Anda di halaman 1dari 16

BAB I

ORIENTASI EPIDEMIOLOGI PADA


KESEHATAN DAN PENYAKIT
PENGOBATAN POPULASI DAN EPIDEMIOLOGI
Pengetahuan tentang kesehatan manusia dan penyakit adalah penjumlahan
kontribusi dari berbagai disiplin ilmu anatomi, mikrobiologi, patologi, imunologi,
pengobatan medis, pediatrik, radiologi, dan masih banyak lagi. Bagaimanapun,
berbagai disiplin ilmu tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan metode dan konsep
dasarnya. Ketika hal itu telah dilakukan maka akan muncul tiga kategori utama :
pertama mengandung ilmu pengetahuan dasar (seperti biokimia, psikologi , patologi),
kedua ilmu pengetahuan klinik ( seperti : pengobatan orang dewasa, neonatologi,
obstetrik dan ginekologi, urologi dan seterusnya) dan ketiga pengobatan populasi
penduduk. Pada keadaan lain, pengobatan populasi mengarah pada pengobatan
masyarakat, pengobatan pencegahan, atau pengobatan sosial. Ini adalah bidang studi
kesehatan dan penyakit pada populasi manusia. Studi ini bertujuan untuk
mengidentifikasi secara total masalah kesehatan dan kebutuhan identifikasi populasi
dan untuk menjelaskan mekanisme kebutuhan yang dijumpai.
Perihal pengobatan populasi cukup berbeda dengan disiplin ilmu klinik
lainnya. Pengobatan klinik berfokus secara luas pada perawatan medis individu.
Secara khusus , telah ada orang sakit yang harus ditolong; pada tahun tahun terakhir
ini penilaian terhadap penampakan orang telah diikuti untuk mendeteksi penyakit
pada fase awal. Pada pengobatan populasi, masyarakat menggantikan pasien individu
sebagai

fokus utama pembahasan. Masalahnya disini adalah untuk mengevaluasi

kesehatan masyarakat, termasuk orang yang ingin mengambil manfaat didalamnya


tapi tidak mencari pelayanan medis. Pendekatan ini membutuhkan teknik dan
keterampilan khusus sebagai tambahan pada praktek klinik yang diperlukan. Prinsip
dan metode yang mendasari pengobatan populasi merupakan subjek masalah buku
ini.

Telah jelas bahwa pendekatan klinik dan populasi pada kesehatan dan
penyakit berhubungan erat dan dengan ilmu pengetahuan dasar melengkapi satu
sama lain. Seorang dokter dibimbing menuju ke diagnosis benar pada pasien dengan
pengetahuannya tentang distribusi penyakit berdasarkan faktor seperti umur, jenis
kelamin dan etnik. Dia juga dibantu dengan informasi tentang penyakit pada suatu
masyarakat. Untuk pasien dengan demam dan penyakit pernapasan, sebagai contoh,
dia ingin tahu jika epidemi influenza berkembang atau baru saja terjadi kenaikan pada
isolasi streptococcal. Jawaban atas pertanyaan itu akan membantunya dalam
membuat suatu keputusan yang harus dia lakukan dalam mencapai suatu diagnosis
yang tepat.
Sebaliknya, diagnosis masyarakat bergantung pada akurasi diagnosis yang
dibuat pada seorang pasien dan pada kelengkapan penyakit yang dilaporkan dan
dibuat untuk diketahui oleh pihak yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat.
Sebagai tambahan, akurasi diagnosis individu dan penilaian epidemiologi bergantung
pada dukungan laboratorium yang cukup.
Tuberkulosis memberikan ilustrasi yang baik pada tiga pendekatan yang
berbeda untuk penyakit tertentu. Ilmu pengetahuan dasar memberi perhatian pada
berbagai aspek bacillus tubercle, struktur dan komposisi antigennya, pertumbuhan
pada media yang berbeda, resisten terhadap antibiotik tertentu, dan dengan respon
host. Studi klinis sebuah kasus memerlukan diagnosis, estimasi taraf dan aktivitas
penyakit, pemilihan terapi, penilaian respon pasien, tindak lanjut yang cukup.
Pertanyaan yang berhubungan dengan tuberkulosis sebagai masalah
masyarakat menyangkut frekuensi penyakit, kontribusi relatif program yang berbeda
untuk mengidentifikasi kasus, serta faktor lingkungan dan budaya yang memberikan
pemeliharaan atau pengurangan frekuensi kejadian. Berapa banyak kasus baru yang
terjadi setiap tahun? Kelompok dan segmen umur apa pada masyarakat yang terkena
dan mengapa? Siapa yang telah terpapar pada kasus aktif yang baru ditemukan?
Bagian kasus mana yang diketahui dan kontaknya dibawah pengawasan medik yang
cukup? Berapa banyak kematian setiap tahun yang disebabkan oleh tuberkulosis?

