals, 1998).
e. Saling membantu atau self-help group
Self-help atau saling mendukung kelompok didefinisikan
sebagai kelompok-kelompok kecil dari rekan-rekan yang
datang bersama-sama untuk berbagi masalah umum dan
melalui saling membantu untuk menyelesaikan atau
memperbaiki masalah ( Steiger & Lipson , 1985 ).
3. Dukungan Spiritual
Spiritualitas mengacu pada keyakinan menyeluruh, yang
melibatkan investasi aktif dalam nilai-nilai internal yang
membawa sebuah rasa makna, keutuhan batin dan hubungan
dengan orang lain. Ini mungkin melibatkan keyakinan pada
kondisi manusia utama atau set nilai ke arah mana kami
berusaha,

keyakinan

dalam

kekuasaan

tertinggi,

atau

keyakinan secara holistik dengan komunitas manusia, alam,


dan

alam

semesta

mempertahankan

(Walsh,

membantu

1998).

keluarga

Ini

keyakinan

untuk

bertahan

pengalaman yang mengancam jiwa akut, mentolerir kronis,


strain jangka panjang, dan akhirnya untuk mempertahankan
keutuhan keluarga .
C. STRATEGI DISFUNGSIONAL KOPING KELUARGA
Keluarga yang disfungsional cenderung menggunakan strategi
defensif kebiasaan yang cenderung tidak menghilangkan stres atau
menghilangkan atau melemahkan stressor (Epstein, 1993)
1. Penolakan dalam Masalah Keluarga
Denial adalah mekanisme pertahanan yang digunakan oleh
anggota keluarga dan keluarga secara keseluruhan. Atas dasar
jangka pendek. Keluarga penolakan sering fungsional, karena
memungkinkan keluarga untuk melindungi diri sementara
secara bertahap menerima penyakit yang menyakitkan.
a. Penolakan pada Eksploitasi emosional anggota keluarga
Ada beberapa cara eksploitatif dalam keluarga yang dapat
mengurangi ketegangan bagi keluarga sebagai kelompok

dengan mengorbankan emosional dari satu atau lebih


anggota keluarga. Ada dua keluarga pola disfungsional
secara singkat:
Pengkambing hitaman
Pengkambing hitaman adalah mekanisme koping
disfungsional

karena

meskipun

mengurangi

ketegangan sistem keluarga dan membuat kelanjutan


keluarga dengan kemungkinan homeostasis. Hal ini
dilakukan

dengan

mengorbankan

kesehatan

emosional dari salah satu anggotanya. Kambing


hitam, fungsi adalah untuk efek pembersihan total
penyakit emosional yang menimpa keluarga (Fischer

& Wampler, 1994)


Penggunaan ancaman
Ancaman adalah strategi bertahan disfungsional yang
digunakan untuk menjaga keluarga bersama-sama
dengan

mengorbankan

emosional

anggotanya.

Ancaman dapat dilihat sebagai sebuah keluarga


berulang

dinamis

dalam

beberapa

keluarga

bermasalah (Gagne, 1992) ketika satu atau lebih


anggota

keluarga

bertindak

otonom,

fashion

individualistik, anggota keluarga yang lain menjadi


terancam oleh individu memisahkan, AOS akan
datang pelanggaran dengan keluarga, dan dengan
demikian mengambil tindakan untuk membawa dia
kembali ke flip.
b. Penolakan dilihat melalui Sistem Kepercayaan Keluarga:
Mitos Keluarga
Sebuah mitos keluarga mengacu pada keyakinan yang
dihasilkan dalam menanggapi keinginan tak terpenuhi dan
harapan keluarga, bukannya didasarkan pada penilaian
rasional dan objektif dari situasi (Battiste, 1975).
c. Penolakan dilihat melalui Pola Komunikasi: Triangling

