Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap penelitian tentu tidaklah terlepas dari masalah penelitian, sebab penelitian
ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang ada.
Permasalahan tersebut dapat timbul karena adanya kesangsian, kebingungan, atau unsur
ambiguitas terhadap suatu hal atau fenomena. Atau dapat pula timbul dari adanya
halangan, rintangan, atau celah baik antarkegiatan atau antarfenomena, baik yang telah
ada ataupun yang akan ada. Oleh karena itu suatu penelitian diharapkan dapat
memecahkan masalah-masalah tersebut.
Seorang peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya, kemudian
merumuskannya, untuk bisa memperoleh jawaban dari permasalahan tersebut. Perumusan
masalah merupakan hulu dari sebuah penelitian dan tentunya merupakan sebuah langkah
yang sangat penting. Namun, perumusan masalah penelitian bukanlah pekerjaan yang
mudah, termasuk bagi peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman.
Untuk bisa merumuskan masalah penelitian, tentunya seorang peneliti perlu
memahami tentang bagaimana memperoleh dan merumuskan masalah penelitian. Oleh
karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang masalah penelitian, yang
mencakup sumber, kriteria, pedoman, dan jenis dari pertanyaan-pertanyaan penelitian.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah yaitu:
1. Apa saja sumber-sumber masalah penelitian?
2. Bagaimana kriteria dalam pemilihan masalah penelitian?
3. Bagaimana pedoman dalam merumuskan masalah penelitian?
4. Apa saja jenis-jenis pertanyaan dalam masalah penelitian?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Sejalan dengan rumusan masalah, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui sumber-sumber masalah penelitian.
2. Untuk mengetahui kriteria dalam pemilihan masalah penelitian.
3. Untuk mengetahui pedoman dalam merumuskan masalah penelitian.
4. Untuk mengetahui mengenai jenis-jenis pertanyaan dalam masalah penelitian.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SUMBER-SUMBER MASALAH PENELITIAN

Sebenarnya banyak sekali masalah yang perlu dipecahkan berada di sekeliling


peneliti. Yang menjadi kendala untuk memperoleh masalah adalah kesanggupan peneliti
menggali dan mengidentifikasikan masalah serta mengetahui sumber-sumber dimana
masalah penelitian diperoleh dengan mudah. Sumber-sumber dimana masalah diperoleh
antara lain sebagai berikut:
a. Pengamatan terhadap Kegiatan Manusia
Pengamatan sepintas terhadap kegiatan-kegiatan manusia dapat merupakan
sumber dari masalah yang akan diteliti. Seorang ahli ilmu jiwa, dapat menemukan
masalah ketika ia melihat tingkah laku pekerja pabrik melakukan kegiatan mereka
dalam pabrik. Seorang ahli ekonomi pertanian dapat menemukan masalah ketika ia
melihat cara petani bersahaja mengerjakan serta menyimpan hasil usaha
pertaniannya. Seorang dokter dapat menemukan masalah ketika melihat penduduk
mengambil air minum di sungai dan buang air di kali, ataupun melihat banyak
penduduk mempunyai kaki sebesar kaki gajah.
b. Pengamatan terhadap Alam Sekeliling
Peneliti-peneliti ilmu natura seringkali memperoleh masalah dari alam
sekelilingnya, seorang ahli ilmu bintang banyak memperoleh masalah ketika ia
mengamati cakrawala. Seorang peneliti ilmu tanah akan menemukan masalah ketika
ia secara sepintas mengamati tanah sekelilingnya ataupun dalam suatu perjalanan
jauh. Seorang ahli penyakit tanaman ataupun ahli hama banyak menemukan masalah
ketika mengamati tanaman. Seorang peneliti yang bangun pagi untuk melakukan
kegiatan olahraga aerobik, tersandung kakinya dengan sebuah batu, dan batu tersebut
menyentuh keingintahuannya, maka peneliti ahli batu-batuan tersebut telah
menemukan masalah yang ingin diteliti.
c. Bacaan
Bacaan-bacaan dapat merupakan sumber dari masalah yang dipilih untuk
diteliti. Lebih-lebih jika bacaan tersebut merupakan karya ilmiah ataupun makalah,
maka banyak sekali rekomendasi di dalamnya yang memerlukan penelitian lebih
lanjut. Bukan saja dari bacaan tersebut ditemukan masalah yang ingin
mengungkapkan hubungan, tetapi bacaan dapat juga memberikan teknik dan metode
yang ingin dikembangkan lebih lanjut. Membaca hasil penelitian terdahulu akan
memberikan banyak sekali masalah-masalah yang belum sanggup dipecahkan. Hal
ini merupakan masalah yang perlu dipecahkan dalam penelitian selanjutnya.
d. Ulangan serta Perluasan Penelitian
Masalah juga diperoleh dengan mengulang percobaan-percobaan yang pernah
dilakukan, dimana percobaan yang telah dikerjakan tersebut belum memuaskan.
2