Bagian

kasus mana yang diketahui pihak

kesehatan setelah

catatan kematian

disimpan ? beberapa masalah kesehatan menyangkut kebutuhan pelayanan kesehatan,


seperti jumlah tempat tidur di rumah sakit dan kunjungan klinik yang diperlukan.
Setiap dari tiga pendekatan yang dijelaskan disini memiliki karakteristik
wilayah

aktivitas sendiri. Ilmu pengetahuan dasar berbasis pada laboratorium ;

aktivitas klinik yang dilaksanakan pada ruangan rumah sakit, ruang gawat darurat,
klinik perawatan keliling, dan kantor dokter pribadi : dan wilayah kerja pengobatan
populasi

adalah masyarakat. Untuk gambaran komprehensif penyakit pada

masyarakat, informasi tentang masalah kesehatan dibutuhkan dan kebutuhan terhadap


semua segmen. Bagian ini diperoleh ini dari catatan fasilitas klinik. Bagaimanapun,
karena sebagian besar masyarakat umumnya tidak menggunakan pelayanan klinik
yang ada, diagnosis masalah kesehatan masyarakat akan membutuhkan survey
sampel populasi untuk mendapatkan informasi tentang orang yang tidak berada
dalam pengawasan medis. Dengan basis informasi seperti ini, pelayanan kesehatan
yang perlu ditambahkan dan telah ada akan

dikembangkan pada departemen

kesehatan dan pusat kesehatan lingkungan lainnya.


Seperti yang kita lihat bahwa untuk pengobatan populasi kita membutuhkan
cara sistematis dalam mempelajari penyakit yang ada dalam masyarakat dan pola
pelayanan medis, karena

hal ini mempengaruhi jumlah dan sifat penyakit.

Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari pendekatan sistematis ini.


Ahli epidemiologi biasanya memberi perhatian pada uraian kesatuan
penyakit dan aspek praktis kandungan penyakit. Epidemiologi, sering disebut
kontrol penyakit atau kontrol penyakit yang disampaikan, telah menjadi
pelayanan tradisional departemen kesehatan negara atau lokal. Sekarang ini telah ada
pemindahan aplikasi metode epidemiologi pada rumah sakit, utamanya untuk
mengontrol penularan penyakit, tapi juga untuk memonitor reaksi obat yang
merugikan. Ahli epidemiologi juga menerapkan prinsip dan metode epidemiologi
untuk mempelajari sistem pelayanan kesehatan dan antisipasi efek pendekatan baru
pelayanan kesehatan.

DEFINISI EPIDEMIOLOGI
Epidemiologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari distribusi dan
determinan penyakit dan luka pada populasi manusia. Untuk itu, epidemiologi
berhubungan dengan taraf dan jenis penyakit dan luka pada sekelompok orang dan
dengan faktor yang mempengaruhi distribusinya. Hal ini menyiratkan bahwa penyakit
tersebar secara acak pada suatu populasi, tetapi lebih pada penyebaran bagian
kelompok dalam frekuensi penyakit yang berbeda. Lebih lanjut, pengetahuan tentang
distribusi yang tidak merata ini dapat digunakan untuk menyelidiki faktor etiologi dan
menempatkan kerangka kerja pada program pencegahan dan pengontrolan.
Kontribusi epidemiologi pada ilmu pengetahuan medis kedepan dikemukakan dengan
baik oleh Frost (1936).
Epidemiologi pada waktu manapun adalah sesuatu yang lebih dari total
kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Hal ini meliputi pengaturan rapi epidemiologi
pada mata rantai kesimpulan yang meluas lebih atau kurang diluar batas observasi
langsung. Batas senacam ini sebenarnya memandu penyelidikan pada fakta yang akan
datang ; yaitu kemajuan penyakit.
Kebutuhan Terhadap Angka
Menjadi sifat definisi penyakit

tentang perlunya pengukuran jumlah

penyakit pada suatu populasi atau masyarakat dengan kasus yang berhubungan
dengan basis populasi. Pernyataan epidemiologi sering kali mengandung pecahan
atau angka, dimana pembilangnya adalah jumlah orang yang sakit sedangkan
penyebutnya adalah populasi pada area dan waktu yang sama. Angka

penyakit

disebut angka morbiditas, angka kematian disebut angka mortalitas.


