Anda di halaman 1dari 107

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

TERHADAP BY NY. A SEGERA SETELAH LAHIR


DI RB KARTINI KAMPUNG SAWAH
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun Oleh :
LILIS AYUNINGSIH
NIIM : 201207096

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR


TERHADAP BY NY. A SEGERA SETELAH LAHIR
DI RB KARTINI KAMPUNG SAWAH
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH

Karya Tulis Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapat Gelar
Peofesi Ahli Madya Kebidanan Pada Prodi DIII Kebidanan Akbid Adila
Bandar Lampung

Disusun Oleh :
LILIS AYUNINGSIH
NIM: 201207096

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

ASUHA KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR TERHADAP BY


NY. A SEGERA SETELAH LAHIR DI RB KARTINI
KAMPUNG SAWAH BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
Lilis Ayuningsih, Zendri Julistia, S. Kep,M. Kes , Oktaria Safitri S. ST

INTISARI

Study Kasus ini membahas tentang Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir. Bayi baru lahir
disebut neonatus merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma
kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterine ke kehidupan
ekstrauterine. Penelitian menunjukan bahwa, 50 % kematian bayi terjadi dalam periode neonatal
yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Penyebab terjadinya kematian bayi adalah asfiksia (36 %)
,BBLR (35.%), kelainan kongenital (4,0 %), infeksi (2.0%), gangguan pencernaan (1,0%) , lainlain (22%). Berdasarkan kasus diatas penulis tertarik untuk mengambil kasus dengan rumusan
masalah yaitu Bagaimankah asuhan kebidanan pada bayi baru lahir terhadap By. Ny. A segera
setelah lahir di RB Kartini Kampung Sawah Bandar Lampung Tahun 2015. Tujuan dilakukan
penulisan ini diharapkan dapat diperolehnya pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan
kebidanan pada bayi segera setelah lahir, sasaran dalam penelitian ini adalah bayi Ny. A, tempat
peneltian dilakukan di RB Kartini Kampung Sawah Bandar Lampung, dan dilaksanakan pada
tanggal 2-3 April 2015. Metode penelitian yang diambil adalah metode diskriptif. Dari hasil
penelitian ini diperoleh bahwa tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus
hal ini mencakup dalam identitas ibu dan penilaian pada bayi. Kesimpulan yang diambil adalah
penulis mampu memberikan asuhan kebidanan sesuai dengan menejemen kebidana 7 langkah
varney, dengan hasil evaluasi bayi tidak mengalami komplikasi dan dalam keadaan normal dengan
dilakukanya rawat gabung. Saran dari study kasus ini adalah diharapkan bagi lahan praktek bisa
dijadikan masukan bagi pengelola program kesehatan untuk mengembangkan pendidikan
kesehatan (penyuluhan) bagi masyarakat, sebagai upaya menurunkan angka kematian bayi.

Kata kunci

: Bayi Baru Lahir

Kepustakaan

: 2005-2012

CURRICULUM VITAE

Nama

: Lilis Ayuningsih

NIM

: 201207096

Tempat/Tanggal Lahir

: Srimulyo 21 Oktober 1994

Agama

: Islam

Alamat

: Candimas III Natar Lampung Selatan

Angkatan

: VII

Biografi

:
1. SDN 1 Gerning kec Teginenemg Tahun 2000-2006
2. SMP 4 Natar Lampung Selatan Tahun 2006-2009
3. SMA Swadhipa Natar Lampung Selatan Tahun
2009-2012
4. Penulis terdafrat sebagai mahasiswa Akademi
Kebidanan Adila Bandar Lampung sejak tahun
2012 hingga sekarang

MOTTO
Kebahagiaan bukan berasal dari
sekeliling kamu tapi kebahagiaan
berasal dari kamu dan pikiran
kamu

PERSEMBAHAN

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya sehingga penulis mampu menyelesaikan Study Kasus
ilmiah ini

Tak lupa shalawat dan salam kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar
MUHAMMAD SAW yang mengangkat derajat seorang muslim ke arah yang
lebih baik, dan kita nantikan syafaat nya kepada kita semua Amin...

Karta tulis ini ku persembahkan untuk


1. kedua orang tua ku, ayah dan ibu ku, tugas akhir ini ku persembahkan.
Tiada kata yang bisa menggantikan segala dukungan usaha, semangat, dan
juga uang yang telah dicurahkan untuk selalu mendukukng ku.
2. Ku persembahkan juga untuk kedua adik-adiku semoga Study Kasus dapat
menjadi motivasi dan pengingat semangat kalian kelak dikemudian hari.
3. Untuk para sahabatku ku angkatan ke-7 yang selalu berbagi keceriaan dan
melewati setiap suka dan duka selama kuliah, terimakasih banyak.

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini

yang dalam bentuk study kasus sebagaimana yang

diharapkan.
Dalam penyusunan Study Kasus ini Penulis mengambil judul Asuhan
Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Terhadap Bayi Ny. A Segera Setelah Lahir
Di RB Kartini Kampung Sawah Bandar Lampung Untuk itu penulis ingin
menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. dr. Wasni adila M.PH, selaku Direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung.
2. Karsiyah, S.Kep, M.Kes dan Ratnawati S.ST selaku pembimbing yang
telah bersedia meluangkan waktu untuk memberi bimbingan dengan sabar
selama penyusunan Study Kasus Ilmiah..
3.

Semua dosen Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung yang telah


memberi banyak ilmu dan memberikan bimbingan.

4. RB Kartin Kampung sawah Bandar Lampung yang telah memberikan izin


penulis untuk mengambil data.
5. Keluarga penulis yang telah memberikan motivasi dan dorongan baik
materil dan spiritual sampai dengan terselesaikannya Study Kasus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Study Kasus ini masih banyak kekurangan,
sehingga penulisan sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak
demikesempurnaan Study Kasus ini.
Semoga Study Kasus ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Bandar Lampung,
2015

Penulis

April

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii
INTISARI .............................................................................................. iv
CURICULUM VITAE .......................................................................... v
MOTTO ................................................................................................. vi
PERSEMBAHAN .................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ........................................................................... viii
DAFTAR ISI .......................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ................................................................................. x
DAFTAR BAGAN................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang ....................................................................... 1
1.2 RumusanMasalah .................................................................. 4
1.3 TujuanPenelitian ................................................................... 5
1.4 RuangLingkup ....................................................................... 6
1.5 Manfaat ................................................................................. 6
1.6 MetodePengumpulan Data .................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TinjauanTeoriMedis .............................................................. 11
2.2 TinjauanTeoriAsuhanKebidanan .......................................... 43
2.3 LandasanHukumKewenanganBidan ..................................... 51
BAB III TINJUAN KASUS
3.1 Pengkajian ............................................................................. 53
3.2 Matriks .................................................................................. 57
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian ............................................................................. 66

4.2 Interpretasi Data .................................................................... 73


4.3 AntisipasiMasalahPotensial .................................................. 73
4.4 TindakanSegera ..................................................................... 74
4.5 Perencanaan........................................................................... 75
4.6 Pelaksanaan ........................................................................... 77
4.7 Evaluasi ................................................................................. 80
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ........................................................................... 82
5.2 Saran ...................................................................................... 83
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1Sigtuna score ........................................................................... 15


Table 2.2Apgar score ............................................................................. 16
Tabel 2.3Penanganan Bayi Baru Lahir Berdasarkan Apgar Score ........17
Tabel 2.4 Perkembangan sistem pulmonal ............................................33
Tabel 2.5 Matrik ....................................................................................57

DAFTAR BAGAN

Bagan A Manajemenbayibarulahir.42

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat izin penelitian


Lampiran 2 : Surat izin bidan
Lampiran 3 : Jadwal penelitian
Lampiran 4 : Dokumentasi
Lampiran 5 : Lembar konsul

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus merupakan individu yang
sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus
dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan
ekstrauterin. Bayi lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan
37-42 minggu dan berat badanya 2.500-4.000 gr (Vivian Nanny Lia Dewi,
2010; h. 1).

Pada waktu kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi
psikologik. Bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menetukan masa
transisi kehidupanya ke kehidupan luar uterus berlangsung baik. Bayi baru
lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan
untuknya menjalani masa transisi dengan baik

Penelitian menunjukan bahwa, 50 % kematian bayi terjadi dalam periode


neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya
penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainankelainan yang mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.
Misalnya karena hipotermi akan menyebabkan hipoglikemia dan akibat

nya dapat terjadi kerusakan otak. Pencegahan merupakan hal terbaik yang
harus dilakukan dalam penanganan neonatal sehingga neonatus sebagai
organisme yang harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke
ekstrauterin dapat bertahan dengan baik karena periode neonetal
merupakan periode yang paling kritis dalam fase pertumbuhan dan
perkembanga bayi. proses adaptasi fisiologis yang dilakukan bayi baru
lahir perlu diketahui dengan baik oleh tenaga kesehatan khususnya bidan,
yang selalu memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu , bayi dan anak
(Wafi Nur Muslihatun,2010; h. 10-11).

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) ialah sebesar 35


per 1.000 kelahiran hidup untuk tahun 2012. Pada tahun 1990 silam, AKB
secara global sebesar 63 per 1.000 kelahiran hidup. Menurut laporan WHO
pada tahun 2000, Angka Kematian Bayi (AKB) di dunia 54 per 1000
kelahiran hidup kemudian tahun 2006 menjadi 49 per 1000 kelahiran
hidup (Wijaya, 2010). Dari data tersebut, AKB dunia menduduki kriteria
sedang. Kedua data AKB tersebut dapat kita bandingkan dengan targetan
MDGs untuk AKB, yakni 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Data Survei


Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2004 menyatakan AKB di
Indonesia ialah 35 per 1.000 kelahiran hidup. Kemudian pada SDKI tahun
2007 AKB di Indonesia menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup. Walaupun
ini masih dalam kriteria rendah, namun AKB di Indonesia masih menjadi

masalah kesehatan di Indonesia, khususnya berkenaan dengan kesehatan


ibu dan anak (Wijaya Kusuma, 2010, www.academia.edu).

Berdasarkan data dinas kesehatan Provinsi Lampung tahun 2012 AKB


terjadi sebanyak 1.027 kasus. Penyebab terjadinya kematian bayi adalah
asfiksia (36 %), BBLR (35 %), kelainan kongenital (4. %), infeksi (2.0%),
gangguan pencernaan (1,0 %) , lain- lain (22%). Sedangkan kematian Bayi
dan anak balita terbesar ada di kota Bandar Lampung(204 kasus kematian
bayi dan 25 kematian anak balita). Kematian bayi terbesar pada masa bayi
perinatal (0-6 hari), diikuti kematian pada masa bayi neonatal (7-28 hari).
Penyebab kematian perinatal dan neonatal di profinsi lampung tahun 2012
pada dua terbesar disebabkan oleh BBLR dan Asfiksia (Profil Dinas
Kesehatan Profinsi Lampung 2012).

Penelitian telah menunjukan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi
dalam periode neonatal yaitu dalam blan pertama kehidupan. Kurang
baiknya penanganan bayi yang lahir sehat akan menyebabkan kelainankelainan yang dapat menyebabkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.
Misalnya sebagai akibat hipotermi pada bayi baru lahir dapat terjadi cold
stress

yang

selanjutnya

dapat

menyebabkan

hipoksemia,

atau

hipoglikemia, dam mengakibatkan kerusakan otak. Akibat selanjutnya


adalah perdarahan otak, syok bebrapa bagian tubuh mengeras, dam
keterlambatan tumbuh kembang.

Contoh lain misalnya, kurang baiknya pembersihan jalan nafas


mengakibatkan kesulitan pernafasan, kekurangan zat asam, dan apabila
dan apabila hal ini berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan
perdarahan otak, kerusakan otak dan keterlambatan tumbuh kembang. Tak
kurang penting adalah pencegahan terhadap infeksi yang dapat terjadi
melalui tali pusat pada waktu pemotongan tali pusat, melalui mata, melalui
telinga

pada

waktu

persalinan

atau

pada

waktu

memandikan,

membersihkan bayi dengan bahan, atau cairan atau alat yang kurang bersih
(Sarwono Prawirohardjo,2009; h. 132).

Penulis melakukan survey di RB Kartini Kampung Sawah pada tanggal 23 April 2015 didapatkan 8 bayi baru lahir, 2 bayi mengalami asfiksia dan
1 bayi mengalami hipotermi dan sudah dapat tertangani.

Untuk

menghindari terjadinya asfiksia dan hipotermi terhadap bayi Ny. A maka


diperlukan penanganan segera untuk memberikan asuhan terhadap bayi
Ny. A.
Dari data dan hasil survey tersebut sehingga penulis tertarik untuk
memberikan asuhan yang berjudul Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru
Lahir terhadap bayi Ny. A Segera Setelah Lahir di RB Kartini Kampung
Sawah Bandar Lampung Tahun 2015.

