Anda di halaman 1dari 11

AGROFORESTRY, SILVOFISHERY

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Agroforestri


Dosen Pengampu Drs.RM. Hendy Hendro,HS.MS.

OLEH :
1. FARIDA ARIANI
2. HENY SETYO RINI
3. SILAHUDIN

201441040
201441037
20

PROGRAM STUDY AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT karena dengan pertolonganNya,
Penulis dapat menyelesaikan makalah

ini sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Pembuatan makalah ini adalah suatu syarat untuk mendapatkan nilai Agroforestri. Adapun
judul dari makalah ini yaitu Agroforestri dalam Lingkup Silvofishery.
Penulis juga ucapkan pada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan
makalah ini, semoga Allah memberikan pahalanya kepada mereka yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini.
Penulis mengharapkan semoga dengan makalah ini menjadi bahan inspirasi dan
informasi, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk meningkatkan
kualitas dalam pembuatan makalah ini supaya mencapai pada tarap kesempurnaan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi suatu karya yang memberi dampak
positif bagi pembaca.

Kudus, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I

BAB II

BAB III

HALAMAN JUDUL ......................................................................

KATA PENGANTAR.....................................................................

ii

DAFTAR ISI ..................................................................................

iii

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................

B. Rumusan Masalah.....................................................................

PEMBAHASAN
A. Pengertian Agroforestry............................................................

B. Komponen Agroforestry...........................................................

C. Pengertian Silvofishery.............................................................

D. Contoh Silvofishery..................................................................

E. Model Silvofishery...................................................................

PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agroforestry (agroforestri atau wanatani) sudah sejak lama dipraktikkan oleh
masyarakat di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa agroforestri sudah lahir sejak manusia
beralih tradisi dari berburu ke bercocok tanam. Menurut catatan, penggunaan pekarangan
untuk bercocok tanam sudah dikenal sejak 7000 tahun SM yang pada dasarnya dapat
dikategorikan sebagai agroforestri (BPDAS Pemali Jratun 2010). Praktek agroforestri
telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai karakteristik dan ciri
khas

masing-masing. Agroforestri sebagai sebuah sistem pengelolaan lahan yang di

dalamnya terkandung unsur pengaturan pola tanaman untuk mengoptimalkan kompetisi


antar individu, yang secara langsung akan berimplikasi pada kompleksitas ekologi dan
sosio ekonomi dari sistem tersebut yang berkesinambungan. Selain itu, agroforestri juga
dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari pengelolaan lahan tersebut,
di samping pengaturan ruang dan waktu untuk mendapatkan hasil yang berkelanjutan.
Perkembangan agroforestri dari praktis menjadi disiplin ilmu didasari oleh empat prinsip
utama,

yaitu

kompetisi

(competition),

kompleksitas

(complexity),

keuntungan

(profitability), dan keberlanjutan (sustainability) (Sanchez, 1995). Untuk mendukung


pencapaian dari empat prinsip dasar tersebut, diperlukan dukungan pengetahuan dan
teknologi yang memadai. Selain untuk memecahkan persoalan penggunaan lahan secara
umum (Nair, 1998). Agroforestri merupakan bagian dari program pembangunan pertanian,
perkebunan, peternakan, perikanan, kelautan, serta kesehatan. Bahkan agroforestri
merupakan program yang melibatkan sektor hulu hingga hilir, sehingga terkait pula
dengan sektor perindustrian dan perdagangan. Masalah yang sering timbul adalah alih
fungsi lahan menyebabkan lahan hutan semakin berkurang. Agroforestri diterapkan untuk
mengatasi masalah tersebut dan masalah ketersediaan pangan
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan agroforestry ?
2. Apa saja komponen yang tercakup dalam agroforestry?
3. Apa pengertian dari Silvofishery ?
4. Contoh Silofishery tercakup dalam agroforestry?

5. Model yang digunakan dalam Silofishery ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agroforestry
Agroforestry adalah sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial
dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian
dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit
lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal dalam arti berkesinambungan
(P.K.R. Nair).
Agroforestry ialah sistem pengelolaan lahan berkelanjutan dan mampu meningkatkan
produksi lahan secara keseluruhan, merupakan kombinasi produksi tanaman pertanian
(termasuk tanaman tahunan) dengan tanaman hutan dan/atau hewan (ternak), baik secara
bersama atau bergiliran, dilaksanakan pada satu bidang lahan dengan menerapkan teknik
pengelolaan praktis yang sesuai dengan budaya masyarakat setempat (K.F.S. King dan
M.T. Chandler).
Agroforestry yaitu penanaman pepohonan secara bersamaan atau berurutan dengan
tanaman pertanian dan/atau peternakan, baik dalam lingkup keluarga kecil ataupun
perusahaan besar. Agroforestri tidak sama dengan hutan kemasyarakatan (community
forestry), akan tetapi seringkali tepat untuk pelaksanaan proyekproyek hutan
kemasyarakatan" (L. Roche).
Dari beberapa definisi yang telah dikutip secara lengkap tersebut agroforestri merupakan
suatu istilah baru dari praktek-praktek pemanfaatan lahan tradisional yang memiliki unsurunsur :
- Penggunaan lahan atau sistem penggunaan lahan oleh manusia
- Penerapan teknologi
- Komponen tanaman semusim, tanaman tahunan dan/atau ternak atau hewan
- Waktu bisa bersamaan atau bergiliran dalam suatu periode tertentu
- Ada interaksi ekologi, sosial, ekonomi