Perluasan analisis maupun metode dan teknik dengan equipment yang lebih modern
akan membuat masalah dapat dipecahkan ecara lebih memuaskan. Misalnya, kerja
Steinhauser telah menemukan minyak cod-liver untuk menyembuhkan penyakit
criket di tahun 1840 belum dapat dijelaskan secara terperinci sampai dengan
penelitian selanjutnya bertahun-tahun kemudian. Ataupun penemuan penisilin oleh
Fleming di tahun 1929 telah terhenti beberapa lama, sampai kemudian Florey
meniliti kembali sifat-sifat penisilin sebagai alat penyembuh penyakit.
e. Cabang Studi yang Sedang Dikembangkan
Kadangkala masalah ditemukan, bukan dari bidang studi itu sendiri, tetapi dari
cabang yang timbul kemudian, yang mula-mula dipikirkan tidak berapa penting
sifatnya. Misalnya, ketika Pasteur meneliti penyakit kolera dengan menyuntik ayamayam percobaannya dengan mikroba kolera, pada suatu hari ia kehabisan ayam-ayam
sehat. Dilihatnya, ayam-ayam tersebut tidak mati akibat suntkan mikroba kolera. Dari
percobaan ini ia tertarik akan ketahanan ayam-ayam tersebut, dan ia menemukan
masalah yang mendorongnya meniliti tentang prinsip-prinsip kekebalan atau
imunisasi. Ketika William Perkins mencoba mengubah aniline menjadi quinine
dalam percobaannya, ia menemukan suatu masalah lain yang menghasilkan alat
pencelup aniline yang ungu. Begitu juga ketika W.R Whitney meneliti ion air raksa
sebagai sumber cahaya, ia menemukan fakta-fakta yang telah menggiring ia
merumuskan masalah yang menghasilkan alternating current rectifier.
f. Catatan dan Pengalaman Pribadi
Catatan pribadi serta pengalaman pribadi sering merupakan sumber dari
masalah penelitian. Dalam penelitian ilmu sosial, pengalaman serta catatan pribadi
tentang sejarah sendiri, baik kegiatan pribadi ataupun kegiatan professional dapat
merupakan sumber masalah untuk penelitian.
g. Praktik serta Keinginan Masyarakat
Praktik-praktik yang timbul dan keinginan-keinginan yang menonjol dalam
masyarakat dapat merupakan sumber dari masalah. Praktik-praktik tersebut dalam
merupakan tunjuk perasaan, pernyataan-pernyataan pemimpin, otoritas ilmu
pengetahuan baik bersifat lokal, daerah, maupun nasional. Adanya gejolak rasial,
misalnya dapat merupakan sumber masalah. Adanya ketimpangan antara input dan
produktivitas sekolah dapat merupakan suatu masalah penelitian. Ataupun ucapan
ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), ataupun Prof. Dr. Sumitro, dapat
merupakan sumber masalah, karena otoritasnya dalam ilmu pengetahuan.
h. Bidang Spesialisasi