1.1.1

Rumusan Masalah
Bagaimanakah Asuhan kebidanan pada bayi segera setelah lahir terhadap
bayi Ny. A di RB Kartini Kampung Sawah Bandar Lampung Tahun
2015?

1.1.2

Tujuan Penelitian
1.1.2.1 Tujuan umum
Diperolehnya pengalaman nyata dalam melaksanakan Asuhan
Kebidanan pada bayi segera setelah lahir terhadap Ny.A di RB
Kartini Kampung Sawah Tahun 2015.
1.1.2.2 Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu untuk dapat melakukan pengkajian data pada
asuhan kebidanan bayi segera setelah lahir terhadap bayi Ny.A di
RB Kartini Kampung Sawah pada tahun 2015
b. Mahasiswa mampu untuk dapat menentukan diagnosa masalah dan
kebutuhan pada asuhan kebidanan pada bayi segera setelah lahir
terhadap byi Ny. A di RB Kartini Kampung Sawah pada tahun
2015
c. Mahasiswa mampu untuk dapat mengidentifikasikan diagnosa
masalah potensial pada asuhan kebidanan pada bayi segera setelah
lahir terhadap bayi Ny. A di RB Kartini Kampung Sawah pada
tahun 2015
d. Mahasiswa mampu untuk dapat melakukan tindakan segera dan
mengantisipasi masalah dengan melakukan penanganan atau

kolaborasi dengan dokter pada asuhan kebidanan bayi segera


setelah lahir di RB Kartini Kampung Sawah pada tahun 2015
e. Mahasiswa mampu untuk dapat menyusun rencana asuhan yang
menyeluruh pada asuhan kebidanan bayi segera setelah lahir
terhadap bayi Ny. A di RB Kartini Kampung Sawah pada tahun
2015
f. Mahasiswa mampu untuk dapat melaksanakan rencana asuhan
yang menyeluruh pada asuhan kebidanan bayi segera setelah lahir
terhadap bayi Ny. A di RB Kartini Kampung Sawah pada tahun
2015
g. Mahasiswa mampu untuk dapat mengevaluasi hasil dari asuhan
kebidanan pada asuhan kebidanan bayi segera setelah lahir
terhadap bayi Ny. A di RB Kartini Kampung Sawah pada tahun
2015

1.1.3

Ruang Lingkup
1.1.3.1 Sasaran
Bayi segera setelah lahir By. Ny. A
1.1.3.2 Tempat
Di RB Kartini Kampung Sawah Bandar Lampung
1.1.3.3 Waktu
Dilaksanakan pada tanggal 2-3 april 2015.

1.1.4

Manfaat Penelitan
1.1.4.1 Institusi Pendidikan
Hasil penelitian dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi
Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung dalam menerapkan
ilmu dan sebagai acuan penelitian berikutnya Khususnya pada
bayi segera setelah lahir.
1.1.4.2 Bagi Lahan Praktek
Hasil study kasus ini diharapkaan dapat membantu lahan dalam
memberikan asuhan kebidanan pada bayi segera setelah lahir dan
mengetahui perkembangan secara nyata dilapangan sesuai teori
yang ada serta dapat dijadikan sebagai bahan bacaan untuk lahan.
1.1.4.3 Bagi Peneliti
Study kasus ini dapat meningkatkan pengetahuan yang didapat
selama perkuliahan serta mengaplikasikan tentang perawatan bayi
segera setelah lahir.
1.1.4.4 Bagi pasien
Hasil study kasus ini diharapkan dapat membantu pasien dalam
mencegah terjadinya komplikasi pada bayi seperti hipotermi dan
asfiksia dengan dilakukannya penanganan secara benar.

1.2 Metodologi dan Teknik Memperoleh Data


1.2.1

Metodologi penelitian
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan
metode deskriftif yaitu suatu metode yang dilakukan dengan tujuan

utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu


keadaan secara objektif. Metode penelitian deskriftif digunakan
untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang
dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan
menempuh

langkah-langkah

pengumpulan

data,

klasifikasi,

pengolahan/analisis data, membuat kesimpulan, dan laporan (Dr.


Soekidjo Notoatmodjo, 2005; h. 138).
1.2.2

Tekhnik Memperoleh Data


Teknik memperoleh data dalam penulisan karya tulis ilmiah ini
adalah:

1.2.2.1 Data primer


a. Anamnesis
Anamnesis adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan
data tentang pasien melalui pengajuan pertanyaanpertanyaan. Anamnesis dapat dilakukan dua cara yaitu:
1.

Auto anamnesis
Adalah anamnesis yang dilakukan kepada pasien
langsung

2.

Allo anamnesis
Adalah anamnesis yang dilakukan kepada keluarga
pasien untuk memperoleh data tentang pasien. (Ari
Sulistyawati, 2010; h. 165-166).

b. Observasi
Pengamatan (observasi) adalah sutau hasil perbuatan jiwa
secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya
rangsangan. Mula-mula ransangan dari luar mengenai indra
dan terjadilah pengindraan, kemudian apabila ransangan
tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya
pengamatan. (Dr. Soekidjo Notoatmodjo,2005; h. 93)
1. Pengkajian fisik
Pengkajian fisik adalah suatu cara untuk mendapatkan
informasi

tentang

anak

dan

keluarganya

dengan

menggunakan semua pancaindra, baik subjektif maupun


objektif.

Pengkajian

fisik

bayi

baru

lahir

dan

perkembangannya dilakukan bersama ketika melakukan


pemeriksaan secara inspeksi maupun observasi (Vivian
Nanny Lia Dewi,2010).
1.2.2.2 Data sekunder
a. Studi Kepustakaan
Bahan-bahan pustaka merupakan hal yang
sangat penting dalam menuju latar belakang
teoritis dari suatu penelitian.
b. Studi documenter
Yang dimaksud sumber informasi dokumenter
pada dasarnya adalah bentuk sumber informasi
berhubungan dengan dokumen, baik dokumen-

dokumen resmi maupun tidak resmi. Dokumen


resmi adalah semua bentuk dokumen baik yang
diterbitkan atau tidak diterbitkan yang ada
dibawah

tanggung

jawab

instansi

resmi

misalnya laporan, statistik, catatan-catatan di


dalam kartu klinik dan sebagainya.
Sedangkan dokumentasi tidak resmi adalah
segala dokumen yang berada atau menjadi
tanggung jawab dan wewenang instansi seperti
biografi catatan harian dan semacamnya. (Dr.
Soekijo Notoatmodjo,2005; h. 62-65).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TEORI MEDIS


2.1.1 DEFINISI
Bayi baru lahir disebut juga neonatus merupakan individu yang
sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta
harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterine
ke kehidupan ekstrauterine. Bayi baru lahir normal adalah bayi yang
lahir pada usia kehamilan 37 minggu - 42 minggu dan berat
badannya 2.500-4000 gram (Vivian Nanny Lia Dewi, 2010; h. 1).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi
belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia
kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan
berat badan 2500-4000 gram, nilai apgar >7 dan tanpa cacat bawaan.
(Ai Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti 2012; h. 2).
2.1.2

Ciri - Ciri Bayi Baru Lahir Normal


a. Lahir aterem antara 37-42 minggu
b. Berat badan 2500-4000 gram
c. Panjang badan 48- 52 cm
d. Lingkar dada 30-38 cm
e. Lingkar kepala 33-35 cm
f. Lingkar lengan 11-12 cm
g. Frekuensi denyut jatung 120-160 x/menit

h. Pernafasan 40-60 x/menit


i. Kulit kemerahan dan licin
j. Rambut lanugo tidak telihat, dan rambut kepala biasanya telah
sempurna
k. Kuku agak panjang dan lemas
l. Nilai APGAR >7
m. Gerak aktif
n. Bayi lahir langsung menangis
o. Reflek rooting baik
p. Reflek moro baik
q. Reflek grasping baik
r. Genetalia labia mayora sudah menutupi labia minora (pada
anak perempuan), testis sudah turun (pada anak laki-laki).
s. Eliminasi baik, urine dan meconium akan keluar 24 jam
pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan (Vivian Nanny
Lia Dewi, 2010; h. 2).
2.1.3 Penampilan dan Perilaku Bayi Baru Lahir
Pada waktu melakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir
hendaknya dilakukan secara cermat, hati-hati dan perhatikan
beberapa kondisi dan penampilan bayi secara keseluruhan antara
lain : keadaan umum bayi, penampilan fisik seperti warna kulit,
pucat atau tidak.
Kulit bayi : perhatikan dengan baik kulit bayi beberapa bayi
memiliki beberapa bintik di kulit mereka. Contohnya, bayi

mungkin memiliki bintik besar dan gelap di punggung bagian


bawah atau pantat. Bayi lain mungkin memiliki bintik merah di
wajah. Bintik-bintik ini tidak berbahaya, namun bintik yang seperti
bisul merah kecil kemungkinan besar merupakan tanda infeksi.
Warna kulit bayi : bayi semestinya memiliki warna kulit yang
normal beberapa jam setelah lahir. Karena itu bidan harus
memperhatikan dengan seksama bila hal-hal ini terjadi, warna kulit
bayi masih berwarna kebiruan , jika tangan dan kaki bayi masih
berwarna kebiruan namun suhu tubuh bayi hangat, mungkin tidak
ada masalah yang serius. Beberapa bayi bahkan masih memiliki
tangan dan kaki kebiruan satu dua hari setelah lahir. Bibir atau
wajah bayi masih terlihat biru satu jam setelah lahir, kemungkinan
bayi mengalami masalah dengan jantung atau paru-parunya,
kemungkinan dia memerlukan oksigen. Jika kulit bayi terlihat
kekuning kurang dari 24 jam setelah lahir bisa jadi dia terkena
penyakit kuning atau infeksi, segera minta bantuan medis
(Ai Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti, 2012; h. 61-62).

2.1.4

Tahapan Bayi Baru Lahir


2.1.4.1 Tahap I terjadi segera setelah lahir
Selama menit pertama kelahiran, pada tahap ini digunakan sistem
scoring apgar untuk fisik dan scoring gray untuk interaksi bayi
dan ibu.

2.1.4.2 Tahap II disebut tahap transisional reaktivitas


Pada tahap ini dilakukan pengkajian selama 24 jam pertama
terhadap adanya perubahan prilaku.
2.1.4.3 Tahap III disebut tahap periodik.
Di tahap ini pengkajian dilakukan setelah 24 jam pertama yang
meliputi pemeriksaan seluruh tubuh (Vivian Nanny Lia Dewi,
2010; h. 3).
2.1.5

Asuhan bayi segera setelah lahir


2.1.5.1 Penilaian bayi
a. Penilaian sekilas sesaat setelah bayi lahir
Sesaat setelah bayi lahir bidan melakukan penilaian sekilas untuk
kesejahteraan bayi secara umum. Aspek yang dinilai adalah warna
kulit dan tangisan bayi, jika warna kulit kemerahan dan bayi dapat
menangis spontan maka ini sudah cukup untuk dijadikan data awal
bahwa dalam kondisi baik.
b. Menit pertama kelahiran
Pertemuan

SAREC

di

swedia

tahun 1985

menganjurkan

penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara


sederhana yang disebut SIGTUNA SCORE, sesuai dengan nama
tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini digunakan
terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya
menilai dua parameter yang penting namun cukup mewakili
indikator kesejahteraan bayi baru lahir (Ari Sulistyawati dan Esti
Nugraheny, 2010; h. 118).

Sesaat setelah bayi lahir bidan memantau bayi 2 tanda vital bayi
sesuai dengan SIGTUNA skor, yaitu upaya bayi untuk bernafas
dengan frekuensi jantung (dihitung selama 6 detik, hasil di kalikan
10 sama dengan frekuensi jantung sama dengan satu menit).