B. Komponen Yang Tercakup Dalam Agroforestry


Pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian
dan peternakan, di mana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendirisendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan :
1. Agrisilvikultur : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pepohonan,
perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen pertanian.
2. Agropastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan komponen
peternakan
3. Silvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
4. Agrosilvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan
kehutanan dan peternakan/hewan.
Dari keempat kombinasi tersebut, yang termasuk dalam agroforestri adalah
Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura. Sementara agropastura tidak
dimasukkan sebagai agroforestri, karena komponen kehutanan atau pepohonan tidak
dijumpai dalam kombinasi. Di samping ketiga kombinasi tersebut, Nair (1987)
menambah sistem-sistem lainnya yang dapat dikategorikan sebagai agroforestri.
Beberapa contoh yang menggambarkan sistem lebih spesifik yaitu:
1. Silvofishery : kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan perikanan.
2. Apiculture : budidaya lebah atau serangga yang dilakukan dalam kegiatan atau
komponen kehutanan.
C. Pengertian Silvofishery
Silvofeshry merupakan Kombinasi antara komponen kehutanan dan komponen
perikanan. Sistem ini merupakan pemanfaatan hutan mangrove dikombinasikan dengan
tambak ikan. Silvofishery merupakan pola pendekatan teknis yang terdiri atas rangkaian
kegiatan terpadu antara kegiatan budidaya ikan atau udang dengan kegiatan penanaman,
pemeliharaan, pengelolaan dan upaya pelestarian hutan mangrove. Mangrove silvofishery
ditanam di sepanjang tambak dengan jarak tanam 1 meter antara satu pohon dengan pohon
yang

lain.

Mangrove

yang

adalah Avicennia dan Rhizophora.

digunakan

pada

sistem

silvofishery

ini

Manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan silvofishery pada tambak budidaya
(Sualia.dkk, 2010)yaitu :
1.

Meeningkatan produksi dari hasil tangkapan alam dan ini akan meningkatkan

pendapatan petani ikan.


2. Mencegah erosi pantai dan intrusi air laut ke darat, sehingga pemukiman dan sumber
air tawar dapat dipertahankan.
3. Dengan model sistem silvofishery, aspek ekonomi masyarakat dapat terpenuhi dari
kegiatan budidaya ikan dan udang dalam tambak, sedangkan aspek perlindungan
pantai dan konservasi bakau dilakukan dengan tetap menjaga bakau-bakau di
pematang tambak dan bagian luar dari tambak.
4. Kegiatan penanaman bakau dan pembuatan tambak dilakukan sepenuhnya oleh
masyarakat

tanpa

bantuan

pemerintah,

sehingga

konsep social

forestry atau community forestry tercipta dengan sendirinya di wilayah pesisir


tersebut.
D. Contoh Agroforestry secara Silofishery
Dengan model sistem silvofishery, aspek ekonomi masyarakat dapat terpenuhi dari
kegiatan budidaya ikan dan udang dalam tambak, sedangkan aspek perlindungan pantai
dan konservasi bakau dilakukan dengan tetap menjaga bakau-bakau di pematang tambak
dan bagian luar dari tambak. Kegiatan penanaman bakau dan pembuatan tambak
dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat tanpa bantuan pemerintah, sehingga konsep social
forestry ataucommunity forestry tercipta dengan sendirinya di wilayah pesisir tersebut.
Sistem silvofishery yang dapat diaplikasikan adalah sistem empang parit dan sistem
empang inti. Sistem empang parit adalah sistem mina hutan dimana hutan bakau berada
ditengah dan kolam berada di tepi mengelilingi hutan.Sebaliknya sistem empang inti
adalah sistem mina hutan dengan kolam di tengah dan hutan mengelilingi kolam
(Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999 ).
Silvofishery sebagai sebuah konsep usaha terpadu antara hutan mangrove dan
perikanan budidaya yaitu budidaya di tambak menjadi alternatif usaha yang prospektif dan
sejalan dengan prinsip blue economy. Pendekatan terpadu terhadap konservasi dan
pemanfaatan

sumberdaya

hutan

mangrove

memberikan

kesempatan

untuk

mempertahankan kondisi kawasan hutan tetap baik, disamping itu budidaya perairan
payau dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Hal yang paling penting adalah bahwa
konsep

ini

menawarkan

alternatif

teknologi

yang

aplikatif

berdasarkan

prinsip keberlanjutan (sustainable).Pengelolaan terpadu mangrove-tambak diwujudkan


dalam bentuk sistem budidaya perikanan yang memasukkan pohon mangrove sebagai
bagian dari sistem budidaya yang dikenal dengan sebutan wanamina (silvofishery).