Bidang spesialisasi seseorang dapat merupakan sumber masalah. Seorang


spesialis dalam bidangnya, telah menguasai ilmu yang cukup dalam bidang
spesialisasinya. Dari itu, akan banyak sekali masalah yang memerlukan pemecahan
dalam bidang spesialisasi tersebut. dalam membuat masalah berdasarkan bidang
spesialisasi, perlu juga dijaga supaya masalah yang digali jangan menjuruskan
kepada over-spesialisasi. Hal tersebut akan dapat menghilangkan unitas yang
fundamental.
i. Pelajaran yang Sedang Diikuti
Pelajaran yang sedang diikuti dapat merupakan sumber dari masalah
penelitian. Diskusi kelas, hubungan antara dosen dengan mahasiswa banyak
mempengaruhi mahasiswa dalam memilih masalah untuk penelitian. Pengaruh staf
senior serta ajarannya dapat merupakan sumber masalah bagi mahasiswa yang ingin
membuat tesis.
j. Diskusi-diskusi Ilmiah
Masalah penelitian dapat juga bersumber dari diskusi ilmiah, seminar, serta
pertemuan-pertemuan ilmiah. Dalam diskusi tersebut, seseorang dapat menangkap
banyak analisis-analisis ilmiah, serta argumentasi-argumentasi profesional, yang
dapat menjurus pada suatu permasalan baru.
k. Perasaan Intuisi
Kadangkala, suatu perasaan intuisi dapat timbul tanpa disangka, dan kesulitan
tersebut dapat merupakan masalah penelitian. Tidak jarang, seseorang yang baru
bangun dari tidurnya, dihadapkan pada suatu kesulitan secara intuisi. Banyak
kegiatan manusia yang terkadang dapat menghasilkan suatu masalah yang ingin
dipecahkan, yang muncul secara tiba-tiba.

2.2 KRITERIA PEMILIHAN MASALAH PENELITIAN


Tidak semua masalah yang ada kemudian dapat dijadikan sebagai
permasalahan untuk penelitian. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
dalam memilih masalah penelitian yaitu:
a. Kegunaan Penelitian, hasil penelitian diharapkan dapat berguna dan bermanfaat
bagi kepentingan bersama.
b. Memiliki Fisibilitas, masalah yang dipilih harus bisa dipecahkan. Masalah
penelitian tersebut harus memiliki dukungan yang relevan dari teori-teori, data dan
metode, alat atau instrument penelitian, dan tidak bertentangan dengan hukum.
c. Aktual, masalah yang dipilih merupakan masalah yang up to date. Artinya, masalah
tersebut merupakan masalah yang sedang hangat terjadi di masyarakat.
4

d. Prioritas, masalah yang dipilih merupakan masalah yang lebih mendesak untuk
diteliti, karena jika tidak akan menimbulkan dampak negatif untuk masyarakat.
Suatu masalah tertentu, mungkin menjadi permasalahan yang sangat penting pada
beberapa periode yang akan datang, namun belum terlalu penting untuk diteliti
pada saat sekarang.
e. Kemampuan Peneliti, masalah yang dipilih harus disesuaikan dengan tingkat
keahlian si peneliti, waktu dan biaya yang dibutuhkan, serta menarik bagi si
peneliti. Sehingga penelitian dapat lebih mudah dilaksanakan dan memberikan
manfaat yang lebih besar daripada biayanya.
Pemahaman terhadap pemilihan masalah tersebut menjadi sangat penting agar
terhindarkan dari upaya pemecahan masalah yang bukan merupakan masalah penelitian.
Suatu masalah, bukan merupakan masalah penelitian sudah tentu tidak memenuhi
kriteria yang telah disebutkan di atas, atau ketika kemungkinan jawaban dari pemecahan
masalah tersebut hanya ada satu tanpa ada kemungkinan alternatif yang lain dari satu
jawaban tersebut.
2.3 PEDOMAN MERUMUSKAN MASALAH PENELITIAN
Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis nantinya,
dan dari rumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian, atau judul penelitian.
Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut:
a. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
b. Rumusan hendaklah jelas dan padat.
c. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
d. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.
e. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.
Perlu juga diperhatikan bahwa dalam memilih masalah, hindarilah memilih
masalah serta rumusan masalah yang terlalu umum, terlalu sempit, terlalu bersifat lokal
ataupun terlalu argumentatif. Disamping itu, masalah ilmiah tidak boleh merupakan
pertanyaan-pertanyaan etika atau moral. Sebab hal-hal tersebut berkaitan dengan nilai
dan value judgment yang tidak bisa dijawab secara ilmiah. Contohnya, Perlukah
kepemimpinan organisasi secara demokrasi? atau Apakah metode mengajar secara
otorita menuju ke cara belajar yang buruk? Penggunaan kata perlukah dan belajar
yang buruk menunjukkan preferensi dan mengandung value judgment sehingga kalimat
atau kata seperti ini sebaiknya tidak digunakan.
Ada dua cara untuk merumuskan masalah, yakni dengan menurunkan masalah
dari teori yang telah ada atau observasi langsung di lapangan. Jika masalah tersebut
diperoleh dari hasil observasi di lapangan, maka perlu juga dihubungkan dengan teoriteori yang telah ada, agar dapat memberikan dalil dan membentuk sebuah teori.
5