Cara menentukan sigtuna score


1. Nilai bayi sesaat setelah lahir (menit pertama), dengan
penilaian seperti pada tabel.
2. Jumlahkan skor yang didapat.
3. Kesimpulan dari total SIGTUNA skor.
4

= Asfiksia ringan atau tidak asfiksia

2-3 = Asfiksia sedang


1

= Asfiksia berat

= Bayi lahir mati / fress stillbirt


Tabel 2.1
(sigtuna score)
skore

Kriteria
Pernafasan

Teratur

Megap-megap

Tidak ada

Denyut

>100

<100

Tidak ada

jantung

a. Menit ke 5 sampai ke 10
Segara setelah bayi lahir, bidan mengobservasi keadaan bayi
dengan berpatokan pada APGAR skor dari 5 menit hingga 10
menit (Ari Sulistyawati dan Esti Nugraheny, 2010; h. 118).
Table 2.2
(apgar score)
SKOR
TANDA
0

1. Appereance (warna

Seluruh tubuh biru

Tubuh merah

Seluruh tubuh

kulit)

atau pucat

ekstremitas biru

kemerahan

2. Pulse (Bunyi jantung)

Tidak ada

< 100

3. Grimace (Refleks)

Tidak ada

> 100

Ekstremitas sedikit Gerakan aktif


fleksi

4. Activity (Aktivitas)

Tidak ada

Sedikit gerak

Menangis kuat

5.Respiratory

Tidak ada

Lambat, tidak

Menangis

(Pernapasan)

teratur

interprestasi
a. Nilai 1-3 asfiksia berat
b. Nilai 4-6 asfiksia sedang
c. Nilai 7-10 asfiksia ringan (normal) (Vivian Nanny Lia Dewi, 2010;
h. 2).

Tabel 2.3
Penaganan Bayi Baru Lahir Berdasarkan APGAR skor
Nilai APGAR lima

Penanganan

menit pertama
0-3

Tempatkan ditempat hangat dan lampu sebagai


sumber penghangat

4-6

7-10

Pemberian oksigen

Resusitasi

Stimulasi

Rujuk

tempatkan dalam tempat yang hangat

pemberian oksigen

stimulasi taktil

dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan bayi


normal.

(Ari Sulistyawati dan Esti Nugraheny, 2010; h. 209).


2.1.5.2 Mencegah Kehilangan Panas
a. Keringkan bayi dengan seksama
b. Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan
rangsangan taktil untuk membantu bayi mulai pernafasannya.
c. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat.
d. Ganti handuk atau kain yang basah oleh cairan ketuban dengan
selimut atau yang baru (hangat, bersih dan kering).
e. Selimuti bagian kepala bayi.
f. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan
bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut
tidak ditutupi (Dwi Maryanti, et. all 2011; h. 3).

2.1.5.3 Pemotongan Tali Pusat


a. Klem dan potong tali pusat setelah 2 menit setelah bayi lahir,
lakukan terlebih dahulu penyuntikan oksitosin, sebelum tali pusat
dipotong.
b. Tali pusat dijepit dengan klem DTT pada sekitar 3 cm dari dinding
perut (pangkal pusat) bayi dari titk jepitan, tekan tali pusat dengan
dua jari kemudian dorong isi tali pusat kearah ibu (agar darah
tidak terpancar pada saat dilakukan pemotongan tali pusat) .
Kemudian jepit (dengan klem kedua) tali pusat pada bagian yang
isinya sudah dikosongkan (sisi ibu), berjarak 2 cm dari tempat
jepitan pertama.
c. Pegang tali pusat diantara kedua klem tersebut, satu tangan
menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi,tangan yang
lain memotong tali pusat diantara kedua klem tersebut dengan
menggunakan gunting DTT atau steril.
d. Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian

melingkarkan

kembali

benang

tersebut

dan

mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi yang lainya.


e. Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan masukan kedalam
larutan 0,5%
f. Kemudian letakan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu untuk
inisiasi menyusu dini dan melakukan kontak kulit ke kulit di dada
ibu (minimal) dalam 1 jam pertama setelah lahir (JNPK-KR
2008).

2.1.5.4 Inisiasi Menyusui Dini


Untuk mempererat ikatan batin antara ibu-anak, setelah dilahirkan
sebaiknya bayi langsung di letakan di dada ibunya sebelum bayi itu
dibersihkan. Sentuhan kulit dengan kulit mampu menghadirkan efek
psikologis yang dalam antara ibu dan anak. Penelitian membuktikan
bahwa ASI ekslusif selama 6 bulan memang baik bagi bayi. Naluri
bayi akan membimbingnya saat baru lahir.
a. Tata Laksana Inisiasi Meyusu Dini
1. Anjurkan suami atau keluarga mendampingi saat melahirkan
2. Hindari penggunaan obat kimiawi dalam proses persalinan
3. Segera keringkan bayi tanpa menghilangkan lapisa lemak putih
(verniks)
4. Dalam keadaan ibu dan bayi tidak memakai baju, tengkurapkan
bayi di dada ibu, luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel
di dada ibu, kepala bayi harus berada diantara dada ibu agar
terjadi sentuhan kulit ibu dan bayi kemudian selimuti kedua
agar tidak kedinginan. Tutup tubuh bayi dari kepala dengan
kain yang kering dan bersih.
5. Anjurkan

ibu

memberi

sentuhan

kepada

bayi

untuk

merangsang bayi mendekati putting.


6. Biarkan bayi bergerak sendiri mencari putting susu ibu.
7. Biarkan kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu
selama

minimal satu jam walaupun proses menyusui telah

terjadi. Bila belum terjadi proses menyusui hingga 1 jam

biarkan bayi berada di dada ibu sampai proses menyusui


pertama kali selesai.
8. Tunda tindakan lain seperti menimbang, mengukur, dan
memberikan suntikan Vitamin K1 sampai menyusui pertama
kali selesai.
9. Proses menyusui dini dan kontak kulit ibu dan bayi harus di
upayakan meskipun ibu melahirkan dengan cara operasi atau
tindakan lain.
10. Berikan ASI saja tanpa minuman atau cairan lain, kecuali ada
indikasi medis yang jelas (Ai Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti,
2012; h.7- 9).
b. Keuntungan Inisiasi Menyusu Dini
1. Bagi bayi
a) Makanan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal agar
colostrum segera keluar yang disesuaikan dengan kebutuhan
bayi.
b) Memberikan kesehatan bayi dengan kekebalan pasif yang
segera kepada bayi. Kolostrum adalah imunisasi pertama
pada bayi.
c) Meningkatkan kecerdasan
d) Membantu bayi mengkoordinasikan isap, telan dan nafas
e) Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi.
f) Mencegah kehilangan panas
g) Meransang kolostrum segera keluar

2. Bagi ibu
a) Meransang produksi oksitosin dan prolaktin
b) Meningkatkan produksi ASI
c) Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi
dalam setiap aspek (Eny Retna Ambarwati dan Diah
Wulandari, 2010; h. 37-38).
2.1.5.5 Penceahan Infeksi
Tindakan pencegahan infeksi tidak terpisah dari komponenkomponen lainya dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi.
Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap asuhan untuk melindungi
ibu, bayi baru lahir keluarga, penolong persalinan dan tenaga
kesehatan lainnya dengan jalan menghindari transmisi penyakit yang
disebabkan oleh bakteri,

virus, dan jamur. Juga upaya untuk

menurunkan resiko terjangkit atau terinfeksi mikroorganisme yang


menimbulkan penyakit- penyakit berbahaya yang hingga kini belum
ditemukan cara pengobatanya, seperti hepatitis, dan HIV/AIDS (
Sarwono Prawirohardjo, 2010; h. 337).
a. Pencegahan infeksi pada tali pusat
upaya ini dilakukan dengan cara merawat tali pusat yang berarti
menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing,
kotoran bayi atau tanah. Pemakaian popok bayi diletakan
disebelah bawah tali pusat. Apabila tali pusat kotor cuci tali pusat
denga air bersih yang mengalir dan sabun, segera dikeringkan
dengan kain kasa kering dan dibungkus dengan kasa tipis yang

steril dan kering. Dilarang membubuhkan atau mengoleskan


ramuan, abu dapur dan sebagainya pada luka tali pusat, sebab akan
menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat berakhir dengan
kematian neonatal. Tanda-tanda infeksi tali pusat yang harus
diwaspadai antara lain kulit sekitar tali pusat kemerahan, ada
pus/nanah berbau busuk. Mengawasi dan segera melaporkan ke
dokter jika ada tali pusat ditemukan perdarahan, pembengkakan,
keluar cairan bernanah tampak bernanah dan berbau busuk.
b. Pencegahan Infeksi Pada Kulit
Beberapa cara yang diketahui dapat mencegah terjadi infeksi pada
kulit bayi baru lahir atau penyakit infeksi lain adalah meletakan
bayi pada dada ibu agar tejadi kontak kulit langsung ibu dan bayi,
sehingga menyebabkan terjadinya kolonisasi mikroorganisme
yang

ada

dikulit

dan

saluran

pencernaan

bayi

dengan

mikroorganisme ibu yang cenderung bersifat nonpatogen, serta


adanya zat antibodi bayi yang sudah terbentuk dan terkandung
dalam air susu ibu ( Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 20-21).
c. Pemberian Salep
Konjungtivitis pada bayi baru lahir sering terjadi terutama pada
bayi dengan ibu yang menderita penyakit menular seksual seperti
gonore dan klamidiasis. Sebagian besar konjungtivitis muncul
pada 2 minggu pertama setelah kelahiran. Pemberian antibiotik
profilaksis pada mata terbukti dapat mencegah terjadinya
konjunprofitis. Profilaksis mata sering digunakan yaitu tetes mata

silver nitrat 1 %, salep mata eritromisin, dan salep mata


tetrasiklin.

Ketiga

prefarat

ini

efektif

untuk

mencegah

konjungtivitis gonore. Saat ini silver nitrat tetes mata tidak


dianjurkan lagi karena sering terjadi efeksamping berupa iritasi dn
kerusakan mata
(Sarwono Prawirohardjo, 2010; h. 371).
d. Imunisasi
Imunisasi hepatiis B untuk mencegah infeksi hepatitis terhadap
bayi terutama jalur penularan ibu bayi. imunisasi Hepatitis B
pertama diberikan 1 jam setelah pemberian vitamin K1, pada saat
bayi berumur 2 jam (JNPK-KR 2008).

2.1.5.6 VIT K
Kejadian perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir
dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25-0,5%. Untuk mencegah
terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal cukup
bulan perlu diberi vitamin K peoral 1mg/hari selama 3 hari,
sedangkan bayi resiko tinggi diberi Vitamin K parenteral dengan
dosis 0,5-1 mg IM (Sarwono Prawirohardjo, 2009; h. 135).
2.1.5.7 Antropometri
a. Pengukuran
Pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, panjang badan dan berat
badan bayi

Pengukuran antropometri minimal meliputi BB(2500-4000 gram)


(Ai Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti, 2012; h.2).
PB (45-50 cm), LK (33-35 cm), LD (30-33 cm)
(Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 30).
2.1.5.8 Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan bagian tubuh
1. Kepala
Ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil, satura, moulase caput
succedaneum, cepal haematoma, hidrosealus, rambut lanugo pada
bahu dan punggung (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 33).
2. Muka wajah
Bayi tampak ekspresi; mata perlihatkan kesimetrisan antara mata
kanan dan mata kiri, perhatikan adanya tanda-tanda perdarahan
berupa bercak merah yang akan menghilang dalam waktu 6
minggu(Ai Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti, 2012; h. 4).
3. Telinga
Jumlah bentuk, posisi, kesimetrisan letak dihubungkan dengan
mata kepala serta adanya gangguan pendengaran
4. Hidung.
Bentuk dan lebar hidung, pola pernafasan, kebersihan.
5. Mulut
Bentuk simetris atau tidak, mukosa mulut kering atau basah, lidah,
palatum, bercak putih pada gusi, reflek mengh isap, adakah labio

atau palatoskisis, trush, sianosis (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h.


33).
6. Leher, Dada, Abdomen.
Melihat adanya cedera akibat persalinan, perhatikan ada tidaknya
kelainan pada pernafasan bayi, karena bayi biasanya masih ada
pernafasan perut.
7. Punggung
Adanya benjolan atau tumor atau tulang punggung dengan lekukan
yang kurang sempurna: bahu , tungkai perlu diperhatikan bentuk,
gerakan, fraktur (bila ekstermitas lunglai/kurang gerak), farices.
8. Kulit dan kuku
Dalam keadaan normal kulit berwarna kemeraan, kadang- kadang
didapatkan kulit yang mengelupas ringan , pengelupasan yang
berlebihan harus diperkirakan kemungkinan adanya

kelainan,

waspada timbulnya kulit yang warnan yang tak rata. Ini dapat
disebabkan karena temperatur dingin, telapak tangan, telapak kaki,
atau kuku yang menjadi biru, kulit menjadi pucat, dan kuning,
bercak- bercak besar ynag terdapat disekitar bokong (mongolian
spot) akan menghilang pada umur 1 tahun, sampai 5 tahun (Ai
Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti, 2012; h. 4).
9. Klavikula dan lengan tangan
Adakah fraktur klavikula, gerakan, jumlah jari.