Konsep ini dikembangkan oleh bowen (1976) seorang


terapis keluarga mencatat, dan berlaku untuk pengurangan
ketegangan

dalam

hubungan

dengan

menambahkan

anggota ketiga, yang kemudian menyerap dan mencairkan


ketegangan yang sedang berlangsung dalam hubungan
keluarga (Goldenberg, 1982)
d. Penolakaan dikelola Melalui Emosional: Pseudomutuality
Pseudomutuality
telah
didefinisikan
sebagai,
tipe
keterkaitan di ehich ada keasyikan anggota keluarga
dengan pas bersama-sama ke peran formal: dengan
mengorbankan
penggunaan

identitas

individu.

ancaman,

Seperti

keterpisahan

dengan

individu

atau

individualitas dilarang. perbedaan Individu atau divergensi


dianggap sebagai menyebabkan terganggunya hubungan
dan kedepannya harus dihindari.
e. Pola Dominasi Yang extreme: Otoritarianisme
Otoritarianisme mengacu pada kecenderungan
menyerah

satu,

rasa

merdeka

karena

ketidakberdayaan

dan

ketergantungan

untuk

perasaan

dan

untuk

memadukan diri dengan seseorang atau sesuatu di luar


satu, keinginan diri untuk memperoleh kekuasaan atau
kekuatan merasa kurang. Dalam sebuah keluarga otoriter,
orang meninggalkan integritas pribadi mereka sendiri dan
menjadi bagian dari yang tidak sehat, simbiosis tundukdominan.
2. Koping Perpisahan/Perceraian dan Kecanduan Dalam Keluarga
Dapat di akibatkan oleh kehilangan anggota keluarga melalui
kematian,

perpisahan,

atau

perceraian,

dan

psikososial

anggota

keluarga

melalui

anggota

kehilangan
tersebut,

keterlibatan dalam kecanduan (misalnya, alkohol, narkoba,


perjudian). Alkohol dan penggunaan narkoba telah ditemukan
memiliki pola antargenerasi. Minum kasar pada orang dewasa

muda telah ditemukan dipengaruhi oleh disfungsi dalam


keluarga asal. Peran obat dalam keluarga mirip dengan alkohol
hanya substansi yang berubah. Tentu saja, pertumbuhan barubaru ini dalam penggunaan narkoba, khususnya di kalangan
remaja berusia 12 sampai 17 tahun (Savage, 1996).
3. Kekerasan dalam Keluarga
Penggunaan ekstrim ancaman
otoritarianisme

dapat

kambing

mengakibatkan

hitam

kekerasan

dan
dalam

keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga diakui sebagai salah


satu masalah kesehatan masyarakat utama kami hari ini
(Gelles, 2000).
Ada enam jenis kekerasan dalam rumah tangga. Ini adalah:
a. Kekerasan pada Pasangan
Meskipun penggunaan kekerasan fisik dengan salah
satu pasangan terhadap yang lain (terutama suami
terhadap istri) baru-baru ini telah diakui oleh media massa
dan profesional sebagai masalah yang signifikan. (Gelles,
2000)
b. Penganiayaan

pada

anak

(pelecehan

anak

dan

penelantaran)
Pelecehan anak dapat fisik, emosional, atau seksual,
atau kombinasi dari dua atau tiga
c. kekerasan sesama saudara
Telah didefinisikan sebagai, bentuk kekerasan fisik,
mental, dan seksual yang ditimbulkan oleh satu anak
padaunit keluarga yang lain (Wallace, 1996)
d. kekerasan pada lansia
Melakukan yang menghasilkan fisik, psikologis, atau
bahan kelalaian, kerusakan, atau cedera pada seorang
lansia (Wallace, 1996)
e. kekerasan pada orang tua
Bentuk lain tersembunyi pelecehan adalah bahwa di
mana anak-anak yang sudah cukup dewasa sekarang
melakukan kekerasan terhadap orang tua mereka (Gelles,
2000)
f. kekerasan gay dan lesbian

Kekerasan dalam keluarga gay dan lesbian diyakini


oleh beberapa peneliti untuk berada di tingkat yang sama
seperti di antara pasangan heteroseksual atau sekitar 25
sampai 35 persen. Berbagi emosi dan tanggung jawab
keuangan

dalam

hubungan

mereka

yang

dapat

menyebabkan situasi konflik.