2.4 JENIS-JENIS PERTANYAAN DALAM MASALAH PENELITIAN


Berdasarkan literature, diperoleh beberapa jenis pertanyaan dalam masalah
penelitian yaitu:
1. PERTANYAAN PENELITIAN
Begitu peneliti mempunyai pertanyaan yang jelas mengenai pertanyaan
manajemen, ia dan manajer harus menerjemahkan ke dalam pertanyaan penelitian.
Pertimbangkan pertanyaan penelitian agar berupa pertanyaan pengumpul informasi
yang berorientasi pada fakta. Ada banyak cara yang berbeda untuk membahas
sebagaian besar dilema manajemen. Di sinilah, dalam perumusan pertanyaan
penelitian, wawasan dan keahlian manajer berperan. Hanya alternative yang masuk
akal yang oleh dipertimbangkan. Jika peneliti bukan bagian dari lingkungan
pengambilan keputusan manajer, peneliti tersebut hanya dapat membantu sedikit
sekali dalam penerjemah ini.
Arahan manajer kepada peneliti adalah yang paling penting. Namun, apabila
peneliti adalah bagian integral dari lingkungan pengambilan keputusan, ia dapat
membantu manajer dalam mengevaluasi arah tindakan mana yang harus dan dapat
diteliti. Tujuan peneliti adalah membantu manajer merumuskan pertanyaan penelitian
yang cocok dengan kebutuhan untuk mengatasi dilemma manajemen. Pertanyaan
penelitian adalah hipotesis pilihan yang paling baik menyatakan sasaran studi
penelitian. Merupakan pertanyaan manajemen yang lebih spesifik untuk dijawab.
Jumlahnya mungkin lebih dari satu pertanyaan, atau hanya satu. Proses penelitian
yang menjawab pertanyaan yang lebih spesifik ini melengkapi manajer dengan
informasi yang diperlukan untuk proses pengambilan keputusan.
Menyempurnakan Pertanyaan Penelitian
Istilah menyempurnakan mungkin terdengar aneh untuk penelitian, tetapi ini
menciptakan suatu citra yang mulai dikenali oleh sebagian besar peneliti.
Penyempurnaan pertanyaan persisnya adalah apa yang harus dikerjakan praktisi ahli
sesudah eksplorasi selesai. Pada saat ini, sebuah gambaran yang lebih jelas mengenai
pertanyaan manajemen dan penelitian mulai muncul. Sesudah tinjauan awal atas
literature, studi eksplorasi singkat, atau keduanya, proyek pun mulai menjadi jelas
melalui salah satu dari dua cara ini:
1. Pertanyaan sudah terjawab dengan jelas dan prosesnya selesai.
2. Muncul sebuah pertanyaan yang berbeda dengan pertanyaan yang semula
dibahas.
Pertanyaan penelitian tidak perlu berbeda materinya, tetapi akan berkembang
secara bertahap. Tidak ada alasan untuk berkecil hati. Pertanyaan penelitian yang
6