Silvofishery pada dasarnya ialah perlindungan terhadap kawasan mangrove dengan cara
membuat tambak yang berbentuk saluran yang keduanya mampu bersimbiosis sehingga
diperoleh kuntungan ekologis dan ekonomis karena mempertimbangkan kepedulian
terhadap ekologi (ecologycal awareness).
Fungsi mangrove sebagai nursery ground sering dimanfaatkan untuk kepentingan
pengembangan perikanan. Keuntungan ganda telah diperoleh dari simbiosis ini, selain
memperoleh hasil perikanan yang lumayan, biaya pemeliharaan yang cukup murah, karena
tanpa harus memberikan makanan setiap hari. Hal ini disebabkan karena produksi
fitoplankton sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi kebutuhan untuk
usaha budidaya tambak, berarti disini terwujud efesiensi.
Pengelolaan budidaya ikan/udang di tambak melalui konsep silvofishery, disamping sangat
efisien juga mampu menghasilkan produktivitas yang cukup baik dengan hasil produk
yang terjamin keamanannya karena merupakan produk organik (non-cemical). Bukan
hanya itu konsep ini juga mampu mengintegrasikan potensi yang ada sehingga
menghasilkan multiple cash flow atau bisnis turunan antara lain adalah bisnis wisata alam
(eco-taurism business) yang sangat prospektif, pengembangan UMKM pengolahan produk
makanan dari buah mangrove, disamping bisnis turunan lainnya.
E. Model Silofishery
Secara umum terdapat tiga model tambak silvofishery, yaitu; model empang parit,
komplangan, dan jalur. Selain itu terdapat pula tambak sistem tanggul yang berkembang di
masyarakat. Pada tambak silvofishery model empang parit, lahan untuk hutan mangrove
dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air. Pada
tambak silvofisherymodel komplangan, lahan untuk hutan mangrove dan empang terpisah
dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk
hutan mangrove dan empang (Bengen, 2003).
Tambak silvofishery model jalur merupakan

hasil

modifikasi

dari

tambak

silvofishery model empang parit. Pada tambak model ini terjadi penambahan saluransaluran di bagian tengah yang berfungsi sebagai empang. Sedangkan tambak model
tanggul, hutan mangrove hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak jenis ini yang
berkembang di Kelurahan Gresik dan Kariangau Kodya Balikpapan. Berdasarkan 3
pola silvofishery dan

pola

yang

berkembang

di

masyarakat,

direkomendasikan

pola silvofishery kombinasi empat parit dan tanggul. Pemilihan pola ini didasarkan atas
pertimbangan:
a. Penanaman mangrove di tanggul bertujuan untuk memperkuat tanggul dari longsor,
sehingga biaya perbaikan tanggul dapat ditekan dan untuk produksi serasah.

b. Penanaman mangrove di tengah bertujuan untuk menjaga keseimbangan perubahan


kualitas air dan meningkatkan kesuburan di areal pertambakan.
Luas permukaan air di dalam tambak budidaya jenis mang-rove yang biasanya
ditanam di tanggul adalah Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Sedangkan untuk di
tengah/pelataran tambak adalah Rhizophora sp. Jarak tanam mangrove di pelataran
umumnya 1m x 2m pada saat mangrove masih kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5
tahun) mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan ini untuk memberi ruang gerak
yang lebih luas bagi komoditas budidaya.Selain itu sinar matahari dapat lebih banyak
masuk ke dalam tambak dan menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan kesuburan
tambak.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Agroforestry adalah sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial
dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman
pertanian dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran,
sehingga dari satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal
dalam arti berkesinambungan.
2. Komponen Agroforestry : Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura,
agropastura, Silvofishery dan Apiculture.

3. Silvofishery merupakan pola pendekatan teknis yang terdiri atas rangkaian

kegiatan terpadu antara kegiatan budidaya ikan atau udang dengan kegiatan
penanaman, pemeliharaan, pengelolaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ahmad.2013.Hubungan

Agroforestry

dan

Silvofishery.

http://jailaniahmad86.blogspot.co.id/2013/11/hubungan-agroforestry-dan2.

silvofishery.html diakses pada tanggal 14 Oktober 2015


Firdaus, Nugraha dkk.2013. Agroforestry di Indonesia. Balai Penelitian Teknologi

Agroforestry : Ciamis diakses pada tanggal 14 Oktober 2015


3. Santoso, I. 2013. Agroforestry sebagai Solusi. Prosiding Seminar Nasional
Agroforestri 2013, tanggal 21 Mei 2013 di Malang. Hlm. 1-5. Kerjasama Balai
Penelitian Teknologi Agroforestry, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, World
Agroforestry Centre (ICRAF), dan Masyarakat Agroforestri Indonesia. Ciamis.
4. Mustofa Agung Sardjono, Tony Djogo, Hadi Susilo Arifin dan Nurheni
Wijayanto.2003. Klasifikasi Dan Pola Kombinasi Komponen Agroforestri. World
Agroforestry Centre (ICRAF): Bogor