10. Genetalia

Laki- laki: panjang penis, testis sudah turun berada dalam skrotum,
orifisium uretra di ujung penis, kelainan (fimosis, hispospadia).
Perempuan : labia mayor dan labia minor, klitoris, orifisium
vagina, orifisium uretra, sekret, dan lain - lain
11. Tungkai dan kaki
Gerakan, bentuk simetris atau tidak, jumlah jari, gerakan
(Wafi Nur Muslihatun, 2010; h.33- 34).
12. Anus
Ada atu tidak, posisi, pengeluaran mekonium, abnormalitas
atresia, hisprung, obstruksi, pengeluaran darah (Dwi Maryanti, et.
all, 2012; h. 37).

2.1.5.9 Rawat Gabung


a. Pengertian
Rawat gabung dalah suatu cara perawatan ibu dan bayi yang baru
dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah
ruang , kamar ataau tempat bersama- sama selama 24 jam penuh
dalam seharian. Dengan kata lain, rawat gabung adalah suatu
sistem perawatan ibu dan bayi bersama- sama atau pada tempat
yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu- waktu atau
setiap saat ibu

tersebut dapat menyusui bayinya. Menurut

sifatnya, rawat gabung dibedakan menjadi dua yakni rawat gabung


kontinu, yaitu bayi berda di samping ibu terus menerus, serta

rawat gabung intermiten yaitu bayi hanya sewaktu waktu saja


bersama ibu misalnya pada saat bayi akan menetek saja.
b. Tujuan
Rawat gabung secara umum adalah membina hubungan emosional
antara ibu dan bayi, meningkatkan penggunaan air susu ibu (ASI),
pencegahan infeksi dan pendidikan kesehatan bagi ibu. Dengan
rawat gabung, ibu dapat ibu dapat menyusui bayinya sedini
mungkin, kapan saja, dimana saja bayi membutuhkanya. Ibu dapat
melihat dam memahami cara perawatan bayi secara benar yang
dilakukan oleh petugas, ibu mempuyai pengalaman dalam
merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit, dapat
melibatkan suami secara aktif untuk membantu ibu dalam dalam
menyusui bayinya secara baik dan benar, ibu mendapat
kehangatan emosinal atau batin karena selalu kontak dengan
bayinya.
c. Syarat bayi baru lahir bisa dilakukan rawat gabung, antara lain
bayi lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
Apabila bayi lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan
setelah bayi cukup sehat, reflek menghisap baik, tidak ada tanda
tanda infeksi dan lain-lain. Apabila bayi lahir secara seksio sesaria
dengan pembiusan umum, rawat gabung dilakukan setelah ibu
sadar dan bayi tidak mengantuk, 4-6 jam setelah operasi selesai.
Syarat lain agar bayi baru lahir bisa dirawat gabung, adalah bayi
tidak asfiksia setelah 5 menit pertama ( nilai APGAR lebih dari

tujuh ), umur kehamilan lebih dari atau sama dengan 37 minggu,


berat lahir lebih dari atau sama dengan 2500 gram, tidak terdapat
tanda infeksi intrapartum, bayi dan ibu dalam keadaan sehat
(Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 22).
d. Rawat gabung tidak diperbolehkan pada bayi yang sangat
prematur, bayi dengan berat kuang dari 2000 gram, bayi dengan
sepsis, bayi dengan gangguan nafas, bayi dengan cacat bawaan
berat atau ibu dengan infeksi berat (antara lain tuberculosis,
sepsis). Bayi baru lahir tidak boleh dilakukan rawat gabung
apabila bayi tidak memungkinkan (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h.
22-23).
e. Pelaksanan rawat gabung
Diberbagai situasi daan kondisi bisa berbeda sehingga disini akan
diambil contoh yang bisa dilaksanakan sesuai dengan situasi dan
kondisi setempat yang ada:
a) Di poliklinik kebidanan
1. Ibu-ibu diberikan penyuluhan tentang kebaikan ASI dan
perawatan gabung : perawatan payudara, makanan ibu
hamil dan perawatanya bayi.
2. Lebih baik bila ada ruangan untuk memutar film tentang
cara perawatan payudara, KB, cara memandikan bayi
merawat tali pusat dan lain sebagainya.
3. Melayani konsultasi dalam maslaah kesehatan ibu dan anak
(Dwi Maryanti, et. all 2011; h. 27).

b) Di kamar bersalin
1. Bayi memenuhi syaraat perawatan gabung dilakukan
parawatan bayi baru lahir, seperti biasa, kriteria yang
diambil sebagai patokan untuk dapat dirawat bersama
ibunya adaalah:
a. Nilai APGAR lebih dari 7
b. Berat badan >2500 gram dan<4000 gram
c. Masa kehamilan lebih dari 36 minggu dan kurang dari
42 minggu.
d. Lahir spontan
e. Tidak adaa infeksi intra partum
f. Ibu sehat
g. Tidak ada komplikasi persalinan baik pada ibu maupun
pada baayinya
h. Tidak ada kelainan bawaan yang berat
2. Dalam setengah jam sampai setelah lahir, bayi segera
disusukan kepada ibunya yang belum mendapat
pengeluaran ASI.
3. Memberikan penyuluhan mengenai ASI perawatan gabung
terutama bagi ibu yang belum mendapat penyuluhan
poliklinik.
4. Mengisi status secara lengkap dan benar
5. Persiapan agar ibu dan bayinya dapat bersama-sama
keruangan.

6. Memberitahukan kepada petugas di ruang perinatologi dan


bahwa ada bayi yang akan dirawat serta pengurusan
administrasinya.
c). Di ruang perawatan
1. Bayi diletakan dalam tempat tidur yang ditempatkan
disamping tempat tidur ibu.
2. Petugas harus memperhatikan keadan umum bayi dan
mengenali keadaan-keadaan yang tidak normal serta
kemungkinan melaporkan kepada dokter.
3. Bayi boleh menyusu bila bayi atau ibu menginginkannya.
4. Bayi tidak boleh diberi susu dari botol. Bila bayi terpaksa
atau sesuai dengan indikasi medis bayi dapat diberi susu
formula

dengan

menggunakan

sendok/cangkir

/pipet/sonde lambung.
5. Ibu harus dibantu untuk menyusui bayi dengan baik, juga
merawat payudaranya.
6. Keadaan bayi sehari-hari dicatat dalam status.
7. Bila bayi sakit atu perlu observasi lebih teliti, maka bayi
dipindahkan keruang perawatan khusus bayi baru lahir.
8. Bila ibu dan bayi dan bayi sudah boleh pulang, sekali lagi
diberi penerangan tentang cara-cara merawaat bayi dan
memberikan ASI serta perawatan payudara dan makanan
ibu menyusui. Kepada ibu diberikan brosur yang
berhubungan dengan itu dan dipesan agar memeriksakan

bayinya 1 minggu kemudian (Dwi Maryanti, et. all 2011;


h. 27-28).
f. Model Pengaturan Rawat Gabung
a. Satu kamar dengan satu ibu dan anaknya (model perawatan
kelas).
b. 4-5 orang ibu dalam satu kamar lain bersebelahan, dan bayi
dapat ditarik keluar dari kamarnya tanpa siibu perlu
meninggalkan tempat tidurnya.
c. Beberapa ibu dalam satu kamar dan bayi dipisahkan dalam
ruangan kaca yang kedap suara, sehingga ibu dapat langsung
memperhatikan anaknya dan dapat mengambilnya serta
membawa ketempat tidur semuanya. Cara ini tidak banyak
merubah bentuk ruangan, tinggal kita memberikan penyekatpenyekat

yang diperlukan.untuk

merubah

memudahkan

mobilitas maka tempat tidur bayi diberi roda sehingga mudah


didorong, bentuk ruangan model ini dapat dapat disesuaikan
dengan keadaan setempat.
d. Model dimana ibu dan bayi tidur diatas tempat tidur/kasur
yang sama.
e. Bayi tidur di tempat tidur yang letaknya di samping ibu.
g. Keuntungan dan Kerugian Rawat Gabung
a. Keuntungan
1. Menggalakan pemberian ASI
2. Kontak emosi ibu dan anak lebih dini dan lebih rapat.

3. Ibu dapat segera melaporkan keadaan-keadaan bayi yang


aneh ditempatnya.
4. Ibu dapat belajar cara merawat bayinya
5. Mengurangi

ketergantungan

ibu

pada

petugas

dan

membangkitkan kepercayaan diri lebih besar dalam


perawatan bayi
6. Dapat tukar pengalaman dengan ibu-ibu yang lain,
termasuk dapat menimbulkan motivasi penggnaan KB
7. Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan
sehingga

petugas

bisa

melakukan

pekerjaan

yang

bermanfaat misalnya penyuluhan serta cara perawtan


payudara dan perawatan bayi.

b. Kerugian
1. Ibu kurang dapat istirahat terganggu oleh bayinya sendiri
atau bayi lain menangis
2. Bisa terjadi salah pemberian makan oleh karena pengaruh
rekan-rekannya.
3. Ibu-ibu yang sakit atu kurang tahu hygine/kebersihan
4. Bayi mendapatkan infeksi dari pengunjung
5. Pada pelaksanaan kadang-kadang ada hambatan-hambatan
teknis serta hambatan fasilitas (Dwi Maryanti, et. all 2011;
h. 30-31).

2.1.5.10 Adaptasi Bayi Baru Lahir


1. Perubahan Pernafasan
Berikut adalah tabel mengenai perkembangana sistem pulmonal
sesuai dengan usia kehamilan.
Table 2.4
Perkembangan sistem pulmonal
Usia kehamialan

Perkembangan

24 hari

Bakal paru-paru terbentuk

26-28 hari

Kedua bronkus terbentuk

6 minggu

Lobus ter diferensiasi

12 minggu

Lobus ter diferensiasi

24 minggu

Alveolus terbentuk

28 minggu

Surfaktan terbentuk

34-36 minggu

Struktur paru matang

Ketika

struktur

matang,

ranting

paru-paru

sudah

bisa

mengembang sistem alveoli. Selama dalam uterus, janin


mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta dan
setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.
(Vivian Nanny Lia Dewi, 2010; h. 12).
2. Peredaran darah
Setelah

bayi

lahir

paru

akan

berkembang

yang akan

mengakibatkan tekanan arteriol dalam paru menurun yang


diikuti dengan menurunya tekanan jantung kanan. Kondisi ini
menyebabkan tekanan jantung kiri lebih besar dibandingkan
dengan tekanan jantung kanan, dan hal tersebutlah yang
membuat foramen ovale secara fungsional menutup. Hal ini
terjadi pada jam- jam pertama setelah kelahiran. Oleh karena

tekanan dalam paru turun dan tekanan dalam aorta desenden


naik dan juga karena rangsangan biokimia (PaO2 yang naik).
3. Perubahan metabolisme
Luas permukaan tubuh neonatus relatif lebih luas dari tubuh
orang dewasa, sehingga metabolisme basal per kg berat badan
akan lebih besar. Oleh karena itulah, BBL harus menyesuaikan
diri dengan lingkungan baru sehingga energi dapat diperoleh
dari metabolisme karbohidrat dan lemak. Pada jam-jam pertama
kehidupan, energi didapatkan dari perubahan karbohidrat. Pada
hari kedua, energi berasal dari pembakaran lemak. Setelah
mendapat susu, sekitar di hari keenam energi didapat dari lemak
dan karbohidrat yang masing-masing sebesar 60 dan 40%
(Vivian Nanny Lia Dewi, 2010; h. 14).

4. Perubahan suhu tubuh


Terdapat empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas
tubuh dari bayi baru lahir ke lingkungan.
a. Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya
yang kontak langsung dengan tubuh bayi ( contoh
hilangnya panas tubuh bayi secara konduksi ialah
menimbang bayi tanpa alas) (Wafi Nur Muslihatun, 2010;
h. 13).

b.

Konveksi
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang
sedag bergerak (contoh : hilangnya panas tubuh bayi secra
konveksi ialah membiarkan atau menempatkan bayi di
pinggir jendela, membiarkan bayi baru lahir diruang yang
tepasang kipas angin) (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 13).

c.

Radiasi
Panas dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya ke
lingkungan yang lebih dingin ( pemindahan panas antara
dua objek yang mempunyai suhu berbeda )
Contohnya : bayi mengalami kehilangan panas secara
radiasi ialah bayi baru lahir dibiarkan di rungan dengan air
conditioner (AC) (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 13).
Harus diingat bahwa bayi pada saat lahir mempunyai
suhu 0,5-1C lebih tinggi dibanding suhu ibunya.
Sayangnya tidak jarang bayi mengalami penurunan suhu
tubuh menjadi 35-35,5C dalam 15-30 menit karena
kecerobohan perawat di ruang bersalin. Sebagian besar
penyulit pada neonatus, seperti distress pernapasan,
hipoglikemi, dan gangguan pembekuan darah lebih sering
terjadi dan lebih berat bila bayi mengalami hipotermia.
Masalah tersebut dapat dicegah dengan melakukan
persiapan sebelum kelahiran dengan menutup semua pintu
dan jendela dikamar bersalin dan mematikan AC yang

langsung mengarah pada bayi. Suhu dikamar bersalin


paling rendah 20C, dan harus lebih tinggi jika bayi
prematur. Segera setelah bayi lahir, bayi dikeringkan dan
kemudian diselimuti / dibungkus rapat dengan handuk
hangat. Membiarkan bayi dalam keadaan telanjang seperti
memandikan ataupun

saat melakukan kontak kulit ibu

dengan bayi harus dilakukan dalam ruangan yang hangat


(23-25C) atau dibawah pemanas radian / infant radiant
warmer (Sarwono Prawirohardjo, 2010; h. 368).
d.

Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada
kecepatan dan kelembaman udara (Wafi Nur Muslihatun,
2010; h. 13).
Mencegah kehilangan panas pada bayi.
1) Keringkan bayi dengan seksama
2) Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga
merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi
untuk memulai pernafasannya.
3) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan
hangat.
4) Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan
ketuban dengan selimut atau kain yang baru ( hangat,
bersih, dan kering )
5) Selimuti bagian kepala bayi

6) Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang


relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan
panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
7) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
8) Pelukan

ibu

pada

tubuh

bayi

dapat

menjaga

kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas.


Sebaiknya pemberian asi harus di mulai dalam waktu 1
jam pertama kelahiran.
9) Jangan segera menimbang bayi atau memandikan bayi
baru lahir.
10) Karena bayi baru lahir cepat mudah kehilangan panas
tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan terlebih
dahulu selimuti bayi dengan selimut bersih dan kering
(Dwi Maryanti, et. all 2011; h. 3-4 ).

5. Perubahan pada sistem urinarius


Neonatus harus miksi dalam waktu 24 jam setelah lahir dengan
jumlah urine sekitar 20-30 ml/hari dan meningkat menjadi 100200 ml/ hari pada waktu akhir minggu pertama.
6. Perubahan pada sistem gastrointestial
Kapasitas lambung neonatus sangat bervariasi dan tergantung
pada ukuran bayi, sekitar 30-90 ml. Pengosongan dimulai dalam
beberapa menit pada saat pemberian makanan dan selesai antara
2-4 jam setelah pemberian makanan, dan pengosongan ini

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, waktu dan volume


makanan, jenis dan suhu makanan dan sters fisik. Mekonium
yang ada dalam usus besar sejak 16 minggu kehamilan diangkat
dalam 24 jam pertama kehidupan dan benar-benar dibuang
dalam waktu 48-72 jam . Reflek gumoh dan reflek batuk yang
matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir .
kemampuan neonatus cukup bulan untuk menelan dan mencerna
makanan (selain susu masih terbatas ) (Dwi Maryanti, et. all
2011; h. 19).
7. Hati
Segera setelah lahir, hati menunjukkan perubahan kimia dan
morfologis yang berupa kenaikan kadar protein dan penurunan
kaar lemak serta glikogen. Sel hemopoetik juga mulai
berkurang, walaupun dalam waktu yang agak lama. enzim hati
belum aktif brnar pada waktu bayi baru lahir, daya detoksifikasi
hati pada neonatus juga belum sempurna, contoh pemberian
obat klorofenikol dengan dosis lebih dari 50mg/kgBB/hari dapat
menimbulkan grey baby syndrom (Vivian Nany Lia Dewi, 2010;
h, 15).
8. Perubahan pada sistem reproduksi
Pada neonatus perempun labia mayora dan labia minora
mengaburkan vestibulum dan menutup klitoris. Pda noenatus
laki laki preputium biasanya tidak sepenuhnya tertarik masuk
dan testis sudah turun. Pada bayi laki laki dan perempuan

penarikan estrogen maternal menghasilkan kongesti lokal di


dada dan yang kadang kadang diikuti oleh sekresi susu pada
hari ke 4 atau ke 5. Untuk alasan yang sama gejala haid dapat
berkembang pada bayi perempuan.
9. Perubahan sistem skeletal
Tubuh neonatus kelihatan sedikit tidak proposional, tangan
sedikit lebih panjang dari kaki, punggung neonatus kelihatan
lurus dan dapat ditekuk dengan mudah, neonatus dapat
mengangkat dan memutar kepala ketika menelungkup. Fontanel
posterior tertutup dalam waktu 6 8 minggu. Fontanel anterior
tetap terbuka hingga usia 18 bulan.
10. Perubahan sistem neuromuskular
Dibandingkan dengan sistem tubuh lain, sistem saraf neonatus
baik secara anatomi maupun fisiologi. Ini menyebabkan
kegiatan refleks spina dan batang otak dengan kontrol minimal
oleh lapisan luar serebrum pada bulan bulan awal walaupun
interaksi sosial terjadi lebih awal. Setelah nneonatus lahir,
pertumbuhan otak memerlukan persediaan oksigen dan
glukosa yng tetap dan memadai. Otak yang masih muda rentan
terhadap hipoksia, keseimbangan biokimia, infeksi dan
perdarahan (Dwi Maryanti, et. all 2011; h. 23).

2.1.6

Reflek Pada Bayi


2.1.6.1 Refleks
Refleks yaitu suatu gerakan yang terjadi secara otomatis
dan spontan tanpa disadari. Pada bayi normal beberapa
refleks pada bayi baru lahir meliputi:
a. Rooting refleks; yaitu reflek mencari putting susu.
b. Suckling refleks; yaitu reflek menghisap areola putting
susu tertekan dagu bayi, lidah dan langit-langit
sehingga sinus laktiferus tertekan dan memancarkan
ASI.
c. Moro refleks; refleks yang timbul diluar kemauan?
Kesadaran bayi.
d. Grasping refleks; bila jari kita menyentuh telapak
tangan

bayi,

maka

jari-jarinya

akan

langsung

menggenggam sangat kuat.


e. Tonik neek refleks; yaitu gerakan spontan otot kuduk
pada bayi

normal.

f. Stapping reflek; reflek kaki secara spontan apabila


bayi diangkat tegak dan kakinya satu persatu
disentuhkan pada satu dasar maka bayi seolah-olah
berjalan.
g. Startle reflek; reaksi emosional berupa hentakan dan
gerakan seperti mengejang pada lengan dan tangan

dan seiring diikuti dengan tangisan. (Ai Yeyeh


Rukiyah dan Lia Yulianti, 2012; h. 63).
h. Babinsky reflek; gerakan jari sepanjang telapak kaki
(Vivian Nanny Lia Dewi, 2010; h. 26).

2.1.7

Tanda Bahaya Pada Bayi


2.1.7.1 Pernafasan sulit atau lebih dari 60 x permenit.
2.1.7.2 Terlalu hangat ( > 38 C ) atau telalu dingin (< 36 C ).
2.1.7.3 Kulit bayi kering (terutama 24 jam pertama) biru, pucat
atau memar.
2.1.7.4 Hisapan saat menyusui lemah, rewel, sering muntah,
mengantuk berlebihan.
2.1.7.5 Talipusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk,
berdarah.
2.1.7.6 Tanda tanda infeksi seperti suhu tubuh meningkat,
merah bengkak, bau busuk, keluar cairan, pernafasan sulit.
2.1.7.7 Tidak BAB dalam 3 hari, tidak BAK dalam 24 jam, tinja
lembek/encer, sering berwarna hijau tua, ada lendir atau
darah.
2.1.7.8 Mengigil, rewel, lemas mengantuk, kejang, tidak bisa
tenang, menangis terus menerus (Ai Yeyeh Rukiyah, dan
Lia Yulianti, 2012; h. 37).

BAGAN A :
MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR NORMAL
PENILAIAN :
a.
b.
c.
d.

Bayi cukup bulan


Air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium
Bayi menangis atau bernafas
Tonus otot bayi baik

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jaga kehangatan
Bersihkan jalan nafas (bila perlu)
Keringkan dan tetap jaga kehangatan
Potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapaun, kira
kira 2 menit* setelah lahir.
Lakukan inisiasi menyusui dini dengan cara kontak kulit bayi
dengan kulit ibu.
Beri salep mata antibiotik tetrasiklin 1% pada kedua mata.
Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, dipaha kiri
anteroteral setelah inisiasi menyusui dini.
Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular, dipaha kanan
anterolateral, diberikan kira kira 1 2 jam setelah pemberian
vitamin K1

pemotongan dan pengikatan tali pusat pada bayi baru lahir normal,
dilakukan sekitar 2 menit setelah bayi lahir (atau setelah bidan
menyuntikan oksitosin kepada ibu), untuk memberi cukup waktu bagi tali
pusat mengalirkan darah kaya zat besi kepada bayi.
(JNPK, Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, 2008).

2.2 TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN


Menejemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut menajemen
kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis
dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua
belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan, keterampilan, dalam rangkaian
tahap-tahap yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus
terhadap klien.
Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan
oleh Helen Varney dalam buku Varneys Midwifery, edisi ketiga tahun
1997, menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri
dari tujuh langkah yang berturut secara sistematis dan siklik (Suryani
Soepardan, 2008; h. 96).

1.2.1 Langkah Dalam Manajemen Kebidanan Menurut Varney


2.2.1.1 Langkah I: Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang
akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara
anamnesa,
penunjang.

pemeriksaan

fisik

khusus

dan

pemeriksaan

Tahaap ini merupakan langkah awal yang menentukan langkah


berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus
yang dihadapi yang akan menentukan proses interprestasi yang
benar atau tidak dalam tahap selanjutnya. Sehingga dalam
pendekatan ini harus komprehensif meliputi data subyektif,
obyektif,

dan

hasil

pemeriksaan

sehingga

dapat

menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya falid (Dwana


Estiwidani, et. all, 2008; h. 134).
a.

Data Subjektif
1) Identitas Orang tua
a) Umur
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah
ibu dalam persalinan berisiko karena usia atau
tidak (Ari Sulistiyawati dan Esti Nugraheny,
2010 h; 220).
b) Agama
Memudahkan bidan melakukan pendekatan
dalam melaksanakan asuhan kebidanan.
c) Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan
untuk

mengetahui

intelektualnya.

sejauh

mana

tingkat

d) Suku/bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan
sehari-hari.
e) Pekerjaan
Gunanya untuk mengetahui kemungkinan
pengaruh pekerjaan terhadapa permasalahan
kesehatan pasien.
f) Alamat
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan
rumah bila diperlukan (Dwana Estiwidani, et.
all, 2008; h. 140-141 ).
2) Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan bayi baru lahir yang penting
dan harus dikaji, adalah:
a) Faktor genetik, meliputi kelaianan/gangguan
metabolik pada keluarga dan sindrom genetik
b) Faktor maternal (ibu), meliputi adanya penyakit
jauntung, diabetes mellitus, penyakit ginjal,
penyakit hati, hipertensi, penyakit kelamin,
riwayat

penganiayaan,

riwayat

abortus,

RH/isoimunisasi.
c) Faktor antenatal, meliputi pernah ANC/tidak,
adanya
infeksi,

riwayat

perdarahan,

perkembangan

preeklamsia,

janin

terlalu

besar/terganggu,

diabetes

gestasional,

poli/oligohidramnion.
d) Faktor perinatal, meliputi premature/postmatur,
partus

lama,

penggunaan

obat

selama

persalianan, gawat janin, suhu ibu meningkat,


posisi

janin

bercampur

tidak

mekonium,

normal,

aor

ketuban

amnionitis,

ketuban

pecah dini (KPD), perdarahan dalam persalinan,


prolapsus tali pusat, ibu hipotensi, asidosis
janin, jenis persalinan (Wafi Nur Muslihatun,
2010; h. 252)
b.

Data objektif
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan data yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan bayi baru lahir.
Pengkajian pada bayi baru lahir dibagi menjadi 2 bagian
yaitu pengkajian segera setelah lahir, dan pengkajian
keadaan fisik untuk memastikan bayi dalam keadaan
normal atau mengalami komplikasi (Varney. 1997) (Ai
Yeyeh Rukiyah dan Lia Yulianti, 2012; h. 5).
Pengkajian bayi baru lahir adalah sebagai berikut
1. Pernafasan/tangisan.
Pernapasan BBL normal 30-60 kali per menit,
tanpa retraksi dada dan tanpa suara merintih pada

fase ekspirasi. (Wafi Nur Muslihatun , 2010; h.


252).
2. Warna kulit.
Sesaat setelah bayi baru lahir bidan melakukan
penilaian sekilas untuk menilai kesejahtaraan
bayi umum. Aspek yang dinilai warna kulit dan
tangis bayi, jika warna kulit adalah kemerahan
dan bayi dapat menangis spontan maka ini sudah
cukup untuk dijadikan data awal bahwa dalam
kondisi

baik

(Ari

Sulistyawati

dan

Esti

Nugraheny, 2012; h. 118).