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOPING KELUARGA
A. KOPING DALAM PERBEDAAN GENDER
Perempuan merasa lebih berguna untuk menjangkau orang
lain, berbagi kesulitan keprihatinan mereka dengan teman dan
kerabat, secara terbuka mengungkapkan perasaan dan emosi
positif dan negatif, dan menghabiskan waktu pada pengembangan
diri dan hobi. Pria cenderung menggunakan strategi penarikan lebih
seperti mencoba untuk menjaga perasaan dalam, berusaha untuk
menjaga orang lain dari yang lain mengetahui bagaimana hal-hal
buruk itu, dan menggunakan alkohol lagi.
B. VARIASI KOPING SOSIOKULTURAL DALAM KELUARGA
Perbedaan mengatasi Family ditemukan di sebuah artikel surat
kabar baru-baru ini menggambarkan bagaimana keluarga dari
budaya non-Barat tidak memiliki kebutuhan yang sama untuk
mengontrol dan mengelola anggota keluarga mereka sendiri yang
serius akhir-hidup keputusan.
C. DAMPAK PERUBAHAN KESEHATAN
Dengan permintaan yang lebih rendah ditempatkan pada
keluarga (misalnya, semuanya berjalan dengan baik dan anggota
keluarga sehat), beberapa jenis pola koping lama mungkin
biasanya berlaku.

AREA ASSESSMENT KELUARGA


Struktur skala untuk menguji koping keluarga, yang digunakan untuk
penelitian dan praktek klinis.
TOOLS

Koping

TEORI

KONSEP

PEMBERIAN/P

PENDUK

PENGUKU

ENGELOLAAN

UNG DAN RAN

& SCORE

MODEL
Teori

kesehata

dukun

gan

untuk

orang tua
(McCubin
,

1981)

Kopng

keluarga
Koping
orang

social
Teori
stress

dkk,

45

dalam
keluar

asi

ga
Teori

perawat

koping

kesehat

setiap orang tidak


dapat dirancang

tua

self-report
Skor tangan

menyelesaik
an

tua
Koping
komunik

KEKURAN
GAN

Perilaku
koping

KELEBIHAN

untuk

ini mengevalu

alat

untuk

asi

mendapatka

persepsi

n gambaran anak-anak

an

tentang

dalam

bagaimana

menolong

strategi

koping

coping yang keluarga

an

membantu

keluarga
dapat
digunakan
sebagai
pretest

dan

posttest
dengan
program
intervensi
yang
bertujuan
untuk
meningkatka

Teori

penyakit

krisis
Teori
koping

pada

untuk

dengan

koping:

anak-

intervensi

anak yang

daftar

anak
Perseps

keperawatan

sakit kronis

Dampak
kekronisa
n dan alat

Dampak

untuk

orang

tua.

48 item

Skor tidak di
ketahui

kronis

pertanyaa
n

n koping
mengidentifi

CICI : PQ

digunakan

koping

hasil strategi

pengukuran

Model

sumber

(family

ABCDX

daya/inform

crisis

dobel

asi

yang

intervensi
Skala likert mengidentifikasi
30 item
Pemberian/

repertoar
perilaku koping

oriented

tersedia

pengelolaan

personal

dalam

evaluatio

keluarga

mudah
3
skala

dan

krisis

eksternal

keluarga

untuk

berorient

keluarga

asi pada

dalam

skala

menghadapi

evaluasi

krisis

pribadi

keluarga

(McCubin
,

.
dapat

stressor
Strategi

F-Copes

scale)