angka

jumlah kasus atau kematian


populasi dalam suatu area dalam waktu tertentu

Studi klinis dan epidemiologi berkaitan dengan fenomena yang sama, tetapi
dari tempat

yang menguntungkan. Berlawanan dengan investigasi epidemiologi,

orientasi studi klinis biasanya fokus pada orang sakit yang membutuhkan pengobatan

dan berkaitan dengan identifikasi dan jumlah populasi dimana kasus itu berasal.
Contoh perbedaan dua pendekatan diatas. Laporan klinis pada penyakit borok
mengandung judul masalah penyakit borok pada lambung yang ditinjau : studi atas
1000 kasus. Studi epidemiologi pada borok memberikan angka kejadian rata rata
tahunan penyakit borok untuk basis populasi dan menunjukkan bahwa angka
morbiditas hanya 0.17 per 1000 wanita dibawah 25 tahun tetapi 0.96 untuk pria.
Angka penyakit yang rendah atau tinggi memberikan petunjuk berguna pada
etiologi. Munculnya pelaggra pada penjaga rumah sakit mental pada waktu ketika
pelaggra terjadi pada pasien membuat Goldeberg menolak hipotesis populer bahwa
pelaggra cepat menyebar sesuai dengan hipotestis kekurangan nutrisi. Tidak adanya
pemunculan kanker rahim pada biarawati berlawanan dengan tingginya angka
penyakit tersebut pada prostitusi menunjukkan bahwa aktivitas seksual adalah faktor
etiologi yang penting. Mengutip ahli epidemiologi kontemporer dari Inggris :
Fungsi utama epidemiologi adalah untuk menemukan kelompok dalam
suatu pupolasi yang memiliki angka penyakit yang tinggi, dan yang rendah, sehingga
penyebab penyakit dan bebas dari penyakit dapat disimpulkan. ..... harapan terbesar
metode ini menempatkan hubungan penyakit pada cara hidup kelompok yang
berbeda, dan dengan membuat

penyebab penyakit yang tak terurai tentang

kemungkinan membuat sesuatu.


Keuntungan besar pendekatan ini adalah untuk mencegah hal yang mungkin
dapat dilaksanakan pada fase awal pengetahuan kita tentang penyakit, untuk
mengacaukan pola penyebab sebelum sifat penyakit dipahami. Kenyataan yang cukup
mungkin ditetapkan untuk ini dengan metode epidemiologi sendiri, atau dengan
kombinasi dengan yang lainnya. Kesempatan mungkin diberikan berkaitan dengan
satu kasus atau dengan berbagai kombinasi kasus.
Kesehatan dan Penyakit
Paragraf sebelumnya menekankan pada pentingnya suatu angka pada
epdemiologi. Meskipun ahli epidemiologi tertarik pada kejadian suatu penyakit,

mereka juga memperhatikan distribusi variabel fisiologis, seperti tekanan darah,


glukosa darah, serum asam uric, dan serum kolesterol, pada orang yang sehat dan
sakit. Mempelajari variabel ini membolehkan evaluasi pada kontribusi mereka,
tunggal atau kombinasi, pada perkembangan penyakit.
Fakta bahwa kita telah mendefinisikan epidemiologi secara operasional
dalam istilah pengukuran penyakit tidak seharusnya mengaburkan perhatian pada
batasan epidemiologi, yaitu pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan.
Sayangnya sangat mudah untuk mendefinisikan dan mengukur penyakit, cacat, dan
kematian dibandingkan menghasilkan definisi operasional kesehatan.
Kesehatan adalah konsep yang elastis. Mungkin dapat didefinisikan sebagai
tidak adanya penyakit atau cacat atau ini mungkin memberikan arti yang lebih positf,
sebagaimana yang tercantum pada Kontitusi World Health Organization (WHO) :
Kesehatan adalah keadaan lengkapnya fisik, mental dan sosial dengan baik
dan tidak hanya karena tidak adanya penyakit.
Usaha komite nasional dan internasional untuk mengukur status kesehatan
telah mengarahkan saran yang menjanjikan bagi pengukuran kesehatan. Meskipun
demikian kesehatan fisik dan mental tetap menjadi ukuran utama. Untuk itu buku ini
akan fokus pada pengukuran penyakit dan kesehatan.
RIWAYAT ALAMI PENYAKIT
Ketika angka morbiditas dibuat, setiap orang yang berada dalam kelompok
dibawah studi harus diklasifikasikan punya atau tidak punya penyakit tertentu.
keputusan ini sering sulit dibuat. Perkembangan penyakit seringkali merupakan
proses yang tidak teratur. Banyak penyakit khususnya penyakit kronik memiliki daur
hidup historis. Seperti pemikiran kita tentang orang yang berusia 7 tahun jadi
penyakit kronik akan dipertimbangkan terjadi sepanjang waktu melewati fase yang
berurutan. Dengan akumulasi pengetahuan kita , telah menjadi hal nyata bahwa faktor
yang melandasi perkembangan penyakit kronik sering hadir pada awal kehidupan.