3. Tonus otot/tingkst kesadaran
Rentang normal tingkat kesadaran BBL adalah
mulai dari diam hingga sadar penuh dan dapat
ditenangkan jika rewel. Bayi dapat dibangunkan
jika diam atau sedang tidur.
b.

Pemeriksaan fisik
Dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami
masalah apa pun, lakukanlah pemeriksaan fisik yang
lebih lengkap.
a. Kepala:

Ubun-ubun,

sutura,

succedaneum, cephal haematoma.


b. Muka : tanda-tanda parsialis

molase,

caput

c. Mata : keluar nanah, bengkak pada kelopak mata,


perdarahan subkonjungtiva dan kesimetrisan.
d. Telinga : kesimetrisan letak dihubungkan dengan
mata dan kepala.
e. Hidung : kebersihan, palatoskisis.
f. Mulut:

labio/palatoskisis,

trush,

sianosis,

mukosa, kering/basah
g. Leher: pembengkakan dan benjolan
h. Klavikula dan lengan tangan: gerakan, jumlah jari
i. Dada: bentuk dada, putting susu, bunyi jantung
dan pernapasan.
j. Abdomen :penonjolan sekitar tali pusat, jumlah
pembuluh darah pada tali pusat, dinding perut
dan

adanya

benjolan,

distensi,

gastrskisis,

omfalokel, bentuk.
k. Genetalia:

kelamin

laki-laki:

testis

dalam

scortum, penis berlubang dan berada di ujung


penis. Kelamin perempuan: vagina, uretra
berlubang, labia mayor dan labia minor.
l. Tungkai dan kaki: gerakan, bentuk dan jumlah
jari.
m. Anus: berlubang/tidak, fungsi spingter ani
n. Punggung: spina bifida, mielomeningokel

o. Reflek:morro, rooting, walking,graphs, sucking,


tonicneck
p. Antropometri: BB, PB, LK, LD, LILA
q. Eliminasi: BBL normal biasanya kencing lebih
dari 6 -8 kali per hari. BBL normal biasanya
BAB cair 6-8 kali per hari. Dicurigai diare
apabila frekuensi meningkat, tinja hijau atau
mengandung lendir atau darah (Wafi Nur
Muslihatun, 2010; h. 252-254).
2.2.1.2 Langkah II: Interpretasi Data
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara
benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien.
Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan
berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar
2.2.1.3 Langkah III: Mengidentifikasi Diagnose Atau Masalah
Potensial
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah
atau diagnosis potensial yang lain berdasarkan beberapa
masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi
(Moh Willdan dan A. Azziz Alimul Hidayat, 2008; h. 37).

2.2.1.4 Langkah IV: Mengidentifikasi Dan Menetapkan Kebutuhan


Yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan/atau ada hal yang perlu dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain
sesuai kondisi bayi (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h. 255).
2.2.1.5 Langkah V : Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Pada langkah ini di rencanakan asuhan yang menyeluruh, di
tentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnose atau
masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada
langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap
dapat dilengkapi.
2.2.1.6 Langkah VI: Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh sepeti
yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakn
secara efisien dan aman. Perencanaan ini dilakukan
seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau
anggota

tim

kesehatan

lainya.

Walau

bidan

tidak

melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk


mengarahkan pelaksanaan misalnya memastikanlangkahlangkah tersebut benar terlaksana (Dwana Estiwidani, et. all
2008; h. 137).

2.2.1.7 Langkah VII: Evaluasi


Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan,
yakni dengan melakukan evaluasi dari perencanaan maupun
pelaksanaan yang dilakukan bidan.
Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secar
terus menerus untuk meningkatkan pelayanan secara
komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi
atau kebutuhan klien (Moh Wildan dan A. Aziz Alimul
Hidayat, 2008; h. 39).
2.3

Landasan Hukum Kewenangan Bidan


Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.900/menkes/SK/VII/2002
bidan dalam menjalankan praktik profesinya berwenang untuk
memberikan pelayanan yang meliputi
2.3.1 Pelayanan kesehatan pada anak meliputi:
2.3.1.1. Pelayanan neonatal esensial dan tata laksana neonatal
sakit di luar rumah sakit yang meliputi:
1) Pertolongan persalinan yang traumatik, bersih dan
aman
2) Menjaga tubuh bayi tetap hangat dengan kontak
dini
3) Membersihkan jalan nafas, mempertahankan bayi
bernafas spontan
4) Pemberian ASI dini dalam 30 menit setelah
melahirkan

5) Mencegah infeksi pada bayi baru lahir antara lain


melalui perawatan tali pusat secara higienis,
pemberian imunisasi dan pemberian ASI ekslusif
2.3.1.2 Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir
dilaksanakan pada bayi 0-28 hari
2.3.1.3 Penyuluhan kepada ibu tentang pemberian ASI
ekslusif untuk bayi di bawah 6 bulan dan makanan
pendamping ASI (MPASI) untuk bayi di atas 6 bulan
2.3.1.4 Tindakan yang termasuk dalam kewenangan bidan
antara lain
a. Memberikan imunisasi kepada bayi
b. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
c. Hipotermi pada bayi baru lahir
(Sofyan, et. all, 2006; h. ).

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUAHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR


TERHADAP BY. NY. A SEGERA SETELAH LAHIR
DI RB KARTINI KAMPUNG SAWAH
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

Oleh

: Lilis Ayuningsih

NIM

: 201207096

Tanggal

: 03 April 2015

Pukul

: 05.55 WIB

Tempat

: RB Kartini. Kampung Sawah

1. PENGKAJIAN
A. DATA SUBJEKTIF
a) Identitas
Biodata Bayi
Nama

: Bayi Ny. A

Tanggal lahir

: 03 April 2015

Pukul

: 05.55 WIB

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Anak Ke

:2

Biodata Orang Tua


Istri

Suami

Nama

: Ny. A

Tn. S

Umur

: 30 Tahun

33 Tahun

Agama

: Islam

Islam

Suku/bangsa

: Lampung

Lampung

Pendidikan

: SMA

SMA

Pekerjaan

: IRT

Wiraswasta

Alamat

: Kedamaian

Kedamaian

Bandar Lampung

Bandar Lampung.

b) Riwayat antenatal
G2 P1A0 umur kehamilan 38 minggu 5 hari
Riwayat ANC : Teratur TM1 1 ,TM2 2 ,TM3 2x
Imunisasi TT : Ya, 2x selama kehamilan.

Keluhan Saat Hamil


TM 1

: Mual dan sering kencing

TM 2

: Tidak ada

TM 3

: Sering Kencing dan Pegel pegel pada pinggang.

Penyakit Selama Hamil


DM

: Tidak ada

Hepatitis

: Tidak ada

Tuber kulosis

: Tidak ada

HIV / AIDS

: Tidak ada

Kebiasaan
Minum obat / jamu

: Tidak ada

Merokok

: Tidak ada

Komplikasi ibu
Hiperemesis

: Tidak ada

Pendarahan

: Tidak ada

Preeklmasia

: Tidak ada

Eklamsia

: Tidak ada

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum

: Baik

Warna kulit

: Kemerahan

Menangis

: Spontan

Tonus aktif

: Aktif

2. Data penunjang
Lahir tanggal

: 03 04 2015

Jam

: 05.55 WIB

Jenis persalinan

: Spontan

Penolong

: Bidan

Lama persalinan

: Kala 1 : 6 jam 15 menit


Kala II : 30 menit
Kala III: 10 menit
Kala IV: 2 Jam

Jumlah

:8 jam 55 menit

Komplikasi ibu
a. Hipertensi / hipotensi

: Tidak ada

b. Partus lama

: Tidak ada

c. Penggunaan obat

: Tidak ada

d. Infeksi / suhu badan naik

: Tidak ada

e. KPD

: Tidak ada

f. Pendarahan

: Tidak ada

Komplikasi janin

a. Prematur / postmatur

: Tidak ada

b. Malposisi / mal

: Tidak ada

c. Gawat janin

: Tidak ada

d. Ketuban campur mekonium : Tidak ada


e. Prolaps tali pusat

: Tidak ada

Tabel 3.1
MATRIKS
Hari
Tgl/
Jam

1. 03 04
2015,
pukul
05.55
WIB

Pengkajian

Ds:
ibu
mengatakan
senang
atas
kelahiran anak
keduannya
Do:
penilaian
selintas, warna
kulit
kemerahan,
menangis
spontan

Interprestasi
Data (diagnosa,
Masalah, Kebutuhan)
DX.: By. Ny. A Segera
setalah lahir cukup
bulan sesuai masa
kehamilan.

Dx potensial/
Masalah
potensial
asfiksia

Antisipasi /
Tindakan
Segera
Pecegahan
asfiksia

Intervensi

Implementasi

1.

Keringkan
bayi
dari
lendir dan
darah

2.

Lakukan
pemotongan
dan
pengikatan
tali pusat

1.

Ds:ibu mengatakan
UK 38 minggu 5 hari.
DO:Bayi lahir tanggal
03-04-2015
Pukul 05.55 WIB
JK : laki-laki
Masalah: tidak ada
Kebutuhan : asuhan
bayi segera setalah
lahir

2.

3. Berikan
kepada

bayi
ibu

Mengeringkan bayi
dari lendir dan
darah dengan cara
menggunakan kain
bersih
secara
seksama dari kepala
hingga kaki bayi
lalu
mengganti
dengan
handuk
kain yang baru.

Melakukan
pemotongan
tali
pusat dengan cara
mengurut tali pusat
5 cm kearah bayi
lalu klem 3cm dari
bayi
lalu
urut
kembali 5 cm dari
klem
pertama
kearaah ibu lalu

Evaluasi

1.

Bayi telah dikeringkan


dari lendir dan darah
dan telah mengganti
dengan kain yang baru.

2.

Pemotongan tali pusat


dan penjepitan
menggunakan klem
plastik tali pusat telah
dilakukan

dengan
teknik
skin to skin untuk
IMD

klem 2cm dari klem


pertama,
lalu
melakukan
pemotongan
tali
pusat dan menjepit
tali
pusat
menggunakan klem
plastik tali pusat
yang steril.

3.

4. Berikan
salep
mata pada bayi.

Memberikan bayi
kepada ibu dengan
teknik skin to skin
untuk melakukan
IMD dengan cara
ibu dan bayi tidak
memakai
buju,
tengkurapkan bayi
didada ibu agar
terjadi
sentuhan
kulit ibu dan bayi
dan
kemudian
selimuti keduanya
agar
tidak
kedinginan.
Anjurkan ibu untuk
memberikan
sentuhan
kepada
bayi
untuk
meragsang
bayi
mendekati puting
ibu lalu biarkan

3.

IMD telah dilakukan


selama 1 jam.

5.

bayi
mencari
sendiri puting susu
ibunya.
biarkan
kulit
bayi
bersentuhan
langsung
dengan
kulit
ibunya
minimal 1 jam
walaaupun proses
menyusui
telah
terjadi. Bila belum
terjadi
proses
menyusu hingga 1
jam, biarkan bayi
berada di dada ibu
sampai
proses
menyusui pertama
selesai. Dan saat
melakukan
IMD
dilakukan penilaian
reflek pada bayi
yang meliputi :
1. Rooting
(+),
pada saat bayi
menyusu
2. Sucking(+)
pada saat bayi
menyusu
3. Swallowing (+)
pada saat bayi
menyusu

Berikan Vit.
K pada bayi

6. Ukur atropometri
bayi

7. Lakukan
pemeriksaan
umum pada bayi
4.

Memberi

salep

4.

Salep mata telah


diberikan.

mata
dengan
tetracylin 1% .
pemberiannya
dengan
cara
memberi salep mata
dalam 1 garis lurus
mulai dari bagian
mata yang paling
dekat
dengan
hidung bayi munuju
keluar mata. Pada
saat
pemberian
ujung salep mata
tidak
boleh
menyentuh
mata
bayi dan jangan
menghapus salep
mata dari mata bayi
dan
anjurkan
keluarga
untuk
tidak
menghapus
salep mata tersebut.
diberikan ini untuk
mencegah
infeksi
pada mata bayi.

8. Lakukan
pemeriksaan fisik
secara head to
toe.

5.
5.

Memberikan injeksi
vitamin
K1(fetamenabion)
injeksi
1
mg
intramuskuler 1/3
paha kiri bayi untuk
mencegah

Vitamin K telah
diberikan.

terjadinya
perdarahan
pada
BBL
akibat
defisiensi vitamin
K yang dialami
oleh BBL.

6.