area untuk

yang relevan keluarga

dari

kasi

dkk,

1987)
Diagnosa Keperawatan Keluarga

Hanya

evaluasi
Pola koping
keluarga

internal
5
skala
evaluasi
pola koping
keluarga
eksternal

berlaku
hanya

keluarga dalam untuk


digunakan
dengan
keluarga
dalam
krisis

Menurut klasifikasi NANDA (NANDA, 2000), terdapat 12 diagnosa


keperawatan yang berhubungan erat dengan masalah stress, koping,
dan adaptasi keluarga, yaitu:
1. Ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapi keluarga
2. Kesiapan untuk meningkatkan koping keluarga
3. Gangguan koping keluarga
4. Ketidakmampuan koping keluarga
5. Resiko kekerasan terhadap orang lain
6. Gangguan proses keluarga
7. Proses keluarga yang tidak fungsional: alkoholisme
8. Berduka disfungsional
9. Gangguan pemeliharaan rumah
10. Distress spiritual
11. Resiko distress spiritual
12. Kesiapan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual
Intervensi Keperawatan Keluarga
Intervensi keluarga didasarkan pada data pengkajian keluarga yang
terkait dengan stressor keluarga, persepsi stressor, koping, dan
adaptasi. Seperti yang dibahas dalam pengkajian serta diagnosis
keperawatan keluarga yang teridentifikasi.
1. Membantu Keluarga Menurunkan Factor Resiko
Perawat keluarga dapat menggunakan pencegahan
perspektif

dengan,

memberikan

konseling

pada

yang

keluarga

mengenai perlunya menurunkan paparan atau kelebihan stress.


Selain itu penting untuk memberikan penyuluhan antisipasi.
Berkenaan dengan ini, perawat keluarga dapat membantu
keluarga dengan menolong mereka mengidentifikasi dan siap
terhadap situasi yang mengancam. Salah satu cara membantu
keluarga mengantasipasi apa yang mungkin terjadi adalah dengan
member ikan mereka informasi mengenai peristiwa yang mungkin
terjadi (Wlsh, 1998).
2. Membantu Keluarga yang Beresiko
Pedoman yang direkomendasikan adalah:
a. Dorong semua anggota keluarga untuk terlibat
Merupakan cara untuk melibatkan anggota

keluarga

mencakup:
- Mendorong perawatan oleh anggota keluarga selama hospitalisasi

- Menyertakan anggota keluarga, bersama dengan pasien terlibat


dalam keputusan perawatan kesehatan
- Mendorong anggota keluarga yang lansia memelihara hubungan
keluarga yang dekat
- Memberikan penyuluhan kepada pengasuh
- Menganjurkan kepada pengasuh primer (primary caregiver) untuk
istirahat dengan meminta anggota keluarga lain untuk bertugas.
- Mendorong anggota keluarga untuk saling berbagi cerita kehidupan
mereka
b. Mobilisasi keluarga
Dengan membantu keluarga mengenali, mengidentifikasi, dan
memanfaatkan kekuatan dan sumber keluarga yang secara
positif bermanfaat untuk mempengaruhi kesehatan keluarga
yang sakit (Johson, 2001)
c. Beri pujian pada upaya dan pencapaian keluarga
Mendukung strategi koping adaptif yang keluarga dan anggota
keluarga gunakan untuk mengurangi ketegangan keluarga,
mengontrol dan menghilangkan stressor. Memberikan umpan
balik positif dan pujian kepada anggota keluarga mengenai
koping dan usaha bersama mereka untuk mengatasi masalah.
d. Berdasarkan pengakuan dan poenghormatan terhadap nilainilai, kepentingan, tujuan serta dukungan keluarga.
Johson et.al 2001, mencantumkan banyak cara umum yang
dapat dilakukan oleh perawat berorientasi keluarga. Beberapa
anjuran mereka yang paling relevan adalah:
- Meningkatkan harapan yang realistic
- Mendengarkan anggota keluarga yang berhubungan
dengan
-

persepsi,

perasaan,

kekhawatiran

dan

kepentingan mereka
Memfasilitasi komunikasi antara anggota keluarga yang
membuat mereka lebih terbuka, jujur, dan berbagi ide satu

sama lain.
Mengorientasi anggota keluarga pada lingkungan dan

sistem perawatan kesehatan


Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk membantu
keluarga dalam membuat keputusan tentang perawatan

kesehatan.
Memberikan advokasi bagi keluarga

Memperkenalkan anggota keluarga ke keluarga lain yang

mengalami masalah yang serupa


Merujuk keluarga ke self-care, kelompok pendukung
Berikan keluarga sumber/referensi dari literature dan

internet
e. Ajarkan keluarga mengenai cara koping yang efektif
Program psikoedukasi merupakan program yang sangat
berguna untuk edukasi keluarga yang fokus pda sakit dan
koping

keluarga.