Karena setiap penyakit memiliki riwayat hidup sendiri, suatu formula umum
diperlukan untuk diubah. Dengan demikian, sangat berguna untuk mengembangkan
gambaran skematis riwayat alami penyakit sebagai kerangka kerja dalam memahami
pendekatan yang berbeda untuk pencegahan dan pengontrolan.

Fase Kerentanan
Pada fase ini penyakit tidak berkembang, tapi dasar kerja telah ditempatkan
dengan kehadiran faktor yang mengakibatkan kejadian. Misalnya, kecanduan alkohol
kronik dan akut rentan terhadap pneumonia ; pemeliharaan ibu yang tidak cukup
mempengaruhi penyakit mental : kandungan

kolesterol tinggi meningkatkan

kemungkinan serangan jantung.


Faktor yang mengakibatkan kemungkinan penyakit itu akan berkembang
pada masa akan datang disebut faktor resiko. Kebutuhan untuk mengidentifikasi
faktor itu menjadi nyata sebagai kewaspadaan terhadap hadirnya penyakit kronik
yang merupakan tantangan bagi kesehatan kita. Beberapa faktor resiko dapat diubah,
seperti perokok dapat dibujuk untuk berhenti merokok. Tapi yang lainnya tidak dapat
diubah, namun identifikasinya tetap berguna untuk mengenali orang yang tertutup
terhadap pengawasan medis. Faktor lain yang tidak dapat diubah seperti usia dan
jenis kelamin yang tetap dipertimbangkan sebagai faktor resiko.
Fase Pra Gejala Penyakit
Tidak ada manisfestasi penyakit, tetapi melalui intraksi dengan faktor,
perubahan patogenetik mulai terjadi. Pada fase ini, perubahan berada dibawah level
garis klinis. Garis khayal yang membagi garis diatas dimana penyakit menjelma
melalui tanda yang dikenali atau yang disebut sebagigejala. Contoh gejala penyakit
adalah perubahan atherosclerik pada katup jantung sebelum tanda atau gejala sakit,
perubahan yang membahayakan pada jaringan.
Fase Klinis Penyakit

Pada fase ini perubahan anatomi atau fungsi telah terjadi sehingga tanda
yang dapat dikenali atau gejala penyakit. Penting untuk membagi fase ini pada
kemungkinan yang ada untuk manajemen kasus yang lebih baik dan untuk tujuan
epidemiologi. Ada

beberapa

dasar

pembagian.

Misalnya

kanker

biasanya

diklasifikasikan pada dasar morfologi (lokasi tumor dan jenis jaringan ). Penyakit
biasanya diberi tingkatan berdasarkan kategorisasi penyakit yang dilokalisir, dengan
metastase regional, dan dengan jauhnya penyebaran. Sebuah pendekatan berbeda
telah dikemukakan oleh Feistein (1967), pementasan berdasarkan ilmu gejala
dibanding perluasan morfologi penyakit.
Klasifikasi fungsional dan terapi dicontohkan secara luas dengan
menggunakan kategorisasi penyakit jantung Asiosiasi Jantung New York (1964).
Berikut ini diadaptasi dari skema mereka:
Klasifikasi Fungsional
Kelas I

Tidak ada pembatasan aktivitas karena kegelisahan

Kelas II Sedikit pembatasan aktivitas fisik, pasien nyaman beristirahat tetapi


aktivitas permulaan menimbulkan kegelisahan.
Kelas III Pembatasan yang cukup aktivitas fisik : nyaman beristirahat, tapi
kurangnya aktivitas asal menimbulkan kegelisahan
Kelas IV tidak bisa melakukan aktivitas fisik apapun tanpa gelisah.
Klasifikasi Terapi
Kelas A Aktivitas fisik harus dibatasi
Kelas B Aktivitas fisik biasa perlu

dibatasi, tapi pasien disarankan melawan

beberapa usaha.
Kelas C Aktivitas fisik biasa seharusnya dibatasi sedang
Kelas D Aktivitas fisik biasa seharusnya dibatasi keras.
Kelas E Istirahat total disarankan ;pasien berada di tempat tidur atau kursi.
Dengan catatan bahwa klasifikasi fungsional dan terapi tidak selalu berjalan
pararel. Misalnya pasien dengan serangan jantung atau rematik karditis mungkin