disempurnakan akan mempunyai fokus yang lebih baik dan akan menggerakkan
penelitian ke depan dengan lebih jelas ketimbang pertanyaan yang telah
diformulasikan sebelumnya.
Selain menyempurnakan pertanyaan orisinal, aktivitas penelitian lain yang
terkait dengan pertanyaan tersebut harus dibahas dalam fase ini untuk memperbaiki
arah proyek:
1. Memeriksa konsep dan konstruk yang akan digunakan dalam studi. Apakah
konsep dan konstruk telah didefinisikan secara memuaskan? Apakah definisi
operasional sudah digunakan secara semestinya?
2. Mengulas pertanyaaan penelitian dengan tujuan untuk merincinya menjadi
pertanyaan tingkat kedua dan ketiga yang lebih spesifik.
3. Apabila hipotesis digunakan, pastikan apakah hipotesis tersebut memenuhi uji
kualitas.
4. Menentukan bukti apa yang harus dikumpulkan untuk menjawab bermacam
pertanyaan dan hipotesis.
5. Menetapkan cakupan studi dengan menyatakan apa yang bukan bagian dari
pertanyaan penelitian. Ini akan menetapkan batas untuk memisahkan masalah
yang berada dekat dengan sasaran utama.
Ketika karakteristik atau alasan yang masuk akal dari masalah telah
didefinisikan dengan baik dan pertanyaan penelitian dinyatakan secara jelas, maka
selanjutnya dapat mendeduksi subpertanyaan esensial yang akan menuntun
perencanaan proyek dalam proses penelitian.
2. PERTANYAAN MANAJEMEN
Manajer harus melangkah dari dilema manajemen ke pertanyaan manajemen
untuk melanjutkan proses riset. Pertanyaan manajemen menyatakan kembali dilema
dalam bentuk pertanyaan:
Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi tingkat perputaran karyawan?
Apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan lamanya masa tinggal
penyewa dan mengurangi tingkat kepindahan?
Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi biaya?
Kategori Pertanyaan Manajemen
Jumlah pertanyaan manajemen terlalu banyak untuk didaftar, tetapi kita dapat
menggolongkannya:
Pilihan tujuan atau sasaran.
Pembuatan dan evaluasi solusi.
Pelacakan masalah atau situasi kontrol.
Jenis pertama berkenaan dengan pilihan tujuan dan sasaran. Pertanyaan
umumnya adalah Apa yang ingin kita capai? Pada tingkat perusahaan,
7

pertanyaannya mungkin Apakah kita di Perusahaan XYZ harus mempertimbangkan


kembali sasaran dasar perusahaan yang berkenaan dengan citra kita dalam
masyarakat? secara lebih sempit, pertanyaan manajemen mengenai sasaran
mungkin menanyakan, Sasaran apakah yang harus dicapai XYZ dalam perputaran
negoisasi tenaga kerja berikutnya?
Kategori kedua untuk pertanyaan manajemen berkenaan dengan pembuatan
dan evaluasi solusi. Pertanyaan umumnya adalah Bagaimana kita dapat mencapai
tujuan yang kita inginkan? Proyek riset di dalam kategori ini biasanya berurusan
dengan masalah yang konkret sehingga para manajer dengan cepat dapat mengenali
manfaat proyek riset tersebut. Proyek dapat melibatkan pertanyaan seperti:
Bagaimana kita dapat mencapai tujuan lima-tahun kita seperti penjualan dan

laba bersih yang meningkat dua kali lipat?


Apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan program CompleteCare bagi

reparasi dan layanan produk MindWriter?


Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi keluhan layanan pasca
pembelian?
Kelas ketiga pertanyaan manajemen berkenaan dengan pelacakan masalah

atau situasi control. Masalah biasanya melibatkan pemantauan atau diagnose atas
penyebab kegagalan seperti, dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkannya.
Kelompok

ini

mencakup

pertanyaan

seperti,

Mengapa

departemen

kita

mengeluarkan biaya tertinggi? dan Seberapa baikkah program kita memenuhi


sasarannya?
Tidak peduli bagaimana pertanyaan manajemen didefinisikan, ada banyak arah
riset yang dapat diambil. Sebuah pertanyaan spesifik dapat menghasilkan banyak
studi. Kekhawatiran mengenai citra perusahaan MetalWorks dapat menghasilkan:
Survei di berbagai kalangan kelompok untuk mengetahui sikap mereka

terhadap perusahaan.
Riset sekunder untuk mengetahui apa yang dilakukan perusahaan lain untuk
memoles citra mereka.
Studi untuk meramalkan ekspektasi pada perubahan sikap sosial.
Pertanyaan sehubungan dengan sasaran negosiasi tenaga kerja MetalWorks

dapat mendorong riset mengenai penyelesaian terkini di dalam industry atau survey
di kalangan pekerja untuk mencari tahu seberapa baik manajemen telah memenuhi
kepeduliannya mengenai kualitas kehidupan kerja. Adalah tanggung jawab bersama
periset dan manajemen untuk memilih proyek yang paling produktif.
Sifat Pertanyaan Manajemen