kebutuhan

Program

keluarga

untuk

ini

tidak

hanya

mendapatkan

mengenali

pengetahuan

kesehatan yang dibutuhkan untuk perawatan, tetapi aspek


psikososial

perawatan

dan

kekhawatiran

keluarga

(Campbell,2000).
f. Dorong keluarga untuk menormalkan kehidupan keluarga dan
distress keluarga sebanyak mungkin
g. Bantu keluarga mendapatkan dukungan spiritual yang mereka
butuhkan
h. Rujuk keluarga yang mengalami krisis
i. Bantu keluarga meningkatkan dan memanfaatkan sistem
dukungan social mereka.

Pemanfaatan Kelompok Swadaya


Perawat semakin menyadari manfaat kelompok swadaya bagi
anggota keluarga yang membutuhkan dukungan untuk
mengatasi atau menghadapi pengalaman hidup penuh stress.
Intervensi berikut dalam bidang tertentu dapat memfasilitasi
keluarga:
a) Mencari informasi tentang kelompok yang memberikan
bantuan bagi individu dan keluarga
b) Kolaborasi dengan kelompok tersebut
c) Memahami bagaimana kelompok ini meningkatkan dan
melengkapi layanan professional
d) Merujuk anggota keluarga dan keluarga ke kelompok yang
tepat
e) Menciptakan kelompok baru atau mendukung orang lain
untuk melakukannya ketika ada kekurangan kebutuhan
dalam kelompok swadaya.
f) Memberikan konsling anggota keluarga

Terapi Keluarga dengan Hubungan Sosial


Terapi keluarga dengan hubungan sosial berlangsung di
lingkungan rumah dengan keluarga dan hubungan sosial yang
lebih luas, yang dipasangkan untuk menciptakan matriks
social yang mengasuh dan sehat.

Prinsip-Prinsip Intervensi Krisis Keluarga


Melibatkan banyak gagasan yang dianut, tetapi lebih
menekankan pedoman sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi peristiwa yang

mencetuskan

dan

peristiwa hidup yang membahayakan


b) Mengkaji interpretasi keluarga terhadap peristiwa
c) Mengkaji sumber keluarga dan metode koping terhadap
stressor
d) Mengkaji status fungsi keluarga
3. Melindungi

Anggota

Keluarga

Yang

Berisiko

Mengalami

Kekerasan
Tujuan ini dapat dicapai dengan:
a) Mengenali dan melaporkan penganiayaan anak
b) Mendukung dan merujuk pasangan, lansia, saudara kandung,
orang tua, homoseksual yang dianiaya, pelaku penganiayaan
dan unit keluarga
c) Mengkoordinasi perawatan
keluarga,

bekerja

secara

bagi

keluarga

kolaborasi

dan

anggota

dengan

petugas

kesehatan lain dan pekerja kesejahteraan


4. Merujuk Anggota Keluarga Yang Menunjukkan Masalah Koping
Dan Disfungsi Yang Lebih Kompleks
Rujukan dan follow-up konseling sering diindikasikan ketika stress
keluarga dan koping masalah keluarga melebihi di luar layanan
perawat keluarga. Rujukan ke konselor yang menggunakan
pendekatan sistem keluarga seringkali cukup membantu.

DAFTAR PUSTAKA
Friedman,

M.

(2003).

Family

Theory&Practice.Philadelphis. Prentice Hall

Nursing:

Research,