tidak memiliki gejala fisik, tetapi mungkin disarankan melakukan istirahat total
(Kelas I,E)
Klasifikasi fungsional kerusakan psikiatrik juga telah dikemukakan
(Bahn,1971)
Seperti yang disarankan diatas, klasifikasi penyakit merupakan hal yang
penting dalam studi epidemiologi. Pengelompokan efektif mengurangi variabilitas,
menghasilkan pengelompokan homogen relatif. Hal ini penting untuk mengevaluasi
efek agen propilaktik atau terapik sebagaimana untuk membandingkan studi penyakit
pada kelompok yang berbeda.
Saat sekarang kita tidak memiliki pemahaman lengkap tentang riwayat alami
banyak penyakit. Kita tidak tahu mengapa individu dengan sejumlah faktor resiko
tidak berkembang menjadi penyakit klinis. Banyak penelitian sekarang yang
diarahkan pada kelompok besar untuk memperoleh pemahaman ini.
Fase Ketidakmampuan
Beberapa

penyakit berkembang dengan sendirinya dan kemudian

dipecahkan dengan sepenuhnya, yang lain secara spontan atau dibawah pengaruh
terapi. Bagaimanapun, ada sejumlah kondisi yang memberikan peningkatan
kerusakan sisa dalam jangka waktu pendek atau panjang. Pada kesempatan penyakit
yang biasanya terbatas pada diri sendiri mungkin akan memberikan kenaikan pada
ketidakmampuan. Sebagai contoh, bagian kecil kasus campak diikuti dengan
perkembangan panensepalitis sclerosa akut, kerusakan otak progresif.
Meskipun ketidakmampuan dapat didefinisikan dalam banyak cara, dalam
survey masyarakat biasanya berarti keterbatasan aktivitas seseorang, termasuk peran
sosialnya sebagai orangtua, pencari nafkah , dan seterusnya. National Health Survey
memberikan definisi ketidakmampuan sebagai pengurangan aktivitas seseorang
sementara atau jangka panjang sebagai akibat kondisi akut atau kronis(1958).
Dengan demikian penekanannya pada kehilangan fungsi dibandingkan
dengan kerusakan struktur. Individu memberi respon yang bervariasi pada kerusakan

fisik mereka. Dua orang dengan jumlah kehilangan poliomyelitis yang sama mungkin
memperlihatkan perbedaan tajam dalam tingkat ketidakmampuan mereka. Sementara
ada sejumlah ketidakmampuan yang berhubungan penyakit akut, perluasan
ketidakmampuan yang berkepanjangan dihasilkan dari penyakit kronik adalah
signifikan untuk masyarakat.
Tingkat Pencegahan
Dinyatakan dari skema yang baru saja diberikan menjadi catatan bahwa
sebuah penyakit meningkat sepanjang waktu dan dengan kejadian ini perubahan
patologi akan bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Untuk itu, tujuannya adalah untuk
menekan kembali tingkat deteksi dan intervensi pada pendahuluan dan faktor resiko
penyakit. Hal ini menempatkan penekanan pada pencegahan dibandingkan dengan
pengobatan kuratif.
Dengan pencegahan sebagai tema dominan, kita akan lebih merinci atas kata
ini. Pada pandangan sempit, pencegahan sederhananya berarti

menghalangi

perkembangan penyakit sebelum terjadi. Bagaimanapun pada pemakaian sekarang,


istilah itu telah diperluas yang meliputi tindakan untuk mencegah atau memperlambat
kemajuan penyakit. Dengan alasan ini beberapa tingkat pencegahan dinyatakan.
Pencegahan primer adalah dengan mengubah kerentanan atau mengurangi paparan
pada individu yang rentan ; pencegahan sekunder (dilakukan pada fase awal penyakit,
yaitu fase praklinik dan klinik) adalah deteksi dan pengobatan awal

penyakit ;

pencegahan tersier (sesuai dengan fase ketidakmampuan) adalah pengurangan


ketidakmampuan yang diakibatkan penyakit dan usaha untuk memulihkan fungsi
efektif.
Pencegahan Primer
Pencegahan terjadinya penyakit mengandung tindakan yang dibagi dalam
dua kategori umum : promosi kesehatan umum dan tindakan perlindungan khusus.
Promosi kesehatan umum meliputi penyediaan kondisi pada rumah, pekerjaan dan

