Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

ANAK AGUNG ANOM


030.10.026

UNIVERSITAS TRISAKTI
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
RSAL MINTOHARDJO

A. Obat anti tuberkulosis


Pada keadaan TB paru maupun ekstraparu, pengobatan yang digunakan adalah Obat Anti
Tuberkulosis (OAT). Pengobatan dengan OAT terdiri dari 2 fase yaitu fase intensif selama 2
bulan, dan fase lanjutan selama 4 bulan. Terdapat 2 lini pengobatan pada tuberculosis,
pengobatan lini 1 dengan menggunakan Rifampisin, INH, Pirazinamid, Etambutol, Streptomisin.
Sedangkan pengobatan lini 2 menggunakan aminoglikosid, floroquinolon dll.
Pengobatan tuberculosis ini dibagi berdasarkan 4 kategori dengan pengobatan yang
berbeda pula. Namun, pengobatan tuberculosis mempunyai beberapa efek samping yang
disebabkan oleh OAT tersebut. Efek samping yang ditimbulkan bermacam-macam tergantung
dari OAT yang digunakan.
MAYOR
Gatal dan kemerahan kulit
Tuli
Gangguan keseimbangan
Ikterik/ hepatitis imbas obat
Muntah
Gangguan penglihatan
Syok dan purpura
MINOR
Tidak nafsu makan, mual,

Etiologi
Semua jenis OAT
Streptomisin
Streptomisin
Sebagian besar OAT
Sebagian besar OAT
Etambutol
Rifampisin
Etiologi
Rifampisin

nyeri perut
Nyeri sendi
Pirazinamid
Kesemutan
Isoniazid
Warna kemerahan pada air Rifampisin
seni

Pada beberapa keadaan, terdapat beberapa perubahan panduan OAT seperti pada keadaan
kelaianan hati akibat hepatitis virus atau sirosis hepatis. Pada keadaan tersebut kelainan paru
seperti hepatitis, pirazinamid tidak boleh diberikan karena efeknya yang besar pada hati.
Selain itu, pemberian OAT yang lainnya juga harus menunggu sampai hepatitis akutnya
sembuh setelah itu, padua obat yang dianjurkan adalah 2SHRE/6RH atau 2SHE/10HE.1
Pada keadaan hepatitis, terdapat 2 kategori pengobatan yaitu :

1. Pasien sirosis dengan tes fungsi hati normal atau borderline (Child A)
Pengobatan pada kategori ini, yaitu pasien diobati dengan menggunakan 4 regimen obat
yaitu SHRE selama 2 bulan dan RH selama 4 bulan, dan menghindari pemakaian
pirazinamid.2

2. Pasien sirosis Child B dan C


Pengobatan pada kategori ini dapat menggunakan :
- Dua obat hepatotoksik yaitu : 9 bulan INH, rifampicin, etambutol
- Satu obat hepatotoksik yaitu : 2 bulan INH, etambutol, streptomisin dan 10 bulan
isoniazid, etambutol.2
Tanpa obat hepatotoksik yaitu : 18-24 bulan streptomisin, etambutol, dan quinolon.2

A. Pemeriksaan HIV
Pada keadaan khusus seperti TB pada HIV, pemberian obat OAT diberikan pertama
dibandingkan dengan ARV. ARV diberikan berdasarkan nilai CD4 dalam tubuh, kemampuan
tubuh untuk merespon OAT tersebut. Pemberian pengobatan pada TB-HIV diberikan dengan
menggunakan tenovofir 1x150mg, lamivudin 2x150mg, dan evampiren 1x600mg dengan
melihat nilai dari CD4.1
Antibodi terhadap HIV diserahkan dari ibu ke janin melalui plasenta, sehingga bayi
yang terlahir dari ibu yang terpajan HIV akan menghasilkan hasil tes positif( reaktif )
walaupun sebenarnya bayi tersebut tidak terinfeksi HIV. Bayi yang terlahir dari ibu
terinfeksi HIV dapat tertular selama kehamilan, waktu kelahiran dan saat disusui. Namun
kemungkinan bayi terinfeksi dalam kandungan atau dalam persalinan hanya kurang lebih
20%.
Antibodi yang diwarisi ibu akan hilang setelah 6 bulantetapi dapat bertahan dalam
jumlah cukup sampai usia 18 bulan. Bayi dapat di tes dengan tes antibodi bila usia diatas 9
bulan. Namun umumnya hasil akan non reaktif pada usia 12 bulan.Tetapi apabila hasil tes
reaktif maka harus dilakukan tes ulang pada usia 18 bulan untuk memastikan apakah hasil
tes tetap reaktif atau tidak.3

DAFTAR PUSTAKA

1. Aditama TY, Soedarsono, Thabrani Z. Tuberkulosis. In : Yunus F, editor. Pedoman


diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta : 2006.p.23-9.
2. Rajekar H, Reddy C. A guide to the management of tuberculosis in patients with
chronic liver disease. Journal of clinical and experimental hepatology. 2012;2:260-70.

3. Anonym. Pemeriksaan HIV available at: www.spiritia.co.id . Accesed on 12th August

2014.