Sebagai contoh, asumsikanlah seorang periset diminta untuk membantu


manajemen barus ebiah bank. Presiden bank tersebut khawatir mengenai erosi
kemampulabaan bank (dilema manajemen) dan ingin membalik situasi ini.
BankChoice adalah bank tertua dan terbesar di antara tiga bank di suatu kota dengan
populasi sekitar 50.000 penduduk. Laba tidak meningkat pada beberapa tahun
terakhir. Presiden dan konsultan mendiskusikan masalah yang menghadang
perusahaan dan menetapkan pertanyaan manajemen berikut ini:Bagaimana kita
dapat memperbaiki gambaran laba kita?
Pertanyaan manajemen tersebut tidak menetapkan jenis riset yang harus
dilakukan. Pertanyaan ini khas manajerial. Pertanyaan ini menyiratkan bahwa
manajemen bank menghadapi tugas mengembangkan strategi untuk meningkatkan
laba. Pertanyaannya luas. Perhatikan bahwa pertanyaan ini tidak mengindikasikan
apakah manajemen harus menaikkan laba lewat peningkatan deposito perampingan
personalia, pemanfaatan sumber luar untuk fungsi pembayaran gaji, atau beberapa
cara lain.
Diskusi lebih jauh antara presiden bank dan periset memperhatikan bahwa
sebenarnya ada dua pertanyaan yang harus dijawab. Masalah pertumbuhan deposito
yang rendah dikaitkan dengan kekhawatiran akan sifat persaingan. Sementara
deposito yang rendah langsung mempengaruhi laba, satu bagian lain dari kelemahan
laba yang berhubungan dengan factor negative di dalam perusahaan yang
meningkatkan biaya operasi. Periset kawakan mengetahui bahwa pertanyaan
manajemen seperti ini masih terlalu luas untuk menuntun riset yang definitive.
Sebagai pertanyaan manajemennya menjadi pertanyaan yang lebih spesifik:
Bagaimana kita dapat meningkatkan deposito?
Bagaimana kita dapat mengurangi biaya?
Pemisahan pertanyaan manajemen menjadi dua pertanyaan seperti diatas tidak
mungkin terjadi tanpa diskusi antara periset dan manajer.
3. PERTANYAAN INVESTIGATIF
Pertanyaan investigasi adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh periset agar
tiba pada kesimpulan yang memuaskan mengenai pertanyaan riset. Untuk
merumuskan pertanyaan investigasi periset menggunakan pertanyaan riset umum dan
memecahnya

menjadi

pertanyaan-pertanyaan

yang

lebih

spesifik

untuk

mempermudah pengumpulan data. Proses pemecahan ini dapat berlanjut melalui


beberapa tingkat yang semakin spesifik. Pertanyaan investigasi harus disertakan di

dalam proposal riset, karena pertanyaan ini menuntun pengembangan desain riset.
Pertanyaan ini adalah dasar untuk menciptakan instrument pengumpulan data riset.
Periset yang mengerjakan proyek BankChoice mengembangkan dua
pertanyaan

investigasi

utama

untuk

mempelajari

pasar

dengan

beberapa

subpertanyaan di bawah masing-masing pertanyaan utama. Pertanyaan-pertanyaan


tersebut memberikan wawasan mengenai tidak adanya pertumbuhan deposito:
1. Bagaimana posisi masyarakat sehubungan dengan layanan keuangan dan
penggunaannya?
a. Apa layanan keuangan spesifik yang digunakan?
b. Seberapa menarik berbagai layanan tersebut?
c. Apa faktor spesifik bank dan factor lingkungan yang mempengaruhi
seseorang dalam memakai layanan tertentu?
2. Bagaimana posisi kompetitif bank?
a. Bagaimanakah pola geografis nasabah kita dan nasabah pesaing kita?
b. Apa sajakah perbedaan demografis yang terungkap di kalangan nasabah kita
dan nasabah pesaing kita?
c. Apa sajakah kata dan frasa yang dikaitkan masyarakat (baik nasabah maupun
bukan nasabah) dengan BankChoice? Dengan pesaing BankChoice?
d. Seberapa sadar masyarakat akan upaya promosi bank?
e. Bagaimanakah opini masyarakat mengenai bank tersebut dan pesaingnya?
f. Bagaimanakah perbandingan pertumbuhan layanan yang diberikan oleh
lembaga-lembaga yang bersaing?
Kembali lagi ke situasi MindWriter. Apa yang manajemen perlu diketahui
untuk memilih di antara spesifik kemasan yang berbeda-beda? Pada saat
mengembangkan kebutuhan informasi, penting untuk berpikir secara luas. Dalam
mengembangkan daftar pertanyaan investigasi perlu memasukkan:
Pertimbangan kinerja (seperti biaya relative dari pilihan-pilihan yang
diajukan, kecepatan pengemasan laptop yang diservis, dan kondisi laptop uji