10

sekolah dengan gaya hidup sehat, seperti nutrisi yang bagus, pakaian yang cukup,
tempat berlindung, istirahat dan rekreasi. Hal ini juga meliputi daerah yang luas untuk
pendidikan kesehatan, termasuk tidak hanya instruksi dalam hiegine, tapi juga
meliputi area pendidikan seks, bimbingan untuk anak anak dan orangtua dan
konseling dalam persiapan menghadapi masa pensiun. Tindakan perlindungan khusus
meliputi imunisasi, sanitasi lingkungan dan perlindungan terhadap kecelakaan dan
bahaya dalam pekerjaan.
Kesuksesan kesehatan masyarakat pada negara berkembang telah terpenuhi
dengan pencegahan primer penyakit menular melalui manipulasi lingkungan dan
imunisasi. Masalah yang tidak terselesaikan pada negara ini saat sekarang adalahg
penyakit kronik yang pencegahannya membutuhkan modifikasi perilaku individu
yang paling dalam, seperti pola diet, aktivitas fisik, dan pemakaian alkohol, rokok,
dan obat obatan lainnya. Hal yang sama pentingnya adalah masalah kematian dan
luka akibat kecelakaan, khususnya tabrakan kendaraan bermotor. Tindakan kedepan
pada pencegahan primer pada kondisi ini akan berfokus pada usaha untuk
mempengaruhi perilaku individu dan pada kontrol lingkungan (seperti, kantung
udara pada mobil) yang akan menggeser sebagian keputusan yang berkaitan dengan
kesehatan dari individu ke institusi sosial.
Pencegahan Sekunder
Dengan deteksi awal dan pengobatan penyakit dengan cepat, kadang
kadang mungkin untuk mengobati penyakit pada fase awal atau memperlambat
kemajuannya, mencegah komplikasi, membatasi ketidakmampuan, membalikkan
kemampuan penularan penyakit menular. Pada basis masyarakat pengobatan awal
orang yang menderita penyakit menular akan melindungi yang lain dari infeksi dan
dengan demikian memberikan pencegahan sekunder untuk orang yang terinfeksi dan
pencegahan primer untuk kontak potensial mereka.
Seperti halnya pencegahan primer, pencegahan sekunder merupakan
tanggung jawab dokter yang membuka praktek pribadi dan masyarakat yang berada

11

di sekitarnya. Departemen kesehatan dan pihak

berwenang yang lainnya sering

mengadakan survey penyaringan pada orang yang ditengarai memiliki gejala penyakit
untuk membongkar penyakit pada fase awal.
Pencegahan tersier
Pencegahan ini meliputi pembatasan ketidakmampuan dan rehabilitasi
dimana penyakit telah terjadi dan meninggalkan sisa kerusakan. Fisioterapi pada
anggota badan untuk memulihkan pergerakan dan mencegah kontraktur adalah
contoh tindakan pembatasan ketidakmampuan.
Rehabilitasi adalah usaha untuk memulihkan

kerusakan pada individu

menjadi sesuatu yang berguna, dan jika memungkinkan peran diri yang cukup dalam
masyarakat. Tema utamanya adalah pemanfaatan secara maksimal kapasitas sisa
seseorang, dengan penekanan pada kemampuan sisanya lebih dari yang hilang.
Karena rehabilitasi modern meliputi psikososial dan kejuruan sebagai komponen
medis, ini membutuhkan teamwork dari orang yang dengan profesi berbeda. Hal ini
juga membutuhkan fasilitas fisik yang luas dan yang cukup untuk menyediakan
berbagai pelayanan dalam jangka waktu yang panjang.
Selama terjadinya kematian, kemungkinan pada setiap fase evolusi proses
penyakit untuk menjalankan tindakan yang sesuai untuk mencegah pembusukan
kondisi . Tingkat pencegahan yang berbeda dapat dipahami secara penuh hanya
dengan hubungannya pada kemajuan alami ada atau riwayat alami penyakit. Semakin
jelas pemahaman kita tentang riwayat alami penyakit, semakin besar peluang untuk
mengembangkan poin intervensi secara efektif. Interrelasi antara riwayat alami dan
tingkat pencegahan penyakit akan dijelaskan dengan contoh khusus, stroke.
APLIKASI PENCEGAHAN DAN RIWAYAT ALAMI : STROKE
Stroke sebuah istilah yang tidak asing pada bagi orang awam sebagaimana
bagi seorang dokter, mengarah pada gejala penurunan fungsi saraf yang diakibatkan
karena kerusakan pada otak akibat perubahan suplai darah. Istilah yang sama dengan