Mengukur
antropometri
bayi

6.
pada

Bayi telah diukur


antropometri dengn
hasil sebagai berikut :

BB :3600 gram
PB :52 cm
LK : 34 cm
LD : 33 cm
Lila : 11 cm

7.

Melakukan
pemeriksaan umum
pada bayi,

7.

Hasil dari pemeriksaan


umum pada bayi dalam
keadaan nornal. Yang
didapatkan hasil
sebagai berikut :

Pernapasan : 40x/menit
suhu axila
: 36 ,5c

denyut jantung : 120


x/menit
warna kulit : kemerahan
turgor kulit
: elastis
tonus otot
: baik
gerakan
: aktif

9. Lakukan
pembedongan
pada bayi

10. Lakukan
rawat
gabung pada ibu
dan bayi.

8.

Melakukan
pemeriksaan fisik
secara head to toe

8.

Pemeriksaan fisik telah


dilakukan
dan
didapatkan hasil yaitu :

a.

Kepala
Ubun-ubun : datar
Caput succedaneum :
tidakada,

11. Beritahu ibu


kapan harus
kunjungan
ulang yaitu
pada tgl 9
april 2015

Cepal
haematoma:
tidak ada
b.

Muka : simetris kanan


dan kiri

c.

Mata
Simetris
: simetris
kanan
dan
kiri
Kelopak mata : ada
Secret
: tidak ada
Konjungtiva : merah

muda, Sklera : putih


d.

Telinga
Simetris : simetris,
Lubang : ada

e.

Hidung
Palatoskisis : tidak
ada, Lubang : ada,
Septum : ada

f.

Mulut
Sianosis : tidak ada
Mukosa : lembab
Labioskisis : tidak ada

g.

Leher
tidak ada pembesaran
kelenjar limfe dan
tiroid.

h.

Klavikula dan lengan


tangan
Gerakan : aktif
Jumlah jari : lengkap

i.

Dada

Bentuk : simetris
Puting susu : ada
Auskultasi : tedengar
lup dup
j.

Abdomen
Tali pusat : tdak ada
perdarahan
Kelainan : tidak ada

k.

Genetalia
Laki-laki
Penis berlubang;ada
Testis dalam scrotum
:ada

l.

Tungkai dan kaki :


simetris kanan dan kiri
Gerakan : aktif
Jumlah jari lengkap
normal

m. Anus : positif
n.

Punggung

Bentuk : simetris
Kelainan : tidak
ada
o.

Kulit
Venick caseosa : iya ,
Oedema : tidak ada
Kelainan : tidak ada

p.

Reflek
Moro :positif
Rooting : positif
Sucking :positif
Swalowing : positif
Graps : positif
Tonickneck : positif
Babinski : positif

9.

Melakukan
pembedongan pada
bagi
unutk
mencegah
hipotermi pada bayi

9.

Bayi telah dibedong

10. Melakukan rawat


gabung pada ibu
dan bayi dengan
memberikan bayi
pada ibu untuk
rawat gabung agar
lebih terjalin ikatan
batin antara ibu dan
anak. Selain itu
agar
ibu
lebih
mudah memberikan
asi pada bayinya,
serta
dapat
mengurangi
kemungkinan
adanya
perasaan
bahwa ibu tidak
mampu
merawat
bayinya

11. Memberi tahu ibu


kapan
harus
kunjungan
ulang
yaitu pada tgl 9
april 2015 untuk
pemberian Hb 0.

10. Rawat gabung telah


dilakukan.

11. Ibu bersedia datang


pada tgl 9 april 2015.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
Pada pengkajian yang dilakukan untuk menyimpulkan data dasar
tentang keadaan pasien pada By. Ny. A dengan Asuhan kebidanan
pada bayi baru lahir terhadap By. Ny. A segera setalah lahir di RB
Kartini Kampung Sawah Bandar Lampung Tahun 2015, didapatkan
hasil sebagai berikut :
4.1.1 Data Subyektif
4.1.1.1 Identitas
1. Umur Bayi
a. Tinjuan Teori
Neonatus adalah bayi berumur 0 (baru lahir)
sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir.
Neonatus dini adalah bayi 0-7 hari. Neonatus
lanjut adalah bayi berusia 7-28 hari (Wafi Nur
Muslihatun, 2010).
b. Tinjuan Kasus
Dari kasus diatas By. Ny. A segera setelah lahir
(0 hari).

c. Pembahasan

Dari tinjuan kasus dan tinjuan teori tidak terdapat


kesenjangan karena By. Ny. A segera setelah
lahir berusia 0 hari atau disebut juga neonatus.
2. Umur Ibu
a.

Tinjauan Teori
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah
ibu dalam persalinan berisiko karena usia atau
tidak (Ari Sulistiyawati, 2010; h. 220).

b.

Tinjauan Kasus
Dari kasus ini Ny. A berumur 30 tahun

c.

Pembahasan
Pada tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat

kesenjangan

karena

berdasarkan

tinjauan teori untuk mengetahui adanya resiko


seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi
belum matang, mental dan psikisis belum siap.
Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentang
sekali untuk terjadi komplikasi sedangakan pada
kasus ini Ny. A

berusia 30 tahun tidak

termaksud faktor resiko kehamilan yang dapat


membahayakan ibu maupun janin, sehingga
pada saat persalinan keadaan ibu dan bayi dalam
keadaan baik.
4.1.1.2 Riwayat Kesehatan

1. Faktor Antenatal
a. Tinjuan Teori
Faktor antenatal, meliputi pernah ANC/tidak,
adanya riwayat perdarahan, preeklamsia,
infeksi,

perkembangan

besar/terganggu,

diabetas

janinterlalu
gestasional,

poli/oligohidramnion (Wafi Nur Muslihatun,


2010; h. 30).
b. Tinjuan Kasus
Dari kasus ini data faktor antenatal yang
dimiliki yaitu Ny. A telah melakukan
kunjungan teratur TM1 1 kali, TM2 2 kali,
TM3 2 kali, tidak ada riwayat perdarahan,
preeklamsia, infeksi, dan poli/oligohidramnion.

c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat

kesenjangan

karena

minimal

kunjungan ANC adalah 4 kali, dan hasil


pengkajian Ny. A

melakukan kunjungan

teratur TM1 1 kali, TM2 2 kali, TM3 2 kali dan


tidak memiliki riwayat riwayat komplikasi
kehamilan sehingga Ny. A tidak mengalami
penyulit dalam proses persalinan.

2. Faktor Maternal
a. Tinjuan Teori

Faktor maternal (ibu), meliputi adanya


penyakit jantung, diabetes mellitus, penyakit
ginjal, penyakit hati, hipertensi, penyakit
kelamin,

riwayat

abortus,

penyaniayaan,

RH/isoimunisasi

riwayat

(Wafi

Nur

Muslihatun, 2010; h. 30).


b. Tinjauan Kasus
Dari kasus ini faktor maternal Ny. A tidak
memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus,
penyakit hati, hipertensi dan lain-lain.
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat

kesenjangan

karena

dalam

pengkajian Ny. A tidak memiliki riwayat


penyakit yang disebutkan diatas, sehingga
pada saat persalinan kondisi ibu dan bayi
dalam keadaan baik.

3.

Riwayat Perinatal
a.

Tinjauan Teori
Faktor

perinatal,

prematur/postmatur,

meliputi
partus

lama,

penggunaan obat selama persalinan, gawat

janin, suhu ibu meningkat, posisi janin tidak


normal, air ketuban pecah dini (KPD),
perdarahan dalam persalinan, prolapsus tapi
pusat, ibu hipotensi, asidosis janin, jenis
persalinan (Wafi Nur Muslihatun, 2010; h.
30).
b.

Tinjauan Kasus
Dari kasus ini faktor perinatal yaitu By. Ny.
A lahir cukup bulan, tidak gawat janin posisi
dalam

keadaan

normal,

ketuban

tidak

bercampur mekonium dan tidak mengalami


prolapsus tali pusat.
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat kesenjangan karena By. Ny. A lahir
cukup bulan, tidak gawat janin posisi dalam
keadaan normal, ketuban tidak bercampur
mekonium dan tidak mengalami prolapsus
tali pusat sehingga persalianan berjalan
dengan baik dan bayi lahir normal.
4.1.2

Data Objektif
4.1.2.1 Penilaian Sekilas Pada Bayi Baru Lahir
1.

Warna Kulit
a.

Tinjauan Teori

Sesaat

setelah

bayi

baru

lahir

bidan

melakukan penilaian sekilas untuk menilai


kesejahtaraan bayi umum. Aspek yang dinilai
warna kulit dan tangis bayi, jika warna kulit
adalah kemerahan dan bayi dapat menangis
spontan maka ini sudah cukup untuk
dijadikan data awal bahwa dalam kondisi
baik (Ari Sulistyawati dan Esti Nugrahenny,
2012; h. 118).
b. Tinjauan Kasus
Pada kasus ini By. Ny. A segera setelah lahir
warna tubuh kemerahan.
c. Pembahasan
Pada tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat kesenjangan karena warna kulit
kemerahan

sesaat

setelah

lahir

dapat

dijadikan salah satu data awal menandakan


bayi lahir dalam kondisi baik dan By. Ny. A
lahir dengan warna kulit kemerahan sesaat
setelah lahir sehingga By. Ny. A lahir dalam
keadaan baik.
2.

Penapasan / Menangis Spontan


a. Tinjauan Teori

Pernapasan BBL normal 30-60 kali per


menit, tanpa retraksi dada dan tanpa suara
merintih pada fase ekspirasi. (Wafi Nur
Muslihatun, 2010; h. 252).
b. Tinjauan Kasus
Dari kasus ini By. Ny. A segera setalah
lahir langsung menangis spontan.
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terjadi

kesenjangan

karena

menangis

spontan sesaat setelah bayi lahir dapat


dijadikan salah satu data awal bahwa bayi
lahir dalam kondisi baik dan By. Ny. A
menangis

spontan sesaat

segera lahir

dengan demikian By. Ny. A lahir dalam


kondisi baik.

4.2 Diagnosa, Masalah Dan Kebutuhan


4.2.1 Diagnosa Kebidanan
a. Tinjauan Teori
Menurut tinjauaan teori langkah ini dilakukan dengan
mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau
masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang

spesifik dapat ditemukan berdasarkan interprestasi yang


benar terhadap data dasar (Moh Wildan dan A. Aziz Alimul
Hidayat, 2008; h. 37).
b. Menurut tinjauan kasus
Didapatkan diagnosa : By. Ny A segera setelah lahir sesuai
masa kehamilan.
Masalah : tidak ada
Kebutuhan : asuhan segera setelah lahir.
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena bayi lahir dalam keadaan normal dan
tanpa komplikasi.
4.3 Idenifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
a. Tinjauan Teori
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau
diagnosis potensial yang lain berdasarkan beberapa masalah dan
diagnosis yang sudah diidentifikasi (Moh Wildan dan A. Aziz
Alimul Hidayat, 2008; h. 37).
b. Tinjauan kasus
Pada kasus By. Ny. A identifikasi diagnosa dan masalah potensial
adalah Asfiksia
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena diagnosa potensial yang mungkin terjadi adalah asfiksia

bila tidak dilakukan nya penanganan yang baik dan benar pada bayi
baru lahir yaitu bayi Ny.A.
4.4 Identifikasi Tindakan Segera
a. Tinjauan teori
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter
dan/atau ada hal yang perlu dikonsultasikan atau ditangani bersama
dengan anggota tim kesehatan lain sesuai kondisi bayi (Wafi Nur
Muslihatun, 2010; h. 255).
b. Tinjauan kasus
Pada kasus By. Ny. A tindakan segera yang dilakukan yaitu
pencegahan asfiksia
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena mengidentifikasi adanya asfiksia pada BY. Ny. A perlunya
tindakan segera oleh bidan yaitu pencegahan asfiksia pada BY. Ny.
A.

4.5 Perencanaan
a. Tinjauan kasus
Pada langkah ini di rencanakan asuhan yang menyeluruh, di
tentukan

oleh

langkah-langkah

sebelumnya.

Langkah

ini

merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnose atau masalah


yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini

informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi


(Dwana Estiwidani, et. all, 2008; h. 137).
1.

Jaga kehangatan

2.

Bersihkan jalan nafas (bila perlu)

3.

Keringkan dan tetap jaga kehangatan

4.

Potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapaun, kira


kira 2 menit setelah lahir.

5.

Lakukan inisiasi menyusui dini dengan cara kontak kulit bayi


dengan kulit ibu.

6.

Beri salep mata antibiotik tetrasiklin 1% pada kedua mata.

7.

Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, dipaha kiri


anteroteral setelah inisiasi menyusui dini.

8.

Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular, dipaha kanan


anterolateral, diberikan kira kira 1 2 jam setelah
pemberian vitamin K1

(JNPK,Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, 2008).

b. Tinjauan kasus
Pada kasus BY Ny. A telah diberikan beberapa perencanaan yaitu:
1. Keringkan bayi dari lendir dan darah
2.

Lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat

3. Berikan bayi kepada ibu dengan teknik skin to skin untuk IMD
4. Berikan salep mata pada bayi.
5. Berikan Vit. K pada bayi

6. Ukur antropometri bayi


7. Lakukan pemeriksaan umum pada bayi
8. Lakukan pemeriksaan fisik secara head to toe
9. Lakukan pembedongan pada bayi
10. Lakukan rawat gabung pada ibu dan bayi .
11. Bari tahu ibu kapan harus kunjungan ulang
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan
karena perencanaan merupakan langkah dari lanjutan dari masalah
atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau antisipasi dan pada
kasus By. Ny. A perencanaan dibuat sesuai kebutuhan pada By.
Ny. A yang merupakan langkah lanjutan dari masalah atau kondisi
bayi. Adapun beberapa rencana asuhan yang tidak termaksud
kedalam

tinjauan

teori

seperti

pengukuran

antropometri,

pemeriksaan fisik, pembedongan dan rawat gabung merupakan


kebutuhan yang dibutuhkan By. Ny. A saat itu dan untuk
pemberian imunisasi Hepatitis B tidak diberikan karena imunisasi
Hepatitis B akan diberikan pada kunjungan berikutnya.
4.6 Pelaksanaan
4.6.1 Pelaksanaan Asuhan
a. Tinjauan Teori
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh sepeti
yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan
secara efisien dan aman. Perencanaan ini dilakukan

seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau


anggota tim kesehatan lainya. Walau bidan tidak melakukan
sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan
pelaksanaan misalnya memastikan langkah-langkah tersebut
benar terlaksana (Dwana Estiwidani, et. all 2008; h. 137).
b. Tinjauan Kasus
1.

Mengeringkan bayi dari lendir dan darah dengan cara


menggunakan kain bersih secara seksama dari kepala
hingga kaki bayi lalu mengganti dengan handuk kain
yang baru.

2.

Melakukan pemotongan tali pusat dengan cara mengurut


tali pusat 5 cm kearah bayi lalu klem 3cm dari bayi lalu
urut kembali 5 cm dari klem pertama kearaah ibu lalu
klem

2cm

dari

klem

pertama,

pemotongan

tali

pusat

dan

lalu

menjepit

melakukan
tali

pusat

menggunakan klem plastik tali pusat yang steril.


3.

Memberikan bayi kepada ibu untuk melakukan IMD


dengan cara ibu dan bayi tidak memakai buju,
tengkurapkan bayi didada ibu agar terjadi sentuhan kulit
ibu dan bayi dan kemudian selimuti keduanya agar tidak
kedinginan. Anjurkan ibu untuk memberikan sentuhan
kepada bayi untuk meragsang bayi mendekati puting ibu
lalu biarkan bayi mencari sendiri puting susu ibunya.
biarkan kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit

ibunya minimal 1 jam walaaupun proses menyusui telah


terjadi. Dan saat melakukan IMD dilakukan penilaian
reflek pada bayi yang meliputi :
4. Rooting (+), pada saat bayi menyusu
5. Sucking(+) pada saat bayi menyusu
6. Swallowing (+) pada saat bayi menyusu.
7. Memberi

salep

mata

dengan

tetracylin

1%

pemberiannya dengan cara memberi salep mata dalam 1


garis lurus mulai dari bagian mata yang paling dekat
dengan hidung bayi munuju keluar mata. Pada saat
pemberian ujung salep mata tidak boleh menyentuh mata
bayi dan jangan menghapus salep mata dari mata bayi
dan anjurkan keluarga untuk tidak menghapus

salep

mata tersebut.diberikan ini untuk mencegah infeksi pada


mata bayi.
8. Memberikan injeksi vitamin K1(fetamenabion) injeksi 1
mg intramuskuler 1/3 paha kiri bayi untuk mencegah
terjadinya perdarahan pada BBL akibat defisiensi
vitamin K yang dialami oleh BBL.
9. Mengukur antropometri pada bayi
10.

Melakukan pemeriksaan umum pada bayi,

11.

Melakukan pemeriksaan fisik secara head to toe

12.

Melakukan

pembedongan

mencegah hipotermi pada bayi.

pada

bagi

unutk

13. Memberikan bayi pada ibu untuk rawat gabung agar


lebih terjalin akatan batin antara ibu dan anak. Selain itu
agar ibu lebih mudah memberikan asi pada bayinya, serta
dapat mengurangi kemungkinan adanya perasaan bahwa
ibu tidak mampu merawat bayinya.
14. Memberi tahu ibu kapan harus kunjungan ulang yaitu
pada tgl 9 april 2015 untuk pemberian Hb 0.

c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan kasus tidak terjadi kesenjangan karena
pelaksanaan adalah Mengarahkan atau melaksanakan rencana
asuhan secara efisien dan aman. pada kasus By. Ny. A telah
melaksanakan perencanaan asuhan yang dibuat sesuai
kebutuhan By. Ny. A sehingga asuhan yang diberikan pada
By. Ny. A merupakan asuhan yang efisien dan aman.
4.7 Evaluasi
a.

Tinjauan Teori
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni
dengan melakukan evaluasi dari perencanaan maupun pelaksanaan
yang dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang
dilakukan secar terus menerus untuk meningkatkan pelayanan
secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atau
kebutuhan klien (Moh Wildan dan A. Aziz Alimul, 2008; h. 38).

b. Tinjauan kasus

Pada kasus By. Ny. A telah dilakukan penatalaaksanaan bayi


segera setelah lahir dan didapatkan hasil :
1. Bayi telah dikeringkan dari lendir dan darah dan telah
mengganti dengan kain yang baru.
2. Pemotongan tali pusat dan penjepitan menggunakan klem
plastik tali pusat telah dilakukan.
3. IMD telah dilakukan selama 1 jam.
4. Salep mata telah diberikan.
5. Vitamin K telah diberikan
6. Pengukuran atropometri telah dilakukan
7. Pemeriksaan umum bayi telah dilakukan
8. Pemeriksaan fisik telah dilakukan
9. Bayi telah dibedong
10. Rawat gabung telah dilakukan.
11. Ibu bersedia datang pada tanggal 9 april 2015
c. Pembahasan
Dari tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena Melakukan evaluasi adalah keefektifan dari asuhan yang
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan, apakan
benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan bayi baru
lahir sebagaimana telah diidentifikasikan didalam diagnosa dan
masalah dan pada kasus By. Ny. A karena semua pelaksanaan yang
berikan pada By. Ny. A telah dievaluasi sehingga evaluasi dari
kasus ini menandakan efektifan dari asuhan yang telah diberikan.

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
5.1.1

Penulis telah Memberikan asuhan


Ny. A

segera setelah lahir

kebidanan pada bayi

cukup bulan sesuai masa

kehamilan. Penulis melakukan pengkajian data dari data


subjektif

dan data objektif, data subjektif

meliputi

identitas bayi dan orang tua ,riwayat kehimilan. Sedangkan


data objektif didapat dari pemeriksaan pada bayi segera
setelah lahir yaitu bayi langsung menangis , tonus otot aktif
warna kulit kemerahan.
5.1.2

Penulis

telah

menentukan

membuat

interprestasi

dan

dengan

diagnosa kebidanan pada bayi baru lahir

terhadap By. Ny. A segera setelah lahir sesuai masa


kehamilan.
5.1.3

Penulis tidak menemukan diagnosa potensial terhadap bayi


Ny. A segera setelah lahir di RB Kartini Kampung Sawah
Bandar Lampung Tahun 2015, karena kondisi bayi dalam
kondisi sehat dan tidak terdapat kegawatdaruratan.

5.1.4

Penulis tidak memberikan antisipasi masalah potensial pada


bayi karena bayi dalam kondisi sehat dan tidak ada
kegawatdaruratan pada bayi Ny. A segera setelah lahir.

5.1.5

Penulis telah memberikan rencana asuhan kebidanan pada


bayi Ny. A segera setelah lahir sesuai dengan kebutuhan

pasien dan teori asuhan yang ada yaitu lakukan penilaian


selintas pada bayi baru lahir, keringkan bayi dari lendir dan
darah, Lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat ,
Berikan bayi kepada ibu dengan teknik skin to skin untuk
IMD, Berikan salep mata pada bayi, Berikan Vit. K pada
bayi, Ukur atropometri bayi, Lakukan pemeriksaan umum
pada bayi, Lakukan pemeriksaan fisik secara head to toe,
lakukan

pembedongan pada bayi , dan Lakukan rawat

gabung pada ibu dan bayi, beritahu ibu kapan harus


kunjungan ulang yaitu pada tanggal 9 april 2015.
5.1.6

Penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan bayi Ny. A


segera setelah lahir sesuai dengan yang telah direncanakan
dan sesuai dengan teori asuhan yang ada.

5.1.7

Penulis telah melaksanakan evaluasi pada bayi Ny. A


segera setelah lahir bahwa apa yang telah direncanakan
telah terlaksana dan dievaluasi. Hasil evaluasi bayi yaitu
bayi tidak mengalami asfiksia dan hipotermi dan dalam
keadaan normal.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis dapat menyimpulkan
saran sebagai berikut.
5.2.1

Bagi institusi pendidikan


Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
bahan bacaan dan bahan untuk penelitian dan menambah

wawasaan dan referensi tentang penanganan bayi segera


setelah lahir, khususnya terhadap mahasiswa kebidaanan.
5.2.2

Bagi lahan praktek


Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan masukan bagi
pengelola program kesehatan untuk mengembangkan
pendidikan

kesehatan

(penyuluhan)

bagi

masyarakat

sebagai upaya menurunkan angka kematian bayi.


5.2.3

Bagi peneliti selanjutnya.


Study Kasus ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
referensi dan bahan pertimbangan agar dapat menambah
ilmu pengetahauan khususnya untuk penulis selanjutnya
dalam memberikan asuhan pada bayi segera setelah lahir.

5.2.4

Bagi pasien
Study kasus ini diharapkan dapat mencegah terjadinya
hipotermi dan asfiksia terhadap bayi baru lahir khususnya
By Ny. A.

DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Eny Retna dan Wulandari, Diah. 2010.Asuhan Kebidanan Nifas.
Jogjakarta: Nuha Medika
Buku Acuan Pelatihan Klinik, 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta:
JNPK
Buku Kesehatan Ibu Dan Anak.2011.Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung
Selatan
Dewi, Vivian Nany Lia. 2010. Asuhan Noenatus Bayi Dan Anak Balita. Jakarta:
Salemba Medika
Estiwidani, dkk.2008.Konsep Kebidanan. Yogyakarta: fitramaya
Maryanti, Dwi, dkk. 2011. Buku Ajar Neonatus, Bayi Dan Balita. Jakarta:
Tim.
Muslihatun, wafi nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi Dan Balita. Yogyakarta:
Fitramaya.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta:
Rineka
Cipta.
Prawirohardjo,Sarwono,2009.Buku

Acuan

Nasional

Pelayanan

Kesehatan

Maternal Dan Neonatal.Jakarta:Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.
Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung 2012.
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti. 2012. Asuhan Neonatus Bayi Dan Balita.
Edisi revisi. Jakarta: Tim.
Soepardan, Suryani.2008.Konsep Kebidanan.Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Sulistyawati, Ari dan Nugraheny. 2012. Asuhan Kebidanan Pada ibu bersalin.
Jakarta: Salemba Medika.
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Edisi Revisi.
Jakarta: Salemba Medika.
Sofyan, dkk. 2006. 50 Tahun Ikatan Bidan Indonesia Bidan Menyongsong Masa
Depan. Jakarta : PP IBI
Wildan, muh dan Hidayat. 2008. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika.
http://www.academia.edu/5113636/Angka_Kematian_Bayi_di_Indonesia.(
diunduh tgl 7 april 2015 jam 09.45 wib)

LAMPIRAN

JADWAL PENELITIAN

Tanggal dan Bulan


No

Kegiatan

1.

Mencari
Pasien
Konsul
Judul
Acc
Judul
Konsul
Studi
Kasus
ACC
BAB 1
ACC
BAB 2

2.
3.
4.

5.
6.

April
17

814

Mei
1521

2230

17

814

1521

2231

17

814

7.
8.
9.
10.

ACC
BAB 3
ACC
MATRIK
ACC
BAB 4
ACC
BAB 5

DOKUMENTASI

Gambar A. Memberikan bayi kepada ibu untuk rawat gabung

Gambar B. Bayi telah bersama ibunya, ibu tampak senang

Beri Nilai