yang dikemas dengan bahan-bahan yang berbeda).


Masalah sikap (seperti kualitas layanan yang dirasakan).
Masalah perilaku (seperti kemudahan penggunaan oleh karyawan dalam
pengemasan dengan bahan yang dipertimbangkan).

4. PERTANYAAN PENGUKURAN
Pertanyaan pengukuran harus disiapkan begitu aktivitas perencanaan proyek
selesai, tetapi biasanya menunggu pengujian percobaan untuk penyempurnaan. Ada
dua jenis pertanyaan pengukuran: pertanyaan yang sudah didesain dan teruji
sebelumnya dan pertanyaan yang didesain menurut pesanan. Pertanyaan pengukuran
10

yang didesain sebelumnya adalah pertanyaan yang sudah dirumuskan dan diuji oleh
periset sebelumnya, tercatat di dalam literature, dan dapat diterapkan secara harfiah
atau diadaptasi untuk proyek yang ditangani. Beberapa studi menggunakan alat
pengukuran yang sudah siap ini karena meningkatkan keabsahan dan dapat
mengurangi biaya proyek. Namun, pertanyaan pengukuran lebih sering dibuat
berdasarkan pesanan sesuai pertanyaan investigasi. Sumber daya untuk hal ini adalah
wawasan kolektif yang berasal dari semua aktivitas dalam proses riset yang telah
diselesaikan hingga titik ini, khususnya wawasan dari eksplorasi. Selanjutnya, selama
pengujian percobaan atas instrument pengumpulan data, pertanyaan yang dibuat
sesuai pesanan ini akan disempurnakan.
Dalam survey, pertanyaan pengukuran adalah pertanyaan yang benar-benar
kita ajukan kepada responden. Pertanyaan ini muncul dalam kuisioner. Dalam studi
observasi, pertanyaan pengukuran adalah pertanyaan yang harus dicatat oleh periset
observasi mengenai tiap subjek yang dipelajari.

BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN

11

Terdapat beberapa sumber masalah penelitian, yaitu: pengamatan terhadap kegiatan


manusia, pengamatan terhadap alam sekeliling, bacaan, ulangan serta perluasan
penelitian, cabang studi yang sedang dikembangkan, catatan dan pengalaman pribadi,
praktik serta keinginan masyarakat, bidang spesialisasi, pelajaran yang sedang diikuti,
diskusi-diskusi ilmiah, perasaan intuisi
Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih masalah
penelitian yaitu: kegunaan penelitian, memiliki fisibilitas, aktual, prioritas, kemampuan
peneliti.
Umumnya rumusan masalah penelitian harus dilakukan dengan kondisi berikut:
a. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
b. Rumusan hendaklah jelas dan padat.
c. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
d. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.
e. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.
Terdapat beberapa jenis pertanyaan yang berkaitan dengan masalah penelitian adalah:
a. Pertanyaan Penelitian: Begitu peneliti mempunyai pertanyaan yang jelas mengenai
pertanyaan manajemen, ia dan manajer harus menerjemahkan ke dalam pertanyaan
penelitian.
b. Pertanyaan Manajemen: Manajer harus melangkah dari dilema manajemen ke

pertanyaan manajemen untuk melanjutkan proses riset.


c. Pertanyaan Investigatif: Pertanyaan yang harus dijawab oleh periset agar tiba pada
kesimpulan yang memuaskan mengenai pertanyaan riset.
d. Pertanyaan Pengukuran: Pertanyaan pengukuran harus disiapkan begitu aktivitas

perencanaan proyek selesai, tetapi biasanya menunggu pengujian percobaan untuk


penyempurnaan.

12