12

stroke adalah kerusakan serebrovaskular. Manifestasinya berubah ubah dan


bergantung pada luas dan letak kerusakan pada jaringan saraf : mungkin ada
gangguan bicara atau cara berpikir, atau kelumpuhan pada satu atau lebih bagian
tubuh.
Penyakit serebrovaskular merupakan masalah kesehatan yang penting.
Penyakit ini merupakan tiga besar yang menyebabkan kematian di Amerika Serikat,
menghasilkan 200.000 kematian setiap tahun. Ini juga merupakan kontributor utama
pada kelumpuhan. Pusat Statistik Kesehatan Nasional (1962) menghitung lebih dari
300.000 orang yang mengalami kelumpuhan akibat stroke.
Ada beberapa mekanisme stroke : pembekuan darah

, pendarahan, dan

penyumbatan pembuluh darah. Karena pembekuan darah pada otak terjadi lebih dari
setengah pada kasus stroke, seksi berikut akan memfokuskan utamanya pada
pembekuan darah otak dan akibatnya, kerusakan otak.
Serangan stroke biasanya tiba tiba. Untuk beberapa tahun stroke dikaitkan
dengan penyakit pada orang tua yang datang tanpa peringatan dan berhubungan
dengan status kesehatan seseorang pada awal kehidupannya. Orang dengan tingkat
tekanan darah yang tinggi diketahui sebagai resiko tinggi stroke hemorrhage, tapi
infraksi dikenal sebagai kejadian tak terduga. Karena pengetahuan pencegahan yang
sedikit, stroke merupakan penyakit yang fatal. Setidaknya ada perhatian untuk
tindakan rehabilitasi.
Pada beberapa dekade yang lalu kemajuan dalam berbagai disiplin ilmu telah
memusatkan perhatian untuk membawa perspektif baru pada masalah stroke.
Diantara mereka adalah menaikkan kesadaran tentang pentingnya katup ekstrakranial
dalam menghasilkan stroke, terapi antikoagulan dan beberapa kemajuan farmakologi,
dan suatu prestasi teknik dalam pembedahan vaskuler dan diagnosis radiologi. Dua
kemajuan epidemiologi, keduanya berhubungan dengan riwayat alami stroke.
Pertama adalah pengetahuan bahwa stroke tidak menyerang secara acak tetapi yang
diidentifikasi pada kehidupan awal orang dewasa mempengaruhi kemungkinan stroke
akan berkembang beberapa tahun kemudian. Keduanya adalah perwujudan peristiwa

13

yang cepat berlalu, serangan ischematik sementara, terjadi pada bagian penting orang
yang menderita stroke belakangan.
Faktor Resiko Dasar. Kebanyakan informasi kita tentang riwayat hidup
stroke diperoleh dari populasi yang diobservasi beberapa tahun lalu, utamanya pada
studi penyakit serangan jantung. Jenis informasi yang direkam pada pemasukan
kedalam studi ini telah membuat kemungkinan sesudah itu untuk mengidentifikasi
beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke. Informasi yang akan
diberikan pada bagian ini digambarkan utamanya dari studi yang dilakukan pada
Framingharm, Massachusett, dimana sampel masyarakat mendekati 5000 orang yang
telah ikut setiap dua tahun selama beberapa tahun. Beberapa faktor resiko untuk
stroke telah diidentifikasi, tetapi penemuan utama telah menjadi hal yang penting
dimana hipertensi sebagai pendahuluan tidak hanya bagi pendarahan otak tetapi juga
pembukuan darah. Dalam hal jumlah pengaruh, peranan pembekuan darah cukup
penting.
Gambar 1-2 memperlihatkan hubungan yang jelas antara tekanan darah dan
kejadian stroke berikutnya pada data Framingharm. Untuk stroke nonhemmorhagik
dan stroke hemmorhagik Rasio morbiditas terlihat lebih tinggi pada orang yang
terkena hipertensi dibandingkan orang dengan tekanan darah rendah pada penilaian
awal.
Peranan lipid darah sebagai faktor resiko yang mungkin kurang jelas. Studi
Framingharm tidak menemukan bahwa tingkat lipid darah yang tinggi berhubungan
dengan peningkatan resiko stroke, tapi hanya jika pengukuran lipid dilakukan pada
orang berusia dibawah 50 tahun. Studi ini juga menunjukkan bahwa merokok dan
diabetes melitus adalah faktor resiko. Pada analisis data Framingharm terbaru,
ketidaknormalan jantung ditemukan berhubungan dengan peningkatan resiko
kerusakan otak. Efek ini, yang independen terhadap hipertensi, menyatakan bahwa
fungsi jantung yang tidak normal dapat berpengaruh pada aliran darah ke otak.
Nilai potensial pengetahuan tentang faktor resiko ini adalah bahwa
pengurangan atau penghapusannya mungkin memberikan arti dalam pengurangan

14

kejadian stroke. Hal ini telah dicapai untuk hipertensi, sebagaimana yang
diperlihatkan oleh studi Veteran Administration (1967, 1970, 1972). Hal ini
menyisakan hal untuk diperiksa apakah perubahan pada faktor lain dapat mengurangi
kejadian stroke.
Serangan Ischemik Sementara (TIA). Sejak tahun 1950 an telah jelas
bahwa stroke tidak selalu terjadi. Perhitungannya bervariasi, tapi mungkin sepertiga
sampai setengah

pasien stroke mengalami satu atau lebih serangan ischemik

sementara. Indikasi serangan ischematik sementara tidak jelas dipahami, dan ada
kesempatan kecil bagi perluasan pengetahuan kedepan pada hal ini sejak sekarang
telah diterima bahwa dua pendekatan terapi, antikoagulan dan operasi, dapat
menghasilkan hasil yang baik dibanding tidak ada terapi sama sekali. Apakah bentuk
pengobatan ini memiliki keuntungan nyata dibanding yang

lain masih menjadi

perdebatan.
Implikasi

Pencegahan.

Meninjau

ulang

pembahasan

terdahulu

mengindikasikan bahwa stroke mungkin dipandang tidak hanya sebagai kejadian


yang terisolasi, tapi merupakan manifestasi akhir dalam mata rantai peristiwa yang
panjang. Sebelum fakta tentang faktor resiko dan TIA sebagai pendahuluan stroke
ada,

intervensi yang dilakukan

hanyalah pencegahan tersier, yaitu rehabilitasi

setelah stroke terjadi. Mengikuti periode fatalisme relatif, usaha pada pencegahan
tersier menjadi lebih aktif, dengan penekanan pada terapi fisik untuk mencegah
kontraktur, ambulasi awal untuk mencegah komplikasi thromboembolik, dan
pekerjaan aktif dan rehabilitasi psikologik. Bagaimanapun, tidak ada usaha yang
dibuat untuk mengintervensi secara dini riwayat hidup penyakit
Dengan

tujuan

pengetahuan

sekarang,

pencegahan

stroke

telah

diimplementasikan pada tingkat primer dan sekunder. Pencegahan primer berusaha


untuk mengubah faktor resiko yang berkaitan dengan stroke. Terapi obat obatan
untuk mengurangi tekanan darah pada hipertensi adalah kontribusi utama dalam fase
pencegahan ini.

Pencegahan sekunder adalah melakukan pengenalan dan

pengobatan TIA untuk mencegah perkembangan stroke yang lengkap. Dengan begitu

15

sebuah penyakit pada umur paruh kedua dipertimbangkan sekali yang menyertai
proses penyimpanan, sekarang telah didekati melalui usaha pencegahan yang
diaplikasikan pada orang usia muda dalam riwayat alami penyakit.
RANGKUMAN
Bab ini telah menetapkan

fase epidemiologi dalam kerangka kerja

pengobatan populasi. Pendekatan klinik dan epidemiologi untuk mempelajari


penyakit adalah kontras, sebagai konsep kesehatan dan penyakit. Angka morbiditas
dan mortalitas yang diberikan sebagai alat dasar epidemiologi.
Bab ini memperkenalkan model riwayat alami penyakit sepanjang waktu,
menekankan pendahuluan yang mendahului penampilan penyakit yang dideteksi
secara klinik dan dalam peningkatan kemungkinan penyakit itu berkembang pada
masa akan datang. Istilah faktor resiko diperkenalkan untuk mengidentifikasi
kondisi awal ini pada individu. Pentingnya membagi fase penyakit klinik pada
anatomik atau fungsi dasar ditekankan, sebagai dampak fase ketidakmampuan pada
personal dan masyarakat
Konsep tingkat pencegahan primer, sekunder, dan tersier dikembangkan
pada riwayat hidup penyakit. Hal ini diilustrasikan dengan referensi stroke.
Pendekatan modern pada penyakit ini meluas menuju rehabilitasi yang meliputi
identifikasi faktor resiko dan deteksi awal serta terapi. Pada awalnya, karakternya
seragam. Dari waktu ke waktu beberapa bidang cenderung beraneka ragam pada
penghasilan, komposisi ras dan seterusnya. Meskipun demikian, kenakeragaman ini
tidak signifikan mengurangi kegunaan bidang sensus sebagai unit ekologi. Karena
data kesjahteraan sosial dan ekonomi tersedia dari sensus Amerika Serikat,
klasifikasi dengan bidang sensus berlanjut untuk menghasilkan informasi pada faktor
sosial dan ekonomi sebagaimana pada distribusi geografis penyakit.

16